Laporan Lit Tebu Wiwik Indra

Download Laporan Lit Tebu Wiwik Indra

Post on 23-Nov-2015

87 views

Category:

Documents

1 download

Embed Size (px)

DESCRIPTION

kk

TRANSCRIPT

<p>39</p> <p>I. PENDAHULUAN</p> <p>1. 1 Latar Belakang Keberhasilan suatu proses budidaya tanaman dipengaruhi oleh beberapa faktor utama, yaitu kondisi tanah, iklim, cara budidaya dan penanganan pasca panen. Pada budidaya tebu lahan kering, kondisi tanah yang cukup gembur atau remah sangat diperlukan bagi pertumbuhan tebu. Hal ini diperlukan supaya air, udara dan unsur hara yang terkandung di dalam tanah dapat diserap dengan baik oleh akar tebu. Usaha yang dapat dilakukan untuk menjadikan kondisi tanah menjadi gembur adalah dengan pengolahan tanah dan pemberian pupuk. Berdasarkan bahan pembuatannya pupuk dibedakan menjadi dua, yaitu pupuk organik dan pupuk anorganik (Dymaz, 2011). </p> <p>Oleh karena ketersediaan pupuk anorganik semakin langka dan harganya mahal, maka penggunaan pupuk organik menjadi pilihan yang harus dilakukan. Selain itu penggunaan pupuk organik dapat mereduksi bahan-bahan kimia berbahaya yang terkandung di dalam hasil pertanian. Ada beberapa jenis pupuk organik yang telah banyak digunakan petani, diantaranya pupuk kandang dan pupuk kompos. Tetapi pada tahun belakangan ini para petani mulai menggunakan pupuk organik granul (POG), yang merupakan hasil fermentasi bahan-bahan organik seperti dedak, ampas kelapa, tepung ikan, kotoran hewan ternak, jerami, dan sebagainya. </p> <p>Dari beberapa penelitian yang sudah dilakukan menunjukkan bahwa penambahan pupuk organik pada lahan pertanian memberikan pengaruh positif terhadap pertumbuhan dan produksi tanaman, serta terhadap beberapa sifat fisik dan mekanik tanah lahan pertanian tersebut (Dymaz, 2011). Namun demikian, peneltian mengenai kombinasi penggunaan pupuk organik dan pupuk anorganik pada tanaman belum banyak dilakukan. Oleh karena itu perlu dikaji mengenai berbagai kombinasi dosis pupuk organik dan pupuk anorganik yang tepat agar penggunaan pupuk lebih efisien.</p> <p>1. 2 Tujuan Khusus PenelitianTujuan khusus peneltian adalah untuk mengetahui :(a) Kombinasi dosis pupuk organik dan pupuk anorganik berpengaruh terhadap pertumbuhan vegetatif tebu varietas GM-19. (b) Tingkat reduksi pemberian pupuk anorganik yang tepat. </p> <p>1.3 Keutamaan PeneltianKeutamaan penelitian adalah :a.Memberikan kontribusi terhadap pengembangan IPTEKS berupa ditemukannya kombinasi dosis pupuk organik dan pupuk anorganik untuk meningkatkan performa pertumbuhan vegetatif tanaman tebu.b. Hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi rujukan bagi petani dalam untuk meningkatkan performa pertumbuhan vegetatif tanaman tebu.c. Hasil penelitian ini dapat dijadikan sebagai sumber informasi bagi pengembangan bahan ajar.1.4 Temuan/Inovasi yang DitargetkanTemuan/inovasi yang ditargetkan dari penelitian adalah ditemukannya kombinasi dosis pupuk organik dan pupuk anorganik untuk meningkatkan performa pertumbuhan vegetatif tanaman tebu.Penerapan dari temuan hasil penelitian ini dalam rangka menunjang pembangunan dan pengembangan iptekssosbud adalah menyiapkan lahan yang gembur untuk pertumbuhan tanaman tebu yang sehat dan produksi tinggi.</p> <p>II. TINJAUAN PUSTAKA</p> <p>2.1 Tanaman TebuBerdasarkan klasifikasinya, tanaman tebu (Saccharum officinarum L.) termasuk dalam kelompok divisi Spermatophyta, subdivisio Angiospermae, kelas Monocotyledonae, ordo Graminales, famili Gramineae, genus Saccharum. Terdapat tiga spesies tebu, meliputi Saccharum officinarum, Saccharum robustum, dan Saccharum spontaneum, serta dua sub spesies, yaitu Saccharum sinense dan Saccharum barberi (Augstburger, et al, 2000).Secara morfologi, tanaman tebu tersusun dari batang yang beruas-ruas. Terdapat satu daun yang muncul ditiap ruas batang tanaman tebu. Daun tanaman tebu berbentuk pita (terdiri dari pelepah dan helaian daun, tidak memiliki tangkai daun). Akar tanaman tebu berupa serabut yang tumbuh dangkal, akan tetapi akar tersebut mampu melakukan penetrasi sampai kedalaman 5-7 meter dari permukaan tanah untuk melakukan absorsi air saat kondisi stress kekurangan air (Moore dan Nuss, 1987).Pertumbuhan bibit tanaman tebu dari setek batang akan mengalami beberapa fase, yaitu fase pra kecambah, fase perkecambahan, fase pertunasan dan pembentukan akar tunas. Ketiga fase ini berlangsung pada kisaran 4-6 minggu sejak bibit ditanam. Fase pembentukan anakan berlangsung dari umur 6-8 minggu sampai 2,5-3 bulan. Fase pemanjangan batang terjadi dari umur 3-9 bulan. Fase pra pemasakan berlangsung dari umur 9-10 bulan dan fase kemasakan terjadi pada umur di atas 11 bulan (Sutardjo, 1994).</p> <p>2.2 PupukLaju Pertumbuhan tanaman tebu dipengaruhi oleh banyak faktor, baik yang bersifat internal maupun eksternal. Faktor internal berasal dari karakteristik varietasnya. sedangkan faktor eksternal disebabkan oleh faktor luar, salah satunya adalah pemupukan. Pupuk adalah bahan yang ditambahkan ke dalam tanah untuk menyediakan unsur-unsur esensial bagi pertumbuhan tanaman (Hadisuwito, 2008). Budidaya tanaman tebu tidak terlepas dari penggunaaan pupuk. Di dalam 1 ton hasil panen tanaman tebu terdapat 1,95 kg N; 0,30 - 0,82 kg P2O5 dan 1,17 - 6,0 kg K2O yang berasal dari dalam tanah (Sutardjo, 1994). Oleh karena itu, pada sistem budidaya tanaman tebu diperlukan pemupukan N, P dan K yang cukup tinggi agar hasil panen tanaman tebu tetap tinggi dan daya dukung tanah dapat dipertahankan.Pupuk digolongkan menjadi dua, yaitu pupuk anorganik dan pupuk organik (Novizan, 2007). Karakteristik pupuk anorganik dan pupuk organik dapat dilihat pada Tabel 1.Tabel 1. Karakteristik pupuk anorganik dengan pupuk organikAnorganikOrganik</p> <p>Bahan sintetikBahan dari alam</p> <p>Mengandung hara tertentuSelain N, P, K terdapat juga beberapa unsur mikro</p> <p>Tanah menjadi kerasStruktur tanah lebih baik</p> <p>Daya simpan air rendahDaya simpan air tinggi</p> <p>Pertumbuhan tanaman terlalu cepat, sehingga rentan serangan organisme pengganggu tanamanPertumbuhan tanaman relatif lambat dan lebih tahan serangan organisme pengganggu tanaman</p> <p>Unsur hara yang larut mudah dicuci oleh airUnsur hara tidak mudah tercuci</p> <p>Bahan dasar mahal, sulit dibuat sehingga harganya mahalBahan dasar murah dan mudah dibuat sehingga harganya murah</p> <p>Dibuat oleh pabrik cenderung kurang aman bagi kesehatan dan lingkunganDapat dibuat sendiri dan aman bagi kesehatan dan lingkungan</p> <p>Sumber : Novizan (2007)2.2.1 Pupuk anorganikPupuk anorganik mengandung hara makro dan pupuk hara mikro, baik dalam bentuk padat maupun cair. Kandungan hara dalam pupuk anorganik terdiri atas unsur hara makro utama yaitu nitrogen, fosfor, kalium dan hara makro sekunder yaitu sulfur, kalsium, magnesium, serta hara mikro yaitu tembaga, seng, mangan, molibden, boron, dan kobal (Suriadikarta, dkk., 2004). Berdasarkan jumlah kandungan haranya, pupuk anorganik dapat dibedakan sebagai pupuk tunggal dan pupuk majemuk. Beberapa ketentuan pupuk anorganik adalah sebagai berikut :1. Pupuk majemuk mengandung minimal dua unsur hara makro dan dua unsur hara mikro.2. Kadar P2O5 pada pupuk fosfat alam yang dilarutkan dalam asam kuat (partially acidulated rock phosphohate =PARP) harus lebih dari 10%.3. Unsur mikro yang terkandung dalam pupuk hara makro dianggap sebagai unsur ikutan.4. Kadar unsur makro dan unsur mikro yang terkandung dalam pupuk hara campuran, harus mengikuti syarat mutu pupuk yang mengandung hara makro dan syarat mutu pupuk hara mikro.</p> <p>2.2.2 Pupuk organikPupuk organik adalah pupuk yang sebagian besar atau seluruhnya terdiri atas bahan organik yang berasal dari sisa tanaman, kotoran hewan atau manusia antara lain pupuk kandang, pupuk hijau dan kompos berbentuk padat atau cair yang telah mengalami dekomposisi atau penguraian (Balai Besar Litbang Sumberdaya Lahan Pertanian, 2010). Jika harus menggunakan pupuk organik yang belum terurai sempurna (rasio C/N masih tinggi), maka harus diberi jeda waktu antara pemberian pupuk organik dan penanaman bibit yakni minimal satu minggu. Hal itu dilakukan untuk menghindari dampak buruk yang mungkin terjadi pada tanaman ketika proses penguraian pupuk organik berlangsung (Novizan, 2007). Untuk menjamin standar mutu pupuk organik, Departemen Pertanian (2003) menetapkan persyaratan teknis pupuk organik, yang tersaji pada Tabel 3. Pupuk organik dapat dibuat dari berbagai jenis bahan, antara lain sisa tanaman, serbuk gergaji, kotoran hewan, limbah media jamur, limbah pasar, rumah tangga, dan pabrik, serta pupuk hijau. Kualitas bahan dasar pembuatan pupuk organik sangat bervariasi, maka kualitas pupuk yang dihasilkan pun bervariasi. Pupuk organik dapat diaplikasikan dalam bentuk bahan segar atau yang sudah dikomposkan (Setyorini, dkk, 2004).Tabel 2. Persyaratan teknis pupuk organik</p> <p>C-organik (%)Min. 15 6</p> <p>C/N rasio12 25</p> <p>Bahan ikutan (%) 2</p> <p>(kerikil, beling, plastik)Min. 20</p> <p>Kadar air (%)Maks. 35</p> <p>Kadar Logam Berat</p> <p>As (ppm) 10 10</p> <p>Hg (ppm) 1 1</p> <p>Pb (ppm) 50 50</p> <p>Cd (ppm) 10 10</p> <p>pH 4 - 8 4 - 8</p> <p>Kadar total N+P2O5+K2O (%)DicantumkanDicantumkan</p> <p>ParameterKandungan</p> <p>PadatCair</p> <p>Kadar unsur mikro Zn, Cu, Mn, Co, Fe (ppm)DicantumkanDicantumkan</p> <p>Mikroba Patogen E. Coli, Salmonella (sel/ml)DicantumkanDicantumkan</p> <p>Sumber : Departemen Pertanian (2003)</p> <p>Pupuk organik dapat mensuplai sebagian hara tanaman. Dengan demikian pupuk organik harus digunakan secara terpadu dengan pupuk anorganik untuk meningkatkan produktivitas tanah dan tanaman secara berkelanjutan dan ramah lingkungan. Penggunaan pupuk anorganik yang tidak diimbangi dengan pemberian pupuk organik dapat merusak struktur tanah dan mengurangi aktivitas biologi tanah. Penerapan pemupukan berimbang berdasarkan hasil uji tanah dipadukan dengan pupuk organik bertujuan untuk meningkatkan efisiensi penggunaan pupuk serta memperbaiki produktivitas tanah pertanian. Pemupukan anorganik digunakan melampaui batas efisiensi teknis dan ekonomis akan berdampak terhadap pelandaian produksi (Adiningsih dan Soepartini, 1995).</p> <p>III. METODE PENELITIAN</p> <p>3.1 Waktu dan Tempat PenelitianPenelitian dilaksanakan di kebun Politeknik Negeri Lampung, mulai dari bulan Mei sampai dengan Oktober 2013.3.2 Alat dan Bahan Alat yang digunakan: traktor yang dilengkapi dengan implement bajak piringan, cangkul, meteran, golok, penggaris, ember, jangka sorong, selang air, tali rafia, buku catatan dan alat tulis. Bahan yang digunakan: bibit tebu vareitas GM-19, pupuk organik, pupuk anorganik (Urea, TSP, dan KCl).</p> <p>3.3 Rancangan PenelitianPenelitian disusun secara factorial dengan menggunakan rancangan acak kelompok (RAK). Faktor pertama adalah empat aras dosis pupuk organik, yaitu Oo = 0 kg.ha-1; O1 = 500 kg.ha-1; O2 = 750 kg.ha-1; O3 = 1000 kg.ha-1, dan faktor ke dua terdiri dari tiga aras dosis pupuk anorganik, A1 = 0% ; A2 = 25% ; A3 = 50% dari dosis anjuran. Tiap perlakuan diulang tiga kali sehingga didapat satuan percobaan sebanyak: 4 x 3 x 3 = 36 unit percobaan. Adapun kombinasi perlakuan adalah: OoA1 = 0 kg ha-1 pupuk organik dikombinasi dengan pupuk anorganik 0% anjuranOoA2= 0 kg ha-1 pupuk organik dikombinasi dengan pupuk anorganik 25% anjuranOoA3= 0 kg ha-1 pupuk organik dikombinasi dengan pupuk anorganik 50% anjuranO1A1= 500 kg ha-1 pupuk organik dikombinasi dengan pupuk anorganik 0% anjuranO1A2 = 500 kg ha-1 pupuk organik dikombinasi dengan pupuk anorganik 25% anjuranO1A3 = 500 kg ha-1 pupuk organik dikombinasi dengan pupuk anorganik 50% anjuranO2A1 = 750 kg ha-1 pupuk organik dikombinasi dengan pupuk anorganik 0% anjuranO2A2 = 750 kg ha-1 pupuk organik dikombinasi dengan pupuk anorganik 25% anjuranO2A3 = 750 kg ha-1 pupuk organik dikombinasi dengan pupuk anorganik 50% anjuranO3A1 = 1000 kg ha-1 pupuk organik dikombinasi dengan pupuk anorganik 0% anjuranO3A2 = 1000 kg ha-1 pupuk organik dikombinasi dengan pupuk anorganik 25% anjuranO3A3 = 1000 kg ha-1 pupuk organik dikombinasi dengan pupuk anorganik 50% anjuran</p> <p>3.4 Pelaksanaan PenelitianTanah yang akan digunakan dibajak dahulu secara mekanis dengan bajak piringan yang ditarik traktor sebanyak dua kali. Kemudian dibuat kairan (lubang tanam) secara manual menggunakan cangkul dengan jarak antar kairan (pkp) 1,3 m, panjang satu kairan adalah 5 m dan jarak antar ulangan 2 m. Kedalaman kairan 30 cm. Penanaman tebu dilaksanakan tiga hari setelah pembuatan kairan selesai. Bibit tebu varietas GM-19 dipotong-potong menjadi 2 ruas (2 mata), system tanam yang digunakan overlapping 25% . Pemberian pupuk organik dilakukan bersamaan pada saat tanam, sedangkan pemberian pupuk anorganik dilakukan dua kali, yaitu 14 hari dan 60 hari setelah tanam. Selanjutnya dilakukan pemeliharaan tanaman yang meliputi kegiatan penyiraman, pengendalian gulma secara manual dan pembumbunan tanaman.3.5 Parameter yang diamati: a. Persentase hidup tunas diamati umur 3 minggu setelah tanam, jumlah tunas yang tumbuh dihitung dengan Rumus : ---------------------------------------- x 100% total mata tunas yang ditanam</p> <p>b. Tinggi tanaman diamati tiga kali, yaitu pada minggu 12, 16, dan 20 setelah tanam. Cara pengukuran tinggi tanaman yaitu diukur dari permukaan tanah hingga titik tumbuh menggunakan mistar..c. Panjang daun diamati tiga kali, yaitu pada minggu 12, 16, dan 20 setelah tanam. Cara pengukuran panjang daun yaitu diukur dari pangkal pelepah hingga ujung daun, dipilih daun terpanjang pada sampel tanaman yang diamati. d. Diameter batang diamati tiga kali, yaitu pada minggu 12, 16, dan 20 setelah tanam. Cara pengukuran diameter batang yaitu diukur pada bagian tengah batang dengan menggunakan jangka sorong.e. Jumlah anakan: Jumlah anakan dihitung pada minggu kedelapan setelah tanam.</p> <p>IV. HASIL DAN PEMBAHASANPengamatan dilakukan pada umur minggu setelah tanam. Data hasil pengamatan panjang daun tertera pada Tabel 3.Tabel 3. Data rerata pengaruh pemberian pupuk organik dan anorganik terhadap tinggi tanaman (cm)</p> <p>PerlakuanUlanganRerata</p> <p>IIIIII</p> <p>OO A 141,952,641,445,3</p> <p>OO A 246,444,846,745,97</p> <p>OO A 358,245,847,650,53</p> <p>O1 A 153,23065,149,5</p> <p>O1 A 246,937,859,147,93</p> <p>O1 A 353,84361,852,87</p> <p>O2 A 152,941,847,247,3</p> <p>O2 A 235,944,669,249,9</p> <p>O2 A 359,453,869,560,9</p> <p>O3 A 138,740,254,544,47</p> <p>O3 A 244,847,875,856,13</p> <p>O3 A 347,35080,259,17</p> <p>Berdasarkan hasil rerata tinggi tanaman tebu (Tabel 3) menunjukkan bahwa perlakuan 750 kg ha-1 pupuk organik dikombinasi dengan pupuk anorganik 50% anjuran berbeda dengan perlakuan lainnya. Hal ini terlihat bahwa tinggi tanaman perlakuan 750 kg ha-1 pupuk organik dikombinasi dengan pupuk anorganik 50% anjuran mencapai 60,9 cm. Data hasil pengamatan panjang daun tertera pada Tabel 4.</p> <p>Tabel 4. Data pengaruh pemberian pupuk organik dan anorganik terhadap panjang daun tebu pada umur 12 minggu setelah tanam (cm)</p> <p>PerlakuanUlanganRerata</p> <p>IIIIII</p> <p>OO A 1130,4107,6123,6120,53</p> <p>OO A 2132,4135114,2127,2</p> <p>OO A 3160,4144,4151,5152,1</p> <p>O1 A 153,43065,149,5</p> <p>O1 A 246,937,859,147,93</p> <p>O1 A 353,84361,852,87</p> <p>O2 A 152,941,847,247,3</p> <p>O2 A 235,944,669,249,9</p> <p>O2 A 359,453,8...</p>