kti (finish)

Download Kti (Finish)

Post on 25-Jun-2015

139 views

Category:

Documents

5 download

Embed Size (px)

TRANSCRIPT

Karya Tulis IlmiahXI IPA 7Sekolah Menengah Atas Negeri 8 Bandung Jl. Solontongan 3 022 [Type the fax number] 1/1/2010

(Studi apresiasi terhadap karya seni legendaris bagi seluruh insan dalam industri musik tanah air)

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Perkembangan musik Indonesia tergolong sangat pesat terutama di kalangan remaja sebagai generasi muda penerus bangsa. Banyak musisi yang lahir dari kalangan muda. Namun terlepas dari itu musisi senior memegang peranan penting dalam kancah perkembangan musik di Indonesia. Salah satunya adalah Almarhum Christian Hadi atau kita mengenalnya dengan Chrisye. Penulis sebagai golongan muda sangat menghormati karya-karya beliau yang begitu legendaris. Hampir semua musik gubahan Chrisye mendapat antusiasme yang begitu besar dari para pecinta musik tanah air. Karya-karyanya yang begitu syahdu memberikan kesan yang melekat erat dan tidak terlupakan bagi siapa saja yang mendengar karyanya. Musik hasil gubahan Chrisye memiliki ciri khas dalam setiap melodi, harmoni dan liriknya sehingga bahkan kita akan langsung dapat mengenalinya pada saat pertama kali mendengar. Indonesia sungguh berduka atas meninggalnya Chrisye oleh karena itu penulis ingin mengapresiasi salah satu karyanya sebagai bentuk penghormatan terhadap beliau. Lagu yang kami pilih adalah lagunya yang keluar tak lama setelah ia meninggal. Lagu Lirih ini merupakan lagu yang diciptakan pada tahun 1993 tetapi karena beberapa hal lagu ini tidak dikeluarkan pada saat itu. Untuk menghargai dan menghormati beliau, musisi-musisi indonesia telah sepakat untuk bersama-sama bahu-membahu mengarransemen lagu Lirih kembali tentu saja dengan suara Chrisye yang ia tinggalkan bersama lagu Lirih ini.

2|

Penulis ingin mengenang almarhumah Chrisye dalam karya terakhirnya yang ia tinggalnya kepada insan musik indonesia. Untuk mengenang karya beliau, penulis ingin membuat sebuah karya tulis mengenai apresiasi salah satu lagu beliau.B. Perumusan dan Pembatasan Masalah 1. Perumusan Masalah

Musik memiliki cakupan makna yang sangat luas sebagai salah satu bentuk komunikasi. Dapat dikatakan bahwa musik merupakan bahasa universal yang dapat dipahami, dinikmati dan diapresiasi oleh seluruh kalangan usia dan golongan. Pesan yang disampaikan dalam sebuah lagu berupa kata-kata yang dirangkaikan dengan sebuah melodi dalam musik. Wujud apresiasi dari setiap apresiator juga berbeda, apresiasi dapat ditunjukkan melalui sikap yang positif, namun juga memungkinkan jika ada respon negatif dari para apresiator itu sendiri. Berdasarkan latar belakang di atas, masalah yang akan dibahas ialah apresiasi siswa XI IPA7 SMAN 8 Bandung terhadap lagu Lirih oleh Chrisye. Secara terperinci penulis merumuskan masalah sebagai berikut:1. Apakah batasan perencanaan apresiasi itu? 2. Bagaimana batasan pelaksanaan sikap siswa XI IPA7 SMAN 8

Bandung terhadap lagu Lirih oleh Chrisye sebagai apresiator?3. Bagaimana penilaian apresiasi siswa XI IPA7 SMAN 8 Bandung

terhadap lagu Lirih oleh Chrisye dengan esensi lagu Lirih ditinjau dari segi bahasa?4. Bagaimana tanggapan siswa XI IPA7 SMAN 8 Bandung terhadap lagu

Lirih oleh Chrisye?

3|

2. Pembatasan Masalah Dikarenakan luasnya rumusan permasalahan penelitian ini dan menyadari segala keterbatasan waktu dan kemampuan penulis maka penulis membatasi diri dengan hanya mengambil masalah yang berhubungan dengan apresiasi dan tata bahasa. Adapun masalah-masalah yang akan dikaji dalam penelitian ini sebagai berikut: 1. Pengertian apresiasi 2. Tingkatan-tingkatan dalam apresiasi3. Tahapan dalam kegiatan apresiasi 4. Sikap dan tanggapan siswa XI IPA7 SMAN 8 Bandung terhadap lagu

Lirih oleh Chrisye5. Hubungan antara apresiasi siswa XI IPA7 SMAN 8 Bandung terhadap

lagu Lirih oleh Chrisye dengan esensi lagu tersebut ditinjau dari segi bahasaC. Tujuan Penelitian

Tujuan umum Tujuan khusus1.

: Mengapresiasi sebuah lagu yaitu Lirih oleh Chrisye : Memperoleh data tentang

Pelaksanaan peningkatan kreatifitas siswa melalui apresiasi Faktor pendukung dan penghambat apresiasi lagu

lagu2.

3.Strategi yang diterapkan untuk meningkatkan apresiasi lagu D. Manfaat Penelitian Manfaat teoritis: Memberikan sumbangan pemikiran bagi khazanah ilmu kesusastraan di kalangan pelajar SMA Manfaat praktis:a.

Memberikan gambaran bagi guru dan siswa mengenai apresiasi lagu pendukung dan penghambat dalam apresiasi lagu

b. Memberikan gambaran bagi guru dan siswa mengenai faktor

4|

c.

Dapat dijadikan kajian untuk penelitian selanjutnya sehingga hasilnya lebih meluas dan mendalam

E. Asumsi Apresiasi sastra adalah kegiatan menggauli cipta sastra dengan sungguh-sungguh sehingga tumbuh pengertian, penghargaan, kepekaan pada cipta sastra tersebut. (S. Effendi) Apresiasi sastra adalah pengenalan dan pemahaman yang tepat terhadap nilai karya satra, dan kegairahan serta kenikmatan yang timbul sebagai akibat dari semua itu. (Yus Rusyana)F. Metode dan Teknik Penelitian

Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif yang pendekatannya kualitatif Tekniknya: a. b. c. Observasi Wawancara Dokumen

5|

BAB II LANDASAN TEORI

A. Apresiasi 1. Pengertian apresiasi Dalam kehidupan sehari-hari, sering kita mendengar istilah apresiasi. Barangkali dalam benak kita muncul pertanyaan: apa itu apresiasi? Istilah apresiasi muncul dari kata appreciate (Ing), yang berarti menghargai. Sehingga secara sederhana dapat dikatakan bahwa apresiasi sastra adalah kegiatan untuk menghargai sastra. Namun, dalam perkembangan berikutnya pengertian apresiasi sastra semakin luas. Banyak tokoh mencoba memberikan batasan tentang apresiasi sastra. S. Effendi memberikan batasan bahwa apresiasi sastra adalah kegiatan menggauli cipta sastra dengan sungguh-sungguh sehingga tumbuh pengertian, penghargaan, kepekaan pada cipta sastra tersebut. Sedangkan tokoh lain , Yus Rusyana mendefinisikan apresiasi sastra sebagai pengenalan dan pemahaman yang tepat terhadap nilai karya satra, dan kegairahan serta kenikmatan yang timbul sebagai akibat dari semua itu. Dua batasan yang dikemukakan oleh dua tokoh di atas pada prinsipnya tidak saling bertentangan, tetapi justru saling melengkapi. Perbedaan yang tampak hanyalah terletak pada penggunaan istilah saja. Lepas dari perbedaan istilah yang dipakai oleh dua tokoh tersebut, pada intinya kegiatan apresiasi sastra didasari oleh pengertian bahwa karya sastra itu indah dan bermanfaat (dulce et utile). Dengan kata lain, di dalam karya sastra terkandung nilai-nilai hidup. Untuk itu, apresiasi sastra bertujuan mengasah sikap peka terhadap persoalan hidup,

6|

mempertebal nilai moral dan nilai estetis dalam diri. Untuk dapat memahami dan memperoleh nilai-nilai dalam karya sastra, tidak ada cara lain kecuali membaca, bergaul, dan mengakrabi karya sastra itu sendiri.

2.

Tingkatan-tingkatan dalam apresiasi sastra Mengingat tujuan apresiasi sastra sebagaimana telah diuraikan di atas

adalah untuk mempertajam kepekaan terhadap persoalan hidup, membekali diri dengan pengalaman-pengalaman rohani, mempertebal nilai moral dan estetis; maka tingkatan dalam apresiasi sastra diukur dari tingkat keterlibatan batin apresiator. Untuk dapat mengetahui tingkat keterlibatan batin, seorang apresiator harus memiliki patos. Istilah patos berasal dari kata patere (Latin) yang berarti merasa. Dengan kata lain, untuk dapat mencapai tingkatan-tingkatan dalam apresiasi, seorang apresiator harus dapat membuka rasa. Tingkatan pertama dalam apresiasi sastra adalah simpati. Pada tingkatan ini batin apresiator tergetar sehingga muncul keinginan untuk memberikan perhatian terhadap karya sastra yang dibaca/digauli/diakrabinya. Jika kita membaca karya sastra kemudian mulai muncul perasaan senang terhadap karya sastra tersebut, berarti kita sudah mulai masuk ke tahap pertama dalam apresiasi sastra, yaitu simpati. Tingkatan kedua dalam apresiasi sastra adalah empati Pada tingkatan ini batin apresiator mulai bisa ikut merasakan dan terlibat dengan isi dalam karya sastra itu. Dengan kata lain, jika kita membaca prosa cerita, kemudian kita bisa ikut merasakan peristiwa-peristiwa yang terjadi dalam cerita tersebut, berarti tingkat apresiasi sastra kita sudah sampai pada tingkat kedua, yaitu empati. Tingkat ketiga atau tingkat tertinggi dalam apresiasi sastra adalah refleksi diri. Pada tingkatan ini, seorang apresiator tidak hanya sekedar tergetar (simpati), atau dapat merasakan (empati) saja, tetapi dapat melakukan refleksi diri atas nilai-

7|

nilai yang terkandung dalam karya sastra itu. Dengan kata lain, pada tingkat ketiga ini seorang apresiator dapat memetik nilai-nilai karya sastra sebagai sarana untuk berrefleksi, bercermin diri.

3.

Tahapan dalam kegiatan apresiasi sastra Jika di atas telah diuraikan tentang tingkatan-tingkatan dalam apresiasi

sastra yang didasarkan pada keterlibatan batin apresiator, berikut ini akan dipaparkan tahapan-tahapan dalam kegiatan apresiasi sastra. Pentahapan dalam kegiatan apresiasi sastra ini dilihat dari apa yang dilakukan oleh apresiator. Pada tahap pertama, seorang apresiator membiarkan pikirannya, perasaan dan daya khayalnya mengembara sebebas mungkin mengikuti apa yang diinginkan oleh pengarang karya sastra yang dibacanya. Pada tahap ini apresiator belum mengambil sikap kritis terhadap karya sastra yang dibacanya. Pada tahap kedua, seorang apresiator menghadapi karya sastra secara intelektual. Ia menanggalkan perasaan dan daya khayalnya, dan berusaha memahami karya sastra tersebut dengan cara menyelidiki karya sastra dari unsurunsur pembentuknya. Ini berarti, apresiator memandang karya sastra sebagai suatu struktur. Pada tahapan ini, penyelidikan unsur-unsur karya sastra oleh apresiator dimaksudkan untuk mendekatkan diri pada karya sastra itu. Pada tahap ketiga, apre