laporan finish

Download Laporan Finish

Post on 06-Aug-2015

142 views

Category:

Documents

1 download

Embed Size (px)

TRANSCRIPT

Laporan Praktikum Proses Manufaktur I Program Studi Teknik Industri Semester Ganjil 2012/2013

BAB I LATAR BELAKANG

Pada zaman yang modern ini, dunia perindustrian berkembang sangat pesat. Dimana banyak berdiri perusahaan dan pabrik-pabrik yang bergerak di bidang manufaktur. Di dalam dunia perindustrian yang melibatkan proses manufaktur itu sendiri, tidak dapat dipungkiri bahwa di dalam prosesnya melibatkan mesin-mesin yang sangat besar dan menghasilkan putaran yang berkecepatan tinggi. Tenaga mesin memang sangat dibutuhkan dalam dunia perindustrian karena selain efektif dan efisien, dengan menggunakan mesin, proses produksi bisa berjalan lebih cepat dan dapat menghasilkan produk dalam jumlah besar. Namun penggunaan mesin yang memiliki putaran dengan kecepatan tinggi jika tidak menggunakannya dengan berhati-hati sering menyebabkan kecelakaan pada pekerja. Maka dari itu muncullah sistem manajemen kesehatan dan keselamatan kerja. Sistem manajemen kesehatan dan keselamatan kerja di atur dalam Permenaker No.05/MEN/1996 tentang Sistem Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja. Sistem Manajemen K3 adalah bagian dari sistem manajemen perusahaan secara keseluruhan yang dibutuhkan bagi pengembangan, penerapan, pencapaian, pengkajian dan pemeliharan kewajiban K3, dalam rangka pengendalian resiko yang berkaitan dengan kegiatan kerja guna terciptanya tempat kerja yang aman, efisien dan produkatif.

Laboratorium Proses Produksi 1 Teknik Mesin Universitas Brawijaya

Laporan Praktikum Proses Manufaktur I Program Studi Teknik Industri Semester Ganjil 2012/2013

BAB II LANDASAN HUKUM

Berdasarkan latar belakang adanya sistem manajemen dan keselamatan kerja yang telah disebutkan di atas,landasan hukum yang mengatur tentang system manajemen kesehatan dan keselamatan kerja antara lain Permenaker

No.05/MEN/1996 tentang Sistem Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja, pada Pasal 27 ayat (2) UUD 1945 yang menyebutkan bahwa : Tiap-tiap warga negara berhak atas pekerjaan dan penghidupan yang layak bagi kemanusiaan, dan UU No.13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan yang diantaranya berisi: Pasal 86 1. Setiap pekerja/buruh mempunyai hak untuk memperoleh perlindungan atas : a. Keselamatan dan Kesehatan Kerja; b. Moral dan kesusilaan; dan c. Perlakuan yang sesuai dengan harkat dan martabat manusia serta nilai-nilai agama. 2. Untuk melindungi keselamatan pekerja/buruh guna mewujudkan produktivitas kerja yang optimal diselenggarakan upaya keselamatan dan kesehatan kerja. 3. Perlindungan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dan ayat (2) dilaksanakan sesuai dengan praturan perundang- undangan yang berlaku.

Pasal 87 1. Setiap perusahaan wajib menerapkan sistem manajemen keselamatan dan kesehatan kerja yang terintegrasi dengan sistem manajemen perusahaan. 2. Ketentuan mengenai penerapan sistem manajemen keselamatan dan kesehatan kerja sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) diatur dengan Peraturan Pemerintah dan Undang-Undang No. 1 tahun 1970 tentang Keselamatan Kerja.

Laboratorium Proses Produksi 1 Teknik Mesin Universitas Brawijaya

Laporan Praktikum Proses Manufaktur I Program Studi Teknik Industri Semester Ganjil 2012/2013

BAB III KECELAKAAN KERJA

3.1. Penyebab Kecelakaan Kerja H.W. Heinrich dengan Teori Dominonya menggolongkan penyebab kecelakaan menjadi 2, yaitu: 1. Unsafe Action (Tindakan tidak aman) Unsafe action adalah suatu tindakan yang memicu terjadinya suatu kecelakaan kerja, antara lain: a. Melakukan pekerjaan tanpa wewenang b. Menghilangkan fungsi alat pengaman (melepas/mengubah) c. Memindahkan alat-alat keselamatan d. Menggunakan alat yang rusak e. Menggunakan alat dg cara yang salah f. Bekerja dengan posisi/sikap tubuh yang tidak aman g. Mengangkat secara salah h. Mengalihkan perhatian (mengganggu, mengagetkan, bergurau) i. Melalaikan penggunaan alat pelindung diri (APD) yang ditentukan j. Mabuk karena minuman beralkohol Tindakan-tindakan tersebut bisa berbahaya dan menyebabkan terjadinya kecelakaan. 2. Unsafe Condition (Kondisi tidak aman) Unsafe condition berkaitan erat dengan kondisi lingkungan kerja yang dapat menyebabkan terjadinya kecelakaan. Banyak ditemui bahwa penyebab terciptanya kondisi yang tidak aman ini karena kurang ergonomis, antara lain: a. Pengaman yang tidak sempurna b. Peralatan/bahan yang tidak seharusnya c. Penerangan kurang/berlebih d. Ventilasi kurang e. Iklim kerja tidak sesuai

Laboratorium Proses Produksi 1 Teknik Mesin Universitas Brawijaya

Laporan Praktikum Proses Manufaktur I Program Studi Teknik Industri Semester Ganjil 2012/2013 f. Getaran g. Kebisingan cukup tinggi h. Pakaian tidak sesuai i. Ketatarumahtanggaan yang buruk (poor house keeping) Selanjutnya Frank Bird mengembangkan teori Heinrich tersebut. Frank Bird menggolongkan penyebab terjadinya kecelakaan adalah sebab langsung (immediate cause) dan faktor dasar (basic cause).Penyebab langsung kecelakaan adalah pemicu yang langsung menyebabkan terjadinya kecelakaan tersebut, misalkan terpeleset, kejatuhan suatu benda, dan lain-lain.Sedangkan penyebab tidak langsung adalah merupakan faktor yang memicu atau memberikan kontribusi terhadap terjadinya kecelakaan tersebut.Misalnya tumpahan minyak yang menyebabkan lantai licin, kondisi penerangan yang tidak baik, terburu-buru atau kurangnya pengawasan, dan lain-lain. Meskipun penyebab tidak langsung hanyalah sebagai penyebab atau pemicu yang menyebabkan terjadinya kecelakaan, namun sebenarnya hal tersebutlah yang harus dianalisa secara detail mengapa faktor pemicu tersebut dapat terjadi. Disamping faktor-faktor yang telah disebutkan diatas, teori-teori modern memasukkan faktor sistem manajemen sebagai salah satu faktor penyebab terjadinya kecelakaan.Ketimpangan dan kurangnya perencanaan, pengawasan, pelaksanaan, Pemantauan dan pembinaan menyebabkan terjadinya multiple cause sehingga kecelakaan kerja dapat terjadi.

3.2. Fungsi K3 Aspek K3 atau Kesehatan dan Keselamatan kerja bersifat multi dimensi.Oleh karena itu, tujuan dan manfaat K3 harus dilihat dari berbagai aspek, yaitu sisi hukum, perlindungan tenaga kerja dan sisi ekonomi. 1. Aspek Hukum Keselamatan dan Kesehatan Kerja adalah merupakan ketentuan perundangan dan memiliki landasan hukum yang kuat dan wajib dilaksanakan oleh semua pihak yang terlibat dalam proses produksi yaitu pengusaha dan pekerja. Laboratorium Proses Produksi 1 Teknik Mesin Universitas Brawijaya

Laporan Praktikum Proses Manufaktur I Program Studi Teknik Industri Semester Ganjil 2012/2013 Di Indonesia, peraturan perundangan yang mengatur tentang Keselamatan dan Kesehatan kerja antara lain: a. Undang-undang No. 1 Tahun 1970 tentang Keselamatan Kerja b. Undang-undang No.13 tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan c. Undang-undang No.8 Tahun 1998 tentang perlindungan Konsumen d. Undang-undang No.22 tentang MIGAS e. Undang-undang No.19 / 1999 tentang jasa konstruksi f. Undang-undang No.28 tahun 2002 tentang Bangunan Gedung g. Undang-undang No.30 tahun 2009 tentang Ketenagalistrikan Bab XI Lingkungan Hidup dan keteknikan memuat tentang Aspek Keselamatan 2. Aspek Perlindungan Tenaga Kerja Keselamatan dan Kesehatan kerja adalah salah satu upaya untuk melindungi semua pihak yang terlibat dalam proses produksi dari kecelakaan dan penyakit akibat kerja agar. Hal ini dikarenakan tenaga kerja adalah merupakan asset perusahaan yang harus dilindungi. Apabila terjadi kecelakaan kerja, berarti ada pengurangan asset sehingga perusahaan akan dirugikan akibat hal tersebut. Perlindungan terhadap tenaga kerja bukan hanya terhadap sisi keselamatan dan kesehatan kerja saja. Ada banyak bentuk perlindungan bagi tenaga kerja antara lain jaminan sosial tenaga kerja, upah minimum, jam kerja, dan hak untuk berkumpul dan berorganisasi. Di dunia ada banyak peraturan yang mengatur tentang perlindungan tenaga kerja. Indonesia mengeluarkan Undang-undang No.1 Tahun 1970 tentang Keselamatan Kerja. Di Amerika pada tahun yang sama juga mengeluarkan Occupational Health and Safety Act dan membentuk Lembaga OHSA yang bertugas menangani aspek K3. 3. Aspek Ekonomi Dilihat dari sisi ekonomi banyak sekali manfaat penerapan K3 di perusahaan. K3 akan bermanfaat dalam peningkatan produktivitas dan pengendalian kerugian.

Laboratorium Proses Produksi 1 Teknik Mesin Universitas Brawijaya

Laporan Praktikum Proses Manufaktur I Program Studi Teknik Industri Semester Ganjil 2012/2013 a. K3 dan produktivitas Di dalam proses produksi, produktivitas ditopang oleh tiga hal yaitu kualitas, kuantitas dan keselamatan. Produktivitas yang baik akan menghasilkan barang dengan kualitas yang sesuai dengan permintaan dan jumlah yang sesuai. Kualitas dan kuantitas tidak akan tercapai bila keselamatan kerja tidak terjamin. Bayangkan bila seorang operator mengalami kecelakaan, pastilah proses produksi akan terganggu sehingga target yang ditetapkan tidak tercapai. Oleh karena itu, keselamatan dan kesehatan kerja sangat penting dalam menunjang tercapainya produktivitas kerja. b. K3 dan pengendalian kerugian Seperti telah dipaparkan diatas, bahwa kecelakaan kerja akan mengakibatkan menurunnya produktivitas. Selain itu, kecelakaan juga akan mengakibatkan kerugian karena menyangkut cederanya pekerja atau operator dan juga kerusakan sarana dan prasarana produksi. Kerusakan sarana dan prasaran produksi biasa disebut non injury accident atau damage accident. Karena itulah, disini K3 berfungsi sebagai pengendali kerugian atau disebut Loss control Management. Hal ini sangat penting karena kerugian akibat kerusakan mesin lebih besar daripada cederanya operator. Penelitian ini diungkapkan oleh Frank Bird dalam bukunya Loss control Management .Dalam penelitiannya tersebut Frank Bird mengungkapkan bahwa untuk 1 kali kecelakaan yang mengakibatkan meninggal, akan terjadi lebih dari 30 kecelakaan yang mengakibatkan kerusakan yang tidak berakibat cedera pada manusia.

3.3. Alat Pendukung Alat pendukung dalam K3 atau Kesehatan dan K