Finish Unras

Download Finish Unras

Post on 04-Dec-2015

212 views

Category:

Documents

0 download

Embed Size (px)

DESCRIPTION

Finish Unras

TRANSCRIPT

<p>BAB I</p> <p>BAB I</p> <p>PENDAHULUAN</p> <p>I.1 Latar Belakang</p> <p>Kelapa sawit (Elaeis Sp.) merupakan tanaman berjenis palma dengan daun tersusun majemuk bersirip yang menghasilkan minyak masak, minyak industri, maupun bahan bakar (biodiesel) karena memiliki emisi yang lebih sedikit dibandingkan dengan bahan bakar petroleum tradisional. Biofeul ini biasa dicampur dengan bahan bakar petroleum tradisional, walau memungkinkan pula untuk menjalankan mesin diesel hanya dengan menggunakan biodiesel, yang menjadikannya menjanjikan sebagai sumber energi alternatif pengganti bahan bakar fosil. </p> <p>Keistimewaan yang dimiliki oleh kelapa sawit yang dapat menghasilkan minyak masak, minyak industri, maupun bahan bakar (biodiesel), serta prospek menjanjikan keuntungan besar bagi pengelolanya membuat banyak hutan dan perkebunan lama dikonversi oleh para petani sawit menjadi perkebunan kelapa sawit.</p> <p>Indonesia adalah penghasil minyak kelapa sawit kedua dunia setelah Malaysia, namun proyeksi ke depan memperkirakan bahwa pada tahun 2009 Indonesia akan menempati posisi pertama.( http://www.trulyjogja.com). Untuk mewujudkan keinginan ini, sejak orde baru Indonesia mulai menggalakkan perluasan areal penanaman yang dipadukan dengan sistem PIR Perkebunan untuk meningkatkan harga minyak bumi sehingga peran minyak nabati meningkat sebagai energi alternatif (wikipedia.org/wiki/Kelapa_sawit). Dengan menggunakan sistem ini, satu hektar kelapa sawit dapat menghasilkan 5.000 kg minyak mentah, atau hampir 6.000 liter minyak mentah ( JourneytoForever). Hasil yang menggiurkan ini menjadi penyebab pemerintah membebaskan perluasan areal kelapa sawit dengan penggundulan hutan. Hal ini tentu saja bertentangan dengan UU No 18 Tahun 2004 tentang Perkebunan Pasal 17 ayat 1, Pasal 21 serta pasal 46 ayat 1 dan juga UU No 41 tahun 1999 tentang Kehutanan pasal 50 ayat 1. Sejalan dengan hal tersebut, dampak ekologis dari fenomena pembebasan perluasan areal pertanian ini dapat mengakibatkan bencana berupa banjir, kekeringan serta terganggunya sistem hidrologis.Survey pada beberapa kawasan yang dilakukan oleh WWF menemukan bahwa sebagian besar lahan hasil perluasan kelapa sawit tersebut sangat buruk bila digunakan untuk kelapa sawit. Permukaan yang bergunung-gunung dikombinasikan dengan ketinggian dan iklim yang tidak sesuai untuk kelapa sawit, berarti paling tinggi hanya sekitar 10 persen yang cocok digunakan untuk penanamannya dan ini memberikan kredibilitas bagi kelompok-kelompok environmentalis untuk menunjukkan bahwa seluruh rencana tersebut mungkin saja hanya merupakan kedok untuk penebangan hutan besar-besaran guna mengambil seluruh sumber kayu yang ada di wilayah tersebut. Pengalihan lahan untuk perkebunan kelapa sawit tidak memberikan nilai tambah apapun, baik dari sisi ekonomi maupun dari sisi ekologi. ( Prof. Maman Sutisna, guru besar silvikultur). </p> <p>Namun, rencana perluasan lahan pertanian yang dilontarkan oleh pihak pemerintah sebenarnya kalau kita pikirkan secara mendalam juga memiliki sisi positifnya, dengan adanya perluasan lahan pertanian kelapa sawit ini maka akan muncul perusahaan-perusahaan yang nantinya akan banyak membangun pabrik-pabrik yang pada indikasinya juga akan menyerap tenaga kerja pada daerah tersebut. Masyarakat pada saat sekarang ini banyak yang mengalami keinginan untuk memiliki usaha atau memiliki pekerjaan namun, masyarakat sekarang ini banyak yang tidak memiliki modal awal untuk mewujudkan keinginannya tersebut. Maka dengan adanya rencana pemerintah untuk memperluas lahan pertanian kelapa sawit tersebut, serta banyaknya pembangunan perusahaan pengelolaan sawit, maka masyarakat setidaknya tidak akan menganggur hanya bertopang dagu menunggu untuk mendapatkan suatu pekerjaan. </p> <p>Seharusnya pemerintah mengoptimalkan perkebunan kelapa sawit yang tidak hanya mengorientasikan perluasan lahan saja, tetapi juga memperhatikan pengolahan perkebunan yang ada dengan peningkatan secara intensifitas. Perluasan lahan tanpa diikuti dengan peningkatan kualitas SDM yang kompeten serta perhatian pemerintah tentunya akan menjadi penyebab kemustahilan kesejahteraan rakyat dari program peningkatan perluasan areal pertanian untuk penanaman kelapa sawit akan tercapai. Dengan adanya dukungan pemerintah dalam pengoptimalisasian lahan pertanian kelapa sawit yang juga didukung oleh SDM yang berkualitas maka dampak-dampak negatif dari proses pemikiran tentang perluasan lahan pertanian kelapa sawit tersebut dapat diminimalisir.</p> <p>Keadaan inilah yang melatarbelakangi penulis untuk membuat karya tulis ilmiah bertopik kajian sosial dan ekonomi pengembangan kelapa sawit. Dengan adanya karya tulis ini masyarakat Indonesia khususnya para petani sawit diharapkan untuk dapat memiliki komitmen dalam mengembangkan areal kelapa sawit yang sesuai dengan undang-undang sehingga dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat Indonesia di masa depan.I.2 Rumusan Masalah</p> <p>Adapun permasalahan yang akan di bahas dalam karya tulis ini menyangkut :</p> <p>a. Efektifkah perluasan areal penanaman yang dipadukan dengan sistem PIR? </p> <p>b. Dapatkah Indonesia menjadi peringkat pertama di dunia dalam hal produksi minyak sawit?</p> <p>c. Hikmah apa yang dapat kita ambil dari rencana perluasan lahan pertanian kelapa sawit ini? </p> <p>I. 3 Tujuan Penulisan</p> <p>Tulisan ini disusun dengan tujuan untuk memberikan intepretasi ilmiah dan penjelasan keefektifan perluasan lahan pertanian kelapa sawit, manfaat dan pengaruh dari perluasan lahan pertanian kelapa sawit dari aspek sosial, ekonomi, kelapa sawit sebagai salah satu komoditi terbesar hasil Indonesia.</p> <p>I. 4 Manfaat Penulisan</p> <p>Karya tulis ini diharapkan dapat mendorong munculnya pengetahuan yang lebih mendasar kepada masyarakat sehingga mampu mengetahui sebab-akibat dari perluasan lahan pertanian kelapa sawit.BAB II</p> <p>TINJAUAN PUSTAKA</p> <p>II.1 SawitII.1.1 Klasifikasi ilmiah</p> <p>Kerajaan</p> <p>: Plantae</p> <p>Divisi</p> <p>: Magnoliophyta</p> <p>Kelas</p> <p>: Liliopsida </p> <p>Ordo</p> <p>: Arecales</p> <p>Famili</p> <p>: Arecaceae</p> <p>Genus</p> <p>: Elaeis Jacq.</p> <p>Species</p> <p>: Elaeis guineensis</p> <p> Elaeis oleifera</p> <p>Kelapa sawit berbentuk pohon. Tingginya dapat mencapai 24 meter. Akar serabut tanaman kelapa sawit mengarah ke bawah dan samping. Selain itu juga terdapat beberapa akar napas yang tumbuh mengarah ke samping atas untuk mendapatkan tambahan aerasi.Seperti jenis palma lainnya, daunnya tersusun majemuk menyirip. Daun berwarna hijau tua dan pelepah berwarna sedikit lebih muda. Penampilannya agak mirip dengan tanaman salak, hanya saja dengan duri yang tidak terlalu keras dan tajam. Batang tanaman diselimuti bekas pelepah hingga umur 12 tahun. Setelah umur 12 tahun pelapah yang mengering akan terlepas sehingga penampilan menjadi mirip dengan kelapa.</p> <p>Bunga jantan dan betina terpisah namun berada pada satu pohon (monoecious diclin) dan memiliki waktu pematangan berbeda sehingga sangat jarang terjadi penyerbukan sendiri. Bunga jantan memiliki bentuk lancip dan panjang sementara bunga betina terlihat lebih besar dan mekar.</p> <p>Tanaman sawit dengan tipe cangkang pisifera bersifat female steril sehingga sangat jarang menghasilkan tandan buah dan dalam produksi benih unggul digunakan sebagai tetua jantan.</p> <p>Buah sawit mempunyai warna bervariasi dari hitam, ungu, hingga merah tergantung bibit yang digunakan. Buah bergerombol dalam tandan yang muncul dari tiap pelapah. Minyak dihasilkan oleh buah. Kandungan minyak bertambah sesuai kematangan buah. Setelah melewati fase matang, kandungan asam lemak bebas (FFA, free fatty acid) akan meningkat dan buah akan rontok dengan sendirinya.Buah terdiri dari tiga lapisan:</p> <p>1. Eksoskarp, bagian kulit buah berwarna kemerahan dan licin.</p> <p>2. Mesoskarp, serabut buah</p> <p>3.Endoskarp, cangkang pelindung inti</p> <p>Inti sawit (kernel, yang sebetulnya adalah biji) merupakan endosperma dan embrio dengan kandungan minyak inti berkualitas tinggi.</p> <p>Kelapa sawit berkembang biak dengan cara generatif. Buah sawit matang pada kondisi tertentu embrionya akan berkecambah menghasilkan tunas (plumula) dan bakal akar (radikula).</p> <p>a. Syarat hidup</p> <p>Habitat aslinya adalah daerah semak belukar. Sawit dapat tumbuh dengan baik di daerah tropis (15 LU - 15 LS). Tanaman ini tumbuh sempurna di ketinggian 0-500 m dari permukaan laut dengan kelembaban 80-90%. Sawit membutuhkan iklim dengan curah hujan stabil, 2000-2500 mm setahun, yaitu daerah yang tidak tergenang air saat hujan dan tidak kekeringan saat kemarau. Pola curah hujan tahunan memperngaruhi perilaku pembungaan dan produksi buah sawit.</p> <p>b. Tipe kelapa sawit</p> <p>Kelapa sawit memiliki banyak jenis, berdasarkan ketebalan cangkangnya kelapa sawit dibagi menjadi</p> <p>1. Dura,</p> <p>2. Pisifera</p> <p>3. Tenera.</p> <p>Dura merupakan sawit yang buahnya memiliki cangkang tebal sehingga dianggap memperpendek umur mesin pengolah namun biasanya tandan buahnya besar-besar dan kandungan minyak pertandannya berkisar 18%. Pisifera buahnya tidak memiliki cangkang namun bunga betinanya steril sehingga sangat jarang menghasilkan buah. Tenera adalah persilangan antara induk Dura dan Pisifera. Jenis ini dianggap bibit unggul sebab melengkapi kekurangan masing-masing induk dengan sifat cangkang buah tipis namun bunga betinanya tetap fertil. Beberapa tenera unggul persentase daging per buahnya dapat mencapai 90% dan kandungan minyak pertandannya dapat mencapai 28%.</p> <p>II.1.2Kebutuhan bibit per hektar</p> <p>Jumlah kebutuhan bibit untuk satu hektar tergantung pada jarak tanam dan kualitas bibit, sedangkan kebutuhan benih untuk satu hektar pembibitan tergantung jarak tanam bibit di pesemaian pembibitan, jumlah bibit yang akan diafkir dan penjarangan yang dilakukan. </p> <p>Perbandingan jumlah bibit dalam 1 hektar pembibitan dengan luas pertanaman di lapangan (kapasitas lapangan) dapat dilihat pada tabel berikut :</p> <p>Tabel II.1: Hubungan jarak tanam bibit di pesemaian bibit dan kapasitas lapangan.</p> <p>Jarak tanam bibit di pesemaianJumlah bibit per hektar</p> <p>BibitAfkir</p> <p>(10 %)Sisa (dibulat kan)Seleksi</p> <p>(20 %)Bibit yang baikKapasitas lapangan (ha) bila kebutuhan bibit ( 150/ha</p> <p>100x10012.500125011.00022008.80058.66</p> <p>90x9013.888138812.500250010.00068.33</p> <p>85x8514.075147013.000260010.40069.33</p> <p>80x8015.625156214.000280011.20074.66</p> <p>75x7516.666166615.000300012.00080.00</p> <p>70x7017.857185516.000320012.80085.33</p> <p>65x6519.230192017.000340013.60090.66</p> <p>60x6020.833208318.500370014.80098.66</p> <p>55x5522.727227220.000400016.000106.66</p> <p>50x5025.000250022.500450018.000120.00</p> <p>(sumber: redaksi SW online)</p> <p>II.1.3 Pemupukan</p> <p>Pemupukan bibit sangat penting untuk memperoleh bibit yang sehat, tumbuh cepat dan subur.Pupuk yang diberikan adalah Urea dalam bentuk larutan dan pupuk majemuk. Dosis dan jenis pupuk yang diberikan dapat dilihat pada table berikut ini :</p> <p>Tabel II.2 : Dosis dan jenis pupuk untuk pemupukan bibit</p> <p>Umur bibit (minggu ke )Jenis pupukDosisRotasi</p> <p>4 5Larutan Urea 0,2 %3-4 lt larutan / 100 bibit1 minggu</p> <p>6 7s.d.a4-5 lt larutan / 100 bibit1 minggu</p> <p>8 16Rustica 15. 15. 6. 41 gram / bibit1 minggu</p> <p>17 20Rustica 12.12.17.25 gram / bibit2 minggu</p> <p>21 28s.d.a8 gram / bibits.d.a</p> <p>29 40s.d.a15gram/ bibits.d.a</p> <p>41 48s.d.a17gram /bibits.d.a</p> <p>(sumber: redaksi SW online)</p> <p>II.1.4 Sejarah perkebunan kelapa sawit</p> <p>Kelapa sawit didatangkan ke Indonesia oleh pemerintah Hindia Belanda pada tahun 1848. Beberapa bijinya ditanam di Kebun Raya Bogor, sementara sisa benihnya ditanam di tepi-tepi jalan sebagai tanaman hias di Deli, Sumatera Utara pada tahun 1870-an. Pada saat yang bersamaan meningkatlah permintaan minyak nabati akibat Revolusi Industri pertengahan abad ke-19. Dari sini kemudian muncul ide membuat perkebunan kelapa sawit berdasarkan tumbuhan seleksi dari Bogor dan Deli, maka dikenallah jenis sawit "Deli Dura".</p> <p>Pada tahun 1911, kelapa sawit mulai diusahakan dan dibudidayakan secara komersial dengan perintisnya di Hindia Belanda adalah Adrien Hallet, seorang Belgia, yang lalu diikuti oleh K. Schadt. Perkebunan kelapa sawit pertama berlokasi di Pantai Timur Sumatera (Deli) dan Aceh. Luas areal perkebunan mencapai 5.123 ha. Pusat pemuliaan dan penangkaran kemudian didirikan di Marihat (terkenal sebagai AVROS), Sumatera Utara dan di Rantau Panjang, Kuala Selangor, Malaya pada 1911-1912. Di Malaya, perkebunan pertama dibuka pada tahun 1917 di Ladang Tenmaran, Kuala Selangor menggunakan benih dura Deli dari Rantau Panjang. Di Afrika Barat sendiri penanaman kelapa sawit besar-besaran baru dimulai tahun 1911.</p> <p>Hingga menjelang pendudukan Jepang, Hindia Belanda merupakan pemasok utama minyak sawit dunia. Semenjak pendudukan Jepang, produksi merosot hingga tinggal seperlima dari angka tahun 1940.Usaha peningkatan pada masa Republik dilakukan dengan program Bumil (buruh-militer) yang tidak berhasil meningkatkan hasil, dan pemasok utama kemudian diambil alih Malaya (lalu Malaysia).</p> <p>Baru semenjak era Orde Baru perluasan areal penanaman digalakkan, dipadukan dengan sistem PIR Perkebunan. Perluasan areal perkebunan kelapa sawit terus berlanjut akibat meningkatnya harga minyak bumi sehingga peran minyak nabati meningkat sebagai energi alternatif.</p> <p>Beberapa pohon kelapa sawit yang ditanam di Kebun Botani Bogor hingga sekarang masih hidup, dengan ketinggian sekitar 12m, dan merupakan kelapa sawit tertua di Asia Tenggara yang berasal dari Afrika.</p> <p>Terpenting di masa sekarang seiringnya berjalannya perkembangan global. Pemanfaatan kelapa sawit lebih ditekankan sebagai penghasil devisa nonmigas di tanah air, namun tantangan terbesar penerapan ERP di industri-industri kelapa sawit di Indonesia terletak pada kesadaran pelaku industri ini bahwa mereka membutuhkan peningkatan efisiensi dan efektivitas dalam setiap proses bisnis yang berlangsung di perusahaan mereka.II.2 Permasalahan dalam Perluasan Lahan Pertanian Kelapa SawitBanyak permasalahan yang timbul dari perluasan lahan pertanian kelapa sawit, baik yang mencangkup permasalahan sosial dan ekonominya. Permasalahan ini banyak masyarakat yang menyingkapinya dengan berbagai cara baik dengan melakukan suatu usulan maupun penolakan secara tegas dengan mengajukan berbagai saran kepada pihak pemerintah terkait dengan permasalahan yang akan ditimbulkan dari adanya perluasan lahan pertanian kelapa sawit tersebut. </p> <p>Permasalahan-permasalahan yang ditimbulkan akibat perluasan lahan pertanian kelapa sawit dapat kita klasifikasikan antara lain permasalahan kesejahteraan petani kelapa sawit dan juga permasalahan dampak ekologis yang ditimbulkannya.</p> <p>A. Permasalahan kesejahteraan petani kelapa sawit</p> <p>1. Kesejahteraan petani kelapa sawit dipengaruhi oleh luas lahan, hasil produksi dan harga kelapa sawit. Keterbatasan lahan yang dimiliki, pengelolaan kebun yang tidak optimal, dan penentuan harga sepihak yang tidak menguntungkan petani, merupakan faktor penting dalam mempengaruhi kesejahteraan petani. Akibatnya petani tetap hidup miskin, terjerat hutang atau terjebak dalam permainan pemodal.( Laila Nagib, peneliti LIPI).</p> <p>2. Nordin, p...</p>