hormon tiroid dan kalsitonin

Download hormon tiroid dan kalsitonin

Post on 31-Oct-2014

123 views

Category:

Documents

1 download

Embed Size (px)

DESCRIPTION

hormon tiroid dan kalsitonin pada manusiasemoga bermanfaat untuk para pembacatulisan ini berdasarkan referensi-referensi yang terpercaya.terima kasih

TRANSCRIPT

<p>1</p> <p>BAB I PENDAHULUAN</p> <p>1.1 Latar Belakang Kelenjar tiroid, yang terletak tepat di bawah laring sebelah kanan dan kiri trakea menyekresi tiroksin, triyodotironin yang mempunyai efek nyata pada kecepatan metabolisme tubuh. Kelenjar ini juga menyekresi kalsitonin, suatu hormon yang penting untuk metabolisme kalsium. Tidak adanya sekresi tiroid sama sekali biasanya menyebabkan laju metabolisme turun sekitar 40 persen dibawah normal dan sekresi tiroksin yang berlebihan sekali dapat menyebabkan laju metabolisme basal meningkat tinggi 60 sampai 100 persen diatas normal. Sekresi tiroid terutama diatur oleh hormon perangsang tiroid yang disekresi oleh kelenjar hipofisis anterior. Kadar basal hormon tiroid yang dilepaskan bersifat esensial untuk mempertahankan laju metabolisme normal. Keadaan-keadaan yang membutuhkan peningkatan produksi panas, misalnya jika tempratur inti tubuh turun, dapat menyebabkan peningkatan aktivasi aksis tiroid. (Sherwood, 2011) Fungsi tiroid diatur oleh hormon perangsang tiroid (TSH, Thyroid Stimulating Hormon) dari hipofisis anterior. Sebaliknya, sekresi hormon tropik ini sebagian diatur oleh TSH (Thyrotropin Releasing Hormone) dari hipotalamus dan berada dibawah kontrol umpan balik negatif oleh peningkatan kadar hormon tiroid dalam darah yang bekerja di hipofisis anterior dan hipotalamus. (Ganong, 2008) Sekresi kalsitonin meningkat bila kelenjar tiroid diperfusi dengan larutan yang mengandung kalsium berkonsentrasi tinggi. Kalsitonin bermanfaat pada pengobatan penyakit paget, suatu keadaan dengan peningkatan osteoklas yang mencetuskan kompensasi berupa pembentukan tulang baru yang tidak teratur. Kandungan kalsitonin pada tiroid manusia rendah dan kadar kalsium plasma tetap normal selama kelenjar paratiroid utuh. (Ganong, 2008)</p> <p>2</p> <p>1.2 Tujuan dan Manfaat 1.2.1 Tujuan a. Memberikan informasi tentang pengaruh hormon tiroid dan kalsitonin. b. Mengetahui struktur anatomi dan histologi kelenjar tiroid. c. Memberikan informasi dari fungsi hormon yang dihasilkan kelenjar tiroid. 1.2.2 Manfaat Dengan mengetahui struktur anatomi dan histologi kelenjar tiroid serta fungsinya, kita akan dapat lebih mudah mempelajari sistem endokrin pada tubuh manusia.</p> <p>3</p> <p>BAB II PEMBAHASAN</p> <p>2.1 Struktur Anatomi Kelenjar tiroid terdapat pada semua vertebrata. Pada mamalia, tiroid berasal dari evaginasi dasar faring; dan duktus tiroglosus menandai jalur perjalanan tiroid dari lidah ke leher, yang kadang-kadang menetap sampai dewasa. Kelenjar thyroid terletak di leher depan setentang vertebra cervicalis 5 sampai thoracalis 1. Kedua lobus kelenjar tiroid pada manusia dihubungkan oleh suatu jembatan jaringan, yaitu ismus tiroid, dan kadang-kadang terdapat lobus piramidalis yang muncul dari ismus didepan laring. Kelenjar mendapat vaskularisasi yang baik, dan tiroid merupakan salah satu organ tubuh yang memiliki jumlah aliran darah tertinggi per gram jaringannya. (Ganong, 2008) Tiroid terbentuk dari banyak asinus (folikel). Tiap-tiap folikel sferis disekelilingi oleh suatu lapisan sel dan diisi oleh bahan proteinaseosa berwarna merah muda yang disebut koloid. Saat kelenjar tidak aktif, koloid berjumlah banyak, folikel berukuran besar dan sel-sel yang membatasinya tipis. Bila kelenjar aktif, folikel menjadi kecil, sel-sel cuboid atau columnar dan tepi folikel mengalami lekukan yang membentuk banyak lakuna reabsorpsi kecil. (Ganong, 2008) Dari apeks sel tiroid, terdapat mikrovili yang menonjol kedalam koloid, dan didalam mikrovili terdapat kanalikulus. Retikulum endoplasma tampak menonjol, suatu gambaran yang lazim terdapat pada sebagian besar sel kelenjar dan tampak butir-butir sekretor tiroglobulin. Tiap-tiap sel tiroid terdapat diatas lamina basalis yang memisahkan sel-sel ini dari kapiler sekitarnya. (Ganong, 2008) Vaskularisasi 1. Sistem Arteri Arteri Thyroidea superior, adalah cabang Arteri Carotis externa yang masuk ke jaringan superficial kelenjar, mendarahi jaringan connective dan capsule.</p> <p>4</p> <p> Arteri Thyroidea inferior adalah cabang trunchus thyreocervicalis dan masuk ke lapisan dalam kelenjar, mendarahi jaringan parenkim dan propia kelenjar. Aretri Thyroidea ima, Arteri ini kadang-kadang dijumpai merupakan cabang arcus aorta atau A. Brachiocephalica dan mendarahi istmus. Aretri Thyroidea acessorius, adalah cabang-cabang Aretri Oesophageal dan Tracheal yang masuk ke facies posteromedial. (Mega Sari, 2004)</p> <p>2. Sistem Vena Vena Thyroidea superior; muncul dari polus superior dan berakhir pada vena jugularis interna (kadang-kadang Vena Facialis) Vena Thyroidea inferior; muncul dari margo bawah istmus dan berakhir pada Vena Brachiocephalica sinistra. Vena Thyroidea media; muncul dari pertengahan lobus lateralis dan berakhir di Vena Jugularis inferior. (Mega Sari, 2004)</p> <p>Gambar 2.1 Anatomi Tiroid (www.google.com)</p> <p>2.2 Struktur Histologi Kelenjar tiroid (glandula thyroidea) terletak dileher depan dibawah laring. Ini adalah kelenjar tunggal yang terdiri dari lobus kiri dan kanan yang besar, dihubungkan oleh isthmus ditengah. Sebagian besar sel, jaringan atau organ endokrin tersusun dalam bentuk pita (korda) atau kelompok dan menyimpan</p> <p>5</p> <p>produk sekretoriknya didalam sitoplasmanya. Kelenjar tiroid adalah organ endokrin yang unik karena sel-selnya tersusun menjadi struktur bulat, yaitu folikel (folliculus). Setiap folikel dikelilingi oleh serat retikular dan suatu anyaman kapiler yang memudahkan hormon tiroid masuk kedalam aliran darah. Epitel folikel dapat berupa epitel selapis gepeng, kuboid atau kolumnar rendah, tergantung pada keadaan aktivitas kelenjar tiroid. (Eroschenko, 2007) Folikel adalah unit struktural dan fungsional kelenjar tiroid. Sel-sel yang mengelilingi folikel yaitu sel folikulkar (thyrocytus T) juga disebut cellula principalis, menyintesis, melepaskan dan menyimpan produknya diluar</p> <p>sitoplasma, atau ekstraselluler dilumen folikel sebagai substansia gelatinosa, yaitu koloid (colloideum). Koloid terdiri atas tiroglobulin, suatu glikoprotein beriodin yang merupakan bentuk simpanan hormon tiroid yang tidak aktif. Selain sel folikular, kelenjar tiroid juga mengandung sel parafolikular (thyrocytus C) terpulas pucat yang lebih besar. Sel-sel ini ditemukan ditepi epitel folikel atau didalam folikel. Jika sel parafolikular terletak dalam suatu folikel, sel ini biasanya terpisah dari lumen folikel oleh sel-sel folikular di sekitarnya. (Eroschenko, 2007) Kelenjar tiroid ditandai oleh folikel dengan berbagai ukuran yang terisi oleh koloid asidofilik. Folikel biasanya dilapisi oleh epitel selapis kuboid yang terdiri dari folikular (prinsipalis). Folikel yang terpotong tangensial tidak</p> <p>memperlihatkan lumen. Sel-sel folikukar menyintesis dan menyekresi hormon tiroid. Kelenjar tiroid juga mengandung jenis sel lainnya yaitu parafolikular. Sel ini berupa sel tunggal atau berkelompok ditepi folikel. Sel parafolikular menyintesis dan menyekresi hormon kalsitonin. (Eroschenko, 2007) Septum jaringan ikat dari kapsul kelenjar tiroid meluas ke bagian dalam kelenjar dan membagi kelenjar menjadi lobulus-lobulus. Banyak pembuluh darah, arteriol, venula dan kapiler terlihat diseptum jaringan ikat dan disekitar folikel. Diantara masing-masing folikel terdapat sedikit jaringan ikat interfolikular. (Eroschenko, 2007) Pembesaran yang lebih kuat pada kelenjar tiroid menggambarkan rincian folikel tiroid. Tinggi sel folikular bergantung pada fungsinya. Pada folikel yang</p> <p>6</p> <p>sangat aktif, epitelnya kuboid. Pada folikel yang kurang aktif, epitelnya terlihat gepeng. Sel parafolikular terletak didalam epitel folikel atau dalam kelompok kecil di dekat folikel tiroid. Sel ini lebih besar dan berbentuk lonjong atau bervariasi, dengan sitoplasma yang lebih pucat daripada sel folikular. Sel parafolikular tidak secara langsung terletak dilumen folikel, namun terpisah dari lumen oleh prosessus sel folikular disekitarnya. Disekeliling folikel tiroid, sel folikular dan parafolikular terdapat jaringan ikat interfolikular tipis dengan banyak pembuluh darah dan kapiler. (Eroschenko, 2007)</p> <p>Gambar 2.2 Histologi Kelenjar Tiroid (www.google.com)</p> <p>2.3 Struktur Kimia Hormon utama yang disekresi oleh tiriod adalah tiroksin (T4) dan triiodotironin (T3). Triiodotironin juga dibentuk di jaringan perifer melalui deiodinasi tiroksin. Kedua hormon adalah asam amino yang mengandung iodium. Sejumlah kecil cadangan triiodotironin (3,3,5-triiodotironin, RT3) dan senyawa lain juga ditemukan dalam darah vena tiroid. Triiodotironin lebih aktif dari pada tiroksin, sedangkan respon triiodotironin tidak aktif. Bentuk tiroksin yang terdapat secara alami dan turunannya dengan atom karbon asimetrik adalah isomer-isomer L. D-Tiroksin hanya memiliki sedikit fraksi aktivitas bentuk L. (Ganong, 2008)</p> <p>7</p> <p>2.4 Metabolisme Iodium Iodium adalah bahan mentah yang penting untuk sintesis hormon tiroid. Iodium yang terdapat dalam makanan diubah menjadi iodida dan diabsorpsi. Asupan iodium harian minimum untuk mempertahankan fungsi tiroid normal adalah 150 ug pada orang dewasa. Kadar iodium plasma normal adalah sekitar 0,3 ug/dL, dan iodium disebarkan dalam satu ruang sekitar 25 L (35% berat badan). Organ utama yang mengambil iodium adalah tiroid, yang menggunakannya untuk membuat hormon tiroid, dan ginjal yang mengekskresikannya ke dalam urine. Sekitar 120 ug/h masuk kedalam tiroid pada tingkat sintesis dan sekresi hormon tiroid yang normal. Tiroid menyekresi 80 ug/h iodium dalam bentuk triiodotironin dan tiroksin. Iodium perhari berdifusi kedalam CES (cairan ekstrasel). Tiroksin dan triiodotironin yang di sekresikan dimetabolisme dalam hati dan jaringan lain yang akan melepaskan 60 ug iodium per hari kedalam cairan ekstrasel. Beberapa turunan hormon tiroid diekskresikan melalui empedu, dan sebagai iodium didalamnya diserap ulang, tetapi berat bersih kehilangan iodium dalam tinja sekitar 20 ug/h. (Ganong, 2008)</p> <p>2.5 Sintesis Hormon Tiroid Dikelenjar tiroid, iodida mengalami oksidasi menjadi iodium dan berikatan ke posisi karbon 3 residu tirosin yang meruapakan bagian dari molekul tiroglobulin di koloid. Tiroglobulin adalah glikoprotein yang terbentuk daru dua subunit dan memiliki berat molekul 660.000. Molekul ini mengandung karbohidrat sebanyak 10% dari beratnya. Molekul ini juga mengandung 123 residu tirosin, tetapi hanya 4-8 residu yang secara normal bergabung menjadi hormon tiroid. Tiroglobulin dibentuk oleh sel tiroid dan disekresikan kedalam koloid oleh eksositosis granula yang juga mengandung tiroid peroksidase, enzim yang mengatalis oksidasi iodium dan pengikatannya. Hormon tiroid tetap terikat pada molekul tiroglobulin sampai disekresikan. Saat disekresi, koloid diabsorpsi oleh tiroid, ikatan peptida mengalami hidrolisis dan triiodotironin dan tiroksin bebas dilepaskan dalam kapiler. Dengan demikian, sel-sel tiroid memiliki 3 fungsi. Sel-sel ini mengumpulkan dan memindahkan iodium: membentuk tiroglobulin dan</p> <p>8</p> <p>mengeluarkannya kedalam tiroid; serta mengeluarkan hormon tiroid dari tiroglobulin dan menyekresikannya kedalam sirkulasi. (Sherwood, 2011) Dalam proses pembentukan hormon, produk pertama adalah monoiodotirosin (MIT). Monoiodotirosin kemudian mengalami iodinasi diposisi karbon 5 untuk membentuk diiodotirosin (DIT). Dua molekul diiodotirosin kemudian mengalami suatu kondensasi oksidatif membentuk tirosin (T4) dengan pengeluaran rantai sisi alanin dari molekul yang membentuk cincin luar. Ada dua teori yang menerangkan terjadinya reaksi penggabungan (coupling reaction): 1. Penggabungan terjadi dengan dua molekul diiodotirosin melekat ke tiroglobulin (penggabungan intramolekul). 2. Diiodotirosin yang membentuk cincin luar mula-mula dilepaskan dari tiroglobulin. (penggabungan antarmolekul). Pada keadaan serta kedua tersebut, tiroid peroksidase dibentuk berperan dalam</p> <p>penggabungan</p> <p>iodinasi.Triiodotirosin</p> <p>melalui</p> <p>kondensasi</p> <p>monoiodotirosin dengan diiodotirosin. (Sherwood, 2011)</p> <p>2.3 Gambar Sintesis Hormon Tiroid (www.google.com)</p> <p>2.6 Metabolisme hormone tiroid Triiodotirosin dan tiroksin mengalami deiodinasi di hati, ginjal, dan banyak jaringan lain. Pada orang dewasa normal, sepertiga tiroksin dalam darah secara normal diubah menjadi Triiodotirosin dan 45% diubah menjadi RT3 (rekasi Triiodotirosin). Hanya sekitar 13% Triiodotirosin dalam darah disekresi oleh</p> <p>9</p> <p>kelenjar tiroid dan 95% dibentuk dari deiodinasi tiroksin. Terdapat perbedaan mencolok dalam rasio Triiodotirosin terhadap tiroksin diberbagai jaringan. Dua jaringan yang memiliki rasio Triiodotirosin /tiroksin yang sangat tinggi adalah hipofisis dan korteks serebri. (Ganong, 2008) Terdapat 3 deiodinasi berbeda yang bekerja pada hormon tiroid: D1, D2, dan D3. Ketiganya bersifat unik karena mengandung asam amino selenosistein yang jarang ditemukan, sulfur dalam sisteinnya diganti oleh selenium, dan selenium esensial untuk aktivitas enzimatik. 1. D1 terdapat dalam konsentrasi tinggi di hati, ginjal, tiroid, dan hipofisis. Berperan terutama dalam memantau pembentukan Triiodotirosin dan tiroksin di perifer. 2. D2 terdapat di otak, hipofisis dan lemak cokelat. Enzim ini berperan dalam pembentukan Triiodotirosin. Di otak, D2 terletak di astroglia dan menghasilkan Triiodotirosin untuk dipasok ke neuron. 3. D3 terdapat di otak dan jaringan organ reproduksi. Enzim ini hanya bekerja pada posisi 5 di Triiodotirosin, tiroksin dan sebagai sumber utama reaksi Triiodotirosin di darah dan jaringan. Secara keseluruhan, deiodinase berperan untuk mempertahankan perbedaan dalam rasio Triiodotirosin/tiroksin diberbagai jaringan tubuh. Sebagian dari Triiodotirosin dan tiroksin hati mengalami perubahan lebih lanjut menjadi deiodotirosin oleh deiodinase. Triiodotirosin dan tiroksin juga mengalami konjugasi di hati untuk membentuk sulfat serta glukuronida.Konjugat-konjugat ini masuk kedalam empedu lalu ke usus. Konjugat tiroid mengalami hidrolisis dan sebagian diserap ulang, tetapi sebagian diekskresikan melalui tinja. Selain itu, Triiodotirosin dan tiroksin berpindah langsung dari sirkulasi ke lumen usus. Iodida yang menghilang melalui jalur ini berjumlah sekitar 4% dari jumlah iodide total yang hilang per harinya. (Ganong, 2008)</p> <p>2.7 Mekanisme Kerja Hormon tiroid masuk kedalam sel, dan Triiodotirosin berikatan dengan reseptor tiroid (thyroid receptor, TR) di inti. Tiroksin juga dapat berikatan, tetapi tidak terlalu erat. Kompleks hormon-reseptor kemudian berikatan dengan DNA</p> <p>10</p> <p>malalui zinc fingers dan meningkatkan atau pada sebagian kasus menurunkan ekspresi berbagai gen berbeda yang mengode enzim yang mengatur fungsi sel. Terdapat dua gen reseptor tiroid manusia: sebuah gen reseptor beta di kromosom 17 dan sebuah gen reseptor alfa di kromosom 3. Melalui proses alternative splicing, masing-masing membentuk paling sedikit dua mRNA yang berbeda (sehingga terbentuk 2 reseptor protein yang berlainan). Reseptor tiroid beta2 hanya dijumpai di otak, tetapi reseptor tiroid alfa1, alfa2 dan beta1 tersebar luas. Reseptor tiroid alfa2 berbeda dari tiga yang lain yaitu bahwa...</p>