diagnosa permasalahan sosial di kecamatan tomohon

Download DIAGNOSA PERMASALAHAN SOSIAL DI KECAMATAN TOMOHON

Post on 26-Jan-2017

217 views

Category:

Documents

1 download

Embed Size (px)

TRANSCRIPT

  • DIAGNOSA PERMASALAHAN SOSIAL DI

    KECAMATAN TOMOHON TENGAH

    KOTAMADYA TOMOHON - MINAHASA1

    Rusmiyati, SE 2

    ABSTRAK

    Kotamadya Tomohon sebagai salah satu kota yang baru memisahkan diridengan Kabupaten Minahasa memiliki berbagai permasalahan yang perlumendapatkan perhatian. Masalah dimaksud adalah belum tersedianya data (database)yang akurat sebagai bahan untuk menyusun rencana program pembangunan wilayah.Penelitian ini secara deskriptif mencoba menggambarkan kondisi dan permasalahankesejahteraan sosial yang ada di wilayah Kotamadya Tomohon, khususnya diKecamatan Tomohon Tengah yang terdiri dari 7 (tujuh) kelurahan, yaitu KelurahanTalete Satu, kelurahan Talete Dua, Kelurahan Matani Satu, Kelurahan Matani Dua,Kelurahan Matani Tiga, Kelurahan Komasi, dan Kelurahan Kolongan.

    Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa masalah-masalah kesejahteraan sosialsebagian besar bersumber dari kondisi ekonomi penduduk yang rendah, yang antaralain disebabkan oleh merosotnya pendapatan bidang pertanian. Sementara itu untukberalih ke luar sektor pertanian belum didukung oleh kondisi SDM yang memadai.Oleh karena itu, masalah kemiskinan dan masalah lain yang terkait cukup dominandi wilayah ini, misalnya fakir miskin, rumah tidak layak huni, lanjut usia terlantar, dankeluarga rentan. Untuk itu penelitian ini mengajukan rekomendasi antara lain: (1)perlunya program pemberdayaan fakir miskin sesuai dengan kondisi setempat; (2)penanganan masalah lanjut usia yang sudah ada pedoman pengembangannya, perlupenanganan yang lebih tuntas; dan (3) perlu membangun kepedulian masyarakatterhadap lingkungannya, serta meningkatkan kapasitas Potensi dan SumberKesejahteraan Sosial (PSKS) agar lebih berperan dalam pembangunan kesejahteraansosial di lingkungannya.

    Kata kunci:

    Masalah Sosial, Kemiskinan

    1 Diangkat dari penelitian Diagnosa Permasalahan Sosial di Kecamatan Tomohon Tengah

    Kotamadya Tomohon, Minahasa, dengan Tim: Drs. Ahendy Priatna, M.Si, Drs. Agus DairoBeke, MM, dan Rusmiyati, SE.

    2 Rusmiyati, staff Subbid Perencanaan dan Anggaran, Bidang Program, Puslitbang Kessos

    65Puslitbang Kesos

  • Pendahuluan

    Perubahan sistem pemerintahan dalam negeri dengan sistem otonomidaerah membawa pengaruh yang sangat signifikan terhadap permasalahansosial secara lokal. Jika pemerintahan sebelumnya (Zaman Orde Baru)bersifat sangat power oriented yang bernuansa pelestarian rezim kekuasaan,tidak memberi ruang gerak pada masyarakat, dan semua harus menunggu

    perintah penguasa, maka kini semuanya berubah dalam bentuk keterbukaan,dan dengan demikian semua permasalahan yang selama ini terpendam secaraterselubung muncul keper mukaan.

    Otonomi daerah merupakan jembatan menuju kemajuan suatu daerah,tetapi dibalik itu merupakan sumber masalah baru, yaitu dengan munculnyamasalah lain berupa berbagai konflik kepentingan di setiap daerah otonom.Persoalan-persoalan muncul secara estafet dan ragamnyapun semakin

    banyak, sejalan pula dengan perkembangan suatu daerah (Otonom), bobotpermasalahan baik secara kuantitas maupun kualitas cenderung meningkat.

    Tiap daerah memiliki permasalahan yang berbeda-beda sesuai kondisidaerah masing-masing. Jika digeneralisir permasalahan setiap daerah akanterlihat adanya permasalahan yang serupa, hanya motifnya yang berbeda-beda. Sebagai contoh: kenakalan remaja, mabuk-mabukan, narkoba dansebagainya hampir terjadi di semua daerah.

    Seiring dengan diberlakukannya otonomi daerah, tantangan yangdihadapi oleh pemerintah daerah Kota Tomohon menjadi semakin besardan bertambah. Pemerintah Kota Tomohon dituntut untuk melaksanakan

    pembangunan dibidang kesehatan dan kesejahteraan sosial sertamenyelenggarakan pelayanan kepada masyarakat dalam ruang lingkupbidang tersebut dengan sumber daya atau potensi yang terbatas, baik darisisi SDM, sarana dan prasarana maupun dari sisi anggaran.

    Sebagai upaya untuk menggali sumber permasalahan dapat dilakukanmelalui suatu pengkajian berdasarkan kondisi daerah masing-masing. Upayamemaparkan dan mendiagnosa permasalahan di setiap daerah bertujuanuntuk memperoleh suatu pemahaman tentang sumber dan motif

    permasalahan yang dikaji berdasarkan struktur sosial, kondisi eknonomipolitik dan budaya masyarakat di masing-masing daerah. Ilustrasi diatasmemberi gambaran bagaimana permasalahan masyarakat di berbagaidaerah dengan perbedaan kondisi geografis, struktur masyarakat, budaya

    66 Puslitbang Kesos

    Diagnosa Permasalahan Sosial di Kec. Tomohon Tengah-Minahasa

  • dan nilai masyarakat setiap daerah mewarnai jenis dan jumlah permasalahan

    yang terdapat dimasing-masing daerah.

    Berkaitan dengan hal tersebut, permasalahan pokok penelitian ini adalah

    bahwa daerah belum memiliki data yang akurat tentang Penyandang

    Masalah Kesejahteraan Sosial (PMKS) serta Potensi dan Sumberdaya

    Kesejahteraan Sosial (PSKS). Oleh karena itu, masih mengalami hambatan

    dalam merumuskan kebijakan dan program kesejahteraan sosial yang

    responsif terhadap kondisi yang ada.

    Penelitian ini bertujuan memperoleh pemahaman yang sempurna

    tentang permasalahan sosial, baik tentang potensi penyebab tumbuh

    kembangnya permasalahan yang dihadapi masyarakat setempat maupun

    kuantitas dan kualitas permasalahan kesejahteraan sosial di wilayah penelitian.

    Permasalahan sosial terjadi dimana-mana di seluruh wilayah

    Indonesia dengan faktor dan tingkat frekuensi yang berbeda-beda.

    Munculnya anekaragam permasalahan sosial tersebut bila didiagnosa lebih

    mengacu pada kasus sebab akibat, artinya masalah itu timbul karena ulah

    manusia, dan ketika manusia menangani masalahnya disitu timbul masalah

    lagi sehingga semakin lama semakin membesar ibarat bola salju (snow ball)

    dan berkarakter masalah yang akan menimbulkan masalah yang lain.

    Permasalahan sosial bersumber dari faktor internal yakni suatu sistem

    sosial yang menunjuk gejala ketimpangan struktural di masyarakat dalam

    penanganan permasalahan, sedangkan faktor eksternal lebih mengacu pada

    kebijakan pemerintah yang diwarnai dengan intervensi pemerintah melalui

    program di berbagai sektor. Akibat dari intervensi pemerintah yang sangat

    dominan, pada akhirnya menimbulkan permasalahan, misalnya: pertama,

    tingkat ketergantungan masyarakat terhadap pemerintah menjadi sangat

    tinggi, sehingga ketika masyarakat sedikit mengalami masalah, harapannya

    adalah menunggu bantuan pemerintah. Kedua, kemandirian menjadi hilang

    sehingga pola membantu mereka agar menolong dirinya sendiri jadi hilang.

    Dampaknya menimbulkan masalah baru yang secara proses dimulai dengan

    ketiadaan kepercayaan diri untuk bangkit berupaya keluar dari masalah,

    berpasrah menerima keadaan apa adanya.

    Individu-individu atau masyarakat yang mengalami masalah dalam

    mewujudkan kesejahteraan sosial dikenal sebagai Penyandang Masalah

    Kesejahteraan Sosial (PMKS). Ada 27 jenis PMKS yang telah diidentifikasi

    67Puslitbang Kesos

    Diagnosa Permasalahan Sosial di Kec. Tomohon Tengah-Minahasa

  • Departemen Sosial, antara lain: balita terlantar, anak terlantar, anak jalanan,anak cacat, anak korban tindak kekerasan atau diperlakukan salah, anaknakal, wanita rawan sosial ekonomi, wanita yang menjadi korban tindakkekerasan, lanjut usia terlantar, lanjut usia korban tindak kekerasan ataudiperlakukan salah, penyandang cacat, penyandang cacat bekas penderitapenyakit kronis, tuna susila, pengemis, gelandangan, bekas narapidana,korban penyalahgunaan napza, keluarga fakir miskin, keluarga berumahtak layak huni, keluarga bermasalah sosial psikologis, komunitas adatterpencil, masyarakat yang tinggal di daerah rawan bencana, korban bencanaalam, korban bencana sosial, pekerja migran terlantar, penyandang HIV/AIDS, dan keluarga rentan (Pusat Data dan Informasi Depsos, 2002).

    Suatu hal yang erat kaitannya dengan PMKS adalah sumberkesejahteraan sosial. Pengertian sumber menurut Max Siporin (Sukoco,1991), adalah sesuatu yang bermanfaat, dapat dimobilisasi dan dapatdigunakan sebagai alat dalam pemenuhan kebutuhan dan penyelesaianmasalah. Setiap masyarakat mempunyai berbagai potensi dan sumber antaralain sumber daya alami, sumber daya manusia, dan sumber daya sosial.Untuk mempertahankan kehidupannya, suatu masyarakat memanfaatkandan mengorganisasikan semua sumber daya ini dalam berbagai aktivitasseperti aktivitas ekonomi, sosial, politik, keagamaan, kesenian, gotong royongdan sebagainya. Di dalam kerangka pembangunan kesejahteraan sosial,potensi dan sumber kesejahteraan sosial merupakan faktor kekuatan/modal,sedangkan masalah kesejahteraan sosial dapat dipahami sebagai faktorkelemahan atau tantangan. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa setiapmasyarakat tidak hanya mempunyai kelemahan atau tantangan, tetapi jugapotensi dan sumber yang merupakan kekuatan diri untuk menghadapikelemahan atau tantangan. Namun demikian tidak semua golongan ataumasyarakat mampu memanfaatkan sumber dengan baik. Dalam hal yangdemikian diperlukan pihak luar untuk menyadarkan dan mendorongmasyarakat untuk memanfaatkan sumber yang ada secara maksimal.

    Metode Penelitian

    Jenis penelitian ini adalah deskriptif, dengan maksud mencari danmenggali persepsi yang ada dan berkembang di masyarakat denganmenggali kenyataan sosial yang ada dan mengkaitkannya dengan budayayang dimiliki oleh anggota masyarakat. Tehnik pengumpulan data

    68 Puslitbang Kesos

    Diagnosa Permasalahan Sosial di Kec. Tomohon Tengah-Minahasa

  • menggunakan: data sekunder, wawancara mendalam: dengan masyarakatumum, penyandang masalah, tokoh masyarakat (formal atau informal)dan juga aparat setempat, dan observasi terhadap kondisi fisik lokasi, tata

    kehidupan masyarakat setempat (masyarakat lokasi penelitian), pola hidup(kegiatan ekonomi) potensi geograf