ciontoh tak pk

Click here to load reader

Post on 13-Dec-2015

217 views

Category:

Documents

0 download

Embed Size (px)

DESCRIPTION

Ciontoh Tak PK

TRANSCRIPT

TERAPI AKTIVITAS KELOMPOK (TAK)MENGUNGKAPKAN PERASAAN DENGAN BERDISKUSI UNTUK KLIEN PERILAKU KEKERASANDI RUMAH SAKIT Dr RADJIMAN WEDYODININGRAT LAWANG

Oleh:Devi Fradiana 115070201111026Arini Nur Hidayati 115070201111004Fenti Diah Hariyanti 115070201111002Risyda Marifatul Kh. 115070207111030Prilly Priskylia 115070200111004

PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATANFAKULTAS KEDOKTERANUNIVERSITAS BRAWIJAYAMALANG 2015

BAB IPENDAHULUAN

1.1 Latar BelakangMenurut Berkowitz (2000) perilaku kekerasan merupakan respons terhadap stressor yang dihadapi oleh seseorang, yang ditunjukkan dengan perilaku actual melakukan kekerasan, baik pada diri sendiri, orang lain maupun lingkungan, secara verbal maupun nonverbal, bertujuan untuk melukai orang lain secara fisik maupun psikologis (Yosep, 2010).Terdapat beberapa tanda dan gejala yang melekat pada penderita resiko perilaku kekerasan, antara lain muka merah dan tegang, mata melotot, tangan mengepal, rahang mengatup dengan kuat, wajah memerah, postur tubh kaku, jalan modar mandir, bicara kasar, suara tinggi, membentak, mengancam, mengumpat, suara keras, dan ketus.Bila ada faktor pencetus seperti stressor dan koping yang tidak adaptif maka penderita resiko perilaku kekerasan dapat mengamuk. Pada kondisi ini dibutuhkan penanganan fase krisis pada penderita perilaku kekerasan, seperti memberikan restrain dan psikofarmaka. Apabila dibiarkan dan tidak segera ditangani maka dapat membahayakan diri pasien sendiri, orang lain, dan lingkungan sekitar.Pada saat penderita masih berada pada kondisi resiko perilaku kekerasan, penderita cenderung berada pada kondisi yang stabil dan tidak ada perilaku amuk. Pada tahapan inilah penderita dapat diberikan edukasi dan diajak untuk mengenali penyebab dan tanda gejala perilaku kekerasan. Edukasi ini diberikan melalui kegiatan terapi aktivitas kelompok. Terapi aktivitas kelompok merupakan suatu psikoterapi yang dilakukan sekelompokpasien bersama-sama dengan jalan berdiskusi satu sama lain yang dipimpin ataudiarahkan oleh seorangtherapistatau petugas kesehatan jiwa yang telah terlatih (Pedoman Rehabilitasi Pasien Mental Rumah Sakit Jiwa di Indonesia dalam Yosep, 2007). Melalui terapi ini diharapkan penderita dapat meningkatkan fungsi psikologis mengenai kesadaran tentang hubungan antara reaksi emosional diri sendiri dengan perilaku defensive (bertahan terhadap stress) dan adaptasi.

1.2 TujuanTujuan Umuma)Meningkatkan kemampuan menguji kenyataan yaitu memperoleh pemahaman dan cara membedakan sesuatu yang nyata dan khayalan.b)Meningkatkan sosialisasi dengan memberikan kesempatan untuk berkumpul, berkomunikasi dengan orang lain, saling memperhatikan memberikan tanggapan terhadap pandapat maupun perasaan ortang lain.c)Meningkatkan kesadaran hubungan antar reaksi emosional diri sendiri dengan prilaku defensif yaitu suatu cara untuk menghindarkan diri dari rasa tidak enak karena merasa diri tidak berharga atau ditolak.d) Membangkitkan motivasi bagi kemajuan fungsi-fungsi psikologis seperti fungsi kognitif dan afektif.

Tujuan Khususa)Meningkatkan identifikasi diri, dimana setiap orang mempunyai identifikasi diri tentang mengenal dirinya di dalam lingkungannya.b)Penyaluran emosi, merupakan suatu kesempatan yang sangat dibutuhkan oleh seseorang untuk menjaga kesehatan mentalnya. Di dalam kelompok akan ada waktu bagi anggotanya untuk menyalurkan emosinya untuk didengar dan dimengerti oleh anggota kelompok lainnya.c)Meningkatkan keterampilan hubungan sosial untuk kehidupan sehari-hari, terdapat kesempatan bagi anggota kelompok untuk saling berkomunikasi yang memungkinkan peningkatan hubungan sosial dalam kesehariannya

1.3 ManfaatUmum1)Meningkatkan kemampuan menguji kenyataan (reality testing) melalui komunikasi dan umpan balik dengan atau dari orang lain.2)Membentuk sosialisasi3)Meningkatkan fungsi psikologis, yaitu meningkatkan kesadaran tentang hubungan antara reaksi emosional diri sendiri dengan perilaku defensive (bertahan terhadap stress) dan adaptasi.4)Membangkitkan motivasi bagi kemajuan fungsi-fungsi psikologis seperti kognitif dan afektif.Khusus1)Meningkatkan identitas diri.2)Menyalurkan emosi secara konstruktif.3)Meningkatkan keterampilan hubungan sosial untuk diterapkan sehari-hari.4)Bersifat rehabilitatif: meningkatkan kemampuan ekspresi diri, keterampilan sosial, kepercayaan diri, kemampuan empati, dan meningkatkan kemampuan tentang masalah-masalah kehidupan dan pemecahannya

BAB IITINJAUAN TEORI2.1 PERILAKU KEKERASAN2.1.1 DefinisiMenurut Berkowitz (2000) perilaku kekerasan merupakan respons terhadap stressor yang dihadapi oleh seseorang, yang ditunjukkan dengan perilaku actual melakukan kekerasan, baik pada diri sendiri, orang lain maupun lingkungan, secara verbal maupun nonverbal, bertujuan untuk melukai orang lain secara fisik maupun psikologis (Yosep, 2010).Suatu keadaan dimana seorang individu mengalami perilaku yang dapat melukai secara fisik baik terhadap diri sendiri atau orang lain (Towsend, 1998). Suatu keadaan dimana klien mengalami perilaku yang dapat membahayakan kline sendiri, lingkungan termasuk orang lain dan barang-barangDari beberapa sumber di atas, dapat disimpulkan bahawa perilaku kekerasan adalah suatu keadaan dimana seseorang melakukan tindakan yang dapat membahayakan secara fisik maupun psikologis baik terhadap diri sendiri, orang lain maupun lingkungan yang didasari keadaan emosional.

2.1.2 Tanda dan GejalaTanda dan gejala dari perilaku kekerasan adalah sebagai berikut:1. Fisika. Muka merah dan tegangb. Mata melotot atau pandangan tajamc. Tangan mengepald. Rahang mengatup dengan kuate. Wajah memerah dan tegangf. Postur tubuh kakug. Jalan mondar-mandir2. Verbala. Bicara kasarb. Suara tinggi, membentak atau berteriakc. Mengancam secara verbal atau fisikd. Mengumpat dengan kata-kata kotore. Suara kerasf. Ketus

3. Perilakua. Melempar atau memukul benda ataupun orang lainb. Menyerang orang lainc. Melukai diri sendiri atau orang laind. Merusak lingkungane. Amuk atau agresif4. EmosiTidak adekuat, tidak aman dan nyaman rasa terganggu, dendam dan jengkel, tidak berdaya, bermusuhan, mengamuk, ingin berkelahi, menyalahkan dan menuntut.a. Intelektual: mendominasi, cerewet, kasar, berdebat, meremehkan, sarkasmeb. Spiritual: merasa diri berkuasa, merasa diri benar, mengkritik pendapat orang lain, menyinggung perasaan orang lain, tidak peduli dan kasar.c. Sosial: menarik diri, pengasingan, penolakan, kekerasan, ejekan, dan sindiran.d. Perhatian: bolos, mencuri, melarikan diri, dan penyimpangan seksual.

2.1.3 Proses Terjadinya Masalah1. Faktor Predisposisi a. Teori Biologik Neurologik factor Beragam komponen dari system syaraf seperti synap, neurotransmitter, dendrite, axon terminalis mempunyai peran memfasilitasi atau menghambat rangsangan dan pesan pesan yang akan mempengaruhi sifat agresif. Sistem limbic sangat terlibat dalam menstimulasi timbulnya perilaku bermusuhan dan respon agresif. Genetik factor Adanya factor yang diturnkan dari orang tua menjadi potensi perilaku agresif. Menurut riset Kazuo Murakami (2007) dalam gen manusia terdapat dormant (potensi) agresif yang sedang tidur dan akan bangun jika terstimulasi oleh factor eksternal. Menurut penelitian genetic tipe karyotipe XYY, umumnya dimilki oleh penghuni pelaku tindak criminal serta orang orang yang tersangkut hokum akibat perilaku agresif.

Cyrcardian Rhytm (irama sirkardian tubuh)Hal ini memegang peranan terhadap individu. Menurut penelitian, pada jam-jam tertentu manusia mengalami peningkatan cortisol terutama pada jam-jam sibuk seperti menjelang masuk kerja dan menjelang berakhirnya pekerjaan. Pada jam tersebut mereka lebih mudah terstimulasi. Biochemistry factor (factor biokimia tubuh)Seperti neuritransmiter di otak (epinefrin, norepinefrin, dopamine, asetilkolin dan serotonin) sangat berperan dalam penyampaian informasi melalui system persyarafan dalam tubuh, stimulus dari luar tubuh yang dianggap mengancam atau membahayakan akan dihantarkan melalui neurotransmitter ke otak dan meresponnya ke serabut efferent . Peningkatan hormone androgen dan norepinefrin serta penurunan serotonin dan GABA pada cairan serebrospinal vertebrata dapat menjadi factor predisposisi terjadinya periliaku agresif. Brain area disorderGangguan pada system limbic dan lobus temporal, sindrom otak organic, tumor otak, penyakit ensefalitis, epilepsy ditemukan sangat berpengaruh terhadap perilaku agresif dan tindak kekerasan. b. Teori Psikologik Teori psikoanalisa Agresivitas dan kekerasan dapat dipengaruhi oleh riwayat tumbuh kembang. Teori ini menjelaskan bahwa adanya ketidakpuasan fase oral angtara usia 0-2 tahun dimana anak tidak medapatkan kasih saying dan pemenuhan keubtuhan air susu yang cukup cenderung mengembangkan sikap agresif dan bermusuhan setelah dewasa sebagai kompensasi adanya ketidakpercayaan pada lingkungannya. Tidak terpenuhinya kepuasan dan rasa aman dapat mengakibatkan tidak berkembangnya ego dan membuat konsep diri yang rendah Imitatiaon, modeling and information processing theoryMenurut teori ini perilaku kekerasan bisa berkembang dalam lingkungan yang menolelir kekerasan. Adanya contoh, model dan perilaku yang ditiru dari media atau lingkunga sekitar memungkinkan individu meniru perilaku tersebut. Dalam suatu penelitian, beberapa anak dikumpulkan untuk menonton tayangan pemukulan pada boneka dengan reward positif (mekin keras pukulannya, maka diberi coklat), anak lain menonton tayangan cara mengasihi boneka dengan reward positif pula (makin lembut belaiannya, makin banyak coklat yang diberikan). Dengan hal ini maka anak dapat melakukan tindakan positif sesuai yamng didapatkan tadi. Learning theory Perilaku kekerasan merupakan hasil belajar individu terhadap lingkungan terdekatnya. Ia mengamati bagaimana respon ayah saat menerima kekercewaan dan mengamati bagaimana respon ibu saat merah. Ia juga belajar bahwa dengan agresivitas lingkungan sekitar menjadi peduli, bertanya, menanggap