83475211-makalah-hemoroid (1)

32
BAB I PENDAHULUAN 1. Latar Belakang Hemoroid adalah bagian vena yang berdilatasi dalam anal kanal. Hemoroid sangat umum terjadi. Pada usia 50-an, 50% individu mengalami berbagai tipe hemoroid berdasarkan luas vena yan terkena. Hemoroid juga biasa terjadi pada wanita hamil. Tekanan intra abdomen yang meningkat oleh karena pertumbuhan janin dan juga karena adanya perubahan hormon menyebabkan pelebaran vena hemoroidalis. Pada kebanyakan wanita, hemoroid yang disebabkan oleh kehamilan merupakan hemoroid temporer yang berarti akan hilang beberapa waktu setelah melahirkan. Hemoroid diklasifiksasikan menjadi dua tipe. Hemoroid internal yaitu hemorod yang terjadi diatas stingfer anal sedangkan yang muncul di luar stingfer anal disebut hemorod eksternal. (brunner & suddarth, 1996) Kedua jenis hemoroid ini sangat sering terjadi dan terdapat pada sekitar 35% penduduk. Hemoroid bisa mengenai siapa saja, baik laki-laki maupun wanita. Insiden penyakit ini akan meningkat sejalan dengan usia dan mencapai puncak pada usia 45-65 tahun. Walaupun keadaan ini tidak mengancam jiwa, tetapi dapat menyebabkan perasaan yang sangat tidak nyaman. Berdasarkan hal ini kelompok tertarik untuk membahas penyakit hemoroid. 1.2 Tujuan 1.2.1 Tujuan Umum Mahasiswa dapat memahami konsep asuhan keperawatan pada klien hemoroid. 1.2.2 Tujuan Khusus (1). Mahasiswa mampu menjelaskan tentang definisi, etiologi, klasifikasi, manifestasi klinis, patofisiologi, pemeriksaan penunjang, dan penatalaksanaan pada klien hemoroid. (2). Mahasiswa mampu menjelaskan asuhan keperawatan pada klien hemoroid. (3). Mahasiswa dapat menambah wawasan baru mengenai angka kejadian penyakit hemoroid.

Upload: marsianus-usl

Post on 24-Oct-2015

36 views

Category:

Documents


3 download

TRANSCRIPT

Page 1: 83475211-MAKALAH-HEMOROID (1)

BAB I

PENDAHULUAN

1. Latar Belakang

Hemoroid adalah bagian vena yang berdilatasi dalam anal kanal. Hemoroid sangat

umum terjadi. Pada usia 50-an, 50% individu mengalami berbagai tipe hemoroid

berdasarkan luas vena yan terkena. Hemoroid juga biasa terjadi pada wanita hamil.

Tekanan intra abdomen yang meningkat oleh karena pertumbuhan janin dan juga karena

adanya perubahan hormon menyebabkan pelebaran vena hemoroidalis. Pada kebanyakan

wanita, hemoroid yang disebabkan oleh kehamilan merupakan hemoroid temporer yang

berarti akan hilang beberapa waktu setelah melahirkan. Hemoroid diklasifiksasikan

menjadi dua tipe. Hemoroid internal yaitu hemorod yang terjadi diatas stingfer anal

sedangkan yang muncul di luar stingfer anal disebut hemorod eksternal. (brunner &

suddarth, 1996)

Kedua jenis hemoroid ini sangat sering terjadi dan terdapat pada sekitar 35%

penduduk. Hemoroid bisa mengenai siapa saja, baik laki-laki maupun wanita. Insiden

penyakit ini akan meningkat sejalan dengan usia dan mencapai puncak pada usia 45-65

tahun. Walaupun keadaan ini tidak mengancam jiwa, tetapi dapat menyebabkan perasaan

yang sangat tidak nyaman. Berdasarkan hal ini kelompok tertarik untuk membahas

penyakit hemoroid.

1.2 Tujuan

1.2.1 Tujuan Umum

Mahasiswa dapat memahami konsep asuhan keperawatan pada klien hemoroid.

1.2.2 Tujuan Khusus

(1). Mahasiswa mampu menjelaskan tentang definisi, etiologi, klasifikasi, manifestasi klinis,

patofisiologi, pemeriksaan penunjang, dan penatalaksanaan pada klien hemoroid.

(2). Mahasiswa mampu menjelaskan asuhan keperawatan pada klien hemoroid.

(3). Mahasiswa dapat menambah wawasan baru mengenai angka kejadian penyakit hemoroid.

Page 2: 83475211-MAKALAH-HEMOROID (1)

BAB II

KONSEP DASAR

2.1 Definisi

Hemoroid adalah pembengkakan atau distensi vena di daerah anorektal. Sering

terjadi namun kurang diperhatikan kecuali kalau sudah menimbulkan nyeri dan perdarahan.

Istilah hemoroid lebih dikenal sebagai ambeien atau wasir oleh masyarakat awam. Sudah

pasti kehadirannya akan mengundang segelintir rasa tidak nyaman. Hemoroid bukan saja

mengganggu aspek kesehatan, tetapi juga aspek kosmetik bahkan sampai aspek sosial.

Secara sederhana, kita bisa menganggap hemoroid sebagai pelebaran pembuluh

darah, walaupun sebenarnya juga melibatkan jaringan lunak di sana. Hemoroid hampir

mirip dengan varises. Hanya saja, pada varises pembuluh darah yang melebar adalah

pembuluh darah kaki, sedangkan pada hemoroid pembuluh darah yang bermasalah adalah

vena hemoroidalis di daerah anorektal. (dr.delken kuswanto)

2.2 Anatomi dan Fisiologi

Rektum panjangnya 15 – 20 cm dan berbentuk huruf S. Mula – mula mengikuti

cembungan tulang kelangkang, fleksura sakralis, kemudian membelok kebelakang pada

ketinggian tulang ekor dan melintas melalui dasar panggul pada fleksura perinealis.

Akhirnya rektum menjadi kanalis analis dan berakhir jadi anus. Rektum mempunyai

sebuah proyeksi ke sisi kiri yang dibentuk oleh lipatan kohlrausch. Fleksura sakralis

terletak di belakang peritoneum dan bagian anteriornya tertutup oleh paritoneum. Fleksura

perinealis berjalan ektraperitoneal. Haustra (kantong) dan tenia (pita) tidak terdapat pada

rektum, dan lapisan otot longitudinalnya berkesinambungan.

Page 3: 83475211-MAKALAH-HEMOROID (1)

Pada sepertiga bagian atas rektum, terdapat bagian yang dapat cukup banyak

meluas yakni ampula rektum bila ini terisi maka imbullah perasaan ingin buang air besar.

Di bawah ampula, tiga buah lipatan proyeksi seperti sayap – sayap ke dalam lumen rektum,

dua yang lebih kecil pada sisi yang kiri dan diantara keduanya terdapat satu lipatan yang

lebih besar pada sisi kanan, yakni lipatan kohlrausch, pada jarak 5 – 8 cm dari anus.

Melalui kontraksi serabut – serabut otot sirkuler, lipatan tersebut saling mendekati, dan

pada kontraksi serabut otot longitudinal lipatan tersebut saling menjauhi.

Kanalis analis pada dua pertiga bagian bawahnya, ini berlapiskan kulit tipis yang

sedikit bertanduk yang mengandung persarafan sensoris yang bergabung dengan kulit

bagian luar, kulit ini mencapai ke dalam bagian akhir kanalis analis dan mempunyai

epidermis berpigmen yang bertanduk rambut dengan kelenjar sebacea dan kelenjar

keringat. Mukosa kolon mencapai dua pertiga bagian atas kanalis analis. Pada daerah ini, 6

– 10 lipatan longitudinal berbentuk gulungan, kolumna analis melengkung kedalam lumen.

Lipatan ini terlontar keatas oleh simpul pembuluh dan tertutup beberapa lapisan epitel

gepeng yang tidak bertanduk. Pada ujung bawahnya, kolumna analis saling bergabung

dengan perantaraan lipatan transversal. Alur – alur diantara lipatan longitudinal berakhir

pada kantong dangkal pada akhiran analnya dan tertutup selapis epitel thorax. Daerah

kolumna analis, yang panjangnya kira – kira 1 cm, di sebut daerah hemoroidal, cabang

arteri rectalis superior turun ke kolumna analis terletak di bawah mukosa dan membentuk

dasar hemorhoid interna.

Hemoroid dibedakan antara yang interna dan eksterna. Hemoroid interna adalah

pleksus vena hemoroidalis superior di atas linea dentata/garis mukokutan dan ditutupi oleh

mukosa. Hemoroid interna ini merupakan bantalan vaskuler di dalam jaringan submukosa

pada rektum sebelah bawah. Sering hemoroid terdapat pada tiga posisi primer, yaitu kanan

depan ( jam 7 ), kanan belakang (jam 11), dan kiri lateral (jam 3). Hemoroid yang lebih

kecil terdapat di antara ketiga letak primer tesebut. Hemoroid eksterna yang merupakan

pelebaran dan penonjolan pleksus hemoroid inferior terdapat di sebelah distal linea

dentata/garis mukokutan di dalam jaringan di bawah epitel anus.

Kedua pleksus hemoroid, internus dan eksternus berhubungan secara longgar dan

merupakan awal aliran vena yang kembali bermula dari rektum sebelah bawah dan anus.

Pleksus hemoroid interna mengalirkan darah ke vena hemoroidalis superior dan selanjutnya

Page 4: 83475211-MAKALAH-HEMOROID (1)

ke vena porta. Pleksus hemoroid eksternus mengalirkan darah ke peredaran sistemik

melalui daerah perineum dan lipat paha ke vena iliaka.

2.3 Klasifikasi

Pada dasarnya hemoroid di bagi menjadi dua klasifikasi, yaitu :

2.3.1 Hemoroid interna

Merupakan varises vena hemoroidalis superior dan media. Terdapat pembuluh

darah pada anus yang ditutupi oleh selaput lendir yang basah. Jika tidak ditangani bisa

terlihat muncul menonjol ke luar seperti hemoroid eksterna.

Gejala - gejala dari hemoroid interna adalah pendarahan tanpa rasa sakit karena

tidak adanya serabut serabut rasa sakit di daerah ini. Jika sudah parah bisa menonjol keluar

dan terus membesar sebesar bola tenis sehingga harus diambil tindakan operasi untuk

membuang wasir.

Hemoroid interna terbagi menjadi 4 derajat :

Derajat I

Timbul pendarahan varises, prolapsi / tonjolan mokosa tidak melalui anus dan hanya dapat

di temukan dengan proktoskopi.

Derajat II

Terdapat trombus di dalam varises sehingga varises selalu keluar pada saat depikasi, tapi

seterlah depikasi selesai, tonjolan tersebut dapat masuk dengan sendirinya.

Derajat III

Keadaan dimana varises yang keluar tidak dapat masuk lagi dengan sendirinya tetapi harus

di dorong

Derajat IV

Suatu saat ada timbul keaadan akut dimana varises yang keluar pada saat defikasi tidak

dapat di masukan lagi. Biasanya pada derajat ini timbul trombus yang di ikuti infeksidan

kadang kadang timbul perlingkaran anus, sering di sebut dengan Hemoral Inkaresata

karena seakan - akan ada yang menyempit hemoriod yang keluar itu, padahal pendapat ini

Page 5: 83475211-MAKALAH-HEMOROID (1)

salah karena muskulus spingter ani eksternus mempunyai tonus yang tidak berbeda banyak

pada saat membuka dan menutup. Tapi bila benar terjadi. Inkaserata maka setelah beberapa

saat akan timbul nekrosis tapi tidak demikiaan halnya. Lebih tepat bila di sebut dengan

perolaps hemoroid .

2.3.2 Hemoroid eksterna

Merupakan varises vena hemoroidalis inferior yang umumnya berada di bawah otot

dan berhubungan dengan kulit. Biasanya wasir ini terlihat tonjolan bengkak kebiruan pada

pinggir anus yang terasa sakit dan gatal.

Hemoroid eksrterna jarang sekali berdiri sendiri, biasanya perluasan hemoroid

interna. Tapi hemoroid eksterna dapat di klasifikasikan menjadi 2 yaitu:

a. Akut

Bentuk akut berupa pembengkakan bulat kebiruan pada pinggir anus dan sebenarnya

adalah hematom, walaupun disebut sebagai trombus eksterna akut.

Tanda dan gejala yang sering timbul adalah:

1. Sering rasa sakit dan nyeri

2. Rasa gatal pada daerah hemorid

Kedua tanda dan gejala tersebut disebabkan karena ujung – ujung saraf pada kulit

merupakan reseptor rasa sakit .

b. Kronik

Hemoroid eksterna kronik atau “Skin Tag” terdiri atas satu lipatan atau lebih dari

kulit anus yang berupa jaringan penyambung dan sedikit pembuluh darah.

2.4 Etiologi

Hemoroid timbul akibat kongesti vena yang disebabkan gangguan aliran balik dari vena

hemoroidalis. Beberapa factor etiologi telah digunakan, termasuk konstipasi/diare, sering

mengejan, kongesti pelvis pada kehamilan, pembesaran prosfat; fibroma arteri dan tumor

rectum. Penyakit hati kronik yang disertai hipertensi portal sering mengakibatkan hemoroid

karena vena hemoroidalis superior mengalirkan darah ke dalam system portal. Selain itu

system portal tidak mempunyai katup sehingga mudah terjadi aliran balik.

Page 6: 83475211-MAKALAH-HEMOROID (1)

Faktor Resiko hemoroid :

1. Keturunan

Dinding pembuluh darah yang lemah dan tipis

2. Anatomic

Vena darah anorektal tidak mempunyai katup dan plexus hemorhoidalis kurang mendapat

sokongan otot dan fasi sekitarnya

3. Pekerjaan

Orang yang harus berdiri dan duduk lama atau harus mengangkat barang berat, memounyai

predisposisi untuk hemoroid

4. Umur

Pada umur tua timbul digenerasi dari seluruh jaringan tubuh, juga otot sfingter menjadi

tipis dan atonis

5. Endokrin

Misalnya pada wanita hamil ada dilatasi vena ekstermitas dan anus (sekresi hormon

kelaksin)

6. Mekanis

Semua keadaan yang mengakibatkan timbulnya tekanan yang meninggi dalam rongga

perut. Misalnya penderita hipertrofi prostat

7. Fisiologis

Bendungan pada peredaran darah portal misalnya pada penderita dekompensiasio hordis

atau sikrosis hepatis

8. Radang

Adalah faktpr penting yang menyebabkan fitalitas jaringan di daerah itu berkurang

2.5 Patofisiologi

Faktor penyebab faktor-faktor hemoroid adalah mengedan saat defekasi, konstipasi

menahun, kehamilan dan obesitas. Keempat hal diatas menyebabkan peningkatan tekanan

intra abdominal lalu di transmisikan ke derah anorektal dan elevasi yang tekanna yang

berulang-ulang mengakibatkan vena hemoroidalis mengalami prolaps. Hasil di atas

menimbulkan gejala gatal atau priritus anus akibat iritasi hemoroid dengan feses,

perdarahan akibat tekanan yang terlalu kuat dan feses yang keras menimbulkan perdarahan,

Page 7: 83475211-MAKALAH-HEMOROID (1)

dan ada udema dan peradangan akibat infeksi yang terjadi saat ada luka akibat perdarahan.

Proses di atas menimbulkan diagnosa gangguan intregritas kulit, nyeri, kekurangan volume

cairan, dan kelemahan .

Mengedan saat defekasi Konstipasi menahun Kehamilan Obesitas

Peningkatan tekanan intra abdominal.

Ditransmisi ke daerah anorektal

Elevasi tekanan yang berulang-ulang

Vena heroidalis mengalami prolaps

Hemoroid

Gatal atau Pruritus Anus Perdarahan Udema dan Radang

Gangguan Integritas Kulit Nyeri

Nyeri Kekurangan Kelemahan

Volume Cairan

2.6 Manifestasi Klinis

Hemoroid menyebabkan rasa gatal dan nyeri dan sering menyebabkan perdarahan

berwarna merah terang pada saat defekasi. Hemoroid eksternal dihubungkan dengan nyeri

hebat akibat inflamasi dan edema yang disebabkan oleh trombosis.Trombosis adalah

pembekuan darah dalam hemoroid. Ini dapat menimbulkan iskemia pada area tersebut dan

nekrosis. Hemoroid internal tidak selalu menimbulkan nyeri sampai hemoroid ini

membesar dan menimbulkan perdarahan atau prolaps.

2.7 Pemeriksaan Diagnostik

Page 8: 83475211-MAKALAH-HEMOROID (1)

1. Pemeriksaan fisik yaitu inspeksi dan rektaltouche (colok dubur).

Pada pemeriksaan colok dubur, hemoroid interna stadium awal tidak dapat diraba

sebab tekanan vena di dalamnya tidak terlalu tinggi dan biasanya tidak nyeri. Hemoroid

dapat diraba apabila sangat besar. Apabila hemoroid sering prolaps, selaput lendir akan

menebal. Trombosis dan fibrosis pada perabaan terasa padat dengan dasar yang lebar.

Pemeriksaan colok dubur ini untuk menyingkirkan kemungkinan karsinoma rektum.

2. Pemeriksaan dengan teropong yaitu anoskopi atau rectoscopy.

Dengan cara ini dapat dilihat hemoroid internus yang tidak menonjol keluar.

Anoskop dimasukkan untuk mengamati keempat kuadran. Penderita dalam posisi litotomi.

Anoskop dan penyumbatnya dimasukkan dalam anus sedalam mungkin, penyumbat

diangkat dan penderita disuruh bernafas panjang. Hemoroid interna terlihat sebagai struktur

vaskuler yang menonjol ke dalam lumen. Apabila penderita diminta mengejan sedikit maka

ukuran hemoroid akan membesar dan penonjolan atau prolaps akan lebih nyata. Banyaknya

benjolan, derajatnya, letak ,besarnya dan keadaan lain dalam anus seperti polip, fissura ani

dan tumor ganas harus diperhatikan.

3. Pemeriksaan proktosigmoidoskopi

Proktosigmoidoskopi perlu dikerjakan untuk memastikan keluhan bukan

disebabkan oleh proses radang atau proses keganasan di tingkat tinggi, karena hemoroid

merupakan keadaan fisiologik saja atau tanda yang menyertai. Feses harus diperiksa

terhadap adanya darah samar.

4. Rontgen (colon inloop) dan/atau kolonoskopi.

5. Pemeriksaan darah, urin, feses sebagai pemeriksaan penunjang

2.8 Penatalaksanaan Medis

1. Penatalaksanaan Medik

Page 9: 83475211-MAKALAH-HEMOROID (1)

Gejala hemoroid dan ketidaknyamanan dapat dihilangkan dengan hygiene personal

yang baik dan menghindari mengejan berlebihan selama defekasi. Diet tinggi serat yang

mengandung buah dan sekam mungkin satu-satunya tindakan yang diperlukan, bila

tindakan ini gagal, laksatif yang berfungsi mengapsorpsi air saat melewati usus dapat

membantu. Tirah baring adalah tindakan yang memungkinkan pembesaran berkurang.

Terdapat berbagai tipe tindakan nonoperatif untuk hemoroid. Fotokoagulasi

inframerah, diatermi bipolar, dan terapi laser adalah teknik terbaru yang digunakan untuk

melekatkan mukosa ke otot yang mendasarinya. Injeksi larutan sklerosan juga efektif untuk

hemoroid berukuran kecil dan berdarah. Prosedur ini membantu mencegah prolaps.

2. Penatalaksanaan Surgikal

• Terapi bedah

Terapi bedah dipilih untuk penderita yang mengalami keluhan menahun dan pada

penderita hemoroid derajat III dan IV. Terapi bedah juga dapat dilakukan dengan

perdarahan berulang dan anemia yang tidak dapat sembuh dengan cara terapi lainnya yang

lebih sederhana. Penderita hemoroid derajat IV yang mengalami trombosis dan kesakitan

hebat dapat ditolong segera dengan hemoroidektomi. Prinsip yang harus diperhatikan

dalam hemoroidektomi adalah eksisi yang hanya dilakukan pada jaringan yang benar-benar

berlebihan. Eksisi sehemat mungkin dilakukan pada anoderm dan kulit yang normal

dengan tidak mengganggu sfingter anus. Eksisi jaringan ini harus digabung dengan

rekonstruksi tunika mukosa karena telah terjadi deformitas kanalis analis akibat prolapsus

mukosa. Ada tiga tindakan bedah yang tersedia saat ini yaitu bedah konvensional

(menggunakan pisau dan gunting), bedah laser ( sinar laser sebagai alat pemotong) dan

bedah stapler (menggunakan alat dengan prinsip kerja stapler).

1. Bedah Konvensional

Saat ini ada 3 teknik operasi yang biasa digunakan yaitu :

1. Teknik Milligan – Morgan

Teknik ini digunakan untuk tonjolan hemoroid di 3 tempat utama. Basis massa

hemoroid tepat diatas linea mukokutan dicekap dengan hemostat dan diretraksi dari

Page 10: 83475211-MAKALAH-HEMOROID (1)

rektum. Kemudian dipasang jahitan transfiksi catgut proksimal terhadap pleksus

hemoroidalis. Penting untuk mencegah pemasangan jahitan melalui otot sfingter internus.

Hemostat kedua ditempatkan distal terhadap hemoroid eksterna. Suatu incisi elips

dibuat dengan skalpel melalui kulit dan tunika mukosa sekitar pleksus hemoroidalis

internus dan eksternus, yang dibebaskan dari jaringan yang mendasarinya. Hemoroid

dieksisi secara keseluruhan. Bila diseksi mencapai jahitan transfiksi cat gut maka hemoroid

ekstena dibawah kulit dieksisi. Setelah mengamankan hemostasis, maka mukosa dan kulit

anus ditutup secara longitudinal dengan jahitan jelujur sederhana.

Biasanya tidak lebih dari tiga kelompok hemoroid yang dibuang pada satu waktu.

Striktura rektum dapat merupakan komplikasi dari eksisi tunika mukosa rektum yang

terlalu banyak. Sehingga lebih baik mengambil terlalu sedikit daripada mengambil terlalu

banyak jaringan.

2. Teknik Whitehead

Teknik operasi yang digunakan untuk hemoroid yang sirkuler ini yaitu dengan

mengupas seluruh hemoroid dengan membebaskan mukosa dari submukosa dan

mengadakan reseksi sirkuler terhadap mukosa daerah itu. Lalu mengusahakan kontinuitas

mukosa kembali.

3. Teknik Langenbeck

Pada teknik Langenbeck, hemoroid internus dijepit radier dengan klem. Lakukan

jahitan jelujur di bawah klem dengan cat gut chromic no 2/0. Kemudian eksisi jaringan

diatas klem. Sesudah itu klem dilepas dan jepitan jelujur di bawah klem diikat. Teknik ini

lebih sering digunakan karena caranya mudah dan tidak mengandung resiko pembentukan

jaringan parut sekunder yang biasa menimbulkan stenosis. Dalam melakukan operasi

diperlukan narkose yang dalam karena sfingter ini harus benar-benar lumpuh.

2. Bedah Laser

Pada prinsipnya, pembedahan ini sama dengan pembedahan konvensional, hanya alat

pemotongnya menggunakan laser. Saat laser memotong, pembuluh jaringan terpatri

sehingga tidak banyak mengeluarkan darah, tidak banyak luka dan dengan nyeri yang

minimal. Pada bedah dengan laser, nyeri berkurang karena saraf rasa nyeri ikut terpatri. Di

anus, terdapat banyak saraf. Pada bedah konvensional, saat post operasi akan terasa nyeri

Page 11: 83475211-MAKALAH-HEMOROID (1)

sekali karena pada saat memotong jaringan, serabut saraf terbuka akibat serabut saraf tidak

mengerut sedangkan selubungnya mengerut. Sedangkan pada bedah laser, serabut saraf dan

selubung saraf menempel jadi satu, seperti terpatri sehingga serabut syaraf tidak terbuka.

Untuk hemoroidektomi, dibutuhkan daya laser 12 – 14 watt. Setelah jaringan diangkat,

luka bekas operasi direndam cairan antiseptik. Dalam waktu 4 – 6 minggu, luka akan

mengering. Prosedur ini bisa dilakukan hanya dengan rawat jalan.

3. Bedah Stapler

Alat yang digunakan sesuai dengan prinsip kerja stapler. Bentuk alat ini seperti senter,

terdiri dari lingkaran di depan dan pendorong di belakangnya.

Pada dasarnya hemoroid merupakan jaringan alami yang terdapat di saluran anus.

Fungsinya adalah sebagai bantalan saat buang air besar. Kerjasama jaringan hemoroid dan

m.sfingter ini untuk melebar dan mengerut menjamin kontrol keluarnya cairan dan kotoran

dari dubur. Teknik PPH ini mengurangi prolaps jaringan hemoroid dengan mendorongnya

ke atas garis mukokutan dan mengembalikan jaringan hemoroid ini ke posisi anatominya

semula karena jaringan hemoroid ini masih diperlukan sebagai bantalan saat BAB,

sehingga tidak perlu dibuang semua.

Mula-mula jaringan hemoroid yang prolaps didorong ke atas dengan alat yang

dinamakan dilator, kemudian dijahitkan ke tunika mukosa dinding anus. Kemudian alat

stapler dimasukkan ke dalam dilator. Dari stapler dikeluarkan sebuah gelang dari titanium

diselipkan dalam jahitan dan ditanamkan di bagian atas saluran anus untuk mengokohkan

posisi jaringan hemoroid tersebut. Bagian jaringan hemoroid yang berlebih masuk ke

dalam stapler. Dengan memutar sekrup yang terdapat pada ujung alat, maka alat akan

memotong jaringan yang berlebih secara otomatis. Dengan terpotongnya jaringan hemoroid

maka suplai darah ke jaringan tersebut terhenti sehingga jaringan hemoroid mengempis

dengan sendirinya.

Keuntungan teknik ini yaitu mengembalikan ke posisi anatomis, tidak mengganggu

fungsi anus, tidak ada anal discharge, nyeri minimal karena tindakan dilakukan di luar

bagian sensitif, tindakan berlangsung cepat sekitar 20 – 45 menit, pasien pulih lebih cepat

sehingga rawat inap di rumah sakit semakin singkat.

Page 12: 83475211-MAKALAH-HEMOROID (1)

2.9 Komplikasi

1. Terjadi trombosis

Karena hemoroid keluar sehinga lama - lama darah akan membeku dan terjadi trombosis.

2. Peradangan

Kalau terjadi lecet karena tekanan vena hemoroid dapat terjadi infeksi dan meradang

karena disana banyak kotoran yang ada kuman - kumannya.

3. Terjadinya perdarahan

Pada derajat satu darah keluar menetes dan memancar. Perdarahan akut pada umumnya

jarang, hanya terjadi apabila yang pecah adalah pembuluh darah besar. Hemoroid dapat

membentuk pintasan portal sistemik pada hipertensi portal, dan apabila hemoroid semacam

ini mengalami perdarahan maka darah dapat sangat banyak. Yang lebih sering terjadi yaitu

perdarahan kronis dan apabila berulang dapat menyebabkan anemia karena jumlah eritrosit

yang diproduksi tidak bisa mengimbangi jumlah yang keluar. Anemia terjadi secara kronis,

sehingga sering tidak menimbulkan keluhan pada penderita walaupun Hb sangat rendah

karena adanya mekanisme adaptasi. Apabila hemoroid keluar, dan tidak dapat masuk

lagi(inkarserata/ terjepit) akan mudah terjadi infeksi yang dapat menyebabkan sepsis dan

bisa mengakibatkan kematian.

2.10 Asuhan Keperawatan

A. Pengkajian

1. Identitas pasien

2. Keluhan utama

Pasien datang dengan keluhan perdarahan terus menerus saat BAB. Ada benjolan pada

anus atau nyeri pada saat defikasi.

3. Riwayat penyakit

Page 13: 83475211-MAKALAH-HEMOROID (1)

1. Riwayat penyakit sekarang

Pasien di temukan pada beberapa minggu hanya ada benjolan yang keluar dan beberapa

hari setelah BAB ada darah yang keluar menetes.

2. Riwayat penyakit dahulu

Apakah pernah menderita penyakit hemoroid sebelumnya, sembuh / terulang kembali.

Pada pasien dengan hemoroid bila tidak di lakukan pembedahan akan kembali RPD, bisa

juga di hubungkan dengan penyakit lain seperti sirosis hepatis.

3. Riwayat penyakit keluarga

Apakah ada anggota keluaga yang menderita penyakit tersebut

4. Riwayat sosial

Perlu ditanya penyakit yang bersangkutan.

4. Pemeriksaan Fisik

Aktivitas/istirahat

Gejala : kelemahan, kelelahan

Tanda : takikardi, takipnea/hiperventilasi (respon terhadap aktivitas)

Sirkulasi

Gejala : kelemahan/nadi periver lemah

Tanda : Warna kulit pucat, sianosis (tergantung pada jumlah kehilangan darah)

Membran kulit

Eliminasi

Gejala : perubahan pola defekasi

Perubahan Karakteristik

Tanda : nyeri tekan abdomen , distensi

Karakteristik feses : darah bewarna merah terang (darah segar)

Akonstipasi dapat terjadi

Nutrisi :

Page 14: 83475211-MAKALAH-HEMOROID (1)

Gejala : Penurunan berat badan

Anoreksia

Tanda : konjungtiva pucat, wajah pucat, terlihat lemah

Pola tidur

Gejala : Perubahan pola tidur

Terasa nyeri pada anus saat tidur

Tanda : muka terlihat lelah, kantung mata terlihat gelap

Mobilisasi

Gejala : membatasi dalam beraktifitas

Tanda : wajah terlihat gelisah , banyak berganti posisi duduk dan berbaring

B. Diagnosa Keperawatan

Pre Operatif

1. Resiko kekurangan nutrisi (defisiensi zat ) berhubungan dengan pecahnya vena

plexus hemmoroidalis ditandai dengan perdarahan yang terus - menerus waktu

BAB.

2. Gangguan rasa nyaman berhubungan dengan adanya massa anal atau anus, yang

ditandai benjolan didaerah anus, terasa nyeri dan gatal pada daerah anus.

3. Personal hygene pada anus kurang berhubungan dengan massa yang keluar pada

daerah eksternal.

Postoperasi

1. Gangguan rasa nyaman (Nyeri) pada luka operasi berhubungan dengan adanya

jahitan pada luka operasi dan terpasangnya cerobong angin.

2. Resikol terjadinya infeksi pada luka berhubungan dengan pertahanan primer tidak

adekuat

3. Kurang pengetahuan yang berhubungan dengan kurang informasi tentang

perawatan dirumah.

Page 15: 83475211-MAKALAH-HEMOROID (1)

3. Intervensi

Preoperatif

No. Diagnosa keperawatan

Tujuan dan kriteria hasil

Intervenasi Rasional

1. Resiko kekurangan nutrisi berhubungan dengan pecahnya vena plexus hemmoroidalis ditandai dengan perdarahan yang terus - menerus waktu BAB.

Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3 x 24 jam, resiko kekurangan nutrisi terpenuhi.

KH:1. Tidak terdapat anemis, 2. perdarahan terhenti 3.BB tidak turun.

1. Observasi tanda-tanda anemis2. Diet rendah sisa atau serat selama terjadinya perdarahan3.Berikan penjelasan tentang pentingnya diet kesembuhan penyakitnya.4. Beri kompres es pada daerah terjadinya perdarahan

5. Beri obat atau terapi sesuai dengan pesanan dokter

1. Tanda – tanda anemis diduga adanya kekurangan zat besi (Hb turun)

2. Dapat mengurangi perangsangan pada daerah anus sehingga tidak terjadi perdarahan.

3. Pendidikan tentang diet, membantu keikut sertaan pasien dalam meningkatkan keadaan penyakitnya.

4. Pasien dengan pecahnya vena plexus hemoriodalis perlu obat yang dapat membantu pencegahan terhadap perdarahan yang mememrlukan penilaian terhadap respon secara periodik.

5. Pasien dengan pecahnya

Page 16: 83475211-MAKALAH-HEMOROID (1)

vena flexus hemmoroidalis perlu obat yang dapat membantu pencegahan terhadap perdarahan yang memerlukan penilayan terhadap respon obat tersebut secara periodik.

2. Gangguan rasa nyaman berhubungan dengan adanya massa anal atau anus, yang ditandai benjolan didaerah anus, terasa nyeri dan gatal pada daerah anus

Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 2 x 24 jam,gangguan rasa nyaman terratasi.

KH: 1.Nyeri berkurang 2.Rasa gatal berkurang 3.Massa mengecil.

1. Berikan randam duduk

2. Berikan pelicin pada saat mau BAB

3. Beri diet randah sisa

4. Anjurkan pasien agar jangan bannyak berdiri atau duduk ( harus dalam keadaan seimbang).5. Observasi keluhan pasien

6. Berikan penjelasan tentang timbulnya rasa nyeri dan jelaskan dengan singkat7. Beri pasien suppositoria

1. Menurunkan ketidaknyamanan lokal, menurunkan edema dan meningkatkan penyembuhan.

2. Membantu dalam melancarkan defikasi sehingga tidak perlu mengedan.

3. Mengurangi rangsangan anus dan melemahkan feses.

4. Gaya gravitasi akan mempengaruhi timbulnya hemoroid dan duduk dapat meningkatkan tekanan intra abdomen.

5. Membantu mengevaluasi derajat ketidak nyamanan dan ketidak efektifan tindakan atau menyatakan terjadinya komplikasi.

6. Pendidikan tentang hal tersebut membantu dalam keikut sertaan pasien untuk mencegah / mengurangi rasa nyeri.

Page 17: 83475211-MAKALAH-HEMOROID (1)

7. Dapat melunakan feces dan dapat mengurangi pasien agar tidak mengejan saat defikasi.

3. Defisit personal hygene pada anus berhubungan dengan massa yang keluar pada daerah eksternal.

Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 2 x 24 jam, terjaganya kebersihan anus.KH:1. tidak ada tanda-tanda infeksi. 2. tidak terasa gatal-gatal pada daerah anus.3. rasa gatal pada anus berkurang

1. Berikan sit bath dengan larutan permagan 1/1000% pada pagi dan sore hari. Lakukan digital(masukan prolaps dalam tempat semula setelah di bersihkan)2.Obserpasi keluhan dan adanya tanda- tanda perdarahan anus3. Beri penjelasan cara membersihkan anus dan menjaga kebersihanya

1. Meningkatkan kebersihan dan memudahkan terjadinya penyembuhan prolaps.

2. Peradangan pada anus menandakan adanya suatu infeksi pada anus

3. Pengetahuan tentang cara membersihkan anus membantu keikutsertaan pasien dalam mempercepat kesembuhanya.

Postoperatif

No. Diagnosa keperawatan

Tujuan dan kriteria hasil

Intervenasi Rasional

1. Gangguan rasa nyaman (Nyeri) pada luka operasi

Setelah dilakukan tindakan

1. Beri posisi tidur yang menyenangkan

1. Dapat menurunkan tegangan abdomen dan meningkatkan

Page 18: 83475211-MAKALAH-HEMOROID (1)

berhubungan dengan adanya jahitan pada luka operasi dan terpasangnya cerobong angin.

keperawatan selama 2 x 24 jam, gangguan rasa nyaman terpenuhi.

KH: 1.Tidak terdapat rasa nyeri pada luka operasi, 2. pasien dapat melakukan aktivitas ringan.3. skala nyeri 0-1.4. klien tampak rileks.

pasien.2. Ganti balutan setiap pagi sesuai tehnik aseptik

3. Latihan jalan sedini mungkin

4. Observasi daerah rektal apakah ada perdarahan

5. Cerobong anus dilepaskan sesuai advice dokter (pesanan)

6. Berikan penjelasan tentang tujuan pemasangan cerobong anus (guna cerobong anus untuk mengalirkan sisa-sisa perdarahan yang terjadi didalam agar bisa keluar).

rasa kontrol.2. Melindungi pasien

dari kontaminasi silang selama penggantian balutan. Balutan basah bertindak sebagai penyerap kontaminasi eksternal dan menimbulkan rasa tidak nyaman.

3. menurunkan masalah yang terjadi karena imobilisasi.

4. Perdarahan pada jaringan, imflamasi lokal atau terjadinya infeksi dapat meningkatkan rasa nyeri.

5. Meningkatkan fungsi fisiologis anus dan memberikan rasa nyaman pada daerah anus pasien karena tidak ada sumbatan.

6. Pengetahuan tentang manfaat cerobong anus dapat membuat pasien paham guna cerobong anus untuk kesembuhan lukanya.

2. Resiko terjadinya infeksi pada luka berhubungan dengan pertahanan primer tidak adekuat

Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 2 x 24 jam,resiko infeksi teratasi.KH:

1. Observasi tanda vital tiap 4 jam

2. Obserpasi balutan setiap 2 –

1. Respon autonomik meliputi TD, respirasi, nadi yang berhubungan denagan keluhan / penghilang nyeri . Abnormalitas tanda vital perlu di observasi secara

Page 19: 83475211-MAKALAH-HEMOROID (1)

1. tidak terdapat tanda-tanda infeksi (dolor, kalor, rubor, tumor, fungsiolesa).2. radang luka mengering.3. hasil LAB :- leukosit- trombosit

4 jam, periksa terhadap perdarahan dan bau.3. Ganti balutan dengan teknik aseptik

4. Bersihkan area perianal setelah setiap depfikasi5. Berikan diet rendah serat/ sisa dan minum yang cukup

lanjut.2. Deteksi dini

terjadinya proses infeksi dan / pengawasan penyembuhan luka oprasi yang ada sebelumnya.

3. Mencegah meluas dan membatasi penyebaran luas infeksi atau kontaminasi silang.

4. mengurangi / mencegah kontaminasi daerah luka.

5. mengurangi ransangan pada anus dan mencegah mengedan pada waktu defikasi.

3. Kurang pengetahuan yang berhubungan dengan kurang informasi tentang perawatan dirumah.

Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3 x 24 jam,kurangnya pengetahuan teratas.

KH:1. klien tidak banyak bertanya tentang penyakitnya.2. pasien dapat menyatakan

1. Diskusikan pentingnya penatalaksanaan diet rendah sisa.

2. Demontrasikan perawatan area anal dan minta pasien menguilanginya

3. Berikan rendam

1. Rasionalisasi: Pengetahuan tentang diet berguna untuk melibatkan pasien dalam merencanakan diet dirumah yang sesuai dengan yang dianjurkan oleh ahli gizi.

2. Pemahaman akan meningkatkan kerja sama pasien dalam program terapi, meningkatkan penyembuhan dan proses perbaikan

Page 20: 83475211-MAKALAH-HEMOROID (1)

atau mengerti tentang perawatan dirumah.3. keluarga klien paham tentang proses penyakit.4. klien menunjukkan wajah tenang

duduk sesuai pesanan

4. Bersihakan area anus dengan baik dan keringkan seluruhnya setelah defekasi.5. Berikan balutan6. Diskusikan gejala infeksi luka untuk dilaporkan kedokter.

7. Diskusikan mempertahankan difekasi lunak dengan menggunakan pelunak feces dan makanan laksatif alami.8. Jelaskan pentingnya menghindari mengangkat benda berat dan mengejan.

terhadap penyakitnya.3. Meningkatkan

kebersihan dan kenyaman pada daerah anus (luka atau polaps).

4. Melindungi area anus terhadap kontaminasi kuman-kuman yang berasal dari sisa defekasi agar tidak terjadi infeksi.

5. Melindungi daerah luka dari kontaminasi luar.

6. Pengenalan dini dari gejala infeksi dan intervensi segera dapat mencegah progresi situasi serius.

7. Mencegah mengejan saat difekasi dan melunakkan feces.

8. Menurunkan tekanan intra abdominal yang tidak perlu dan tegangan otot.

BAB III

Page 21: 83475211-MAKALAH-HEMOROID (1)

KASUS

Ny. B ( 37 th ) didiagnosa hemoroid sejak kehamilan anak keduanya. Hemoroid

semakin parah setelah klien melahirkan anak kembarnya secara normal kurang lebih 1,5

tahun yang lalu. Sejak saat itu klien mengalami hemoroid yang sering kambuh dan sembuh

dengan pengobatan.

Saat ini klien mengeluh nyeri dan panas pada daerah anus. Nyeri saat duduk dan

berbaring terutama saat tidur malam hari. Klien menceritakan BAB terakhir seminggu yang

lalu terasa sangat nyeri dan keluar darah segar bersama feses, bahkan darah menetes setelah

BAB. Menurut klien BAB terakhir sangat keras, sehingga harus mengedan karenanya

hemoroid klien kambuh lagi. Menurut klien, pola BABnya memang tidak normal dari dulu,

klien BAB 1-2 / minggu walaupun sering makan sayur dan buah – buahan. Klien

mengatakan saat ini hampir seminggu belum BAB karena takut merasakan nyeri dan

perdarahan seperti sebelumnya.

Perawat melakukan pemeriksaan fisik didapatkan data : TD = 90/60 mmHg , N =

96x/ menit, S = 36,70C , P = 18x/ menit. Klien tampak lemah, konjungtiva pucat, distensi

abnomen ( + ), teraba massa pada regio bawah abdomen, pemeriksaan anus adanya

benjolan di bawah kulit kanalis analis yang nyeri, tegang, berwarna kebiru – biruan ,

berukuran kurang lebih 1cm, benjolan harus di dorong dengan tangan agar masuk ke dalam

anus. Hasil Lab Hb = 8.9 gr / dl, dokter mengatakan klien menderita hemoroid derajat III

dan disarankan untuk melakukan hemoroidektomi. Klien mengaku cemas untuk melakukan

operasi, klien lebih memilih pengobatan seperti biasanya.

1. Data Fokus

Ds :

1. Klien mengeluh nyeri dan panas pada daerah anus.

2. Klien mengeluh nyeri pada saat duduk dan berbaring terutama saat tidur malam

hari.

3. Klien mengeluh BAB seminggu yang lalu terasa sangat nyeri dan keluar darah srgar

bersama dengan feses,bahkan darah menetes saat BAB.

Page 22: 83475211-MAKALAH-HEMOROID (1)

4. Klien mengeluh BAB terakhir saat keras,sehingga harus mengedan karena

hemoroid klien kambuh lagi.

5. Klien mengeluh pola BAB memang tidak normal dari dulu,klien BAB 1-2 kali

/minggu, walupun sering makan sayur dan buah-buahan.

6. Klien mengatakan saat ini hampir seminggu belum BAB karena takut meresakan

nyeri dan perdarahan seperti sebelumnya.

7. Klien mengatakan hemoroid semakin parah setelah klien melahirkan anak

kembarnya secara normal kurang lebih 1,5 tahun yang lalu.

8. Klien mengatakan hemoroid sering kambuh dan sembuh dengan pengobatan.

9. Klien mengaku cemas untuk operasi, klien memilih pengobatan seperti biasa.

Do :

1. TTV : TD = 90/60 mmHg, N = 96 X /menit, S = 36,7 oC, P = 18 X /menit

2. Klien tampak lemah

3. Konjungtiva pucat

4. Distensi abdomen (+)

5. Teraba massa pada regio bawah abdomen

6. Pemeriksaan anus adanya benjolan dibawah kulit kanalis analis yang nyeri, tegang,

berwarna kebiru – biruan, berukuran 1 cm, benjolan harus didorong dengan tangan

agar masuk kedalam anus.

7. Hasil Lab : Hb = 8,9 gr/dl

8. Dokter mengatakan klien menderita hemoroid derajat III dan disarankan untuk

melakukan hemoroidektomi.

Analisa Data

Page 23: 83475211-MAKALAH-HEMOROID (1)

No. Ds & Do Masalah keperawatan

Etiolgi

1. Ds : 1. Klien mengeluh BAB seminggu yang lalu terasa sangat nyeri dan keluar darah segar bersama dengan feses,bahkan darah menetes saat BAB.2. Klien mengeluh BAB terakhir saat keras,sehingga harus mengedan karena hemoroid klien kambuh lagi.3. Klien mengeluh pola BAB memang tidak normal dari dulu,klien BAB 1-2 kali /minggu, walupun sering makan sayur dan buah-buahan.4. Klien mengatakan saat ini hampir seminggu belum BAB karena takut meresakan nyeri dan perdarahan seperti sebelumnya.Do :1. Distensi abdomen (+)2. Teraba massa pada regio bawah abdomen.3. Pemeriksaan anus adanya benjolan dibawah kulit kanalis analis yang nyeri, tegang, berwarna kebiru–biruan, berukuran 1 cm, benjolan harus didorong dengan tangan agar masuk kedalam anus.

Data tambahan :1. Pola BAB tidak teratur.2. Karakteristik feses (warna,konsistensi).

Konstipasi Ketakutan nyeri saat defekasi

2. Ds :1. Klien mengeluh nyeri dan panas pada daerah anus.2. Klien mengeluh nyeri pada saat duduk dan berbaring terutama saat tidur malam hari.3. Klien mengeluh BAB seminggu yang lalu terasa sangat nyeri dan keluar darah srgar bersama dengan feses,bahkan darah menetes saat BAB.Do :1.TTV : TD = 90/60 mmHg2. Distensi abdomen (+)3. Pemeriksaan anus adanya benjolan dibawah kulit kanalis analis yang nyeri, tegang, berwarna kebiru–biruan, berukuran 1 cm, benjolan harus didorong dengan tangan agar masuk kedalam anus.

Data tambahan :1. skala nyeri 72. klien tampak meringis3. klien tampak memegangi daerah nyeri.4. klien tidak dapat tidur.

Nyeri Adanya hemoroid pada daerah anus

3. Ds : klien mengeluh BAB seminggu yang lalu karena keluar darah segar bersama feses bahkan darah menetes saat BAB DO : 1. TTV : TD = 90/60 mmHg 2. klien tampak lemah 3. Konjungtiva pucat 4. hasil lab :

Kelemahan Perdarahan vena hemorrhoidalis

Page 24: 83475211-MAKALAH-HEMOROID (1)

2. Diagnosa keperawatan :

1. Konstipasi berhubungan dengan ketakutan nyeri saat defekasi.

2. Nyeri berhubungan dengan adanya hemoroid pada daerah anus.

3. Kelemahan berhubungan dengan perdarahan vena hemorrhoidalis.

3. Intervensi

No. Diagnosa Tujuan & KH Intervensi Rasional

1. Konstipasi berhubungan dengan ketakuatan nyeri saat defekasi.

Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 2 x 24 jam, konstipasi teratasi.

KH :1. Pola BAB 1-2x/minggu.2. Konsistensi feses lunak.3. warna feses kuning.4. klien tidak takut untuk BAB.5. tidak ada darah pada feses.6. tidak ada nyeri pada saat BAB.

1. Berikan dan anjurkan minum kurang lebih 2 liter perhari

2. Berikan posisi fowler pada tempat tidur

3. Berikan dan anjurkan makanan tinggi serat.

2. Auskultasi bunyi usus

3. Hindari makanan yang membentuk gas

1. Mencegah dehidrasi secara oral

2. Meningkatkan usaha evakuasi feses

3. Makanan tinggi serat dapat melancarkan proses defikasi

4. Bunyi usus secara umum meningkat pada diare dan menurun pada konstipasi.

5. Menurunkan distres gastrik dan distensi abdomen.

6. Membantu melancarkan proses defikasi.

7. untuk mecegah terjadinya konstipasi

Page 25: 83475211-MAKALAH-HEMOROID (1)

4. Berikan laksatif sesuai program dokter.

5. pastikan kebiasaan defekasi pasien dan gaya hidup sebelumnya

6. anjurkan makanan / cairan yang tidak mengiritasi jika masukan oral diberikan

7. yakinkan pola diet / pilihan makanan

8. berikan rendam duduk

9. kurangi / batasi makanan seperti produk susu

berulang

8. menurunkan risiko iritasi hemoroid

9. mempertimbangkan pilihan menu dapat membantu dalam mengontrol masalah

10. meningkatkan relaksasi otot, meminimalkan ketidaknyamanan

11. makanan ini diketahui sebagai penyebab konstipasi

2. Nyeri berhubungan dengan adanya hemoroid pada daerah anus.

Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3 X 24 jam, nyeri teratasiKH :1. Wajah pasien tampak tenang.2. Pasien mengatakan nyeri berkurang atau hilang3. Pasien dapat istirahat tidur

1. Berikan posisi yang nyaman2. Berikan bantalan dibawah bokong saat duduk3. Observasi tanda-tanda vital4. Ajarkan teknik untuk mengurangi rasa nyeri seperti membaca, menonton, menarik nafas panjang, menggosok punggung, dan lain-lain.5. Pada nyeri awal berikan kompres dingin

1. Meminimalkan stimulasi/ meningkatkan relaksasi.

2. Meminimalkan tekanan di bawah bokong/ meningkatkan relaksasi.

3. Untuk menentukan intervensi selanjutnya

4. Pengalihan perhatian melalui kegiatan-kegiatan

Page 26: 83475211-MAKALAH-HEMOROID (1)

4. klien tidak memegangi daerah yang nyeri.

5. Tanda-tanda vital normalTD : 120 / 80 mmHg

pada daerah anus 3 – 4 jam dilanjutkan dengan rendam duduk hangat 3 – 4 x/hari6. Berikan lingkungan yang tenang7. Kolaborasi dengan dokter untuk pemberian analgetik, pelunak feces dan dilakukannya hemoroidektomi.

5. Meningkatkan relaksasi

ketidaknyamanan fisik.

6. Menurunkan

7. Mengurangi nyeri dan menurunkan rangsang sistem saraf simpatis dan untuk mengangkat hemoroid.

3. Kelamah-an berhubungan dengan perdarahan vena hemorhoidalis

Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3 X 24 jam, kekurangan nutrisi terpenuhi KH :1. konjungtiva klien merah muda.2. klien tidak tampak lemah3. Hb normal (12-14 g/dl)4. tidak ada perdarahan pada vena hemoroid.

1. Kaji TTV.

2. monitor banyaknya perdarahan klien.3. kaji tingkat toleransi aktifitas klien.4. memandirikan klien dalam melakukan aktifitas sehari-hari.

Kolaborasi :1. konsultasikan nutrisi untuk klien dengan ahli gizi2. berikan vitamin K sesuai indikasi.3.berikan vitamin B12 sesuai indikasi.

1. untuk menentukan intervensi yang tepat.

2. untuk menentukan tingkat kehilangan cairan.3. untuk mengetahui tingkat kelemahan klien.

4.mengurangi ketergantungan aktifitas klien dengan bantuan perawat.

Kolaborasi :1.untuk menentukan kebutuhan nutrisi yang tepat pada klien.2.untuk membantu proses pembekuan darah.

Page 27: 83475211-MAKALAH-HEMOROID (1)

5. Pasien dapat melakukan aktivitas mandiri.6. Klien tidak cepat lelah setelah beraktivitas.7.Aktifitas klien sudah tidak dibantu oleh perawat.

4.konsultasi dengan ahli gizi.5. berikan infus.

3. peningkatan produksi sel darah merah.4.untuk menentukan diet yang tepat bagi klien.5. untuk menggantikan banyaknya darah yang hilang selama perdarahan.

4. Implementasi

No. Hari, tgl/ jam No. Dx

Implementasi Paraf

1. 10 januari 201108.00 WIB

11.00 WIB

12.00 WIB

14.00 WIB

1 1. Memberikan dan menganjurkan minum kurang lebih 2 liter perhari

RH: Klien mengatakan minum 8 gelas air perhari.2. Memberikan dan menganjurkan makanan tinggi serat

RH : Klien mengatakan makan banyak sayur dan buah3.Memberikan laktasif sesuai program dokterRH : Klien mengatakan BAB cair.4.Menganjurkan pasien untuk segera BAB bila timbul keinginan untuk BAB.RH: Klien mengatakan saat ingin BAB segera untuk BAB.

5. Evaluasi.

Hari,tgl No. Dx

Evaluasi Paraf

12 Januari 2011 1 S :

Page 28: 83475211-MAKALAH-HEMOROID (1)

1. Klien mengatakan pada saat BAB tidak merasakan nyeri.

2. Klien mengatakan sudah tidak mengedan berlebihan saat BAB.

3. Klien mengatakan pola BAB sudah teratur ( 1-2x /minggu).

4. Klien mengatakan sudah tidak takut lagi pada saat BAB.

O :1. Distensi abdomen (-)2. Tidak teraba massa pada regio bawah abdomen.A : masalah teratasi P : hentikan intervensi

BAB IV

PEMBAHASAN

Faktor penyebab terjadinya hemoroid pada Ny. B adalah mengedan saat defekasi,

konstipasi menahun, dan kehamilan. Ketiga hal diatas menyebabkan peningkatan tekanan

intra abdominal lalu di transmisikan ke derah anorektal dan elevasi tekanan yang berulang-

ulang mengakibatkan vena hemoroidalis mengalami prolaps. Hasil di atas menimbulkan

gejala perdarahan akibat tekanan yang terlalu kuat dan feses yang keras menimbulkan

perdarahan. Proses di atas menimbulkan diagnosa konstipasi, nyeri dan kelemahan.

Pada kasus ditemukan data yang tidak terdapat pada teori antara lain hemoroid

menyebabkan rasa panas pada daerah anus karena adanya tekanan berlebih saat duduk dan

berbaring. Klien mengalami hemoroid interna karena pada saat pemeriksaan, benjolan

masih dapat didorong dengan tangan agar masuk ke dalam anus. Pada kasus klien selalu

mengonsumsi sayur dan buah-buahan tetapi mengalami konstipasi, hal ini dikarenakan

klien sering menahan keinginannya untuk BAB karena takut merasakan nyeri dan

perdarahan seperti sebelumnya sehingga feses yang tertahan mengalami penyerapan yang

lebih lama di usus dan menyebabkan feses menjadi keras dan sulit untuk dikeluarkan.

Page 29: 83475211-MAKALAH-HEMOROID (1)

Pada teori dilakukan pemeriksaan diagnostik antara lain: inspeksi dan

rektaltouche (colok dubur), anoskopi atau rectoscopy, proktosigmoidoskopi, rontgen,

kolonoskopi, pemeriksaan darah, urin, dan feses sebagai pemeriksaan penunjang.

Sedangkan pada kasus, klien hanya melakukan pemeriksaan penunjang yaitu pemeriksaan

darah (Hb). Hal ini dikarenakan pada kasus ini, hemoroid sudah masuk ke derajat III

sehingga dapat dikaji hanya dengan melakukan pemeriksaan fisik.

Kami mengangkat diagnosa utama konstipasi berhubungan dengan ketakutan nyeri

saat defekasi dikarenakan pada kasus, klien mengalami konstipasi akibat menahan BAB

karena takut merasakan nyeri dan perdarahan saat BAB. hal ini harus di atasi terlebih

dahulu agar tekanan pada hemoroid berkurang dan perdarahan akibat gesekan pada

hemoroid dengan feses yang keras dapat dikurangi. Bila masalah ini tertangani maka

diagnosa selanjutnya dapat ikut teratasi.

Kami mengangkat diagnosa kedua nyeri berhubungan dengan adanya hemoroid

pada daerah anus karena pada kasus, dengan adanya hemoroid pada anus dapat

menimbulkan nyeri akibat tekanan yang kuat pada saat defekasi dan perdarahan. Nyeri

pada anus tidak akan hilang sebelum dilakukannya hemoroidektomi. Oleh karena itu, klien

disarankan untuk melakukan hemoroidektomi tetapi klien lebih memilih pengobatan seperti

biasanya karena klien mengaku cemas untuk melakukan operasi.

Kami mengangkat diagnosa ketiga kelemahan berhubungan dengan perdarahan

vena hemorrhoidalis karena pada kasus, saat klien BAB darah keluar bersama feses dan

darah menetes setelah BAB sehingga Hb klien rendah yaitu 8,9 g/dl. Hal ini terjadi karena

banyak sel darah merah keluar dari tubuh saat perdarahan sehingga banyaknya darah yang

diedarkan ke seluruh tubuh menjadi berkurang. Berdasarkan diagnosa ketiga klien tampak

lemah dan konjungtiva pucat.

Intervensi yang dapat dilakukan pada diagnosa utama, konstipasi berhubungan

dengan ketakutan nyeri saat defekasi adalah berikan dan anjurkan minum kurang lebih 2

liter perhari untuk mencegah dehidrasi secara oral, berikan posisi fowler pada tempat tidur

untuk meningkatkan usaha evakuasi feses, berikan dan anjurkan makanan tinggi serat

karena makanan tinggi serat dapat melancarkan proses defikasi, auskultasi bunyi usus

karena bunyi usus secara umum meningkat pada diare dan menurun pada konstipasi,

hindari makanan yang membentuk gas untuk menurunkan distres gastrik dan distensi

Page 30: 83475211-MAKALAH-HEMOROID (1)

abdomen dan berikan laksatif sesuai program dokter untuk membantu melancarkan proses

defikasi.

Intervensi yang dapat dilakukan pada diagnosa kedua, nyeri berhubungan dengan

adanya hemoroid pada daerah anus adalah berikan posisi yang nyaman untuk

meminimalkan stimulasi/ meningkatkan relaksasi, berikan bantalan dibawah bokong saat

duduk untuk meminimalkan tekanan di bawah bokong/ meningkatkan relaksasi, observasi

tanda-tanda vital untuk menentukan intervensi selanjutnya, ajarkan teknik untuk

mengurangi rasa nyeri seperti membaca, menonton, menarik nafas panjang, menggosok

punggung, dan lain-lain dapat mengalihan perhatian klien pada nyeri yang sedang terjadi,

pada nyeri awal berikan kompres dingin pada daerah anus 3 – 4 jam dilanjutkan dengan

rendam duduk hangat 3 – 4 x/hari untuk meningkatkan relaksasi, berikan lingkungan yang

tenang untuk menurunkan ketidaknyamanan fisik, dan kolaborasi dengan dokter dalam

pemberian analgetik, pelunak feces dan dilakukannya hemoroidektomi untuk mengurangi

nyeri dan menurunkan rangsang sistem saraf simpatis dan untuk mengangkat hemoroid.

Intervensi yang dapat dilakukan pada diagnosa ketiga, kelemahan berhubungan

dengan perdarahan vena hemorrhoidalis adalah kaji TTV untuk menentukan intervensi

yang tepat, monitor banyaknya perdarahan klien untuk menentukan tingkat kehilangan

cairan, kaji tingkat toleransi aktifitas klien untuk menentukan tingkat kehilangan cairan,

memandirikan klien dalam melakukan aktifitas sehari-hari mengurangi ketergantungan

aktifitas klien dengan bantuan perawat, konsultasikan nutrisi untuk klien dengan ahli gizi

untuk menentukan kebutuhan nutrisi yang tepat pada klien, berikan vitamin K sesuai

indikasi untuk membantu proses pembekuan darah, berikan vitamin B12 sesuai indikasi

peningkatan produksi sel darah merah, konsultasi dengan ahli gizi untuk menentukan diet

yang tepat bagi klien, dan berikan infus untuk menggantikan banyaknya darah yang hilang

selama perdarahan.

Page 31: 83475211-MAKALAH-HEMOROID (1)

BAB V

SIMPULAN DAN SARAN

1. 5.1 Simpulan

Hemoroid adalah distensi vena di daerah anorektal. Sering terjadi namun kurang

diperhatikan kecuali kalau sudah menimbulkan nyeri dan perdarahan. Istilah hemoroid

lebih dikenal sebagai ambeien atau wasir oleh masyarakat. Akibat dari adanya hemoroid

adalah timbulnya rasa tidak nyaman. Hemoroid bukan saja mengganggu aspek kesehatan,

tetapi juga aspek kosmetik bahkan sampai aspek sosial. Hemoroid mengakibatkan

komplikasi,diantaranya adalah terjadi trombosis,peradangan,dan terjadi

perdarahan.Hemoroid juga dapat menimbulkan cemas pada penderitanya akibat

ketidaktahuan tentang penyakit dan pengobatannya.

1. 5.2 Saran

Perlu penyuluhan yang intensif tentang penyakit, proses penyakit dan

pengobatannya pada penderita hemoroid. Menginformasikan tentang pencegahan-

pencegahan terjadinya hemoroid dengan cara :

1. Makan makanan tinggi serat, vitamin K, dan vitamin B12.

2. Sarankan untuk tidak banyak duduk atau kegiatan yang menenkan daerah bokong.

3. Sarankan untuk tidak terlalu kuat saat mengedan karena dapat menambah besar

hemoroid.

4. Sarankan agar mengurangi makan makanan pedas yang dapat mengiritasi

hemoroid.

5. Sarankan untuk melakukan hemoroidektomi apabila stadium hemoroid telah

mencapai derajat 3 hemoroid interna untuk mencegah terjadinya infeksi.

Page 32: 83475211-MAKALAH-HEMOROID (1)

DAFTAR PUSTAKA

Arkanda, Sumitro. 1989. Ringkasan Ilmu Bedah. Jakarta: PT. Bina Aksara.

Brunner & Suddarth. 2001. Keperawatan Medikal Bedah Edisi 8 Vol. 2. Jakarta: EGC.

Djuhari,Widjajakusumah. 2003. Buku Ajar Fisiologi Kedokteran. Jakarta: EGC.

Doenges (2001). Rencana Asuhan Keperawatan Edisi 3. Jakarta: EGC

Jusi, H. D. 1991. Dasar-Dasar Ilmu Bedah Vaskuler. Jakarta: Balai Penerbit.

Lauralee,Sherwood. 2001. Fisiologi Manusia dari Sel ke Sistem. Jakarta: EGC

Parakrama,Chandrasoma. 2006. Ringkasan Patofisiologi Anatomi Edisi 2. Jakarta: EGC.

Price, Sylvia Anderson. 1984. Patofisiologi Edisi 4. Jakarta: EGC.

Robbins, Stanley L. 1989. Buku Saku Dasar Patologi Penyakit. Jakarta: EGC

Schrock, Theodore R. 1991. Ilmu Bedah. Jakarta: EGC.

Sjamsuhidajat, R. Wim de Jong. 2004. Buku Ajar Ilmu Bedah Edisi 2. Jakarta: EGC.

Diposkan oleh Vian's di 03:52