Peranan pemerintah-desa-memberdayakan-masyarakat-di-era-otoda-pada-desa

Download Peranan pemerintah-desa-memberdayakan-masyarakat-di-era-otoda-pada-desa

Post on 03-Nov-2014

3 views

Category:

Data & Analytics

0 download

DESCRIPTION

 

TRANSCRIPT

1. 1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Pelaksanaan otonomi daerah yang telah dimulai sejak 2001 mengandung konsekuensi yang cukup menantang bagi daerah. Di satu sisi, kebebasan berkreasi membangun daerah benar-benar terbuka lebar bagi daerah. Namun demikian, di sisi yang lain telah menghadang setumpuk masalah yang harus diselesaikan. Masalah yang sangat mendasar adalah perubahan pola pengelolaan daerah dari sentralistik menjadi desentralisasi, misalnya sumber dana untuk membiayai pembangunan, sumber daya manusia sebagai aparat pelaksana seluruh aktivitas pembangunan, dan masih banyak yang lain. Pembangunan nasional dan daerah merupakan bagian yang tidak dapat dipisahkan dari kegiatan pembangunan desa. Desa merupakan basis kekuatan sosial ekonomi dan politik yang perlu mendapat perhatian serius dari pemerintah. Perencanaan pembangunan selama ini menjadikan masyarakat desa sebagai objek pembangunan bukan sebagai subjek pembangunan. Lahirnya Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah membuat kebijakan tentang desa dalam memberi pelayanan, peningkatan peran serta dan pemberdayaan masyarakat desa yang ditujukan bagi kesejahteraan masyarakat. Undang-Undang Nomor 33 Tahun 2004 tentang Perimbangan Keuangan antara Pemerintahan Pusat dan Pemerintahan Daerah merupakan keseluruhan belanja daerah diprioritaskan untuk melindungi dan meningkatkan kualitas kehidupan masyarakat dalam upaya memenuhi kewajiban daerah. 1 2. 2 Lahirnya otonomi daerah serta dalam era globalisasi, maka pemerintah daerah dituntut memberikan pelayanan yang lebih prima serta memberdayakan masyarakat sehingga masyarakat ikut terlibat dalam pembangunan untuk kemajuan daerahnya, karena masyarakatlah yang lebih tahu apa yang mereka butuhkan serta pembangunan yang dilakukan akan lebih efektif dan efisien, dan dengan sendirinya masyarakat akan mempunyai rasa memiliki dan tanggung jawab. Proses pembangunan saat ini perlu memahami dan memperhatikan prinsip pembangunan yang berakar dari bawah (grasroots), memelihara keberagaman budaya, serta menjunjung tinggi martabat serta kebebasan bagi manusia. Pembangunan yang dilakukan harus memuat proses pemberdayaan masyarakat yang mengandung makna dinamis untuk mengembangkan dalam mencapai tujuan. Konsep yang sering dimunculkan dalam proses pemberdayaan adalah konsep kemandirian dimana program-program pembangunan dirancang secara sistematis agar individu maupun masyarakat menjadi subjek dari pembangunan. Kegagalan berbagai program pembangunan perdesaan di masa lalu adalah disebabkan antara lain karena penyusunan, pelaksanaan dan evaluasi program-program pembangunan yang tidak melibatkan masyarakat. Proses pembangunan lebih mengedepankan paradigma politik sentralistis dan dominannya peranan negara pada arus utama kehidupan bermasyarakat. Otonomi asli merupakan bentuk kewenangan yang hanya dimiliki oleh Desa berdasarkan adat-istiadat yang hidup dan dihormati di suatu Desa yang bersangkutan. Ini tampak kurang mendapat perhatian kita, sehingga dapat menyebabkan kegiatan administrasi dalam organisasi pemerintahan tidak berjalan 3. 3 seperti yang diharapkan. Hal semacam ini kemungkinan dapat membawa dampak negatif bagi suatu pemerintahan, maksudnya penyelenggaraan ataupun pengembangan organisasi pemerintahan Desa tidak berjalan secara efektif dan efisien. Untuk itu Pemerintah Desa mempunyai hak, wewenang dan kewajiban memimpin pemerintahan desa yaitu menyelenggarakan rumah tangganya sendiri dan merupakan penyelenggara dan penanggung jawab utama di bidang pemerintahan, pembangunan dan kemasyarakatan dalam rangka penyelenggaraan urusan pemerintahan Desa. Implementasi Otonomi Daerah salah satu aspeknya adalah pengelolaan keuangan daerah. Pengelolaan keuangan daerah merupakan suatu program daerah bidang keuangan untuk mencapai tujuan dan sasaran tertentu serta mengemban misi mewujudkan suatu strategi melalui berbagai kegiatan. Dalam Peraturan Pemerintah Nomor 72 Tahun 2005 tentang Desa dimana penyelenggaraan urusan pemerintah desa yang menjadi kewenangan desa didanai dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Desa dan Bantuan Pemerintah Desa sesuai dengan surat Menteri Dalam Negeri Nomor: 140/640SJ tanggal 22 Maret 2005 tentang Pedoman Alokasi Dana Desa (ADD) dari pemerintah Kabupaten kepada Pemerintah Desa. Melalui Alokasi Dana Desa, desa berpeluang untuk mengelola pembangunan, pemerintahan dan sosial kemasyarakatan desa secara otonom. Alokasi Dana Desa adalah dana yang diberikan kepada desa yang berasal dari dana perimbangan keuangan pemerintah pusat dan daerah yang diterima oleh Kabupaten/Kota. Konsep alokasi dana desa sebenarnya bermula dari sebuah kritik dan refleksi terhadap model bantuan desa yang diberikan oleh pemerintah pusat bersamaan 4. 4 dengan agenda pembangunan desa sejak tahun 1969. Dalam mendesain transfer keuangan pusat dengan daerah, Orde Baru ternyata masih melanjutkan pola yang dipakai Orde Lama. Beragam jenis transfer keuangan kepada desa tersebut diantaranya adalah Bantuan Desa (Bandes), dana pembangunan desa (Bangdes), serta Inpres Desa Tertinggal/IDT (Sidik, 2002). Pemberian alokasi dana desa merupakan wujud dari pemenuhan hak desa untuk menyelenggarakan otonominya agar tumbuh dan berkembang. Pertumbuhan desa yang berdasarkan keanekaragaman, partisipasi, demokratisasi, pemberdayaan masyarakat. Peran pemerintah desa ditingkatkan dalam memberikan pelayanan dan kesejahteraan masyarakat serta mempercepat pembangunan dan pertumbuhan wilayah-wilayah strategis, sehingga dapat mengembangkan wilayah-wilayah tertinggal dalam suatu sistem wilayah pengembangan. Niat dan keinginan pemerintah (negara/daerah) untuk membangun dan mengembangkan sebuah wilayah sangatlah mendapat dukungan dari masyarakat, realisasi dari niat dan keinginan ini haruslah berbentuk kesejahteraan dan kebanggan sebagai anggota masyarakat (negara/daerah) (Miraza, 2005). Tujuan pelaksanaan alokasi dana desa adalah: 1) meningkatkan penyelenggaraan pemerintahan desa dalam melaksanakan pelayanan pemerintahan, pembangunan dan kemasyarakatan sesuai kewenangannya; 2) meningkatkan kemampuan lembaga kemasyarakatan di desa dalam perencanaan, pelaksanaan dan pengendalian pembangunan secara partisipatif sesuai dengan potensi desa; 3) meningkatkan pemerataan pendapatan, kesempatan bekerja dan kesempatan berusaha bagi masyarakat desa; serta 4) mendorong peningkatan swadaya gotong 5. 5 royong masyarakat. Adapun program alokasi dana desa (ADD) yang dilaksanakan di Kecamatan Khusus di Desa Sederhana adalah: 1) Biaya operasional penyelenggaraan pemerintah desa; 2) Biaya operasional BPD; 3) Tambahan penghasilan kepala desa dan perangkat desa; 4) Bantuan biaya operasional LKMD; 6) Bantuan operasional PKK; 7) Bantuan operasional Posyandu; 8) Bantuan pengembangan sosial budaya, keagamaan, dan pembinaan generasi muda. Pelaksanaan Alokasi Dana Desa ini dilaksanakan dengan pembangunan fisik dan non fisik yang berhubungan dengan Indikator Perkembangan Desa. Indikator Perkembangan Desa meliputi tingkat pendidikan, tingkat pendapatan, tingkat kesehatan. Walaupun masih ada desa-desa yang belum berhasil dalam pembangunan fisik, namun pemberian Alokasi Dana Desa dengan pembangunan fisik dianggap relatif cukup memenuhi prasarana dan sarana desa. Usaha penerapan program ADD yang dicanangkan oleh Pemerintah Kabupaten Umum ini menjadi tantangan tersendiri bagi pemerintah Kecamatan Khusus dalam memaksimalkan pemanfaatan alokasi dana desa. Penggunaan ADD di Kecamatan Khusus telah berjalan sesuai dengan program yang dilaksanakan. Pengetahuan dan kesadaran masyarakat cukup berkembang dalam penggunaan ADD sehingga ekonomi masyarakat menunjukkan adanya peningkatan dengan terlibatnya masyarakat dalam usaha ternak dan anyaman. Hal ini menjadi perhatian pemerintah kecamatan dan pemerintah desa sebagai pengambil kebijakan adalah bagaimana menerapkan agar program alokasi dana desa ini sebagai langkah strategis dalam usaha pemberdayaan masyarakat dalam pengembangan ekonomi Kecamatan Khusus Desa Sederhana Kabupaten Umum. 6. 6 Pada saat pola pemerintahan sentralistik, daerah menerima saja program- program yang telah dirancang dari pusat. Akan tetapi, sekarang ini daerah harus melakukan sendiri aktivitas perencanaan, pelaksanaan, hingga pengawasan. Dengan beban pekerjaan yang semakin banyak tersebut, maka sumber daya manusia harus siap, baik jumlah maupun kualitasnya. Sedangkan dalam hal sumber pembiayaan pembangunan, daerah dituntut untuk mampu membiayai sebagian besar kegiatan pembangunannya, sehingga sekali lagi diperlukan sumber daya manusia yang kreatif yang dapat menghasilkan pemikiran, konsep, dan kebijakan bagi pemenuhan sumber pembiayaan pembangunan. Melaksanakan tugas dan kewajibannya, Pemerintah desa bertanggung jawab kepada rakyat melalui Badan Permusyawaratan Desa (BPD) dan menyampaikan laporan mengenai pelaksanaan tugasnya kepada Bupati. Pemerintah desa dalam hal ini Kepala Desa dilarang melakukan kegiatan-kegiatan atau tindakan yang merugikan kepentingan negara, pemerintah, pemerintah Daerah dan masyarakat Desa. Maksudnya untuk menghindarkan penyimpangan-penyimpangan yang akan merugikan kepentingan umum khususnya kepentingan Desa itu sendiri. Pemerintah desa harus mengadakan kerjasama untuk kepentingan Desa yang diatur dengan keputusan bersama dan diberitahukan kepada Camat. Dalam hal ini tugas Pemerintah desa khususnya Kepala Desa harus mengarahkan aparat-aparat pemerintah Desa, memberikan dorongan dan motivasi dalam melaksanakan masing-masing tugasnya, agar organisasi pemerintahan di Desa berjalan sesuai dengan tujuan yang diharapkan. Pada dasarnya suatu organisasi akan mati apabila kegiatan administrasi tidak jelas, karena kita tahu bahwa fungsi Pemerintah Desa dalam mengembangkan organisasi 7. 7 pemerintahan sangat penting. Untuk itu ada 3 fungsi yang harus dimiliki oleh seorang Pemimpin baik itu pemerintah pusat maupun pemerintah Daerah termasuk Pemerintah Desa memiliki 3 peranan yang sangat strategis dalam membangun desanya yaitu stabilitas, alokasi dan distribusi. Adapun batasan pengertian ke 3 fungsi tersebut adalah : a. Stabilitas adalah kemantapan, kestabilan, keseimbangan b. Alokasi adalah Penentuan penggunaan sumber daya secara sistematis (misalnya tenaga kerja, mesin dan perlengkapan demi pencapaian hasil yang optimal). c. Distribusi adalah penyaluran (pembagian, pengiriman) kepada beberapa orang atau ke beberapa tempat. Di dalam meningkatkan atau mengembangkan organisasi pemerintah dalam suatu Desa maka yang harus dilakukan oleh seorang Kepala Desa selaku Pemimpin adalah mengarahkan atau memberikan motivasi terhadap aparat pemerintah agar dapat melaksanakan tugasnya dengan baik, karena keberhasilan suatu organisasi baik itu organisasi besar atau kecil tergantung dari orang-orang yang terlibat di dalamnya. Oleh karena itu peran serta masyarakat terhadap pengembangan organisasi pemerintah sangat diharapkan terutama para pemuda sebagai penggerak atas berhasilnya segala pembangunan di desa tersebut Dalam hal ini tidak lepas tanggung jawab seorang Kepala Desa selaku pembina masyarakat demi terselenggaranya otonomi. Sehubungan dengan hal tersebut, kewajiban pemerintah dalam menyediakan berbagai infrastruktur sosial yang memadai khususnya dalam wilayah desanya sendiri seperti penyediaan lingkungan yang layak, peningkatan keterampilan, fasilitas 8. 8 umum, sarana transportasi dan sebagainya. Penyediaan infrastruktur tersebut mutlak dilakukan agar desa dapat tumbuh dan berkembang dan mampu menyelenggarakan rumah tangganya sendiri demi tercapainya kehidupan masyarakat yang aman, sejahtera dan damai. Untuk mewujudkan hal tersebut, maka strategi dan program kebijakan pemerintahan selaku Pemimpin harus memiliki relevansi yang dapat memudahkan masyarakat ikut berpartisipasi sekaligus turut pula menikmati hasil-hasil kerja mereka dengan baik. Ini berarti pula bahwa setiap peraturan yang ada dalam organisasi tersebut sangat perlu dituangkan dalam aturan dan kebijakan yang lebih sederhana, mudah dan biaya terjangkau oleh seluruh lapisan masyarakat di desa. Berkaitan dengan hal tersebut, implementasi pengembangan terhadap organisasi pemerintahan desa dalam struktur penataan harus berpijak pada asas efektivitas dan efisiensi dengan tetap menjunjung tinggi hak-hak individu dalam masyarakat untuk berkembang semaksimal mungkin. Mekanisme pelayanan organisasi pemerintah pada hakikatnya perlu diarahkan pada fungsi pelayanan sosial yang benar-benar mengedepankan kepentingan masyarakat sehingga peran pemerintah selaku Pemimpin benar-benar terwujud. Namun tidak dapat dipungkiri bahwa prosedur apapun bentuk dan jenisnya telah sering disalahgunakan oleh oknum aparat dan seringkali dianggap sebagai alat untuk melegitimasi kekuasaan birokrasi. Salah satu aspek yang kadangkala dimanfaatkan oleh oknum aparat dalam mencari keuntungan dari masyarakat yang membutuhkan pelayanan adalah lemahnya aturan yang ada dan tidak jelasnya mekanisme dan prosedur dalam 9. 9 memperoleh kebijaksanaan. Untuk itu sebagai aparat pemerintah desa harus adil dalam mengambil keputusan dan harus benar-benar berada dalam panutan di masyarakat agar dalam pengembangan organisasi pemerintah tersebut berkembang sesuai dengan aturan yang ada. Pembangunan infrastruktur desa harus lebih didasarkan atau ditentukan oleh masyarakat itu sendiri sehingga memungkinkan tumbuhnya keswadayaan/partisipasi masyarakat dalam proses pelaksanaannya. Di sisi lain, infrastruktur yang dibangun juga dapat menumbuhkan rasa memiliki dan tanggungjawab masyarakat dalam mengelola dan memelihara setelah proyek tersebut berakhir, dan di dalam pembangunan infrastruktur desa hendaknya mempunyai sasaran yang tepat, sehingga sumber daya yang terbatas dapat dimanfaatkan secara efektif dan efisien (Suriadi, 2005: 61). Di dalam Undang-undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah, antara lain menegaskan bahwa Pemberian Otonomi Luas kepada Daerah diarahkan untuk memepercepat terwujudnya kesejahtaraan masyarakat melalui peningkatan pelayanan, pemberdayaan dan peran serta masyarakat. Daerah memiliki kewenangan membuat kebijakan daerah untuk memberi pelayanan, penyertaan peran serta, prakarsa dan Pemberdayaan Masyarakat yang bertujuan pada Peningkatan Kesejahtraan Rakyat. Oleh karena itu kebijakan pemberdayaan masyarakat merupakaan bagian yang tidak terpisahkan dari kebijakan Otonomi Daerah yang luas,nyata dan bertanggungjawab yang diletakkan di Daerah Kabupaten dan Kota. Dalam rangka untuk mencapai tujuan pembangunan infrastruktur desa secara lebih efektif, maka pemerintah desa dan masyarakatnya perlu menciptakan suatu strategi pencapaian tujuan tersebut. Dalam merancang 10. 10 strategi yang dimaksud, pemerintah desa perlu memperhatikan prinsip-prinsip sebagai berikut: 1. Keterpaduan pembangunan desa, dimana kegiatan yang dilaksanakan memiliki sinergi dengan kegiatan pembangunan yang lain. 2. Partisipatif, dimana masyarakat terlibat secara aktif dalam kegiatan dari proses perencanaan, pelaksanaan, pengawasan dan pemanfaatan. 3. Keberpihakan, dimana orientasi kegiatan baik dalam proses maupun pemanfaatan hasil kepada seluruh masyarakat desa. 4. Otonomi dan desentralisasi, dimana masyarakat memperoleh kepercayaan dan kesempatan luas dalam kegiatan baik dalam proses perencanaan, pelaksanaan, pengawasan maupun pemanfaatan hasilnya. Suatu pembangunan akan tepat mengenai sasaran, terlaksana dengan baik dan dimanfaatkan hasilnya apabila pembangunan yang dilakukan tersebut benar- benar memenuhi kebutuhan masyarakat. Untuk memungkinkan hal itu terjadi, khususnya pembangunan perdesaan, mutlak diperlukan pemberdayaan masyarakat desa mulai dari keikutsertaan perencanaan sampai pada hasil akhir dari pembangunan tersebut. Lahirnya Undang-undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang otonomi daerah dan Peraturan Pemerintah No 72 Tahun 2005 tentang desa memberikan kesempatan kepada masyarakat desa untuk mengatur dan mengurus rumah tangganya sendiri, dengan persyaratan yang diamanatkan yakni diselenggarakan dengan memperhatikan prinsip-prinsip demokrasi, peran serta masyarakat, pemerataan, keadilan, serta memperhatikan potensi dan keaneka-ragaman daerah. Masyarakat memiliki peran 11. 11 cukup sentral untuk menentukan pilihan kebijakan yang sesuai dengan kebutuhan dan aspirasinya. Masyarakat memiliki kedaulatan yang cukup luas untuk menentukan orientasi dan arah kebijakan pembangunan yang dikehendaki. Nilai-nilai kedaulatan selayaknya dibangun sebagai kebutuhan kolektif masyarakat dan bebas dari kepentingan individu dan atau golongan. Usaha untuk menggalakkan pembangunan desa yang dimaksudkan untuk memperbaiki dan meningkatkan taraf hidup serta kondisi sosial masyarakat desa yang merupakan bagian terbesar dari masyarakat Indonesia, melibatkan tiga pihak, yaitu pemerintah, swasta dan warga desa. Dalam prakteknya, peran dan prakarsa pemerintah masih dominan dalam perencanaan dan pelaksanaan maupun untuk meningkatkan kesadaran dan kemampuan teknis warga desa dalam pembangunan desa. Berbagai teori mengatakan, bahwa kesadaran dan partisipasi warga desa menjadi kunci keberhasilan pembangunan desa. Sedangkan untuk menumbuhkan kesadaran warga desa akan pentingnya usaha-usaha pembangunan sebagai sarana untuk memperbaiki kondisi sosial dan dalam meningkatkan partisipasi warga desa dalam pembangunan banyak tergantung pada kemampuan pemimpin desa khususnya pimpinan dan kepemimpinan pemerintah desa atau Kepala Desa. Sebab pada tingkat pemerintahan yang paling bawah, kepala desa sebagai pimpinan pemerintah desa atau aktor dalam menjalankan kepemimpinan pemerintah desa menjadi ujung tombak pelaksanaan dan terlaksananya pembangunan desa maupun dalam menumbuhkan kesadaran warga desa untuk berperan serta dalam pembangunan desa. Salah satu sasaran pokok pembangunan Desa ialah memberantas atau setidak-tidaknya mengurangi kemiskinan, meningkatkan taraf hidup yang lebih layak. 12. 12 Pembangunan desa harus melibatkan sebagian besar penduduk, yang hasilnya dapat dinikmati oleh seluruh masyarakat. Kiranya cukup disadari bahwa tidak jarang terjadi, hasil pembangunan desa hanya dinikmati oleh sekelompok elite desa atau bahkan oleh orang-orang di luar lingkungan desa (Suwondo, 1982: 73). Isu pemberdayaan masyarakat dalam pembangunan pada era globalisasi khususnya pada zaman otonomi daerah semakin banyak dibicarakan dalam forum- forum diskusi yang dilakukan pemerintah, lembaga swadaya masyarakat, nasional dan internasional, dan melalui artikel-artikel dalam media massa. Kesimpulannya mempersoalkan sikap apatis masyarakat terhadap proyek pembangunan, partisipasi masyarakat yang rendah dalam pembangunan, penolakan masyarakat terhadap beberapa proyek pembangunan, ketidakberdayaan masyarakat untuk memenuhi kebutuhan serta pemecahan masalahnya, tingkat adopsi masyarakat yang rendah terhadap inovasi, dan masyarakat cenderung menggantungkan hidup terhadap bantuan pemerintah, serta kritik-kritik lainnya yang umumnya meragukan bahwa masyarakat memiliki potensi untuk dilibatkan sebagai pelaksana pembangunan. Meskipun kritik-kritik diatas ada benarnya, tetapi dengan hanya menyalahkan masyarakat tanpa mencari faktor-faktor penyebabnya maka permasalahannya tidak dapat dipecahkan (Suriadi, 2005: 56). Pendekatan top-down tidak mengembangkan masyarakat untuk mempunyai tanggung jawab dalam mengembangkan ide-ide baru yang lebih sesuai dengan kondisi setempat dan mengakibatkan ketergantungan. Namun masyarakat harus diberi kepercayaan dalam pembangunan, dimana hasil yang lebih berkelanjutan akan dicapai jika masyarakat diberikan kepercayaan agar dapat menentukan proses 13. 13 pembangunan yang dibutuhkan mereka sendiri, sementara pemerintah dan lembaga lain mempunyai peran sebatas mendukung dan memfasilitasi. Pendekatan pemberdayaan masyarakat ini akan mengantar masyarakat dalam berproses untuk mampu menganalisa masalah dan peluang yang ada serta mencari jalan keluar sesuai sumber daya yang merekamiliki. Mereka sendiri yang membuat keputusan-keputusan dan rencana-rencana, mengimplementasikan serta mengevaluasi keefektifan kegiatan yang dilakukan. Kegagalan pembangunan atau pembangunan tidak memenuhi sasaran karena kurangnya pemberdayaan masyarakat, bahkan banyak kasus menunjukkan rakyat menentang upaya pembangunan. Keadaan ini dapat terjadi karena beberapa hal: 1)Pembangunan hanya menguntungkan segolongan kecil orang dan tidak menguntungkan rakyat banyak bahkan pada sisi estrem dirasakan merugikan. 2)Pembangunan meskipun dimaksudkan menguntungkan rakyat banyak, tetapi rakyat kurang memahami maksud tersebut. 3)Pembangunan dimaksudkan untuk menguntungkan rakyat dan rakyat memahaminya, tetapi cara pelaksanaannya tidak sesuai dengan pemahaman tersebut. 4)Pembangunan dipahami akan menguntungkan rakyat tetapi rakyat tidak diikutsertakan. Dalam rangka mendukung pelaksanaan Undang-undang No. 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah dan Undang-undang No. 25 Tahun 2004 tentang Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional, maka pembangunan yang dilaksanakan dengan menggunakan paradigma pemberdayaan sangat diperlukan untuk mewujudkan partisipasi masyarakat baik dalam perencanaan, pelaksanaan dan pengendalian pembangunan di desa, kelurahan, dan kecamatan. Untuk mewujudkan pemberdayaan, 14. 14 kesejahteraan dan kemandirian masyarakat perlu didukung oleh pengelolaan pembangunan yang partisipatif. Pada tatanan pemerintahan diperlukan perilaku pemerintahan yang jujur, terbuka, bertanggung jawab dan demokrasi, sedangkan pada tatanan masyarakat perlu dikembangkan mekanisme yang memberikan peluang peran serta masyarakat dalam proses pengambilan keputusan bagi kepentingan bersama. Pembangunan wilayah pedesaan tidak terlepas dari peran serta dari seluruh masyarakat pedesaan, sehingga kinerja seorang kepala desa sebagai kepala pemerintahan desa harus dapat menjalankan tugas pokok memimpin dan mengkoordinasikan pemerintah desa dalam melaksanakan sebagian urusan rumah tangga desa, melakukan pembinaan dan pembangunan masyarakat, dan membina perekonomian desa. Namun dalam kenyataannya menunjukkan bahwa penilaian kinerja kepala desa oleh masyarakat dalam memberikan pelayanan serba lamban, lambat, dan berbelit-belit serta formalitas. Masyarakat yang dinamis telah berkembang dalam berbagai kegiatan yang semakin membutuhkan aparatur pemerintah yang profesional. Seiring dengan dinamika masyarakat dan perkembangannya, kebutuhan akan pelayanan yang semakin kompleks serta pelayanan yang semakin baik, cepat, dan tepat. Aparatur pemerintah yang berada ditengah-tengah masyarakat dinamis tersebut tidak dapat tinggal diam, tetapi harus mampu memberikan berbagai pelayanan yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat. Terjadinya pemekaran wilayah di Indonesia, khususnya di beberapa kabupaten, menyebabkan terjadinya perubahan sistem dan struktur kepemerintahan baik di pusat maupun di daerah. Untuk menghadapi perubahan tersebut Pemerintah Daerah Kabupaten Umum berkewajiban 15. 15 meningkatkan kemampuan aparatur pemerintahannya di berbagai bidang, antara lain peningkatan kemampuan SDM seperti keahlian, pengetahuan dan ketrampilan dengan melalui pendidikan, pelatihan, kursus, magang, seminar/diskusi dan lain-lain. Pemerintahan Kabupaten Umum dalam rangka peningkatan mutu dan kualitas SDM, sudah melaksanakan pelatihan penjenjangan dan pelatihan teknis Pemerintahan Desa sebagai aplikasi dari Peraturan Pemerintah No. 100 Tahun 2001 tentang peningkatan aparatur pemerintahan dan Peraturan Pemerintah No. 72 Tahun 2005 tentang pemerintahan desa, yang berkaitan dengan pendidikan dan pelatihan aparatur pemerintahan desa. Pelatihan tersebut dilakukan secara bertahap baik di tingkat kabupaten maupun di tingkat kecamatan. Harapan dari terlaksananya program pendidikan dan pelatihan tersebut adalah dapat meningkatkan kinerja kepala desa dalam melaksanakan tugas dan tanggung jawabnya sebagai aparatur pemerintah di desa. Pada dasarnya kinerja pemerintah desa tidak cukup hanya dengan peningkatan pendidikan dan pelatihan saja, tetapi bisa juga dilakukan melalui peningkatan motivasi kepada mereka. Timbulnya motivasi pada diri seseorang tentu oleh adanya suatu kebutuhan hidupnya baik itu kebutuhan primer maupun kebutuhan sekundernya. Jika kebutuhan tersebut dapat terpenuhi, maka seseorang akan giat bekerja sehingga kinerja dapat meningkat. Kinerja pemerintah desa sebagai aparatur pemerintahan desa khususnya yang ada di Kabupaten Umum tentu dipengaruhi oleh kebutuhan seperti yang dimaksud di atas, dan mereka akan bekerja keras jika pekerjaannya itu dapat memenuhi kebutuhan tersebut. Disamping faktor motivasi juga faktor pengalaman akan ikut mempengaruhi prestasi kerja (kinerja) dalam 16. 16 pelaksanaan tugas kepemerintahan desanya. Seorang kepala desa yang sudah lama bekerja sebagai kepala desa akan lebih berpengalaman dibandingkan dengan yang baru bekerja sebagai kepala desa, dan dengan pengalaman tersebut ia akan mudah melaksanakan tugas kesehariannya sebagai aparatur pemerintahan desa. Oleh karena itu, berdasarkan uraian diatas maka penulis merasa tertarik untuk melaksanakan penelitian dengan judul: Peranan Pemerintah Desa Dalam Memberdayakan Masyarakat Di Era Otonomi Daerah pada Desa Sederhana Kecamatan Khusus Kabupaten Umum B. Rumusan Masalah Berdasarkan latar belakang pemikiran diatas maka dalam penelitian ini penulis mengangkat beberapa permasalahan yaitu: 1. Bagaimana peranan pemerintah desa dalam memberdayakan masyarakat di Desa Sederhana Kecamatan Khusus Kabupaten Umum ? 2. Faktor-faktor apa yang mendorong dan menghambat Pemerintah desa dalam memberdayakan masyarakat di Desa Sederhana Kecamatan Khusus Kabupaten Umum ? C. Tujuan Penelitian 1. Untuk mengetahui dan menganalisis peranan Pemerintah desa dalam memberdayakan masyarakat di Desa Sederhana Kecamatan Khusus Kabupaten Umum. 2. Untuk mengetahui faktor-faktor yang mendorong dan menghambat pemerintah desa dalam memberdayakan masyarakat di Desa Sederhana Kecamatan Khusus Kabupaten Umum. 17. 17 D. Manfaat Penelitian 1. Dari segi teoritis atau aspek keilmuan, hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi kontribusi bagi pengembangan konsep keilmuan khususnya dalam bidang kajian yang berhubungan dengan pengembangan organisasi pemerintah Desa khususnya Kecamatan Khusus Kabupaten Umum. 2. Dari segi praktis, hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi salah satu referensi dan bahan masukan bagi peranan Kepala Desa sesuai dengan perundang-undangan yang berlaku dalam meningkatkan pembangunan di daerahnya. 18. 18 BAB II TINJAUAN PUSTAKA Sebelum melakukan penelitian lebih lanjut, perlu mengemukakan teori-teori sebagai kerangka berfikir untuk menggambarkan dari sudut mana penelitian menyoroti masalah yang dipilih. Sugiono (2005: 55) menyatakan bahwa landasan teori perlu ditegakkan agar penelitian itu mempunyai dasar yang kokoh, dan bukan sekedar perbuatan coba-coba. Dalam penelitian ini yang menjadi kerangka teorinya adalah sebagai berikut: A. Peranan Dalam pengertian umum, peranan dapat diartikan sebagai perbuatan seseorang atas sesuatu pekerjaan. Menurut Kamus Umum Bahasa Indonesia, Peranan adalah tindakan yang dilakukan oleh seseorang dalam suatu peristiwa. Peranan merupakan suatu aspek yang dinamis dari suatu kedudukan (status). Peranan merupakan sebuah landasan persepsi yang digunakan setiap orang yang berinteraksi dalam suatu kelompok atau organisasi untuk melakukan suatu kegiatan mengenai tugas dan kewajibannya. Dalam kenyataannya, mungkin jelas dan mungkin juga tidak begitu jelas. Tingkat kejelasan ini akan menentukan pula tingkat kejelasan peranan seseorang (Sedarmayanti, 2004: 33). Menurut Soekanto (2003: 243) peranan adalah aspek dinamis kedudukan (status). Apabila seseorang melaksanakan hak dan kewajibannya sesuai dengan kedudukannya maka dia menjalankan suatu peranan. Setiap orang memiliki macam- macam peranan yang berasal dari pola-pola pergaulan hidup. Hal ini sekaligus berarti bahwa peranan menentukan apa yang diperbuatnya bagi masyarakat serta 18 19. 19 kesempatan-kesempatan apa yang diberikan oleh masyarakat dalam menjalankan suatu peranan. Peranan mencakup tiga hal yaitu: 1. Peranan meliputi norma-norma yang dihubungkan dengan posisi atau tempat seseorang dalam masyarakat. Peranan dalam arti ini merupakan rangkaian peraturan-peraturan yang membimbing seseorang dalam kehidupan masyarakat. 2. Peranan adalah suatu konsep tentang apa yang dapat dilakukan oleh individu dalam masyarakat dalam organisasi. 3. Peranan juga dapat dikatakan sebagai perilaku yang penting bagi struktur sosial masyarakat B. Pemerintah Desa. Secara umum di Indonesia, desa (atau yang disebut dengan nama lain sesuai bahasa daerah setempat) dapat dikatakan sebagai suatu wilayah terkecil yang dikelola secara formal dan mandiri oleh kelompok masyarakat yang berdiam di dalamnya dengan aturanaturan yang disepakati bersama, dengan tujuan menciptakan keteraturan, kebahagiaan dan kesejahteraan bersama yang dianggap menjadi hak dan tanggungjawab bersama kelompok masyarakat tersebut. Wilayah yang ada pemerintahannya Desa/Kelurahan langsung berada di bawah Camat. Dalam sistem administrasi negara yang berlaku sekarang di Indonesia, wilayah desa merupakan bagian dari wilayah kecamatan, sehingga kecamatan menjadi instrumen koordinator dari penguasa supra desa (Negara melalui Pemerintah dan pemerintah daerah). Pada awalnya, sebelum terbentukya sistem pemerintahan yang menguasai seluruh bumi nusantara sebagai suatu kesatuan negara,1 urusan-urusan yang dikelola oleh desa adalah urusan-urusan yang memang telah dijalankan secara turun temurun 20. 20 sebagai norma-norma atau bahkan sebagian dari norma-norma itu telah melembaga menjadi suatu bentuk hukum yang mengikat dan harus dipatuhi bersama oleh masyarakat desa, yang dikenal sebagai hukum adat. Urusan yang dijalankan secara turun temurun ini meliputi baik urusan yang hanya murni tentang adat istiadat, maupun urusan pelayanan masyarakat dan pembangunan (dalam administrasi pemerintahan dikenal sebagai urusan pemerintahan), bahkan sampai pada masalah penerapan sanksi, baik secara perdata maupun pidana. Menurut Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah, Desa atau yang disebut dengan nama lain, selanjutnya disebut desa, adalah kesatuan masyarakat hukum yang memiliki batas-batas wilayah yang berwenang untuk mengatur dan mengurus kepentingan masyarakat setempat, berdasarkan asal- usul dan adat-istiadat setempat yang diakui dan dihormati dalam sistem Pemerintahan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Pengertian desa dari sudut pandang sosial budaya dapat diartikan sebagai komunitas dalam kesatuan geografis tertentu dan antar mereka saling mengenal dengan baik dengan corak kehidupan yang relatif homogen dan banyak bergantung secara langsung dengan alam. Oleh karena itu, desa diasosiasikan sebagai masyarakat yang hidup secara sederhana pada sektor agraris, mempunyai ikatan sosial, adat dan tradisi yang kuat, bersahaja, serta tingkat pendidikan yang rendah (Juliantara, 2005: 18). Berdasarkan Peraturan Pemerintah No. 72 tahun 2005, Desa atau yang disebut dengan nama lain, selanjutnya disebut desa, adalah kesatuan masyarakat hukum yang memiliki batas-batas wilayah yang berwenang untuk mengatur dan mengurus kepentingan masyarakat setempat, berdasarkan asal-usul dan adat-istiadat setempat 21. 21 yang diakui dan dihormati dalam sistem Pemerintahan Negara Kesatuan Republik Indonesia dan berada di kabupaten/kota, dalam pasal 2 ayat (1) dikatakan bahwa desa dibentuk atas prakarsa masyarakat dengan memperhatikan asal-usul desa dan kondisi sosial budaya masyarakat setempat. Pada ayat (2) tertulis bahwa pembentukan desa harus memenuhi syarat-syarat sebagai berikut: a. Jumlah Penduduk. b. Luas Wilayah. c. Bagian Wilayah Kerja. d. Perangkat, dan. e. Sarana dan Prasarana Pemerintahan. Pembangunan nasional, desa memegang peranan yang sangat penting, sebab desa merupakan struktur pemerintahan terendah dari sistem pemerintahan Indonesia. Setiap jenis kebijakan pembangunan nasional pasti bermuara pada pembangunan desa sebab pembangunan Indonesia tidak akan ada artinya tanpa membangun desa, dan bisa dikatakan bahwa hari depan Indonesia terletak dan tergantung dari berhasilnya kita membangun desa. Sehingga dengan semangat desentralisasi dalam otonomi daerah ini masyarakat haruslah dilibatkan atau diberdayakan dalam pembangunan desanya. Sebab disadari atau tidak bahwa pembangunan desa telah banyak dilakukan sejak dari dahulu hingga sekarang, tetapi secara umum hasilnya belum memuaskan terhadap peningkatan kesejahteraan masyarakat pedesaan. Desa memiliki hak otonomi tetapi tetap dalam ikatan pemerintah Republik Indonesia. Hak otonomi maksudnya berhak menyelenggarakan rumah tangganya menurut keputusan sendiri, berhak mengatur rumah tangganya sendiri, asal tidak 22. 22 bertentangan dengan peraturan pemerintah di desanya dan berkewajiban melaksanakan peraturan pemerintah Desa. Sedangkan Kelurahan tidak memiliki hak otonomi dan tidak berhak menyelenggarakan rumah tangganya menurut keputusan sendiri. Hanya menyelenggarakan pemerintahan menurut peraturan pemerintah di atasnya. Inilah bedanya dengan Desa seperti yang ditetapkan dalam Undang-undang Nomor 32 Tahun 2004. Di Desa terdapat masalah yang dihadapi masyarakat. Ada masalah kesehatan, masalah pekerjaan dan pendapatan, pendidikan, pertanian, lingkungan hidup dan lain sebagainya. Masyarakat berharap dapat lepas dari masalah-masalah itu karena itu masalah-masalah warga masyarakat dalam kebutuhannya untuk meningkatkan taraf hidupnya antara lain kebutuhan pokok seperti makanan yang cukup dan sehat, rumah yang sehat, pakaian yang memadai, kebutuhan pengetahuan, keterampilan, penghasilan yang cukup, lingkungan yang apik dan sehat dan Iain-lain. Di Desa sebenarnya terdapat potensi sumber daya. Ada potensi sumber daya alam atau sumber daya lingkungan dan sumber daya manusia. Agar terpenuhi kebutuhannya maka mau tidak mau sumber daya itu harus dimanfaatkan dengan baik. Untuk itulah perlu adanya pembangunan sebab pembangunan Desa mencakup berbagai bidang kehidupan masyarakat baik itu lahir maupun batin. Pembangunan mencakup pribadi warganya dan lingkungannya, pembangunan untuk meningkatkan kesejahteraan warganya. Semua elemen penting yang terdapat pada institusi desa diharapkan selalu mengetahui apa masalah warganya dan apa kebutuhannya. Bukankah pembangunan itu untuk penduduknya sendiri dan bukankah pemerintahan Desa diadakan untuk membangun Desa dan masyarakat. Dalam hal ini seorang 23. 23 Kepala Desa harus menempatkan dirinya sebagai Pemimpin yang baik yang bisa mengayomi masyarakatnya, yang siap mendengar keluh kesah warganya dalam hal apapun, agar masyarakatnya benar-benar percaya bahwa pemimpinnya selalu bersikap adil dan tidak berpihak pada yang satu atau yang lainnya. Wujud demokrasi dalam penyelenggaraan pemerintahan desa dibentuk badan permusyawaratan desa atau sebutan lain sesuai dengan budaya yang berkembang di desa yang bersangkutan, yang berfungsi sebagai lembaga pengaturan dalam penyelenggaraan pemerintahan desa, seperti dalam pembuatan dan pelaksanaan peraturan desa, anggaran dan pendapatan dan belanja desa, dan keputusan kepala desa. Di desa dibentuk lembaga kemasyarakatan yang berkedudukan sebagai mitra kerja pemerintah desa dalam memberdayakan masyarakat desa. Pemerintah desa terdiri dari kepala desa dan perangkat desa. Perangkat desa terdiri dari Sekretaris Desa, pelaksana teknis lapangan, unsur kewilayahan dan perangkat desa lainnya yang disesuaikan dengan kebutuhan dan kondisi sosial budaya masyarakat setempat, dan sekretaris desa diisi dari Pegawai Negeri Sipil (PNS) yang memenuhi syarat. Dalam PP No. 72 Tahun 2005 Pasal 1 (7) Pemerintah desa adalah penyelenggara urusan pemerintahan oleh pemerintah desa dan badan permusyawaratan desa dalam mengatur dan mengurus kepentingan masyarakat setempat berdasarkan asal-usul, adat-istiadat setempat yang diakui dan dihormati dalam sistem pemerintahan Negara Kesatuan Republik Indonesia, pemerintah desa atau yang disebut juga dengan nama lain adalah kepala desa dan perangkat desa sebagai unsur penyelenggara pemerintahan desa. 24. 24 Kepala desa dipilih langsung oleh penduduk desa berwarga negara Republik Indonesia yang syarat selanjutnya dan tata cara pemilihan diatur oleh peraturan daerah yang berpedoman pada peraturan pemerintah. Calon kepala desa yang memperoleh suara terbanyak dalam pemilihan kepala desa ditetapkan sebagai kepala desa. Pemilihan kepala desa dalam kesatuan masyarakat hukum dapat beserta hak tradisionalnya sepanjang masih hidup dan diakui keberadaannya berlaku ketentuan, hukum adat setempat yang ditetapkan dalam peraturan daerah dengan berpedoman pada peraturan pemerintah. Dalam PP No. 72 Tahun 2005 pasal 14 dan 15 disebutkan bahwa Kepala Desa mempunyai tugas menyelenggarakan urusan pemerintahan, pembangunan, dan kemasyarakatan. Urusan pemerintahan yang dimaksud adalah pengaturan kehidupan masyarakat sesuai dengan kewenangan desa seperti pembuatan peraturan desa, pembentukan lembaga kemasyarakatan, pembentukan badan usaha milik desa, dan kerjasama antar desa. Urusan pembangunan yang dimaksud adalah pemberdayaan masyarakat dalam penyediaan sarana dan prasarana fasilitas umum desa, seperti jalan desa, jembatan desa, pasar desa. Urusan kemasyarakatan ialah pembedayaan masyarakat melalui pembinaan kehidupan sosial budaya masyarakat seperti bidang kesehatan, pendidikan, dan adat-istiadat. Dalam melaksanakan tugas sebagaimana diatas, Kepala Desa mempunyai wewenang: a) Memimpin penyelenggaraan pemerintahan desa berdasarkan kebijakan yang ditetapkan bersama BPD. b) Mengajukan rancangan peraturan desa. c) Menetapkan peraturan desa yang telah mendapat persetujuan bersama BPD. 25. 25 d) Menyusun dan mengajukan rancangan peraturan desa mengenai APB Desa untuk dibahas dan ditetapkan bersama BPD. e) Membina kehidupan masyarakat desa. f) Membina perekonomian desa. g) Mengkoordinasikan pembangunan desa secara partisipatif. h) Mewakili desanya di dalam dan di luar pengadilan dan dapat menunjuk kuasa hukum untuk mewakilinya sesuai dengan peraturan perundang-undangan,dan; i) Melaksanakan wewenang lain sesuai dengan peraturan perundang-undangan. Melaksanakan tugas dan wewenangnya, kepala desa mempunyai kewajiban: a. Memegang teguh dan mengamalkan Pancasila, melaksanakan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 serta mempertahankan dan memelihara keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia; b. Meningkatkan kesejahteraan masyarakat; c. Memelihara ketentraman dan ketertiban masyarakat; d. Melaksanakan kehidupan demokrasi; e. Melaksanakan prinsip tata pemerintahan desa yang bersih dan bebas dari Kolusi, Korupsi dan Nepotisme (KKN); f. Menjalin hubungan kerja dengan seluruh mitra kerja pemerintahan desa; g. Menaati dan menegakkan seluruh peraturan perundang-undangan; h. Menyelenggarakan administrasi pemerintahan desa yang baik; i. Melaksanakan dan mempertanggungjawabkan pengelolaan keuangan desa; j. Melaksanakan urusan yang menjadi kewenangan desa; k. Mendamaikan perselisihan masyarakat di desa; 26. 26 l. Mengembangkan pendapatan masyarakat dan desa; m. Membina, mengayomi dan melestarikan nilai-nilai sosial budaya dan adat istiadat; n. Memberdayakan masyarakat dan kelembagaan di desa; dan o. Mengembangkan potensi sumber daya alam dan melestarikan lingkungan hidup. Selain kewajiban sebagaimana dimaksud diatas, Kepala Desa mempunyai kewajiban untuk memberikan laporan penyelenggaraan pemerintahan desa kepada Bupati/Walikota, memberikan laporan keterangan pertanggungjawaban kepada BPD, serta menginformasikan laporan penyelenggaraan pemerintahan desa kepada masyarakat. Laporan penyelenggaraan pemerintahan desa ini disampaikan kepada Bupati/Walikota melalui Camat 1 (satu) kali dalam satu tahun. Laporan keterangan pertanggungjawaban kepada BPD sebagaimana diatas disampaikan 1 (satu) kali dalam satu tahun dalam musyawarah BPD. Laporan penyelenggaraan pemerintahan desa kepada masyarakat dapat berupa selebaran yang ditempelkan pada papan pengumuman atau diinformasikan secara lisan dalam berbagai pertemuan masyarakat desa, radio komunitas atau media lainnya. Perangkat Desa sebagaimana dimaksud dalam Pasal 12 ayat (1) PP No. 72 Tahun 2005 yaitu Sekretaris Desa yang bertugas membantu Kepala Desa dalam melaksanakan tugas dan wewenangnya. Dalam melaksanakan tugasnya, Sekretaris Desa bertanggungjawab kepada Kepala Desa. Sekretaris Desa diisi dari Pegawai Negeri Sipil yang diangkat oleh Sekretaris Daerah Kabupaten/Kota atas nama Bupati/Walikota. Yang memenuhi persyaratan, yaitu: a. Berpendidikan paling rendah lulusan SMU atau sederajat; b. Mempunyai pengetahuan tentang teknis pemerintahan; 27. 27 c. Mempunyai kemampuan di bidang administrasi perkantoran; d. Mempunyai pengalaman di bidang administrasi keuangan dan di bidang perencanaan e. Memahami sosial budaya masyarakat setempat; dan f. Bersedia tinggal di desa yang bersangkutan. Perangkat Desa lainnya diangkat oleh Kepala Desa dari penduduk desa. Pengangkatan Perangkat Desa sebagaimana dimaksud diatas ditetapkan dengan Keputusan Kepala Desa, dan usia perangkat desa tersebut paling rendah 25 (dua puluh) tahun dan paling tinggi 60 (enam puluh) tahun. Mengenai Perangkat Desa Lainnya ini diatur dengan Peraturan Daerah Kabupaten/Kota. Di desa dapat dibentuk lembaga kemasyarakatan yang ditetapkan dengan peraturan desa dengan berpedoman pada peraturan perundang-undangan. Lembaga kemasyarakatan ini bertugas membantu pemerintah desa dan merupakan mitra dalam memberdayakan masyarakat desa. Keuangan desa adalah semua hak dan kewajiban desa yang dapat dinilai dengan uang, serta segala sesuatu berupa uang maupun barang yang dapat dijadikan milik desa berhubung dengan pelaksanaan hak dan kewajiban. Hak dan kewajiban tersebut menimbulkan pendapatan, belanja, dan pengelolaan keuangan desa. Sumber pendapatan desa adalah: a. Pendapatan asli desa (hasil usaha desa, hasil kekayaan desa, hasil swadaya dan partisipasi, hasil gotong-royong, dan lain-lain pendapatan asli desa yang sah). b. Bagi hasil pajak daerah Kabupaten/Kota paling sedikit 10% (sepuluh per seratus) dan dari retribusi Kabupaten/Kota. 28. 28 c. Bagian dari dana perimbangan keuangan pusat dan daerah yang diterima oleh Kabupaten/Kota untuk Desa paling sedikit 10% (sepuluh per seratus), yang pembagiannya untuk setiap desa secara proporsional yang merupakan alokasi dana desa; d. Bantuan keuangan dari Pemerintah, Pemerintah Provinsi, dan Pemerintah Kabupaten/Kota dalam rangka pelaksanaan urusan pemerintahan; e. Hibah dan sumbangan dari pihak ketiga yang tidak mengikat. Desa memiliki hak otonomi tetapi tetap dalam ikatan pemerintah Republik Indonesia. Hak otonomi maksudnya berhak menyelenggarakan rumah tangganya menurut keputusan sendiri, berhak mengatur rumah tangganya sendiri, asal tidak bertentangan dengan peraturan pemerintah di desanya dan berkewajiban melaksanakan peraturan pemerintah Desa. Sedangkan Kelurahan tidak memiliki hak otonomi dan tidak berhak menyelenggarakan rumah tangganya menurut keputusan sendiri. Hanya menyelenggarakan pemerintahan menurut peraturan pemerintah di atasnya. Inilah bedanya dengan Desa seperti yang ditetapkan dalam Undang-undang Nomor 32 Tahun 2004. Di Desa terdapat masalah yang dihadapi masyarakat yang meliputi: masalah kesehatan, masalah pekerjaan dan pendapatan, pendidikan, pertanian, lingkungan hidup dan lain sebagainya. Masyarakat berharap dapat lepas dari masalah-masalah itu karena itu masalah-masalah warga masyarakat dalam kebutuhannya untuk meningkatkan taraf hidupnya antara lain kebutuhan pokok seperti makanan yang cukup dan sehat, rumah yang sehat, pakaian yang memadai, kebutuhan 29. 29 pengetahuan, keterampilan, penghasilan yang cukup, lingkungan yang apik dan sehat dan Iain-lain. Untuk menunjang keberhasilan pelaksanaan pengembangan organisasi pemerintah yang telah diprogramkan perlu didukung oleh aparatur pelaksana yang mampu, dan untuk itu perlu dijalin hubungan serasi antara pemerintah pusat dengan pemerintah daerah, dan antara pemerintah daerah dengan pemerintah di bawahnya sampai pada unit pemerintahan yang terendah yaitu pemerintah Desa. Hubungan antara pemerintah pusat dan pemerintah daerah diatur dalam Undang-undang nomor 05 Tahun 1979 tentang Pokok-pokok Pemerintahan di Daerah yang telah dirubah menjadi Undang-undang No 22 Tahun 1999 tentang otonomi daerah yang kemudian telah disempurnakan menjadi Undang-undang 32 Tahun 2004 tentang pemerintahan daerah yang kemudian dijabarkan dalam Peraturan Pemerintah Nomor 72 Tahun 2005 tentang Desa. Tertib hukum dan menciptakan kepastian hukum bagi jalannya kehidupan organisasi pemerintahan di Indonesia, tetapi juga yang penting adalah mensukseskan pembangunan di segala bidang di Seluruh Indonesia guna mencapai cita-cita nasional yang berdasarkan Pancasila dan Undang-undang Dasar 1945, yaitu masyarakat adil dan makmur baik materil maupun spritual bagi Seluruh rakyat Indonesia. Maka perlu memperkuat kedudukan pemerintahan desa agar mampu menggerakkan masyarakat untuk berpartisipasi dalam mengembangkan organisasi dan makin mampu menyelenggarakan administrasi pemerintahan desa yang makin meluas dan efektif. 30. 30 Presiden Republik Indonesia dengan persetujuan DPR menetapkan Undang- undang nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Desa sebagai pengganti dari Undang-undang nomor 22 Tahun 1999 disempurnakan dengan Undang-undang Nomor 32 tahun 2004. Prinsip dasar dalam penyelenggaraan pemerintahan Desa berdasarkan Undang-undang nomor 32Tahun 2004 adalah : a. Untuk menjamin Terselenggaranya tertib pemerintahan dan sesuai pula dengan sifat Negara Kesatuan Republik Indonesia, maka pengaturan terhadap penyelenggaraan pemerintahan Desa sejauh mungkin diseragamkan. Hal ini dimaksudkan untuk memudahkan pelaksanaan pembinaan dan pengawasan atas Desa di Seluruh Indonesia yang beraneka ragam baik dalam susunan masyarakat, tata hukum adatnya maupun latar belakang kehidupannya sebagai satuan masyarakat terkecil. Keseragaman tersebut meliputi kebijaksanaan-kebijaksanaan pokok dalam penyelenggaraan pemerintahan Desa yang diarahkan kepada perwujudan daya guna dan hasil guna yang rasional. b. Undang-undang nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Desa hanya mengatur Desa dan Kelurahan dari segi pemerintahannya. Dengan demikian Undang-undang tersebut tetap mengakui adanya kesatuan masyarakat hukum adat dan kebiasaan-kebiasaan yang masih hidup sepanjang menunjang kelangsungan pemerintahan. Pembangunan dan ketahanan nasional dalam Undang-undang nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Desa tidak mengarah kepada pembentukan Daerah Otonomi tingkat tiga. Hal ini sesuai dengan penjelasan Undang-undang tersebut yang menegaskan bahwa walaupun Desa mempunyai hak untuk menyelenggarakan rumah tangganya sendiri, tetapi hak tersebut bukanlah 31. 31 hak otonomi sebagaimana dimaksud dalam Undang-undang nomor 32 Tahun 2004 tentang Pokok-pokok Pemerintahan di Daerah. Telah ditetapkannya Undang-undang nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Desa dan berbagai peraturan sebagai kebijaksanaan pelaksanaannya, diharapkan akan dapat makin mantap penyelenggaraan pemerintahan Desa secara terpadu dan menyeluruh sehingga terwujud hubungan yang jelas antara sistem penyelenggaraan pemerintah Desa berdasarkan Undang-undang nomor 32 Tahun 2004. Program tahunan dalam rencana kerja yang disusun oleh pemerintah Desa terhadap kegiatan-kegiatan yang kebijaksanaan dan sistem penyelenggaraan pemerintah Desa yang selama ini diatur dengan berbagai kebijaksanaan Daerah menjadi sistem penyelenggaraan pemerintahan Desa secara Nasional dengan pola yang seragam ini berarti bahwa penyelenggaraan pemerintahan Desa berdasarkan Undang-undang nomor 32 Tahun 2004 adalah merupakan pembaharuan dalam sistem penyelenggaraan pemerintahan Desa. Oleh karena itu dalam melakukan pengkajian terhadap materi Undang-undang nomor 32 Tahun 2004 dan berbagai peraturan pelaksanaannya diperlukan adanya ketelitian dan kehati-hatian agar tidak menimbulkan suatu penafsiran yang keliru. Hal ini sejalan dengan peranan dan fungsi Desa dalam kehidupannya sebagai berikut: a. Sumber segala data, informasi, daya gerak, pembinaan dan pengawasan. b. Benteng yang harus diandalkan dalam pengamalan Pancasila. c. Pusat penumbuhan dan peningkatan jiwa gotong royong di segala bidang kehidupan dan penghidupan. 32. 32 d. Pusat pembinaan partisipasi masyarakat di segala bidang baik di bidang pemerintahan, pembangunan maupun kemasyarakatan. e. Pusat pembinaan ketertiban dan kesatuan bangsa yang tersebar di seluruh pelosok tanah air. Memperhatikan pentingnya peranan dan fungsi aparatur pemerintah desa yang merupakan barisan terdepan dalam mensukseskan program pemerintah, pembangunan dan pembinaan masyarakat maka lembaga musyawarah Desa sebagai lembaga pemerintahan Desa yang merupakan perwujudan demokrasi Pancasila di tingkat Desa mempunyai peranan yang menentukan di dalam keberhasilan seorang Kepala Desa untuk melaksanakan tugas-tugasnya di bidang pemerintahan, pembangunan dan pembinaan masyarakat. C.Pemberdayaan Masyarakat Masyarakat adalah sekelompok orang yang memiliki perasaan sama atau menyatu satu sama lain karena mereka saling berbagi identitas, kepentingan- kepentingan yang sama, perasaan memiliki, dan biasanya satu tempat yang sama (Suriadi, 2005: 41). Menurut kodratnya, manusia tidak dapat hidup menyendiri, tetapi harus hidup bersama atau berkelompok dengan manusia lain yang dalam hubungannya saling membantu untuk dapat mencapai tujuan hidup menurut kemampuan dan kebutuhannya masing-masing atau dengan istilah lain adalah saling berinteraksi. PP No. 72 Tahun 2005 Tentang Desa Pemberdayaan Masyarakat memiliki makna bahwa penyelenggaraan pemerintahan dan pelaksanaan pembangunan di desa ditujukan untuk meningkatkan taraf hidup dan kesejahteraan masyarakat melalui 33. 33 penetapan kebijakan, program dan kegiatan yang sesuai dengan esensi dan prioritas kebutuhan masyarakat. Menurut Ketaren (2008: 178-183) pemberdayaan adalah sebuah proses menjadi, bukan sebuah proses instan. Sebagai proses, pemberdayaan mempunyai tiga tahapan yaitu: Tahap pertama Penyadaran, pada tahap penyadaran ini, target yang hendak diberdayakan diberi pencerahan dalam bentuk pemberian penyadaran bahwa mereka mempunyai hak untuk mempunyai sesuatu, prinsip dasarnya adalah membuat target mengerti bahwa mereka perlu (membangun demand) diberdayakan, dan proses pemberdayaan itu dimulai dari dalam diri mereka (bukan dari orang luar). Setelah menyadari, tahap kedua adalah Pengkapasitasan, atau memampukan (enabling) untuk diberi daya atau kuasa, artinya memberikan kapasitas kepada individu atau kelompok manusia supaya mereka nantinya mampu menerima daya atau kekuasaan yang akan diberikan. Tahap ketiga adalah Pemberian Daya itu sendiri, pada tahap ini, kepada target diberikan daya, kekuasaan, otoritas, atau peluang, namun pemberian ini harus sesuai dengan kualitas kecakapan yang telah dimiliki mereka. Membicarakan konsep pemberdayaan, tidak dapat dilepas-pisahkan dengan konsep sentral, yaitu konsep Power (daya). Menurut Suriadi (2005: 54-55) Pengertian pemberdayaan yang terkait dengan konsep power dapat ditelusuri dari empat sudut pandang/perspektif, yaitu perspektif pluralis, elitis, strukturalis, dan post-strukturalis. 1) Pemberdayaan masyarakat ditinjau dari perspektif pluralis, adalah suatu proses untuk menolong kelompok-kelompok masyarakat dan individu yang kurang beruntung untuk bersaing secara lebih efektif dengan kepentingan-kepentingan 34. 34 lain dengan jalan menolong mereka untuk belajar, dan menggunakan keahlian dalam melobi, menggunakan media yang berhubungan dengan tindakan politik, memahami bagaimana bekerjanya sistem (aturan main), dan sebagainya. Oleh karenanya, diperlukan upaya untuk meningkatkan kapasitas masyarakat untuk bersaing sehingga tidak ada yang menang dan kalah. Dengan kata lain, pemberdayaan masyarakat adalah upaya untuk mengajarkan kelompok atau individu bagaimana bersaing di dalam peraturan. 2) Pemberdayaan masyarakat ditinjau dari perspektif elitis adalah suatu upaya untuk bergabung dan mempengaruhi para elitis, membentuk aliansi dengan elitis, melakukan konfrontasi dan mencari perubahan pada elitis. Masyarakat menjadi tak berdaya karena adanya power dan kontrol yang besar sekali dari para elitis terhadap media, pendidikan, partai politik, kebijakan publik, birokrasi, parlemen, dan sebagainya. 3) Pemberdayaan masyarakat ditinjau dari perspektif strukturalis adalah suatu agenda yang lebih menantang dan dapat dicapai apabila bentuk-bentuk ketimpangan struktural dieliminir. Masyarakat tak berdaya suatu bentuk struktur dominan yang menindas masyarakat, seperti: masalah kelas, gender, ras atau etnik. Dengan kata lain pemberdayaan masyarakt adalah suatu proses pembebasan, perubahan struktural secara fundamental, menentang penindasan struktural. 4) Pemberdayaan masyarakat ditinjau dari perspektif post-strukturalis adalah suatu proses yang menantang dan mengubah diskursus. Pemberdayaan lebih ditekankan pertama-tama pada aspek intelektualitas ketimbang aktivitas aksi; atau 35. 35 pemberdayaan masyarakat adalah upaya pengembangan pengertian terhadap pengembangan pemikiran baru, analitis, dan pendidikan dari pada suatu aksi. Dalam konteks relasi negara dan masyarakat, maka ketidakberdayaan warga negara tidak bisa dilihat sebagai suatu kodrat melainkan harus dilihat sebagai hasil dari relasi kuasa. Permasalahannya adalah apakah relasi kuasa yang berkembang memang memungkinkan suatu proses yang membuat masyarakat yang punya kekuatan menjadi tidak punya kekuatan (dalam konteks negara demokrasi), atau apakah proses yang ada cenderung tidak menghilangkan kekuatan yang dimiliki masyarakat atau sebaliknya ? Selanjutnya, Himawan Pambudi (2003: 54) berpendapat bahwa pemberdayaan memiliki makna: Pertama, pemberdayaan bermakna kedalam, berarti suatu usaha untuk mentransformasikan kesadaran rakyat sekaligus mendekatkan masyarakat dengan akses untuk perbaikan kehidupan mereka. Suatu transformasi kesadaran bermakna tindakan untuk mengembangkan pendidikan politik, guna mengembangkan wacana alternatif, sehingga dominasi atau hegemoni negara bisa diatasi. Langkah-langkah ini dilakukan dengan maksud utama untuk: a. Memungkinkan masyarakat secara mandiri (otonom) mengorganisasikan diri dan dengan demikian akan memudahkan rakyat menghadapi situasi-situasi sulit, serta mampu menolak berbagai kecenderungan yang merugikan. b. Memungkinkan ekspresi aspirasi dan jalan memperjuangkannya dengan memberikan semacam garansi bagi tidak diabaikannya kepentingan rakyat. c. Memungkinkan diatasinya persoalan-persoalan dalam dinamika pembangunan yang menjadi cermin adanya kepercayaan kepada rakyat bahwa rakyat tidak perlu 36. 36 dimaknai sebagai sumber kebodohan, melainkan subjek pembangunan yang juga memiliki kemampuan. Kedua, pemberdayaan bermakna keluar sebagai suatu upaya untuk menggerakkan perubahan-perubahan kebijakan yang selama ini nyata-nyata merugikan masyarakat. Pemberdayaan dalam arti ini bermakna sebagai policy reform yang berbasis pada upaya memperlebar ruang partisipasi rakyat. Suatu upaya policy reform sudah tentu memiliki dua makna sekaligus. Makna kebelakang, berarti suatu bentuk koreksi (mendasar) atas kebijakan lama. Sedangkan makna kedepan adalah mendorong suatu proses dan skema baru agar pengambilan kebijakan tidak lagimenggunakan skema lama, melainkan menggunakan skema baru yang lebih termungkinkan keterlibatan masyarakat. Konsep pemberdayaan dalam wacana pembangunan masyarakat selalu dihubungkan dengan konsep mandiri, partisipasi jaringan kerja serta kekuatan yang terletak pada setiap individu. Pemberdayaan sebagai proses pengambilan keputusan, orang-orang yang telah mencapai tujuan kolektif diberdayakan melalui kemandiriannya, bahkan merupakan suatu keharusan untuk lebih diberdayakan melalui usaha mereka sendiri dan akumulasi pengetahuan, keterampilan serta sumber lainya dalan rangka mencapai tujuan. Himawan S. Pambudi, dkk(2003: 55-56), memberi cakupan terhadap aspek ketidakberdayaan rakyat, agar bisa memperlihatkan apa yang seharusnya menjadi orientasi dari pemberdayaan mayarakat tersebut: a. Masalah kesejahteraan dan kualitas hidup masyarakat begitu rendah. Fokus dari permasalahan ini adalah terpenuhinya kebutuhan dasar seperti makanan, penghasilan, kesehatan, dan sebagainya. 37. 37 b. Masalah akses terhadap sumberdaya, sebagian masyarakat elit dan kelas menengah memiliki akses dan kemudahan yang tinggi dan sebagian yang lain tidak memiliki akses dan termarginal. c. Masalah kesadaran, massa rakyat umumnya percaya bahwa keadaan mereka berkait dengan nasib. Sebagian dari golongan elit mensosialisasikan masalah ini secara sistematik, apakah melalui lembaga pendidikan, media massa atau media lain. Kemampuan massa rakyat untuk memahami persoalan-persoalan yang mereka hadapi sangat terbatas. Sebagai akibatnya, banyak masalah tidak bisa diselesaikan substansial dan cenderung diselesaikan dengan cara karikatif (bantuan karena belas kasihan). d. Masalah partisipasi, umumnya rakyat memiliki keterlibatan yang sangat kecil atau tidak sama sekali dalam proses pengambilan keputusan yang menyangkut diri mereka sendiri. Dapat dikatakan nasib rakyat ditentukan oleh golongan elit. e. Masalah kapasitas untuk ikut memberikan kontrol dan mengendalikan proses penyelenggaraan pemerintahan, kekuasaan dan berbagai relasi yang ada. Sardlow (Adi, 2003:54) melihat berbagai pengetian yang ada mengenai pemberdayaan pada intinya membahas bagaimana individu, kelompok ataupun komunitas berusaha mengontrol kehidupan mereka sendiri dan mengusahakan untuk membentuk masa depan sesuai dengan keinginan mereka. Kata pemberdayaan mengesahkan arti adanya sikap mental yang tangguh. Proses pemberdayaan mengandung dua kecendrungan, yaitu: Pertama, kecenderungan primer. Proses pemberdayaan yang menekankan pada proses memberikan atau mengalihkan sebagian kekuasaan, kekuatan atau kemampuan kepada masyarakat agar individu 38. 38 menjadi lebih berdaya. Proses ini dapat dilengkapi dengan upaya membangun asset material guna mendukung pembangunan kemandirian mereka melalui organisasi. Kedua, kecenderungan sekunder, menekankan pada proses menstimulasi, mendorong dan memotivasi agar idividu mempunyai kemampuan untuk menentukan apa yang menjadi pilihan hidupnya melalui proses dialog. Kedua proses tersebut saling terkait, dan agar kecenderungan primer dapat terwujud, sering harus melalui kecenderungan sekunder terlebih dahulu. Dengan demikian pemberdayaan adalah sebuah proses dan tujuan. Sebagai proses, pemberdayaan adalah serangkaian kegiatan untuk memperkuat kekuasaan atau keberdayaan kelompok lemah dalam masyarakat, termasuk individu-individu yang mengalami masalah kemiskinan. Sebagai tujuan, maka pemberdayaan menunjuk pada keadaan atau hasil yang ingin dicapai oleh sebuah perubahan sosial, yaitu masyarakat yang berdaya, yang memiliki kekuasaan dan pengetahuan dan kemampuan dalam memenuhi kebutuhan hidupnya, baik yang bersifat fisik, ekonomi, maupun sosial seperti memiliki kepercayaan diri, mampu menyelesaikan aspirasi, mempunyai mata pencarian, berpartisipasi dalam kegiatan sosial, dan mandiri dalam melaksanakan tugas-tugasnya. Pengertian pemberdayaan sebagai tujuan sering kali digunakan sebagai sebuah proses. Dalam PP No. 72/ 2005 Pembangunan berarti pemberdayaan masyarakat dalam penyediaan sarana dan prasarana fasilitas umum desa, seperti jalan desa, jembatan desa, irigasi desa, pasar desa. Pendekatan pembangunan yang sangat populer pada saat ini adalah pendekatan pembangunan yang mengutamakan peningkatan keberdayaan manusia/masyarakat yang disebut pembangunan yang 39. 39 berpusat pada masyarakat. Menurut Korten (2002: 110) Pembangunan adalah proses dimana anggota-anggota suatu masyarakat meningkatkan kapasitas perorangan dan institusional mereka untuk memobilisasi dan mengelola sumberdaya untuk menghasilkan perbaikan-perbaikan yang berkelanjutan dan merata dalam kualitas hidup sesuai dengan aspirasi mereka sendiri. Definisi ini menekankan pada proses pembangunan dan fokus utamanya adalah pemberdayaan. Definisi ini mencakup asas keadilan, berkelanjutan, dan pemerataan. Maka harus diakui bahwa masyarakat sendiri lah yang menentukan apa yang sebenarnya yang mereka anggap perbaikan dalam kualitas hidup mereka. Pembangunan pada prinsipnya adalah suatu proses dan usaha yang dilakukan oleh suatu masyarakat secara sistematis untuk mencapai situasi atau kondisi yang lebih baik dari saat ini. Dilaksanakannya proses pembangunan ini tidak lain karena masyarakat merasa tidak puas dengan keadaan saat ini yang dirasa kurang ideal. Namun demikian perlu disadari bahwa pembangunan adalah sebuah proses evolusi, sehingga masyarakat yang perlu melakukan secara bertahap sesuai dengan sumber daya yang dimiliki dan masalah utama yang sedang dihadapi. Pembangunan desa hendaknya mempunyai sasaran yang tepat, sehingga sumber daya yang terbatas dapat dimanfaatkan secara efektif dan efisien. Berkaitan dengan otonomi daerah, bagi pemerintah desa; dimana keberadaannya berhubungan langsung dengan masyarakat dan sebagai ujung tombak pembangunan. desa semakin dituntut kesiapannya baik dalam hal merumuskan kebijakan desa (dalam bentuk Perdes), merencanakan pembangunan desa yang disesuaikan dengan situasi dan kondisi serta dalam memberikan pelayanan rutin 40. 40 kepada masyarakat. Demikian pula dalam menciptakan kondisi yang kondusif bagi tumbuh dan berkembangnya kreativitas dan inovasi masyarakat dalam mengelola dan menggali potensi yang ada sehingga dapat menghadirkan nilai tambah ekonomis bagi masyarakatnya. Cepat atau lambat desa-desa tersebut diharapkan dapat menjelma menjadi desa-desa yang otonom, yakni masyarakat desa yang mampu memenuhi kepentingan dan kebutuhan yang dirasakannya. Salah satu ukuran keberhasilan pelaksanaan otonomi daerah terutama pada desa adalah pemerintah desa semakin mampu memberikan pelayanan kepada masyarakatnya dan mampu membawa kondisi masyarakat ke arah kehidupan yang lebih baik, hal itu akan menjadi pilar penting bagi otonomi Daerah. Jadi keberhasilan otonomi daerah sangat ditentukan oleh berhasil tidaknya pembangunan di desa. Suatu pembangunan infrastruktur akan tepat mengenai sasaran, terlaksana dengan baik dan dimanfaatkan hasilnya apabila pembangunan infrastruktur tersebut benar-benar memenuhi kebutuhan masyarakat. Agar hal itu terjadi, maka yang diperlukan adalah pemberdayaan masyarakat didalam pembangunan tersebut, mulai dari penyusunan rencana sampai pada proyek pembangunan tersebut selesai. Jadi pembangunan perlu menjadikan pemberdayaan menjadi nilai dan pilihan kebijakan, sekaligus sebagai pembelajaran sosial, kita selalu belajar bagaimana melakukan pemberdayaan yang semakin hari semakin baik. Soedjatmoko dalam (Ketaren, 2008: 187), bahwa pembangunan tidak lain adalah belajar untuk hidup lebih baik daripada kemarin. Dan, pembelajaran adalah bagian inti dari pembangunan pada zaman kini, dan mungkin sampai pada kurun waktu yang panjang di masa depan. 41. 41 Melaksanakan pembangunan infrastruktur di desa tersebut maka diperlukan adanya kemampuan dari perangkat pemerintahan desa. Kemampuan yang dimaksud adalah kemampuan merencanakan, kemampuan melaksanakan dan kemampuan memotivasi. Dari setiap kemampuan tersebut diharapkan bahwa perangkat pemerintahan desa dapat mengatasi dan memecahkan segala persoalan yang berkaitan erat dengan pembangunan desa. Namun di sisi lain kemampuan perangkat pemerintahan desa harus didukung dari peran serta masyarakat untuk melaksanakan pembangunan desa. Diharapkan dengan adanya pemberdayaan masyarakat dalam pembangunan infrastruktur desa dapat terlaksana sesuai dengan tujuan yang dibuat. Pada dasarnya pembangunan desa merupakan pembangunan yang melibatkan seluruh lapisan masyarakat. Semakin tinggi peran serta masyarakat tersebut, maka semakin cepat pula pembangunan desanya dapat terealisasi. Menurut Ndraha (1990: 16) Pembangunan ialah upaya untuk meningkatkan kemampuan manusia untuk mempengaruhi masa depannya. Ada lima implikasi utama defenisi tersebut yaitu: 1. Pembangunan berarti membangkitkan kemampuan optimal manusia, baik manusia maupun kelompok (capacity). 2. Pembangunan berarti mendorong tumbuhnya kebersamaan dan kemerataan nilai dan kesejahteraan (equity). 3. Pembangunan berarti menaruh kepercayaan kepada masyarakat untuk membangun dirinya sendiri sesuai dengan kemampuan yang ada padanya. Kepercayaan ini 42. 42 dinyatakan dalam bentuk kesempatan yang sama, kebebasan memilih, dan kekuasaan untuk memutuskan (empowerment). 4. Pembangunan berarti membangkitkan kemampuan untuk membangun secara mandiri (sustainability). 5. Pembangunan berarti mengurangi ketergantungan negara yang satu dengan negara yang lain dan menciptakan hubungan saling menguntungkan dan saling menghormati (interdependence). Dalam PP No. 72 Tahun 2005 Pasal 88 (1), disebutkan bahwa Pembangunan kawasan pedesaan yang dilakukan oleh kabupaten/kota dan atau pihak ketiga wajib mengikutsertakan pemerintah desa dan badan permusyawaratan desa, dan dalam ayat (2) disebutkan bahwa dalam perencanaan, pelaksanaan pembangunan, pemanfaatan dan pendayagunaan kawasan perdesaan wajib mengikutsertakan masyarakat sebagai upaya pemberdayaan masyarakat. Pelaksanaan pembangunan kawasan pedesaan diatur dengan Perda, dengan memperhatikan hal-hal sebagai berikut: a. Kepentingan masyarakat desa. b. Kewenangan desa. c. Kelancaran pelaksanaan investasi. d. Kelestarian lingkungan hidup. e. Keserasian kepentingan antar kawasan dan kepentingan umum. Pengaturan lebih lanjut mengenai desa ditetapkan dalam Perda dengan berpedoman pada peraturan pemerintah. Perda sebagaimana dimaksud wajib mengakui dan menghormati hak, asal-usul, dan adat-istiadat desa. 43. 43 Pembangunan sebagai peningkatan kemampuan untuk mengendalikan masa depan, mengandung beberapa implikasi. Pertama, kemampuan (capacity), tanpa kemampuan seseorang tidak akan dapat mempengaruhi masa depannya. Kemampuan disini meliputi, fisik, mental, dan spritual. Segi-segi tersebut haruslah mengalami perubahan. Kedua, kebersamaan (equity) atau keadilan sosial. Pembangunan berarti juga pemerataan, bagaimanapun tingginya laju pertumbuhan suatu negara, jika kemajuan tidak merata, hal itu sia-sia belaka. Ketiga, kekuasaan (empowerment), hal ini berarti memberikan kesempatan kepada masyarakat untuk secara bebas memilih berbagai alternatif sesuai dengan tingkat kesadaran, kemampuan, dan keinginan mereka, dan memberi mereka kesempatan untuk belajar, baik dari keberhasilan maupun dari kegagalan mereka dalam memberi respon terhadap perubahan. Keempat, ketahanan dan kemandirian (sustainability), implikasi ini mengandung arti yang luas karena faktor-faktor pembangunan terbatas adanya, sementara tuntutan kebutuhan semakin meningkat, maka sumber-sumber yang ada harus dapat dikelola sedemikian rupa sehingga pada suatu saat masyarakat yang bersangkutan mampu berkembang secara mandiri (Ndraha,1990: 35). Pembangunan masyarakat dapat dipandang dari sudut arti luas dan dapat pula dari sudut arti sempit. Dalam arti luas, pembangunan masyarakat berarti perubahan sosial berencana. Dalam arti ini sasaran pembangunan masyarakat adalah perbaikan dan peningkatan bidang ekonomi, teknologi, bahkan politik dan sosial. Dalam arti sempit, pembangunan masyarakat berarti perubahan sosial berencana di lokalitas tertentu, seperti kampung, desa, kota kecil atau kota besar. 44. 44 Pembangunan masyarakat dalam arti sempit ini dikaitkan dengan berbagai proyek atau program yang langsung berhubungan dengan upaya pemenuhan kebutuhan dan pengurusan kepentingan masyarakat setempat dan sekitarnya, seperti pembangunan infrastruktur jalan desa, jembatan desa, irigasi air di desa, dan lain sebagainya. Menurut Ndraha (1990: 96), ada 5 masalah-masalah yang dihadapi oleh pembangunan masyarakat di dalam praktek antara lain : 1. Terdapat kecenderungan hanya kaum elit komunitas saja yang mampu dan berkesempatan untuk berpartisipasi dalam proses penyusunan kebijaksanaan dan pengambilan keputusan. 2. Sampai sejauh ini, pembangunan masyarakat belum berhasil sepenuhnya dalam usahanya mendorong perubahan sosial. Memang terdapat perubahan, tetapi jarang sekali terjadi perubahan yang mendasar. 3. Dewasa ini pembangunan masyarakat lebih berbau politik, artinya pembangunan masyarakat dijadikan alat komunikasi politik atau simbol politik. 4. Semakin besar komunitas, semakin bervariasi kepentingannya, sehingga terdapat kepentingan yang saling bersaingan atau kompetitif. 5. Oleh karena itu, pembangunan masyarakat cenderung hanya kepentingan yang sangat umum sifatnya yang diperhatikan sementara kepentingan lapisan dan kelompok masyarakat di dalam komunitas terabaikan atau tersisihkan. Melakukan pembangunan maka masyarakat haruslah dipandang sebagai subjek dan objek dari pembangunan itu untuk mencapai hasil yang diharapkan, atau pembangunan yang memanusiakan manusia, karena yang lebih penting bukan 45. 45 bagaimana sehingga hasil tadi diperoleh, apakah sudah melibatkan masyarakat dalam keseluruhan proses pembangunan atau tidak (Soetomo, 2006: 7). Agar pembangunan di desa dapat menyentuh seluruh lapisan masyarakat, maka diterapkan prinsip-prinsip pembangunan, sasaran pembangunan dan ruang lingkup pengembangannya. Berikut penjelasan mengenai ketiga unsur menurut Rahardjo Adisasmita (2006: 18-20): a) Prinsip-prinsip pembangunan pedesaan, yaitu pembangunan pedesaan seharusnya menerapkan prinsip-prinsip berikut ini: 1. Transparansi (Keterbukaan). 2. Partisipatif. 3. Dapat dinikmati masyarakat. 4. Dapat dipertanggungjawabkan (akuntabilitas), dan. 5. Berkelanjutan (sustainable). b) Sasaran pembangunan pedesaan, adalah untuk terciptanya: 1. Peningkatan produksi dan produktifitas. 2. Percepatan pertumbuhan desa. 3. Peningkatan keterampilan dalam berproduksi dan pengembangan lapangan kerja dan lapangan usaha produktif. 4. Peningkatan prakarsa dan partisipasi masyarakat, dan. 5. Perkuatan kelembagaan. c) Ruang lingkup pengembangan Pengembangan pedesaan mempunyai ruang lingkup, yakni: 1. Pembangunan sarana dan prasarana pedesaan (meliputi pengairan, jaringan jalan, lingkungan pemukiman dan lainnya). 46. 46 2. Pemberdayaan masyarakat 3. Pengelolaan sumber daya alam (SDA) dan sumbe daya manusia (SDM). 4. Penciptaan lapangan kerja, kesempatan berusaha, peningkatan pendapatan (khususnya terhadap kawasan-kawasan miskin), dan. 5. Penataan keterkaitan antar kawasan pedesaan dengan kawasan perkotaan (inter rural-urban relationship). Karena itu strategi pembangunan yang paling akomodatif adalah pemberdayaan yaitu yang berpihak kepada rakyat, dan yang pada intinya pembangunan yang berbasis rakyat. Istilah pemberdayaan ini sebenarnya akan tepat diasal-katakan dengan energizing bukannya empowering, karena yang dikedepankan adalah memberi daya dan bukan berbagi kekuasaan, sebab kekuasaan itu sendiri akan melekat di setiap mereka yang memiliki daya atau energi (Nugroho, 2001: 52). D. Otonomi Daerah Dalam otonomi daerah, visi pemerintah daerah dalam era desentralisasi pertama sekali bukanlah mengisi kas pemerintah daerah sebanyak-banyaknya, namun berusaha menciptakan iklim yang memungkinkan bagi rakyat untuk berusaha dan membangun dirinya secara otonom agar tercipta kesejahteraan masyarakat, sehingga dengan sendirinya akan memperbaiki perekonomian daerah. Penyelenggaraan pemerintahan selalu terkait dengan sejarah dan situasi sosial para penguasa dalam menata masyarakat dan lingkungannya. Belum mantapnya sistem pemerintahan, lemahnya dukungan aparat, ikut menggoyahkan sendi-sendi pelayanan kebutuhan hidup masyarakat. Sistem pemerintahan dalam perspektif sejarah bangsa Indonesia, telah mengalami perubahan yakni dari pemerintahan sentralistik ke desentralistik. 47. 47 Perubahan ini dikaitkan dengan situasi dan kondisi sosial yang secara fenomenal terjadi dalam penyelenggaraan berpemerintahan. Bangsa Indonesia sejak kemerdekaan mengalami berbagai konflik kepentingan antara pemerintah pusat dan daerah, kepentingan penguasa dengan kepentingan rakyat. Konflik berlangsung dari masa ke masa antara pemerintah dan penguasa yang melayani berbagai kepentingan, dengan masyarakat sebagai pengguna jasa yang menuntut diberikan pelayanan. Pemerintahan desentralistik merupakan suatu solusi untuk menjawab kebutuhan otonomi daerah secara lengkap mengatur dan mengurus rumah tangganya sendiri. Pelaksanaan otonomi daerah akan mendorong pemikiran baru bagaimana menata kewenangan yang efisien dan efektif. Artinya, pemerintahan dapat diselenggarakan secara demokratis. Konsep otonomi berasal dari dua kata, yaitu auto (sendiri) dan nomous (menyelenggarakan). Artinya, menyelenggarakan pemerintahan sendiri. Konsep otonomi ini merupakan gejala sosial karena keberadaannya dalam masyarakat. Dalam sistem individu, seseorang memiliki suatu hak yang disebut privacy, dan pada suatu kelompok masyarakat, mempunyai hak yang dsisebut autonomy, serta pada suatu bangsa ada hak yang dikenal sovereignty. Setiap orang memiliki hak pribadi dalam menentukan aspirasinya, seperti pribadi, daerah juga memiliki hak otonomi. Daerah sebagai satu kesatuan dari masyarakat hukum mempunyai hak untuk mengurus rumah tangganya sendiri. Ini disebut sebagai otonomi daerah (Napitupulu, 2007: 29). Reformasi dan otonomi daerah telah menjadi harapan baru bagi pemerintah dan masyarakat desa untuk membangun desanya sesuai dengan kebutuhan dan aspirasi masyarakat. Bagi sebagian besar aparat pemerintah desa, 48. 48 otonomi adalah satu peluang baru yang dapat membuka ruang kreativitas bagi aparatur desa dalam mengelola desa. Hal itu jelas membuat pemerintah desa menjadi semakin leluasa dalam menentukan program pembangunan yang akan dilaksanakan, dan dapat disesuaikan dengan kebutuhan masyarakat desa tanpa harus didikte oleh kepentingan pemerintah daerah dan pusat. Sayangnya kondisi ini ternyata belum berjalan cukup mulus. Sebagai contoh, aspirasi desa yang disampaikan dalam proses musrenbang senantiasa kalah dengan kepentingan pemerintah daerah (eksekutif dan legislatif) dengan alasan bukan prioritas, pemerataan dan keterbatasan anggaran. Dari sisi masyarakat, poin penting yang dirasakan di dalam era otonomi adalah semakin transparannya pengelolaan pemerintahan desa dan semakin pendeknya rantai birokrasi yang secara langsung maupun tidak langsung berpengaruh positif terhadap jalannya pembangunan desa. Dalam proses pembangunan, keberadaan delegasi masyarakat desa dalam kegiatan pembangunan adalah membuka kran partisipasi masyarakat desa untuk ikut menentukan dan mengawasi penentuan kebijakan pembangunan daerahnya. Otonomi daerah tidak lain adalah perwujudan pendelegasian wewenang dan tanggung jawab dan mempunyai hubungan yang erat dengan desentralisasi. Desentralisasi merupakan penyerahan wewenang dari pemerintah pusat kepada pemerintah daerah untuk mengatur dan mengurus daerah mulai dari kebijakan, perencanaan sampai pada implementasi dan pembiayaan dalam rangka demokrasi. Sedangkan otonomi adalah wewenang yang dimiliki daerah untuk mengurus rumahtangganya sendiri dalam rangka desentraslisasi. Adapun esensi dari 49. 49 otonomi daerah itu adalah komitmen untuk memberikan keadilan, kepastian, dan kewenangan yang optimal dalam pengelolaan sumber daya pada daerah. E. Pengertian Pengembangan Organisasi Organisasi berasal dari kata to organization dalam bahasa Inggris yang berarti mengatur atau menyusun bagian-bagian yang terpisah-pisah sehingga menjadi satu kesatuan yang dapat digunakan untuk melakukan pekerjaan. Dalam kegiatan sehari- hari organisasi dapat diartikan sebagai wadah atau tempat dimana kegiatan administrasi dilakukan. Arti organisasi yang diungkapkan oleh SP. Siagian menyatakan bahwa organisasi adalah setiap bentuk persekutuan antara dua orang atau lebih yang bekerjasama secara formal terikat dalam rangka pencapaian suatu tujuan yang telah ditentukan dalam ikatan dimana terdapat seorang atau beberapa orang yang disebut atasan dan sekelompok orang yang disebut bawahan. Pengertian tujuan organisasi adalah harus disebarluaskan supaya diketahui oleh semua pihak baik pihak dalam maupun pihak luar organisasi, gunanya sebagai pedoman segala tindakan dalam organisasi. Sangat disadari bahwa persoalan- persoalan organisasi semakin kompleks, demikian juga persoalan manusia yang berada di dalam organisasi semakin rumit pula, sehingga merupakan tantangan yang harus dihadapi oleh setiap Pemimpin dewasa ini. Manusia adalah pendukung utama setiap organisasi apapun bentuknya. Oleh karena persoalan manusia senantiasa berkembang dan ruwet, maka persoalan organisasi (khususnya perilaku organisasi) semakin hari semakin berkembang. 50. 50 Pada hakikatnya pusat perhatian perilaku organisasi adalah pada tingkah laku manusia dalam suatu organisasi berdasarkan perilaku yang didukung paling sedikit dua komponen yaitu individu yang berperilaku dalam organisasi formal sebagai wadah dari perilaku tersebut. Manusia dan organisasi sudah menyatu, dan bila dua komponen perilaku organisasi berinteraksi maka akan menimbulkan perilaku organisasi yang merupakan titik perhatian dari ilmu perilaku organisasi. Melaksanakan suatu organisasi dengan baik maka seorang pemerintah selaku Pemimpin harus memberikan semangat kepada aparat-aparatnya baik itu masalah administrasi yang akan dikerjakan dalam organisasi tersebut. Keberhasilan suatu organisasi terutama dalam pemerintahan Desa berada pada seorang Kepala Desanya sendiri bagaimana mengayomi masyarakatnya dalam mengembangkan organisasi pemerintahan. Apabila kita menghendaki organisasi yang efektif ada tiga dimensi pokok yang sangat menentukan yaitu : 1. Dimensi tehnis adalah menekankan kecakapan yang dibutuhkan untuk menggerakkan organisasi dalam hal ini menyangkut keahlian dari birokrat atau manajer tehnis untuk menggerakkan organisasi. 2. Dimensi konsep yang merupakan motor penggerak dari tehnis dan sangat erat kaitannya dengan faktor manusia. 3. Dimensi manusia yaitu merupakan sumber utama organisasi, yang tidak bisa digantikan oleh teknologi apapun. Bagaimana baiknya organisasi, lengkapnya sarana, fasilitas kerja semuanya tidak akan mempunyai arti tanpa manusia yang mengatur dan menggunakannya serta memeliharanya. 51. 51 Menurut Prof. DR. Prayudi Atmosudirjo mengatakan bahwa organisasi adalah struktur tata pembagian kerja dan struktur tata hubungan kerja antara sekelompok orang pemegang posisi yang bekerjasama secara tertentu untuk bersama-sama mencapai tujuan. Organisasi dapat pula didefinisikan sebagai suatu himpunan interaksi manusia yang bekerjasama untuk mencapai tujuan yang terikat dalam suatu ketentuan yang telah disetujui. Apabila dilihat dari sudut administrasi dan manajemen maka dari setiap organisasi selalu ada seorang atau beberapa orang bertanggung jawab untuk mengkoordinasikan sejumlah orang yang bekerjasama itu dengan segala aktivitas dan fasilitasnya. Banyak hal, orang yang mengkoordinasikan aneka ragam kegiatan/kumpulan orang yang lazimnya mempunyai kepentingan yang berbeda, itu semua yang menjadikan organisasi semakin rumit dan tingkat formalitasnya semakin besar. Walaupun hubungan manusia telah terwujud sejak awal kehidupan, kiat dan ilmu yang mencoba menanganinya dalam bentuk organisasi yang relatif masih baru. Pada zaman dahulu orang-orang bekerja sendiri atau dalam kelompok yang sedemikian kecilnya, sehingga hubungan kerja mereka dapat ditangani dengan mudah. Apabila organisasi berhasil diterapkan dan dikembangkan dalam Desa terutama di bidang pemerintahan, maka terjadi sistem imbalan rangkap tiga yang akan menyatakan tujuan manusia, tujuan organisasi dan tujuan masyarakat. Orang-orang akan merasa lebih puas dalam pekerjaan apabila terwujud kerjasama dan kerja tim. Yang lebih banyak mendapat imbalan dalam hal ini adalah masyarakat itu sending karena mereka dapat memperoleh produk dan pelayanan yang lebih baik. 52. 52 Meningkatkan dan mengembangkan organisasi pemerintahan Desa maka seorang Kepala Desa harus bertindak yang positif dalam organisasinya agar organisasi yang ada tidak vakum tapi sebaliknya berjalan sesuai apa yang kita harapkan dan mencapai tujuan bersama. Kebijakan pemberlakuan otonomi membuat setiap daerah memiliki kewenangan yang cukup besar dalam mengambil keputusan yang dianggap sesuai. Terlebih dengan pemilihan kepala desa (pilkades) secara langsung yang diselenggarakan sejak tahun 2005, membuat kepala desa yang terpilih mendapat legitimasi lebih kuat dari rakyat untuk membangun wilayahnya. Tentunya kepala desa hasil pilkades ini membuahkan harapan yang cukup besar bagi masyarakat, yaitu peninjgkatan pembangunan dan kesejahteraan yang akan makin meningkat. Tetapi harapan tersebut ternyata tidak mudah untuk diwujudkan. Kekuatan visi & kompetensi kepala desa terpilih menjadi salah satu penentu, di samping faktor-faktor lain. Tantangan terberat bagi kepala desa terpilih adalah melaksanakan visi, misi, dan janji-janji semasa kampanye, yang hampir semuanya pasti baik. Setidaknya ada empat hal yang harus dimiliki dan disiapkan oleh seseorang yang ingin membangun dan mensejahterakan rakyatnya agar apa yang dijanjikan dapat menjadi kenyataan. 4 hal itulah yang disebut dengan 4 Pilar Pembangunan. Disebut empat pilar pembangunan karena dengan 4 hal ini diharapkan seorang pemimpin dapat menjalankan perannya dalam membangun daerahnya bisa optimal. Pilar Pertama: Sumber Daya Manusia (SDM). Mengapa SDM ? Karena pada dasarnya manusialah yang menjadi pelaku dan penentu. SDM seperti apa yang diperlukan? Yaitu SDM yang memiliki: moral yang baik (good morality), 53. 53 kemampuan kepemimpinan (leadership), kemampuan manajerial (managerial skill), dan kemampuan teknis (technical skill). Seorang kepala desa perlu didukung oleh aparat yang mempunyai empat kualifikasi tersebut, diberbagai level jabatan & fungsinya. Moral yang baik menjadi prasyarat utama. Karena tanpa moral yang baik, semua kebijakan, sistem, program maupun kegiatan yang dirancang akan menjadi sia- sia. Tentunya kita menyaksikan terjadinya krisis moneter yang dimulai tahun 1997 lalu, kemudian krisis ekonomi, krisis kepemimpinan, dan masih terus berlanjut yang hingga sekarang masih dirasakan dampaknya. Sebab utama terjadinya krisis itu tidak lain adalah rendahnya moral sebagian pengambil kebijakan negeri ini. Moral yang baik akan menghasilkan sebuah pemerintahan yang bersih dari tindakan korupsi, kolusi, dan nepotisme demi kepentingan pribadi atau golongan tertentu saja. Saat ini tuntutan penerapan 3G (Good Government Governance) terus-menerus digaungkan oleh berbagai pihak. Penerapan prinsip-prinsip transparansi & akuntabilitas tanpa didukung oleh aparat yang bermoral baik, pada akhirnya hanya akan berhenti di tingkat wacana saja. Oleh karena itu, sejak awal dilantik, seorang kepala daerah harus segera menyiapkan aparatnya dalam aspek moral ini. Termasuk menjadikan dirinya sebagai teladan bagi semua bawahannya. Moral yang baik belumlah cukup, tapi juga harus diimbangi dengan kompetensi. Yaitu kemampuan di bidang kepemimpinan, manajerial, dan teknis. Untuk mencapai kompetensi yang diperlukan, tidak terlepas dari sistem kebijakan yang diterapkan. Model manajemen SDM berbasis kompetensi nampaknya menjadi keniscayaan. Termasuk sistem kompensasi yang memadai harus menjadi perhatian. Selain itu perlu didukung dengan perubahan paradigma, yaitu dari 54. 54 mental penguasa menjadi pelayan masyarakat. Termasuk budaya kerja yang proaktif & cepat tanggap terhadap persoalan yang dihadapi masyarakat. Pilar Kedua: Kebijakan. Maksudnya adalah berbagai konsep kebijakan yang berpihak kepada berbagai stakeholder, terutama kepentingan masyarakat luas. Secara formal dan non formal, kebijakan tersebut akan dituangkan dalam peraturan desa maupun peraturan adat yang berlaku . Kepala desa antara lain harus memiliki konsep pembangunan berkelanjutan & berkeadilan, konsep manajemen kepemimpinan pemerintahan yang efektif & efisien, konsep investasi yang mengakomodir kepentingan pihak terkait, serta berbagai konsep kebijakan lainnya. Hal ini sesuai dengan UU No. 25 Tahun 2004 dan UU No. 32 Tahun 2004, yang mengamanatkan kepala desa untuk menyusun RPJMD (Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah), yang menjabarkan visi & misinya selama lima tahun masa pemerintahannya. Sehingga dengan demikian arah pembangunan sejak dilantik hingga lima tahun ke depan sudah jelas. Salah satu indikator keberhasilan pembangunan suatu daerah antara lain jika kepala desa dapat memenuhi 5 kebutuhan dasar masyarakatnya, yaitu: keamanan, ketenteraman, kemudahan, penyediaan sarana pendidikan, dan penyediaan fasilitas kesehatan. Selain itu kepala desa harus mampu melihat suatu permasalahan secara komprehensif dan integratif, jangan sampai terjebak hanya melihat secara sektoral dan parsial, ataupun keuntungan jangka pendek. Jangan sampai seorang kepala desa tidak tahu harus berbuat apa manakala terdapat berbagai aspirasi masyarakat yang tidak dapat diwujudkan. Jika demikian, pemerintahan akan berjalan tak tentu arah. Sehingga pada akhirnya, rakyatlah yang harus menanggung akibatnya. 55. 55 Pilar Ketiga: Sistem. Artinya pemerintahan desa harus berjalan berdasarkan sistem, bukan tergantung pada figur. Sangat penting bagi kepala desa untuk membangun sistem pemerintahan yang kuat. Beberapa sistem yang harus dibangun agar pemerintahan dapat berjalan secara baik antara lain: sistem perencanaan , sistem pengelolaan keuangan desa, sistem pelayanan, sistem pemanfaatan potensi desa, aset desa, sistem pengambilan keputusan, sistem penyeleksian. Sistem yang dimaksud disini dapat bersifat manual maupun yang berbasis teknologi informasi. Dukungan teknologi informasi menjadi sesuatu yang tidak dapat dielakkan jika pemerintahan ingin berjalan lebih efisien dan efektif. Penerapan sistem-sistem tersebut akan mendorong terjadinya pemerintahan desa yang legititimed dan dapat diandalkan oleh masyarakat untuk menghasilkan suatu pemerintahan desa yang keberadaaanya sangat membantu pemerintah daerah untuk menjadi pendamping atau mitra dalam mewujudkan apa byang dicita-citakan, yang pada akhirnya akan menghasilkan pemerintahan yang transparan dan akuntabel. Pilar Keempat: Investasi. dalam rangka mengoptimalkan potensi sumber daya alam yang dimiliki, juga memerlukan dana yang tidak sedikit, yang tentunya tidak mungkin jika hanya mengandalkan dana ADD saja. Tidaklah mungkin suatu pemerintahan daerah hanya mengandalkan dana dari ADD untuk membangun daerahnya. Mengapa ? Karena bisa dikatakan, sebagian besar daerah menggunakan rata-rata 2/3 dana APBD tersebut untuk membiayai penyelenggaraan aparaturnya. Hanya sekitar 1/3 yang dapat dialokasikan untuk pembangunan. Dibutuhkan dana yang cukup banyak untuk mengakomodir berbagai kepentingan masyarakat sekitar. Seorang kepala desa harus mampu melihat berbagai potensi desa yang dapat 56. 56 dijadikan sebagai sumber penghasilan atau investasi yang pada muaranya akan berdampak luas pada tingkat kesejahteraan masyarakat. Potensi desa yang sangat potensial untuk pembangunan dapat dijadikan alasan bagi kepala desa untuk memanfaatkan para investor untuk menanamkan investasi dengan tetap berpegang kepada aturan-aturan yang ada. Dengan keterbatasan dana yang dimiliki tersebut, mau tidak mau pemerintah desa harus melibatkan pihak investor (dalam maupun luar negeri) dalam membangun daerahnya. Kepala desa harus dapat menciptakan iklim yang kondusif agar para investor tertarik untuk menanamkan investasi di daerahnya. Setidaknya ada empat stakeholder yang harus diperhatikan kepentingannya saat kita bicara tentang investasi, yaitu pihak investor, pemerintah daerah, masyarakat, dan lingkungan. Investor tentunya berkepentingan agar dana yang dinvestasikannya menghasilkan profit yang memadai, ingin mendapatkan berbagai kemudahan dan adanya jaminan keamanan dalam berinvestasi. Pihak pemerintah daerah ingin agar pendapatan asli daerahnya (PAD) meningkat. Masyarakat berharap kesejahteraannya makin meningkat dan lapangan kerja makin terbuka. Lingkungan perlu diperhatikan agar tetap terjaga kelestariannya. Jangan sampai karena terlalu bersemangat, akhirnya secara jangka panjang terjadi pengrusakan lingkungan. Oleh karena itu dibutuhkan kebijakan dan model investasi yang dapat menyeimbangkan berbagai kepentingan tersebut. Demikianlah empat pilar pembangunan yang dapat dijadikan bekal bagi kepala desa dalam membangun wilayanhnya. 57. 57 F. Kerangka Pemikiran Kerangka fikir dalam penelitian ini dapat digambarkan sebagai berikut: Gambar 2.1 : Kerangka Konseptual Berdasarkan kerangka fikir yang digambarkan diatas dapat dijelaskan bahwa peranan pemerintah desa yang dalam hal ini pembinaan terhadap masyarakat, pelayanan terhadap masyarakat,serta pengembangan terhadap masyarakat akan dapat terlaksana dengan baik manakala pemerintah desa memberdayakan semua potensi yang ada dalam masyarakat untuk menciptakan pemerintahan desa yang kredibel dan bermartabat. Secara garis besar ketiga variabel diatas dapat dirumuskan sebagai berikut: (1) Pembinaan terhadap masyarakat adalah upaya yang dilakukan untuk memperbaiki segala sesuatu yang berkaitan dengan kinerja masyarakat yang dianggap belum maksimal. (2) Pelayanan terhadap masyarakat adalah upaya yang dilakukan secara terus menerus untuk memberikan bantuan sebagai usaha melayani kebutuhan orang lain. Peranan Pemerintah Desa Pembinaan terhadap masyarakat Pengembangan terhadap masyarakat Pelayanan terhadap masyarakat Pemerintah Desa yang baik 58. 58 (3) Pengembangan terhadap masyarakat adalah upaya memaksimalkan seluruh potensi desa agar dapat berdaya guna secara efektif dan efisien (4) Pemberdayaan masyarakat adalah upaya yang dilakukan kepada sekelompok orang dengan memberikan peluang, daya, kekuasaan,otoritas atau peluang sesuai kualitas kecakapan yang mereka miliki. 59. 59 BAB III METODE PENELITIAN A. Perspektif Pendekatan Penelitian Penelitian merupakan suatu proses yang panjang, penelitian berawal dari minat yang ada dalam diri seseorang dalam memahami fenomena tertentu yang kemudian berkembang menjadi ide, teori, dan konsep. Untuk mewujudkan penelitian yang berawal dari minat tersebut dilakukanlah cara untuk mewujudkannya adalah dengan memilih metode yang cocok dengan tujuan dari suatu penelitian. Metode penelitian dalam hal ini berfungsi untuk menjawab permasalahan yang diangkat dalam penelitian. Guna menjawab dan mencari pemecahan permasalahan maka penelitian ini akan menggunakan metode-penelitian kualitatif. Menurut pendapat Kirk dan Miller (Moleong, 1998:3) dinyatakan bahwa penelitian kualitatif merupakan tradisi tertentu dari ilmu sosial yang secara fundamental bergantung kepada pengamatan manusia dalam wilayahnya sendiri dan berhubungan dengan orang-orang tersebut dalam bahasa dan istilah yang digunakan. Dan metode-penelitian kualitatif adalah sebagai prosedur penelitian yang menghasilakan data deskriptif berupa kata-kata tertulis maupun lisan dari orang orang dan perilaku yang diamati. Pendekatan kualitatif menekankan unsur manusia sebagai instrumen penelitian, dengan menekankan unsur manusia sebagai instrumen penelitian maka akan mempermudah penyesuaian dengan kenyataan yang terjadi dilapangan. Kirk dan Miller dalam Moleong (2000:3) mendefinisikan penelitian kualitatif adalah tradisi tertentu dalam ilmu pengetahuan sosial secara fundamental bergantung pengamatan 59 60. 60 pada manusia di kawasannya sendiri serta berhubungan dengan orang tersebut dalam bahasanya dan peristilahannya. Sedangkan menurut Alston (1998), Qualitative researchers are more interested in understanding how others experience life, in interpreting meaning and sosial phenomena, and in exploring new concepts and developing new theories. (Peneliti kualitatif lebih tertarik untuk memahami tentang pengalaman hidup dari orang-orang, dalam meginterpretasikan arti dan fenomena sosial, serta dalam mendalami konsep-konsep baru dan membuat teori baru). Pendekatan kualitatif ini, peneliti akan terjun langsung ke lapangan untuk meneliti obyek kajiannya dan mengadakan interaksi langsung dengan masyarakat yang bertujuan mendapatkan informasi yang mendalam mengenai peranan pemerintah desa dalam memberdayakan masyarakat Desa Sederhana termasuk faktor penghambat dan pendorong dalam memberdayakan masyarakat. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif untuk menghasilkan data deskriptif berupa kata- kata tertulis atau lisan dari orang-orang dan perilaku yang dapat diamati (Bogdan dan Taylor dalam Moleong, 2000:3). Sedangkan menurut Nawawi dan Martini (1992:211) mengemukakan bahwa ciri dari salah satu penelitian kualitatif adalah data yang dikumpulkan bersifat deskriptif, dimana data yang ditampilkan umumnya berbentuk uraian dan kalimat-kalimat yang merupakan gambaran faktual dan akurat, serta hubungan antar masalah yang diteliti. B. Fokus Penelitian Fokus penelitian adalah mendeskripsikian dan menganalisis peranan pemerintah desa dalam memberdayakan masyarakat di era otonomi daerah ditinjau dari pembinaan terhadap masyarakat, pelayanan pada masyarakat dan pengembangan 61. 61 pada masyarakat serta faktor pendukung dan penghambat yang muncul dalam memberdayakan masyarakat di Desa Sederhana Kecamatan Khusus Kabupaten Umum. C. Lokasi Penelitian Penelitian ini dilaksanakan di Desa Sederhana Kecamatan Khusus Kabupaten Umum yang kira-kira berjarak kuang lebih 27 km dari ibu kota Kabupaten D. Fenomena Pengamatan Dalam penelitian ini, fenomena utama yang diamati adalah aspek-aspek yang berkaitan dengan pemberdayaan masyarakat terutama yang berkaitan dengan aspek Pembinaan, pelayanan dan pengembangan masyarakat di desa tersebut termasuk faktor-faktor yang mempengaruhinya. E. Jenis dan Sumber Data Dalam penelitian ini penulis menggunakan data primer dan data sekunder. Data primer diperoleh dari data-data yang dikumpulkan penulis dari sumber data di lokasi penelitian, sedangkan data sekunder diolah dari hasil dokumentasi yang dilakukan penulis dari hasil wawancara, studi dokumentasi dan pengamatan lapangan. G.Pemilihan Informan Dalam penelitian ini pihak yang dijadikan informan adalah yang dianggap mempunyai informasi (key-informan) yang dibutuhkan di wilayah penelitian. Cara yang digunakan untuk menentukan informan kunci tersebut maka penulis menggunakan purposive sampling atau sampling bertujuan, yaitu teknik sampling yang digunakan oleh peneliti jika peneliti mempunyai pertimbangan-pertimbangan 62. 62 tertentu di dalam pengambilan sampelnya (Arikunto, 2000:128). Menurut penulis, informan dalam penelitian ini adalah : a. Kepala Desa b. Tokoh-tokoh masyarakat c. Kepala Dusun d. Ketua Karang Taruna e. Ketua tim Penggerak PKK f. Kepala Urusan Pemerintahan Selanjutnya untuk memperoleh informasi secara mendalam serta lebih lengkap dari masyarakat dan lembaga yang terkait dengan pemberdayaan masyarakat maka dipergunakan teknik snowball sampling. Penentuan jumlah maupun informan penelitian berkembang dan bergulir mengikuti informasi atau data yang diperlukan dari informan yang diwawancarai sebelumnya. Maka dari itu, spesifikasi informan penelitian tidak digambarkan secara rinci namun akan berkembang sesuai dengan kajian penelitian yang dilakukan. G. Instrumen Penelitian Instrumen dalam penelitian ini adalah peneliti sendiri. Menurut Moleong (2003:19) bahwa dalam instrumen penelitian kualitatif pengumpulan data lebih banyak bergantung pada dirinya sebagai alat pengumpul data. Adapun alat bantu yang biasa digunakan dalam penelitian kualitatif seperti penelitian ini antara lain, alat kamera, taperecorder, dokumen-dokumen yang berhubungan dengan masalah penelitian, dan alat bantu lainnya. 63. 63 H. Teknik Pengumpulan Data Teknik pengumpulan data yang akan peneliti gunakan yaitu : 1. Wawancara Peneliti melakukan wawancara secara mendalam (in-dephtinterview) dengan narasumber (key informan) dengan berpedoman pada interview-guidances yang telah disusun sebelumnya. Pemberian pertanyaan kepada informan dilakukan secara terbuka dan fleksibel sesuai dengan perkembangan yang terjadi selama proses wawancara dalam rangka menyerap informasi mengenai persepsi, pola maupun pendapat-pendapat dari informan tersebut. Apabila informasi dianggap sudah memenuhi tujuan penelitian maka pengajuan pertanyaan atau penjaringan informasi akan di akhiri. 2. Studi Dokumentasi Peneliti mengumpulkan data yang dibutuhkan dalam penelitian ini dengan cara mengumpulkan dan mempelajari dokumen-dokumen yang memiliki keterkaitan dengan penelitian ini, seperti buku, jurnal, surat kabar dan lain sebagainya. 3. Observasi (pengamatan lapangan) Yaitu dilakukan pengamatan secara langsung yang dilakukan peneliti di lokasi penelitian untuk melihat kenyataan dan fakta sosial di sehingga dapat dicocokkan antara hasil wawancara atau informasi dari informan dengan fakta yang ada lapangan. Proses pengolahan data bergerak diantara perolehan data, reduksi data, penyajian dan penarikan kesimpulan/verifikasi. Artinya data-data yang terdiri dari deskripsi 64. 64 dan uraiannya adalah data yang dikumpulkan, kemudian disusun pengertian dengan pemahaman arti yang disebut reduksi data, kemudian diikuti penyusunan sajian datam yang berupa cerita sistematis, selanjutnya dilakukan usaha untuk menarik kesimpulan dengan verifikasinya berdasarkan semua hal yang terdapat dalam reduksi data dan sajian data. Apabila kesimpulan dirasakan masih kurang mantap, maka dilakukan penggalian data kembali. Hal tersebut dilakukan secara berlanjut, sampai penarikan kesimpulan dirasa sudah cukup untuk menggambarkan dan menjawab fokus penelitian. Secara sistematis dijelaskan oleh Milles dan Huberman (1992 : 20) dengan model interaktif sebagai berikut : Gambar 3.1. Model interaktif Miles dan Huberman Dijelaskan bahwa : 1. Reduksi data, sebagai proses pemilihan pemusatan perhatian pada penyederhanaan, pengabstrakan dan transformasi data kasar yang muncul dari catatan-catatan tertulis di lapangan. Reduksi data merupakan suatu bentuk analisis yang menajamkan, menggolongkan, mengarahkan, membuang yang tidak perlu dan mengorganisasikan data dengan cara sedemikian rupa sehingga kesimpulan-kesimpulan akhirnya dapat ditarik dan diverifikasi. Pengumpulan Data Sajian DataReduksi Data Verifikasi 65. 65 2. Penyajian data, sebagai sekumpulan informasi yang tersusun yang memberi kemungkinan adanya penarikan kesimpulan dan pengambil tindakan 3. Menarik kesimpulan/verifikasi, penarikan kesimpulan hanyalah sebagian dari suatu kegiatan dari konfigurasi yang utuh. Kesimpulan juga diverifikasi selama penelitian berlangsung. Verifikasi itu mungkin sesingkat pemikiran kembali yang melintas dalam pikiran, suatu tinjauan ulang pada catatan lapangan atau juga upaya-upaya yang luas untuk menempatkan salinan suatu temuan dalam seperangkat data yang lain. I. Teknik Analisis Data Analisis data merupakan suatu proses dimana data itu disederhanakan kedalam bentuk yang lebih mudah dibaca dan diiterpretasikan (Singarimbun dan Effendi,1989). Sedangkan menurut Moleong (2000:103), analisis data adalah Proses mengorganisasikan dan mengurutkan data ke dalam pola, kategori dan satuan uraian dasar sehingga dapat ditemukan tema dan dapat dirumuskan hipotesis kerja seperti disarankan oleh data. Dengan demikian, data yang telah terkumpul dari hasil wawancara dan studi kepustakaan atau dokumentasi akan dianalisis dan ditafsirkan untuk mengetahui maksud serta maknanya, kemudian dihubungkan dengan masalah penelitian. Data yang terkumpul disajikan dalam bentuk narasi dan kutipan langsung hasil wawancara. Tahap-tahap analisa data dalam penelitian ini, menurut Sarantakos dalam Alston dan Bowles (1998:195) tahap-tahap tersebut terdiri dari tiga tahap umum, yaitu : data reduction, data organization, dan interpretation, yang secara spesifik dapat dijelaskan sebagai berikut: 66. 66 a. Data reduction (reduksi data), pada tahap ini data diberi kode, disimpulkan dan dikategorikan menurut aspek-aspek penting dari setiap isu yang telah diteliti. Dengan tahap ini akan membantu juga dalam menentukan data apa yang diperlukan dan bagaimana serta siapa yang akan memberikan informasi selanjutnya, metode apa yang digunakan untuk menganalisis yang akhirnya akan membawa pada kesimpulan. b. Data organization (pengorganisasian data), pada tahap ini adalah tahap proses pengumpulan (assembling) informasi yang betul-betul penting dan dianggap merupakan tema atau pusat penelitian. Pada tahap ini data-data yang hampir sama atau mirip digabungkan dalam kategori tertentu untuk dijadikan dalam bentuk satu permasalahan saja. c. Interpretation (interprestasi atau penafsiran), tahap ini meliputi proses mengidentifikasi pola-pola (patterns), kecenderungan (trends), dan penjelasan (explanations) yang akan membawa kepada simpulan yang telah teruji melalui data yang benar-benar lengkap dan tidak ada informasi atau pengertian baru yang terlewatkan. Dalam hal ini analisa data berperan mengatur, mengurutkan, mengelompokan, memberikan kode, dan mengkategorikannya. Dalam penelitian ini, data-data yang sudah penulis dapatkan kemudian dilakukan analisis dengan teknik analisis taksonomis (taxonomis analysis), yaitu membentuk analisis yang lebih rinci dan mendalam dalam membahas suatu tema atau pokok permasalahan. Pada analisis ini fokus penelitian maupun pembahasan kendati diarahkan pada bidang atau aspek tertentu, namun pendeskripsian fenomena yang menjadi tema sentral dari permasalahan penelitian diungkap secara lebih rinci. 67. 67 Dengan demikian domain atau bidang yang akan ditonjolkan perlu dilacak secara lebih mendalam dan terinci struktur internalnya (Faisal, 1990:98 ). Ada tiga strategi yang digunakan dalam mengembangkan teori , yaitu : (1) menulis catatan atau note writing, (2) mengidentifikasi konsep-konsep atau discovery or identification of consepts, dan (3) mengembangkan batasan konsep dan teori atau development of consept definition and the elaborate of theory (ibid ,109). Menulis catatan mempunyai dua tahap, yaitu menulis di tingkat pertama yang biasanya memuat pokok-pokoknya saja dan dilakukan sesegera mungkin saat data dikumpulkan (hasil dari observasi, wawancara atau yang lainya). Menulis pada tingkat yang kedua, yang memuat deskripsi yang lebih lengkap dan terurai rinci, yang memenuhi kriteria : 1. Memuat penjelasan yang lengkap, termasuk memuat konteks suatu kejadian dan mengidentifikasikan semua informasi penting mengenai subyek lokasi/ benda/ kejadian-kejadian. Catatan ini kaya akan rincian dan dinyatakan dalam paparan dalam menjelaskan topik yang dideskripsikan 2. Merupakan kronologi kejadian dalam konteks yang jelas 3. Seoptimal mungkin menunjukkan data faktual/deskripsi. Selanjutnya, data/catatan yang telah ditulis tersebut merupakan sumber bagi peneliti untuk melangkah menuju pengembangan konsep. Bergerak dari data ke konsep merupakan suatu gerak melintas ke tingkat abstraksi yang lebih tinggi tingkatannya dari data itu sendiri (suatu penamaan yang mewadahi sejumlah data yang mempunyai kesamaan tertentu). Konsep yang bermanfaat akan tetap digunakan, sedangkan yang kurang bermanfaat akan tersisih, dalam kaitan ini, termasuk proses pengembangan konsep 68. 68 yang berlangsung timbal balik. Selanjutnya dilakukan pembatasan konsep. Pilihan konsep yang dikembangkan itu, diperkirakan mempunyai arti sentral terhadap topik yang dikembangkan atau yang diteliti, sehingga pada akhirnya bisa dikembangkan tema-tema yang potensial untuk diformulasikan sebagai teori. Apabila tema inheren telah tampak nyata, dibuat memorandum teoritisnya, yang ditulis atau dinyatakan dengan arus bebas, yang segenap ide atau gagasan yang tercakup dalam temanya dikemukakan, termasuk juga hal-hal yang relevan yang terlintas dibenak peneliti. Berikutnya, memorandum teori tersebut dicek kembali sehingga setiap atau keseluruhan konten yang dinyatakannya dapat diangkat sebagai teori substantif (dengan atau tanpa direvisi) (ibid). Berdasarkan konsep teknik analisis taksonomi, maka pada penelitian ini hanya sampai pada penemuan/identifikasi konsep, belum sampai pada tataran pembentukan teori, karena berbagai keterbatasan dari penulis, menyangkut biaya untuk kegiatan penelitian dan waktu penelitian yang relatif singkat untuk mengungkap sebuah fenomena dalam kajian kualitatif. Teknik analisis data penelitian ini, penulis menggunakan pandangan fenomenologis, yaitu berusaha memahami arti suatu peristiwa dalam kaitanya dengan pengalaman subyektif dari seseorang dalam memaknai suatu persoalan. Analisis terhadap data penelitian ini mengacu pada metode Van Eckartsberg (dalam Moustakas, 1994:15) yang menggambarkan langkah-langkah dalam kajian fenomenologis sebagai berikut : 1. The problem and question formulation the phenomenon Dalam tahapan ini, penulis berusaha menggambarkan fokus penelitiannya dengan memformulasikan atau merumuskan pertanyaan dalam suatu cara tertentu yang 69. 69 dapat dimengerti oleh orang lain. Secara operasional, pertanyaan dalam penelitian ini adalah bagaimana subyek memberikan penjelasan pengalamannya tentang profesionalitas aparatur pemerintah. 2. The data generating situation the protocol life text Tahapan kedua yang harus dilakukan oleh penulis adalah membuat narasi yang bersifat deskriptif berdasarkan hasil dialognya dengan subyek yang dalam penelitian fenomenologis lazim dikenal dengan co researcher. Dalam konteks ini narasi yang dibuat bersumber dari hasil wawancara dengan subyek yang menceritakan tentang fenomena profesinalitas di lokasi penelitian. 3. The data analysis explication and interpretation Tahapan selanjutnya, setelah data terkumpul (berdasarkan dialog dengan subyek), maka yang dilakukan oleh penulis adalah membaca dan meneliti dengan cermat data tersebut guna mengungkapkan konfigurasi atau susunan makna yang mencakup baik struktur maupun bagaimana makna yang diciptakan. Mengarah pada konteks penelitian ini, adalah mengungkap profesinalitas aparatur pemerintah di lokasi penelitian. 70. 70 BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A. Gambaran Umum Desa Sederhana di Kec. Ponre Kab. Umum 1. Monografi Pemerintahan Desa yang keberadaannya adalah berhadapan langsung dengan masyarakat maka sejalan dengan Otonomi Daerah yang dimaksud untuk memberdayakan pemerintahan Desa harus dilaksanakan dan tidak dapat ditunda- tunda lagi. Adapun hakekat Otonomi Daerah adalah efisiensi dan efektivitas penyelenggaraan pemerintahan yang pada akhirnya bernuansa pada pemberian pelayanan kepada masyarakat dalam kegiatan pemerintahan dan pembangunan secara luas dalam konteks demokrasi. Untuk mengantisipasi aspirasi masyarakat yang terus berkembang serta menghadapi perkembangan yang terjadi baik dalam lingkungan nasional maupun internasional yang secara langsung akan berpengaruh terhadap roda atau pelaksanaan pemerintahan dan pembangunan di negara kita. Maka untuk menjawab dan menghadapi tantangan sekaligus peluang diperlukan adanya pemerintahan Daerah yang tangguh didukung oleh sistem dan mekanisme kerja yang profesional. Salah satu ciri yang baik adalah dapat memberikan kepuasan bagi yang memerlukan karena cepat, mudah dan tepat bilamana ada biaya maka harus ada kepastian yang dapat terjangkau. Disamping itu pelayanan harus relatif dekat dengan yang memerlukannya, posisi pemerintah yang paling dekat dengan masyarakat adalah pemerintahan Desa dan dari segi pengembangan peran serta masyarakat maka pemerintah Desa selaku pembina, pengayom dan pelayan kepada 70 71. 71 masyarakat sangat berperan dalam menunjang mudahnya masyarakat digerakkan untuk berpartisipasi. Desa yang merupakan organisasi terkecil dalam pemerintahan adalah kesatuan masyarakat umum yang memiliki kewenangan untuk mengatur dan mengurus kepentingan masyarakat setempat berdasarkan asal usul dan adat istiadat yang diakui dalam sistem pemerintahan nasional dan berada di daerah Kabupaten. Desa Sederhana Kecamatan Ponre yang menjadi lokasi penelitian, terletak di sebelah Selatan kota Watampone dan jaraknya + 27 Km dari pusat kota dengan batas sebelah Utara Desa Matampae, sebelah Timur Desa Ajang Pulu dan Kecamatan Cins, sebelah Selatan Desa Bolli, sebelah Barat Desa Poleonro Adapun luas Wilayah/ Daerah 26,80, Km2 dengan jumlah penduduk 2.342 jiwa yakni : a. Jumlah Penduduk Laki-laki 1.121 jiwa b. Jumlah Penduduk Perempuan 1.221 jiwa Jumlah Total 2.342 jiwa Mayoritas penduduknya beragama Islam dengan sumber penghasilan bertani, dan sebagian kecil bergerak di bidang perdagangan. Dalam hal pemerintahan di Desa Sederhana terdiri dari 9 Dusun dan 17 RT, pembagian tugas maupun kewajiban dari berbagai unsur pemerintahan sesuai dengan bidang tugasnya masing-masing dan tidak ada sistem merangkap. 2. Keadaan Demografis Keadaan penduduk dan distribusinya yang memiliki potensi dalam menggalakkan pembangunan khususnya pembangunan pedesaan. Karena itu salah satu modal besar dalam pembangunan di segala aspek adalah penduduk, sebab 72. 72 penduduk menempati kedudukan sentral baik obyek pembangunan maupun sebagai subyek pembangunan. Dari segi penduduk Desa Sederhana yang luasnya 26.80 Km2 didiami penduduk sejumlah 2.342 jiwa. Keseluruhan penduduk tersebar ke dalam 9 Dusun dengan jumlah Kepala Keluarga sebanyak 518 KK. Dengan menggalakkan pembangunan khususnya pembangunan ekonomi pedesaan yang berakar pada asas kerakyatan, masalah penduduk merupakan suatu masalah yang cukup ditanggulangi secara bersama. B. Struktur Organisasi Suatu pemerintahan pada umumnya organisasi dan manajemen yang baik merupakan aspek yang penting dan untuk mendapatkan serta menempatkan orang- orang yang tepat pada tempatnya merupakan kewenangan dan obyektivitas dalam suatu dasar. Susunan organisasi pemerintahan Desa Sederhana merupakan petunjuk yang akan diperhatikan dalam menjalankan organisasi, hal ini dimaksudkan supaya organisasi pemerintahan ini menjadi lebih efektif dan mencapai tujuan secara optimal. Pelaksanaan pekerjaan sudah barang tentu yang paling utama dalam fungsi manajemen, karena merupakan pengupayaan berbagai jenis tindakan itu sendiri agar semua anggota kelompok mulai dari tingkat teratas sampai ke bawah berusaha mencapai sasaran organisasi sesuai rencana yang telah ditetapkan semula dengan cara terbaik dan benar. Adapun struktur organisasi Desa Sederhana Kecamatan Khusus Kabupaten Umum adalah sebagai berikut: (1) Kepala Desa, (2) Sekretaris Desa, (3) BPD, (4) Kaur Pemerintahan, Kaur Pembangunan dan Kaur Umum (5) Kepala Dusun 73. 73 Selanjutnya susunan organisasi Tim Penggerak PKK Desa Sederhana adalah sebagai berikut: (1) Ketua, (2) Wakil Ketua, (3) Sekretaris, (4) Bendahara (5) Kelompok Kerja I, II, III dan IV Gambar 4.1 : Struktur Organisasi Gambar 4.2: Struktur Personalia Tim Penggerak PKK KEPALA DESABPD SEKRETARIS Kaur Pemerintahan Kaur Pembangunan Kaur Umum Dusun I Dusun II Dusun III Dusun V Dusun VI KETUA PARA WAKIL KETUA SEKRETARIS PARA WAKIL BENDAHARA BENDAHARA PARA WAKIL BENDAHARA POKJA I POKJA I POKJA I POKJA I Dusun IV Dusun VII Dusun VIII Dusun IX PENASEHATDEWAN PENYANTUN 74. 74 Deskriptif jabatan dan pekerjaan sangat diperlukan agar dapat mengidentifikasi pekerjaan-pekerjaan, karena terkadang suatu pekerjaan masyarakat kondisi pengalaman ataupun kemampuan tertentu bagi pelaksanaannya. Berikut ini akan diuraikan bentuk dan susunan pemerintahan Desa berdasarkan struktur organisasi sebagai berikut: a. Kepala Desa Kepala Desa dipilih secara langsung, umum, bebas dan rahasia oleh penduduk Desa warga negara Indonesia yang telah berumur sekurang-kurangnya 25 tahun, syarat lain mengenai pemilihan serta tata cara pencalonan dan pemilihan Kepala Desa diatur dalam Peraturan Daerah sesuai dengan pedoman yang ditetapkan oleh Menteri Dalam Negeri. Dalam melaksanakan tugas dan kewajibannya Kepala Desa wajib bersikap dan bertindak adil, tidak diskriminatif serta tidak mempersulit dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat. Namun yang lebih penting bahwa sebagai seorang pemimpin mendorong aparatur di bawahnya dalam bekerja untuk memperoleh hasil yang maksimal, merupakan penopang kekuatan mental yang amat penting bagi bawahannya. Seorang pemimpin hendaknya membina hubungan kerjasama yang harmonis, karena akan menimbulkan suatu kekuatan yang dapat mempengaruhi para bawahan pada tingkat manapun dan pada bagian manapun mereka berada. Dalam lingkungan angkatan bersenjata Republik Indonesia ditemukan 11 azas kepemimpinan yang digali dari peninggalan nilai-nilai kepemimpinan dibumi Indonesia yaitu : 1. Ing ngarso suntulodo artinya kalau pemimpin itu berada di depan ia memberikan tauladan. 75. 75 2. Ing madya mangun karso artinya bilamana pemimpin berada di tengah ia membangkitkan tekad dan semangat. 3. Tut wuri handayani artinya bilamana pemimpin itu berada di belakang ia berperan sebagai kekuatan, pendorong dan penggerak. 4. Takwa, seorang pemimpin harus merupakan seseorang yang percaya dan takwa kepada Tuhan Yang Maha Esa. 5. Waspodo purbo wiseso artinya seorang pemimpin harus senantiasa waspada, sanggup mengawasi dan berani memberi koreksi kepada yang melakukan kesalahan. 6. Ambek parama arta, seorang pemimpin harus mampu menentukan segala sesuatu dengan tepat dan memiliki amanat yang harus diselesaikan. 7. Prasojo, seorang pemimpin senantiasa menunjukkan tingkah laku yang bersahaja, sederhana dan tidak berlebihan. 8. Setio, seorang pemimpin selalu mempunyai sikap kesetiaan dan ketaatan yang timbal balik terhadap semua pihak dalam organisasi 9. Heminastiti, berarti hemat dan cermat, seorang pemimpin harus mempunyai kesadaran dan kemampuan yang tinggi untuk membatasi penggunaan segala sesuatu yang benar-benar diperlukan. 10. Beloko berarti jujur yakni kesediaan, kerelaan dan keberanian untuk mempertanggung jawabkan segala tindakan-tindakannya. 11. Legowo, seorang pemimpin harus ikhlas yakni kesediaan, kerelaan dan keikhlasan untuk pada saatnya menyerahkan tanggung jawab dan kedudukannya kepada generasi berikutnya. 76. 76 Kepala Desa sebagai seorang pemimpin dalam satuan pemerintahan akan berhasil memimpin suatu organisasi yang memiliki syarat-syarat yakni mempunyai kecerdasan yang cukup tinggi untuk dapat memikirkan dan merencanakan cara-cara pemecahan setiap persoalan dengan cara yang tepat, serta mengandung kelengkapan dan syarat-syarat yang memungkinkan untuk dilaksanakan. Mempunyai emosi stabil, tidak mungkin terombang ambingkan oleh suasana yang senantiasa berganti-ganti yang dapat memisahkan antara soal pribadi, soal rumah tangga dan soal organisasi. Mempunyai kepandaian dalam menghadapi manusia membuat bawahan menjadi betah, senang dan puas dalam pekerjaan. Mempunyai keahlian untuk mengorganisir dan menggerakkan serta mengetahui dengan tepat kapan dan kepada siapa tanggung jawab dan wewenang akan didelegasikan. b. Sekretaris Desa dan Kepala Urusan Adalah unsur staf yang membantu Kepala Desa dalam menjalankan hak, wewenang dan kewajiban pimpinan pemerintahan Desa. Sekretariat yang terdiri dari Sekretaris dan Kepala Urusan atau Kaur diangkat dan diberhentikan oleh Bupati setelah mendengar pertimbangan Camat atas usul Kepala Desa sesudah mendengar pertimbangan BPD. Kepala Urusan berkedudukan sebagai unsur pembantu Sekretaris Desa dalam bidangnya. Adapun fungsi dan peranan Kepala Urusan sebagai berikut: 1. Melaksanakan kegiatan urusan pembangunan, pemerintahan, kesejahteraan, keuangan dan urusan umum sesuai bidang tugasnya masing-masing 2. Melaksanakan pelayanan administrasi Kepala Desa 77. 77 c. Kepala Dusun Untuk memperlancar jalannya pemerintahan Desa, dalam Desa dibentuk Dusun yang dikepalai oleh Kepala Dusun. Pembentukan Dusun ditetapkan dengan memperhatikan faktor manusia, jumlah penduduk, faktor alam, faktor letak dan faktor sosial budaya termasuk adat istiadat. Ada faktor-faktor obyektif lainnya seperti penguasaan wilayah, keseimbangan antara organisasi dan luas wilayah serta pelayanannya. Kepala Dusun adalah unsur pelaksana dalam pemerintahan Desa dengan wilayah kerja tertentu. Kepala Dusun diangkat dan diberhentikan oleh Camat atas nama Bupati atas usul Kepala Desa. d. Badan Permusyawaratan Desa (BPD) BPD sebagai Badan Permusyawaratan merupakan paham untuk melaksanakan demokrasi berdasarkan Pancasila, mempunyai kedudukan sejajar dan menjadi mitra kerja Kepala Desa baik dalam menyelenggarakan roda pemerintahan maupun pembangunan Desa. Anggota BPD dipilih dari calon-calon yang diajukan oleh kalangan Adat, Agama, organisasi sosial politik, golongan profesi dan unsur pemuka masyarakat yang mempunyai persyaratan. BPD mempunyai fungsi sebagai berikut: 1. Mengayomi yaitu menjaga kelestarian adat istiadat yang hidup dan berkembang di Desa yang bersangkutan sepanjang menunjang kelangsungan pembangunan. 2. Legislasi yaitu merumuskan dan menetapkan peraturan Desa bersama-sama pemerintahan Desa. 3. Pengawasan yaitu meliputi pengawasan terhadap pelaksanaan peraturan Desa, Anggaran Pendapatan dan Belanja Desa serta keputusan Kepala Desa. 78. 78 4. Menampung aspirasi masyarakat yaitu menangani aspirasi dan menyalurkan aspirasi yang diterima dari masyarakat kepada pejabat atau instansi yang berwenang. Adapun jumlah anggota BPD ditentukan berdasarkan jumlah penduduk Desa yang bersangkutan dengan ketentuan : 1. Jumlah penduduk sampai dengan 1.500 jiwa, 5 orang 2. 1.501 sampai dengan 2.000 jiwa, 7 orang 3. 2.001 sampai dengan 2.500 jiwa, 9 orang 4. 2.501 sampai dengan 3.000 jiwa, 11 orang 5. Lebih dari 3.000 jiwa, 13 orang e. Lembaga Pemberdayaan Masyarakat Desa (LPMD) Adalah lembaga masyarakat di Desa yang tumbuh untuk masyarakat dan merupakan wahana partisipasi masyarakat dalam pembangunan yang mendukung pelaksanaan berbagai kegiatan pemerintah serta swadaya gotong royong dalam segala aspek kehidupan dan penghidupan dalam rangka mewujudkan ketahanan nasional yang meliputi aspek-aspek ideologi, politik, ekonomi, sosial budaya, agama dan pertahanan keamanan. LPMD bertujuan membantu pemerintah Desa atau Kelurahan dalam meningkatkan pelayanan pemerintah dan pemerataan hasil pembangunan dengan menumbuhkan prakarsa serta menggerakkan swadaya gotong royong masyarakat dalam pembangunan, sehingga masyarakat memiliki keuletan dan ketangguhan yang mengandung kemampuan, mengembangkan ketahanan didalam menghadapi dan mengatasi tantangan dan hambatan dalam rangka pembinaan wilayah serta 79. 79 merupakan lembaga masyarakat yang bersifat lokal dan suara organisasi berdiri sendiri serta merupakan wadah partisipasi masyarakat dalam pembangunan. Tugas pokok LPMD dalam membantu Kepala Desa adalah merencanakan pembangunan yang didasarkan atas musyawarah menggerakkan dan meningkatkan prakarsa dan partisipasi masyarakat secara aktif dan pasif untuk melaksanakan pembangunan secara terpadu, baik yang berasal dari berbagai kegiatan pemerintah maupun swadaya gotong royong. Menumbuhkan kondisi dinamis masyarakat untuk mengembangkan ketahanan di Desa. f. Rukun Tetangga dan Rukun Warga Adalah organisasi masyarakat yang diakui dan dibina oleh pemerintah untuk memelihara dan melestarikan nilai-nilai kehidupan masyarakat Indonesia berdasarkan kekeluargaan serta untuk membantu meningkatkan kelancaran pelaksanaan tugas pemerintahan, pembangunan dan kemasyarakatan di Desa. Rukun Tetangga dan Rukun Warga dibentuk dengan maksud dan tujuan : 1. Memelihara dan melestarikan nilai-nilai kehidupan masyarakat yang berdasarkan kegotong royongan dan kekeluargaan. 2. Meningkatkan kelancaran pelaksanaan tugas pemerintahan, pembangunan dan kemasyarakatan. 3. Menghimpun seluruh potensi swadaya masyarakat dalam usaha meningkatkan kesejahteraan rakyat. g. Pemberdayaan dan Kesejahteraan Keluarga (PKK) Dalam rangka meningkatkan peranan wanita dalam pembangunan terutama kegiatan yang ditujukan bagi terciptanya keluarga sejahtera melalui jalur dan gerakan 80. 80 Pemberdayaan dan kesejahteraan keluarga. Adapun 10 (sepuluh) Program PKK meliputi penghayatan dan pengamalan Pancasila, gotong royong, sandang, pangan dan perumahan, tata laksana rumah tangga, pendidikan dan keterampilan, kesehatan, mengembangkan kehidupan berkoperasi, kelestarian lingkungan hidup, perencanaan sehat. Kesepuluh Program PKK tersebut satu dengan yang lain tidak memiliki bobot, prioritas yang lebih. Pemilihan akan program yang menjadi prioritas dilaksanakan terlebih dahulu berdasarkan dan disesuaikan dengan kebutuhan dan kesanggupan. Tiap-tiap Desa yang bersangkutan walaupun Program pokok PKK ini diharapkan dapat dilaksanakan secara keseluruhan. Oleh karena program ini merupakan program inti untuk mencapai kesejahteraan keluarga. Di tingkat Desa, pembina PKK adalah Kepala Desa yang menentukan kebijaksanaan pelaksanaan dalam bimbingan sesuai petunjuk dan ketentuan yang telah digariskan. C. Peranan Pemerintah Desa Sederhana dalam memberdayakan masyarakat di era otonomi daerah Pelaksanaan mengenai tugas dan fungsi seorang Kepala Desa dalam pemerintahan merupakan salah satu bentuk kegiatan aparat pemerintah dalam upaya meningkatkan kesejahteraan masyarakat, sebagaimana tujuan dari penelitian ini adalah untuk memberikan deskripsi mengenai pelaksanaan fungsi tersebut. Untuk itu dalam melaksanakan tugasnya aparat Desa mempunyai fungsi : 1. Kegiatan dalam rumah tangganya sendiri 2. Menggerakkan partisipasi masyarakat 3. Melaksanakan tugas dari pemerintah di atasnya 81. 81 4. Keamanan dan ketertiban masyarakat 5. Melaksanakan tugas-tugas lain yang diberikan oleh pemerintah di atasnya Untuk menyelenggarakan fungsi tersebut di atas maka seorang Kepala Desa harus mengusahakan : a. Terpenuhinya kebutuhan esensial masyarakat b. Tersusunnya rencana dan pelaksanaan pembangunan sesuai dengan kemampuan setempat c. Terselenggaranya peningkatan koordinasi, sinkronisasi dan integrasi secara lintas sektoral. d. Terselenggaranya program yang berkelanjutan e. Adanya peningkatan perluasan kesempatan kerja Selain fungsi Kepala Desa yang telah dijelaskan di atas, Kepala Desa masih mempunyai peranan yang lebih penting terhadap kemajuan dan perkembangan wilayahnya yaitu melaksanakan pembinaan terhadap masyarakat Desa dalam meningkatkan peran serta mereka terhadap pengembangan pembangunan. Berdasarkan hasil penelitian maka dapat dideskripsikan tentang peranan pemerintah desa dalam memberdayakan masyarakat di Desa Sederhana yang Secara garis besar mencakup berbagai bidang yang dapat dijabarkan sebagai berikut: 1. Pembinaan Terhadap Masyarakat 1.1. Pembinaan masyarakat dalam bidang ekonomi. Usaha untuk menggalakkan pembangunan desa yang dimaksudkan untuk memperbaiki dan meningkatkan taraf hidup serta kondisi sosial masyarakat desa yang merupakan bagian terbesar dari masyarakat Indonesia, melibatkan tiga pihak, 82. 82 yaitu pemerintah, swasta dan warga desa. Dalam prakteknya, peran dan prakarsa pemerintah masih dominan dalam perencanaan dan pelaksanaan maupun untuk meningkatkan kesadaran dan kemampuan teknis warga desa dalam pembangunan desa. Berbagai teori mengatakan, bahwa kesadaran dan partisipasi warga desa menjadi kunci keberhasilan pembangunan desa. Sedangkan untuk menumbuhkan kesadaran warga desa akan pentingnya usaha-usaha pembangunan sebagai sarana untuk memperbaiki kondisi sosial dan dalam meningkatkan partisipasi warga desa dalam pembangunan banyak tergantung pada kemampuan pemimpin desa khususnya pimpinan atau Kepala Desa. Berdasarkan wawancara yang penulis lakukan dengan salah satu tokoh masyarakat di Desa Sederhana Abdul Hamid beliau menyatakan: Masyarakat di desa ini sangat antusias menyambut setiap ada kegiatan yang dapat memberdayakan potensi yang ada di daerah kami. Persoalan hanya terletak kepada bagaimana upaya yang dilakukan oleh kepala desa untuk merangkul tokoh-tokoh masyarakat dalam menggerakkan mereka karena maju tidaknya pembangunan di desa kami sangat bergantung kepada kepemimpinan pemerintah desa atau kepala desa (19 Maret 2012) Pemberdayaan masyarakat dalam bidang ekonomi memiliki makna meningkatkan kualitas kehidupan sosial ekonomi masyarakat yang tercermin peningkatan pendapatn dan kesejahteraan masyarakat termasuk masyarakat miskin. Adapun bentuk program pemberdayaan yang dilakukan oleh pemerintah desa meliputi pemberian raskin, pemberian beasiswa bagi siswa miskin. Selain itu bentuk lain pada Pembinaan di bidang ini adalah pembinaan di bidang kewiraswastaan. Pembinaan ini dimaksudkan untuk mengembangkan kewiraswastaan pengusaha muda, terutama di kalangan pedagang kecil. Contoh para pengusaha untuk meningkatkan usahanya diberi pinjaman modal dengan bunga rendah dan bergulir untuk 83. 83 dipinjamkan selanjutnya ke kelompok lain. Kegiatan pembinaan ini disebut dengan usaha peningkatan pendapatan masyarakat desa (UDSP). Sebagian besar kegiatan ini telah memperbaiki taraf hidup masyarakat. Adanya kegiatan yang dilakukan oleh PNPM mandiri dengan membuat program simpan pinjam perempuan maka tingkat kualitas hidup masyarakat menjadi lebih baik. Selain itu pembinaan di bidang perkoperasian sudah mulai dilakukan oleh aparat desa dengan mengajak masyarakat untuk menyimpan dan menyalurkan dana bagi masyarakat lain yang membutuhkan. 1.2. Pembinaan masyarakat desa pada bidang hukum. Pembinaan di bidang hukum dilakukan oleh pemerintah desa dengan bekerjasama dengan dinas terkait dan pihak kepolisian yang dimaksudkan agar pemuda dapat memberikan bimbingan kemasyarakatan dan pengentasan anak di lembaga-lembaga pemasyarakatan anak negara. Contoh pemuda berkumpul untuk mendiskusikan bahaya akibat narkotika, diberi penyuluhan akibat adanya perkelahian pelajar. 1.3. Pembinaan masyarakat pada bidang agama Pembinaan ini untuk meningkatkan kehidupan beragama dikalangan pemuda. Contohnya mengadakan pengajian setiap minggu serta kerja bakti untuk membangun tempat ibadah. 2. Pembinaan masyarakat pada bidang Kesehatan Pembinaan ini ditujukan untuk pembentukan generasi muda yang sehat, baik fisik maupun mental serta mampu berperan dalam upaya meningkatkan kesehatan masyarakat dan lingkungannya. Dalam rangka pembinaan, pemerintah memfasilitasi 84. 84 penyelenggaraan pemerintah daerah. Yang dimaksud dengan memfasilitasi adalah upaya memberdayakan daerah otonomi melalui pemberian pedoman, bimbingan, pelatihan, arahan dan supervisi. Pemerintah Desa Sederhana Kecamatan Khusus Kabupaten Umum dalam melaksanakan pembinaan terhadap masyarakat dengan cara mengumpulkan masyarakat untuk memberikan pengertian tentang apa-apa yang perlu dilaksanakan suatu kegiatan dan bagaimana pelaksanaannya nanti di lapangan. Apabila masyarakat telah memahami dan mengerti tentang hal tersebut maka pemerintah desa tinggal mengarahkan dan memberikan bimbingan bagaimana system pengelolaan suatu program baik program pemberdayaan masyarkat di bidang pendidikan, kesehatan, sosial budaya dan ekonomi maupun program pemberdayaan masyarakat di bidang pertanian dan perkebunan. Pembinaan yang paling giat dilakukan oleh Pemerintah Desa Sederhana adalah pembinaan dalam kegiatan keagamaan, sosial budaya dan pembinaan kepada ibu-ibu pkk. Fasilitasi kegiatan ditindaklanjuti dengan pemberian bantuan alat-alat seni dan ceramah agama yang biasanya didatangkan dari luar desa, sebagaimana yang disampaikan oleh H.Tansi, seorang tokoh agama di Desa Sederhana. Kegiatan yang telah disusun oleh pemerintah desa untuk melakukan kegiatan pembersihan secara bergotong-royong di tempat ibadah setiap dua minggu sekali merupakan bentuk kepedulian yang ditanamkan untuk memupuk semangat tali silaturrahim dengan sesama warga, dan pengajian yang rutin diadakan setiap minggu yang disertai dengan ceramah agama biasanya banyak dihadiri oleh anak-anak muda. Mungkin tujuan dari pemerintah desa adalah menanamkan pemahaman agama sejak dini kepada generasi muda (27 Maret 2012). Selain itu pula bentuk nyata peranan aparatur pemerintah desa Sederhana adalah memberikan pembinaan dalam bidang kesehatan. 85. 85 Begitupun perhatian pemerintah desa di bidang kesehatan terbukti di setiap dusun yang ada di desa ini di adakan posyandu yang mana di tempat ini disetiap bulan di adakan penimbangan balita dan penyuluhan kepada ibu baik ibu-ibu menyusui, nifas, dan juga tempat pemberian makanan tambahan bagi anak-anak usia dini dan pemberian vitamin, imunisasi baik imunisasi campak, bcg, dpt, oleh tenaga kesehatan yang bekerjasama dengan kader posyandu yang dipandu oleh tim penggerak PKK Desa (POKJA IV) dan juga di Desa Sederhana ini telah dibangun PUSKESDES (Pusat Kesehatan Masyarakat Desa) tempat ini digunakan untuk pelayanan kesehatan masyarakat desa secara gratis bagi yang memiliki kartu keluarga dan KTP. Apabila tidak menunjukkan kedua identitas tersebut maka pasien akan dikenakan biaya adminisrasi sebanyak Rp.5.000,- ini membuktikan bahwa kerjasama antara pemerintah desa dengan pihak kesehatan sangat erat demi terlaksananya tertib administrasi di bidang pemerintahan desa. Sejalan dengan kondisi tersebut, berdasarkan hasil wawancara dengan Marlina Syam sebagai pengurus PKK, beliau mengatakan: Pemberian sanksi administrasi bagi warga yang tidak memiliki KTP dan KK ketika ingin mendapatkan pengobatan gratis berupa biaya sebesar Rp.5.000 bukanlah bermaksud untuk memberatkan warga desa melainkan mengajak masyarakat untuk tertib administrasi. Itupun tidak semua warga dikenakan biaya jika tidak memiliki KTP dan KK, karena warga yang mendapat kartu JAMKESMAS dan JAMKESDA tetap mendapatkan pelayanan kesehatan secara maksimal dan dibebaskan dari segala biaya serta dana yang terkumpul dari denda administrasi diserahkan kembali ke petugas kesehatan untuk di manfaatkan sesuai dengan peraturan yang berlaku. (26 Maret 2012). Begitupula di Desa Sederhana ini telah dibangun kerjasama antara bidan dan dukun dimana setiap ibu hamil yang akan melahirkan telah diberi pengertian dan pembinaan agar bila nanti melahirkan ibu hamil tersebut melaporkan kepada dukunnya dan dukun tersebut menyampaikan kepada bidan desa karena yang akan 86. 86 melayani persalinan adalah tenaga medis dan yang melaksanakan adat atau kebiasaan masyarakat adalah dukun. Jadi proses melahirkan ditangani oleh bidan dan prosesi jampi-jampi dilakukan oleh dukun tersebut. Ini juga membuktikan bahwa pemerintah desa sangat peduli bagaimana pentingnya kebersamaan dalam melaksanakan segala kegiatan terutama dalam hal peningkatan kesehatan masyarakat dan di desa ini juga di adakan penyuluhan PHBS (perilaku hidup bersih dan sehat) yang dilaksanakan oleh tim penggerak PPK Desa (POKJA IV) bekerjasama dengan bagian Sanitarian Dinas Kesehatan Kabupaten Umum, dimana dalam pembinaan ini masyarakat diajak untuk membuat jambang agar BAB pada tempatnya dan cuci tangan sebelum makan, makanan harus ditutup, bak mandi harus dibersihkan dan masalah kesehatan yang lain yang dapat merusak kesehatan masyarakat. 2. Pelayanan terhadap masyarakat Pemberian pelayanan yang baik kepada masyarakat diharapkan menjadi lebih responsif terhadap kepentingan masyarakat itu sendiri, di mana paradigma pelayanan masyarakat yang telah berjalan selama ini beralih dari pelayanan yang sifatnya sentralistik ke pelayanan yang lebih memberikan fokus pada pengelolaan yang berorientasi kepuasan masyarakat sebagai berikut : a. Lebih memfokuskan diri pada fungsi pengaturan melalui kebijakan yang memfasilitasi berkembangnya kondisi kondusif bagi pelayanan masyarakat. b. Lebih memfokuskan diri pada pemberdayaan aparat desa dan masyarakat sehingga masyarakat juga mempunyai rasa memiliki yang tinggi terhadap fasilitas-fasilitas pelayanan yang telah dibangun bersama. 87. 87 c. Menerapkan sistem kompetisi dalam hal penyediaan pelayanan tertentu sehingga masyarakat memperoleh pelayanan yang berkualitas. d. Terfokus pada pencapaian visi, misi, tujuan dan sasaran yang berorientasi pada hasil, sesuai dengan masukan atau aspirasi yang diharapkan masyarakat. e. Lebih mengutamakan pelayanan apa yang diinginkan oleh masyarakat. f. Memberi akses kepada masyarakat dan responsif terhadap pendapat dari masyarakat tentang pelayanan yang diterimanya. Namun dilain pihak, pelayanan yang diberikan oleh aparatur pemerintahan kepada masyarakat diharapkan juga memiliki : a. Memiliki dasar hukum yang jelas dalam penyelenggaraannya. b. Memiliki perencanaan dalam pengambilan keputusan. c. Memiliki tujuan sosial dalam kehidupan bermasyarakat. d. Dituntut untuk akuntabel dan transparan kepada masyarakat. e. Memiliki standarisasi pelayanan yang baik pada masyarakat. Semenjak gerakan reformasi digulirkan dalam rangka merubah struktur kekuasaan menuju demokrasi dan desentralisasi, maka kebutuhan masyarakat terhadap suatu pelayanan prima dari pemerintah, dalam hal ini pemerintah desa menjadi sangat penting. Diawali dengan Undang-Undang No 22 Tahun 1999 dan selanjutnya dilakukan revisi menjadi Undang-Undang No 32 Tahun 2004 , yang telah dijadikan landasan yuridis untuk menggeser fokus politik ketatanegaraan, diawali desentralisasi kekuasaan dari pemerintah pusat kepada daerah. Dan sekarang menjadi Peraturan Pemerintah Republik Indonesia No 73 tentang Pemerintahan Kelurahan dan Peraturan Pemerintah Republik Indonesia No 72 tentang Pemerintahan Desa. 88. 88 Inti dari Undang-Undang dan Peraturan Pemerintah tersebut adalah penyelenggaraan pemerintahan lokal yang menekankan pada prinsip demokrasi dan peran serta masyarakat, pemerataan dan keadilan serta memperhatikan potensi dan keanekaragaman budaya yang dimiliki oleh daerah. Perencanaan pembangunan didaerah pedesaan tidak dapat dipisahkan dari penyelenggaraan pemerintah kelurahan yang merupakan unit terdepan dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat dan menjadi tonggak strategis dalam pembangunan desa. Secara umum kita telah mengetahui masalah yang dihadapi dikelurahan, baik yang bersumber secara internal maupun yang eksternal, seperti semakin pesatnya kegiatan pembangunan yang hasil-hasilnya telah kita rasakan saat ini. Namun demikian masih dapat ditemukan pula dampak yang dapat menimbulkan masalah yang baru. Untuk mengatasi masalah tersebut, maka diperlukan kemampuan dibidang perencanaan pembangunan dan pemberian pelayanan yang baik dan berkualitas oleh para aparatur kelurahan kepada masyarakat sehingga permasalahan yang kompleks dan rumit dapat diatasi. Selain itu pelayanan yang diberikan oleh pemerintah selama ini masih memiliki beberapa kelemahan : a. Kurang responsif. Kondisi ini terjadi pada hampir semua tingkatan unsur pelayanan, mulai pada tingkatan petugas pelayanan sampai dengan tingkatan penanggungjawab instansi. Respon terhadap berbagai keluhan, aspirasi, maupun harapan masyarakat seringkali lambat atau bahkan diabaikan sama sekali. b. Kurang informatif. Berbagai informasi yang seharusnya disampaikan kepada masyarakat, lambat atau bahkan tidak sampai kepada masyarakat. 89. 89 c. Kurang accessible. Berbagai unit pelaksana pelayanan terletak jauh dari jangkauan masyarakat, sehingga menyulitkan bagi mereka yang memerlukan pelayanan tersebut. d. Kurang koordinasi. Berbagai unit pelayanan yang terkait satu dengan lainnya kurang berkoordinasi. Akibatnya, terjadi tumpang tindih kebijakan antara satu instansi pelayanan dengan instansi pelayanan lain yang terkait. e. Birokratis. Pelayanan (khususnya pelayanan perijinan) pada umumnya dilakukan dengan melalui proses yang terdiri dari berbagai level, sehingga menyebabkan penyelesaian pelayanan yang terlalu lama. f. Kurang mau mendengar keluhan/saran/aspirasi masyarakat. Pada umumnya aparat pelayanan kurang memiliki kemauan untuk mendengar keluhan/saran/aspirasi dari masyarakat. Akibatnya, pelayanan dilaksanakan dengan apa adanya, tanpa ada perbaikan dari waktu ke waktu. g. Inefisien. Berbagai persyaratan yang diperlukan (khususnya dalam pelayanan perijinan) seringkali tidak relevan dengan pelayanan yang diberikan Sehubungan dengan itu, maka desa dan perangkatnya serta pimpinan lembaga yang ada dikelurahan harus mampu menyusun rancangan pembangunan daerahnya yang sesuai dengan apa yang diharapkan dan yang menjadi kebutuhan bagi masyarakat. Adapun bentuk pelayanan pemerintah desa kepada masyarakat di Desa Sederhana Kecamatan Khusus Kabupaten Umum yaitu apabila masyarakat yang bersangkutan membutuhkan pelayanan misalnya perbaikan di bidang pertanian maka aparat pemerintah Desa berupaya semaksimal mungkin untuk memberikan pelayanan terbaik kepada warganya. Kondisi diatas sesuai dengan hasil wawancara yang penulis lakukan dengan ketua kelompok tani Muhammad Arfah dimana penulis 90. 90 menanyakan tentang betuk pelayanan pemerintah desa dalam bidang pertanian. Berikut ini adalah pernyataan yang diberikan oleh Muhammad Arfah: Hasil panen gagal tidak bisa sepenuhnya disebabkan karena kesalahan petani, tetapi pemerintah desa harus juga bertanggung jawab terhadap kegagalan panenkarena kurangnya perhatian untuk memberikan jalan keluar bagaimana mengatasi panen yang gagal, karena itu dengan adanya upaya pemerintah desa untuk menghubungi dinas pertanian agar rutin memberikan penyuluhan dan informasi tentang tata cara bertani yang benar dan sebagainya dianggap sangat bermanfaat bagi kelangsungan hidup kami. (20 Maret 2012). Berkaitan dengan efektivitas dan efisiensi pelayanan terhadap masyarakat di Desa dapat dilihat pada pelayanan yang diberikan oleh aparat pemerintah Desa kepada masyarakat yang berkepentingan. Sehubungan dengan pelayanan ini ada beberapa indikator yang dijadikan sebagai ukuran untuk melihat efektivitasnya yaitu kesadaran dan kebijaksanaan oleh Kepala Desa serta aparat pemerintah Desa yang lain terhadap pelayanan masyarakat setempat. Sebagaimana halnya dengan pelayanan birokrasi pemerintah pada umumnya, setiap pelayanan harus melalui prosedur dan mekanismenya. Prosedur pelayanan masyarakat tersebut sangat terkait dengan fungsi Pemerintah Desa dalam mengembangkan organisasi pemerintahannya baik itu terhadap kegiatan administrasinya maupun dalam bidang pembangunan atau pelaksanaan pengawasan serta pembinaan terhadap masyarakat Desa. Salah satu upaya maksimal yang telah dilakukan oleh pemerintah desa Sederhana adalah membuat kotak saran dalam rangka menampung berbagai aspirasi yang diletakkan di depan pintu kantor desa. Berdasarkan hasil wawancara dengan Kepala Desa Sederhana Herkiswanto menyatakan: sebagai bentuk kepedulian kami akan berbagai permasalahan yang terjadi pada warga, kami menyediakan kotak saran untuk menampung berbagai keluhan dan aspirasi masyarakat yang mungkin malu atau enggan menyampaikan secara langsung berbagai kendala yang dihadapi. Meskipun demikian dalam berbagai kesempatan ketika ada rembug desa, saya selaku yang dipercayakan memimpin mereka menyampaikan bahwa semua saran dan aspirasi jika bernilai positif akan ditampung dan ditindaklanjuti sesuai dengan skala prioritas dan kemampuan anggaran yang tersedia. (20 Maret 2012). 91. 91 Sekalipun demikian upaya pelayanan yang diberikan oleh pemerintah desa berdasarkan hasil wawancara dengan beberapa masyarakat khususnya dari kelompok karang taruna menyatakan bahwa kadang-kadang yang cukup menyulitkan dalam pemberian pelayanan adalah prilaku aparat yang seringkali memilah milah bahkan tidak memberikan toleransi terhadap persoalan masyarakat yang dihadapi. Bahkan terkadang proyek yang seharusnya dikerjakan oleh LKD malah diserahkan kepada orang lain yang memiliki kedekatan dengan kepala desa. Kondisi seperti ini sangat mengkhawatirkan karena dianggap bisa memberikan kesenjangan antara warga yang satu dengan warga yang lain. Meskipun demikian berdasarkan hasil wawancara dengan ketua karang taruna Desa Sederhana Kecamatan Khusus, Asnawi bahwa mereka bisa memahami bentuk perlakuan dalam pemberian pelayanan karena tidak semuanya langsung bisa dipenuhi, dalam arti mereka tetap bisa mentolerir dan memahami kebijakan-kebijakan yang dilakukan oleh pemerintah desa. Berikut ini adalah petikan hasil wawancara dengan Asnawi sebagai berikut: Sebagai ketua karang taruna di Desa Sederhana, kami menganggap pelayanan pemerintah desa belumlah maksimal meskipun sebahagian besar masyarakat menganggap pemerintah desa telah berbuat yang terbaik untuk warganya. Pemerintah Desa terkadang masih diatur oleh pemerintah diatasnya untuk melakukan berbagai perbaikan pembangunan untuk kesejahteraan rakyat, padahal kami menginginkan perbaikan sarana dan prasarana khususnya untuk kepentingan para pemuda yang didahulukan,tapi kami menyadari dan paham akan kebijakan yang dilakukan oleh pemerintah desa...(21 Maret 2012) Sejalan dengan pandangan ketua karang taruna, Kaur Pemerintahan Desa Sederhana Kecamatan Khusus Kabupaten Umum, Sommeng yang diwawancarai memberikan alasan bahwa semua permintaan dan masukan dari warga masyarakat 92. 92 berusaha untuk dipenuhi namun semuanya harus berjalan sesuai proses yang telah ditetapkan. Sebenarnya tidak ada istilah memilah-milah bentuk pelayanan yang diberikan kepada masyarakat, apalagi tidak ditanggapi namun realisasi yang diharapkan dari pemerintah diatas kami belum menyetujui, jadi semuanya harus menunggu sesuai dengan prosedur yang berlaku. Kalaupun ada perlakuan dari aparatur desa yang dianggap diskriminatif atau membeda-bedakan pelayanan itu disebabkan karena terbatasnya staf Pemerintah Desa, sehingga kadang kurang memperhatikan masyarakat yang datang yang meminta pelayanan( 25 Maret 2012) Berdasarkan hasil wawancara yang penulis lakukan dengan beberapa elemen penting pada warga masyarakat Desa Sederhana Kecamatan Khusus Kabupaten Umum, maka terdapat beberapa hal dapat dianalisis oleh penulis sebagai berikut: 3. Pengembangan terhadap masyarakat Efektifnya masyarakat dalam suatu program atau suatu kebijakan seperti halnya kebijakan tentang pelaksanaan dalam upaya meningkatkan pembangunan Desa tidak terlepas dari dukungan atau partisipasi masyarakat untuk mentaati atau melaksanakan peraturan yang ada. Peraturan dalam hal ini pada dasarnya bertujuan bagi 2 (dua) aspek yakni bagi pemerintah Desa dan bagi masyarakat itu sendiri. Bagi pemerintah fungsi atau peranan dimaksud untuk melakukan penataan sehingga tercipta tata ruang yang berdaya guna sehingga pemanfaatan ruang dapat dioptimalkan sesuai dengan peruntukannya dan juga menciptakan efektif bangunan sehingga tampak keindahan Desa yang aman dan tertib.Selain dari aspek tersebut juga dimaksudkan sebagai sumber pendapatan Desa untuk pembiayaan penyelenggaraan pemerintahan dan pembangunan dalam hal ini pengembangan organisasi yang lebih baik. 93. 93 Pembangunan desa hendaknya mempunyai sasaran yang tepat, sehingga sumber daya yang terbatas dapat dimanfaatkan secara efektif dan efisien. Beberapa sasaran yang dapat dikembangkan atau dicapai dalam suatu pembangunan desa adalah sebagai berikut: 1. Pengembangan Ekonomi Kerakyatan. Pembangunan ekonomi kerakyatan pada intinya adalah mengelola seluruh potensi ekonomi yang menguasi hajat hidup orang banyak dengan menerapkan prinsip atau asas ekonomi kerakyatan. Program-program pembangunan ekonomi kerakyatan yang dapat dikembangkan di desa adalah: (1) Program pengembangan Pemberdayaan Usaha Kecil Perdesaan dengan kegiatan berupa penyediaan kredit tanpa bunga.(2) Pengembangan Pembangunan pertanian dalam arti luas dalam rangka meningkatkan ketersediaan pangan dan meningkatkan pendapatan petani, nelayan dan peternak. (3) Pengembangan dan pemberdayaan koperasi serta pengusaha mikro kecildan menengah melalui pembinaan pengusaha kecil,(4) pengembangan industri kecil dan pembangunan prasarana dan sarana ekonomi desa (5) Pengembangan potensi dan pemanfaatan teknologi tepat guna dalam rangka menunjang industri kecil perdesaan 2. Pengembangan Sumberdaya Manusia yang handal. Sumber Daya Manusia memegang peranan penting dalam proses pembangunan desa. Semakin tinggi kualitas Sumber Daya Manusia (SDM) maka semakin mendorong kemajuan suatu desa. Program-program yang dapat dikembangkan diantaranya: a. Program pengembangan pendidikan b. Program peningkatan pelayanan kesehatan 94. 94 c. Pembinaan generasi muda, seni budaya, pemuda dan olah raga d. Program perluasan lapangan kerja dan kesempatan kerja. e. Pembinaan kehidupan beragama f. Peningkatan kualitas dan kuantitas pelayanan masyarakat. 3. Pengembangan sumber daya alam dan melestarikan lingkungan hidup agar dapat didaya gunakan secara berkelanjutan. Adapun bentuk program peningkatan peran serta masyarakat dalam pengembangan pengelolaan SDA dan pelestarian lingkungan malalui: 1) Pelaksanaan program peningkatan pendapatan masyarakat berpenghasilan rendah didaerah kritis. 2) Fasilitasi pelaksaan program pemberdayaan masyarakat dalam pelestarian lingkungan. 3) Fasilitasi pelaksanaan program rehabilitasi pada lahan berbasis masyarakat Dengan mengacu kepada uraian yang berkaitan dengan pengembangan pemberdayaan masyarakat yang dilakukan pemerintah Desa Sederhana terutama yang berkaitan dalam bidang pengembangan terhadap masyarakat maka sasaran utama yang harus dikembangkan sesuai hasil rembug desa adalah pengembangan sumber daya manusia (SDM). Karena itu salah satu bidang yang menjadi perhatian aparatur pemerintah desa adalah peningkatan pendidikan baik itu pendidikan formal maupun pendidikan non formal, pemerintah desa telah menyiapkan berbagai sarana dan prasarana seperti pembangunan taman padi tungka sebanyak 2 unit dengan hasil swadaya masyarakat yang mana padi tungka ini diperuntukkan bagi anak-anak usia dini yaitu anak yang berumur 3 tahun dan berumur 5 tahun. 95. 95 Padi tungka bukan saja digunakan untuk anak-anak usia dini tetapi tempat ini digunakan sebagai tempat pembinaan orang tua balita yang disebut Bina Keluarga Balita (BKB) maksudnya bukan Cuma balitanya yang dibina tetapi orangtuanya pun diberi penyuluhan tentang bagaimana cara merawat anaknya dimulai dalam kandungan sampai melahirkan dan seterusnya. Adapun tenaga pengajar di taman padi tungka ini yaitu kader posyandu dan kader dasawisma yang telah dilatih baik ditingkat kabupaten maupun di tingkat provinsi yang bekerjasama dengan dinas pendidikan Kabupaten Umum dengan pihak UNICEF. Di Desa Sederhana ini dalam hal peningkatan pendidikan non formal di tahun 2012 terdapat 3 kelompok kejar paket A dan 1 kelompok paket B dan juga di Desa Sederhana terdapat 3 buah sekolah dasar, 2 SMP, 1 Madrasah Aliyah, dan pada tahun ini telah dibagun sekolah menengah atas yang membuktikan bahwa betapa besar peranan pemerintah desa dalam peningkatan pendidikan sehingga anak-anak yang tamat SMP tidak lagi menganggur atau drop out tetapi dapat melanjutkan pendidikannya ke SMA yang ada di desa ini. Tidak seperti tahun-tahun kemarin tamatan SMP yang ada di desa Sederhana berjumlah 42 orang yang lanjut cuma 15 orang ini disebabkan karena sekolah menengah atas jauh dari perkotaan. Salah satu usaha pemerintah desa dalam hal peningkatan mutu pendidikan pada setiap pertemuan selalu menghimbau kepada masyarakatnya agar mau menyekolahkan anaknya baik di TK, SD, SMP dan SMA agar tingkat pendidikan masyarakat di Desa Sederhana Kecamatan Khusus Kabupaten Umum ini dapat meningkat dibanding dengan tahun-tahun sebelumnya. Kondisi ini sangat sesuai 96. 96 dengan hasil wawancara yang dilakukan kepada dua (2) tokoh masyarakat yaitu Marlina Syam sebagai pengurus PKK dan Abdul Hamid sebagai tokoh masyarakat sekaligus pemerhati pendidikan. Sebagaimana yang disampaikan oleh Marlina Syam sebagai berikut: Kepedulian pemerintah desa dalam mengembangkan sumber daya manusia terutama dalam bidang pendidikan sangatlah besar terbukti dengan dibangunnya sarana belajar taman padi tungka yang peruntukannya bukan hanya untuk anak-anak tetapi juga untuk orang dewasa yang ingin menambah wawasannya. Kerjasama dengan dinas pendidikan dan bantuan Unicef sangat dirasakan manfaatnya oleh masyarakat setempat( 23 Maret 2012). Senada dengan apa yang disampaikan oleh Marlina Syam, Abdul Hamid sebagai tokoh pemerhati pendidikan sangat antusias dengan upaya aparatur pemerintah desa yang melakukan pendekatan dengan pihak dinas pendidikan untuk membangun sarana pendidikan bukan hanya sarana pendidikan formal tetapi juga non formal, sehingga jumlah anak yang menganggur karena tidak sekolah menjadi sangat kecil. Berikut ini adalah pernyataan yang disampaikan oleh Abdul Hamid ketika wawancara dilakukan yaitu: Pemerintah Desa Sederhana, sungguhlah sangat besar peranannya dalam mengembangkan berbagai kegiatan yang ada di desa kami, dan yang sangat kami kagumi adalah pembangunan sarana pendidikan yang sudah lama kami impikan khususnya pembangunan gedung sekolah setingkat SMA, sehingga mengurangi beban biaya dan resiko anak-anak kami yang bersekolah. Kami berharap semua bidang juga bisa dibangun terutama sarana dan prsarana olahraga(23 Maret 2012). Berdasarkan hasil wawancara yang penulis lakukan dengan beberapa elemen penting pada warga masyarakat Desa Sederhana Kecamatan Khusus Kabupaten Umum, maka terdapat beberapa hal dapat dianalisis oleh penulis sebagai berikut: 1) Aparat Pemerintah Desa telah berupaya maksimal untuk memberikan pelayanan terbaik kepada warga masyarakatnya di berbagai bidang sesuai kapasitas dan kapabilitas yang telah ditetapkan. 97. 97 2) Bentuk pelayanan yang diberikan oleh aparatur Pemerintah Desa meliputi perbaikan hidup masyarakat dalam meningkatkan penghasilan, menghubungi dan mendatangkan dinas pertanian dan dinas kesehatan sebagai bentuk kepedulian terhadap berbagai masalah yang dihadapi warga masyarakatnya. 3) Penyediaan kotak saran di samping pintu masuk kantor kepala desa adalah bentuk lain pelayanan aparatur pemerintah desa untuk mengetahui berbagai aspirasi dan saran dari warga masyarakat untuk memperbaiki kinerja mereka sekaligus memahami keinginan-keinginan warga masyarakat yang menginginkan perubahan. 4) Kurangnya jumlah aparatur pemerintah desa terkadang menjadi kendala utama dalam melaksanakan pekerjaan terutama yang sangat berkaitan dengan kepentingan warga masyarakat, misalnya ketika melakukan pendataan kepada masyarakat miskin atau ketika masyarakat berdesakan meminta jatah raskin. 5) Perbedaan pandangan yang muncul antara tokoh masyarakat yang satu dengan masyarakat yang lain adalah realitas nyata yang harus disikapi dengan bijak karena bagaimanapun pelayanan yang memberikan kepuasan antara warga yang satu dengan warga yang lain berbeda takarannya. 6) Pembinaan terhadap masyarakat telah berjalan secara optimal terutama dalam bidang agama, sosial budaya, pelayanan kesehatan dan lain-lain. D. Faktor-faktor Penghambat dan Pendorong terhadap Pengembangan Pemberdayaan Masyarakat di Desa Sederhana Kecamatan Khusus Kab. Umum. Pemberdayaan masyarakat di berbagai bidang tidak terlepas dari berbagai hambatan yang menyertainya. Hambatan yang sering muncul adalah sulitnya untuk 98. 98 mensinergiskan berbagai pemberdayaan itu dalam suatu program yang terpadu. Dengan memusatkan pada satu dimensi, pengembangan akan mengabaikan kekayaan dan kompleksitas kehidupan manusia dan pengalaman masyarakat. Tidak ada alasan untuk mengatakan bahwa berbagai tindakan untuk memberdayakan masyarakat tidak bisa disinergiskan. Pengertian terpadu tidak berarti semua jenis kegiatan pemberdayaan dilakukan secara serentak. Pengembangan masyarakat secara terpadu dapat digambarkan sebagai serangkaian kegiatan pemberdayaan yang dilakukan secara sistematis dan saling melengkapi. Pemberdayaan bukanlah program yang dapat dilaksanakan dalam jangka waktu singkat atau bersifat temporer. Pemberdayaan harus dilaksanakan secara berkesinambungan dengan terus mengembangkan jenis-jenis kegiatan yang paling tepat untuk komunitas. Meskipun telaahan mengenai program pemberdayaan banyak mengemukakan kelemahan-kelemahan yang terjadi dalam pelaksanaan program dan ketidakberhasilan kelompok sasaran untuk mencapai tujuan namun harus diakui juga bahwa ada banyak program pemberdayaan yang berhasil dan mencapai tujuan yang ditetapkan.kendala yang terjadi dalam pelaksanaan program pemberdayaan dapat berasal dari kepribadian individu dalam komunitas dan bisa juga berasal dari sistem sosial. Kendala-kendala tersebut adalah : 1. Kurangnya hubungan dengan masyarakat luar Masyarakat yang kurang melakukan hubungan dengan masyarakat luar dapat menyebabkab kurangnya memnadapat informasi tentang perkembangan dunia. Hal ini mengakibatkan masyarakat tersebut terasing dan tetap terkurung dalam pola-pola 99. 99 pemikiran yang sempit dan lama. Selain itu mereka cenderung tetap mempertahankan tradisi yang tidak mendorong kearah kemajuan. 2. Perkembangan ilmu pengetahuan dan Tekhnologi yang terlambat Jika suatu masyarakat kurang melakukan hubungan dengan masyarakat luar, perkembangan ilmu pengetahuan dan tekhnologi pada masyarakat tersebut menjadi lambat. Hal ini disebabkan mereka kurang atau belum menerima informasi tentang kemajuan masyarakat lain. Disamping itu penjajahan juga dapat menyebabkan terlambatnya perkembangan IPTEK pada suatu masyarakat 3. Sikap masyarakat yang tradisional Masyarakat yang masih mempertahankan tradisi dan menganggap tradisi tak dapat diubah secara mutlak, dapat mengakibatkan terhambatnya perubahan sosial dalam masyarakat tersebut. Hal ini disebabkan masyarakat tak bersedia menerima inovasi dari luar. Padahal, inovasi tersebut merupakan salah satu faktor yang dapat mendorong terjadinya perubahan yang diharapkan dalam suatu masyarakat. 4. Prasangka terhadap Hal-hal yang baru atau asing Rasa curiga terhadap hal-hal baru yang datang dari luar dapat menghambat terjadinya perubahan sosial dalam masyarakat. Sikap ini bisa dijumpai dalam masyarakat yang pernah dijajah oleh bangsa-bangsa barat. Mereka tak bisa melupakan pengalaman-pengalaman pahit selama masa penjajahan. Akibatnya, semua unsur-unsur baru yang berasal dari bangsa barat selalu dicurigai dan sulit mereka terima. 5. Adat atau kebiasaan 100. 100 Adat dan kebiasaan juga dapat menghambat terjadinya perubahan dalam masyarakat. Unsur-unsur baru dianggap oleh sebagian masyarakat dapat merusak adat atau kebiasaan yang telah mereka anut sejak lama. Mereka khawatir adat atau kebiasaan yang dianut menjadi punah jika mereka menerima unsur-unsur baru bahkan dapat merusak tatanan atau kelembagaan sosial yang meraka bangun dalam masyarakatnya. 6. Ketergantungan (depedence). Ketergantungan suatu komunitas terhadap orang lain (misalnya terhadap pendamping sosial) menyebabkan proses pemandirian masyarakat membutuhkan waktu yang cenderung lebih lama. 7. Superego Superego yang terlalu kuat dalam diri seseorang cenderung membuat ia tidak mau atau sulit menerima perubahan atau pembaharuan. Dorongan superego yang berlebihan dapat menimbulkan kepatuhan yang berlebihan pula. 8. Rasa tidak percaya diri (self distrust) Rasa tidak percaya diri membuat seseorang tidak yakin dengan kemampuannya sehingga sulit untuk menggali dan memunculkan potensi yang ada pada dirinya. Hal ini membuat orang menjadi sulit berkembang karena ia sendiri tidak mau berkembang sesuai dengan potensi yang dimilikinya. 9. Rasa tidak aman dan regresi (insecurity and regression) Keberhasilan dan masa-masa kejayaan yang pernah dialami seseorang cenderung menyebabkan ia larut dalam kenangan terhadap keberhasilan tersebut dan tidak berani atau tidak mau melakukan perubahan. Contoh regresi ini adalah : seseorang 101. 101 yang tidak mau mengubah pola pertaniannya karena ia pernah mengalami masa- masa panen yang melimpah di waktu yang lalu. Rasa tidak aman berkaitan dengan keengganan seseorang untuk melakukan tindakan perubahan atau pembaharuan karena ia hidup dalam suatu kondisi yang dirasakan tidak membahayakan dan berlangsung dalam waktu cukup. Contoh rasa tidak aman ini antara lain : seseorang tidak berani mengemukakan pendapatnya karena takut salah, takut malu dan takut dimarahi oleh pimpinan yang mungkin juga menimbulkan konsekuensi ia akan diberhentikan dari pekerjaannya. 10. Kesepakatan terhadap norma tertentu (conforming to norms) Norma berkaitan erat dengan kebiasaan dalam suatu komunitas. Norma merupakan aturan-aturan yang tidak tertulis namun mengikat anggota-anggota komunitas. Di satu sisi, norma dapat mendukung upaya perubahan tetapi di sisi lain norma dapat menjadi penghambat untuk melakukan pembaharuan. 11. Kesatuan dan kepaduan sistem dan budaya (systemic and cultural coherence) Perubahan yang dilakukan pada suatu area akan dapat mempengaruhi area yang lain karena dalam suatu komunitas tidak berlaku hanya satu sistem tetapi berbagai sistem yang saling terkait, menyatu dan terpadu sehingga memungkinkan masyarakat itu hidup dalam keadaan mantap. Sebagai contoh, perubahan sistem mata pencaharian dari ladang berpindah menjadi lahan pertanian tetap akan menimbulkan perubahan pada kebiasaan yang lain seperti pola pengasuhan anak, pola konsumsi dan sebagainya. 12. Kelompok kepentingann. 102. 102 Kelompok kepentingan dapat menjadi salah satu penghambat dalam upaya pemberdayaan masyarakat. Misalnya, upaya pemberdayaan petani di suatu desa tidak dapat dilaksanakan karena ada kelompok kepentingan tertentu yang bermaksud membeli lahan pertanian untuk mendirikan perusahan tekstil. Kelompok kepentingan ini akan berupaya lebih dulu agar lahan pertanian tersebut jatuh ke tangan mereka. 13. Hal yang bersifat sakral (the sacrosanct). Beberapa kegiatan tertentu lebih mudah berubah dibandingkan beberapa kegiatan lain, terutama bila kegiatan tersebut tidak berbenturan dengan nilai-nilai yang dianggap sakral oleh komunitas. Sebagai contoh : di banyak wilayah, dukungan terhadap perempuan yang mencalonkan diri sebagai pemimpin dirasakan masih sangat kurang karena masyarakat umumnya masih menganggap bahwa pemimpin adalah laki-laki sebagaimana yang diajarkan oleh agama atau sesuai dengan sistem patriaki. 14. Penolakan terhadap orang luar. Anggota-anggota komunitas mempunyai sifat yang universal dimiliki oleh manusia. Salah satunya adalah rasa curiga dan terganggu terhadap orang asing. Pekerja sosial atau pendamping sosial yang akan memfasilitasi program pemberdayaan tentu akan mengalami kendala dan membutuhkan waktu yang cukup lama sebelum ia dapat diterima dalam suatu komunitas. Di samping itu, rasa curiga dan terganggu ini menyebabkan komunitas enggan untuk ikut berpartisipasi dalam kegiatan-kegiatan yang diselenggarakan oleh orang asing yang memfasilitasi program pemberdayaan di daerah mereka. 15. Kritik terhadap pemberian bantuan 103. 103 Modal fisik terdiri dari dua kelompok, yaitu bangunan dan infrastruktur. Bangunan dapat berupa rumah, gedung perkantoran, toko dan lain-lain. Sedangkan infrastruktur dapat berupa jalan raya, jembatan, jaringan listrik dan telepon dan sebagainya. Modal fisik selalu terkait erat dengan modal manusia. Modal fisik tidak dapat digunakan apabila tidak ada modal manusia yang menggerakkan atau memanfaatkan atau melaksanakan kegiatan di dalamnya. Oleh karena itu, modal fisik sering disebut sebagai pintu masuk (entry point) untuk melakukan perubahan atau pemberdayaan masyarakat. Dari beberapa penjelasan mengenai kendala dalam program pemberdayaan, perlu dicermati bahwa kendala-kendala tersebut mungkin saja terjadi sekaligus dalam suatu program pemberdayaan tetapi bisa juga hanya satu atau dua kendala yang timbul. Ada faktor-faktor kendala yang relatif mudah untuk diatasi namun ada beberapa faktor yang cukup sulit untuk diubah, misalnya faktor kendala yang berhubungan dengan sesuatu yang dianggap sakral oleh komunitas. Sebagai contoh, upacara perkawinan atau kematian yang memerlukan biaya besar untuk penyelenggaraannya tidak bisa dengan mudah dikurangi dari adat istiadat komunitas karena upacara tersebut dianggap sebagai ritual yang sakral dan berpengaruh terhadap kehidupannya di masa yang akan datang. Untuk dapat mengatasi kendala-kendala tersebut, cara yang paling tepat adalah dengan melakukan pengkajian awal atau studi kelayakan terhadap komunitas. Berdasarkan hasil penelitian sebagaimana telah dibahas di atas dapat diketahui beberapa faktor yang dianggap dapat menghambat keberhasilan organisasi pemerintah Desa Sederhana. Faktor-faktor penghambat tersebut yang dapat 104. 104 diidentifikasi meliputi 2 (dua) aspek yakni faktor yang bersifat internal atau bersumber dari dalam organisasi sendiri dan faktor eksternal atau bersumber dari luar organisasi. a. Faktor Internal Identifikasi dari faktor internal yang merupakan faktor penghambat terhadap pengembangan organisasi pemerintah khususnya di Desa Sederhana karena SDMnya kurang terampil seperti halnya penjelasan mengenai aspek sumber daya manusia. Sebagaimana terlihat sumber daya manusia atau aparat yang bertugas pada organisasi kantor tersebut secara kuantitas jumlah pegawai yang ada pada kantor Desa Sederhana masih sangat kurang jika dibandingkan dengan beban tugas yang ada. Sebagaimana terlihat tugas ini tidak hanya menangani masalah pengawasan, pembinaan atau kegiatan administrasi saja tetapi segala urusan yang berkaitan dengan pengelolaan Desa, seperti tugas penataan pertamanan, kebersihan Desa, keindahan Desa dan Iain-Iain. Selain aspek dalam organisasi tersebut yang menjadi penghambat dalam organisasi pemerintah Desa Sederhana adalah kualitas sumber daya manusia yang sangat menentukan. Kualitas aparat yang ditugaskan pada badan pengelolaan organisasi tersebut dari segi kemampuan kerja masih terlihat kurang. Sebagaimana yang disampaikan oleh Kaur Pemerintahan, Sommeng: Rendahnya kualitas aparat pemerintahan desa dalam kehidupan berorganisasi disebabkan oleh tingkat pendidikan yang masih rendah, karena rata-rata diantara mereka hanyalah tamatan SMA, tetapi untungnya kepala desa memiliki andil yang sangat besar dalam pengembangan potensi yang ada di desanya(26 Maret 2012). Faktor prasarana kerja yang juga menjadi faktor penghambat efektifnya pelaksanaan pengembangan organisasi misalnya masih terbatasnya kendaraan operasional yang dapat digunakan oleh petugas khususnya yang membawahi bagian 105. 105 administrasi misalnya saja dalam mengantar surat penting di kantor-kantor. Faktor dana merupakan salah satu faktor penentu keberhasilan organisasi, baik digunakan untuk kepentingan operasional kegiatan secara administratif maupun untuk operasional tugas organisasi itu sendiri. Penggunaan dana khususnya bagi aparat meliputi tujuan antara lain untuk pemberian insentif, hal ini menjadi penting sebagai alat motivasi supaya petugas dapat melaksanakan pekerjaannya dengan baik. Ketersediaan dana khususnya dana rutin (ADD) yang dialokasikan bagi Kantor Desa masih minim jika dibandingkan beban tugas yang ada. Berdasarkan hasil wawancara yang dilakukan dengan Kaur Pemerintahan Sommeng, salah satu faktor yang juga menghambat pemberdayaan masyarakat di Desa Sederhana adalah sikap pemerintah desa yang terkadang lebih memilih orang lain dalam setiap proyek seperti perbaikan jalan. Kami semua tahu kalau Kepala desa memiliki kemampuan yang sangat besar dalam memberdayakan masyarakat, tetapi beliau juga memiliki titik lemah yaitu terkadang memilih orang lain dalam pengerjaan sebuah proyek yang seharusnya dikerjakan oleh LKD, mungkin yang dilakukannya didasari oleh pertimbangan lain(24 Maret 2012) b. Faktor Eksternal Aspek yang bersifat eksternal dalam hal ini adalah faktor-faktor yang bersumber dari luar organisasi meliputi: 1. Partisipasi masyarakat mentaati aturan dalam organisasi Efektifnya aturan dalam badan pengelolaan organisasi tersebut sangat dipengaruhi oleh kesadaran masyarakat untuk memperoleh atau melaksanakan pembangunan. Namun hal tersebut yang kurang terlihat adalah masyarakat di kawasan, masih rendah partisipasinya dalam memperoleh tujuan organisasi. Sehingga hal ini kadangkala terjadi setelah mendapat teguran dari aparat, hal itu 106. 106 bukan karena masyarakat tidak mau mengurus organisasi atau sengaja melanggar tetapi lebih banyak mereka tidak tahu mengenai pengelolaan organisasi. Hal itu tidak lain karena sosialisasi aturan ini bagi masyarakat tersebut masih kurang. a. Hubungan antar status Secara umum dapat dikatakan bahwa status bergantung pada seberapa besar seseorang memberikan sumbangannya bagi terciptanya tujuan seseorang yang memberikan jasa terbesar cenderung berusaha mendapatkan status yang tinggi. Sebaliknya seseorang yang memberikan jasa yang tidak begitu besar biasanya bersedia menerima status yang lebih rendah. Susunan status dalam satu kelompok dalam organisasi selalu tampil dalam 2 wujud yaitu berupa status formal dan status sosial. Status formal adalah berkaitan dengan jenjang atau hierarki yang ada dalam kelompok atau organisasi yang berkaitan langsung dengan rantai komando. Status sosial tidak selalu berkaitan dengan status formal seseorang, walaupun dapat saja seseorang yang mempunyai status formal yang tinggi dapat pula mempunyai status sosial yang tinggi. Yang dapat menundukkan seseorang dalam status adalah : 1. Kemampuan fisik, mental dan sosial berbeda yang biasanya timbul karena perbedaan pendidikan, latihan dan pengalaman. 2. Tingkat kemudahan atau kesulitan pelaksanaan pekerjaan 3. Tingkat pentingnya pekerjaan Sedangkan yang menjadi faktor pendorong dalam pemberdayaan masyarakat di Desa Sederhana Kecamatan Khusus Kabupaten Umum adalah sebagai berikut: 107. 107 1) Kontak dengan kebudayaan lain Salah satu proses yang menyangkut hal ini adalah diffusion (difusi). Difusi adalah proses penyebaran unsur-unsur kebudayaan dari individu kepada individu lain. Dengan proses tersebut manusia mampu untuk menghimpun penemuan-penemuan baru yang telah dihasilkan. Dengan terjadinya difusi, suatu penemuan baru yang telah diterima oleh masyarakat dapat diteruskan dan disebar luaskan kepada semua masyarakat, hingga seluruh masyarakat dapat merasakan manfaatnya. Proses difusi dapat menyebabkan lancarnya proses perubahan, karena difusi memperkaya dan menambah unsur-unsur kebudayaan yang seringkali memerlukan perubahan-perubahan dalam lembaga-lembaga kemasyarakatan, yang lama dengan yang baru. 2) Sistem pendidikan formal yang maju Pada dasarnya pendidikan memberikan nilai-nilai tertentu bagi individu, untuk memberikan wawasan serta menerima hal-hal baru, juga memberikan bagaimana caranya dapat berfikir secara ilmiah. Pendidikan juga mengajarkan kepada individu untuk dapat berfikir secara obyektif. Hal seperti ini akan dapat membantu setiap manusia untuk menilai apakah kebudayaan masyarakatnya akan dapat memenuh kebutuhan zaman atau tidak. 3. Sikap menghargai hasil karya seseorang dan keinginan untuk maju Bila sikap itu telah dikenal secara luas oleh masyarakat, maka masyarakat akan dapat menjadi pendorong bagi terjadinya penemuan-penemuan baru. Contohnya hadiah nobel, menjadi pendorong untuk melahirkan karya-karya yang belum pernah dibuat. 108. 108 4) Toleransi terhadap perbuatan-perbuatan yang menyimpang (deviation) Adanya toleransi tersebut berakibat perbuatan-perbuatan yang menyimpang itu akan melembaga, dan akhirnya dapat menjadi kebiasaan yang terus menerus dilakukan oleh masyarakat. 5) Sistem terbuka pada lapisan masyarakat Adanya system yang terbuka di dalam lapisan masyarakat akan dapat menimbulkan terdapatnya gerak sosial vertical yang luas atau berarti member kesempatan kepada para individu untuk maju atas dasar kemampuan sendiri. Hal seperti ini akan berakibat seseorang mengadakan identifikasi dengan orang-orang yang memiliki status yang lebih tinggi. Identifikasi adalah suatu tingkah laku dari seseorang, hingga orang tersebut merasa memiliki kedudukan yang sama dengan orang yang dianggapnya memiliki golongan yang lebih tinggi. Hal ini dilakukannya agar ia dapat diperlakukan sama dengan orang yang dianggapnya memiliki status yang tinggi tersebut 6) Ketidakpuasan masyarakat terhadap bidang-bidang kehidupan tertentu Terjadinya ketidakpuasan dalam masyarakat, dan berlangsung dalam waktu yang panjang, juga akan mengakibatkan revolusi dalam kehidupan masyarakat. 7) Adanya orientasi ke masa depan Terdapatnya pemikiran-pemikiran yang mengutamakan masa yang akan datang, dapat berakibat mulai terjadinya perubahan-perubahan dalam system sosial yang ada. Karena apa yang dilakukan harus diorientasikan pada perubahan di masa yang akan datang. 109. 109 Dalam kehidupan organisasi imbalan selalu diberikan menurut persepsi seseorang tentang keahlian yang diperlukan bagi suatu tugas pekerjaan. Ini berarti suatu sistem status tetap berjalan searah dengan sistem pemberian imbalan. Makin tinggi status seseorang dalam organisasi makin tinggi pula imbalan yang diterimanya demikian pula sebaliknya.Untuk itu mencapai tujuan organisasi yang baik harus dilaksanakan prilaku organisasi yang baik pula. Maka disini berperan Kepala Desa yang bertugas mengintrospeksi diri bahwa seorang pemimpin harus benar-benar memiliki sifat dan jiwa kepemimpinan dan tidak melanggar norma-norma kepemimpinan, harus bersikap adil seadil-adilnya, tegas dalam mengambil keputusan dan tidak mementingkan kepentingan pribadi atau kekuasaan semata. 110. 110 BAB V KESIMPULAN DAN SARAN A. Kesimpulan Berdasarkan uraian hasil penelitian yang telah dibahas dalam bab dimuka, maka pada bagian ini dapat ditarik beberapa kesimpulan sebagai berikut: 1. Peranan Pemerintah Desa dalam memberdayakan masyarakat meliputi 3 hal yaitu pembinaan masyarakat, pelayanan terhadap masyarakat dan pengembangan terhadap masyarakat. Ketiga variabel tersebut telah berjalan secara maksimal. Pembinaan terhadap masyarakat meliputi kegiatan keagamaan, kegiatan sosial budaya dan pelayanan kesehatan, Pelayanan masyarakat meliputi pelayanan di bidang pertanian, kesehatan dan perekonomian, sedangkan pengembangan masyarakat lebih banyak difokuskan pada pengembangan SDM melalui pembangunan infrastruktur baik formal maupun non formal, termasuk pula diantaranya pengembangan ekonomi kerakyatan. 2. Faktor-faktor penghambat pengembangan organisasi pemerintahan Desa Sederhana yang dapat diidentifikasi meliputi 2 (dua) faktor yaitu faktor internal terdiri dari aspek sumber daya manusia atau aparat pelaksana yang masih kurang baik secara kualitas maupun kuantitasnya. Ketersediaan sarana dan prasarana kerja yang belum memadai, rendahnya kualitas SDM aparat pemerintah desa yang rata-rata hanya tamat sampai tingkat SMA, faktor pendanaan yang tersedia bagi organisasi bersangkutan yang masih minim untuk dapat digunakan dalam pengelolaan organisasi serta sikap kepala desa yang terkesan lebih mementingkan orang lain bila terdapat proyek untuk pembangunan desa, 110 111. 111 Sedangkan faktor eksternal yang menjadi penghambat adalah partisipasi masyarakat dalam mentaati aturan Desa Hubungan antar status. Secara umum dapat dikatakan bahwa status bergantung pada seberapa besar seseorang memberikan sumbangannya bagi terciptanya tujuan seseorang yang memberikan jasa terbesar cenderung berusaha mendapatkan status yang tinggi. Sebaliknya seseorang yang memberikan jasa yang tidak begitu besar biasanya bersedia menerima status yang lebih rendah B. Saran-saran Upaya untuk mengoptimalkan pelaksanaan fungsi Kepala Desa terhadap pengembangan organisasi pemerintahan Desa Sederhana dari hasil temuan penelitian dapat direkomendasi saran untuk peningkatannya sebagai berikut: 1. Masih perlu dilakukan sosialisasi oleh aparat pemerintah Desa mengenai pentingnya pengembangan organisasi terutama bagi masyarakat yang berdomisili di Desa tersebut. 2. Peranan Kepala Desa terhadap pemberdayaan masyarakat pemerintah Desa Sederhana Kecamatan Khusus Kabupaten Umum hendaknya dilakukan secara konsisten dan berkesinambungan. 3. Perlu dilakukan pengawasan yang secara rutin terutama terhadap kegiatan masyarakat yang menunjukkan adanya kegiatan pembangunan. 112. 112 DAFTAR PUSTAKA Ali Mufiz, Drs,1995, Pengantar Administrasi Negara, Universitas Terbuka. Andy Sutardy, MBA, Drs. Engkoem Damini, 1973, Pokok-pokok Ilmu Administrasi dan Manajemen, PT. Ikhtiar Baru, Jakarta Atmosudirdjo, Prajudi, 1978, Dasar-dasar Administrasi, Balai Aksara, Jakarta Bayu Suryaningrat, 1979, Desa dan Kelurahan, Rineka Cipta, Jakarta Dedy Supriady Bratakusuma, Ph.D. Dadang Solihin, MA. 2002, Otonomi Penyelenggaraan Pemerintahan Daerah, Gramedia Pustaka Utama, Jakarta Depdikbud RI, 1989, Kamus Besar Bahasa Indonesia, Balai Pustaka, Jakarta Handayaningrat, Soewarno, 1982, Pengantar Studi Ilmu Administrasi dan Manajemen, Gunung Agung, Jakarta Ibnu Syamsi, Drs. 1983, Pokok-pokok Organisasi dan Manajemen, Bina Aklsara, Jakarta Joko Prakoso, SH, 1987, Hukum Asuransi Indonesia, Bandung Koentjaraningrat, 1990, Kebudayaan Mentalitas dan Pembangunan, Gramedia Pustaka, Jakarta Lembaga Administrasi Negara RI, 1997, Sistem Administrasi Negara RI, Gunung Agung, Jakarta Moenir A.A., 1987, Pendekatan Manusia dan Organisasi Terhadap Pembinaan Kepegawaian, Gunung Agung, Jakarta Nainggolan, 1984, Pembinaan Pegawai Negeri Sipil, Depdikbud, Jakarta Peraturan Daerah Kabupaten Umum, 2001, Lembaran Daerah Kabupaten Umum, Tentang Pembentukan Badan Perwakilan Desa. PTN dan PTS Se-Sulawesi Selatan, 1997, Pedoman Pembinaan Desa dam Pengelolaan Sumber-sumber Pendapatan Desa, Biro-Bina Pemdes Makassar S.P. Siagian, MPA, 1983, Filsafat Administrasi, Gunung Agung Jakarta Saksono, S, 1988, Administrasi Kepegawaian, Karnisius, Yogyakarta Soetjitro, Ir. 1988, Pembinaan Ketahanan Masyarakat Desa, Jakarta Sugiyono, 2002, Metode Penelitian Administrasi, Alfabeta, Bandung 113. 113 Sulastomo, 1999, Asuransi Kesehatan (Sebuah Kapitas Selekta), Jakarta Surachmad, Winarno, 1972, Dasar-dasar Tehnik Research, Tarsito, Bandung The Liang Ge, 1984, Administrasi Perkantoran Modern, Nur Cahaya, Yogyakarta Undang-undang Nomor 22 Tahun 1999 Tentang Otonomi Daerah Undang-undang Nomor 32 Tahun 2004 Tentang Pemerintahan Daerah Widjaja, HAW., Prof. Drs.,2003, Pemerintahan Desa / Marga, PT. Raja Grafindo Persada, Jakarta. 114. 114 LAMPIRAN : DAFTAR NAMA INFORMAN DI DESA SEDERHANA KECAMATAN KHUSUS KABUPATEN UMUM 1. NAMA : HERIKISWANTO UMUR : 27 TAHUN PEKERJAAN : KEPALA DESA 2. NAMA : ABD. HAMID P UMUR : 72 TAHUN PEKERJAAN : TOKOH MASYARAKAT 3. NAMA : H. TANSI UMUR : 65 TAHUN PEKERJAAN : TOKOH AGAMA 4. NAMA : MUH. ARFAH UMUR : 42 TAHUN PEKERJAAN : KELOMPOK TANI 5. NAMA : MARLINA SYAM UMUR : 35 TAHUN PEKERJAAN : KETUA TIM PENGGERAK PKK SEDERHANA 6. NAMA : ASNAWI UMUR : 30 TAHUN PEKERJAAN : KETUA KARANG TARUNA DESA SEDERHANA 7. NAMA : SOMMENG UMUR : 56 TAHUN PEKERJAAN : KAUR PEMERINTAHAN Catatan : Ketujuh informan tersebut adalah informan kunci dalam memberikan data berdasarkan wawancara yang dilakukan. 115. 115 PERANAN PEMERINTAH DESA DALAM MEMBERDAYAKAN MASYARAKAT DI ERA OTONOMI DAERAH PADA DESA SEDERHANA KECAMATAN KHUSUS KABUPATEN UMUM VILLAGE GOVERNMENT ROLE IN EMPOWERING COMMUNITIES IN THE ERA OF REGIONAL AUTONOMY IN THE VILLAGE SEDERHANA PONRE DISTRICK OF UMUM REGENCY 116. 116 DAFTAR ISI Halaman HALAMAN SAMPUL ................................................................................... i HALAMAN PENGESAHAN ......................................................................... ii PRAKATA ...................................................................................................... iii ABSTRAK ....................................................................................................... v ABSTRACT .................................................................................................... vi DAFTAR ISI ................................................................................................... vii DAFTAR GAMBAR ...................................................................................... ix DAFTAR LAMPIRAN ................................................................................... x BAB I PENDAHULUAN .......................................................................... 1 A. Latar Belakang Masalah ........................................................... 1 B. Rumusan Masalah .................................................................... 16 C. Tujuan Penelitian ...................................................................... 16 D. Manfaat Penelitian .................................................................... 17 BAB II TINJAUAN PUSTAKA ................................................................. 18 A. Pengertian Peranan .................................................................... 18 B. Pengertian Pemerintah Desa...................................................... 19 C. Pemberdayaan Masyarakat........................................................ 32 D. Otonomi daerah.......................................................................... 46 E. Pengertian Pengembangan Organisasi ..................................... 49 F. Kerangka Pemikiran.................................................................... 57 vii 117. 117 BAB III METODE PENELITIAN ............................................................... 59 A. Perspektif Pendekatan Penelitian .............................................. 59 B. Fokus Penelitian ....................................................................... 60 C. Lokasi Penelitian ...................................................................... 61 D. Fenomena Pengamatan.............................................................. 61 E. Jenis dan Sumber data .............................................................. 61 F. Pemilihan Informan................................................................... 61 G. Instrumen Penelitian.................................................................. 62 H. Tehnik Pengumpulan Data......................................................... 63 I. Tekhnik Analisis Data................................................................ 65 BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN .............................. 70 A. Gambaran Umum Desa Sederhana Kec. Ponre Kab. Umum .... 70 B. Struktur Organisasi.................................................................... 72 C. Peranan Pemerintah Desa Sederhana Dalam Memberdayakan masyarakat di Era Otonomi Daerah ................................................ 80 D. Faktor-Faktor Penghambat Dan Pendorong Terhadap Pengembangan Pemberdayaan Masyarakat di Desa Sederhana Kecamatan Khusus Kabupaten Umum ....................................... 97 BAB V KESIMPULAN DAN SARAN ....................................................... 99 A. Kesimpulan ............................................................................... 110 B. Saran-saran ............................................................................... 111 DAFTAR PUSTAKA ..................................................................................... 112 LAMPIRAN ................................................................................................... 114 viii 118. 118 DAFTAR GAMBAR Nomor Halaman 2.1 Kerangka Konseptual ...................................................................................... 57 3.1 Model Interaktif menurut Miles dan Hubberman ........................................... 60 4.1 Struktur Organisasi Pemerintahan .................................................................. 73 4.2 Struktur Personalia Tim Penggerak PKK ........................................................ 73 ix 119. 119 DAFTAR LAMPIRAN Nomor Halaman 1. Daftar Nama Informan di Desa Sederhana Kecamatan Khusus Kab. Umum .... 114 x 120. 120 ABSTRAK Dengan lahirnya Undang-undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang otonomi daerah dan Peraturan Pemerintah No 72 Tahun 2005 tentang desa memberikan kesempatan kepada masyarakat desa untuk mengatur dan mengurus rumah tangganya sendiri, dengan persyaratan yang diamanatkan yakni diselenggarakan pemerintahan desa dengan memperhatikan prinsip-prinsip demokrasi, peran serta masyarakat, pemerataan, keadilan, serta memperhatikan potensi dan keaneka-ragaman daerah. Masyarakat memiliki peran cukup sentral untuk menentukan pilihan kebijakan yang sesuai dengan kebutuhan dan aspirasinya. Namun kenyataannya, Pemerintah Desa tersebut belum terlalu berperan dalam memberdayakan potensi yang terdapat pada warganya. Oleh karena itu di dalam penelitian ini akan dikaji bagaimana upaya pemerintah Desa Sederhana dalam memberdayakan masyarakatnya. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui dan menganalisis peranan pemerintah desa dalam memberdayaan masyarakat sekaligus mengkaji faktor pendorong dan penghambat dalam memberdayakan masyarakat di Desa Sederhana Kecamatan Khusus Kabupaten Umum. Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat baik secara teoritis maupun secara praktek baik bagi warga masyarakat di Desa Sederhana Kecamatan Khusus Kabupaten Umum, khususnya maupun masyarakat Umum umumnya. Penelitian ini digolongkan sebagai penelitian deskriptif kualitatif. Dengan pendekatan ini peneliti menggali informasi secara alamiah tentang peranan pemerintah desa di desa tersebut. Sumber data utama adalah kata-kata dan tindakan para responden kunci yang dijadikan sampel dalam penelitian ini. Teknik dalam menggali data adalah melalui pengamatan, wawancara, dan dokumentasi. Hasil penelitian dari tiga unsur pokok yang meliputi pembinaan masyarakat, pelayanan masyarakat dan pengembangan pada masyarakat menunjukkan bahwa pemerintah Desa Sederhana telah berhasil membangun komunikasi masyarakat sehingga dapat berpartisipasi aktif dalam pemberdayaan di desanya, meskipun disadari oleh pemerintah desa bahwa ada faktor yang menghambat dan mendorong dalam upaya pemberdayaan masyarakat. Kata kunci : Peranan,Pemerintah Desa, Pemberdayaan Masyarakat dan Otonomi Daerah. v 121. 121 ABSTRACT With the birth of Law No. 32 of 2004 on regional autonomy and Government Regulation No. 72 of 2005 on the village provides an opportunity to villagers to control and manage his own household, with the requirements mandated by the village government held to the principles of democracy, the role of and the community, equality, justice, and considering the potential and diversity of the region. The community has a central enough role to determine policy options that suit the needs and aspirations. But in reality, the village government has not been very instrumental in empowering potential contained in its citizens. Therefore in this study will be examined how the government's efforts in empowering rural communities. The purpose of this study was to determine and analyze the role of government in the village community as well as reviewing empowering driving and inhibiting factors in empowering people in the Village Sederhana, Ponre District of Regency Umum. Result this study is expected to benefit both theoretically and in practice both for the residents in Village Sederhana, Ponre District of Regency Umum in particular and society in general. Result This study is classified as a descriptive qualitative research. With this approach the researcher to explore the nature of information about government's role in the rural village. The main data sources are the words and actions of key respondents sampled in this study. Techniques in exploring the data is through observation, interviews, and research dokumentation. Result of three main elements which include community development, community service and community development in the Village Sederhana shows that the government has managed to build communication so that people can actively participate in the empowerment of the village, although recognized by the government of the village that there are factors that inhibit and promote community empowerment efforts. Key words: Role, Village Government, Community Empowerment and Local Autonomy. vi

Recommended

View more >