pengkajian karakteristik batubara batu licin ?· berdasarkan sifat-sifat fisik dari batuan ......

Download PENGKAJIAN KARAKTERISTIK BATUBARA BATU LICIN ?· Berdasarkan sifat-sifat fisik dari batuan ... kandungan…

Post on 29-Jun-2019

212 views

Category:

Documents

0 download

Embed Size (px)

TRANSCRIPT

  • Seminar Nasional Fakultas Teknik Geologi, Bandung 24 Mei 2014

    Geologi Untuk Meningkatkan Kesejahteraan Masyarakat

    PENGKAJIAN KARAKTERISTIK BATUBARA BATU LICIN TERHADAP KEMUNGKINAN TERJADINYA SPONTANEOUS COMBUSTION

    Oleh :

    M. Ulum A. Gany*)**)

    *) Pusat Penelitian Geoteknologi- Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Jl. Cisitu-Sangkuriang, Bandung 40135, Ph : 022-2507771, Fax :022-2504593

    E-Mail : ulumgany@yahoo.com; ulumgany@gmail.com, ulum@geotek.lipi.go.id **) Fakultas Teknik Geologi Program Doktoral Pasca Sarjana UNPAD

    Kampus UNPAD, Jl. Dipati Ukur Bandung

    ABSTRACT

    Indonesia has a great potency for coal resources and wide spread out trough of Indonesian island. One of the problem in the utilization of coal is spontaneous combustion due to the characteristic of coal, expecially when the coal is put in the the stockpile for a long time. To anticipate this problem, the research had been carried out to the Batulicin coal located in South Sumatera Province, for identifying its characteristic and to evaluate the possibility the coal tendency for spontaneous combuston. Based on the result of analysis indicate that the Batulicin coal consist of low rank and high rank coal which is indetified as lignite and bituminous coal respectively. While according to its evaluation indicate that the low rank coal tend to occur of spontaneous combustion but in the other hand , the high rank cooal (bituminous) has a little possibility for occuring the spontaneous combustion. Key Words : coal, characteristic, spontaneous combustion, evaluation

    348

    mailto:ulumgany@yahoo.commailto:ulumgany@gmail.commailto:ulum@geotek.lipi.go.id
  • Seminar Nasional Fakultas Teknik Geologi, Bandung 24 Mei 2014

    Geologi Untuk Meningkatkan Kesejahteraan Masyarakat

    ABSTRAK

    Indonesia mempunyai potensi yang besar terhadap sumberdaya batubara dan tersebar hampir diseluruh krpulauan Indonesia. Salah satu masalah dalam pemanfaatan batubara adalah terjadinya swa bakar (spontaneous combustion) yang diakibatkan oleh karakteristik batubara, terutama apabila batubara tersebut ditumpuk dan dibiarkan kontak dengan udara dalam waktu yang lama. Untuk mengatasi masalah tersebut, maka telah dilakukan penelitian terhadap batubara Batulicin untuk mengetahui karakteristik dan pengkajian karakteristiknya yang berkaitan kemungkinan terjadinya swa bakar. Karakterisasi dilakukan dengan analisis proksimat dan analisis sifat fisiknya, kemudian dilakukan pengkajian karakteristiknya yang dikaitkan kemungkinan terjadinya swa bakar (spontaneous combustion). Hasil analisis menunjukkan bahwa batubara Batulicin terdiri dari kualitas rendah (low rank) yang didentifikasikan sebagai batubara lignit dan batubara high rank yang diidentifikasikan sebagai batubara Biuminnous, sedangkan berdasarkan pengkajian karakteristiknya, maka batubara peringkat rendah cenderung mempunyai sifat bakar dan batubara peringkat tinggi cenderung tidak mempunyai sifat swa bakar, karena didukung oleh karakteristik batubara tersebut. Kata Kunci : batubara, karakteristik, swa bakar, pengkajian

    PENDAHULUAN Berdasarkan data dari SDM, Badan Survey Geologi (2008) bahwa Indonesia mempunyai potensi batubara yang cukup besar dan tersebar hampir diseluruh Indonesia dengan sumberdaya sebesar 104, 757 milyar ton (Tabel 1.). Distribusi penyebaran batubara di Indonesia paling besar terdapat berturut turut di Provinsi Sumatera Selatan, Provinsi Kalimantan Timur dan Provinsi Kalimantan Selatan dengan penyebaran masing-masing sebesar 38,45; 33,83, dan 15 % (Tabel 2). Berdasarkan data kualitas batubara di Indonesia (Tabel 3) menunjukkan bahwa sekitar 86 % mempunyai kualitas rendah (low rank) dan sekitar 14 % mempunyai kualitas yang tinggi (high rank). Kalitas batubara yang rendah ini dalam pemanfaatnnya

    menimbulkan berbagai macam masalah. Salah satu masalah dalam pemanfaatan batubara tersebut adalah sering terjadinya swa bakar (spontaneous combustion) pada suatu tumpukan batubara (coal stockpile), khususnya apabila batubara low rank ini ditumpuk dan bereaksi dengan udara dalam waktu yang cukup lama (Tsai, S.C, 1982).

    Untuk mengantisipasi masalah ini maka telah dilakukan penelitian terhadap batubara Batulicin yang terletak di Provinsi Kalimantan Selatan yang bertujuan untuk mengatahui karakteristiknya dan pengkajian pemanfaatannya yang terkait kemungkinan terjadinya swa bakar pada batubara tersebut. Metode penelitian yang dilakukan terdiri dari pengamatan lapangan dan

    Seminar Nasional Fakulas Teknik Geologi Universits Padjadjaran

    349

  • Seminar Nasional Fakultas Teknik Geologi, Bandung 24 Mei 2014

    Geologi Untuk Meningkatkan Kesejahteraan Masyarakat

    penelitian laboratorium. Penelitian dilapangan mencakup pengamatan kondisi geologi dilapangan, singkapan batubara dan pengambilan contoh batubara. Sedangkan penelitian dilaboratorium adalah dengan melakukan analisis proksimat, nila kalori (caloric value) dan kandungan sulfur total. Dari hasil karakteristik yang diperoleh , kemuudian dilakukan pengkajian yang dikaitkan kemungkinan terjadinya swa bakar (spontaneous combustion). II.METODE PENELITIAN 2.1 Geologi 2.1.1 Morfologi Daerah Penelitian batubara terletak di Kecamatan Hampang, Kabupaten Batulicin, Provinsi Kalimantan Selatan (Gambar 1). Secara umum daerah penelitian terdiri dari daerah yang bergelombang dan berbukit-bukit yang mempunyai ketinggian sekitar 200 meter diatas permukaan air laut. Morfologi daerah penelitian mempunyai distribusi batuan sedimen yang mempunyai resistensi kecil terhadap cuaca dan erosi air, tetapi dibagian timur daerah penelitian ini dibatasi oleh batuan kapur yang mempunyai puncak yang tinggi dan biasanya mempunyai bentuk topografi berupa karst. Bentuk morfologi didaerah penelitian ini (Foto 1) dapat diklasifikasikan dalam tiga grup yakni :

    1. Bentuk Perbukitan, terletak di bagian barat daerah peneliitian.

    2. Bukit rendah, terletak di bagian tengah daerah penelitian.

    3. Dataran rendah, terletak dibagian timur daerah penelitian

    2.1.2 Stratigrafi Secara regional lokasi penelitian termasuk kedalam Cekungan Barito (Gambar 2) dan berdasarkan Peta Geologi yang dikeluarkan oleh Pusat dan Pengembangan Geologi (P3G),maka daerah penelitian termasuk dalam lembar Sampanahan 18130, (Gambar 3) Formasi pembawa batubara adalah Formasi Tanjung (Tet) dan Formasi Pitat (Ksp), (Gambar3)

    Urut-urutan statigrafi didaerah penelitian dari yang muda ke tua adalah sebagai berikut :

    1. Formasi Allufium (QA), terdiri dari kerikil, pasir dan lumpur terendapkan dalam lingkungan sungai , rawa, delta dan pantai. Material alluvium umumnya belum terrkompaksi , lepas-lepas banyak mengandung material organik yang belum terurai dan ketebalannnya diperkirakan 1 hingga 25 meter.

    2. Formasi Tanjung (Tet), Formasi ini menindih secara tidak selaras Formasi Pitat dan tertindih secara selaras dengan Formasi Berai . Formasi ini terdiri dari perselingan batupasir, batulempung, , batulanau, batugamping (Gambar 4) . Lingkungan pengendapan darat-sampai laut dangkal,

    350

  • Seminar Nasional Fakultas Teknik Geologi, Bandung 24 Mei 2014

    Geologi Untuk Meningkatkan Kesejahteraan Masyarakat

    umurnya diduga adalah Eosen.

    3. Formasi Pitat (Ksp), endapan flysch beruupa perselingan antara batupasir, batulempung, batulanau, serpih, rijang olistolit, batugamping dan lava basal. Formasi ini diduga berumur Kapur Awal dan diendapkan secara berjemari dengan Formasi Haruyuan.

    2.1.3 Strruktur Berdasarkan hasil pengmaatan dan pengukuran strike dan dip dari batuan sedimen, maka struktur geologi yang berkembang didaerah ini adalah lipatan (fold), sesar (fault) dan rekahan (joint). Arah jurus perlapisan bagian selatan dari daerah penelitian ini umumnya berarah Baratdaya-Timurlaut dengan arah kemiringan berubah ubah , sehingga membentuk struktur lipatan berupa antiklin dan sinklin. Besar kemiringan sayap lipatan yang mengarah kearah timur adalah berkisar antara 3o sampai 12o . Kemiringan sayap liatan ini relatif lebih landai jika dibandingkan dengan krmiringan sayap lipatan yang mengarah ke barat dengan kemiringan berkisar antara 14o samppai 35o 2.1.3 Endapan Batubara Di daerah penelitian ini , batubara didapatkan diposisi bagian bawah sequence pengendapan Formasi Tanjung (Foto 2). Singkapan batubara pada umumnya tersingkap di anak-anak sungai dengan perselang selingan yang didominasi oleh batulempung dan batupasir.

    Ketebalan dari pada batubara ini berkisar antara 0,2 meter sampai 2,4 meter dengan arah sebaran Baratdaya-Timurlaut dengan kemiringan lapisan batubara berkisar antara 2o sampai 30o atau rata-rata sekitar 11o

    2.3 Analisis Laboratorium Untuk mengetahui kualitas batubara, maka dilakukan analisis proksimat dan nillai alorii terhadap conntoh batubara yang telah diambil dilapangan dengan tahap-tahap sebagai berikut : 2.3.1 Preparasi Preparasi dilakukan dengan melakukan pengecilan ukuran butir dengan menggunakan alat Jaw Crusher, Pulverizer . Sedangkan utuk mendapatkan ukuran yang lebih halus lagi maka digunakkan alat Balll Mill. Untuk mendapakan ukuran yang seragam, maka dilakukan pengayakan (sizing) dengan menggunakan ayakan sampai didapatkan ukuran 60 mesh. Dan selanjutnya dilakukan analisis proksimat, nilai kalori dan sulfur total. Analisi Proksimat terdiri dari : Kandungan Abu batubara (ash), Kandungan Karbon Tertambat (Fixed Carbon), Kandungan Air (Moisture Conntent), Kandunngan Zat Terbang (Volatile Matter). Sedangkan Nilai Kalori (Caloric Value) dianalisis nilai kalorinya dengan menggunakan Boom Calorimeter. Berdasarkan beberapa contoh yang dianalisis, maka didapatkan hasil analisis kualitas batubara peringkat rendah (low ran