laporan p1

Click here to load reader

Post on 22-Dec-2015

29 views

Category:

Documents

0 download

Embed Size (px)

DESCRIPTION

ddd

TRANSCRIPT

LAPORAN HASIL DISKUSIMODUL INFEKSI IMUNOLOGIPEMICU 1

KELOMPOK DISKUSI 21. JamalludinI111080712. Tata Rimba Parmanto I111100353. Nur'Azmi Ayuningtyas I111110094. Dina Fitri WijayantiI111120075. Guntur Suseno I111120126. Dodi NovriadiI111120147. Adela Brilian I111120208. Irvinia Rahmadyah I111120239. Ridha RahmataniaI1111202710. Alvina Elsa BidariI1111203811. Anis Komala I11112041

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN DOKTERFAKULTAS KEDOKTERANUNIVERSITAS TANJUNGPURA PONTIANAK2015

BAB IPENDAHULUAN

1.1 PemicuIwan, 8 tahun, datang ke klinik dengan keluhan sering bersin-bersin dan pilek sejak 1 tahun yang lalu. Keluhan ini sering disertai mata berair dan gatal. Ia juga sering menggosok hidungnya yang gatal. Keluhan ini timbul terutama pada pagi hari atau bila Iwan bermain di tempat yang berdebu. Ibu Iwan, Ny. Tuti sering mengalami serangan sesak nafas, terutama pada malam hari . adik Iwan, Asih, berusia 3 tahun, sering mengalami gatal-gatal di kulit, bila makan udang. Ayah dan kakaknya tidak mempunyai keluhan yang sama.

1.2 Klarifikasi dan Definisi-1.3 Kata kunci1. Anak laki-laki 6 tahun2. Sering bersin3. Ingus encer, bening4. Mata gatal dan berair5. Ibu dan adik punya riwayat alergi

1.4 Rumusan Masalah Anak laki-laki 6 tahun sering bersin denga ingus encer sejak 1 tahun laludisertai mata berair dan gatal, terutama pada pagi hari dan ditempat berdebu. Ibu dan adiknya memiliki riwayat alergi dengan gejala dan pemicu yang berbeda.

\

1.5 Analisis Masalah

Riwayat keluargaAnak laki-laki 6 tahun

AdikIbu

Bersin-bersin, ingus encer, mata berair, hidung gatalGatal-gatal dikulitSesak nafas

TatalaksanaHipersesitivitas Tipe IRhinitis AlergiPagi hari atau di tempat berdebuDermatitis AtopiAsma BronkialMalam hari atau saat kelelahanSetelah makan udang

1.6 Hipotesis Iwan 6 tahun mengalami rhinitis alergi yang disebabkan hipersensitivitas tipe I.1.7 Pertanyaan Diskusi1. Jelaskan pembagian sistem imun!2. Apa saja komponen dan organ yang berperan dalam sistem imun serta fungsinya?3. Apa beda alergi dan atopi?4. Apa fungsi dari sistem imun?5. Bagaimana patogenesis reaksi hipersensitivitas (I-IV)?6. Bagaimana cara membedakan hipersensitivitas (I-IV)?7. Apa penyebab timbulnya reaksi hipersensitivitas (I-IV)?8. Bagaimana pewarisan genetik pada hipersensitivitas?9. Apa manifestasi klinis hipersensitivitas I-IV?10. Apa saja contoh reaksi hipersensitivitas?11. Bagaimana cara mengetahui seseorang memiliki hipersensitivitas?12. Apa pengaruh lingkungan terhadap hipersensitivitas?13. Jelaskan tentang rhinitis alergi! Definisi Etiologi Epidemiologi Faktor resiko Patofisiologi Manifestasi klinis Diagnosis Tatalaksana Komplikasi 14. Bagaimana hipersensitivitas dapat menyebabkan penyempitan pada bronkus dan gatal pada kulit? 15. Jelaskan mengenai obat hirup?16. Bagaimana tatalaksana pada kasus?17. Bagaimana edukasi pada kasus?18. Bagaimana pencegahan pada kasus?

BAB IIPEMBAHASAN2.1 Retinopati diabetikum2.1.1. DefinisiImunitas adalah resistensi terhadap penyakit terutama infeksi. Gabungan sel, molekul dan jaringan yang berperan dalam resistensi terhadap infeksi disebut sistem imun. Reaksi yang dikoordinasi sel-sel, molekul-molekul dan bahan lainnya terhadap mikroba disebut respon imun. Sistem imun diperlukan tubuh untuk mempertahankan keutuhannya terhadap bahaya yang dapat ditimbulkan berbagai bahan dalam lingkungan hidup. 12.1.2. Pembagian Sistem ImunSistem imun dapat dibagi menjadi sistem imun alamiah atau nonspesifik / natural / innate / native / nonadaptif dan didapat atau spesifik / adaptif / acquired. Adapun gambar perbedaan fungsi sistem imun nonspesifik dan spesifik, sebagai berikut:1

Gambar 1 Sistem ImunRespon sistem imun tubuh kita pasca rangsangan substansi asing (antigen) adalah munculnya sel fungsional yang akan menyajikan antigen tersebut kepada limfosit untuk dieliminasi. Setelah itu muncul respon imun nonspesifik dan atau respon imun spesifik, tergantung kondisi survival antigen tersebut. Apabila respon imun non spesifik sudah bisa dieliminasi dari dalam tubuh, maka respon imun spesifik tidak akan tereduksi. Apabila antigen masih bisa bertahan hidup, maka respon imun spesifik akan terinduksi dan akan melakukan proses pemusnahan antigen tersebut.1Sistem imun bawaan mencakup respon imun nonspesifik tubuh yang beraksi segera setelah adanya suatu agen yang mengancam. Respons nonspesifik ini adalah mekanisme pertahanan inheren (bawaan atau sudah ada) yang secara nonselektif mempertahankan tubuh dari benda asing atau materi abnormal apapun jenisnya, bahkan meskipun baru pertama kali terpapar. Respons ini merupakan lini pertama pertahanan terhadap berbagai ancaman, termasuk agen infeksi, iritan kimiawi, dan cedera jaringan akibat trauma mekanis atau luka bakar. Semua orang lahir dengan mekanisme respons imun bawaan yang pada hakikatnya sama, meskipun mungkin terdapat sedikit perbedaan genetik. Sistem imun adaptif atau didapat, sebaliknya, mengandalkan respons imun spesifik yang secara selektif menyerang benda asing tertentu yang tubuh pernah terpajan dan memiliki kesempatan untuk mempersiapkan serangan yang secara khusus ditujukan kepada musuh tersebut. Karena itu, sistem imun adaptif memerlukan waktu cukup lama untuk menyerang dan mengalahkan musuh spesifik. Sistem imun bawaan dan didapat bekerja secara harmonis untuk menahan, kemudian mengeliminasi bahan-bahan yang membahayakan2.Innate immuneatau kekebalan bawaan merupakan salah satu macam dari kekebalan bawaan. Kekebalan bawaan merupakan mekanisme pertama pertahanan bagi tubuh.Dan kekebalan bawaan ini di bagi lagi menjadi dua macam pertahanan, pertahanan tingkat pertama dan pertahanan tingkat kedua.1a. Pertahanan pertama1Sistem pertahanan pertama pada kekebalan bawaan meliputi faktor fisik, kimia dan flora normal tubuh (mikriba normal tubuh). Yang merupakan faktor fisik adalah kulit, kelenjar air mata, kelenjar air lidah (saliva), kelenjar mukus, silia, dan urine. Kulit yang tertutup merupakan pertahanan paling kuat. kulit yang tertutup melindungi dari masuknya mikroba patogen. Air mata berperan dalam melindungi mata dari mikroba patogen karena terdapat lisozim pada air mata yang merupakan enzim yang mampu menghancurkan dinding bakteri. Saliva juga mempunyai enzim lisozim ini untuk menghancurkan bakteri. Mukosa berperan dalam hal mencegah invasi mikroba ke epitel dan jaringan sekitar bahkan sistemik. Bakteri mikroba yang terperangkap dalam mukosa akan dikeluarkan melalui silia dari epitel dalam bentuk batuk (pada saluran pernapasan) atau dengan aliran urine (pada saluran genitourinaria).1Faktor pertahanan pertama selanjutnya adalah faktor kimia. Yang termasuk di dalamnya adalah Sebum, lisozim dan pH. Lisozim telah dijelaskan di atas. Cairan sebum mengandung asam lemak tak jenuh yang dapat menghambat pertumbuhan bakteri patogen. pH juga berperan dalam imunitas karena kebanyakan mikroba tidak tahan terhadap asam contohnya asam lambung (pH 1.2 - 3.0). Faktor yang terakhir adalah flora normal, sebenarnya pada tubuh manusia terdapat banyak mikroba normal yang membantu fungsi fisiologis manusia. Contoh mikroba normal adalahE. colipada colon yang berperan dalam pembusukan sisa makanan. Peran mikroba normal (flora normal) dalam imunitas adalah, dalam hal kompetisi nutrisi dengan mikroba patogen. Flora normal akan beerkompetisi dalam perolehan nutrisi dengan bakteri patogen. Flora normal juga mengeluarkan zat metabolit yang dapat menghambat pertumbuhan mikroba patogen.1b. Pertahanan kedua1Pertahanan kedua ini meliputi fagosit, inflamasi demam dan substansi antimikroba.a) FagositFagosit adalah sel yang mengeliminasi mikroba dengan cara 'memakan' mikroba tersebut secara endositosis, mikroba tersebut terperangkap dalam fagosom, setelah itu fagosom berfusi dengan lisosom membentuk fagolisosom kemudian enzim-enzim dari lisosom akan menghancurkan mikroba tersebut.1Fagositberarti sel yang dapat memakan atau menelan material padat. Sel imun ini menelan pathogen atau partikel secarafagositosis. Untuk menelan partikel atau patogen, fagosit memperluas bagian membran plasma, membungkus membran di sekeliling partikel hingga terbungkus. Sekali berada di dalam sel, patogen yang menginvasi disimpan di dalamendosomyang lalu bersatu denganlisosom. Lisosom mengandungenzimdan asam yang membunuh dan mencerna partikel atau organisme. Fagosit umumnya berkeliling dalam tubuh untuk mencari patogen, namun mereka juga bereaksi terhadap sinyal molekuler terspesialisasi yang diproduksi oleh sel lain, disebut sitokin.Sitokin adalah polipeptida yang memiliki fungsi penting dalam regulasi semua fungsi sistem imun. Sitokin berperan dalam menentukan respon imun alamiah dengan cara mengatur atau mengontrol perkembangan, differensiasi, aktifasi, lalulintas sel imun, dan lokasi sel imun dalam organ limfoid. Sitokin merupakan suatu kelompokmessenger intrasel yang berperan dalam proses inflamasi melalui aktifasi sel imun inang. Sitokin Juga memainkan peran penting dalam atraksi leukosit dengan menginduksi produksi kemokin, yang kita kenal sebagai mediator poten untuk inflamasi sel. Sitokin dan kemokin menghasilkan hubungan kompleks yang dapat mengaktifkan atau menekan respon inflamasi. Beberapa sel fagosit bisa menjadi sel penyaji antigen (Antigen Presenting Cell / APC).Yang termasuk sel fagosit adalah makrofag, sel dendrit, neutrofil.1a) MakrofagMakrofag adalah leukosit fagositik yang besar, yang mampu bergerak hingga keluar system vaskuler dengan menyebrang membran sel daripembuluh kapilerdan memasuki area antara sel yang sedang diincar oleh patogen. Di jaringan, makrofaga organ-spesifik terdiferensiasi dari sel fagositik yang ada di darah yang disebutmonosit. Makrofaga adalah fagosit yang paling efisien, dan bisa mencerna sejumlah besar bakteri atau sel lainnya. Pengikatan molekul bakteri ke reseptor permukaan makrofaga memicu proses penelanan d