laporan akhir analisis .merah, cabai merah besar/keriting, dan cabai rawit merah), pemerintah...

Download LAPORAN AKHIR ANALISIS .merah, cabai merah besar/keriting, dan cabai rawit merah), pemerintah menetapkan

Post on 14-Mar-2019

219 views

Category:

Documents

0 download

Embed Size (px)

TRANSCRIPT

LAPORAN AKHIR ANALISIS KEBIJAKAN

STABILISASI HARGA BAWANG MERAH DAN CABAI MERAH

Oleh:

Bambang Sayaka

Kurnia Suci Indraningsih Arief Iswariyadi

Amar K. Zakaria

PUSAT SOSIAL EKONOMI DAN KEBIJAKAN PERTANIAN

BADAN PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN PERTANIAN KEMENTERIAN PERTANIAN

2014

1

PENDAHULUAN

Latar Belakang

Komoditas bawang merah dan cabai merah diproduksi dalam jumlah memadai

dibandingkan permintaan yang ada. Bawang merah sebagian besar diproduksi di

dataran rendah, sedangkan cabai merah diproduksi sebagain besar diataran menegah

hingga dataran tinggi. Produksi berlimpah kedua komoditas tersebut pada musim

panen menyebabkan harga turun di tingkat petani maupun eceran. Pada luar musim

panen menyebabkan harga melonjak sangat tinggi. Fluktuasi harga ini antar lain

dipicu oleh pola produksi yang hampir bersamaan pada musim panen disebagian

besar daerah penghasil kedua komoditas ini. Kelebihan suplai ketika panen raya tidak

diatasi melalui eskpor atau pengolahan. Penduduk umumnya mengkonsumsi kedua

komoditas ini dalam bentuk segar.

Harga bawang merah secara nasional selama periode Oktober 2012 hingga

Oktober 2013 memiliki keragaman 45,94 persen. Keragaman harga antar wilayah

pada periode yang sama adalah 23,36 persen (Kementerian Perdagangan, 2013).

Fluktuasi harga cabai terjadi antar waktu maupun antar daerah. Misalnya, menurut

laporan Kementerian Perdagangan (2012) sejak Desember 2011 hingga Desember

2012 harga cabai secara nasional cenderung berfluktuasi dengan koefisien

keragaman harga sebesar 15,52 persen. Fluktuasi harga cabai antar wilayah pada

periode yang sama adalah 34,29 persen.

Permentan No. 86/2013 tentang Rekomendasi Impor Produk Hortikultura

(RIPH) dan Permendag No. 16/2013 tentang Ketentuan Impor Produk Hortikultura

(KIPH) mengatur tentang stabilisasi harga bawang merah dan cabai merah, yaitu

dengan penetapan harga referensi. Referensi harga cabai dan bawang merah

ditetapkan berdasarkan Keputusan Direktur Jenderal Perdagangan Dalam Negeri

Nomor 118/PDN/KEP10/2013 tentang Penetapan Harga Referensi Produk Hortikultura

pada tanggal 3 Oktober 2013. Harga referensi bawang merah adalah sebesar Rp

25.700 per kg dengan memperhitungkan biaya balik modal atau break even point

(BEP) ditambah keuntungan 40 persen. Harga referensi cabai merah dan cabai

2

keriting ditetapkan sebesar Rp 26.300 per kg. Harga referensi cabai rawit adalah Rp

28.000 per kg. Impor bawang merah, cabai merah, cabai keriting, dan cabai rawit

akan diijinkan jika harga eceran sudah melampaui harga referensi masing-masing.

Referensi harga bawang merah dan cabai merupakan upaya untuk melindungi

konsumen, yaitu jika harga dianggap terlalu mahal maka diijinkan impor untuk

menekan harga di pasar domestik. Hal ini bisa dimengerti karena pada bulan-bulan

tertentu harga bawang merah maupun cabai merah di pasar dalam negeri menjadi

sangat mahal dan membebani konsumen. Sebaliknya, jika harga kedua komoditas di

pasar domestik terlalu rendah dan merugikan petani, tidak ada upaya pemerintah

untuk mengatasi hal ini. Seharusnya pemerintah bersikap adil dengan upaya

melindungi petani sehingga usahatani menguntungkan tetapi tidak membebani

konsumen.

Penelitian ini dilakukan untuk menganalisis fluktuasi harga bawang merah dan

cabai merah serta mengusulkan cara-cara untuk menstabilkan harga kedua

komoditas tersebut. Diharapkan upaya yang ditempuh pemerintah dalam

menstabilkan harga bukan penyelesaian jangka pendek tetapi jangka panjang dan

berkelanjutan.

Tujuan

Secara umum kajian ini untuk menganalisis cara melakukan stabilisasi harga

bawang merah dan cabai merah. Secara khusus kajian ini akan melakukan: (a)

analisis kebijakan pengendalian harga cabai dan bawang merah; (b) analisis harga

bawang merah dan cabai merah di tingkat produsen dan konsumen; (b) analisis

suplai bawang merah dan cabai merah dari dalam negeri; (c) kajian permintaan

domestik untuk bawang merah dan cabai merah; (d) usulan kebijakan untuk

stabilisasi harga bawang merah dan cabai merah.

3

METODOLOGI

Data yang digunakan dalam kajian ini berasal dari berbagi sumber, yaitu lain

Badan Pusat Statistik (BPS), Ditjen Pengolahan dan Pemasaran Hasil pertanian

(P2HP), dan Kementerian Perdagangan. Disamping itu informasi tentang perilaku

harga kedua komoditas tersebut juga diperoleh dari petani, pedagang, pengecer, dan

Dinas Pertanian di Provinsi maupun Kabupaten.

Penelitian dilakukan di Provinsi Jawa Barat (Kabupaten Garut untuk cabai

merah dan Kabupaten Majalengka untuk bawang merah) untuk mendapatkan

informasi langsung. Data sekunder tentang harga dan produksi bawang merah dan

cabai merah akan dikumpulkan dari berbagai instansi di Jakarta dan daerah

penelitian.

HASIL DAN PEMBAHASAN

Kebijakan Pemerintah untuk Pengendalian Harga Cabai dan Bawang Merah

Peraturan Menteri Pertanian (Permentan) No. 47/OT.140/4/2013 tentang

Rekomendasi Impor Produk Hortikultura (RIPH) diterbitkan sebagai penyempurnaan

Permentan sebelumnya (No.60/OT.140/9/2012). Permentan No. 60/2012 direvisi

karena ada berbagai klausul yang bertentangan dengan aturan WTO. Permentan

60/2012 secara eksplisit tidak menyebut untuk melindungi kepentingan nasional,

khususnya petani hortikultura, tetapi untuk memberi kepastian layanan bagi calon

importir produk hortikultura (Pasal 2 dan 3). Pasal 7 (a), (b), (c), (d), dan (e) tentang

impor yang dikaitkan dengan produksi produk sejenis di dalam negeri, konsumsi

domestik, ketersedian produk di dalam negeri, potensi mendistorsi pasar, dan waktu

panen. Alasan perubahan pasal-pasal tersebut adalah pada WTO Agreement on

Agriculture, Article 4 (1 & 2): semua impor (akses pasar) tidak boleh dilarang,

pembatasan impor harus menggunakan hambatan tarif atau tariff barrier (pajak

impor). Impor bisa dilarang jika ada pertimbangan Sanitary and Phytosanitary, Anti-

Dumping, Tariff Rate Quota (TRQ), dan Special Safeguard (SSG). Disamping itu TRQ

4

(tariff rate quota), yaitu tarif berbeda diatas 3-5 persen dari konsumsi nasional untuk

Indonesia, hanya berlaku untuk beras dan susu. SSG hanya berlaku untuk susu dan

cengkeh (12 pos tarif untuk susu dan 1 pos tarif untuk cengkeh). SSG bisa

diberlakukan jika terjadi distorsi pasar domestik (injury) karena volume impor produk

tersebut sangat banyak sehingga menekan harga produk sejenis di dalam negeri dan

secara ekonomi merugikan petani.

Permentan No. 47/2013 direvisi lagi pada tanggal 30 Agustus 2013 menjadi

Permentan No. 86/2013. RIPH yang baru ini memuat keputusan yang sama dengan

RIPH sebelumnya tentang jenis sayur dan buah yang impornya diatur, yaitu 5 jenis

sayuran (kentang, bawang merah, bawang bombay, wortel, cabai) dan 10 jenis buah

(pisang, nanas, mangga, jeruk, anggur, melon, pepaya, durian, apel, dan lengkeng).

Perbedaan RIPH yang baru dengan sebelumnya adalah adanya penetapan harga

referensi untuk impor cabai dan bawang merah yang akan ditetapkan oleh Menteri

Perdagangan (pasal 5 ayat 4). Referensi harga cabai dan bawang merah ditetapkan

berdasarkan Keputusan Direktur Jenderal Perdagangan Dalam Negeri Nomor

118/PDN/KEP10/2013 tentang Penetapan Harga Referensi Produk Hortikultura pada

tanggal 3 Oktober 2013.

Secara spesifik penentuan harga refenrensi untuk cabai dan bawnag merah

adalah dnegan pertimbagan sebagai berikut:

a. Dalam menjaga stabilisasi pasokan dan harga produk hortikultura (bawang

merah, cabai merah besar/keriting, dan cabai rawit merah), pemerintah

menetapkan kebijakan Harga Referensi, sebagaimana diatur dalam Permendag

No. 16/2013 Jo Permendag No. 47/2013.

b. Harga Referensi Produk Hortikultura merupakan harga acuan impor untuk

menjaga stabilitas pasokan dan harga di konsumen pada tingkat wajar dengan

tetap mempertimbangkan kepentingan petani.

c. Melalui Keputusan Dirjen PDN No. 118/PDK/KEP/10/2013 tanggal 3 Oktober

2013, Harga Referensi bawang merah, cabai merah besar/keriting, dan cabai

5

rawit merah ditetapkan masing-masing sebesar Rp 25.700/kg,

Rp 26.300/ kg, dan Rp 28.000/kg.

Harga referensi ini sejak ditetapkan hingga akhir tahun 2014 belum pernah

direvisi mengingat masih relevan. Walaupun demikian harga ini adalah untuk

melindungi konsumen yaitu akan dilakukan impor jika harga relatif tinggi. Jika harga

terlalu rendah sama sekali petani tidak mendapat perlindungan sehingga kadang-

kadang terjadi kerugian karena harga jual petani lebih rendah dari biaya produksi.

Bersamaan dengan peraturan ini, pengaturan tempat pendaratan buah dan

sayuran impor sesuai dengan Permentan No. 42/OT.140/6/2012 mulai berlaku pada

19 Juni 2012 di empat pelabuhan laut utama dan satu bandara internasional.

Keadaan ini di satu pihak akan semakin menyulitkan importir dengan konsekuensi

kegiatan ekonomi dan bisnisnya, namun di pihak lain pemerintah akan lebih mudah

melakukan pengendalian. Disamping itu juga ditetapk

Recommended

View more >