definisi ar ra'yu

Download Definisi Ar Ra'Yu

Post on 10-Jul-2015

4.336 views

Category:

Documents

16 download

Embed Size (px)

TRANSCRIPT

BAB I PENDAHULUAN1.1

LATAR BELAKANGKata ar-rayu yang berarti kebebasan pemikiran, cenderung berkonotasi pada

rasionalitas ijtihad terhadap penafsiran al-Quran. Al-Quran dianggap sebagai teks fleksibel yang memberi ruang gerak secara bebas bagi mufassir untuk menentukan dan memberi penafsiran sesuai dengan kepentingannya. Sehingga perlu adanya syarat-syarat tertentu yang membatasi pengertian Tafsir bi ar-rayi terutama dalam aplikasinya. Ijtihad yang dimaksud adalah berdasarkan dasar-dasar yang benar dan kaidah-kaidah yang lurus. Jadi, tafsir bi ra'yi bukanlah sekedar berdasarkan pendapat atau terlintas dalam fikiran seseorang. Sebagaimana yang diriwayatkan at-Turmudzi, bahwa; "Barang siapa menafsirkan al-Quran dengan tanpa berdasarkan pengetahuan (al-ilmu), maka neraka adalah tempatnya. Al-Qurthubi berkata: "Barangsiapa berkata tentang Al-Qur'an (menafsirkannya) dengan suatu dugaan atau gagasan yang terlintas dalam fikirannya, tanpa adanya dasar-dasar yang kuat, maka ia salah dan tercela. Dan dia termasuk dalam golongan orang yang disebut dalam sebuah hadits yang berbunyi: "Barangsiapa dengan sengaja berbohong atas namaku, maka ambillah tempat duduknya di neraka (HR. Tirmidzi dari Ibnu Abbas). Orang yang intens mendalami sumber-sumber tafsir Al-Quran akan menjumpai bahwa salah satu sumber tafsir adalah (tafsir) ar-rayu, yaitu apa yang disebut dengan ijtihad dalam tafsir. Ini muncul karena al-Quran itu diturunkan dengan menggunakan bahasa Arab. Karena itu, untuk mengetahui maksud dan makna-maknanya secara benar, seorang ahli tafsir harus mengetahui kata-kata bahasa Arab; seluk-beluk percakapan bahasa Arab terdahulu; berbagai ungkapan Arab dan makna-maknanya dengan cara memahami teks-teks yang ada seperti percakapan-percakapan yang ada dalam syair jahiliah, prosa, dan lain-lain; juga sebab-sebab turunnya ayat. Ahli tafsir memerlukan sarana-sarana tersebut untuk menafsirkan ayat-ayat al-Quran sesuai dengan pemahaman dan ijtihadnya. ide semata, atau hanya ekedar gagasan yang

1

Jadi, yang dimaksud dengan tafsir bi ar-rayi bukan berarti menafsirkan ayat dengan menggunakan akal seluas-luasnya, tetapi tafsir yang didasarkan pada pendapat yang mengikuti kaidah-kaidah bahasa Arab yang bersandar pada sastra jahiliah berupa syair, prosa, tradisi bangsa Arab, dan ekspresi percakapan mereka serta pada berbagai peristiwa yang terjadi pada masa Rasul; menyangkut perjuangan, perlawanan, pertikaian, hijrah, dan peperangan yang beliau lakukan; juga menyangkut berbagai fitnah yang pernah terjadi dan hal-hal yang terjadi saat itu, yang mengharuskan adanya hukum-hukum dan diturunkannya (ayat-ayat) al-Quran. Dengan demikian, tafsir bi ar-rayi adalah tafsir dengan cara memahami berbagai kalimat al-Quran melalui pemahaman terhadap madll (pengertian)-nya, yang ditunjukkan oleh berbagai informasi yang dimiliki seorang ahli tafsir seperti bahasa dan berbagai peristiwa

1.2

TUJUAN PENULISAN

Adapun tujuan dari penulisan makalah ini adalah: 1. Menjelaskan tentang arti ar-royu secara istilah dan bahasa. 2. Menerangkan makna ar-royu yang sebenarnya menurut hadist dan pendapat para sahabat. 3. Menjelaskan perbedaan antara ar-royu dan pendapat.

2

BAB II PEMBAHASAN

A. Definisi Ar-RayuSumber ajaran Islam dirumuskan dengan jelas yakni terdiri dari tiga sumber yaitu Al-Quran, dan rayu atau akal pikiran manusia yang memenuhi syarat untuk berijtihad. Al-Quran adalah sumber agama (juga ajaran) islam yang pertama dan utama. Secara etimologis, Al-Quran berasal dari kata qaraa, yaqrau, qiraaatan atau quraanan yang berarti mengumpulkan dan menghimpun. As-Sunnah atau Hadits adalah sumber agama (juga ajaran) islam yang kedua setelah Al-Quran. Sunnah menurut istilah syari adalah sesuatu yang berasal dari Rasulullah Saw. baik berupa perkataan, perbuatan, dan penetapan pengakuan. Sunnah berfungsi sebagai penjelas ayat-ayat Al-Quran yang kurang jelas atau sebagai penentu beberapa hukum yang tidak terdapat dalam Al-Quran. Ar-Rayu dipakai apabila ada suatu masalah yang hukumnya tidak terdapat di Al Quran maupun Haditst, maka diperintahkan untuk berijtihad dengan menggunakan akal pikiran dengan tetap mengacu kepada Al Quran dan Hadits Menurut bahasa Ar Rayu artinya, pemahaman dan akal budi. Manusia dikaruniai Allah dengan diberikan akal budi, karena hanya satu-satunya makhluk yang mempunyai akal. Dengan akal itulah manusia wajib berpikir tentang segala sesuatu, termasuk berpikir tentang persoalan hukum yang tidak terdapat dalam nas Al Quran dan As Sunnah. Kata ar-rayu (pendapat, opini, pikiran) sering dipakai dalam penafsiran ayat-ayat al-Quran atau dalam aktivitas ijtihad untuk menggali hukum-hukum syariat atas berbagai perkara yang dihadapi oleh kaum Muslim. Dalam perkembangannya dewasa ini, penggunaannya kata ar-rayu semakin melebar dan menyimpang dari maksud penggunaannya pada masa lalu. Di samping dalam tafsir, kata ar-rayu juga digunakan dalam ijtihad. Sebagian mujtahid mengikatkan diri dengan pemahaman ibarat (ungkapan) yang terdapat dalam nash syariat dan selalu berhenti pada batasan makna-makna yang ditunjukkannya. Mereka mengaitkannya dengan makna-makna tersebut. Mereka disebut dengan ahl al3

hadts (ahli hadis). Sebagian lainnya melihat apa yang ditunjukkan oleh ungkapan yang terdapat dalam nash, yakni berupa makna-makna yang dapat dijangkau oleh akal sebagai tambahan atas makna-makna kata. Mereka disebut dengan ahl ar-rayi. Secara umum, para mujtahid terbagi menjadi dua bagian ahl al-hadts dan ahl arrayi. Pembagian ini bukan berarti bahwa ahl ar-rayi tidak mau mengambil hadis sebagai sumber tasyr (legislasi hukum). Demikian pula sebaliknya; bukan berarti bahwa ahli hadis tidak mau mengambil ar-rayu sebagai sumber dalam tasyr mereka. Semuanya mengambil hadis dan rayu karena mereka sepakat bahwa hadis adalah hujjah syar, sementara ijtihad didasarkan pada ar-rayu yang diperoleh dengan cara memahami maksud nash. Para intelektual Muslim saat ini memaknai ar-rayu sebagai penggunaan akal secara bebas dan luas sehingga akal dipandang boleh menafsirkan ayat-ayat al-Quran sekehendaknya dan seluas-luasnya. Begitu pula dalam aktivitas penggalian hukum (ijtihad dan istinbth); akal sering secara bebas mengeluarkan dan menghasilkan produkproduk hukum yang amat ganjil dan menyimpang. Mereka berdalih bahwa Allah Swt. telah menciptakan untuk manusia akal, sementara salah satu fungsi akal adalah bebas dalam menafsirkan dan mengeluarkan hukum. Dengan berani sebagian mereka malah mengatakan bahwa al-Quran perlu ditafsirkan secara bebas, karena al-Quran diturunkan 15 abad lalu yang latar belakang masyarakatnya berbeda dengan masa sekarang Ar-Rayu terbagi menjadi 6 macam yaitu : Ijma, Qiyas, Istihsan, Mushalat Murshalah, Sududz Dzariah, Istishab dan Urf.

1.

Ijma

Menurut bahasa, ijma memiliki dua pengertian. Pertama, berupaya (tekad) terhadap sesuatu. disebutkan berarti berupaya di atasnya. Sebagaimana firman Allah Swt: Karena itu bulatkanlah keputusanmu dan (kumpulkanlah) sekutu-sekutumu. (Qs.10:71)4

Pengertian kedua, ijma berarti kesepakatan. Perbedaan pengertian yang pertama dengan yang kedua ini bahwa pengertian pertama berlaku untuk satu orang dan pengertian kedua berlaku untuk lebih dari satu orang. Ijma dalam istilah ahli ushul adalah kesepakatan semua para mujtahid dari kaum muslimin dalam suatu masa setelah wafat Rasul Saw atas hukum syara. Adapun rukun ijma dalam definisi di atas adalah adanya kesepakatan para mujtahid kaum muslimin dalam suatu masa atas hukum syara .Kesepakatan itu dapat dikelompokan menjadi empat hal: a. Tidak cukup ijma dikeluarkan oleh seorang mujtahid Apabila keberadaanya hanya seorang (mujtahid) saja di suatu masa. Karena kesepakatan dilakukan lebih dari satu orang, pendapatnya disepakati antara satu dengan yang lain. b. Adanya kesepakatan sesama para mujtahid atas hukum syara dalam suatu masalah, dengan melihat negeri, jenis dan kelompok mereka. Andai yang disepakati atas hukum syara hanya para mujtahid haramain, para mujtahid Irak saja, Hijaz saja, mujtahid ahlu Sunnah, Mujtahid ahli Syiah, maka secara syara kesepakatan khusus ini tidak disebut Ijma. Karena ijma tidak terbentuk kecuali dengan kesepakatan umum dari seluruh mujtahid di dunia Islam dalam suatu masa. c. Hendaknya kesepakatan mereka dimulai setiap pendapat salah seorang mereka dengan pendapat yang jelas apakah dengan dalam bentuk perkataan, fatwa atau perbuatan. d. Kesepakatan itu terwujudkan atas hukum kepada semua para mujtahid. Jika sebagian besar mereka sepakat maka tidak membatalkan kesepakatan yang banyak secara ijma sekalipun jumlah yang berbeda sedikit dan jumlah yang sepakat lebih banyak maka tidak menjadikan kesepakatan yang banyak itu hujjah syari yang pasti dan mengikat.5

Apabila rukun ijma yang empat hal di atas telah terpenuhi dengan menghitung seluruh permasalahan hukum pasca kematian Nabi Saw dari seluruh mujtahid kaum muslimin walau dengan perbedaan negeri, jenis dan kelompok mereka yang diketahui hukumnya. Perihal ini, nampak setiap mujtahid mengemukakan pendapat hukumnya dengan jelas baik dengan perkataan maupun perbuatan baik secara kolompok maupun individu. Selanjutnya mereka mensepakati masalah hukum tersebut, kemudian hukum itu disepakati menjadi aturan syari yang wajib diikuti dan tidak mungkin menghindarinya. Lebih lanjut, para mujtahid tidak boleh menjadikan hukum masalah ini (yang sudah disepakati) garapan ijtihad, karena hukumnya sudah ditetapkan secara ijma dengan hukum syari yang qathi dan tidak dapat dihapus (dinasakh).

2. QiyasMenurut ulama ushul, qiyas adalah menerangkan sesuatu yang tidak ada nashnya dalam Al Quran dan hadits dengan cara membandingkan dengan sesuatu yang ditetapkan hukumnya berdasarkan nash. Dalam definisi lain, Qiyas adalah menyamakan sesuatu yang tidak ada nash hukumnya dengan sesuatu yang ada nash hukumnya karena adanya persamaan illat hukum. Dengan demikian qiyas itu penerapan hukum anal