cr kpd abdul moeluk

Download Cr Kpd Abdul Moeluk

Post on 12-Jan-2016

222 views

Category:

Documents

0 download

Embed Size (px)

DESCRIPTION

ddededddd

TRANSCRIPT

CASE REPORTG3P2A0 HAMIL 34 MINGGU TUNGGAL HIDUP PRESENTASI BOKONG BELUM INPARTU DENGAN KETUBAN PECAH DINI JANIN

OlehRizqun Nisa Afriyanti 1118011113

Preceptordr. Ratna Dewi PS Sp.OG

SMF OBSTETRI DAN GINEKOLOGIFAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS LAMPUNGRUMAH SAKIT UMUM DAERAH ABDOEL MOELOEK2015STATUS PASIEN

I. IDENTITASNama: Ny. HerlinaUsia: 20 tahunSuku: LampungJenis kelamin: PerempuanPekerjaan: Ibu Rumah TanggaStatus: MenikahAgama: IslamAlamat: Gg. Fayakun, Garuntang, Bandar LampungTanggal MRS: 12 Maret 2015, Pkl. 03.30 WIB

II. ANAMNESA1. Keluhan UtamaKeluar air air dari kemaluan sejak 1 hari yang lalu.Riwayat Penyakit Sekarang 14 jam SMRS Os mengeluh keluar air air dari kemaluan bewarna jernih dan tidak berbau, perut mulas menjalar ke pinggang (-) , keluar darah dan dan lendir (-), R/ keputihan (+), R/ trauma (-), R/ post coitus (-), os ke bidan lalu di rujuk ke puskesmas di dapatkan hasil USG cairan ketuban sedikit lalu os dirujuk ke RSAM ,os mengaku hamil cukup bulan , gerakan janin masih di rasakan Riwayat HaidMenarche: 13 thnSiklus haid: teratur Lamanya: 5 hariBanyaknya: 3x/hari ganti balutanWarnanya: merahBaunya: -Dismenorrea: -HPHT: 21 Juli 2014

2. Riwayat PerkawinanPernikahan yang pertama dan sudah berlangsung 11 tahun.3. Riwayat Kehamilan-Persalinan-Nifas Terdahulu NoTahun PersalinanTempat PertolonganUsia KehamilanJenisPersalinanPenolongPenyulitAnak

JKBBKeadaan

16-6-2005bidan9 bulanSpontanBidan-2500sehat

223-9-2009bidan9 bulanSpontanBidan-3500sehat

3Hamil ini

4. Riwayat Penyakit DahuluPasien tidak menderita penyakit darah tinggi, penyakit jantung, penyakit asma. Ginjal, kencing manis.5. Riwayat Penyakit Keluargakeluarga tidak memiliki riwayat penyakit6. Riwayat OperasiTidak pernah 7. Riwayat Kontrasepsi Pasien menggunakan pil kontrasepsi KB sejak 2009-2014

III. PEMERIKSAAN FISIKA. Status PresentKeadaan Umum: BaikKesadaran: Compos mentisTekanan darah: 100/60 mmHgNadi : 84 x/menitPernafasan: 20 x/menitSuhu: 36,5CB. Status Generalis Kulit: turgor baikMata: Konjungtiva anemis (-/-)Mulut: Karies (-)Thoraks: Mammae dalam batas normal.Jantung: Bunyi jantung I-II, regular, murmur (-), gallop (-), HR 84 x/mntParu: sonor, vesikuler, ronki -/-, wheezing -/-Abdomen: Inspeksi : perut Cembung Palpasi : Nyeri tekan abdomen (-) Perkusi : Timpani (+) Auskultasi : Bising usus (+)Extremitas: Edema (-/-)C. Status ObsitetriPemeriksaan LuarAbdomen: cembung (+), striae gravidarum (+), chloasma gravidarum (+), Leopold I:FUT 3 jbpx (32 cm) presentasi kepalaLeopold II:punggung kiri , letak memanjang Leopold III:presentasi bokong , belum masuk pintu atas panggulLeopold IV:konvergen, penurunan 5/5 His : - DJJ :158 x/menit Ketuban: (+)Gerakan janin: (+)Pemeriksaan InspekuloPorsio: livideOUE: tertutupFlour: negatifFluxus: negatifErosi: negatifLaserasi: negatifPolip: negatifPemeriksaan Vaginal ToucherPembukaan : kuncupPendataraan serviks : 0 %Penurunan kepala : 5/5Konsisten serviks :lunakPosisi serviks : medial

IV. PEMERIKSAAN PENUNJANGLaboratorium ( 13 Maret 2015 pukul 02.00 WIB )

Hb: 12,2 g/dl ( 12-16,5 g/dl) Hematokrit: 37% (37- 48 %)LED: 20 mm/jam (< 20 mm/jam)Leukosit: 7500/ul ( 5000-10000/ul)Trombosit : 334.000/ul (150-450rb/uL)SGOT: 21 U/L ( 6 cm maka prognosis pasien baik.

Pencegahan keganasaan :Histerektomi dianjurkan pada penderita yang berumur 35 tahun keatas atau lebih, yang telah mempunyai cukup anak. Pada pasien ini seharusnya dianjurkan, karena pasien telah berumur 48 dan telah mempunyai cukup anak.

MOLA HIDATIDOSA

Mola Hidatidosa adalah penyakit yang berasal dari jaringan trofoblast yang bersifat jinak dimana pertumbuhan/proliferasi sel-sel trofoblast yang berlebihan dengan stroma mengalami degenerasi hidropik (terutama sinsitiotrofoblast), villi choriales (jonjot-jonjot chorion) tumbuh berganda berbentuk gelembung kecil berisi cairan jernih (asam amino, mineral) menyerupai buah anggur sehingga penderita sering dikatakan hamil anggur.Mola Hidatidosa merupakan suatu penyakit trofoblastik yang angka kejadiannya termasuk tinggi di Indonesia maupun di Dunia. Prevalensi molla hidatidosa lebih tinggi di Asia, Afrika dan Amerika Latin di bandingkan dengan negara-negara barat. Molla hidatidosa terjadi pada 1 dari sekitar 2000 kehamilan di Amerika Serikat dan Eropa, tetapi kejadian ini jauh lebih sering dijumpai di negara-negara lain, khusunya di kawasan Asia dimana frekuensinya paling sedikit sepuluh kali lebih tinggi daripada di Amerika Serikat (satu dari sekitar 120 kehamilan). Insidensi yang tinggi juga ditemukan di Meksiko dan di antara penduduk pribumi Alaska.Berbagai macam faktor resiko yang mendukung terjadinya molla hidatidosa ini. Pada multiparitas lebih sering ditemukan adanya molla hidatidosa, jadi dengan meningkatnya paritas kemungkinan mendapatkan molla hidatidosa akan lebih besar, begitu juga faktor sosial ekonomi kemungkinan mempengaruhi terjadinya molla hidatidosa disamping juga faktor usia.Menjelang awal atau akhir reproduksi seorang wanita terdapat frekuensi mola hidatidosa yang relatif tinggi dalam kehamilan. Efek usia yang paling menonjol terlihat pada wanita yang umurnya melebihi 40 tahun, yaitu frekuensi relatif kelainan tersebut 10 kali lebih besar dibandingkan pada usia 20 sampai 40 tahun. Ada sejumlah kasus otentik mola hidatidosa pada para wanita yang umurnya 50 tahun atau lebih, sedangkan kehamilan normal pada usia lanjut seperti itu praktis tidak diketahui.Mola hidatidosa merupakan suatu penyakit trofoblast yang bersifat jinak dan mempunyai kemungkinan 18-20% menjadi ganas. Tumor ini ada yang kadang-kadang masih mengandung villus di samping trofoblast yang berproliferasi, dapat mengadakan invasi yang umumnya bersifat lokal, dan dinamakan molla destruens (invasive mole, penyakit trofoblast ganas jenis fillosum). Selain itu terdapat pula tumor trofoblast yang hanya terdiri atas sel-sel trofoblast tanpa stroma, yang umumnya tidak hanya berinvasi di otot uterus tetapi menyebar ke alat-alat lain (koriokarsinoma, penyakit trofoblast ganas non villosum). Oleh karena itu setelah diagnosis ditegakkan maka molla hidatidosa harus segera digugurkan. Mola hidatidosa merupakan penyakit trofoblast jinak yang angka kejadiannya di Indonesia maupun di Dunia termasuk tinggi, untuk itu perlu diketahui faktor-faktor resiko yang mempengaruhi tingginya angka kejadian molla tersebut untuk upaya prevensi maupun diagnosis dini guna mencegah komplikasi, sehingga terwujud suatu penatalaksanaan molla hidatidosa yang benar.

EpidemiologiPenyakit trofoblast ini, baik dalam bentuk jinak atau ganas, banyak ditemukan di negara Asia dan Mexico, sedangkan di negara Barat lebih jarang. Angka di Indonesia umumnya berupa angka rumah sakit, untuk molla hidatidosa berkisar antara 1 : 50 sampai 1 : 141 kehamilan, sedangkan untuk koriokarsinoma 1 : 297 sampai 1: 1035 kehamilan. Di negara-negara barat kejadian molla dilaporkan 1 dari 2000 kehamilan, sedangkan di negara-negara berkembang 1 dari 120 kehamilan. Dibawah ini ada beberapa penelitian yang paling tidak dapat menjadi gambaran angka kejadian molla di Indonesia, diantaranya adalah: Soejoenoes dkk. 1967 1 : 85 kehamilan Di RSCM (Jakarta) 1 : 31 persalinan dan 1 : 49 kehamilan Luat .A. Siregar 1982 (Medan) 1 16 : 100 kehamilan Soetomo (Surabaya) 1 : 80 persalinan Djamhoer Martadisoebrata (Bandung) 9 21 : 1000 kehamilan Laksmi dkk. (Malang) 2,47 : 1000 atau 1 : 405 persalinanAngka-angka ini jauh lebih tinggi daripada negara-negara Barat, dimana insidensinya berkisar 1 : 1000 sampai 1 : 2500 kehamilan untuk molla hidatidosa, 1 : 40 000 untuk koriokarsinoma.Angka kejadian molla di negara lain misalnya : - USA 1 : 2000 kehamilan - Hongkong 1 : 530 kehamilan - Taiwan 1: 125 kehamilan

Molla parsialis lebih jarang lagi ditemukan. Menurut Khoo (1966) insidensinya berkisar antara 1 : 10.000 1 : 100.000 kehamilan.

Etiologi Walaupun penyakit ini sudah dikenal sejak abad keenam, tetapi sampai sekarang belum diketahui dengan pasti penyebabnya. Berbagai teori telah dianjurkan, misalnya teori infeksi, defisiensi makanan, terutama protein tinggi dan teori kebangsaan. Ada pula teori consanguinity. Teori yang paling cocok dengan keadaan adalah teori dari Acosta Sison, yaitu defisiensi protein, karena kenyataan membuktikan bahwa penyakit ini lebih banyak ditemukan pada wanita dari golongan sosio ekonomi rendah. Akhir-akhir ini dianggap bahwa kelainan tersebut terjadi karena pembuahan sel telur dimana intinya telah hilang atau tidak aktif lagi oleh sebuah sel sperma yang mengandung 23 X (haploid) kromosom, kemudian membelah menjadi 46 XX, sehingga molla hidatidosa bersifat homozigote, wanita dan androgenesis. Kadang-kadang terjadi pembuahan oleh 2 sperma, sehingga terjadi 46 XX atau 46 XY. Secara ringkas faktor-faktor yang dapat menyebabkan terjadinya molla hidatidosa antara lain adalah :1. Multiparitas2. Faktor ovum (ovum mati) : ovum memang sudah patologik, tetapi terlambat dikeluarkan3. Imunoselektif dari trofoblast 4. Infeksi virus5. Kelainan kromosom yang belum jelas6. Kekurangan protein 7. Keadaan sosial ekonomi yang rendah

Klasifikasi Pengklasifikasian molla hidatidosa didasarkan ada tidaknya jaringan janin dalam uterus. Pengklasifikasian tersebut adalah :1. Molla hidatidosa komplit (klasik)Merupakan suatu kehamilan yang berkembang tidak wajar dimana tidak ditemukan janin, hampir seluruh villi korialis mengalami perubahan hidropik. Secara makroskopik ditandai dengan gelembung-gelembung putih, tembus pandang, berisi cairan jernih dengan ukuran yang bervariasi dari beberapa milimeter sampai 1-2 centimeter.Massa tersebut dapat tumbuh besar sehingga memenuhi uterus. Gambaran histologik mem