bahan sosiologi

Download bahan sosiologi

Post on 13-Jun-2015

1.260 views

Category:

Documents

5 download

Embed Size (px)

TRANSCRIPT

Kewenangan yang dimiliki oleh pemerintah bersumbar pada tiga hal, atribusi, delegasi, dan mandat. Atribusi ialah pemberian kewenangan oleh pembuat undangundang sendiri kepada suatu organ pemerintahan baik yang sudah ada maupun yang baru sama sekali. Menurut Indroharto, legislator yang kompeten untuk memberikan atribusi wewenang itu dibedakan antara :Yang berkedudukan sebagai original legislator; di negara kita di tingkat pusat adalah MPR sebagai pembantuk konstitusi (konstituante) dan DPR bersama-sama Pemerintah sebagai yang melahirkan suatu undang-undang, dan di tingkat daerah adalah DPRD dan Pemerintah Daerah yang melahirkan Peraturan Daerah;Yang bertindak sebagai delegated legislator : seperti Presiden yang berdasarkan pada suatu ketentuan undang-undang mengeluarkan Peraturan Pemerintah dimana diciptakan wewenang-wewenang pemerintahan kepada Badan atau Jabatan TUN tertentu. Sedangkan yang dimaksud delegasi adalah penyerahan wewenang yang dipunyai oleh organ pemerintahan kepada organ yang lain. Dalam delegasi mengandung suatu penyerahan, yaitu apa yang semula kewenangan si A, untuk selanjutnya menjadi kewenangan si B. Kewenangan yang telah diberikan oleh pemberi delegasi selanjutnya menjadi tanggung jawab penerima wewenang. Adapun pada mandat, di situ tidak terjadi suatu pemberian wewenang baru maupun pelimpahan wewenang dari Badan atau Pejabat TUN yang satu kepada yang lain. Tanggung jawab kewenangan atas dasar mandat masih tetap pada pemberi mandat, tidak beralih kepada penerima mandat. pendapat dari Max Weber yang menyampaikan bahwa terdapt 3(tiga) bentuk wewenang yaitu : Wewenang tradisional, karismatik dan legal rasional. Untuk melihat sumber-sumber kekuasaan yang disampaikan dalam buku ini dapat dilihat melalui tabel berikut : Sumber kekuasaan Cara memperoleh Meraih dukungan masyarakat Kekerasan Kedudukan Pewarisan Pembelian Menguasai sumber-sumber ekonomi Kekayaan Pewarisan Pemberian Kepercayaan yang ada di tengah masyarakat setempat

Kepercayaan

Dalam buku ini juga disamapaikan bagaimana kekuasaan terdistribusikan di dalam masyarakat, untuk menggambarkannya maka akan dilihat melalui tabel berikut :

Model Distribusi

Pencetus

Penjelasan Kekuasaan tidak didistribusikan secara merata Ada dua kelompok, orang yang memiliki kekusaan dan ada yang tidak Elit bersidat homogen Elit selalu berupaya menjaga kelangsungan hidupnya Hakekat elit adalah otonom Terdapat 3 (tiga) orientasi elit : pada kepentingan pribadi/golongan, liberal, counter elite. Setiap kelompok masyarakar patut diperhitungkan keberadaannya Setiap kelompok berupaya mempertahankan otonominya Kelompok kepentingan merupakan pelaku utama Tidak ada kelompok kepentingan akan selalu memperoleh apa yang dinginkannya Pemerintah bertugas mengatur dan mengawasi arena persaingan kepentingan antar kelompok Ada 2 (dua) model pluralis : budaya dan sosial Individu mempunyai hak dan harus terlibat pada pembuatan dan pelaksanaan kebijakan publik Kelompok terorganisir akan melemahkan masyarakar, sebagaimana halnya pemerintah yang juga pasti dikendalikan oleh elit tertentu Berusaha meningkatkan keterlibatan komunitas individual ketimbang organisasional Persamaan anggota masyarakat dan bukan hierarki Politik merupakan spontanitas Politik merupakan persaingan pemimpin masyarakat Persamaan sumberdaya pemerintah merupakan tanggung jawab

Mosca, Pareto, Model Elitis Dorso

Model Pluralis

Hagopian, Andrain

Model Populis

Menurut Haryanto terdapat 5 (lima) tipe atau ragam sumber daya yang dapat dipergunakan untuk mendayagunakan kekuasaan yakni : fisik, ekonomi, normatif, personal, dan akhli (infomasional). Untuk mencapai tujuan politik sesuai dengan pendapat dari Andrain bahwa tergantung pada pengorganisasian sumber daya yang dimiliki oleh seseorang. Selanjutnya pendapat Andrain yang dikutip Haryanto mengenai pendayagunnaan sumber daya perlu memperhatikan beberapa hal yaitu : Jumlah dan distribusi sumber daya, motivasi untuk mendayagunakan sumber daya (keberhasilan, ideologi), keterampilan mendayagunakan sumber daya secara effektif (watak, waktu, dan energi), cakupan kekuasaan, dan besarnya kekuasaan. Kemudian Haryanto juga

menyampaikan bahwa untuk melihat perbedaan pengaruh kekuasaan dapat dilihat melalui wilayah pengaruh dan bidang pengaruh.

Dalam kekuasaan hal terpenting yang perlu diperhatikan lainnya adalah pengakuan terhadap kekuasaan itu yang disebut dengan Legitimasi. Berikut pendapat dari beberapa akhli yang dikutip oleh Haryanto :

Tokoh Max Weber Charles Andrain F.

Teori Legitimate Domination Legitimate Teory

Keterangan Traditional, Charismatik, dan Legal Rational Traditional Legitimate, Ideologis Legitimate, Personal Legitimate, Prosedural Legitimate, Instruental Legitimate

Dengan tabel di atas dapat dilihat bahwa hampir terjadi kemiripan dari kedua teori tersebut, namun sebagaimana yang disampaikan oleh Haryanto bahwa dalam kenyataannya tidak ada domination dan ataupun legitimate yang berjalan secara sendiri-sendiri kebanyakan dalam seorang elit terdapat lebih dari satu domination dan ataupun legitimate. Dari adanya wewenang yang dimiliki oleh peminpin menurut F. Andrain yang dikutip oleh Haryanto mmengandung konsekuensi sebagai berikut : Legitiimasi tidak hanya memberi jaminan bagi stabilitas tetapi juga perubahan, Legitimasi memperluas kekuasaan dari pemimpin namun di saat yang bersamaan dapat membatasi kekuasaan karena di dalamnya terkandung tanggung jawab kepada pemberi legitimasi. Disampaikan oleh Haryanto bahwa semakin sah elit untuk memiliki kewenangan maka seorang elit akan semakin tidak memerlukan kekerasan untuk mempertahankan kekuasaan yang dimilikinya. Weber membangun konsep birokrasi berdasar teori sistem kewarganegaraan yang dikembangkannya. Ada tiga jenis kewenangan yang berbeda. Kewenangan tradisional (traditional authority) mendasarkan legitimasi kewenangan pada tradisi yang diwariskan antar generasi. Kewenangan kharismatik (charismatic authority) mempunyai legitimasi kewenangan dari kualitas pribadi dan yang tinggi dan bersifat supranatural. Dan, kewenangan legal-rasional (legal-rational authority) mempunyai legitimasi kewenangan yang bersumber pada peraturan perundang-undangan. Dalam analisis Weber, organisasi tipe ideal yang dapat menjamin efisiensi yang tinggi harus mendasarkan pada otoritas legal-rasional.

Karakteristik birokrasi tipe ideal sebagaimana dimaksud Weber di atas adalah meliputi : 1. Adanya pembagian kerja yang jelas; 2 Adanya hierarki jabatan; 3. Adanya pengaturan sistem yang konsisten; 4. Prinsip formalistic impersonality; 5. Penempatan berdasarkan karier; dan 6. Prinsip rasionalitas (Max Weber dalam Batinggi, 1999).

KEWENANGAN Definisi Kewenangan adalah kekuasaan yang mendapatkan keabsahan atau legitimasi Kewenangan adalah hak moral untuk membuat dan melaksanakan keputusan politik Prinsip moral menentukan siapa yang berhak memerintah - mengatur cara dan prosedur melaksanakan wewenang Sebuah bangsa atau negara mempunyai tujuan Kegiatan untuk mencapai tujuan disebut tugas Hak moral untuk melakukan kegiatan mencapai tujuan disebut kewenangan Tugas dan kewenangan untuk mencapai tujuan masyarakat atau negara disebut fungsi Sumber kewenangan 1. Tradisi keluarga atau darah biru 2. Kekuatan sakral seperti Tuhan, Dewa dan wahyu seperti kerajaan 3. Kualitas pribadi seperti atlit, artis 4. Peraturan perundang-undangan yang mengatur prosedur dan syarat menjadi pemimpin 5. Instrumental yaitu kekayaan dan keahlian iptek

Tipe kewenangan 1. Kewenangan prosedural yaitu berasal dari peraturan perundang-undangan 2. Kewenangan substansial yaitu berasal dari tradisi, kekuatan sakral, kualitas pribadi dan instrumental Setiap masyarakat pasti memakai kedua tipe kewenangan ini hanya yang satu dijadikan sebagai yang utama dan yang lain sebagai pelengkap Peralihan kewenangan a. Turun temurun keturunan atau keluarga b. Pemilihan langsung atau perwakilan c. Paksaan revolusi, kudeta atau ancaman kekerasan. Sikap terhadap kewenangan 1) Menerima 2) Mempertanyakan (skeptis) 3) Menolak 4) Kombinasi LEGITIMASI Definisi Pengakuan dan penerimaan masyarakat kepada pemimpin untuk memerintah, membuat dan melaksanakan keputusan politik. Persamaan antara kekuasaan, kewenangan dan legitimasi karena ketiganya berkaitan dengan hubungan antara pemimpin dan yang dipimpin atau masyarakat. Perbedaannya kekuasaan adalah penggunaan sumber-sumber kekuasaan untuk mempengaruhi pembuat dan pelaksana kebijakan politik, sedangkan kewenangan adalah hak moral untuk membuat dan melaksanakan keputusan politik (bersifat top down), adapun legitimasi adalah pengakuan dan penerimaan kepada pemimpin (bersifat bottom up) Objek legitimasi 1. Masyarakat politik - krisis identitas

2. Hukum - krisis konstitusi 3. lembaga politik - krisis kelembagaan 4. pemimpin politik - krisis kepemimpinan 5. kebijakan - krisis kebijakan krisis ini terjadi secara berurutan ketika sudah mencapai krisis kebijakan maka sebenarnya sudah terlewati krisis identitas, krisis konstitusi, krisis kelembagaan dan krisis kepemimpinan. Maka bila semuanya sudah mengalami krisis disebutlah krisis legitimasi. Kadar legitimasi a. pra legitimasi, ada dalam pemerintahan yang baru terbentuk yang meyakini memiliki kewenangan tapi sebagian kelompok masyarakat belum mengakuinya b. berlegitimasi, yaitu ketika pemerintah bisa meyakinkan masyarakat dan masyarakat menerima dan mengakuinya. c. Tak berlegitimasi, ketika pemimpin atau pemerintah gagal mendapat pengakuan dari masyarakat tapi pemimpin tersebut menolak untuk mengundurkan diri, akhirnya muncul tak berlegitimasi. Untuk mempertahankan kewenangannya biasanya digunakan cara-cara kekerasan. d. Pasca legitimasi, yaitu ketika dasar legitimasi sudah berubah. Cara mendapat legitimasi 1. Simbolis, yaitu memanipulasi kecenderungan moral, emosional, tradisi, kepercayaan dilakukan secara ritualistik seperti upacara kenegaraan