bab 2 landasan teori - thesis.binus.ac.idthesis.binus.ac.id/doc/bab2/2007-1-1-00239-ti bab 2.pdf ·...

25
BAB 2 LANDASAN TEORI 2.1 Persediaan Persediaan merupakan salah satu aset yang paling mahal bagi perusahaan, mencerminkan total 40% dari total modal yang diinvestasikan (Render dan Heizer, 1997, p314). Oleh karena itu, manajemen pengendalian persediaan yang baik sangatlah penting. Kesulitan yang dalam pelaksanaan manajemen persediaan tradisional telah teratasi semenjak dikenal sebuah pendekatan sistem persediaan yang lebih baik, yang disebut material requirement planning (MRP). Menurut Herjanto (1999, p 219) persediaan adalah bahan atau barang yang disimpan yang akan digunakan untuk memenuhi tujuan tertentu, misalnya untuk proses produksi perakitan, untuk dijual kembali, untuk suku cadang dari suatu peralatan atau mesin. Menurut Handoko (2000, p333) persediaan ialah suatu istilah umum yang menunjukkan segala sesuatu atau sumber daya organisasi yang disimpan dalam antisipasinya terhadap pemenuhan permintaaan. Jenis persediaan yang sering disebut dengan istilah persediaan keluaran produk (product output ) meliputi persediaan bahan mentah, barang dalam proses, barang jadi atau produk akhir, bahan-bahan pembantu atau pelengkap, dan komponen-komponen lain yang menjadi keluaran produk perusahaan.

Upload: vudan

Post on 11-Mar-2019

218 views

Category:

Documents


0 download

TRANSCRIPT

Page 1: BAB 2 LANDASAN TEORI - thesis.binus.ac.idthesis.binus.ac.id/doc/Bab2/2007-1-1-00239-TI Bab 2.pdf · persediaan tradisional telah teratasi semenjak dikenal ... apa yang terjadi pada

BAB 2

LANDASAN TEORI

2.1 Persediaan

Persediaan merupakan salah satu aset yang paling mahal bagi perusahaan,

mencerminkan total 40% dari total modal yang diinvestasikan (Render dan

Heizer, 1997, p314). Oleh karena itu, manajemen pengendalian persediaan yang

baik sangatlah penting. Kesulitan yang dalam pelaksanaan manajemen

persediaan tradisional telah teratasi semenjak dikenal sebuah pendekatan sistem

persediaan yang lebih baik, yang disebut material requirement planning (MRP).

Menurut Herjanto (1999, p 219) persediaan adalah bahan atau barang

yang disimpan yang akan digunakan untuk memenuhi tujuan tertentu, misalnya

untuk proses produksi perakitan, untuk dijual kembali, untuk suku cadang dari

suatu peralatan atau mesin.

Menurut Handoko (2000, p333) persediaan ialah suatu istilah umum yang

menunjukkan segala sesuatu atau sumber daya organisasi yang disimpan dalam

antisipasinya terhadap pemenuhan permintaaan. Jenis persediaan yang sering

disebut dengan istilah persediaan keluaran produk (product output) meliputi

persediaan bahan mentah, barang dalam proses, barang jadi atau produk akhir,

bahan-bahan pembantu atau pelengkap, dan komponen-komponen lain yang

menjadi keluaran produk perusahaan.

Page 2: BAB 2 LANDASAN TEORI - thesis.binus.ac.idthesis.binus.ac.id/doc/Bab2/2007-1-1-00239-TI Bab 2.pdf · persediaan tradisional telah teratasi semenjak dikenal ... apa yang terjadi pada

24

2.2 Peramalan

Peramalan atau forecasting adalah suatu kegiatan untuk memperkirakan

apa yang terjadi pada masa yang akan datang. Ketepatan secara mutlak dalam

memprediksi peristiwa dan tingkat kegiatan yang akan datang adalah tidak

mungkin dicapai, oleh karena itu ketika perusahaan tidak dapat melihat kejadian

yang akan datang secara pasti, diperlukan waktu dan tenaga yang besar agar

mereka dapat memiliki kekuatan terhadap kejadian yang akan datang.

Pengertian peramalan menurut Render dan Heizer (2001, p46) adalah seni

dan ilmu memprediksi peristiwa-peristiwa masa depan. Peramalan memerlukan

pengambilan data historis dan memproyeksikannya ke masa depan dengan

beberapa bentuk model matematis. Bisa jadi berupa prediksi subjektif atau

intuitif tentang masa depan. Atau peramalan bisa mencakup kombinasi model

matematis yang disesuaikan dengan penilaian yang baik oleh manajer.

Pengertian peramalan menurut Handoko (2000, p260) adalah suatu usaha

untuk meramalkan keadaan di masa mendatang melalui pengujian keadaan di

masa lalu. Esensi peramalan adalah perkiraan peristiwa-peristiwa di waktu yang

akan datang atas dasar pola-pola di waktu yang lalu dan penggunaan kebijakan

terhadap proyeksi-proyeksi dengan pola-pola di waktu yang lalu. Peramalan

memerlukan kebijakan, sedangkan proyeksi-proyeksi adalah fungsi-fungsi

mekanikal.

Page 3: BAB 2 LANDASAN TEORI - thesis.binus.ac.idthesis.binus.ac.id/doc/Bab2/2007-1-1-00239-TI Bab 2.pdf · persediaan tradisional telah teratasi semenjak dikenal ... apa yang terjadi pada

25

2.3 Jenis – Jenis Pola Data

Data yang diplot adalah data masa lalu yang dipergunakan untuk

meramalkan data di masa yang akan datang. Dari data yang telah diplot akan

terlihat pola data untuk menentukan metode ramalan yang akan digunakan. Ada

empat jenis pola data, yaitu :

- Pola horizontal atau stationary terjadi bilamana nilai data berfluktuasi di

sekitar nilai konstan rata-rata. Deret seperti itu stasioner terhadap nilai rata-

ratanya. Misalnya pola jenis ini terdapat bila suatu produk mempunyai

jumlah penjualan yang tidak menaik atau menurun selama beberapa periode.

Gambar 2.1 Pola Data Horizontal

- Pola musiman atau seasonal terjadi bilamana deret dipengaruhi oleh faktor

musiman, seperti kuartal tahun tertentu, bulanan, harian pada minggu

tertentu. Banyak produk yang penjualannya menunjukkan pola musiman,

seperti minuman ringanr, ice cream, bahan bakar, dan jasa angkutan.

Page 4: BAB 2 LANDASAN TEORI - thesis.binus.ac.idthesis.binus.ac.id/doc/Bab2/2007-1-1-00239-TI Bab 2.pdf · persediaan tradisional telah teratasi semenjak dikenal ... apa yang terjadi pada

26

Gambar 2.2 Pola Data Musiman

- Pola siklik atau cyclical terjadi bilamana datanya dipengaruhi oleh fluktuasi

ekonomi jangka panjang seperti yang berhubungan dengan siklus bisnis. Ada

beberapa produk yang penjualannya menunjukkan pola siklus seperti mobil

sedan, besi baja, dan perkakas atau peralatan bengkel.

Gambar 2.3 Pola Data Siklik

- Pola trend yaitu apabila data dalam jangka panjang mempunyai kecenderungan,

baik yang arahnya meningkat dari waktu ke waktu maupun menurun. Pola ini

disebabkan antara lain bertambahnya populasi, perubahan pendapatan, dan

pengaruh budaya.

Page 5: BAB 2 LANDASAN TEORI - thesis.binus.ac.idthesis.binus.ac.id/doc/Bab2/2007-1-1-00239-TI Bab 2.pdf · persediaan tradisional telah teratasi semenjak dikenal ... apa yang terjadi pada

27

Gambar 2.4 Pola Data Trend

2.4 Pendekatan Peramalan

Menurut Render dan Heizer (2001, p48) pendekatan peramalan secara

umum dibagi dua, yaitu pendekatan kualitatif dan pendekatan kuantitatif.

1. Pendekatan Kualitatif

Metode ini biasanya digunakan untuk meramalkan lingkungan dan teknologi,

karena kondisi tersebut berbeda dengan kondisi perekonomian dan

pemasaran. Oleh karena itu metode kualitatif disebut dengan technological

forecasting. Teknik-teknik kualitatif adalah subjektif atau berdasarkan pada

estimasi - estimasi dan pendapat - pendapat.

2. Pendekatan Kuantitatif

Pendekatan kuantitatif, yaitu peramalan yang didasarkan atas data

kuantitatif pada masa lalu. Pendekatan kuantitatif hanya dapat diterapkan

jika tersedia informasi mengenai data masa lalu, informasi dapat dikuantifisir

(diwujudkan dalam bentuk angka), dan asumsi beberapa aspek pola masa lalu

akan berlanjut.

Page 6: BAB 2 LANDASAN TEORI - thesis.binus.ac.idthesis.binus.ac.id/doc/Bab2/2007-1-1-00239-TI Bab 2.pdf · persediaan tradisional telah teratasi semenjak dikenal ... apa yang terjadi pada

28

Metode kuantitatif dapat dibedakan atas :

a. Model seri waktu (time series)

Jenis peramalan ini merupakan estimasi masa depan yang dilakukan

berdasarkan nilai masa lalu dari suatu variabel dan / atau kesalahan masa lalu.

▪ Rata-rata bergerak (moving average)

Metode rata-rata bergerak tunggal (single moving average)

bermanfaat bila berasumsi bahwa permintaan pasar tetap stabil

sepanjang waktu. Nilai rata-rata bergerak yang baru didapat dengan

memasukkan nilai data observasi yang baru dan mengeluarkan nilai

data observasi yang paling terdahulu, kemudian dipergunakan sebagai

ramalan untuk periode berikut.

Rumus : )1ntX...1tXt(Xn1

1tF −−++−+=+

Ft+1 = ramalan untuk periode berikut (ke t+1).

Xi = data aktual periode sekarang (ke-t).

t = jumlah periode dalam rata-rata bergerak.

Metode Double Moving Average merupakan salah satu

peramalan time series dengan melihat data trend. Pertama kali

dilakukan moving average kemudian baru dilakukan lagi moving

average untuk data yang tadi yang sudah di moving average pertama

kali. Berikut ini adalah rumus yang dipakai pada peramalan ini yaitu :

Page 7: BAB 2 LANDASAN TEORI - thesis.binus.ac.idthesis.binus.ac.id/doc/Bab2/2007-1-1-00239-TI Bab 2.pdf · persediaan tradisional telah teratasi semenjak dikenal ... apa yang terjadi pada

29

▪ Rumus untuk moving average yang pertama

kYYYY

YM ktttttt

1211

.... +−−−+

++++==

▪ Rumus untuk moving average yang kedua

kMMMM

M kttttt

121' .... +−−− ++++=

▪ Rumus untuk menghitung peramalan dengan double moving

average

mbaY

MMk

b

MMMMMa

pttpt

ttt

tttttt

++ +=

−−

=

−=−+=

^

'

''

)(1

22)(

Metode rata-rata bergerak tertimbang (weighted moving

average), yaitu memberi timbangan berbeda atas data yang lalu

Metode ini lebih responsif terhadap perubahan karena periode yang

lebih baru mungkin lebih besar timbangannya.

Rumus : )XW...XWX(WW...WW

1F 1nt1nt1t1ttt1nt1tt

1t −−−−−−−−−

+ ++++++

=

Ft+1 = ramalan untuk periode berikut (ke t+1).

Xi = data aktual periode sekarang (ke-t).

t = jumlah periode dalam rata-rata bergerak.

Wt = bobot untuk periode sekarang (ke-t).

Page 8: BAB 2 LANDASAN TEORI - thesis.binus.ac.idthesis.binus.ac.id/doc/Bab2/2007-1-1-00239-TI Bab 2.pdf · persediaan tradisional telah teratasi semenjak dikenal ... apa yang terjadi pada

30

- Penghalusan eksponensial (exponential smoothing)

Metode ini digunakan untuk mengurangi ketidakteraturan

musiman dari data yang lalu, dengan membuat rata-rata tertimbang

dari deret data yang lalu. Macam-macam metode smoothing :

Metode exponential smoothing tunggal (single exponential

smoothing) pada periode pertama dari peramalan ini bila tidak tersedia

atau tidak terdapat hasil atau nilai ramalan pada periode sebelumnya.

Pemecahan masalah ini dapat dilakukan dengan menggunakan nilai

observasi yang pertama sebagai ramalan pertama.

Rumus : )F-α(AFF ttt1t +=+

Ft+1 = Ramalan baru

Ft = Ramalan sebelumnya

α = Konstanta penghalusan

At-1 = Permintaan aktual periode sebelumnya

Metode double exponential smoothing satu parameter Brown

menggunakan rumus pemulusan berganda secara langsung. Persamaan

yang dipakai adalah :

1tt XS"S' == → Inisialisasi Awal

1)(ttt α).S'(1α.XS' −−+= → Pemulusan pertama

Page 9: BAB 2 LANDASAN TEORI - thesis.binus.ac.idthesis.binus.ac.id/doc/Bab2/2007-1-1-00239-TI Bab 2.pdf · persediaan tradisional telah teratasi semenjak dikenal ... apa yang terjadi pada

31

1)(ttt 'α).S'(1α.S''S' −−+= → Pemulusan kedua

ttt S"2.S'a −=

)S"(S'α1

αb ttt −−

=

.mbaF ttm)(t +=+

Metode double exponential smoothing dua parameter Holt

menambahkan persamaan b untuk memperoleh pemulusan trend dan

menggabungkan trend ini dengan persamaan pemulusan standar

sehingga menghasilkan persamaan Ft. Metode dari Holt ini

menggunakan dua parameter α dan γ. Persamaan yang dipakai adalah :

Inisialisasi Awal : 11 XS =

121 XXb −=

))(1(* )1()1( −− +−+= tttt bSXS αα

)1()1( )1()( −− −+−= tttt bSSb γγ

mbSF ttmt *)( +=+

b. Model kausal (analisis regresi)

Metode kausal merupakan metode peramalan yang didasarkan atas

penggunaan analisa pola hubungan antara variabel yang akan

diperkirakan dengan variabel lain yang mempengaruhinya.

Page 10: BAB 2 LANDASAN TEORI - thesis.binus.ac.idthesis.binus.ac.id/doc/Bab2/2007-1-1-00239-TI Bab 2.pdf · persediaan tradisional telah teratasi semenjak dikenal ... apa yang terjadi pada

32

Metode regresi adalah metode statistik yang digunakan untuk

menentukan hubungan antar paling tidak dua variabel, satu atau lebih

variabel bebas (indepentent variables) dan satu variabel bergantung

(dependent variable). Basis prediksinya secara umum adalah data historis.

Rumus : btaytbya

ttnyttyn

b

+=−=

−=

∑∑∑ ∑ ∑

22 )(

a = intersep

b = kemiringan garis fungsi

t = periode waktu

n = jumlah periode

y = ramalan untuk periode t

2.5 Pengukuran Ketelitian Peramalan

Metode peramalan yang baik adalah metode yang menghasilkan

penyimpangan antara hasil peramalan dengan nilai kenyataan yang sekecil

mungkin. Dalam suatu peramalan diharapkan nilai kesalahan yang sekecil

mungkin. Ketepatan peramalan dapat diukur dengan cara berikut :

▪ Nilai Tengah Galat Absolut (Mean Absolut Error)

∑=

=n

t

etn

MAE1

1

Page 11: BAB 2 LANDASAN TEORI - thesis.binus.ac.idthesis.binus.ac.id/doc/Bab2/2007-1-1-00239-TI Bab 2.pdf · persediaan tradisional telah teratasi semenjak dikenal ... apa yang terjadi pada

33

▪ Nilai Tengah Galat Kuadrat (Mean Squared Error)

∑=

=n

tet

nMSE

1

21

▪ Nilai rata-rata persentase kesalahan absolut (Mean Absolute Percentage

Error).

∑=

=n

ttPE

nMAPE

1

1

atau nXe

MAPE t

100×=∑

2.6 Perencanaan Agregat

Perencanaan agregat merupakan jantung dari perencanaan jangka

menengah. Tujuan perencanaan agregat untuk mengembangkan suatu rencana

produksi secara menyeluruh yang fisibel dan optimal.

Menurut Handoko (2000, p234), perencanaan agregat adalah proses

perencanaan kuantitas dan pengaturan waktu keluaran selama periode waktu

tertentu (biasanya 3 bulan sampai 1 tahun) melalui penyesuaian variabel-

variabel tingkat produksi, karyawan, persediaan, dan variabel-variabel yang

dapat dikendalikan lainnya. Perencanaan agregat mencerminkan strategi

perusahaan dalam hal pelayanan kepada pelanggan, tingkat persediaan, tingkat

produksi, jumlah karyawan, dan lain-lain.

Page 12: BAB 2 LANDASAN TEORI - thesis.binus.ac.idthesis.binus.ac.id/doc/Bab2/2007-1-1-00239-TI Bab 2.pdf · persediaan tradisional telah teratasi semenjak dikenal ... apa yang terjadi pada

34

Variabel-variabel keputusan dalam perencanaan agregat adalah :

- Jumlah tenaga kerja langsung yaitu tenaga kerja yang langsung berpengaruh

terhadap kapasitas produksi.

- Kecepatan produksi yaitu besaran yang menyatakan produk agregat yang

dibuat setiap bulan.

- Waktu lembur (overtime) dibutuhkan bila kecepatan produksi atau jumlah

produksi yang akan dibuat jauh lebih besar dari kemampuan pabrik.

- Jumlah pesanan yang disubkontrakkan. Hal ini terjadi jika kapasitas pabrik

termasuk lembur tidak mampu melayani pesanan sehingga kelebihan pesanan

tersebut disubkontrakkan ke perusahaan lain yang sejenis.

- Jumlah pesanan yang ditunda waktu penyerahannya. Jika kapasitas yang ada

tidak memenuhi semua pesanan pada waktu yang dijanjikan maka sebagian

permintaan ditunda waktu penyerahannya.

- Tingkat persediaan yaitu banyaknya produk yang disimpan dalam bentuk

produk jadi yang siap dijual.

2.7 Strategi Perencanaan Agregat

Strategi yang digunakan dalam perencanaan agregat adalah sebagai berikut :

1. Melakukan variasi tingkat persediaan, pada strategi ini jumlah karyawan dan

waktu kerja dipertahankan sehingga rata – rata tingkat produksi akan tetap.

Kelebihan produksi yang terjadi pada periode permintaan rendah disimpan

Page 13: BAB 2 LANDASAN TEORI - thesis.binus.ac.idthesis.binus.ac.id/doc/Bab2/2007-1-1-00239-TI Bab 2.pdf · persediaan tradisional telah teratasi semenjak dikenal ... apa yang terjadi pada

35

sebagai persediaan yang nantinya digunakan untuk menutupi produksi pada

waktu terjadi permintaan yang lebih tinggi dari tingkat produksi.

Kelemahannya adalah timbulnya biaya penyimpanan persediaan berupa biaya

sewa gudang, administrasi, asuransi, kerusakan material dan bertambahnya

modal yang tertanam. Strategi ini tidak dapat digunakan untuk kegiatan jasa

karena jasa tidak dapat disimpan sebagai persediaan. Selain itu juga tidak tepat

untuk perusahaan yang produknya cepat rusak/ tidak tahan lama, karena

memerlukan ruang simpan yang sangat besar.

2. Melakukan variasi jumlah tenaga kerja, apabila terjadi permintaan tinggi

maka dilakukan penambahan tenaga kerja. Sebaliknya, pada waktu

permintaan rendah dilakukan pengurangan tenaga kerja. Biaya yang timbul

mencakup biaya pengadaan tenaga kerja atau pesangon bagi tenaga kerja

yang dikurangi. Strategi ini cocok untuk diterapkan jika tenaga kerja yang

disewa atau dikurangi mempunyai ketrampilan yang rendah dan jika pasar

tenaga kerja memiliki suplai yang besar.

3. Subkontrak, dilakukan jika terjadi permintaan yang bertambah sementara

kapasitas produksi tidak cukup untuk memenuhinya sedangkan perusahan

tidak menghendaki hilangnya permintaan atau pelanggan penting. Kerugian

strategi ini adalah harga pokok produksi menjadi lebih tinggi, bisa

memberikan kesempatan kepada pesaing untuk maju, dan adanya risiko karena

tidak dapat secara langsung mengontrol mutu produk dan penjadwalan.

Page 14: BAB 2 LANDASAN TEORI - thesis.binus.ac.idthesis.binus.ac.id/doc/Bab2/2007-1-1-00239-TI Bab 2.pdf · persediaan tradisional telah teratasi semenjak dikenal ... apa yang terjadi pada

36

2.8 Master Production Schedule

Master Production Schedule atau jadwal induk produksi merupakan

rencana induk perusahaan, dan setelah disetujui akan mengendalikan sistem PPIC.

Bagaimanapun juga, hal ini dapat diubah secara periodik untuk mencerminkan

pesanan-pesanan baru atau ramalan-ramalan baru dengan berjalannya waktu.

Berbagai pesanan langganan, ramalan-ramalan permintaan, dan permintaan

komponen-komponen pelayanan menghasilkan jadwal induk produksi awal.

Menurut Gaspersz (2001, p142) jadwal induk produksi pada dasarnya

berkaitan dengan aktivitas empat fungsi utama berikut :

1. Menyediakan atau memberikan input utama kepada sistem perencanaan

kebutuhan material dan kapasitas.

2. Menjadwalkan pesanan-pesanan produksi dan pembelian (production and

purchase orders) untuk item-item MPS.

3. Memberikan landasan untuk penentuan kebutuhan sumber dana dan kapasitas.

4. Memberikan basis untuk pembuatan janji tentang penyerahan produk

(delivery promises) kepada pelanggan.

2.8.1 Input MPS

MPS membutuhkan lima input utama (Gaspersz, 2001, p143) seperti pada

gambar 2.5 berikut.

Page 15: BAB 2 LANDASAN TEORI - thesis.binus.ac.idthesis.binus.ac.id/doc/Bab2/2007-1-1-00239-TI Bab 2.pdf · persediaan tradisional telah teratasi semenjak dikenal ... apa yang terjadi pada

37

Rough Cut CapacityPlanning (RCCP)

1. Data Permintaan Total2. Status Inventori3. Rencana Produksi4. Data Perencanaan5. Informasi dari RCCP

PenjadwalanProduksi

Induk(MPS)

Jadwal ProduksiInduk (MPS)

Umpan Balik

PROSES : OUTPUT :INPUT :

Gambar 2.5 Proses Penjadwalan Produksi Induk

Berikut ini adalah penjelasan lima input utama MPS pada gambar 2.5 :

1. Data permintaan total.

Data permintaan total berkaitan dengan ramalan penjualan (sales forecasts)

dan pesanan-pesanan (orders).

2. Status Inventori.

Status inventori berkaitan dengan informasi tentang on-hand inventory, stok

yang dialokasikan untuk penggunaan tertentu (allocated stock), pesanan-

pesanan produksi dan pembelian yang dikeluarkan.

3. Rencana Produksi.

MPS harus menjumlahkannya untuk menentukan tingkat produksi, inventori,

dan sumber-sumber daya lain dalam rencana produksi itu.

Page 16: BAB 2 LANDASAN TEORI - thesis.binus.ac.idthesis.binus.ac.id/doc/Bab2/2007-1-1-00239-TI Bab 2.pdf · persediaan tradisional telah teratasi semenjak dikenal ... apa yang terjadi pada

38

4. Data Perencanaan.

Data perencanaan berkaitan dengan lot-sizing yang digunakan, stok

pengaman (safety stock), dan waktu tunggu (lead time) dari masing-masing

item yang biasanya tersedia dalam file induk dari item (Item Master File).

5. Informasi dari RCCP.

RCCP menentukan kebutuhan kapasitas untuk mengimplementasikan MPS,

menguji kelayakan dari MPS.

2.8.2 Teknik Penyusunan MPS

Gambar 2.6 berikut ini adalah bentuk format umum dari MPS (Gaspersz,

2001, p159).

Gambar 2.6 Bentuk Umum dari Master Production Schedule

Item No : Description : Lead time : Safety Stock : On hand : Demand Time Fences :

Planning Time Fences : Period 1 2 3 4

Forecast Actual Order Project Available Balance Available to Promise Cumulative ATP Master Scheduled

Penjelasan untuk gambar 2.6 di atas adalah sebagai berikut :

Page 17: BAB 2 LANDASAN TEORI - thesis.binus.ac.idthesis.binus.ac.id/doc/Bab2/2007-1-1-00239-TI Bab 2.pdf · persediaan tradisional telah teratasi semenjak dikenal ... apa yang terjadi pada

39

1. Lead Time

Menyatakan waktu yang dibutuhkan untuk memproduksi atau membeli suatu item.

2. On Hand

Menyatakan jumlah material yang ada di tangan sebagai sisa periode

sebelumnya atau inventori awal yang secara fisik tersedia dalam stok.

3. Safety Stock

Menyatakan cadangan material yang harus ada di tangan sebagai antisipasi

kebutuhan di masa yang akan datang atau disebut juga sebagai stok pengaman.

4. Demand Time Fence (DTF)

Merupakan batas waktu penyesuaian pesanan permintaan. Disini perubahan

demand tidak akan dilayani karena akan menimbulkan kerugian biaya besar

akibat ketidaksesuaian atau kekacauan jadwal.

5. Planning Time Fence (PTF)

Merupakan batas waktu penyesuaian pesanan di mana demand masih boleh

berubah. Perubahan masih dilayani sepanjang material dan kapasitas tersedia.

6. Time Periods for Display

Merupakan banyaknya periode waktu yang ditampilkan dalam format MPS.

7. Sales Plan (Sales Forecast)

Merupakan hasil peramalan sebelumnya sebagai hasil dari perencanaan agregat.

8. Actual Order (AO)

Merupakan jumlah pesanan yang sudah diterima sebelumnya dan bersifat pasti.

Page 18: BAB 2 LANDASAN TEORI - thesis.binus.ac.idthesis.binus.ac.id/doc/Bab2/2007-1-1-00239-TI Bab 2.pdf · persediaan tradisional telah teratasi semenjak dikenal ... apa yang terjadi pada

40

9. Project Available Balance (PAB)

Merupakan perkiraan jumlah sisa produk pada akhir periode perencanaan.

PAB dihitung menggunakan rumus :

PAB t ≤ DTF = PABt-1 + MSt –AOt

PABDTF ≤ t ≤ PTF = PABt-1 + MSt – AOt atau Ft (pilih yang besar)

10. Available to Promise (ATP)

Memberikan informasi berapa banyak item atau produk tertentu yang

dijadwalkan pada periode waktu itu tersedia untuk pesanan pelanggan,

sehingga berdasarkan informasi ini bagian pemasaran dapat membuat janji

yang tepat kepada pelanggan.

ATP = ATPt-1 + MSt – AO sampai periode yang dijadwalkan pada MPS.

ATP tidak boleh bernilai negatif. Jika hal ini terjadi maka akan terjadi loss

sale karena permintaan tidak dapat terpenuhi.

11. Master Production Schedule (MPS)

Merupakan hasil diasgregasi dari perencanaan agregat yang akan diproduksi.

2.9 Material Requirement Planning

Menurut Schroeder (1997, p44), Material Requirements planning atau

perencanaan kebutuhan material merupakan sistem perencanaan dan

pengendalian bahan baku yang saat ini penggunaannya telah terkomputerisasi

karena MRP adalah suatu konsep yang sederhana dan logis.

Page 19: BAB 2 LANDASAN TEORI - thesis.binus.ac.idthesis.binus.ac.id/doc/Bab2/2007-1-1-00239-TI Bab 2.pdf · persediaan tradisional telah teratasi semenjak dikenal ... apa yang terjadi pada

41

Menurut Yamit (1998, p260), Material Requirements planning

merupakan sistem yang dirancang secara khusus untuk situasi permintaan

bergelombang, yang secara tipikal karena permintaan tersebut dependen.

Permintaan dependen tidak dipengaruhi oleh kondisi-kondisi pasar dan hanya

tergantung pada permintaan suku cadang ditingkat atasnya.

MRP memberikan peningkatan efisiensi karena jumlah persediaan, waktu

produksi dan waktu pengiriman barang dapat direncanakan lebih baik, karena

ada keterpaduan dalam kegiatan yang didasarkan pada jadwal induk.

2.9.1 Input MRP

Sebagai suatu sistem, MRP membutuhkan lima input utama (Gaspersz,

2001, p177) seperti pada gambar 2.7 berikut.

PerencanaanKapasitas(CapacityPlanning)

1. MPS2. Bill of Materials3. Item Master4. Pesanan-pesanan5. Kebutuhan

PerencanaanKebutuhan

Material (MRP)

- Primary (orders) Report - Action Report - Pegging Report

Umpan Balik

OUTPUT :PROSES :INPUT :

Gambar 2.7 Proses Kerja dari MRP

Page 20: BAB 2 LANDASAN TEORI - thesis.binus.ac.idthesis.binus.ac.id/doc/Bab2/2007-1-1-00239-TI Bab 2.pdf · persediaan tradisional telah teratasi semenjak dikenal ... apa yang terjadi pada

42

Kelima sumber input utama pada gambar 2.7 di atas adalah :

1. Master Production Schedule (MPS) merupakan rencana terperinci tentang

produk akhir yang diproduksi, berapa kuantitas yang dibutuhkan, pada waktu

kapan dibutuhkan, dan kapan produk itu akan diproduksi.

2. Bill of Material (BOM) merupakan daftar jumlah komponen, campuran

bahan, dan bahan baku yang diperlukan untuk membuat suatu produk.

3. Item Master merupakan suatu file yang berisi informasi tentang material,

parts subassemblies, dan produk-produk yang menunjukkan kuantitas on-

hand, kuantitas yang dialokasikan (allocated quantity), waktu tunggu yang

direncanakan, ukuran lot (lot size), stok pengaman, kriteria lot sizing, dan

berbagai informasi penting lainnya yang berkaitan dengan suatu item.

4. Pesanan-pesanan (orders) berisi tentang banyaknya dari setiap item yang akan

diperoleh sehingga akan meningkatkan stock on-hand di masa mendatang.

5. Kebutuhan-kebutuhan (requirements) akan memberitahukan tentang

banyaknya masing-masing item itu dibutuhkan sehingga akan mengurangi

stock on-hand di masa mendatang.

2.9.2 Mekanisme Dasar dari Proses MRP

Sistem MRP memiliki empat langkah utama, yang selanjutnya keempat

langkah ini harus diterapkan satu per satu pada periode perencanaan dan pada

setiap item. Prosedur ini dapat dilakukan secara manual bila jumlah item yang

terlibat dalam produksi relatif sedikit.

Page 21: BAB 2 LANDASAN TEORI - thesis.binus.ac.idthesis.binus.ac.id/doc/Bab2/2007-1-1-00239-TI Bab 2.pdf · persediaan tradisional telah teratasi semenjak dikenal ... apa yang terjadi pada

43

Langkah-langkah tersebut adalah sebagai berikut.

1. Netting, proses ini adalah perhitungan kebutuhan bersih yang besarnya

merupakan selisih antara kebutuhan kotor dengan keadaan persediaan.

2. Lotting, adalah suatu proses untuk menentukan besarnya pesanan optimal

setiap item secara individual didasarkan pada perhitungan kebutuhan bersih yang

telah dilakukan untuk meminimalkan total ongkos pesan dan ongkos simpan.

3. Offsetting, proses ini dapat menentukan saat yang tepat untuk melakukan

rencana pemesanan dalam memenuhi tingkat kebutuhan bersih yang

diperlukan dalam proses ini adalah lead time produk tersebut.

4. Explosion, proses perhitungan kebutuhan kotor untuk tingkat item /

komponen yang lebih bawah. Perhitungan kebutuhan kotor ini didasarkan

pada rencana pemesanan item-item produk pada level yang lebih atas.

Gambar 2.8 berikut ini adalah bentuk format umum dari MRP.

Part No : Description : BOM UOM : On hand : Lead Time : Order Policy : Safety Stock : Lot size :

Period 1 2 3 4 Gross Requirement Scheduled Receipts PAB 1 Net Requirement Planned Order Receipts Planned Order Release PAB 2

Gambar 2.8 Bentuk Umum dari MRP

Page 22: BAB 2 LANDASAN TEORI - thesis.binus.ac.idthesis.binus.ac.id/doc/Bab2/2007-1-1-00239-TI Bab 2.pdf · persediaan tradisional telah teratasi semenjak dikenal ... apa yang terjadi pada

44

Penjelasan untuk gambar 2.8 di atas adalah sebagai berikut :

1. Part No

Menyatakan kode komponen yang akan dirakit, berdasarkan susunan BOM.

2. Unit Material

Menyatakan satuan komponen atau material yang akan dirakit.

3. Lead Time

Menyatakan waktu yang dibutuhkan untuk memproduksi / membeli suatu item.

4. Safety Stock

Menyatakan cadangan material yang harus ada di tangan sebagai antisipasi

kebutuhan di masa yang akan datang, disebut juga sebagai stok pengaman.

5. Description

Menyatakan deskripsi material secara umum, sesuai item no. dalam BOM.

6. On Hand

Menyatakan jumlah material yang ada di tangan sebagai sisa periode

sebelumnya atau inventori awal yang secara fisik tersedia dalam stok.

7. Order Policy

Menyatakan jenis pendekatan yang digunakan untuk menentukan ukuran lot

yang dibutuhkan saat memesan barang.

8. Lot Size

Ukuran lot menentukan besarnya jumlah komponen yang diterima setiap kali

pesan. Teknik-teknik yang dipakai dalam penentuan ukuran lot ini antara lain :

Page 23: BAB 2 LANDASAN TEORI - thesis.binus.ac.idthesis.binus.ac.id/doc/Bab2/2007-1-1-00239-TI Bab 2.pdf · persediaan tradisional telah teratasi semenjak dikenal ... apa yang terjadi pada

45

- Lot For Lot (LFL) adalah ukuran pemesanan yang dilakukan sebesar

kebutuhan bersih pada periode tersebut. Pada umumnya mengurangi biaya

simpan karena ukuran pemesanan dipakai habis untuk periode tersebut.

- Economic Order Quantity (EOQ) adalah ukuran pemesanan dihitung

dengan suatu rumus dimana biaya yang minimal dapat dicapai apabila

kebutuhan dalam bentuk yang sama untuk setiap periode. Rumus untuk

teknik EOQ adalah sebagai berikut :

HPOEOQ 2

= dimana :

EOQ = jumlah pemesanan yang ekonomis

P = kebutuhan bahan baku dalam suatu periode

O = biaya pesan bahan baku

H = biaya simpan bahan baku dalam suatu periode

- Period Order Quantity (POQ) merupakan perbaikan dari sistem economic

order quantity (EOQ), teknik POQ berprinsip pada penentuan frekuensi

pemesanan pertahun yang diperoleh dengan cara membagi jumlah periode

dengan frekuensi pemesanan.

9. Gross Requirement

Menyatakan jumlah yang akan diproduksi atau dipakai pada setiap periode.

Untuk end items, kuantitas gross requirement = MPS. Untuk komponen,

kuantitas gross requirement diturunkan dari Planned Order Release

induknya.

Page 24: BAB 2 LANDASAN TEORI - thesis.binus.ac.idthesis.binus.ac.id/doc/Bab2/2007-1-1-00239-TI Bab 2.pdf · persediaan tradisional telah teratasi semenjak dikenal ... apa yang terjadi pada

46

10. Schedule Receipts

Menyatakan material yang dipesan dan akan diterima pada periode tertentu.

11. Projected Availabel Balance 1 (PAB1)

Menyatakan kuantitas material yang ada di tangan sebagai persediaan pada

awal periode. PAB1 dapat dihitung dengan menambahkan material on hand

periode sebelumnya dengan Scheduled Receipts pada periode yang sama.

PAB1 = (PAB2)t-1 – (Gross Requirement)t + (Scheduled Receipts)t

12. Net Requirement

Menyatakan jumlah bersih (netto) dari setiap komponen yang harus

disediakan untuk memenuhi induk komponennya atau untuk memenuhi MPS.

Net Requirement = 0 jika PAB1>0 dan Net Requirement = (-) PAB1 jika PAB1 ≤ 0.

Net Requirement = -(PAB1)t + Safety Stock

13. Planned Order Receipts

Menyatakan kuantitas pemesanan yang dibutuhkan pada suatu periode.

Planned Order Receipts muncul pada saat yang sama dengan Net

Requirements, tetapi ukuran pemesanannya (lot sizing) bergantung kepada

order policy-nya. Selain itu juga harus mempertimbangkan Safety Stock juga.

14. Planned Order Release

Menyatakan kapan suatu order harus di-release atau dimanufaktur sehingga

komponen ini tersedia ketika dibutuhkan oleh induk itemnya. Kapan suatu

order di-release ditetapkan dengan lead time period sebelum dibutuhkan.

Page 25: BAB 2 LANDASAN TEORI - thesis.binus.ac.idthesis.binus.ac.id/doc/Bab2/2007-1-1-00239-TI Bab 2.pdf · persediaan tradisional telah teratasi semenjak dikenal ... apa yang terjadi pada

47

15. Projected Available Balance 2 (PAB2)

Menyatakan kuantitas material yang ada di tangan sebagai persediaan pada

akhir periode. PAB2 dapat dihitung dengan cara mengurangi Planned Order

Receipt pada Net Requirements.

PAB2 =(PAB2)t-1 + (Sheduled Receipt)t – (Gross Requirement)t +

(Planned Order Receipt)t

atau dapat disingkat :

PAB2 = (PAB1)t + (Planned rder Receipt)t

2.9.3 Output MRP

Output dari sistem MRP adalah informasi yang dapat digunakan untuk

melakukan pengendalian produksi. Keluaran tersebut meliputi :

- Rencana pemesanan yang disusun berdasarkan waktu tenggang dari setiap

komponen atau item. Dengan adanya rencana pemesanan, maka jadwal

kebutuhan bahan pada tingkat lebih rendah dapat diketahui.

- Jumlah lot bahan baku yang dapat dipesan dapat diketahui berdasarkan

pemilihan metode lot yang paling efisien.