askep ca nasofaring

Download Askep CA Nasofaring

Post on 24-Oct-2015

200 views

Category:

Documents

4 download

Embed Size (px)

TRANSCRIPT

ASUHAN KEPERAWATANCA NASOFARING

Di Susun Oleh :1. ANDIK CAHYONO2. DWI OKTI M.3. KURNIA HANA LISTIANI4. LISA AFNIDAH5. ROKHIMI

PROGRAM STUDI D3 KEPRAWATANSEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATANINSAN CENDEKIA MEDIKAJOMBANG 2010/2011

KATA PENGANTAR

Assalamualaikum Wr.Wb.Puji syukur kehadirat Allah YME karena atas rahmat dan hidayah-Nya saya selaku penulis akhirnya dapat menyelesaikan makalah Perkemihan dengan tema BPH sebagai tugas keleompok dalam semester ini. Makalah ini disusun dari berbagai sumber reverensi yang relevan, baik buku-buku diktat kedokteran dan keperawatan, artikel-artikel nasional dan internasional dari internet dan lain sebagainya. Semoga saja makalah ini dapat bermanfaat baik bagi penulis sendiri khususnya maupun bagi para pembaca pada umumnya.Tentu saja sebagai manusia, penulis tidak dapat terlepas dari kesalahan. Dan penulis menyadari makalah yang dibuat ini jauh dari sempurna. Karena itu penulis merasa perlu untuk meminta maaf jika ada sesuatu yang dirasa kurang.Penulis mengharapkan masukan baik berupa saran maupun kritikan demi perbaikan yang selalu perlu untuk dilakukan agar kesalahan - kesalahan dapat diperbaiki di masa yang akan datang.Wassalamualaikum Wr.Wb.

Jombang, 11 Desember 2011

Penulis,

BAB IPENDAHULUAN1.1 LATAR BELAKANGBila kita merujuk pada data statistik yang dikeluarkan oleh American Cancer Society dalam Cancer.Net (2008) teercatat bahwa Kasus Karsinoma Nasofaring termasuk jarang ditemukan di Amerika Serikat, yaitu sekitar 2000 orang yang terdiagnosa setiap tahunnya. Dalam beberapa tahun terakhir, dan angka ini telah mengalami penurunan. Karsinoma nasofaring lebih banyak ditemukan di belahan dunia lain seperti Asia dan Afirika Utara, misalnya saja China bagian Selatan banyak kasus ditemukan untuk penyakit ini.Sementara itu, Indonesia sebagai bagian dari Asia mencatat bahwa tumor ganas yang paling banyak dijumpai di antara tumor ganas THT di Indonesia adalah Karsinoma nasofaring, dimana jenis tumor yang satu ini termasuk dalam lima besar tumor ganas dengan frekwensi tertinggi, sedangkan di daerah kepala dan leher menduduki tempat pertama (Lutan & Soetjipto dalam Asroel, 2002). Dan dalam Roezin dan Adham (2007) disebutkan bahwa hampir 60 % tumor ganas kepala dan leher merupakan karsinoma nasofaring. Karsinoma nasofaring merupakan tumor ganas yang tumbuh di daerah nasofaring dengan predileksi di fossa Rossenmuller pada nasofaring yang merupakan daerah transisional dimana epitel kuboid berubah menjadi epitel skuamosa (Efiaty, 2001).Tumor ganas nasofaring (karsinoma nasofaring) adalah sejenis kanker yang dapat menyerang dan membahayakan jaringan yang sehat dan bagian-bagian organ di tubuh kita. Nasofaring mengandung beberapa tipe jaringan, dan setiap jaringan mengandung beberapa tipe sel. Dan kanker ini dapat berkembang pada tipe sel yang berbeda. Dengan mengetahui tipe yang sel yang berbeda merupakan hal yang penting karena hal tersebut dapat menentukan tingkat seriusnya jenis kanker dan tipe terapi yang akan digunakan (American Cancer Society dalam Cancer.Net, 2008).1.2 RUMUSAN MASALAH1. Apa definisi Ca Nasofaring?2. Bagaimana anatomi fisiologi Nasofaring?3. Apa etiologi dari Ca Nasofaring?4. Bagaimana patofisiologi dari Ca Nasofaring?5. Bagaimana tanda dan gejala dari Ca Nasofaring?6. Bagaimana pembagian Ca Nasofaring?7. Bagaimana perluasan tumor ke jaringan sekitar dari Ca Nasofaring?8. Bagaimana penentuan stadium dari Ca Nasofaring?9. Apa komplikasi dari Ca Nasofaring?10. Bagaimana pemeriksaan penunjang Ca Nasofaring?11. Bagaimana penatalaksanaan Ca Nasofaring?12. Bagaimana pencegahan dari Ca Nasofaring?1.3 TUJUAN1. Menjelaskan definisi Ca Nasofaring.2. Menjelaskan anatomi fisiologi Ca Nasofaring.3.Menyebutkan etiologi dari Ca Nasofaring.4. Menjelaskan patofisiologi dari Ca Nasofaring.5. Menyebutkan tanda dan gejala dari Ca Nasofaring.6. Menyebutkan pembagian Ca Nasofaring.7. Menjelaskan perluasan tumor ke jaringan sekitar dari Ca Nasofaring.8. Menjelaskan stadium dari Ca Nasofaring.9. Menyebutkan komplikasi dari Ca Nasofaring.10. Menyebutkan pemeriksaan penunjang dari Ca Nasofaring.11. Menjelaskan penatalaksanaan dari Ca Nasofaring.12. Menjelaskan pencegahan dari Ca Nasofaring.1.4 MANFAAT1. Menambah wawasan pengetahuan mengenai kasus Ca Nasofaring dan penerapan konsep keperawatan pada kasus Ca Nasofaring.2. Menambah wawasan pengetahuan mengenai penerapan diagnosa keperawatan pada kasus Ca Nasofaring.

BAB IIPEMBAHASAN2.1 DEFINISIKarsinoma nasofaring merupakan tumor ganas yang tumbuh di daerah nasofaring dengan predileksi di fossa Rossenmuller dan atap nasofaring. Karsinoma nasofaring merupakan tumor ganas daerah kepala dan leher yang terbanyak ditemukan di Indonesia (Efiaty & Nurbaiti, 2001 hal 146).Karsinoma nasofaring merupakan tumor ganas yang tumbuh di daerah nasofaring dengan predileksi di fossa Rossenmuller pada nasofaring yang merupakan daerah transisional dimana epitel kuboid berubah menjadi epitel skuamosa (Efiaty, 2001).Karsinoma nasofaring adalah keganasan pada nasofaring yang berasal dari epitel mukosa nasofaring atau kelenjar yang terdapat di nasofaring.Carsinoma Nasofaring merupakan karsinoma yang paling banyak di THT. Sebagian besar klien datang ke THT dalam keadaan terlambat atau stadium lanjut.2.2 ANATOMI FISIOLOGI Nasofaring letaknya tertinggi di antara bagian-bagian lain dari faring, tepatnya di sebelah dorsal dari cavum nasi dan dihubungkan dengan cavum nasi oleh koane. Nasofaring tidak bergerak, berfungsi dalam proses pernafasan dan ikut menentukan kualitas suara yang dihasilkan oleh laring. Nasofaring merupakan rongga yang mempunyai batas-batas sebagai berikut :Atas : Basis kranii.Bawah : Palatum moleBelakang : Vertebra servikalisDepan : KoaneLateral : Ostium tubae Eustachii, torus tubarius, fossa rosenmuler (resesus faringeus).Pada atap dan dinding belakang Nasofaring terdapat adenoid atau tonsila faringika.

2.3 ETIOLOGIKaitan Virus Epstein Barr dengan ikan asin dikatakan sebagai penyebab utama timbulnya penyakit ini. Virus ini dapat masuk dalam tubuh dan tetap tinggal disana tanpa menyebabkan suatu kelainan dalam jangka waktu yang lama. Untuk mengaktifkan virus ini dibutuhkan suatu mediator kebiasaan untuk mengkonsumsi ikan asin secara terus menerus mulai dari masa kanak-kanak, merupakan mediator utama yang dapat mengaktifkan virus ini sehingga menimbulkan Ca Nasofaring. Mediator yang berpengaruh untuk timbulnya Ca Nasofaring :1. Ikan asin, makanan yang diawetkan dan nitrosamine. 2. Keadaan social ekonomi yang rendah, lingkungan dan kebiasaan hidup.3. Sering kontak dengan Zat karsinogen ( benzopyrenen, benzoantrance, gas kimia, asap industri, asap kayu, beberapa ekstrak tumbuhan).4. Ras dan keturunan (Malaysia, Indonesia)5. Radang kronis nasofaring 6. Profil HLA2.4 PATOFISIOLOGIUrutan tertinggi penderita karsinoma nasofaring adalah suku mongoloid yaitu 2500 kasus baru pertahun. Diduga disebabkan karena mereka memakan makanan yang diawetkan dalam musim dingin dengan menggunakan bahan pengawet nitrosamin. (Efiaty & Nurbaiti, 2001 hal 146).Insidens karsinoma nasofaring yang tinggi ini dihubungkan dengan kebiasaan makan, lingkungan dan virus Epstein-Barr (Sjamsuhidajat, 1997 hal 460). Selain itu faktor geografis, rasial, jenis kelamin, genetik, pekerjaan, kebiasaan hidup, kebudayaan, sosial ekonomi, infeksi kuman atau parasit juga sangat mempengaruhi kemungkinan timbulnya tumor ini. Tetapi sudah hampir dapat dipastikan bahwa penyebab karsinoma nasofaring adalah virus Epstein-barr, karena pada semua pasien nasofaring didapatkan titer anti-virus EEB yang cukup tinggi (Efiaty & Nurbaiti, 2001 hal 146).Infeksi virus Epstein Barr dapat menyebabkan karsinoma nasofaring. Hal ini dapat dibuktikan dengan dijumpai adanya keberadaan protein-protein laten pada penderita karsinoma nasofaring. Pada penderita ini sel yang teerinfeksi oleh EBV akan menghasilkan protein tertentu yang berfungsi untuk proses poliferasi dan mempertahankan kelangsungan virus didalam sel host. Protein laten ini dapat dipakai sebagai pertanda delam mendiagnosa karsinoma nasofaring.Hubungan antara karsinoma nasofaring dan infeksi virus Epstein-Barr juga dinyatakan oleh berbagai peneliti dari bagian yang berbeda di dunia ini . Pada pasien karsinoma nasofaring dijumpai peninggian titer antibodi anti EBV (EBNA-1) di dalam serum plasma. EBNA-1 adalah protein nuklear yang berperan dalam mempertahankan genom virus. Huang dalam penelitiannya, mengemukakan keberadaan EBV DNA dan EBNA di dalam sel penderita karsinoma nasofaring.

WOC

Riwayat keluargaKonsumsi ikan asin

Kerusakan DNA pd sel dimana pola kromosomnya abnormalMengaktifkan EBV

Terbentuk sel-sel muatanMenstimulasi pembelahan sel abnormal yg tdk terkontrol

Pola kromosom abnormalDiferensiasi dan pol ferasi protein laten (EBNA-1)

Kromosom ekstra terlalu sedikit translokasi kromosom

Pertumbuhan sel kanker pd nasofaring (utama pd fosa rossamuller)

Sifat kanker diturunkan pd anak

Penekanan ps tuba eustachiusMetastase sel-sel kanker ke kelenjar getah bening melalui aliran limfe

Penyubatan muara tuba

Pertumbuhan dan perkembangan sel-sel kanker di kel. getah beningGangguan persepsi sensori (pendengaran)

Benjolan massa pd leher bagian sampingIritasi traktus GI

Menembus kelenjar dan mengenai otak di bawahnya

Rangsangan

Kelenjar melekat pd otot dan sulit di gerakkanSupresi sum-sum tulangKonstipasiDiareGangguan pembuluh sel darah merah

NyeriResti infeksiEritrosit, leukosi trombositImunosupressi

Indikasi keoterapi

Perangsangan elektrik zona pencetus kemoreseptor di ventrikel IV otakMerusak sel-sel epitel kulit

Resti perubahan membran mukosa oral

Iritasi mukosa mulutMual muntahGangguan integritas kulitKerusakan integritas kulit

StomatitisPerubahan nutrisi kurang dari kebutuhanKerusakan pd kulit kepala