makalah ca. nasofaring

Download Makalah CA. Nasofaring

Post on 28-Dec-2015

42 views

Category:

Documents

10 download

Embed Size (px)

DESCRIPTION

n

TRANSCRIPT

KATA PENGANTAR

Segala puji dan syukur kami panjatkan kehadiran Tuhan Yang Maha Esa. Karena atas berkat rahmatNya penulis dapat menyelesaikan Makalah Karsinoma Nasofaring ini.Makalah ini dibuat dalam rangka memenuhi tugas makalah sistem sensori. Makalah ini memuat tentang Karsinoma Nasofaring yang sangat berbahaya bagi kesehatan seseorang.Penulis menyadari bahwa Makalah ini masih terdapat banyak kekurangan. Oleh karena itu, penulis sangat mengharapkan kritik dan saran yang membangun. Semoga makalah ini dapat bermanfaat dan menambah pengetahuan bagi penulis dan pembaca.

Surabaya, 31 Maret 2014

DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL

1

KATA PENGANTAR

2DAFTAR ISI

3BAB IPendahuluan

5BAB II Pembahasan

6II.IAnatomi dan Fisiologi

6II.IIDefinisi

8II.IIIEpidemiologi dan Etiologi

8II.IVPatofisiologi

11II.VGejala dan Tanda

12

II.VIPatologi

14II.VIIDiagnosis 15II.VIIIDiagnosis Banding 18II.IXStadium

20

II.XPenatalaksanaan

21II.XIPrognosis

26

II.XIIKomplikasi

27

II.XIIIPencegahan

28

II.XIVWeb Of Caution

29BAB IIIManajemen Keperawatan

29

Pengkajian

29

Diagnosa Keperawatan

32

Intervensi

32

Implementasi

37

Evaluasi

37BAB IVLaporan Kasus

38

BAB VPenutup

50DAFTAR PUSTAKA

51BAB I

PENDAHULUANPenderita karsinoma nasofaring (KNF) cukup banyak ditemukan di tengah masyarakat dan jumlahnya cenderung meningkat dari tahun ke tahun. Yang memprihatinkan adalah hampir semua penderita KNF datang pada stadium lanjut. Dan yang menarik lagi, penyakit ini lebih sering mengenai laki-laki usia 40-60 tahun dimana pada usia tersebut seorang kepala keluarga memasuki masa puncak karier dan dituntut lebih secara finansial oleh keluarga. Banyak faktor yang menyebabkan penderita KNF datang pada stadium lanjut. Gejala yang tidak khas menyebabkan penderita terlambat menyadari dan mendatangi dokter. Ketidakmampuan dokter mengenal KNF apalagi memeriksa nasofaring dan kesalahan interpretasi pada pemeriksaan histopatologi, berperan besar menyebabkan penderita didiagnosis pada stadium lanjut sehingga angka kematian penyakit ini cukup tinggi.1,2Penanggulangan karsinoma nasofaring sampai saat ini masih merupakan suatu problem, hal ini karena etiologi yang masih belum pasti, gejala dini yang tidak khas serta letak nasofaring yang tersembunyi, dan tidak mudah diperiksa oleh mereka yang bukan ahli sehingga diagnosis sering terlambat, dengan ditemukannya metastasis pada leher sebagai gejala pertama. Dengan makin terlambatnya diagnosis maka prognosis (angka bertahan hidup 5 tahun) semakin buruk.1Dengan melihat hal tersebut, diharapkan dokter dapat berperan dalam pencegahan, deteksi dini, terapi maupun rehabilitasi dari karsinoma nasofaring ini. Untuk dapat berperan dalam hal tersebut dokter perlu mengetahui terlebih dahulu segala aspek dan kanker nasofaring ini, meliputi definisi, anatomi fisiologi nasofaring, epidemiologi dan etiologi, gejala dan tanda, patofisiologi, diagnosis, komplikasi, terapi maupun pencegahanya. Penulis berusaha untuk menuliskan semua aspek tersebut dalam tinjauan pustaka refarat ini dan diharapkan dapat bermanfaat.BAB II

PEMBAHASAN2.1 ANATOMI DAN FISIOLOGI NASOFARING

Nasopharing berbentuk kerucut dan selalu terbuka pada waktu respirasi karena dindingnya dari tulang, kecuali dasarnya yang dibentuk oleh palatum molle.2Batas nasopharing3 :

1) Superior : basis kranii, diliputi oleh mukosa dan fascia

2) Anterior : choane, oleh os vomer dibagi atas choane kanan dan kiri.

3) Posterior : a.vertebra cervicalis I dan II

b. fascia space = rongga yang berisi jaringan longgar

c. mukosa lanjutan dari mukosa atas

4) Lateral : a. mukosa lanjutan dari mukosa atas dan belakang

b. Muara tuba eustachii

c. Fossa rosenmulleri

Bangunan yang penting pada nasopharing41. Ostium tuba eustachii pars pharyngeal

Tuba eustachii merupakan kanal yang menghubungkan kavum nasi dan nasopharyng dengan rongga telinga tengah. Mukosa ostium tuba tidak datar tetapi menonjol seperti menara, disebut torus tubarius.2. Torus tubarius3. Fossa rosen mulleri

Adalah dataran kecil dibelkang torus tubarius. Daerah ini merupakan tempat predileksi karsinoma nasofaring, suatu tumor yang mematikan nomor 1 di THT.4. Fornix nasofaringAdalah dataran disebelah atas torus tubarius, merupakan tempat tumor angiofibroma nasopharing5. Adenoid= tonsil pharyngeal=luskha6. Secara teoritis adenoid akan hilang setelah pubertas karena adaenoid akan mencapai titik optimal pada umur 12-14 tahun. Lokasi pada dinding superior dan dorsal nasopharing sebelah lateral bursa pharyngea. Fungsinya sebagai mekanisme pertahanan tubuh terhadap kuman- kuman yang lewat jalan napas hidung.

Nasopharing akan tertutup bila paltum molle melekat ke dinding posterior pada waktu menelan, muntah, mengucapkan kata-kata tertentu seperti hak.

Fungsi nasopharing4 :

1) Sebagai jalan udara pada respirasi

2) Jalan udara ke tuba eustachii

3) Resonator

4) Sebagai drainage sinus paranasal kavum timpani dan hidungSecret dari nasopharing dapat bergerak ke bawah karena :

1) Gaya gravitasi

2) Gerakan menelan

3) Gerakan silia (kinosilia)

4) Gerakan usapan palatum molle2.2 DEFINISI

Karsinoma adalah pertumbuhan baru yang ganas terdiri dari sel-sel epithelial yang cenderung menginfiltrasi jaringan sekitarnya dan menimbulkan metastasis. Nasopharyngeal Karsinoma merupakan tumor ganas yang timbul pada epithelial pelapis ruangan dibelakang hidung (nasofaring) dan ditemukan dengan frekuensi tinggi di Cina bagian selatan.52.3 EPIDEMIOLOGI DAN ETIOLOGI

Angka kejadian Kanker Nasofaring (KNF) di Indonesia cukup tinggi, yakni 4,7 kasus/tahun/100.000 penduduk atau diperkirakan 7000 8000 kasus per tahun di seluruh Indonesia (survei yang dilakukan oleh Departemen Kesehatan pada tahun 1980 secara pathology based). Dalam pengamatan dari pengunjung poliklinik tumor THT RSCM, pasien karsinoma nasofaring dari ras Cina relatif lebih banyak dari suku bangsa lainya.1Tumor ini lebih sering ditemukan pada pria dibanding wanita dengan rasio 2-3:1 dan apa sebabnya belum dapat diungkapkan dengan pasti, mungkin ada hubungannya dengan faktor genetik, kebiasaan hidup, pekerjaan dan lain-lain. Distribusi umur pasien dengan KNF berbeda-beda. Pada daerah dengan insiden rendah insiden KNF meningkat sesuai dengan meningkatnya umur, pada daerah dengan insiden tinggi KNF meningkat setelah umur 30 tahun, puncaknya pada umur 40-59 tahun dan menurun setelahnya.6Ras mongoloid merupakan faktor dominan timbulnya KNF, sehingga kekerapan cukup tinggi pada penduduk Cina bagian selatan, Hongkong, Vietnam, Thailand, Malaysia, Singapura, dan Indonesia. Berbagai studi epidemilogik mengenai angka kejadian ini telah dipublikasikan di berbagai jurnal. Salah satunya yang menarik adalah penelitian mengenai angka kejadian Kanker Nasofaring (KNF) pada para migran dari daratan Tiongkok yang telah bermukim secara turun temurun di China town (pecinan) di San Fransisco Amerika Serikat. Terdapat perbedaan yang bermakna dalam terjadinya Kanker Nasofaring (KNF) antara para migran dari daratan Tiongkok ini dengan penduduk di sekitarnya yang terdiri atas orang kulit putih (Caucasians), kulit hitam dan Hispanics, di mana kelompok Tionghoa menunjukkan angka kejadian yang lebih tinggi. Sebaliknya, apabila orang Tionghoa migran ini dibandingkan dengan para kerabatnya yang masih tinggal di daratan Tiongkok maka terdapat penurunan yang bermakna dalam hal terjadinya Kanker Nasofaring (KNF) pada kelompok migran tersebut. Jadi kesimpulan yang dapat ditarik adalah, bahwa kelompok migran masih mengandung gen yang memudahkan untuk terjadinya Kanker Nasofaring (KNF), tetapi karena pola makan dan pola hidup selama di perantauan berubah maka faktor yang selama ini dianggap sebagai pemicu tidak ada lagi maka kanker ini pun tidak tumbuh. Untuk diketahui bahwa penduduk di provinsi Guang Dong ini hampir setiap hari mengkonsumsi ikan yang diawetkan (diasap, diasin), bahkan konon kabarnya seorang bayi yang baru selesai disapih, sebagai makanan pengganti susu ibu adalah nasi yang dicampur ikan asin ini. Di dalam ikan yang diawetkan dijumpai substansi yang bernama nitrosamine yang terbukti bersifat karsinogen bagi hewan percobaan.1,7Dijumpai pula kenaikan angka kejadian ini pada komunitas orang perahu (boat people) yang menggunakan kayu sebagai bahan bakar untuk memasak. Hal ini tampak mencolok pada saat terjadi pelarian besar besaran orang Vietnam dari negaranya. Bukti epidemiologik lain adalah angka kejadian kanker ini di Singapura.6Dijumpainya Epstein-Barr Virus (EBV), pada hampir semua kasus KNF telah mengaitkan terjadinya kanker ini dengan keberadaan virus tersebut. Pada 1966, seorang peneliti menjumpai peningkatan titer antibodi terhadap EBV pada KNF serta titer antibodi IgG terhadap EBV, capsid antigen dan early antigen. Kenaikan titer ini sejalan pula dengan tingginya stadium penyakit. Namun virus ini juga acapkali dijumpai pada beberapa penyakit keganasan lainnya bahkan dapat pula dijumpai menginfeksi orang normal tanpa menimbulkan manifestasi penyakit.2Ada peneliti yang mencoba menghubungkannya dengan merokok, secara umum resiko terhadap KNF pada perokok 2-6 kali dibandingkan dengan bukan perokok. Ditemukan juga bahwa menurunnya angka kematian KNF di Amerika utara dan Hongkong merupakan hasil dari mengurangi frekuensi merokok. Adanya hubungan antara faktor kebiasaan makan dengan terjadinya KNF dipelajari oleh Ho dkk. Dite