teori ca nasofaring

Download Teori Ca Nasofaring

Post on 22-Jul-2015

33 views

Category:

Documents

0 download

Embed Size (px)

TRANSCRIPT

BAB II TINAJAUAN TEORITISA. Konsep Dasar Keganasan Kanker adalah suatu proses penyakit yang bermula ketika sel abnormal diubah oleh mutasi genetik dari DNA seluler. Sel abnormal ini membentuk klon dan mulai berploriferasi secara abnormal mengaaikan sinyal-sinyal pengatur pertumbuhan dalam lingkungan sekitar sel tersebut, kemudian dicapai suatu tahap dimana sel mendapatkan ciri-ciri intensif dan terjadio peruibahan pada jaringan sekitar dan memeperoleh akses ke .limfe dan pembuluh-pembuluh darah, melelui pem,bul;u darah tersebut sel dapat terbawa ke daerah lain dalam tubuh untuk bermetastase pada bagian tubuh lain. Membran sel pada sel kanker mengalami gangguan yang mempengaruhi perpindahan masuk dan keluar cairan dari sel. Membran sel dari sel-sel maligna juga mengandung protein yang disebut anti genm spesifik tumor. Inti sel dari sel kanker seringkali besar dan bentuknya tidak beraturan. Nukleolus lenih besar dan lebih banyak pada sel-sel maligan karena meningkatnya sintesis RNA. Mitosis lebih sering pada sel-sel maligna sehingga meningkatkan fraksi pertumbuhan dari populsi sel tumor. Sel-sel kanker juga mengalami perubahan dari siklus adenosin monoposfat (AMP) dan siklus Gaunosin Monoposfat (GMP). B. Konsep Dasar Keperawatan Kanker Keperawatan kanker adalah suatu area praktek yang mencakup semua kelompok usia dan spesialisasi keperawtan serta dilakukan dalam beragam tatanan peraweatan, pelayanan kesehatan, meliputi rumah, komunitas, institusi perawatan akut dan pusat-pusat rehabilitasi. Bidang atau spesialisasi keperawatan kanker atau keperawatan onkologi memiliki perkembangan yang sejajar dengan onkologis medis dan kemajuan terapeutik utama yang telah terjadi dalam perawatan individu dengan kanker. Lingkup, tangguang jawab dan tujuan dari perawatyan kanker adalah sama beragan dan kompleksnya seperti spesialisai lainnya. Terdapat suatu tantangan

khusus yang menyatu dalam merawat individu dengan kanker karena dalam masyarakat kita kata knker seringkali disamakan dengan nyeri dan kematian. Mengidentifikasi seseorang terhadap kanker dan membuat tujuan realistik yang dapat dicapai memungkinkan bekal utuk mendukung pasien dan keluarga melewati rentang krisis fisik, emosional, budaya dan spiritual yang luas. Pencapaian hasil yang diinginkan meliputi pemberia dukungan yang realistik pada mereka yang menerima asuhan keperawatan dan dengan menggunakan standar-stndar praktek dan proses keperwatan sebagai dasar asuhan. C. Konsep Dasar Ca Nasofaring 1. Pengertian Kanker nasofarig adalah suatu masa dalam nasofaring dan seringkali tenang sampai masa ini mencapai ukuran yang cukup mengganggu struktur sekitarnya ( Boies, 1997: 323 ). Kanker nasofaring merupakan karsinoma sel skamosa yang mula-mula terlihat sebagai masa yang berulserasi dan emgerosi kanker nasofaring, menginvasi ke daerah tengkorak dan bermetastase ke nodus limfatikus dalam satadium dini. Sehingga sering terlihat sebagai benjolan metastasis di leher atau sebagai paralisis saraf otak tersendiri (dr. Petrus Andrianto, 1998: 372). Dari kedua pengertin diatas dapat disimpulkan bahwa kanker nasofaring adalah suatu massa dalam nasofaring yang merupakan karsinoma sel skuamosa yang menginvasi ke daerah tengkorak dan bermetastase ke nodus limfatikus sehingga sering terluhat sebagai benjolan metastase di leher yang cukup mengganggu srtuktur sekitarnya. 2. Anatomi Fisiologi Anatomi dan Fisiologi Sistem pernafasan Pernafasasn (respirasi) adalah peristiwa menghirup udara dari luar yang mengandung oksigen kedalam tubuh serta menghembuskan udara yang banyak mengandung CO2. sebagai sisa dari oksidasi keluar dari tubuh. Penghisapan udara disebut inspirasi dan menghembuskan disebut ekspirasi.

Fungsi pernafasan Mengambil oksigen yang kemudian dibawa oleh darah seluruh tubuh Mengeluarkan karbon dioksida yang terjadi sebagai sias adari Menghangatkan dan melembabkan udara Saluran pernafasan terdiri dari hidung, faring, laring, trakea, broncus, broncheolus dan alveolus. Saluran pernafasan dari hidung sampai bronchiolus dilapisi oleh membrane mukosa yang bersilia.Ketika udara masuk kdalam rongga hidung disaring, dihangatkan dan dilembabkan, Ketiga proses ini merupakan fungsi utama dari mukosa respirasi yang terdiri dari epitel torax bertinglat, bersilia dan bersel goblet Hidung Bekerja sebagai saluran udara pernafasan Sebagai penyaring udara pernafasan yang dilakukan oleh bulu bulu hidung Dapat menghangatkan udara pernafasan oleh mukosa Membunuh kuman kuman yang masuk, bersama samaudara pernafasan oleh lekosit yang terdapat dalam selaput lender (mukosa atau hidung) Faring Faring adalah pipa berotot yang berjalan dari dasr tengkorak sampai persambungannya dengan esophagus pada ketinggian kartilago krikoid. Maka letaknya dibelakang hidung (nasofaring), dibelakang mulut (orofaring), dan dibelakang laring (laringofaring )fungsi faring adalah Mengalirkan udara dari hidung ke laring Laring Laring merupakan rangkaian cincin tulang rawan yang dihubungkan oleh otot dan mengan dung pita suara. Laring terletak didepan bagian terendah faring yang memisahkannya dari kolumna vertebra, berjalan dari faring sampai ketinggian vertebra servikalis dan masuk kedalam trachea dibawahnya. (sel selnya) untuk mengadakan pembakaran. pembakaran , kemudian di abewa oleh garah ke paru paru untuk dibuang Organ organ pernafasan

Trakea Trakea disokong oleh cicncin tulang rawan yang berbentuk sepeti sepatu kuda yang panjangnya kurang lebih 5 inchi/9 cm Bronchus Bronchus utama kiri dan kanan tidak simetris. Bronchus kanan lebih pendek dan lebih lebar dan merupalkan kelanjutan dari trakea yang arahnya lebih vertical .Sebaliknya , bronchus kiri lebih panjang dan lebih sempit dan merupakan kelanjutan dari trakea dengan sudut yang lebih tajam. Alveolus Merupakan inti dari fungsi pernafasan ,karena pada alveolus terjadi pertukaran oksigen dengan kapiler darah. Fisiologi pernafasan : Empat proses yang berhubungan dengan pernafasan pulmonary : 1. Ventilasi pulmonal atau gerak pernafasan yang menukar udara dalam alveoli dengan udara luar 2. Arus darah melalui paru-paru 3. Distribusi arus udara dan arus darah sesemikian sehingga jumlah tepat dari setiap udara dapat mencapai semua bagian tubuh 4. Difusi gas yang menembusi membrane pemisah alveoli dan kapiler. CO2 lebih nudah berdifusi dari pada O2 Anatomi Fisiologi Nasofaring Faring dibagi menjadi 3 bagian utama yaitu : nasofaring, orofaring dan laringofaring atau hipofaring. Sepertiga bagian atas atau nasofaring adalah bagian pernapasan dari faring dan tidak dapat bergerak kecuali palatum mole bagian bawah. Ruang nasofaring yang relatif kecil terdiri dari atau mempunyai hubungan yang erat dengan beberapa srtuktur yang secara klinis mempunyai arti penting, yaitu : a. Pada dinding posterior meluas ke arah kubah adalah jaringan adenoid b. Terdapat jaringan limfoid pada dinding faringeal lateral dan pada resesus faringeus, yang dikenal dengan Fossa Rosenmuller

c. Torus tubarrius, refleksi mukosa faringeal di atas bagian kartilago saluran tuba eustachius yang berbentuk bulat dan menjulang tampak sebagai benjolan seperti ibu jari ke dinding lateral nasofaring tepat di atas perlekatan palatum mole d. Koana posterisor rongga hidung e. Foramina kranial, yang terletak berdekatan dan dapat terkena akibat perluasan dari pnyakit nasofaring, termasuk foramen jugularis yang dilalui oleh saraf kranial glosofaringeus, vagus dan assesoris spinalis. f. Struktur pembuluh daraha yang penting yang letaknya berdekatan termasuk sinus petrosus inferior, vena jugularis interna, cabang-cabang meningeal dari oksipital dan arteri faringeal asenden dan foramen hipoglosus yang dilalui saraf hipoglosus. g. Tulang temporalis bagian petrosa dan foramen laserum yang terletak dekat bagian lateral atap nasofaring h. Ostium dari sinus-sinus sfenoid 3. Etiologi Dapat ditemukan berbagi jenis tumor ganas nasofaring antara lain berbagi jenis karsinoma epidermoid, adenokarsinoma, karsinoma adenoid kistik dll serta berbagi jenis sarkoma dan limfoma malignum. Yang paling sering ditemukan kira-kira 90 % adalah karsinoma epidemoid. Penyebab karsinoma ini masih nelum diketahui lebih jelas. Kemungkinan bear penyebabnya adalah suatu jenis virus yang disebut virus Epstein Bar, akan tetapi selain dari itu juga terdapat faktor yang mempengaruhi pertumbuhan tumor ganas ini, antara lain: Faktor ras Banyak ditemukan pada ras mongoloid terutama daerah Cina bagian selatan, malaysia, Singapura dan Indonesia. Faktor Genetik

Sering tumor ini atau tumor pada organ lain ditemukan pada beberapa generasi sutu keluarga Faktor Sosial Ekonomi

Faktor yang mempengaruhi adalah keadaan gizi, polusi dll. Faktor Kebudayaan Kebiasaan hidup, cara memasak makanan serta pemakaian berbagai bumbu masakan memengaruhi pertumbuhan tumor ini. Faktor Geografis Terdapat banyak di Asia Selatan, Afrka Utara, Eskimo dan Yunani. 4. Tanda dan Gejala Gejala tumor ganas nasofaring dikelompokan dalam berbagai kelompok gejala seperti telina, mata, hidung, neurologik dan pembesaran kelenjar leher. Gejala di telinga terjadi karena seringnya tumor tumbuh di fosa Rosenmuller. Dengan demikian timbul gejala tinitus, penyumbatan tuba eustachius, otitis media serosa kronis. Gejala di telina ini merupakan gejala awal. Akan tetapi sering pasien atau dokter yang pertama memeriksa pasien ini mengabaikan kelainan ini, sehingga yang sering ditemukan adalah pada stadium lebih lanjut telah terjadi metastase ke jaringan getah bening leher. Sering terjadi gejala sumbatan di hidung yang didahului oleh gejala epistaksis yang berulang. Pada keadaan lanjut tumor masuk ke dalam rongga hidung atau sinus paranasal. Gejala di mata terjadi karena tumor berfiltrasi ke rongga tengkorak, sehingga yang pertama terkena adalah saraf otak III, IV, dan VI yaitu sarf yang mempersarafi otot mata sehingga menimbulkan gejala diplopia. Gejala yang lebih lanjut adalah gejala neurologi karena infiltrasi tumor ke intrakranial melalui forame