ca nasofaring (edit)

Download CA Nasofaring (Edit)

Post on 10-Jul-2015

325 views

Category:

Documents

0 download

Embed Size (px)

TRANSCRIPT

KARSINOMA NASOFARINGPembimbing : Dr. Yuswandi Affandi Sp.THT-KL Dr. Ivan Djajalaga, M.Kes, Sp.THT-KL Penyusun : Mega Permata Pandu Abdul Syakur Adelin litan Adrian Ridski Harsono Ari Suganda Felyana Gunawan Yoelius Wijaya Vitta Kusuma Wijaya Nazlia Binti Razali

KEPANITERAAN KLINIK ILMU PENYAKIT THT RUMAH SAKIT UMUM DAERAH KARAWANG FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS TRISAKTI JAKARTA 2011

1

KATA PENGANTAR Segala puji dan syukur kami panjatkan kehadiran Tuhan Yang Maha Esa. Karena atas berkat rahmatnyalah penulis dapat menyelesaikan MakalahKarsinomaNasofaring ini. Makalah ini dibuat dalam rangka memenuhi tugas kepaniteraan klinik di bagian Ilmu Penyakit Telinga Hidung Tenggorok di RSUD Karawang. Makalah ini memuat tentang KARSINOMA NASOFARING yang sangat berbahaya bagi kesehatan seseorang. Kami juga mengucapkan terima kasih kepada dokter pembimbing di bidang THT yaitu dr. Yuswandi Affandi, SpTHT dan dr. Ivan Djajalaga M.Kes.Sp.THT yang telah membimbing kami dalam kepaniteraan klinik THT ini dan rekan-rekan koas yang ikut membantu memberikan semangat dan dukungan moril. Penulis menyadari bahwa Makalah ini masih terdapat banyak kekurangan. Oleh karena itu, penulis sangat mengharapkan kritik dan saran yang membangun dari semua pihak. Semoga makalah ini dapat bermanfaat dan menambah pengetahuan bagi penulis dan pembaca.

Karawang, 20 September 2011

Penulis

2

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR DAFTAR ISI BAB I BAB II Karsinoma nasofaring Anatomi dan histologi Anatomi Histologi BAB III Karsinoma Nasofaring Definisi Epidemiologi dan Etiologi Patofisiologi Manifestasi klinis Diagnosis Diagnosis Banding Penatalaksanaan BAB IV Daftar Pustaka

1 2 4 5 5 7 8 8 8 11 13 14 17 18 21

3

BAB I KARSINOMA NASOFARING

Karsinoma nasofaring adalah tumor ganas yang terjadi pada daerah nasofaring dan merupakan tumor ganas yang paling banyak dijumpai diantara tumor ganas THT di Indonesia. Karsinoma nasofaring termasuk dalam lima besar tumor ganas dengan frekuensi tertinggi diantara tumor lainnya seperti tumor ganas serviks uteri, tumor payudara, tumor getah bening, dan tumor kulit. Hampir 60% tumor ganas kepala dan leher merupakan karsinoma nasofaring kemudian diikuti oleh tumor ganas hidung dan sinus paranasal (18%), laring (16%), dan tumor ganas rongga mulut, tonsil, hipofiring dalam presentase rendah. Insiden yang paling tinggi adalah pada ras mongoloid di asia dan china selatan, sedangkan di Indonesia maupun di asia tenggara. Di hongkong, insidennya 28,5% kasus per 100.000 pria dan 11,2% kasus per 100.000 wanita.Survei yang dilakukan oleh Departemen Kesehatan padatahun 1980 secara pathology based mendapatkan angka prevalensi karsinoma nasofaring 4,7 per 100.000 penduduk atau diperkirakan 7000 8000 kasus per tahun di seluruh Indonesia. Santosa (1988) mendapatkan jumlah 716 (8,46%) penderita karsinoma nasofaring berdasarkan data patologi yang diperoleh di laboratorium patologi anatomi FK UNAIR Surabaya (1973-1976) diantara 8463 kasus keganasan diseluruh tubuh. Penanggulangan karsinoma nasofaring sampai saat ini masih merupakan suatu problem, hal ini dikarenakan etiologi yang masih belum pasti, gejala dini yang tidak khas serta letak nasofaring yang tersembunyi, dan tidak mudah untuk diperiksa oleh mereka yang bukan ahli sehingga diagnosis sering terlambat, yaitu dengan ditemukannya metastasis pada leher sebagai gejala pertama. Semakin terlambat kita melakukan diagnosis, maka prognosis dari pasien dengan karsinoma nasofaring semakin buruk. Maka dari itu diharapkan dokter dapat melakukan pencegahan, deteksi dini, terapi dan rehabilitasi dari karsinoma nasofaring.

4

BAB II ANATOMI DAN HISTOLOGI

II.1. Anatomi Nasofaring merupakan suatu rongga dengan dinding kaku di atas, belakang dan lateral yang secara anatomi termasuk bagian faring. Ke anterior berhubungan dengan rongga hidung melalui koana dan tepi belakang septum nasi, sehingga sumbatan hidung merupakan gangguan yang sering timbul. Ke arah posterior dinding nasofaring melengkung ke superoanterior dan terletak di bawah os sfenoid, sedangkan bagian belakang nasofaring berbatasan dengan ruang retrofaring, fasia pre vertebralis dan otot-otot dinding faring. Pada dinding lateral nasofaring terdapat orifisium tuba eustakius dimana orifisium ini dibatasi superior dan posterior oleh torus tubarius, sehingga penyebaran tumor ke lateral akan menyebabkan sumbatan orifisium tuba eustakius dan akan mengganggu pendengaran. Ke arah posterosuperior dari torus tubarius terdapat fossa Rosenmuller yang merupakan lokasi tersering karsinoma nasofaring. Pada atap nasofaring sering terlihat lipatan-lipatan mukosa yang dibentuk oleh jaringan lunak sub mukosa, dimana pada usia muda dinding postero-superior nasofaring umumnya tidak rata. Hal ini disebabkan karena adanya jaringan adenoid. Di nasofaring terdapat banyak saluran getah bening yang terutama mengalir ke lateral bermuara di kelenjar retrofaring Krause (kelenjar Rouviere). (1) (2) (3) Batas : - Anterior : koana / nares posterior, oleh os vomer dibagi atas choane kanan dan kiri - Posterior : setinggi columna vertebralis C1-2 - Fascia space = rongga yang berisi jaringan longgar - Mukosa lanjutan dari mukosa atas - Inferior : dinding atas palatum molle - Superior : basis crania, diliputi oleh mukosa dan fascia (os occipital & sphenoid) - Lateral : fossa Rosenmulleri kanan dan kiri (dibentuk os maxillaris & sphenoidalis) Dorsal dari torus tubarius didapati cekungan yang disebut fossa Rosenmulleri , Nasofaring merupakan bagian nasal dari faring yang terletak posterior dari kavum nasi. Yang disebut kanker nasofaring adalah kanker yang terjadi di selaput lendir daerah ini, tepatnya5

pada cekungan Rosenmuelleri dan tempat bermuaranya saluran Eustachii yang menghubungkan liang telinga tengah dengan ruang faring (3) Pada dinding lateral nasofaring lebih kurang 1,5 inci dari bagian belakang konka nasal inferior terdapat muara tuba eustachius. Pada bagian belakang atas muara tuba eustachius terdapat penonjolan tulang yang disebut torus tubarius dan dibelakangnya terdapat suatu lekukan dari fossa Rosenmuller dan tepat diujung atas posteriornya terletak foramen laserum. Pada daerah fossa ini sering terjadi pertumbuhan jaringan limfe yang menyempitkan muara tuba eustachius sehingga mengganggu ventilasi udara telinga tengah. Dinding lateral nasofaring merupakan bagian terpenting,dibentuk oleh laminafaringob asilaris karotis dari dan fasia faringeal dan otot konstriktor faring superior. Fasia ini mengandung jaringan fibrokartilago yang menutupi foramen ovale, foramen jugularis, kanalis kanalis hipoglossus. Struktur ini penting diketahui karena merupakan tempat penyebaran tumor ke intrakranial. Nasofaring berbentuk kerucut dan selalu terbuka pada waktu respirasi karenadindingn ya dari tulang, kecuali dasarnya yang dibentuk oleh palatum molle. Nasofaring akan tertutup bila paltum molle melekat ke dinding posterior pada waktu menelan, muntah, mengucapkan kata-kata tertentu. Struktur penting yang ada di Nasofaring : Ostium Faringeum tuba auditiva muara dari tuba auditiva Torus tubarius, penonjolan di atas ostium faringeum tuba auditiva yang disebabkankarena cartilago tuba auditiva Torus levatorius, penonjolan di bawah ostium faringeum tuba auditiva yangdisebabka n karena musculus levator veli palatini. Plica salpingopalatina, lipatan di depan torus tubarius Plica salpingopharingea, lipatan di belakang torus tubarius, merupakan penonjolandari musculus salphingopharingeus yang berfungsi untuk membuka ostium faringeumtuba auditiva terutama ketika menguap atau menelan. Recessus Pharingeus disebut juga fossa rossenmuller. Merupakan tempat

predileksiKarsinoma Nasofaring.6

Tonsila pharingea, terletak di bagian superior nasopharynx. Disebut adenoid jika ada pembesaran. Sedangkan jika ada inflammasi disebut adenoiditis.

Tonsila tuba, terdapat pada recessus pharingeus. Isthmus pharingeus merupakan suatu penyempitan di antara nasopharing danorophari ng karena musculus sphincterpalatopharing

Musculus constrictor pharingeus dengan origo yang bernama raffae pharingei

Fungsi nasofaring : Sebagai jalan udara pada respirasi Jalan udara ke tuba eustachii Resonator Sebagai drainage sinus paranasal kavum timpani dan hidung

Gambar 2.1 Anatomi Faring II.2. Histologi Mukosa nasofaring dilapisi oleh epitel bersilia repiratory type . Setelah 10tahun kehidupan, epitel secara lambat laun bertransformasi menjadi epitel nonkeratinizing squamous,7

kecuali pada beberapa area (transition zone). Mukosamengalami invaginasi membentuk kripta. Stroma kaya akan jaringan limfoid danterkadang dijumpai jaringan limfoid yang reaktif. Epitel permukaan dan kripta sering diinfiltrasi dengan sel radang limfosit dan terkadang merusak epitel membentuk reticulated pattern. Kelenjar seromucinous dapat juga dijumpai,tetapi tidak sebanyak yang terdapat pada rongga hidung. BAB III KARSINOMA NASOFARING

III.1. Definisi Karsinoma adalah pertumbuhan baru yang ganas terdiri dari sel-sel epithelial yang cenderung menginfiltrasi jaringan sekitarnya dan menimbulkan metastasis. Nasopharyngeal carcinoma merupakan tumor ganas yang timbul pada epithelial pelapis ruangan dibelakang hidung (nasofaring) dan ditemukan dengan frekuensi tinggi diCina bagian selatan.(5) III.2. Epidemiologi dan Etiologi Angka kejadian Kanker Nasofaring (KNF) di Indonesia cukup tinggi, yakni 4,7kasus/tahun/100.000 penduduk atau diperkirakan 7000 8000 kasus per tahun di seluruh Indonesia (Survei yang dilakukan oleh Departemen Kesehatan pada tahun 1980 secarapathology based). Santosa (1988) mendapatkan jumlah 716 (8,46%) penderita KNF berdasarkan data patologi yang diperoleh di Laboratorium Patologi anatomi FK Unair Surabaya(1973 1976) diantara 8463 kasus keganasan di Seluruh tubuh. Di Bagian THT Semarang mendapatkan 127 kasus KNF dari tahun 2000 2002. Di RSCM Jakart