69119590 ca nasofaring edit

Download 69119590 CA Nasofaring Edit

Post on 02-Jan-2016

19 views

Category:

Documents

1 download

Embed Size (px)

DESCRIPTION

NF

TRANSCRIPT

KATA PENGANTARSegala puji dan syukur kami panjatkan kehadiran Tuhan Yang Maha Esa yang telahmenolong dan memberkati kami menyelesaikan refarat ini dengan baik. Tanpa pertolongan Diamungkin kami tidak akan sanggup menyelesaikan dengan baik. Refarat ini disusun sebagaisyarat untuk mengikut ujian selain itu agar pembaca dapat memperluas ilmu tentangKARSINOMA NASOFARING, yang kami sajikan berdasarkan pengamatan dari berbagaisumberRefarat ini memuat tentang KARSINOMA NASOFARING yang sangat berbahaya bagikesehatan seseorang. Kami juga mengucapkan terima kasih kepada dosen pembimbing THTyaitu dr. A. Sebayang, SpTHT, dr. Nuzwar Noer, SpTHT dan dr. Robert Hasibuan, SpTHTbeserta asistenya yang telah membimbing kami agar dapat mengerti tentang bagaimana carakami menyusun refarat dan mengerti tentang ilmu di bidang THT.Semoga makalah ini dapat memberikan wawasan yang lebih luas kepada pembaca.Walaupun makalah ini memiliki kelebihan dan kekurangan. Kami mohon untuk saran dankritiknya. Terima kasih.Jakarta, Maret 2010

3

Penyusun

I.PENDAHULUANKarsinoma nasofaring (KNF) merupakan tumor ganas yang paling banyak dijumpai diantara tumor ganas THT di Indonesia, dimana karsinoma nasofaring termasuk dalam lima besartumor ganas , dengan frekwensi tertinggi (bersama tumor ganas serviks uteri, tumor payudara,tumor getah bening dan tumor kulit), sedangkan didaerah kepala dan leher menduduki tempatpertama ( KNF mendapat persentase hampir 60% dari tumor di daerah kepala dan leher, diikutitumor ganas hidung dan sinus paranasal 18%, laring 16%, dan tumor ganas rongga mulut, tonsil,hipofaring dalam persentase rendah). Tumor ini berasal dari fossa Rosenmuller pada nasofaringyang merupakan daerah transisional dimana epitel kuboid berubah menjadi epitel skuamosa.Santosa (1988) mendapatkan jumlah 716 (8,46%) penderita KNF berdasarkan datapatologi yang diperoleh di Laboratorium Patologi anatomi FK Unair Surabaya (1973 1976)diantara 8463 kasus keganasan di Seluruh tubuh. Di Bagian THT Semarang mendapatkan 127kasus KNF dari tahun 2000 2002. Survei yang dilakukan oleh Departemen Kesehatan padatahun 1980 secara pathology based mendapatkan angka prevalensi karsinoma nasofaring 4,7per 100.000 penduduk atau diperkirakan 7000 8000 kasus per tahun di seluruh Indonesia.Penanggulangan karsinoma nasofaring sampai saat ini masih merupakan suatu problem,hal ini karena etiologi yang masih belum pasti, gejala dini yang tidak khas serta letak nasofaringyang tersembunyi,dan tidak mudah diperiksa oleh mereka yg bukan ahli sehingga diagnosissering terlambat, dengan ditemukannya metastasis pada leher sebagai gejala pertama. Denganmakin terlambatnya diagnosis maka prognosis ( angka bertahan hidup 5 tahun) semakin buruk.Dengan melihat hal tersebut, diharapkan dokter dapat berperan dalam pencegan, deteksidini, terapi maupun rehabilitasi dari karsinoma nasofaring ini. Untuk dapat bereperan dalam haltersebut dokter perlu mengetahui terlebih dahulu sega aspek dai kanker nasofaring ini, meliputidefinisi, anatomi fisiologi nasofaring, epidemiologi dan etiologi, gejala dan tanda, patofisiologi,

4

KARSINOMA NASOFARINGPembimbing :

Dr. Yuswandi Affandi Sp.THT-KL

Dr. Ivan Djajalaga, M.Kes, Sp.THT-KLPenyusun :

Mega Permata

Pandu Abdul Syakur

Adelin litan

Adrian Ridski Harsono

Ari Suganda

Felyana Gunawan

Yoelius Wijaya

Vitta Kusuma Wijaya

Nazlia Binti Razali

KEPANITERAAN KLINIK ILMU PENYAKIT THT

RUMAH SAKIT UMUM DAERAH KARAWANG

FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS TRISAKTI

JAKARTA

2011KATA PENGANTAR

Segala puji dan syukur kami panjatkan kehadiran Tuhan Yang Maha Esa. Karena atas berkat rahmatnyalah penulis dapat menyelesaikan MakalahKarsinomaNasofaring ini.Makalah ini dibuat dalam rangka memenuhi tugas kepaniteraan klinik di bagian Ilmu Penyakit Telinga Hidung Tenggorok di RSUD Karawang. Makalah ini memuat tentang KARSINOMA NASOFARING yang sangat berbahaya bagi kesehatan seseorang. Kami juga mengucapkan terima kasih kepada dokter pembimbing di bidang THT yaitu dr. Yuswandi Affandi, SpTHT dan dr. Ivan Djajalaga M.Kes.Sp.THT yang telah membimbing kami dalam kepaniteraan klinik THT ini dan rekan-rekan koas yang ikut membantu memberikan semangat dan dukungan moril.Penulis menyadari bahwa Makalah ini masih terdapat banyak kekurangan. Oleh karena itu, penulis sangat mengharapkan kritik dan saran yang membangun dari semua pihak. Semoga makalah ini dapat bermanfaat dan menambah pengetahuan bagi penulis dan pembaca.Karawang, 20 September 2011

Penulis

DAFTAR ISIKATA PENGANTAR

1

DAFTAR ISI

2BAB I

Karsinoma nasofaring

4

BAB II Anatomi dan histologi

5

Anatomi

5

Histologi

7BAB IIIKarsinoma Nasofaring

8

Definisi

8

Epidemiologi dan Etiologi

8

Patofisiologi

11

Manifestasi klinis

13

Diagnosis

14

Diagnosis Banding

17

Penatalaksanaan

18BAB IVDaftar Pustaka

21BAB IKARSINOMA NASOFARINGKarsinoma nasofaring adalah tumor ganas yang terjadi pada daerah nasofaring dan merupakan tumor ganas yang paling banyak dijumpai diantara tumor ganas THT di Indonesia. Karsinoma nasofaring termasuk dalam lima besar tumor ganas dengan frekuensi tertinggi diantara tumor lainnya seperti tumor ganas serviks uteri, tumor payudara, tumor getah bening, dan tumor kulit. Hampir 60% tumor ganas kepala dan leher merupakan karsinoma nasofaring kemudian diikuti oleh tumor ganas hidung dan sinus paranasal (18%), laring (16%), dan tumor ganas rongga mulut, tonsil, hipofiring dalam presentase rendah.

Insiden yang paling tinggi adalah pada ras mongoloid di asia dan china selatan, sedangkan di Indonesia maupun di asia tenggara. Di hongkong, insidennya 28,5% kasus per 100.000 pria dan 11,2% kasus per 100.000 wanita.Survei yang dilakukan oleh Departemen Kesehatan padatahun 1980 secara pathology based mendapatkan angka prevalensi karsinoma nasofaring 4,7per 100.000 penduduk atau diperkirakan 7000 8000 kasus per tahun di seluruh Indonesia. Santosa (1988) mendapatkan jumlah 716 (8,46%) penderita karsinoma nasofaring berdasarkan data patologi yang diperoleh di laboratorium patologi anatomi FK UNAIR Surabaya (1973-1976) diantara 8463 kasus keganasan diseluruh tubuh.

Penanggulangan karsinoma nasofaring sampai saat ini masih merupakan suatu problem, hal ini dikarenakan etiologi yang masih belum pasti, gejala dini yang tidak khas serta letak nasofaring yang tersembunyi, dan tidak mudah untuk diperiksa oleh mereka yang bukan ahli sehingga diagnosis sering terlambat, yaitu dengan ditemukannya metastasis pada leher sebagai gejala pertama. Semakin terlambat kita melakukan diagnosis, maka prognosis dari pasien dengan karsinoma nasofaring semakin buruk. Maka dari itu diharapkan dokter dapat melakukan pencegahan, deteksi dini, terapi dan rehabilitasi dari karsinoma nasofaring.

BAB II

ANATOMI DAN HISTOLOGIII.1. AnatomiNasofaring merupakan suatu rongga dengan dinding kaku di atas, belakang dan lateral yang secara anatomi termasuk bagian faring. Ke anterior berhubungan dengan rongga hidung melalui koana dan tepi belakang septum nasi, sehingga sumbatan hidung merupakan gangguan yang sering timbul. Ke arah posterior dinding nasofaring melengkung ke supero-anterior dan terletak di bawah os sfenoid, sedangkan bagian belakang nasofaring berbatasan dengan ruang retrofaring, fasia pre vertebralis dan otot-otot dinding faring. Pada dinding lateral nasofaring terdapat orifisium tuba eustakius dimana orifisium ini dibatasi superior dan posterior oleh torus tubarius, sehingga penyebaran tumor ke lateral akan menyebabkan sumbatan orifisium tuba eustakius dan akan mengganggu pendengaran. Ke arah postero-superior dari torus tubarius terdapat fossa Rosenmuller yang merupakan lokasi tersering karsinoma nasofaring. Pada atap nasofaring sering terlihat lipatan-lipatan mukosa yang dibentuk oleh jaringan lunak sub mukosa, dimana pada usia muda dinding postero-superior nasofaring umumnya tidak rata. Hal ini disebabkan karena adanya jaringan adenoid. Di nasofaring terdapat banyak saluran getah bening yang terutama mengalir ke lateral bermuara di kelenjar retrofaring Krause (kelenjar Rouviere). (1) (2) (3)Batas :- Anterior : koana / nares posterior, oleh os vomer dibagi atas choane kanan dan kiri- Posterior : setinggi columna vertebralis C1-2

- Fascia space = rongga yang berisi jaringan longgar

- Mukosa lanjutan dari mukosa atas

- Inferior : dinding atas palatum molle- Superior : basis crania, diliputi oleh mukosa dan fascia (os occipital & sphenoid)- Lateral : fossa Rosenmulleri kanan dan kiri (dibentuk os maxillaris & sphenoidalis)

Dorsal dari torus tubarius didapati cekungan yang disebut fossa Rosenmulleri , Nasofaring merupakan bagian nasal dari faring yang terletak posterior dari kavum nasi. Yang disebut kanker nasofaring adalah kanker yang terjadi di selaput lendir daerah ini, tepatnya pada cekungan Rosenmuelleri dan tempat bermuaranya saluran Eustachii yang menghubungkan liang telinga tengah dengan ruang faring (3) Pada dinding lateral nasofaring lebih kurang 1,5 inci dari bagian belakang konka nasal inferior terdapat muara tuba eustachius. Pada bagian belakang atas muara tuba eustachius terdapatpenonjolantulangyang disebut torus tubariusdan dibelakangnya terdapat suatu lekukan dari fossa Rosenmuller dan tepat diujung atas posteriornya terletak foramen laserum. Pada daerah fossainiseringterjadipertumbuhan jaringan limfe yangmenyempitkanmuara tuba eustachius sehingga mengganggu ventilasi udara telingatengah.Dindinglateralnasofaringmerupakanbagianterpenting,dibentukolehlaminafaringobasilaris dari fasia faringeal dan otot konstriktor faring superior. Fasia ini mengandungjaringan f