tugas konservasi tnaman langka

Click here to load reader

Post on 30-Jun-2015

467 views

Category:

Documents

12 download

Embed Size (px)

TRANSCRIPT

I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Permintaan akan tanaman biofarmaka terutama pada tanaman obat rimpang cenderung meningkat, baik di dalam negeri maupun ekspor. Peningkatan permintaan tersebut seiring dengan peningkatan jumlah penduduk serta kesadaran masyarakat akan norma budaya hidup sehat dengan memanfaatkan obat tradisional atau back to nature. Di Indonesia tanaman biofarmaka sangat kaya akan berbagai macam jenis dan speciesnya. Biofarmaka merupakan tanaman herbal yang berkhasiat obat dan juga kosmetika. Indonesia untuk jenis tanaman obat terdapat kurang lebih 30.000 spesies tanaman yang telah dibukukan sebagai tanaman obat, menurut Medical Herb Index. Untuk memacu pengembangan agribisnis berbasis fitofarmaka di tingkat petani, pentingnya peningkatan kemampuan petani dalam hal budidaya tanaman obat. Dalam hal budidaya, pasca panen dan pemasaran juga perlu ditingkatkan dalam upaya memacu pengembangan industri obat tradisional dan kosmetika Indonesia. Potensi bisnis biofarmaka memiliki prospek bisnis yang cerah untuk peluang pemasaran domestik dan luar negeri. Peluang pengembangan Biofarmaka besar, baik untuk pasar domestik maupun untuk ekspor. Tanaman biofarmaka sebagai pangan fungsional yang potensi pengembangannya cukup besar adalah: temulawak, jahe, kencur dan kunyit, terutama untuk bahan minuman dan obat-obatan. 1.2 Tujuan Dalam pembuatan makalah mengenai tanaman biofarmaka dalam mata kuliah Konservasi Tanaman Langka ini bertujuan agar : Mengetahui jenis jenis tanaman biofarmaka. Mengetahui pembudidayaan mengenai tanaman biofarmaka. Mengetahui ruang lingkup biologi dan fisiknya.

II TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Tanaman Biofarmaka Tanaman biofarmaka adalah tanaman yang bermanfaat untuk obat obatan, kosmitik dan kesehatan yang dikonsumsi atau digunakan dari bagianbagian tanaman seperti daun, batang, bunga, buah, umbi (rimpang) ataupun akar. Tanaman biofarmaka dibedakan menjadi dua kelompok, yang pertama adalah kelompok biofarmaka rimpang yang terdiri dari; jahe, laos/lengkuas, kencur, kunyit, lempyang, temulawak, temuireng, temukunci, dan

dlingo/dringu, sedangkan yang kedua adalah kelompok tanaman biofarmaka non rimpang yang terdiri dari; kapulaga, mengkudu/pace, mahkota dewa, kejibeling, sambiloto dan lidah buaya. 2.2 Budidaya Tanaman Biofarmaka Menghadapi tuntutan konsumen pasar global tersebut, petani dan pelaku usaha agribisnis tanaman biofarmaka memperbaiki cara budidaya melalui penerapan teknologi maju dan cara budidaya yang benar. Oleh kerena itu penerapan Good Agriculture Practices (GAP) sebagai acuan dalam mengelola usaha budidaya pada tanaman biofarmaka diarahkan dalam rangka tercapainya usaha produksi yang efisien dan berdaya saing, dihasilkannya produk bermutu yang aman dikonsumsi dan diproduksi atas dasar keberlanjutan serta kelestarian sumberdaya alam pertanian.

III PEMBAHASAN

3.1 Jenis - Jenis Tanaman Biofarmaka Jenis tanaman biofarmaka dalam pembuatan makalah ini meliputi beberapa jenis tanaman biofarmaka berserta ruang lingkupnya baik biologi ataupun fisiknya. Jenis tanaman biofarmaka tersebut antara lain : a. Alstonia scholaris R. Br. (Pulai) b. Alyxia halmaheira Miq. (Pulasari) c. Alyxia reinwardtii Bl. (Pulasari) d. Anaxagorea javanica Bl. (Pelir musang) e. Aquilaria beccariana Tiegh. (Gaharu) f. Aquilaria malaccensis Lamk. (Gaharu) g. Arcangelisia flava (L.) Merr. (Tali kuning) h. Cibotium barometz (L.) J. Sm. (Paku simpai) 3.2 Jenis Tanaman Biofarmaka

A. Alstonia scholaris R. Br. (Pulai)

1.Taksonomi: Sinonim Familia : : A.spectabilis,R.Br. Apoeynaccae

2. Deskripsi : Pulai yang termasuk suku kamboja-kambojaan, tersebar di seluruh Nusantara. Di Jawa pulai tumbuh di hutan jati, hutan campuran dan hutan kecil di pedesaan, ditemukan dari dataran rendah sampai 900 m dpl. Pulai kadang ditanam di pekarangan dekat pagar atau ditanam sebagai pohon hias. Tanaman berbentuk pohon, tinggi 20 - 25 m. Batang lurus, diameternya mencapai 60 cm, berkayu,

percabangan menggarpu. Kulit batang rapuh, rasanya sangat pahit, bergetah putih. Daun tunggal, tersusun melingkar 4 - 9 helai, bertangkai yang panjangnya 7,5 - 15 mm, bentuknya lonjong sampai lanset atau lonjong sampai bulat telur sungsang, permukaan atas licin, permukaan bawah buram, tepi rata, pertulangan menyirip, panjang 10 - 23 cm, lebar 3 - 7,5 cm, warna hijau. Perbungaan majemuk tersusun dalam malai yang bergagang panjang, keluar dari ujung tangkai. Bunga wangi berwarna hijau terang sampai putih kekuningan, berambut halus yang rapat. Buah berupa buah bumbung berbentuk pita yang panjangnya 20 - 50 cm, menggantung. Biji kecil, panjang 1,5 - 2 cm, berambut pada bagian tepinya dan berjambul pada ujungnya. Perbanyakan dengan biji atau setek batang dan cabang. 3. Nama Lokal:y y y y y y y y y y y y

Lame (Sunda), Pule (Jawa), Polay (Madura) Kayu gabus, Pulai (Sumatera). Hanjalutung (Kalimantan) Kaliti, Reareangou, Bariangow, rariangow, wariangow, mariangan,

y y y y y y y

deadeangow,; kita (Minahasa), rite (Ambon), tewer (Banda), Aliag (Irian),; hange (Ternate) devil's tree, ditta bark tree (Inggris).; Chatian, saitan-kajhad, saptaparna (India, Pakistan).;

y

Co

tin

pat,

phayasattaban(Thailand)

4. Penyakit Yang Dapat Diobati : Demam, malaria, limfa membesar, batuk berdahak, diare, disentri, ; Kurang napsu makan, perut kembung, sakit perut, kolik, anemia, ; Kencing manis (diabetes melitus), wasir, gangguan haid, bisul,; Tekanan darah tinggi (Hipertensi), rematik akut, borok (ulcer), ; Beri-beri, masa nifas, payudara bengkak karena ASI.

5. BAGIAN YANG DIGUNAKAN : Kulit kayu dan daun. Kulit kayu dikeringkan dengan cara di jemur atau pemanasan.

6. INDIKASI : Kulit kayu dapat mengatasi: - demam, malaria, limpa membesar, - batuk berdahak, - diare, disentri, - kurang nafsu makan, - perut kembung, sakit perut, kolik, - kencing manis (diabetes mellitus), - tekanan darah tinggi (hipertensi), - wasir, anemia, - gangguan haid, dan - rematik akut.

Daun dapat digunakan untuk mengatasi: - borok (ulcer), bisul, - perempuan setelah melahirkan (masa nifas), - beri-beri, dan - payudara bengkak karena bendungan ASI.

7. CARA PEMAKAIAN : Kulit kayu sebanyak 1-3 g direbus, lalu minum. Untuk pemakaian luar, getahnya diteteskan untuk mematangkan bisul, tertusuk duri dan radang kulit. Air rebusan kulit batang pulai digunakan untuk mencuci luka, radang kulit bernanah, borok atau sebagai obat kumur pada sakit gigi. 8. CONTOH PEMAKAIAN : 1.Demam a. Kulit batang pulai sebanyak 3 g dicuci bersih lalu direbus dengan 1 gelas air selama 15 menit. Setelah dingin disaring, tambahkan 1 sendok makan madu lalu diaduk merata. Minum sekaligus. b. Kulit batang bagian dalam diremas-remas dengan daun kelici

(Caesalpinia crista Linn.) dan daun sembung, tambahkan sedikit air. Peras dan saring,minum.

2.Malaria Kulit batang pulai yang sudah digiling menjadi bubuk, diambil sebanyak 2 sendok makan. Rebus dengan 2 gelas air bersih sampai tersisa 1 gelas. Setelah dingin disaring, minum sekaligus. Lakukan setiap hari sampai sembuh. Selama minum obat ini, hindari makanan yang asam dan pedas. Bila penyakitnya berat, gunakan kulit pulai hitam. 3. Diare : Minumlah rebusan kulit batang pulai. 4. Memperkuat lambung : Kulit batang pulai lapisan sebelah dalam diremas-remas dalam air, minum. 5. Perut kembung, limpa membesar : Kulit batang pulai bagian dalam. diremas-remas dengan cuka, lalu minum. 6. Darah tinggi : Kulit batang pulai 1/4 jari, daun kumis kucing dan daun poncosudo sebanyak 1/5 genggam, daun pegagan, dan daun meniran masing- masing 1/4 genggam, buah ketapang 1 buah, gula enau 3 jari. Semua bahan dicuci lalu dipotong-potong seperlunya. Rebus dengan 3 gelas air bersih sampai tersisa 2 1/4 gelas. Setelah dingin disaring, dibagi untuk 3 kaii minum. Setiap kaii minum cukup 3/4 gelas. 7. Kencing manis Kulit batang pulai sebanyak 2 jari, dicuci lalu dipotong-potong seperlunya. Rebus dengan 3 gelas air bersih sampai tersisa separonya. Setelah dingin disaring, minum 1/2 jam sebelum makan. Sehari 2 kali, masing-masing 3/4 gelas. 8. Membangkitkan selera makan Sebanyak 10 g bubuk dari kulit batang pulai diseduh dengan air mendidih. Tambahkan air perasan 1 buah jeruk limau, 1 sendok makan madu dan sedikit garam, aduk merata. Setelah dingin diminum sekaligus. 9. Borok bernanah Daun pulai kering digiling menjadi serbuk. Taburkan pada borok bernanah setelah dibersihkan terlebih dahulu. Lakukan 2 kali sehari, sampai sembuh

10. B i

i

Ambil daun pulai yang masi muda sebanyak 16 lembar, masukkan ke dalam bambu, lalu direbus dengan air,bersi hari Lakukan setiap hari sampai sembuh. 11. Wanita setelah melahirkan (untuk membersihkan organ dalam) a. Sediakan daun pulai dan rimpang jahe yang segar secukupnya, lalu cuci bersih. Buat menjadi jus atau ditumbuk sampai halus. Saring dan peras, airnya lalu diminum. b. Kulit pulai dibersihkan, tambahkan sepotong kunyit, sedikit jahe dan Air rebusannya diminum pada pagi

separo buah pala. Rebus dengan cuka encer pada periuk tanah yang tertutup rapat. Setelah mendidih diangkat. Minum selagi hangat. 12. Sakit badan dan dada Gunakan akar pulai yang dikunyah dengan pinang. Balurkan pada badan yang sakit.

Sumber : http://forum.um.ac.id/i dex.php?topic=18877.0

B. Aquil i be

i

Tiegh. (Gaharu)Gaharu siap jual

1.

Ruang lingkup Standar ini meliputi definisi, lambang dan singkatan, istilah, spesifikasi, klasifikasi, cara pemungutan, syarat

mutu, pengambilan contoh, cara uji, syarat lulus uji, syarat penandaan, sebagai pedoman pengujian gaharu yang diproduksi di Indonesia. 2. Defini i Gaharu adalah sejenis kayu dengan berbagai bentuk dan warna yang khas, serta memiliki kandungan kadar damar wangi, berasal dari pohon atau bagian

pohon penghasil gaharu yang tumbuh secara alami dan telah mati, sebagai akibat dari pr