tugas internas kedelai

Download tugas internas kedelai

Post on 02-Jan-2016

180 views

Category:

Documents

0 download

Embed Size (px)

DESCRIPTION

tugas

TRANSCRIPT

22

BAB IPENDAHULUANA. Latar Belakang MasalahDibukanya suatu perekonomian terhadap hubungan luar negeri mempunyai konsekuansi yang luas terhadap perekonomian dalam negeri. Konsekuensi ini menyangkut aspek ekonomis dan non ekonomis yang dapat bersifat positif maupun negatif. Terdapat dua konsekuensi penting dari perdagangan yaitu:1. Adanya manfaat dari perdagangan (gains from trade) seperti yang dicerminkan oleh pergeseran keluar dari garis CPF (atau pendapatan riil).2. Adanya kecenderungan ke arah spesialisasi dalam produksi barang-barang yang memiliki keunggulan komparatif.Pengaruh ekonomis perdagangan terhadap perekonomian dalam negeri dapat digolongkan ke dalam tiga kelompok yaitu:1. Pengaruh pada konsumsi masyarakat (consumption effect)2. Pengaruh pada produksi (production effect)3. Pengaruh-pengaruh pada distribusi pendapatan masyarakat (distribution effect)Pada kesempatan kali ini, kami akan membahas pengaruh perdagangan terhadap perekonomian Indonesia dengan menggunakan studi kasus komoditas kedelai. Saat ini, total kebutuhan kedelai RI mencapai 2,3-2,5 juta ton setiap tahun. Padahal jumlah produksi kedelai RI saat ini hanya sekitar 800.000 ton per tahun. Dengan demikian, untuk mencukupi kebutuhan kedelai dalam negeri, pemerintah harus impor. Untuk bisa menargetkan swasembada kedelai pada 2014, pemerintah menargetkan bisa mengakuisisi lahan baru sekaligus bisa ditanami kedelai seluas 350.000 hektar.Selain minimnya lahan untuk penanaman kedelai di dalam negeri, lonjakan harga kedelai menurut Institute for Development of Economic and Finance (INDEF) diduga kuat berasal dari praktik kartel. Salah satu pemicu praktik kartel adalah telatnya Surat Persetujuan Impor (SPI) yang dikeluarkan Kementerian Perdagangan (Kemendag). Selain itu, mata uang rupiah yang melemah menginjak angka Rp 11.334,00 akibat inflasi kenaikan harga BBM menjadi salah satu penyebab melambungnya harga kedelai mengingat Indonesia mengimpor kedelai dalam jumlah yang besar.B. Rumusan Masalah1. Bagaimanakah kondisi krisis kedelai yang terjadi di Indonesia?2. Kendala dan masalah apa sajakah yang terdapat dalam sistem komoditas kedelai di Indonesia?3. Faktor-faktor apa sajakah yang mempengaruhi volume impor kedelai di Indonesia?4. Bagaimanakah peranan kedelai di Indonesia?5. Bagaimanakah solusi untuk mengatasi masalah impor kedelai yang berpengaruh terhadap perekonomian di Indonesia?C. Tujuan Penulisan1. Untuk mengetahui kondisi krisis kedelai yang terjadi di Indonesia2. Untuk mengetahui kendala dan masalah yang terdapat dalam sistem komoditas kedelai di Indonesia3. Untuk mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi volume impor kedelai di Indonesia4. Untuk mengetahui peranan kedelai di Indonesia5. Untuk mengetahui solusi dalam mengatasi masalah impor kedelai yang ada di Indonesia

BAB IIPEMBAHASANA. Krisis Kedelai yang terjadi di IndonesiaDalam empat tahun belakangan ini tercatat tiga kali terjadi lonjakan harga kedelai. Setiap krisis tersebut, solusi jangka pendek menjadi senjata penenang. Persoalan mendasar untuk mewujudkan swasembada kedelai tidak pernah diwujudkan dan selalu menjadi slogan para elit negeri ini. Tekad dan janji pemerintah agar 2014 bisa tercapai swasembada kedelai bakal menjadi slogan dan isapan jempol belaka. Sebagaimana beras, jagung, gula, garam, ikan, serta buah-buahan tropis lainnya, kedelai pun bernasib sama dengan sejumlah janji tanpa solusi. Hampir setiap tahun persoalan yang sama terus berulang. Untuk krisis kedelai, tercatat pada Januari 2008 dan Februari 2011 juga pernah terjadi lonjakan harga akibat pasokan yang menipis. Hal tersebut terjadi lagi pada tahun 2013. Ketidakberdayaan negara atas pasar menjadi persoalan mendasar yang berdampak pada ketergantungan impor dan fluktuasi harga. Melonjaknya harga kedelai akibat pasokan yang terbatas (kartel dan rupiah yang melemah) menjadi bukti bahwa berbagai program dan upaya yang dirancang beberapa tahun lalu tidak efektif. Lonjakan harga kedelai yang berakibat pada meningkatnya biaya produksi tahu dan tempe tersebut sebenarnya sudah berulang kali terjadi. Selama lonjakan itu pula, belum pernah ada solusi tepat dalam produksi dan tata niaga untuk mengatasi lonjakan harga kedelai. Ketergantungan Indonesia pada kedelai impor sangat tinggi. Konsumsi kedelai di Indonesia dalam setahun mencapai 2,25 juta ton, sementara jumlah produksi nasional mampu memasok kebutuhan kedelai hanya sekitar 779 ribu ton. Kekurangan pasokan sekitar 1,4 juta ton, ditutup dengan kedelai impor dari Amerika Serikat (Kemendag, 2013). Kemudian, impor dari Malaysia 120.074 ton, Argentina 73.037 ton, Uruguay 16.825 ton, dan Brasil 13.550 ton. Anomali cuaca di Amerika Serikat dan Amerika Selatan menyebabkan pasokan kedelai pun turun dan harganya melonjak. Harga kedelai internasional pada minggu ke-3 Juli 2012 mencapai 622 dolar AS per ton atau Rp 8.345 per kilogram (kg) untuk harga impor di dalam negeri. Pemerintah melalui Perum Bulog melakukan impor kedelai dengan mengacu pada Keputusan Presiden Nomor 23 tahun 2013 yang ditandatangani oleh Presiden RI pada 8 Mei 2013. Dalam jangka pendek, impor diharapkan mampu menjaga stabilitas harga kedelai, dan membatasi munculnya spekulan.Problem mahalnya harga kedelai dalam sepekan yang menembus kisaran Rp 9.000 per kilogram (kg), membuat para pengrajin tahu dan tempe terancam menghentikan produksinya. Sejumlah media massa memberitakan bahwa di beberapa daerah banyak pengrajin tahu dan tempe mengeluhkan tingginya harga kedelai. Mereka menggantungkan pada tempe sebagai bahan baku produksi tahu dan tempe. Untuk tetap bertahan, mereka melakukan berbagai strategi, misalnya dengan memperkecil ukuran dan volume hingga mencapai 50% dari biasanya.Untuk produksi, sekalipun banyak janji ada jutaan hektare (ha) lahan terlantar, Indonesia selalu kesulitan dalam ekspansi lahan sampai pada tingkat pemanfaatan. Dalam rencana kerja Kementerian Pertanian, untuk mencapai swasembada kedelai pada 2014, maka produksi harus mencapai 2,7 juta ton. Namun, upaya swasembada ini masih terkendala masalah lahan. "Swasembada kedelai memerlukan tambahan lahan minimal 500 ribu ha," kata Menteri Pertanian Suswono. Ioronisnya, rencana tambahan lahan yang pernah digagas dengan Badan Pertanahan Nasional (BPN) pun tak pernah terwujud. Selain perluasan lahan, pemerintah juga menargetkan peningkatan produksi kedelai dengan sistem tumpang sari dengan potensi lahan setara 200 ribu ha. Selain perluasan lahan, Kementerian Pertanian juga mengupayakan peningkatan produktivitas dari 1,3 ton per ha menjadi 1,54 ton per ha, pemberian bantuan benih unggul, meningkatkan penggunaan pupuk, dan pengendalian organisme pengganggu tanaman. Jika melihat kenyataannya, hampir semua rencana tersebut tidak berjalan optimal. Bahkan, ada beberapa rancangan program tidak pernah terealisasi dan hanya menjadi bahan kampanye rutin untuk menghibur para calon pemilih. Ironisnya lagi, rakyat Indonesia seakan buta atas manipulasi tersebut dan tidak pernah memberikan sanksi terhadap keasalahan yang dilakukan para pemimpin negara ini.Saat ini, jika berbicara soal kedelai pada tingkat petani, maka minat budidaya sangat rendah. Petani lebih memilih padi dan jagung dibandingkan kedelai yang minim insentif dan sulit dalam pemasarannya. Sebenarnya, faktor harga jual yang rendah pun menyebabkan petani enggan untuk menanam kedelai. Untuk itu, ketika harga kedelai melonjak justru lebih banyak disuarakan oleh para konsumen dan produsen tahu serta tempe. Sebaliknya, petani justru berharap pada harga yang layak dibandingkan dengan rata-rata Rp 5.000 per kg di tingkat petani saat ini. Berbagai faktor yang kurang menunjang peningkatan produksi tersebut adalah akibat dari dibukanya keran impor kedelai sejak satu dekade silam. Indonesia pernah swasembada kedelai pada 1992 dengan proteksi. Tetapi setelah krisis moneter 1998, Dana Moneter Internasional (IMF) mendikte Indonesia agar tidak memberikan proteksi kepada kedelai.Dengan konsumsi kedelai dalam negeri yang mencapai 2,25 juta ton per tahun, hal itu menjadi peluang bisnis yang sangat menguntungkan. Dalam letter of intent (LoI) IMF, proteksi impor yang selama ini dipegang Badan Urusan Logistik (Bulog) harus dihapuskan sehingga impor bisa masuk. Awalnya, kemampuan impor kedelai Indonesia tidak terlalu besar karena kapasitas finansialnya terbatas, sedangkan produksi kedelai di negara-negara produsen berlimpah.Sejak awal pintu impor dibuka, banyak fasilitas kredit ekspor yang diperoleh eksportir negara-negara produsen yang bekerja sama para importir lokal. Negara-negara tersebut memberi pinjaman tanpa bunga kepada Indonesia untuk impor kedelai, sehingga kemudian bisa dipasarkan di dalam negeri. "Seharusnya kita curiga kenapa bisa pinjam tanpa bunga.Padahal bunga deposito saat itu mencapai 50-60% dan paling rendah 30%. Akibatnya, saat ini 70% kebutuhan kedelai dalam negeri dipenuhi dari impor. Kalau pemerintah dan pengusaha sudah akrab, apapun bisa terjadi," kata Guru Besar Universitas Gadjah Mada Mochammad Maksum dalam rapat dengar pendapat umum dengan Komisi IV DPR di Jakarta, pada pertengahan Februari 2012 lalu.Sejumlah importir yang tadinya menikmati berbagai fasilitas kredit ekspor itu pun semakin lama berkembang dengan akumulasi modal yang terus bertambah. Secara bersamaan, kebijakan pemerintah tidak pernah dirancang untuk kepentingan jangka panjang sehingga menjadi kesempatan bagi para importir. Setiap ganti rezim dengan ganti menteri akan diikuti dengan program yang berganti-ganti. Kondisinya akan semakin parah ketika program-program kementerian lebih berorientasi untuk kepentingan konstituen dan partai politik pendukungnya. Jangan heran jika Indonesia sulit mewujudkan kedaulatan pangan. Kalaupun tidak ada korupsi, program-program pembangunan pertanian diarahkan untuk kepentingan tertentu, kata Direktur Eksekutif Institute for Sustainable Agriculture and Rural Livelihood (Elsppat) Daniel Mangoting.Dengan berbagai kondisi di atas, tidak heran jika lahirlah sejumlah milia