skripsi titis koementar p agus

Download Skripsi  titis koementar p agus

Post on 21-Jul-2015

126 views

Category:

Education

4 download

Embed Size (px)

TRANSCRIPT

Komentar UmumSaya berterima kasih dengan Skripsi mbak Titis, sebab dengan adanya skripsi seperti ini menjadikan saya sedikit banyak lebih tahu, bagaimana penelitian itu. Sebab skripsio mbak Titis saya diskusikan secara bersama antara Saya, pak Taufiq, pak Sutopo. Sekali lagi sedikit banyak saya tambah mengerti.Kesimpulan dari diskusi kami :Dari segi penelitian (orang-orang yang memang berkecimpung dalam penelitian), Penelitian (baca : skripsi) sejenis ini, yaitu membandingkan sebelum dan sesudah dengan/melalui questioner dengan jawaban Sangat setuju, Setuju dst-nya Responden yang sama dan dilakukan pada saat/waktu yang relatif sama (satu waktu) tidak bisadiuji (hasilnya tidak bisa dipertanggungjawab-kan).(ketika ujian waktu itu khan ada pertanyaan dari saya apakah pelanggan yang diquest bisa tahu kondisi sebelum ada pasar modern, dan apakah pelanggan yang diquest diyakini udah menjadi pelanggan sebelum ada pasar modern ?)Kalau ingin mengetahui kondisi sebelum dengan kondisi sesudah, sebaiknya :Data yang diuji berupa angka minimal 6 bulan sebelum dan 6 bulan sesudah pasar modern berdiri, atauQuest yang dilakukan harus minimal 6 bulan sebelum dan 6 bulan sesudah pasar modern berdiri, atauPada saat yang sama, tetapi quest diajukan pada pasar yang ada toko modern Dan pasar yang tidak ada pasar Modern.

Untuk memperbaiki skripsi mbak Titis, saya usulkan Definisi Operasional Variabel diperbaiki, sehingga questionernya nyambung (saya beri komentar pada halaman definisi operasional)

BAB IPENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang MasalahPenilaian kinerja merupakan salah satu faktor yang sangat penting bagi unit-unit usaha. Didalam sistem pengendalian, penilaian kinerja merupakan usaha yang dilakukan untuk mengevaluasi hasil-hasil kegiatan yang telah dilaksanakan oleh masing-masing pusat pertanggungjawaban yang dibandingkan dengan tolak ukur yang telahditerapkan. Dimana unit-unit usaha masih banyak menggunakan sistem penilaian kinerjanya berdasarkan aspek keuangan karena hal ini mudah dilakukan. Padahaldalam menghadapi dunia bisnis yang semakin kompleks penilaian berdasarkanaspek keuangan sudah tidak memadai lagi, dikarenakan adanya kelemahan dalam sistempenilaian yang berdasarkan tolak ukur keuangan tersebut.Kelemahannya adalah terbatas dengan waktu, mengungkapkan prestasikeuangan yang nyata tanpa dengan adanya suatu pengharapan yang dapat dilihat dari faktor-faktor yang menyebabkan terjadinya prestasi itu sendiri, dan ketidakmampuan dalam mengukur kinerja harta tak tampak (intangible asset) dan harta intlektual (sumberdaya manusia)perusahaan atau unit usaha.Denganadanya kekurangan model akuntansi keuangan, maka diciptakan suatu metodependekatan yang menilai kinerja perusahaan yang diukur dengan mempertimbangkan 4 perspektif yaitu perspektif keuangan, perspektif pelanggan, perspektif proses bisnis internal serta perspektif pembelajaran dan pertumbuhan.Metode ini berusaha untuk menyeimbangkan penilaian aspek keuangandengan aspek non keuangan yang secara umum dinamakan Balanced Scorecard.Dengan menerapkan metode Balanced Scorecarddiharapkan akanmampu mengukur bagaimana unit bisnis mereka melakukan penciptaan nilai saat inidengan tetap mempertimbangkan kepentingan-kepentingan masa yang akan datang.Seperti yang telah disebutkan diatas, Balanced Scorecarddiklasifikasikankedalam 4 prespektif, yaitu keuangan, pelanggan, proses bisnisinternal, dan pembelajaran dan pertumbuhan. Keempat prespektif ini menawarkansuatu keseimbangan antara tujuan jangka pendek dan tujuan jangka panjang, yaituhasil yang diinginkan, pemicu kinerja, dan tolak ukur kinerja.Sejalan dengan era globalisasi, maka pemerintah telah mengijinkan munculnya toko modern untukberdampingan dengan pasar tradisional. Dalam Peraturan Presiden Nomor 112 tahun 2007tentang Penataan dan Pembinaan Pasar Tradisional, Pusat Perbelanjaan dan Toko Modern, disebutkan bahwa toko modern merupakan toko yang berbentuk Minimarket, Supermarket, Departement Store dan Hypermarket ataupun grosir. Sedangkan Pasar Tradisional adalah pasar milik Pemerintah, Swasta, Badan Usaha Milik Negara dengan tempat usaha berupa toko, kios, los dan tenda yang dimiliki atau dikelola oleh pedagang kecil, menengah, swadaya masyarakat atau koperasi dengan usaha skala kecil dan dalam jual beli dengan cara tawar menawar. Upaya tersebut mendapat tanggapan positif dari para pengusaha toko modern yang saat ini telah berterbaran di berbagai kota utama di Indonesia sejak tiga dekade terakhir.Namun harapan untuk hidup berdampingan antara toko modern dengan pasar tradisional nampaknya tidak mudah untuk diwujudkan. Hal ini disebabkan jarak antara pasar tradisional dan toko modern khususnya pada studi kasus yang dilakukan oleh peneliti bahwa jarak pasar Mangkang dengan toko modern 300 meter dimana peraturan tersebut tidak sesuai dengan yang telah ditetapkan oleh Perda Kabupaten Semarang No. 5 tahun 2010 pasal 30 ayat 1huruf b, paling sedikit berjarak 5 Km (lima kilometer) untuk pendirian Pusat Perbelanjaan, sedangkan pendirian toko modern harus memperhatikan jarak antara hypermarket dengan Pasar Tradisional yang telah ada sebelumnya .Dimana hal tersebut menyebabkan beberapa pedagang mengeluh karena mulai ditinggal oleh para pembeli dan bahkan hasil penjualannya (kinerja) mengalami penurunan yang sangat drastis.Permasalahan menurunnya penjualan (kinerja)pasar tradisional umumnya tidak memiliki kreatifitas atau strategi untuk mempertahankan dan meningkatkan kinerjanya, sehinngga karyawan yang ada cenderung tidak produktif dan bahkan semakin berkurang.Menurut hasil survey yang dilakukan penulis sebelumnyabahwa pasar tradisional tidak melakukan strategi apapun, misalnya mencari supplier yang lebih murah, menambah produk yang lebih menguntungkan atau melakukan pengluaran biaya untuk mempertahanan kinerjanya.Penilaian kinerja merupakan salah satu faktor penting dalam suatu perusahaanatau organisasi.Berdasarkan fenomena tersebut diatas dapat disimpulkan bahwa kinerja pasar tradisional dalam aspek keuangan dan non keuangan mengalami penurunan karena munculnya toko modern. Kondisi ini tentunya akan menarik untuk dikaji, karena hingga saat ini belum ada penelitian yang sejenis di kota Semarang. Penelitian ini berjudulPenilaianKinerja Pasar Tradisional Sebelum Dan Sesudah Adanya Toko Modern Dengan Pendekatan Balanced Scorecard (Studi Kasus Pada Pasar Tradisional Mangkang Semarang).1.2. Perumusan MasalahDengan menjamurnya toko modern di kota Semarang baik secara langsung maupun tidak langsung mempengaruhi kinerja pasar tradisional. Untuk itu diperlukan suatu metode penilaian kinerja yang menggabungkan kinerja keuangan dan non keuangan yang disebut dengan Balanced Scorecard. Berdasarkan latar belakang diatas permasalahan pokok yang hendak dibahas dalam penelitian ini adalah Kinerja Pasar Tradisional sebelum dan sesudah adanya Toko Modern dengan menggunakan metode Balanced Scorecard.

1.3. TujuanPenelitianBerdasarkan identifikasi permasalahan di atas, tujuan dilakukan penelitian ini adalah untuk mengetahui kinerja pasar tradisional sebelum dan sesudah adanya toko modern apabila dinilai dengan menggunakanmetode Balanced Scorecard.1.4. Manfaat Penelitian1. Bagi PenulisHasil penelitian inidiharapkan dapat bermanfaat untuk menambah pengetahuan dan wawasan penulis dalam Balanced Scorecard, sehingga penulis dapat membandingkan antara teori yang diperoleh dalam perkuliahan dengan pengalaman di lapangan.2. Bagi Pihak Pasar Tradisional Hasil penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat bagi pasar tradisional untuk menilai kinerja keuangan dan non keuangan dapat diterapkan di masa yang akan datang.3. Bagi Pihak LainHasil penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat bagi pihak lainyang berkepentingan untuk memberikan informasi yangberkenaan dengan penilaian kinerja dengan menggunakanBalancedScorecard dan sebagai bahan acuan penelitian-penelitian selanjutnya.

BAB IILANDASAN TEORI

2.1 Penilaian Kinerja2.1.1. Pengertian Penilaian KinerjaPenilaian pada dasarnya merupakan kegiatan manusia dalam mencapai tujuan organisasi. Mulyadi dan Setyawan (2001 :227) mendefinisikan penilaian kinerja sebagai penentu secara periodik efektivitas operasional suatu organisasi, bagian organisasi, dan karyawan berdasarkan sasaran, standar dan kriteria yang telah ditetapkan sebelumnya. Oleh karena organisasi pada dasarnya dioperasikan oleh sumber daya manusia maka penilaian kinerja sesungguhnya merupakan penilaian atas perilaku manusia dalam melaksanakan peran yang mereka mainkan dalam organisasi. Setiap organisasi mengharapakan kinerja yang memberikan kontribusi untuk menjadikan organisasi sebagai suatu institusi yang unggul di kelasnya.Pengertian kinerja menurut Suyadi Prawirosentono (dikutip Chamdan,2005: 7) yaitu: performance atau kinerja adalah hasil kerja yang dapat dicapai oleh seorang atau kelompok orang dalam suatu organisasi, sesuai dengan wewenang dan tanggung jawab masing-masing, dalam rangka upaya mencapai tujuan organisasi yang bersangkutan secara legal, tidak melanggar hukum dan sesuai dengan moral maupun etika. Kinerja menurut Helfert (dikutip Chamdan, 2004 : 2) adalah suatu tampilan keadaan secara utuh atas perusahaan selama periode waktu tertentu, merupakan hasil atau prestasi yang dipengaruhi oleh kegiatan operasional perusahaan dalam memanfaatkan sumber-sumber daya yang dimiliki.Dari beberapa definisi di atas disimpulkan bahwa penilaian kinerja adalah tindakan penilaian yang dilakukan terhadap berbagai aktivitas dalam rantai nilai yang ada pada perusahaan. Hasil penilaian tersebut kemudian digunakan sebagai umpan balik yang akan memberikan informasi tentang prestasi pelaksanaan suatu rencana dan titik di mana perusahaan memerlukan penyesuaian-penyesuaian atas aktivitas perencanaan dan pengendalian.2.1.2. Tujuandan ManfaatPenilaianKinerjaMulyadi dan Setiawan (2001 : 227) menerangkan penilaian kinerja mempunyai tujuan utama yaitu untuk memotivasikaryawan dalam mencapai sasaran organisasi dan dalam memat