proposal pengajuan judul

Download Proposal Pengajuan JUDUL

If you can't read please download the document

Post on 15-Jun-2015

4.824 views

Category:

Documents

23 download

Embed Size (px)

DESCRIPTION

Pembelajaran Matematika Menggunakan Media Komik

TRANSCRIPT

PERBANDINGAN PENGGUNAAN MEDIA KOMIK DENGAN MEDIA CHARTA DALAM PEMBELAJARAN MATEMATIKA PADA SUB POKO BAHASAN LINGKARAN TERHADAP MOTIVASI DAN HASIL KOGNITIF BELAJAR SISWA (Penelitian di kelas VIII SMP Negeri 1 Cililin, Bandung Barat)

PROPOSAL Diajukan Sebagai Salah Satu Syarat Mengikuti Seminar Proposal Judul Skripsi Pada Jurusan Pendidikan Matematika

Oleh : NUR SYARA ZUNAIZAH NIM. 206 200 680

FAKULTAS TARBIYAH DAN KEGURUAN UNIVERSITAS ISLAM NEGERI (UIN) SUNAN GUNUNG DJATI BANDUNG 2009

PROPOSAL PERBANDINGAN PENGGUNAAN MEDIA KOMIK DENGAN MEDIA CHARTA DALAM PEMBELAJARAN MATEMATIKA PADA SUB POKO BAHASAN LINGKARAN TERHADAP MOTIVASI DAN HASIL KOGNITIF BELAJAR SISWA (Penelitian Di Kelas VIII SMPN 1 Cililin Bandung Barat)

Latar Belakang Masalah Pendidikan merupakan tahapan-tahapan kegiatan mengubah sikap dan perilaku seseorang atau sekelompok orang melalui upaya pengajaran dan pelatihan (Syah, 2004:32). Pendidikan dalam arti sempit adalah pengajaran yang diselenggarakan umumnya di sekolah sebagai lembaga pendidikan formal yang sangat dibutuhkan (Sagala, 2007:11). Hal ini sejalan dengan firman Allah SWT dalam surat At-Taubah ayat 122 :

tBur c%x. tbqZBsJ9$# (#rYu9 Zp!$2 4$ * wqn=s txtR `B e@. 7ps% Nk]iB px!$s (#qg)xtGuj9 ` e$!$# (#rY9ur OgtBqs% #s) (#qy_u Nks9) Og=ys9 crxts Tidak sepatutnya bagi mukminin itu pergi semuanya (ke medan perang). mengapa tidak pergi dari tiap-tiap golongan di antara mereka beberapa orang untuk memperdalam pengetahuan mereka tentang agama dan untuk memberi peringatan kepada kaumnya apabila mereka telah kembali kepadanya, supaya mereka itu dapat menjaga dirinya.

Dari ayat di atas disampaikan bahwa dalam ajaran Islam menuntut ilmu juga merupakan kewajiban dan memiliki nilai ibadah. Menuntut ilmu dalam hal ini melaksanakan kegiatan pendidikan memiliki nilai jihad yang tidak kalah besar dibandingkan dengan oramg-orang yang berperang mempertaruhkan jiwa raganya. Karena dengan ilmu kita dapat mengendalikan dan memelihara dunia. Dalam fungsinya pendidikan sebagaimana ditetapkan dalam UU No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional dikemukakan bahwa pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa.

Pendidikan bagi bangsa Indonesia merupakan kebutuhan mutlak yang harus dikembangkan sejalan dengan tuntutan pembangunan di segala bidang serta persaingan di Era Globalisasi yang akan datang. Dalam upaya pengembangan pendidikan ini bukanlah hal yang mudah. Banyak masalah yang masih perlu penyelesaian lebih lanjut dan penanganan segera demi tercapainya kualitas pendidikan yang sesuai dengan standar internasional, sehingga dapat meningkatkan kedudukan indonesian dimata Internasional. Salah satu masalah dalam bidang pendidikan di Indonesia yang masih sangat memerlukan perhatian semua pihak adalah rendahnya mutu pendidikan yang tercermin dari rendahnya rata-rata hasil belajar. Hal ini bisa diasumsikan dari penggunaan pendekatan dan metode serta media dalam proses pembelajaran yang masih didominasi oleh guru. Proses pembelajaran yang menempatkan guru sebagai satu satunya sumber ilmu pengetahuan masih banyak kita jumpai. Dengan cara ini seolah-olah siswa sebagai botol kosong pasif yang siap diisi ilmu pengetahuan oleh sang guru apapun atau bagaimanapun kondisinya. Hasil yang dicapai melalui proses ini menjadikan siswa kurang kreatif dan kurang bisa mengembangkan diri serta sukar untuk mengaplikasikan apa yang telah diperolehnya dalam kehidupan sehari hari. Belajar juga menjadi kurang bermakna karena jauh dari apa yang dihadapi siswa setiap hari dan tidak menyenangkan. Guru sebagai pemegang peranan penting dalam proses pembelajaran seharusnya memikirkan metode dan media yang dapat membuat siswa memahami materi apa yang akan disampaikan. Proses pembelajaran di pendidikan formal saat ini tidak lagi bersifat Teaching Oriented tetapi children oriented / learner oriented dituntut untuk dapat berinteraksi dan mengkomunikasikan kembali ilmu yang telah dipelajari. Untuk mendukung dalam pencapaian tujuan pembelajaran, guru sekurang-kurangnya dapat menggunakan alat-alat bantu atau media untuk pembelajaran, khususnya pada pembelajaran Matematika yang

merupakan bagian dari ilmu sains. Berdasarkan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) yang dalam perkembangannya berorientasi pada kompetensi, di mana sebaiknya guru menggunakan berbagai jenis media pembelajaran dan memanfaatkannya secara tepat, yakni disesuaikan dengan pengalaman belajar yang akan ditempuh siswa sehingga dapat memperjelas informasi dan konsep yang sedang dipelajari. Pembelajaran matematika yang dianggap membosankan karena terkesan terlalu exact masih merupakan pelajaran yang menakutkan bagi banyak siswa, karena biasanya matematika disajikan dalam bentuk tulisan yang memerlukan ketajaman nalar karena banyak hal yang bersifat abstrak. Sehingga hanya anak-anak yang berkategori cerdas yang bisa memahaminya, sedangkan anak-anak berkategori biasa saja, yang cenderung lebih menyukai hal-hal yang bersifat kongkret, akan lambat memahami pelajaran ini. Akibatnya, nilai yang diperoleh pada pelajaran matematika tidak bagus. Hal ini akan menambah ketidaksukaan siswa, bahkan sampai pada tingkatan membencinya. Selain itu, para guru mengajarkan materi matematika biasanya kurang menarik, sehingga menambah terpuruknya minat siswa terhadap pelajaran ini. Penggunaan media pembelajaran dalam proses belajar mengajar dapat membangkitkan keinginan dan minat siswa yang baru, membangkitkan motivasi dan rangsangan kegiatan belajar mengajar, dan bahkan membawa pengaruh-pengaruh psikologis terhadap siswa. Pencapaian keberhasilan belajar siswa berkaitan erat dengan pemilihan metode dan media belajar yang digunakan sesuai dengan kebutuhan siswa. Penggunaan metode dan media pembelajaran harus relevan dengan bahan pelajaran serta karakteristik siswa. Karena hal ini akan mempengaruhi hasil belajar siswa terutama dalam ranah kognitif siswa, karena di sini siswa dituntut untuk memahami materi yang disampaikan oleh guru. Berdasarkan studi pendahuluan di salah satu sekolah ketika melaksanakan PPL, pada umumnya penyampaian materi matematika disampaikan dengan menggunakan media

konvensional meskipun sudah ada media charta atau media praga yang lainnya, namun guru kurang memanfaatkan fasilitas yang telah disediakan di sekolah itu dengan alasan guru cenderung ingin lebih fleksibel dalam proses pembelajarannya. Ini berpengaruh terhadap hasil belajar yang diperoleh siswa, dapat diketahui bahwa hasil belajar matematika siswa masih sangat jauh dari standar KKM (Kriteria Ketuntasan Mengajar) yang ditentukan. Padahal pada masa sekarang ini penggunaan media atau alat bantu dalam proses pembelajaran sudah berkembang dengan pesat. Sebagai contoh adanya buku-buku pelajaran dalam bentuk komik yang sudah beredar dan dipergunakan di beberapa negara sebagai upaya meningkatkan kualitas pendidikannya. Hal ini tentunya akan sangat menarik jika buku komik itu dapat digunakan untuk membantu proses belajar mengajar. Kegiatan belajar mengajar akan lebih menyenangkan apabila siswa turut secara aktif, tidak hanya mendengarkan penjelasan dari guru, tetapi dapat mengeksplor kemampuan imajinasi siswa dalam memahami penjelasan yang disajikan dalam bentuk cerita-cerita bergambar. Dengan adanya buku dalam bentuk komik seperti ini diharapkan dapat meningkatkan motivasi dan hasil belajar siswa. Akan tetapi, keberhasilan penggunaan media komik ataupun media charta ditentukan oleh kualitas dan efektifitas bahan-bahan visual dan grafik itu. Media komik dan media charta dapat digunakan secara baik jika merencanakannya dengan seksama dan penggunaan konsep, informasi, atau situasi sehingga dapat menarik perhatian dan mampu menyampaikan pesan yang diinginkan oleh penggunanya (Arsyad, 2007:107). Media pembelajaran ini digunakan untuk memperoleh pengetahuan dan keterampilan, perubahan-perubahan sikap dan perilaku yang mungkin terjadi karena interaksi antara pengalaman baru dengan pengalaman yang pernah dialami sebelumnya. Pembelajaran pada materi sub pokok bahasan lingkaran dengan menggunakan media komik ini diharapkan siswa menjadi lebih tertarik dan termotivasi untuk mempelajari materi ini, serta siswa lebih

memahami apa yang disampaikan oleh guru dan diharapkan pula dapat meningkatkan hasil belajar siswa. Maka untuk menjawab permasalahan tersebut, peneliti bermaksud mengadakan penelitian lebih lanjut dengan mengajukan sebuah judul " PERBANDINGAN PENGGUNAAN MEDIA KOMIK DENGAN MEDIA CHARTA DALAM PEMBELAJARAN MATEMATIKA PADA SUB POKO BAHASAN LINGKARAN TERHADAP MOTIVASI DAN HASIL KOGNITIF BELAJAR SISWA " (Penelitian di kelas VIII SMP Negeri 1 Cililin, Bandung Barat). Rumusan Masalah Berdasarkan latar belakang masalah diatas, maka permasalahan dapat dirumuskan sebagai berikut : Bagaimana hasil belajar kognitif siswa yang menggunakan media komik dan media charta pada materi sub pokok bahasan lingkaran ? Bagaimana perbandingan hasil belajar kognitif siswa antara yang menggunakan media komik dengan media charta pada pada materi sub pokok bahasan lingkaran ? Bagaimana motivasi siswa terhadap pembelajaran antara yang menggunakan media komik dengan media charta pada pada materi sub pokok bahasan lingkaran ? Tujuan Penelitian Sesuai dengan permasalahan yang di atas, maka tujuan penelitian ini adalah: Untuk mengetahui hasil belajar kognitif siswa yang menggunakan media komik dan media charta pada materi sub pokok bahasan lingkaran. Untuk mengetahui perbandingan hasil belajar kognitif siswa antara yang menggunakan media komik dengan media charta pada materi sub pokok bahasan lingkaran. Untuk mengetahui tanggapan siswa terhadap pembelajaran antara yang menggunakan

media komik dengan media charta pada pada materi sub pokok bahasan lingkaran. Manfaat Penelitian Adapun manfaat penelitian ini yang diharapkan penulis adalah sebagai berikut: Ba