proposal pengajuan tugas akhir

Click here to load reader

Post on 07-Aug-2015

356 views

Category:

Documents

9 download

Embed Size (px)

DESCRIPTION

tugas akhir

TRANSCRIPT

USULAN PENELITIAN1. a. Judul Penelitian : Pengaruh Penggunaan Tulangan Bambu Pitung Terhadap Kuat Lentur Beton b. Bidang Ilmu : Teknik Sipil, Sub Bidang Teknik Beton

2. Peneliti Nama Jenis Kelamin NIM Fakultas/Jurusan : Wira Purnomo : Laki-Laki : 077 011 021 : Teknik/Sipil

3. Alamat Peneliti

: Laboratorium

Teknik

Sipil

Fakultas

TeknikUniversitas Siliwangi Tasikmalaya

4. Lokasi Penelitian

: Laboratorium

Teknik

Sipil

Fakultas

TeknikUniversitas Siliwangi Tasikmalaya

5. Lama Penelitian

: 4 (empat) bulan

Tasikmalaya,

Juli 2012

Peneliti,

Wira Purnomo

A. JUDUL PENELITIAN Pengaruh Penggunaan Tulangan Bambu Pitung Terhadap Kuat Lentur Beton. B. BIDANG ILMU Teknik Sipil, Beton C. PENDAHULUAN Beton mempunyai kekuatan tekan yang cukup besar, namun sangat lemah terhadap tarik. Karena itu penggunaan beton selalu dipadukan dengan bahan yang mempunyai kuat tarik tinggi yaitu baja. Beton dengan tulangan baja adalah perpaduan yang sangat kuat, sehingga beton bertulang banyak digunakan sebagai bahan bangunan. Fenomena diatas ternyata menimbulkan permasalahan baru yaitu baja yang selama ini dijadikan sebagai tulangan merupakan bahan tambang yang tidak dapat diperbaharui, sehingga keberadaannya suatu saat akan habis. Dalam upaya pencarian alternatif, dilakukan penelitian-penelitian, antara lain terhadap material pengganti berupa hasil alam yaitu bambu. Bambu merupakan hasil alam yang dapat diperoleh dengan mudah dan mempunyai kekuatan tarik yang sangat tinggi. Dengan memanfaatkan bambu sebagai pengganti tulangan dalam beton ini dimaksudkan untuk mengetahui pengaruhnya terhadap kuatlentur beton. Penambahan bambu ini tidak menutup kemungkinan dapat dilakukan untuk menekan biaya pembuatannya dan memanfaatkan bambu yang sudah tersedia di alam, tapi perlu dilakukan dengan uji coba di Laboratorium.

D. PERUMUSAN MASALAH Pencampuran bahan beton berdasarkan langkah-langkah SNI dan kuat lentur beton direncanakan sebesar K 225 / 19,3 Mpa. E. TINJAUAN PUSTAKA 1. Air Air adalah alat untuk mendapatkan kelecakan yang perlu untuk penuangan beton. Jumlah air yang diperlukan untuk kelecakan tertentu tergantung pada sifat material yang digunakan. Hukum kadar air konstan mengatakan: Kadar air yang diperlukan untuk kelecakan tertentu hampir konstantanpa tergantung pada jumlah semen, untuk kombinasi agregat halus dan kasar tertentu. Hukum ini tidak sepenuhnya berlaku untuk seluruh kisaran ( range), namun cukup praktis untuk penyesuaian perencanaan dan koreksi. Air yang diperlukan dipengaruhi faktor-faktor dibawah ini : a. Ukuran agregat maksimum : diameter membesar kebutuhan air menurun ( begitu pula jumlah mortar yang dibutuhkan menjadi lebih sedikit ). b. Bentuk butir : bentuk bulat kebutuhan air menurun ( batu pecah perlu lebih banyak air ). c. Gradasi agregat : gradasi baik kebutuhan air menurun untuk kelecakan yang sama. d. Kotoran dalam agregat : makin banyak silt, tanah liat dan lumpur kebutuhan air meningkat. e. Jumlah agregat halus ( dibandingkan agregat kasar, atau h/k ) : agregat halus lebih sedikit kebutuhan air menurun.

Pada pengerjaan beton, air mempunyai peranan yang menentukan untuk keberhasilan dari perencanaan beton. Perbandingan jumlah air dan semen sangat mempengaruhi mutu beton itu sendiri, jika perbandingan air tidak proporsional, kualitas air harus diperhatikan, air yang kotor dapat mempengaruhi pengikatan semen, pengurangan kekuatan beton dan korosi pada tulangan.

Dimana : Ws Wa Fas 2. Semen Peranan semen dalam beton berfungsi sebagai bahan pengikat antara agregat kasar dengan agregat halus, sehingga menghasilkan bentuk yang direncanakan.Semen akan berreaksi dan akan mengeras bila tercampur air, oleh karena itu semen tersebut dinamakan semen hidrolis. Adapun tipe-tipe semen adalah sebagi berikut : Tipe I Semen biasa ( normal cemen ). Digunakan untuk pembuatan beton bagi konstruksi beton yang tidak dipengaruhi oleh sifat-sifat lingkungan yang mengandung bahan-bahan sulfat. Pemakaian semen tipe 1 umumnya dipakai pada kontruksi beton untuk pembangunan : jalan, bangunan, beton bertulang, jembatan, waduk. : Berat semen : Bertar air (table terlampir ) : faktor air semen dalam penelitian ini fas diambil = 0,5

Tipe II Semen tipe II digunakan untuk pemecahan serangan sulfat dari lingkungan, seperti dipakai pada sistem drainase, waduk dengan kadar konsentrasi sulfat tinggi didalam air tanah. Tipe III Semen tipe III adalah jenis semen dengan waktu pengerasan yang cepat ( high earlt-strenght Portland cement ), umumnya pada waktu kurang dari seminggu digunakan pada struktur bangunan yang acuan perencanaannya harus segera dibuka dan akan segera dipakai. Tipe IV Semen tipe IV adalah semen dengan hidrasi panas rendah, yang digunakan pada struktur-struktur bangunan air seperti : Dam, Bendungan dimana panas yang terjadi waktu hidrasi merupakan faktor penentu bagi kebutuhan beton. Tipe V Semen tipe V adalah semen penangkal sulfat. Digunakan pada lingkungan yang mengandung sulfat, terutama pada tanah atau air yang mengandung kadar sulfat yang tinggi. 3. Agregat Agregat mempunyai peranan yang sangat penting, baik terhadap harga maupun kualitas dari beton, karena tidak kurang dari 65% - 70% dari volume total beton adalah terdiri dari volume agregat. Oleh karena itu dengan menggunakan komposisi agregat semaksimal mungkin, maka akan diperoleh harga beton yang murah dengan kualitas yang baik. Berdasarkan distribusi kumpulam butirannya,

agregat dapat dibedakan berdasarkan dua macam yaitu agregat kasar dan agregat halus. Sifat dan karakteristik agregat sangat menentukan kualitas akhir dari beton yang akan dikerjakan. Agregat dengan ukuran yang lebih halus memerlukan pemakaian semen yang lebih banyak bila dibandingkan dengan penggunaan butiran yang berukuran lebih besar. a. Agregat Halus Agregat halus adalah pasir alam atas hasil dari diseintegrasi butiran alam ( natural sand ). Sekarang ini sudah ada pasir batuan dengan cara memecahkan batuan dengan ukuran tertentu seperti halnya pasir alam ( dertifical sand ). Pasir alam dinamakan berdasarkan asal pembentukannya. Adapun jenis-jenis pasir diantaranya sebagai berikut : 1. 2. 3. 4. Pasir sungai. Pasir laut. Pasir galian. Pasir dune (bukit-bukit pasir yang dibawa angin ketepi pantai).

DAERAH SUSUNAN BUTIR NO 195

Berat Konkulatif agregat lolos saringan (%)

90

70

60

34 30

20 15 10 5 (16) (8) (4) (3/8") (3/4")

(# 100)

(50)

(30)

UKURAN MATA AYAKAN

DAERAH SUSUNAN BUTIR NO 2

90

Berat Konkulatif agregat lolos saringan (%)

90

75

59 55

35 30

10 5

(# 200)

(# 100)

(50)

(30)

(16)

(8)

(4)

(3/8")

(3/4")

UKURAN MATA AYAKAN

DAERAH SUSUNAN BUTIR NO 3

Berat Konkulatif agregat lolos saringan (%)

90 85 79 75

50

40

12 10

(# 200)

(# 100)

(50)

(30)

(16)

(8)

(4)

(3/8")

(3/4")

UKURAN MATA AYAKAN

DAERAH SUSUNAN BUTIR NO 495

95

Berat Konkulatif agregat lolos saringan (%)

85 70

50

15

12 (# 200) (# 100) (50) (30) (16) (8) (4) (3/8") (3/4")

UKURAN MATA AYAKAN

Sumber :Syaefei Amri,1991

Dalam penelitian ini landasan yang dipakai untuk pemeriksaan agregat harus mengacu pada SNI dimana pemeriksaan agregat halus meliputi : 1. Bobot Isi Dalam pemeriksaan bobot isi terdiri dari dua pemeriksaan yaitu bobot isi lepas serta padat dengan ketentuan rumus yang diberlakukan adalah :

2.

Berat jenis dan Peresapan Untunk ketentuan rumus yang diberlakukan terhadap berat jenis adalah :

Untuk rumus yang diberlakukan pada peresapan adalah :

Dimana: Bj Ba Bt Bk : Berat Contoh JKP : Berat Piknometer + air : Berat Piknometer + air + Contoh : Berat Contoh Kering

3.

Kadar Lumpur Perhitungan kadar lumpur ini menggunakan dua cara : Menggunakan saringan 200

Dimana: A B : Berat kering sebelum dicuci : Berat kering tertahan saringan No 200 setelah dicuci

Dengan menggunakan gelas ukur

Dimana : V1 : Tinggi lumpur V2 : Tinggi pasir

4.

Analisa Saringan Pemberlakuan rumus adalah : Dimana : A B C D : Nomor saringan : Berat saringan : Berat saringan + tertahan : Berat tertahan

b. Agregat Kasar Agregat kasar adalah kerikil sebagai disintegrasi secara alami dari batu asli atau berupa batuan pecah yang diperoleh dari industri pemecah batu. Menurut asalnya kerikil dapat dibedakan atas : Kerikil galian, kerikil sungai dan kerikil pantai. Berdasarkan bentuk dan faktor permukaan agregat kasar pada umumnya dapat dibedakan sebagai berikut : Bundar Persegi Bundar memanjang Pipih dan memanjang Bentuk tidak beraturan (irregular) Dalam pelaksanaannya pemeriksaan agregat memakai rumus berdasarkan SNI yang meliputi sebagai berikut : 1. Bobot Isi Dalam pemeriksaan bobot isi terdiri dari dua pemeriksaan yaitu bobot isi lepas serta padat dengan ketentuan rumus yang diberlakukan adalah :

2.

Berat jenis dan Peresapan Untuk ketentuan rumus yang diberlakukan terhadap berat jenis adalah :

Untuk rumus yang diberlakukan pada peresapan adalah :

Dimana: Bj Ba Bt Bk 3. : Berat Contoh JKP : Berat Piknometer + air : Berat Piknometer + air + Contoh : Berat Contoh Kering

Analisis saringan Agregat Kasar Tabel Persyaratan batas-batas susunan besar butir agregat kasarPresentase Berat bagian Yang Lewat Ayakan Ukuran Normal Agregat (mm) 1/2" 1 (40 mm) 3/4" (20mm) 3/8" (10mm) 95-100 100 37-70 95-100 100 10-40 30-60 50-85 0-5 0-10 0-10

Ukuran Mata Ayakan (mm) 11/2" 3/4" 3/8" No 4

Sumber : PBI-1971 4. Kual