proposal penelitian bising hanif revised..docx

Download PROPOSAL PENELITIAN bising hanif revised..docx

Post on 05-Feb-2016

12 views

Category:

Documents

0 download

Embed Size (px)

TRANSCRIPT

PROPOSAL PENELITIAN

I. Nama Peneliti : Hanif Nugra PujiyantoNIM/Semester : G0011103/VII__________________________________________________________________II. Judul Penelitian:Pengaruh Bising Kereta Api Terhadap Derajat Insomnia Warga Sekitar Rel Di Kelurahan Gilingan Surakarta__________________________________________________________________ III. Bidang Ilmu : Fisika__________________________________________________________________IV. Latar Belakang MasalahKemajuan peradaban telah menggeser perkembangan industri ke arah penggunaan mesin-mesin, dan alat-alat transportasi berat. Namun pemanfaatan teknologi transportasi untuk memenuhi kebutuhan manusia yang semakin kompleks, ternyata menimbulkan berbagai masalah lingkungan (Hutabarat, 2010). Menurut Kawada (2011) kebisingan merupakan salah satu bahaya lingkungan yang paling mengganggu di dunia, berasal dari berbagai sumber seperti lalu lintas jalan, kereta api, pesawat udara, dan industri. Berdasarkan KEP-48/MENLH/11/1996 bising adalah bunyi yang tidak diinginkan dari usaha atau kegiatan dalam tingkat dan waktu tertentu yang dapat menimbulkan gangguan kesehatan manusia dan kenyamanan lingkungan (Kementriaan Lingkungan Hidup, 1996)Keterpaparan terhadap kebisingan dan getaran yang melebihi nilai ambang batas pada kurun waktu yang cukup lama akan berakibat pada gangguan pendengaran ringan dan jika terjadi terus menerus akan menyebabkan ketulian permanen. Selain itu kebisingan juga diduga menimbulkan gangguan emosional (Harrington dan Gill, 2005). Stres emosional yang disebabkan oleh kebisingan dapat diikuti dengan gejala sulit tidur (Anies, 2006). Insomnia merupakan suatu gangguan pola tidur dapat berupa sulit tidur, tidak tidur nyenyak, terlalu banyak atau terlalu sedikit tidur. Gangguan pola tidur merupakan salah satu dari tanda-tanda perilaku stres dan ketegangan (Aprilani, 2007).Kereta api merupakan salah satu alat transportasi yang dapat menimbulkan paparan kebisingan terhadap daerah sekitarnya. Bising pada lingkungan di sekitar rel kereta api dihasilkan dari bising dari gesekan antara roda dan rel, mesin lokomotif, peluit dan klakson kereta, pemindahan jalur rel, serta pengoperasian palang kereta (Torlakovic dan Stevanovic, 2010). Hasil penelitian Hutabarat (2010) pada area pemukiman warga di Kecamatan Banjarsari, Surakarta dengan jarak 20-30 meter dari rel kereta api didapatkan tingkat kebisingan 77,76 dB. Berdasarkan KEP-48/MENLH/11/1996 angka ini telah melampaui batas baku tingkat kebisingan pada kawasan pemukiman dan perumahan yaitu 55 dB.Kelurahan Gilingan merupakan salah satu kelurahan di Kecamatan Banjarsari, Surakarta. Letaknya yang dekat dengan terminal dan stasiun menjadikannnya salah satu daerah dengan aktifitas padat. Kebisingan dari kereta api telah menjadi salah satu masalah penduduk di daerah ini (Pemkot Surakarta, 2013). Pada Kampung Margorejo, Gilingan yang terdiri dari RW 10 dan RW 11 didapatkan dari 569 Kepala Keluarga, kira-kira setengahnya tinggal pada rumah dengan jarak kurang dari 20 meter dari rel kereta api. Hal ini tentunya dapat menimbulkkan berbagai dampak negatif dari kebisingan seperti insomnia.Berdasarkan uraian tersebut maka penulis tertarik untuk menganalisis keterkaitan antara kebisingan kereta api terhadap derajat insomnia pada warga yang tinggal di sekitar rel di Kelurahan Gilingan, Bajarsari, Surakarta. __________________________________________________________________V. Perumusan MasalahAdakah pengaruh bising kereta api terhadap derajat insomnia warga sekitar rel di Kelurahan Gilingan Surakarta? _________________________________________________________________VI. Tujuan PenelitianA. Tujuan UmumUntuk mengetahui pengaruh bising kereta api terhadap derajat insomnia warga sekitar rel di Kelurahan Gilingan, Surakarta.B. Tujuan Khusus1. Untuk mengetahui tingkat kebisingan di sekitar rel kereta api Kelurahan Gilingan.2. Untuk mengetahui derajat insomnia masyarakat di sekitar rel kereta api Kelurahan Gilingan.3. Untuk menganalisis pengaruh bising kereta api terhadap derajat insomnia warga sekitar rel kereta api di Kelurahan Gilingan.__________________________________________________________________VII. Manfaat PenelitianA. Manfaat teoritisPenelitian ini diharapkan memberikan gambaran dampak kebisingan kereta api terhadap kesehatan, khususnya dengan insomnia. B. Manfaat praktis1. Masyarakat: Diharapkan memberikan gambaran dampak kebisingan kereta api terhadap lingkungan sekitar, sehingga warga lebih sadar terhadap dampak kebisingan yang ditimbulkan.2. Pemerintah : Sebagai bahan informasi dalam perencanaan menyusun tata ruang daerah sekitar rel kereta api yang sehat dan nyaman.3. PT KAI : Diharapkan dapat mengambil kebijakan dan serta mengambil langkah-langkah untuk mencegah terjadinya gangguan kesehatan pada masyarakat sekitar rel kereta api.

VIII. Tinjauan Pustaka A. Bising Kereta ApiBising adalah campuran dari berbagai suara yang tidak dikehendaki ataupun yang merusak kesehatan, saat ini kebisingan merupakan salah satu penyebab penyakit lingkungan yang penting. (Slamet, 2006). Berdasarkan Kep-48/MENLH/11/1996, kebisingan adalah bunyi yang tidak diinginkan dari usaha atau kegiatan dalam tingkat dan waktu tertentu yang dapat menimbulkan gangguan kesehatan manusia dan kenyamanan lingkungan. Chandra (2007) mendefinisikan, kebisingan adalah suara atau bunyi yang tidak dikehendaki atau dapat diartikan pula sebebagai suara yang salah pada tempat dan waktu yang salah. Kereta api merupakan salah satu alat transportasi yang dapat menimbulkan paparan kebisingan terhadap daerah sekitarnya, sehingga pemukiman yang berada dekat dengan rel kereta api menerima paparan kebisingan intermiten yang sangat tinggi akibat adanya perlintasan kereta Bising pada lingkungan di sekitar rel kereta api dihasilkan dari beberapa sumber antara lain: bising gesekan antara rel dan roda,bising yang dihasilkan dari tarikan antar gerbong, mesin lokomotif, dan bising karena efek aerodinamis dari gesekan kereta dengan udara, peluit dan klakson kereta, pemindahan jalur rel, serta pengoperasian palang kereta (Torlakovic dan Stevanovic, 2010). Pada penelitian Ali (2005) didapati bahwa populasi masyarakat di sekitar rel kereta api merasa terganggu oleh kebisingan yang ditimbulkan. Hasil yang sama juga ditunjukkan pada penelitian Zannin dan Bunn (2014), bahwa bising yang dihasilkan oleh kereta api yang lewat dengan membunyikan klakson dapat menghasilkan kebisingan sampai 80 92 dB pada lingkungan di sekitar rel kereta. Dari responden yang diberikan kuisioner 84% merasa terganggu oleh bising yang dihasilkan oleh rel kereta api di lingkungan mereka. Kebisingan dari suara kereta api merupakan faktor yang mengganggu dan membahayakan kesehatan manusia yang berpengaruh pada dua aspek, yaitu aspek gangguan pendengaran (auditory effect) dan aspek gangguan bukan pada indera pendengaran (non auditory effect). Kebisingan kereta menyebabkan gangguan psikologis, sakit kepala, serta menurunnya konsentrasi dan insomnia. Berdasarkan KEP-48/MENLH/11/1996 baku tingkat kebisingan pada kawasan perumahan dan pemukiman adalah 55 dB, seperti yang terlihat pada tabel 1.Peruntukan KawasanTingkat kebisingan DB (A)

1. Perumahan dan pemukiman2. Perdagangan dan Jasa3. Perkantoran dan Perdagangan4. Ruang Terbuka Hijau5. Industri6. Pemerintahan dan Fasilitas Umum7. Rekreasi8. Khusus: Bandar udara*) Stasiun Kereta Api*) Pelabuhan Laut Cagar Budaya9. Rumah sakit atau sejenisnya10. Sekolah atau sejenisnya11. Tempat ibadah atau sejenisnya55706550706070

7060555555

*) disesuaikan dengan ketentuan Menteri PerhubunganTabel 1. Baku Tingkat KebisinganDalam KEP-48/MENLH/11/1996 juga dijelaskan bahwa untuk mengetahui tingkat kebisingan suatu daerah dapat dilakukan dengan dua cara, yaitu (Kementriaan Lingkungan Hidup, 1996):1) Cara Sederhana Dengan sebuah sound level meter biasa diukur tingkat tekanan bunyi dB (A) selama 10 (sepuluh) menit untuk tiap pengukuran. Pembacaan dilakukan setiap 5 (lima) detik. 2) Cara Langsung Dengan sebuah integrating sound level meter yang mempunyai fasilitas pengukuran LTM5, yaitu Leq dengan waktu ukur setiap 5 detik, dilakukan pengukuran selama 10 (sepuluh) menit. Waktu pengukuran dilakukan selama aktifitas 24 jam (LSM) dengan cara pada siang hari tingkat aktifitas yang paling tinggi selama 16 jam (LS) pada selang waktu 06.00 22.00 dan aktifitas malam hari selama 8 jam (LM) pada selang 22.00 06.00. Setiap pengukuran harus dapat mewakili selang waktu tertentu dengan menetapkan paling sedikit 4 waktu pengukuran pada siang hari dan pada malam hari paling sedikit 3 waktu pengukuran.

B. InsomniaTidur didefinisikan sebagai suatu keadaan bawah sadar di mana orang tersebut mudah dibangunkan dengan rangsang sensorik atau dengan rangsang lainnya (Guyton dan Hall, 2006). Pada beberapa orang tidur merupakan hal yang sulit dilakukan karena adanya gangguan tidur. Gangguan tidur yang paling sering dikeluhkan adalah insomnia. (Kaplan, 2010)Menurut DSM-IV definisi insomnia adalah kesulitan untuk memulai tidur, mempertahankan tidur atau kualitas tidur yang buruk selama 1 bulan atau lebih (Sadock, 2009). Berdasarkan penyebabnya insomnia dapat dibagi menjadi dua yaitu insomnia primer dan sekunder. insomnia primer karena penyebabnya tidak diketahui, sedangkan insomnia sekunder adalah insomnia yang timbul bersama dengan gangguan psikiatri seperti depresi, cemas, atau substance abuse dan juga penyakit medis seperti penyakit jantung, hipertensi, nyeri kronik, gangguan pencernaan, gangguan saraf, gangguan kencing, dan gangguan pernafasan (Buysse, 2008). Faktor faktor lain yang dapat mempengaruhi insomnia antara lain:1) stress 2) wanita3) usia di atas 60 tahun 4) konsumsi zat-zat yang mempengaruhi saraf pusat seperti kafein, nikotin, atau alkohol5) tidur yang tidak teratur6) shift kerja malam7) bepergian dalam wilayah dengan zona waktu berbeda (Merrigan, 2013).Insomnia sering dikaitkan dengan keadaaan hyperarousal. Keadaan ini meningkatka