pnemonia lobaris erwin

Click here to load reader

Post on 16-Nov-2015

17 views

Category:

Documents

0 download

Embed Size (px)

DESCRIPTION

pneumonia lobaris erwin

TRANSCRIPT

BAB I

CASE REPORT

Nama:

Erwin Setiawan

Pembimbing:

dr. Awang Yogi Suwarto, Sp.A

PROGRAM PENDIDIKAN PROFESI DOKTER

BAGIAN ILMU KESEHATAN ANAK

FAKULTAS KEDOKTERAN

UNIVERSITAS SWADAYA GUNUNG JATI

CIREBON

2014

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Pneumonia adalah suatu radang pada parenkim paru. Proses peradangan tersebut terbanyak disebabkan oleh mikroorganisme (bakteri, virus, dan jamur), selain itu dapat juga disebabkan oleh faktor-faktor lain (inhalasi bahan kimia atau makanan, radiasi).(1)Pneumonia lobaris sebagai penyakit yang menimbulkan gangguan pada sistem pernafasan, merupakan salah satu bentuk pneumonia yang terjadi pada lobus paru.(2,3) Pneumonia lobaris lebih sering menyerang bayi dan anak kecil. Hal ini dikarenakan respon imunitas mereka masih belum berkembang dengan baik. Tercatat bakteri sebagai penyebab tersering pneumonia lobaris pada dewasa dan anak adalah Streptococcus pneumoniae dan Haemophilus influenzae.(4, 5, 6) Insidensi pneumonia lobaris di negara-negara yang sedang berkembang pada anak kurang dari 5 tahun diperkirakan sekitar 30% dengan angka mortalitas yang tinggi. Penyakit ini masih merupakan masalah kesehatan yang mencolok walaupun ada berbagai kemajuan dalam bidang antibiotik. Hal di atas disebabkan oleh munculnya organisme nosokomial (didapat dari rumah sakit) yang resisten terhadap antibiotik. Adanya organisme-organisme baru dan penyakit seperti AIDS (Acquired Immunodeficiency Syndrome) yang semakin memperluas spektrum dan derajat kemungkinan terjadinya pneumonia lobaris.(2) BAB IILAPORAN KASUS

A. Identitas

Nama

: An. Nadia Noafa SholihaUmur

: 1 Bulan 15 Hari

Jenis Kelamin

: PerempuanAlamat

: Cipeujeuh Wetan RT 14 RW 04 Kec. LATanggal Masuk

: 28 Desember 2014Tanggal Keluar

: -B. Anamnesa

1. Keluhan Utama : Batuk

2. Riwayat Penyakit Sekarang

Pasien batuk sejak 15 hari SMRS, dahak (+), darah (-). Dahak tidak bisa keluar.

Pilek (+), sesak nafas (+), Sesak sejak 15 hari SMRS.

Demam (-), kejang (-), menggigil (-), mual (-), muntah (-).

Bab cair (-)

Bak (+) normal, menetek (+).

3. Riwayat Penyakit Dahulu

Riwayat penyakit dengan gejala yang sama (-), riwayat alergi (-), riwayat dirawat di RS (-).

4. Riwayat Penyakit Keluarga

Ayah riwayat TBC luar paru (+).

5. Riwayat Imunisasi

Polio (+), Hepatitis B (+), BCG (+).6. Riwayat Lingkungan

Asap rokok dirumah (-), ventilasi terbuka.C. Pemeriksaan Fisik

1. Keadaan Umum: Sesak

2. Kesadaran: Compos Mentis

3. Vital Sign: Heart Rate: 146x/menit

Suhu

: 36,50C

Respirasi: 54x/menit

4. BB : 3,6 kgTB : cm

Status Gizi : Baik

5. Status Umum

a. Kepala: Konjunctiva anemis (-), sklera ikterik (-), sianosis (-),

nafas cuping hidung (+)

b. Leher

: Pembesaran limfonodi (-), JVP meningkat.

c. Thorax: Simetris (+), retraksi (-), POC (-)

ronki +/+, wheezing -/-

d. Abdomen: Simetris (+), distensi (-), peristaltik (+) dbn,

nyeri tekan (-), timpani (+)

e. Ekstremitas: Deformitas (-), edema (-), sianosis (-), akral hangat (+)

f. Intergumen: Turgor (+) baik, ikterik (-), sianosis (-)

D. Pemeriksaan Penunjang

Hemoglobin: 9,6

(12,5-15,5). gr%

Leukosit: 215000

(6000-15000) . LEritrosit: 3,1

(3,6-5,2) . 106 /L

Hemoglobin: 10,8

(14-18) g/dl

Hematokrit: 29

(36-48) %Eosinofil: 0

(0,05-0,7) %

Basofil: 0

(0-0,2) %

Trombosit: 510

(150-400) mm

Limfosit: 43

(25-40) %

Monosit: 5

(2-8) %

Netrofil Segmen: 52

(50-80) %

Netrofil Batang: 0

(3-5) %Rontgen Thoraks

Cor: Dalam batas normal

Pulmo: Perselubungan inhomogen di puncak paru kanan E. Diagnosa Sementara

Pneumonia Lobaris Dextra

F. Diagnosis Banding

Bronkopneumonia

ISPA

Bronkitis

Bronkiolitis

G. Terapi

O2 L/menit

Infus Ringer Lactat 8-12 tetes/menit Zidifex 2x50 mg

BAB IIITINJAUAN PUSTAKA

A. Definisi

Pneumonia lobaris adalah peradangan pada paru dimana proses peradangannya ini menyerang lobus paru.(2,6)Pembagian atau penggolongan pneumonia berdasarkan atas dasar anatomis kurang relevan dibanding pembagian pneumonia berdasar etiologinya. Berdasar etiologinya, pneumonia dibagi : (1) bakteri (Diplococcus pneumoniae, Pneumococcus, S.hemolyticus, S.aureus, H.influenza), (2) virus (RSV, influenza, adenovirus, CMV), (3) Mycoplasma pneumoniae, (4) Aspirasi (makanan, kerosen, cairan amnion, benda asing), (5) Pneumonia hipostatik, (6) Sindrom Loeffler. (3,4,5)B. Etiologi

Pneumonia lobaris lebih sering ditimbulkan oleh invasi bakteri. Golongan bakteri yang sering menyebabkan ataupun didapatkan pada kasus pneumonia lobaris adalah (3,4,5):

1. Bakteri gram positif

a. Pneumococcusb. Staphylococcus aureus2. Bakteri gram negatif

a. Haemophilus influenzaeb. Klebsiella pneumoniaeBakteri gram positif

1. PneumococcusMerupakan bakteri patogen yang paling sering ditemukan pada kasus pneumonia. Pneumokokus dengan serotipe 1 sampai 8 menyebabkan pneumonia pada orang dewasa lebih dari 80%, sedangkan pada anak ditemukan tipe 14, 1, 6 dan 9. angka kejadian tertinggi ditemukan pada usia kurang dari 4 tahun dan mengurang dengan meningkatnya umur. Pneumonia lobaris hampir selalu disebabkan oleh pneumokokus, ditemukan pada dewasa dan anak besar.(3,5) Pneumokokus jarang yang menyebabkan infeksi primer, biasanya menimbulkan peradangan pada paru setelah adanya infeksi atau kerusakan oleh virus atau zat kimia pada saluran pernafasan.(8)

Patofisiologi

Organisme ini teraspirasi ke bagian tepi paru dari saluran nafas bagian atas atau nasofaring. Awalnya terjadi edema reaktif yang mendukung multiplikasi organisme-organisme ini serta penyebarannya ke bagian paru lain yang berdekatan. Biasanya satu lobus atau lebih, atau bagian-bagian dari lobus, tidak melibatkan sisa sistem bronkopulmonal. Namun, gambaran pneumonia lobar ini sering tidak ada pada bayi, yang mungkin menderita penyakit yang tidak lebih sempurna dan difus yang menyertai distribusi bronkus dan yang ditandai dengan banyak daerah konsolidasi teratas di sekeliling jalan nafas yang lebih kecil. Jarang didapatkan jejas yang permanen.(5) Umumnya bakteri ini mencapai alveoli melalui percikan mukus atau saliva (droplet) dan tersering mengenai lobus bagian bawah paru karena adanya efek gravitasi. Organisme ini setelah mencapai alveoli akan menimbulkan respon yang khas yang terdiri dari 4 tahap yang berurutan, yaitu :1) Kongesti (4 s/d 12 jam pertama)

Eksudat serosa masuk ke dalam alveoli melalui pembuluh darah yang berdilatasi dan bocor. Serta didapatkan eksudat yang jernih, bakteri dalam jumlah yang banyak, neutrofil, dan makrofag dalam alveolus.2) Hepatisasi merah (48 jam berikutnya)Paru-paru tampak merah dan bergranula karena sel-sel darah merah, fibrin dan lekosit polimorfonuklear mengisi alveoli. Lobus dan lobulus yang terkena menjadi padat dan tidak mengandung udara, warna menjadi merah dan pada perabaan seperti hepar. Stadium ini berlangsung sangat singkat.3) Hepatisasi kelabu (3 s/d 8 hari)Lobus paru masih tetap padat dan warna merah menjadi tampak kelabu karena lekosit dan fibrin mengalami konsolidasi di dalam alveoli dan permukaan pleura yang terserang melakukan fagositosis terhadap pneumococcus. Kapiler tidak lagi mengalami kongesti. 4) Resolusi (7 s/d 11 hari)Eksudat mengalami lisis dan direabsorpsi oleh makrofag sehingga jaringan kembali pada strukturnya semula.(2,3,5) Bercak-bercak infiltrat yang terbentuk pada pneumonia lobaris adalah bercak-bercak yang tidak teratur, berbeda dengan bronkopneumonia dimana penyebaran bercaknya mengikuti pembagian dan penyebaran bronkus dan ditandai dengan adanya daerah-daerah konsolidasi terbatas yang mengelilingi saluran-saluran nafas yang lebih kecil.(2,3) Gambaran KlinisBiasanya didahului dengan adanya infeksi saluran nafas bagian atas selama beberapa hari. Pada bayi bisa disertai dengan hidung tersumbat, rewel serta nafsu makan yang menurun. Suhu dapat naik secara mendadak sampai 39oC atau lebih. Anak sangat gelisah, dispneu. Kesukaran bernafas yang disertai adanya sianosis di sekitar mulut dan hidung. Tanda kesukaran bernafas ini dapat berupa bentuk nafas berbunyi (ronki dan friction rub di atas jaringan yang terserang), pernafasan cuping hidung, retraksi-retraksi pada daerah supraklavikuler, interkostal dan subkostal. Pada awalnya batuk jarang ditemukan, tapi dapat dijumpai pada perjalanan penyakit lebih lanjut serta sputum yang berwarna seperti karat (dahak berdarah). Lebih lanjut lagi bisa terjadi efusi pleura dan empiema, dimana keadaan ini dapat menyebabkan ketinggalan gerak pada sisi yang terkena pada saat respirasi yang dapat dilihat dengan gerakan berlebihan pada sisi yang berlawanan. Biasanya perkusi redup pada daerah efusi dengan pengurangan fremitus dan suara pernafasan. Suara bronkial sering ditemukan tepat di atas batas cairan dan pada sisi yang tidak terkena.(3,5,8) Hasil pemeriksaan fisik tergantung dari luas daerah yang terkena. Tanda-tanda klasik konsolidasi ditemukan pada hari kedua dan ketiga penyakit. Pada perkusi bisa ditemukan adanya suara redup, fremitus yang bertambah. Pada auskultasi mungkin ditemukan adanya suara bronkial, ronki basah halus.(3,5) Diagnosis

Biasanya jumlah lekosit meningkat mencapai 15.000 40.000/mmk dengan jumlah sel polimorfonuklear terbanyak, sedangkan bila didapatkan jumlah lekosit kurang dari 5.000/mmk sering berhubungan dengan prognosis penyakit yang buruk. Nilai hemoglobin