nilai-nilai pendidikan karakter dalam buku …e-repository.perpus.iainsalatiga.ac.id/5761/1/lutfi...

123
NILAI-NILAI PENDIDIKAN KARAKTER DALAM BUKU GELANDANGAN DI KAMPUNG SENDIRI KARYA EMHA AINUN NADJIB SKRIPSI Diajukan untuk Memenuhi Kewajiban dan Syarat Guna Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan Oleh: LUTFI ISNAN ROMDLONI NIM. 23010150361 PROGRAM STUDI PENDIDIKAN AGAMA ISLAM FAKULTAS TARBIYAH DAN ILMU KEGURUAN INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI (IAIN) SALATIGA 2019

Upload: others

Post on 22-Sep-2020

15 views

Category:

Documents


0 download

TRANSCRIPT

Page 1: NILAI-NILAI PENDIDIKAN KARAKTER DALAM BUKU …e-repository.perpus.iainsalatiga.ac.id/5761/1/Lutfi Isnan Romdloni... · NILAI-NILAI PENDIDIKAN KARAKTER DALAM BUKU GELANDANGAN DI KAMPUNG

NILAI-NILAI PENDIDIKAN KARAKTER

DALAM BUKU GELANDANGAN DI KAMPUNG SENDIRI

KARYA EMHA AINUN NADJIB

SKRIPSI

Diajukan untuk Memenuhi Kewajiban dan Syarat Guna Memperoleh Gelar

Sarjana Pendidikan

Oleh:

LUTFI ISNAN ROMDLONI

NIM. 23010150361

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN AGAMA ISLAM

FAKULTAS TARBIYAH DAN ILMU KEGURUAN

INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI (IAIN) SALATIGA

2019

Page 2: NILAI-NILAI PENDIDIKAN KARAKTER DALAM BUKU …e-repository.perpus.iainsalatiga.ac.id/5761/1/Lutfi Isnan Romdloni... · NILAI-NILAI PENDIDIKAN KARAKTER DALAM BUKU GELANDANGAN DI KAMPUNG

i

Page 3: NILAI-NILAI PENDIDIKAN KARAKTER DALAM BUKU …e-repository.perpus.iainsalatiga.ac.id/5761/1/Lutfi Isnan Romdloni... · NILAI-NILAI PENDIDIKAN KARAKTER DALAM BUKU GELANDANGAN DI KAMPUNG

ii

NILAI-NILAI PENDIDIKAN KARAKTER

DALAM BUKU GELANDANGAN DI KAMPUNG SENDIRI

KARYA EMHA AINUN NADJIB

SKRIPSI

Diajukan untuk Memenuhi Kewajiban dan Syarat Guna Memperoleh Gelar

Sarjana Pendidikan

Oleh:

LUTFI ISNAN ROMDLONI

NIM. 23010150361

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN AGAMA ISLAM

FAKULTAS TARBIYAH DAN ILMU KEGURUAN

INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI (IAIN) SALATIGA

2019

Page 4: NILAI-NILAI PENDIDIKAN KARAKTER DALAM BUKU …e-repository.perpus.iainsalatiga.ac.id/5761/1/Lutfi Isnan Romdloni... · NILAI-NILAI PENDIDIKAN KARAKTER DALAM BUKU GELANDANGAN DI KAMPUNG

iii

Page 5: NILAI-NILAI PENDIDIKAN KARAKTER DALAM BUKU …e-repository.perpus.iainsalatiga.ac.id/5761/1/Lutfi Isnan Romdloni... · NILAI-NILAI PENDIDIKAN KARAKTER DALAM BUKU GELANDANGAN DI KAMPUNG

iv

Page 6: NILAI-NILAI PENDIDIKAN KARAKTER DALAM BUKU …e-repository.perpus.iainsalatiga.ac.id/5761/1/Lutfi Isnan Romdloni... · NILAI-NILAI PENDIDIKAN KARAKTER DALAM BUKU GELANDANGAN DI KAMPUNG

v

Page 7: NILAI-NILAI PENDIDIKAN KARAKTER DALAM BUKU …e-repository.perpus.iainsalatiga.ac.id/5761/1/Lutfi Isnan Romdloni... · NILAI-NILAI PENDIDIKAN KARAKTER DALAM BUKU GELANDANGAN DI KAMPUNG

vi

MOTTO

“Hidup saya yang hanya satu kali ini dengan serius saya pergunakan untuk

memperbanyak sahabat, dari yang muda, anak-anak, orang tua, orang miskin,

orang pangkat, orang biasa, bahkan jin dan makhluk-makhluk lain, pokoknya

siapa saja. Itu saya pergunakan untuk meningkatkan kadar dan kualitas cinta

kasih kemanusiaan saya, sembari saya manfaatkan untuk mengikis rasa benci

dihati saya” (Emha, 2018: 30).

Page 8: NILAI-NILAI PENDIDIKAN KARAKTER DALAM BUKU …e-repository.perpus.iainsalatiga.ac.id/5761/1/Lutfi Isnan Romdloni... · NILAI-NILAI PENDIDIKAN KARAKTER DALAM BUKU GELANDANGAN DI KAMPUNG

vii

PERSEMBAHAN

Alhamdulillah dengan izin Allah Swt. skripsi ini dapat terselesaikan

dengan baik. Skripsi ini saya persembahkan kepada orang-orang yang telah

membantu mewujudkan mimpiku:

1. Ayahanda Supomo dan Ibunda Warinah yang telah memberikan mahkota kasih

sayangnya kepadaku sejak diriku kecil tak mengerti apa-apa hingga kini aku

mengerti makna hidup.

2. Kakaku tercinta Septia Hidayah yang selalu mendukung dan memberikan

semangat.

3. Guru-guruku yang telah membagikan ilmunya kepadaku sehingga aku menjadi

manusia yang mengerti banyak hal.

4. Sahabat-sahabat manusia kontrakan yang senantiasa menemaniku selama

mengerjakan skripsi maupun memberi motivasi untuk segera

menyelesaikannya.

5. Sahabat-sahabat PAI angkatan 2015. Semoga dimanapun kalian berada, selalu

mengamalkan ilmunya dengan tulus dan ikhlas.

6. Sahabat-sabahat Gerakan Jum‟at Berbagi Salatiga maupun GJB FTIK IAIN

Salatiga, FKMB Salatiga, UKM LDK Fathir Ar-Rasyid, teman-teman maiyah

salatiga yang telah mengajari dan memberikan banyak pengalamannya dalam

berorganisasi sehingga aku tidak menjadi mahasiswa yang hanya aktif di

bidang akademik namun juga dapat aktif di organisasi.

7. Teman Fatamorganaku senantiasa menemani, memberikan semangat, dan

senyuman di setiap hari-hariku.

Page 9: NILAI-NILAI PENDIDIKAN KARAKTER DALAM BUKU …e-repository.perpus.iainsalatiga.ac.id/5761/1/Lutfi Isnan Romdloni... · NILAI-NILAI PENDIDIKAN KARAKTER DALAM BUKU GELANDANGAN DI KAMPUNG

viii

KATA PENGANTAR

نٱللبسم ٱلرحيمٱلرحم

Alhamdulillahirabbil‟alamin penulis ucapkan sebagai rasa syukur ke

hadirat Allah Swt. atas segala nikmat yang tak terhitung dan rahmat-Nya yang

tiada henti, sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini.

Sholawat serta salam semoga senantiasa tercurahkan junjungan kita Nabi

Muhammad Saw. beliaulah suri tauladan bagi seluruh umat manusia,

penyempurna akhlak yang mulia, dan pemimpin yang bijaksana bagi seluruh alam

semesta.

Penulisan skripsi ini tidak mungkin dapat terselesaikan dengan baik tanpa

ada bantuan, dorongan, serta bimbingan dari pihak-pihak tertentu yang terkait,

yang telah meluangkan waktunya untuk memberikan informasi-informasi yang

dibutuhkan.

Terima kasih yang sebesar-besarnya juga harus penulis sampaikan kepada:

1. Bapak Prof. Dr. Zakiyuddin Baidhawy, M. Ag selaku Rektor Institut Agama Islam

Negeri (IAIN) Salatiga

2. Bapak Prof. Dr. Mansur, M.Ag selaku Dekan Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan

(FTIK)

3. Ibu Dra. Siti Asdiqoh, M.Si. selaku Ketua Program Pendidikan Agama Islam (PAI)

4. Bapak Drs. Bahroni, M.Pd, selaku dosen pembimbing skripsi yang senantiasa

memberikan arahan, bimbingan dan motivasi selama menyelesaikan skripsi.

Page 10: NILAI-NILAI PENDIDIKAN KARAKTER DALAM BUKU …e-repository.perpus.iainsalatiga.ac.id/5761/1/Lutfi Isnan Romdloni... · NILAI-NILAI PENDIDIKAN KARAKTER DALAM BUKU GELANDANGAN DI KAMPUNG

ix

5. Bapak-bapak dan ibu-ibu dosen IAIN Salatiga yang tidak bisa saya sebutkan

satu-satu yang telah memberikan ilmunya kepada penulis selama menjadi

mahasiswanya.

6. Simbah Emha Ainun Nadjib dan tim [email protected] yang telah

mengizinkan saya untuk meneliti buku Gelandangan di Kampung Sendiri

7. Keluarga tercinta yang telah membesarkan penulis dengan penuh kasih

sayang dan memberikan bantuan moril dan materil maupun spiritual.

8. Semua pihak yang tidak dapat penulis sebutkan, semoga segala bantuan yang

diberikan mendapat balasan dan Ridho Allah Swt. serta tercatat dalam bentuk

amalan ibadah. amin.

Semoga jasa baik yang diberikan pada penulis akan mendapatkan balasan

yang lebih berarti dari Allah Swt. penulis menyadari masih terdapat banyak

kekurangan dalam penyusunan skripsi ini, karenanya kritik dan saran yang

membangun sangat diharapkan. Semoga skripsi ini bermanfaat bagi semua

kalangan terutama bagi penulis sendiri. Aamiin Yaa Robbal „Alamiin.

Salatiga, 24 Juli 2019

Penulis

Lutfi Isnan Romdloni

NIM. 23010150361

Page 11: NILAI-NILAI PENDIDIKAN KARAKTER DALAM BUKU …e-repository.perpus.iainsalatiga.ac.id/5761/1/Lutfi Isnan Romdloni... · NILAI-NILAI PENDIDIKAN KARAKTER DALAM BUKU GELANDANGAN DI KAMPUNG

x

ABSTRAK

Romdloni, Lutfi Isnan. 2019. 23010150361. Nilai-Nilai Pendidikan Karakter

dalam Buku Gelandangan di Kampung Sendiri Karya Emha Ainun Nadjib.

Skripsi. Program Studi Pendidikan Agama Islam Fakultas Tarbiyah dan

Ilmu Keguruan Institut Agama Islam Negeri Salatiga. Pembimbing: Drs.

Bahroni M.Pd.

Kata kunci: Nilai-Nilai Pendidikan Karakter, Buku Gelandangan di Kampung

Sendiri.

Pendidikan karakter mempunyai posisi yang strategis dan dibutuhkan

dalam membangun karkter seseorang agar terbentuknya karakter positif sesuai

agama, bangsa dan negara. Salah satunya cara membangun karakter adalah

dengan membaca buku ataupun karya sastra. Buku Gelandangan di Kampung

Sendiri adalah buku banyak memberikan inspirasi bagi kehidupan. Karena

didalamnya banyak terkandung nilai-nilai pendidikan karakter yang dapat

memotivasi untuk menjadi pribadi yang lebih baik.

Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan nilai-nilai pendidikan

karakter dalam novel buku Gelandangan di Kampung Sendiri karya Emha Ainun

Nadjib relevansinya di era modern. Penelitian ini menggunakan jenis penelitian

kepustakaan (library research), sumber data perimer yang digunakan dalam

penulisan skripsi ini adalah buku Gelandangan di Kampung Sendiri karya

Emha Ainun Nadjib dan sumber data sekunder yang peneliti gunakan diperoleh

dari pengumpulan informasi dan data dari buku-buku, karangan ilmiah, majalah

ataupun artikel yang relevan dalam penelitian ini. Pendekatan dalam penelitian

ini adalah pendekatan karya sastra, yaitu pendekatan pragmatik. Pengumpulan

datanya menggunakan metode dokumentasi, analisis data yang digunakan dalam

skripsi ini adalah analisis isi (content analysis).

Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa: (1) Nilai-nilai pendidikan

karakter yang terkandung dalam buku Gelandangan di Kampung Sendiri karya

Emha Ainun Nadjib meliputi: religius, jujur, toleransi, kerja keras, kreatif,

mandiri, demokratis, rasa ingin tahu, semangat kebangsaan, cinta tanah air,

menghargai prestasi, bersahabat dan komunikatif, cintai kedamaian, gemar

membaca, peduli lingkungan dan sosial, bertanggung jawab. (2) Relevansi nilai-

nilai pendidikan karakter dalam buku Gelandangan di Kampung Sendiri Karya

Emha Ainun Nadjib dalam kehidupan modern ini yaitu buku ini sangat relevan

dengan pendidikan karakter di Indonesia karena di dalam buku Gelandangan di

Kampung Sendiri karya Emha Ainun Nadjib terdapat nilai edukasi khususnya

nilai-nilai pendidikan karakter.

Page 12: NILAI-NILAI PENDIDIKAN KARAKTER DALAM BUKU …e-repository.perpus.iainsalatiga.ac.id/5761/1/Lutfi Isnan Romdloni... · NILAI-NILAI PENDIDIKAN KARAKTER DALAM BUKU GELANDANGAN DI KAMPUNG

xi

DAFTAR ISI

HALAMAN BERLOGO ............................................................................... i

HALAMAN JUDUL ..................................................................................... ii

HALAMAN PERSETUJUAN ..................................................................... iii

HALAMAN PENGESAHAN ....................................................................... iv

HALAMAN PERNYATAAN KEASLIAN TULISAN .............................. v

HALAMAN MOTTO ................................................................................... vi

KATA PERSEMBAHAN ............................................................................. vii

KATA PENGANTAR ................................................................................... viii

ABSTRAK ..................................................................................................... x

DAFTAR ISI .................................................................................................. xi

BAB. I. PENDAHULUAN

A. Latar Belakang ........................................................................... 1

B. Rumusan Masalah ...................................................................... 7

C. Tujuan Penelitian ....................................................................... 8

D. Manfaat Penelitian ..................................................................... 8

E. Kajian Pustaka ........................................................................... 9

F. Metode Penelitian ...................................................................... 13

G. Definisi Oprasional ..................................................................... 14

H. Sistematika Pembahasan ............................................................ 16

BAB. II. KAJIAN TEORI

A. Pengertian Nilai ......................................................................... 18

B. Pendidikan Karakter .................................................................. 20

Page 13: NILAI-NILAI PENDIDIKAN KARAKTER DALAM BUKU …e-repository.perpus.iainsalatiga.ac.id/5761/1/Lutfi Isnan Romdloni... · NILAI-NILAI PENDIDIKAN KARAKTER DALAM BUKU GELANDANGAN DI KAMPUNG

xii

1. Pengertian Pendidikan Karakter .......................................... 20

2. Sejarah Pendidikan Karakter ............................................... 22

3. Prinsip Pendidikan Karakter ................................................ 24

4. Ciri Dasar Pendidikan Karakter ........................................... 24

5. Nilai-Nilai Pendidikan Karakter .......................................... 25

6. Tujuan Pendidikan Karakter ................................................ 48

7. Landasan Pendidikan Karakter ............................................ 49

BAB. III. GAMBARAN UMUM BUKU GELANDANGAN DI

KAMPUNG SENDIRI

A. Biografi Emha Ainun Nadjib ..................................................... 55

1. Sejarah Hidup ......................................................................... 55

2. Karya Emha Ainun Nadjib ..................................................... 57

3. Prestasi Emha Ainun Nadjib .................................................. 58

4. Karakteristik Buku Karya Emha Ainun Nadjib ..................... 59

5. Pemikiran Emha Ainun Nadjib .............................................. 60

B. Buku Gelandangan di Kampung Sendiri ................................... 61

1. Profil Buku ............................................................................. 61

2. Gaya Bahasa ........................................................................... 62

3. Tema Pembahasan Buku Gelandangan di Kampung Sendiri. 62

4. Amanat ................................................................................... 76

5. Sinopsis .................................................................................. 78

Page 14: NILAI-NILAI PENDIDIKAN KARAKTER DALAM BUKU …e-repository.perpus.iainsalatiga.ac.id/5761/1/Lutfi Isnan Romdloni... · NILAI-NILAI PENDIDIKAN KARAKTER DALAM BUKU GELANDANGAN DI KAMPUNG

xiii

BAB. IV. PEMBAHASAN

A. Deskripsi Nilai-Nilai Pendidikan Karakter pada Buku Gelandnagan

di Kampung Sendiri ................................................................... 79

B. Relevansi Nilai-Nilai Pendidikan Karakter dalam Buku

Gelandangan di Kampung Sendiri di Kehidupan Modern ........ 99

BAB. V. PENUTUP

A. Kesimpulan ................................................................................ 103

B. Saran-Saran ................................................................................ 104

DAFTAR PUSTAKA

DAFTAR LAMPIRAN

Page 15: NILAI-NILAI PENDIDIKAN KARAKTER DALAM BUKU …e-repository.perpus.iainsalatiga.ac.id/5761/1/Lutfi Isnan Romdloni... · NILAI-NILAI PENDIDIKAN KARAKTER DALAM BUKU GELANDANGAN DI KAMPUNG

1

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Pendidikan merupakan hal yang sangat penting dalam kehidupan.

Pendidikan adalah faktor utama dalam membentuk pribadi manusia. Karna

sampai kapanpun pendidikan masih menjadi sarana yang paling efektif dalam

mencerdaskan kehidupan bangsa. Maju tidaknya suatu bangsa dapat dilihat

dari perkebangan pendidikan yang berlangsung dan mewarnai perjalanan

bangsanya. Pendidikan sering merupakan usaha manusia untuk membina

kepribadiannya sesuai dengan nilai-nilai masyarakat dan kebudayaan.

Pendidikan merupakan bagian terpenting dalam kehidupan manusia,

sebab pendidikan dapat mendorong peningkatan sumber daya manusia.

Manusia senantiasa terlibat dalam proses pendidikan, baik yang dilakukan

terhadap orang lain maupun dirinya sendiri (Sukardjo dan Ukim, 2009: 1).

Menurut Hafidz dan Kastolani (2009: 6), pendidikan dan pengajaran

merupakan tema urgen dan aktual yang menjadi perhatian masyarakat

berbangsa secara umum. Dengan pendidikan dan pengajaran, peradaban akan

mengalami kemajuan, masyarakat akan berkembang, dan terbentuklah suatu

generasi. Maka dari itu pendidikan haruslah terus di bangun dan

dikembangkan agar dari proses pelaksanaanya menghasilkan generasi yang

diharapkan.

Dalam Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003

tentang Sistem Pendidikan Nasional menyatakan bahwa pendidikan adalah

Page 16: NILAI-NILAI PENDIDIKAN KARAKTER DALAM BUKU …e-repository.perpus.iainsalatiga.ac.id/5761/1/Lutfi Isnan Romdloni... · NILAI-NILAI PENDIDIKAN KARAKTER DALAM BUKU GELANDANGAN DI KAMPUNG

2

usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses

pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya

untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian dirinya,

masyarakat, bangsa dan negara (Helmawati, 2013: 13).

Dengan demikian maka pendidikan memegang peranan penting dalam

segala aspek kehidupan baik dalam lingkup keluarga maupun dalam lingkup

masyarakat luas. Dalam hal ini juga, pendidikan dapat dijadikan sebagai tolok

ukur kemajuan dan kualitas suatu bengsa, sehingga dapat dikatakan bahwa

salah satu cara memajukan suatu bangsa adalah dengan pembaharuan

terhadap sistem pendidikannya.

Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan

bentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka

mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi

peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada

Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif,

mandiri dan menjadi warga Negara yang demokraris dan bertanggung jawab

(Dharma, 2011:6).

Indonesia saat ini sedang menghadapi dua tantangan besar, yaitu

desentralisasi atau otonomi daerah yang saat ini sudah dimulai, dan era

globalisasi total yang akan terjadi pada tahun 2020. Kedua tantangan tersebut

merupakan ujian berat yang harus dilalui dan dipersiapkan oleh seluruh

bangsa Indonesia. Kunci sukses dalam menghadapi tantangan tersebut adalah

kualitas sumber daya manusia (SDM) Indonesia yang handal dan berbudaya.

Page 17: NILAI-NILAI PENDIDIKAN KARAKTER DALAM BUKU …e-repository.perpus.iainsalatiga.ac.id/5761/1/Lutfi Isnan Romdloni... · NILAI-NILAI PENDIDIKAN KARAKTER DALAM BUKU GELANDANGAN DI KAMPUNG

3

Oleh karena itu peningkatan kualitas SDM sejak dini merupakan hal penting

yang harus dipikirkan secara sungguh-sungguh.(Masnur. 2015: 35)

Karakter bangsa merupakan aspek penting dari kualitas SDM karena

kualitas karakter bangsa menentukan kemajuan suatu bangsa. Dan sekarang

pendidikan di Indonesia sedang berlangsung dan dikembangkan di pada

sekolah-sekolah di Indonesia saat ini adalah kurikulum 2013 yang

menekankan pada pendidikan karakter peserta didik. Hal ini bertujuan agar

generasi bangsa Indonesia memliliki karakter-karakter tangguh yang

kedepannya diharapkan menjadi tonggak bangsa dan ikut serta memjukan

bangsa.

Baru-baru ini terjadi kasus karakter yang memprihatinkan salah

satunya adalah kasus Audrey. Akademisi dari Universitas Jenderal Soedirman

Wisnu Widjanarko mengatakan, kasus pengeroyokan terhadap Audrey yang

masih SMP mengingatkan pentingnya pendidikan karakter pada generasi

muda. Kasus ini sebuah pekerjaan rumah bagi semua pihak agar kita semua

terlibat dan berperan aktif untuk menumbuhkan, mengembangkan, dan

membudayakan pentingnya karakter sebagai bagian yang tidak terpisahkan

dalam pendidikan, khususnya generasi muda. (https://www.liputan6.com

/regional/read/3938381/kasus-audrey-mengingatkan-pentingnya-pendidikan-

karakter-kepada-anak?utm_expid=.9Z4i5ypGQeGiS7w9arwTvQ.0&utm_refe

rrer=https%3A%2F%2Fwww.google.com%2F di akses pada 23 Mei 2019)

Salah satu alternatif pemecahan masalah yang dapat dilakukan salah

satunya adalah dengan menanamkan pendidikan karakter dan penanaman

Page 18: NILAI-NILAI PENDIDIKAN KARAKTER DALAM BUKU …e-repository.perpus.iainsalatiga.ac.id/5761/1/Lutfi Isnan Romdloni... · NILAI-NILAI PENDIDIKAN KARAKTER DALAM BUKU GELANDANGAN DI KAMPUNG

4

serta pengenalan terhadap nilai-nilai agama sejak dini. Upaya pembentukan

karakter yang sesuai dengan budaya bangsa ini seyogyanya bukan hanya teori

di dalam bangku sekolah saja, melainkan diimplementasikan dalam

kehidupan sehari-hari seperti halnya kerja keras, toleran, bertanggungjawab,

religius dan gemar membaca buku, karya sastra atau yang lainnya

Pendidikan karakter mempunyai posisi yang strategis dan dibutuhkan

dalam membangun karkter seseorang agar terbentuknya karakter positif

sesuai agama, bangsa dan negara. Implementasi pendidikan karakter dapat

dilakukan secara terintegrasi dalam pembelajaran. Artinya pengenalan dan

penginternalisasian nilai-nilai pendidikan karakter ke dalam perilaku peserta

didik dapat diterapkan melalui peroses pembelajaran baik di dalam maupun di

luar kelas dan pada semua mata pelajaran. Oleh karena itu di dalam proses

pembelajaran selain memiliki tujuan untuk menguasai materi yang

ditargetkan juga dimaksudkan untuk mengenalkan, menyadarkan dan

menjadikan butir-butir nilai karakter terimplementasikan pada peserta didik

dalam kehidupan sehari-hari. Materi pendidikan karakter tidak lain dan tidak

bukan adalah nilai-nilai moral baik yang bersifat universal maupun lokal

kultural, baik moral kesusilaan maupun kesopanan. Selain itu dalam kitab

suci Al-Qur‟an Allah berfirman dalam surat An-Nahl ayat 97:

Page 19: NILAI-NILAI PENDIDIKAN KARAKTER DALAM BUKU …e-repository.perpus.iainsalatiga.ac.id/5761/1/Lutfi Isnan Romdloni... · NILAI-NILAI PENDIDIKAN KARAKTER DALAM BUKU GELANDANGAN DI KAMPUNG

5

Artinya: “Barangsiapa yang mengerjakan amal saleh, baik laki-laki

maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya

akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan

sesungguhnya akan Kami beri balasan kepada mereka dengan pahala

yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan” (QS. An-Nahl:

97)

Ayat di atas dalam tafsir Quraish Shihab ditafsirkan bahwa siapa saja

yang berbuat kebajikan di dunia, baik laki-laki maupun wanita, didorong oleh

kekuatan iman dengan segala yang mesti diimani, maka tentu akan

memberikan kehidupan yang baik pada mereka di dunia, suatu kehidupan

yang tidak kenal kesengsaraan, penuh rasa lega, kerelaan, kesabaran dalam

menerima cobaan hidup dan dipenuhi oleh rasa syukur atas nikmat Allah.

Dan di akhirat nanti, akan memberikan balasan pada mereka berupa pahala

baik yang berlipat ganda atas perbuatan mereka di dunia. (https://tafsirq

.com/16-an-nahl/ayat-97#tafsir-quraish-shihab)

Dengan tafsir ini dapat diambil penalaran bahwa di dunia harus lah

berbuat baik ataupun berakhlak baik, atau dalam hal ini yaitu berkarakter baik

dan penuh rasa syukur terhadap Allah.

Dalam hal nilai-nilai pendidikan karakter tidak harus melalui lembaga

pendidikan formal seperti sekolah saja, akan tetapi dalam buku-buka

bacaanpun terdapat banyak sekali nilai-nilai pendidikan kerakter yang bisa

dipetik karna membaca atau gemar membaca sendiri juga termasuk dalam

pendidikan karakter, dan contoh salah satunya bukunya adalah dalam buku

Gelandangan di Kampung Sendiri karya Emha Ainun Nadjib.

Emha Ainun Nadjib atau sering disapa dengan panggilan Cak Nun ini

merupakan budayawan yang sudah sering terdengar namanya sejak dulu,

Page 20: NILAI-NILAI PENDIDIKAN KARAKTER DALAM BUKU …e-repository.perpus.iainsalatiga.ac.id/5761/1/Lutfi Isnan Romdloni... · NILAI-NILAI PENDIDIKAN KARAKTER DALAM BUKU GELANDANGAN DI KAMPUNG

6

dengan ilmu dan pengalamannya malalui karyanya memberikan bimbingan

dan pengarahan terhadap mayarakat agar menjadi individu yang beriman,

bertakwa, bersih dari sifat-sifat yang tidak terpuji, memiliki karakter yang

baik dan mengerti bagaimana seharusnya dia bersikap dalam menghadapi

segala peristiwa yang dialaminya, dialami masyarakatnya, serta peristiwa-

peristiwa yang terjadi peradaban peradaban di dunia. Salah satu karya beliau

yang patut dan menarik perhatian peneliti untuk diteliti karena memuat nilai-

nilai pendidikan karakter adalah bukunya yang berjudul Gelandangan di

Kampung Sendiri yang menceritakan mengenai karakter bangsa indonesia

terutama dari pengaduan-pengaduan orang pinggiran terhadap pemerintahan

di Indonesia Dalam buku Gelandangan di Kampung Sendiri ini berisi

mengenai beberapa pengalaman Emha Ainun Nadjib bertemu dengan

berbagai rakyat di Indonesia dan bagaimana beliau menanggapi keluhan

masyarakat kepada beliau.

Ada banyak pembahasan menarik dari dalam isi buku tersebut, salah

satunya dengan judul topik “Bayi, kok jdi DPR”. Topik ini menceritakan

warga yang sebal terhadap kasus pemberitaan yang menceritakan tentang

kasus suap menyuap dan suap di kalangan anggota DPR.

Kenapa bisa bayi kok disamakan dengan DPR sang wakil rakyat yg

terhormat itu, ya mungkin di atas kertas seperti itu. saya tertarik dengan judul

seperti ini, sudah menjadi rahasia publik mengenai permasalah yang sering

menyangkut di dalam lingkup DPR. “Bayi , kok jdi DPR” berisikan mengenai

suap menyuap di kalangan DPR yang sering di dengung dengungkan di kabar

Page 21: NILAI-NILAI PENDIDIKAN KARAKTER DALAM BUKU …e-repository.perpus.iainsalatiga.ac.id/5761/1/Lutfi Isnan Romdloni... · NILAI-NILAI PENDIDIKAN KARAKTER DALAM BUKU GELANDANGAN DI KAMPUNG

7

berita, yang biasa disuapi kan hanya bayi. Lah kok bayi bisa menjadi anggota

DPR, sindiran yang lumayan tajam mendengarnya. (http://edisibelajarnulis.

blogspot.com/2015/11/contoh-resensi-gelandangan-di-kampung.html di akses

pada 23 Mei 2019)

Jadi penulis berpendapat bahwa buku ini bermuatan kritik karakter

yang ada didalam negeri ini atau kalau dalam buku ini di katakan sebagai

kampung sendiri ini, yaitu karakter yang tercermin dalam kehidupan kita

sehari-hari.

Berdasarkan uraian diatas maka penulis tertarik untuk menggali nilai-

nilai pendidikan karakter dalam buku Gelandangan di Kampung Sendiri

karya Emha Ainun Nadjib. Maka dari itu penulis malakukan sebuah

penelitian dengan judul “NILAI-NILAI PENDIDIKAN KARAKTER DALAM

BUKU GELANDANGAN DI KAMPUNG SENDIRI KARYA EMHA AINUN

NADJIB”. Judul tersebut penulis ambil dengan harapan dapat memberikan

kemanfaatan bagi masyarakat secara umum dan bagi umat islam khususnya.

B. Rumusan Masalah

Berdasarkan pada latar belakang di atas, maka masalah yang akan

penulis teliti adalah sebagai berikut :

1. Nilai-nilai pendidikan karakter apa saja yang ada dalam buku

Gelandangan di Kampung Sendiri Karya Emha Ainun Nadjib?

2. Bagaimana relevansi nilai-nilai pendidikan karakter dalam buku

Gelandangan di Kampung Sendiri Karya Emha Ainun Nadjib dalam

kehidupan modern ini?

Page 22: NILAI-NILAI PENDIDIKAN KARAKTER DALAM BUKU …e-repository.perpus.iainsalatiga.ac.id/5761/1/Lutfi Isnan Romdloni... · NILAI-NILAI PENDIDIKAN KARAKTER DALAM BUKU GELANDANGAN DI KAMPUNG

8

C. Tujuan Penelitian

Berdasarkan pada rumusan masalah di atas, maka tujuan dari

penelitian ini adalah sebagai berikut:

1. Untuk mendeskripsiakan nilai-nilai pendidikan karakter dalam buku

Gelandangan di Kampung Sendiri Karya Emha Ainun Nadjib.

2. Untuk mendeskripsikan relevansi nilai-nilai pendidikan karakter dalam

buku Gelandangan di Kampung Sendiri Karya Emha Ainun Nadjib dalam

kehidupan modern ini.

D. Manfaat Penelitian

Penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat baik secara

teoretis maupun secara praktis, antara lain:

1. Manfaat Teoretis

Secara teoritik penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi

bagi dunia pendidikan pada umumnya dan khususnya bagi pengembangan

nilai-nilai pendidikan karekter serta menambah wawasan tentang

keberadaan karya-karya tulis yang mengandung pendidikan karakter.

2. Manfaat Praktis

Secara praktis penelitian ini diharapkan dapat digunakan sebagai

rujukan bagi para peneliti pendidikan untuk mengembangkan sebuah

konsep pendidikan karakter yang dapat diimplementasikan dalam ranah

pendidikan khususnya pendidikan agama Islam. Selain itu, penelitian ini

dapat dijadikan kontribusi ilmiah sehingga dapat dijadikan referensi untuk

pengembangan penelitian selanjutnya.

Page 23: NILAI-NILAI PENDIDIKAN KARAKTER DALAM BUKU …e-repository.perpus.iainsalatiga.ac.id/5761/1/Lutfi Isnan Romdloni... · NILAI-NILAI PENDIDIKAN KARAKTER DALAM BUKU GELANDANGAN DI KAMPUNG

9

E. Kajian Pustaka

Penulis mencoba menelaah penelitian terdahulu untuk dijadikan

sebagai perbandingan dan acuan. Beberapa penelitian yang penulis gunakan

sebagai kajian pustaka di antaranya sebagai berikut:

1. Diyah Idhawati (IAIN Salatiga, 2017)

Judul skripsi Nilai-Nilai Pendidikan Karakter yang Terkandung

dalam Novel Anak Rantau Karya Ahmad Fuadi. Skripsi ini dilakukakan

untuk mengetahui pengaruhnya sastra terhadap pendidikan karakter,

bahwa sastra tak sebatas media hiburan saja akan tetapi juga bisa menjadi

media edukasi. Hasil penelitian menyimpulkan bahwa: (1) Nilai-nilai

pendidikan karakter yang terkandung dalam novel Anak Rantau antara

lain: Nilai-nilai pendidikan karakter dalam hubungannya dengan Tuhan

Yang Maha Esa (religius), nilai-nilai pendidikan karakter dalam

hubungannya dengan diri sendiri (jujur, tanggung jawab, bekerja keras,

disiplin, kreatif, mandiri, rasa ingin tahu dan gemar membaca), nilai-nilai

Pendidikan Karakter dalam hubungannya dengan sesama (menghargai

prestasi, demokratis, peduli sosial dan bersahabat/komunikaif), nilai-nilai

Pendidikan Karakter Dalam Hubungannya dengan Lingkungan (toleransi),

nilai-nilai Pendidikan Karakter Dalam Hubungannya dengan Kebangsaan

(semangat kebangsaan dan cinta tanah air). (2) Relevansi nilai-nilai

pendidikan karakter pada novel anak rantau dengan pendidikan di

Indonesia yang penulis temukan adalah sangat relevan karena nilai-nilai

pendidikan karakter yang terkandung dalam novel Anak Rantau sesuai

Page 24: NILAI-NILAI PENDIDIKAN KARAKTER DALAM BUKU …e-repository.perpus.iainsalatiga.ac.id/5761/1/Lutfi Isnan Romdloni... · NILAI-NILAI PENDIDIKAN KARAKTER DALAM BUKU GELANDANGAN DI KAMPUNG

10

dengan Kebijakan Nasional Pembangun Karakter Bangsa tahun 2010-

2025. Skripsi ini sebagai reverensi tambahan untuk penulis. Adapun

persamaan skripsi tersebut dengan skripsi penulis adalah terletak pada

objek penelitian yaitu sama-sama mengkaji pendidikan karakter.

Sedangkan perbedaannya terletak pada subjek penelitian, penulis mengkaji

buku Gelandangan di Kampung sendiri karya Emha Ainun Nadjib.

2. Ahmad Faisol (UIN Maulana Malik Ibrahin Malang, 2015)

Judul skripsi Nilai-Nilai Pendidikan Karakter dalam Novel (Study

Tentang Pendidikan Karakter Pada Novel Laskar Pelangi Karya Andrea

Hirata). Skripsi ini meneliti mengenai unsur-unsur pendidikan karakter

yang berpedoman pada nilai agama, budaya, pancasila, dan tujuan

pendidikan nasional. Hasil penelitian menunjukkan metode pendidikan

karakter pada novel Laskar Pelangi adalah; sedikitnya pengajaran,

banyaknya peneladanan, banyak pembiasaan, banyak pemotivasian,

banyak pendekatan aturan. Dan terdapat 18 nilai krakter novel laskar

Pelangi karya Andrea Hirata, di antarnya, nilai religius, jujur, toleransi,

disiplin, kerja keras, kreatif, mandiri, kreatif, demokratis, rasa ingin tahu,

semangat kebangsaan, cinta tanah air, menghargai prestai,

bersahabat/komunikatif, cinta damai, gemar membaca, peduli lingkungan,

peduli sosial dan tanggung jawab. Skripsi ini sebagai reverensi tambahan

untuk penulis. Adapun persamaan skripsi tersebut dengan skripsi penulis

adalah terletak pada objek penelitian yaitu sama-sama mengkaji

pendidikan karakter. Sedangkan perbedaannya adalah skripsi Ahmad

Page 25: NILAI-NILAI PENDIDIKAN KARAKTER DALAM BUKU …e-repository.perpus.iainsalatiga.ac.id/5761/1/Lutfi Isnan Romdloni... · NILAI-NILAI PENDIDIKAN KARAKTER DALAM BUKU GELANDANGAN DI KAMPUNG

11

Faisol menitik beratkan kepada unsur-unsur pendidikan karakter yang

berpedoman pada nilai agama, budaya, pancasila, dan tujuan pendidikan

nasional pada novel Laskar Pelangi, sedangkan penulis menitik beratkan

kepada apa saja nilai pendidikan karakter dalam buku Gelandangan di

Kampung sendiri karya Emha Ainun Nadjib.

3. Latifatul Fajriyah (UIN Sunan Ampel Surabaya, 2018)

Judul skripsi Nilai-Nilai Pendidikan Islam dalam Kumpulan Esai

Istriku Seribu Karya Emha Ainun Nadjib. Skripsi ini menyimpulkan

bahwa nilai-nilai pendidikan Islam terkandung dalam esai tersebut adalah

aqidah, nilai, pendidikan akhlak, nilai pendidikan syariah, nilai pendidikan

akal, dan nilai pendidikan jasmani. Nilai pendidikan aqidah dalam

kumpulan esai yang berjudul Istriku Seribu mencakup iman kepada Allah

dan Rasulullah. Sementara itu nilai pendidikan akhlaknya melingkupi adab

terhadap Allah, adab terhadap Rasulullah, adab terhadap sesama manusia,

adab terhadap lingkungan, dan adab terhadap diri sendiri. Sedangkan nilai

pendidikan syariahnya adalah tentang ibadah sebagai ucapan cinta kepada

Allah, perkawinan, pekerjaan, dan tentang hubungan dengan masyarakat.

Adapun nilai pendidikan akalnya adalah terkait belajar sejarah, belajar

pada sorot mata, mengakali setiap peristiwa agar menjadi ilmu, konsep

manajemen, poligami, tafsir, dan paradoks akal. Dan nilai pendidikan

jasmaninya terkait dengan kesehatan mata. Skripsi ini sebagai reverensi

tambahan untuk penulis. Adapun persamaan skripsi tersebut dengan

skripsi penulis adalah sama-sama menggunakan subjek penelitian dari

Page 26: NILAI-NILAI PENDIDIKAN KARAKTER DALAM BUKU …e-repository.perpus.iainsalatiga.ac.id/5761/1/Lutfi Isnan Romdloni... · NILAI-NILAI PENDIDIKAN KARAKTER DALAM BUKU GELANDANGAN DI KAMPUNG

12

karya Emha Ainun Nadjib. Sedangkan perbedaannya terletak pada objek

yang diteliti dalam skripsi tersebut meneliti mengenai pendidikan Islam

sedangkan penulis meneliti tentang pendidikan karakter.

4. Ida Risqi Afita (IAIN Salatiga, 2018)

Judul skripsi Nilai-Nilai Pendidikan Karakter pada Novel Ayahku

(Bukan) pembohong. Skripsi ini mendeskripsikan nilai-nilai pendidikan

karakter yang terdapat pada novel Novel Ayahku (Bukan) pembohong

diantaranya: Disiplin, kerja keras, peduli, kemandirian, tanggung jawab,

penuh kasih, rasa ingin tahu, santun, kesederhanaan, keikhlasan, dan

kejujuran. Ida Risqi juga menjelaskan ini masih relevan untuk diajarkan

dalam pendidikan era globalisasi saat ini, mengingat kandungan nilai

pendidikan karakter yang terdapat di dalamnya sejalan dengan pilar-pilar

pendidikan karakter nasional, diantaranya: Disiplin, kerja keras, peduli,

kemandirian, tanggung jawab, penuh kasih, rasa ingin tahu, santun,

kesederhanaan, keikhlasan, dan kejujuran. Skripsi ini sebagai reverensi

tambahan untuk penulis. Adapun persamaan skripsi tersebut dengan

skripsi penulis adalah terletak pada objek penelitian yaitu sama-sama

mengkaji pendidikan karakter. Sedangkan perbedaannya terletak pada

subjek penelitian, penulis mengkaji buku Gelandangan di Kampung

sendiri karya Emha Ainun Nadjib.

Page 27: NILAI-NILAI PENDIDIKAN KARAKTER DALAM BUKU …e-repository.perpus.iainsalatiga.ac.id/5761/1/Lutfi Isnan Romdloni... · NILAI-NILAI PENDIDIKAN KARAKTER DALAM BUKU GELANDANGAN DI KAMPUNG

13

F. Metode Penelitian

1. Jenis Penelitian

Penelitian ini merupakan penelitian kepustakaan atau penelitian

library research karena dilakukan dengan mencari data atau informasi

riset melalui membaca jurnal ilmiah, buku-buku referensi dan bahan-

bahan publikasi yang tersedia di perpustakaan.

Riset Kepustakaan (Library Research) adalah penelitian yang

dilakukan di perpustakaan dimana objek penelitian digali lewat beragam

informasi kepustakaan berupa buku, ensiklopedi, jurnal ilmiah, koran,

majalah, dan dokumen (Zed, 2004: 89).

2. Sumber Data

Sumber data dalam penelitian adalah subjek darimana data dapat

diperoleh (Arikunto, 2014: 129). Sumber data yang digunakan dalam

penelitian ini adalah sebagai berikut:

a. Sumber Data Primer

Data perimer yang digunakan dalam penulisan skripsi ini

adalah buku Gelandangan di Kampung Sendiri Karya Emha Ainun

Nadjib.

b. Sumber Data Sekunder

Sumber data sekunder yang peneliti gunakan dalam penelitian

ini adalah data-data yang diperoleh dari pengumpulan informasi dan

data dari buku-buku, karangan ilmiah, majalah ataupun artikel yang

relevan dalam penelitian ini.

Page 28: NILAI-NILAI PENDIDIKAN KARAKTER DALAM BUKU …e-repository.perpus.iainsalatiga.ac.id/5761/1/Lutfi Isnan Romdloni... · NILAI-NILAI PENDIDIKAN KARAKTER DALAM BUKU GELANDANGAN DI KAMPUNG

14

3. Jenis Pendekatan

Pada penelitian ini penulis menggunakan pendekatan pragmatik,

yaitu penelitian sastra yang berhubungan dengan presepsi pembaca

terhadap teks sastra (Endraswara, 2003: 9). Dimana penulis akan

membaca dan memprsepsikan karya yang diteliti, yaitu buku

Gelandangan di Kampung Sendiri karya Emha Ainun Nadjib.

4. Metode Pengumpulan Data

Untuk memperoleh data yang diperlukan, penulis menggunakan

metode dokumentasi. Metode dokumentasi adalah metode pengumpulan

data dengan menyelidiki benda-benda tertulis seperti buku, majalah,

dokumen, peraturan-peraturan, notulen rapat, catatan harian dan

sebagainya (Arikunto, 2014: 201).

5. Metode Analisis Data

Dalam menganalisi data penulis menggunkana metode content

analysis. Content analysis adalah suatu teknik untuk membuat inferensi-

inferensi yang dapat ditiru dan shahih data dengan memperhatikan

konteksnya (Hadi, 1981: 15). Menurut Endraswara (2003:160) analisis isi

(content analisis) yaitu sebuah analisis yang digunakan untuk

mengungkapakan, memahami dan menangkap pesan karya sastra.

G. Definisi Operasional

Untuk menghindari kesalahan dalam menafsirkan judul skripsi ini,

maka penulis perlu memberikan definisi atau pengertian pada istilah-istilah

yang penulis gunakan, antara lain sebagai berikut:

Page 29: NILAI-NILAI PENDIDIKAN KARAKTER DALAM BUKU …e-repository.perpus.iainsalatiga.ac.id/5761/1/Lutfi Isnan Romdloni... · NILAI-NILAI PENDIDIKAN KARAKTER DALAM BUKU GELANDANGAN DI KAMPUNG

15

1. Nilai

Nilai atau value (bahasa Inggris) atau valere (bahasa Latin) berarti

berguna, mampu akan, berdaya, berlaku, dan kuat. Nilai adalah kualitas

suatu hal yang menjadikan hal itu disukai, diinginkan, berguna, dihargai

dan dapat menjadi objek kepentingan. Nilai dianggap sebagai “keharusan”

suatu cita yang menjadi dasar bagi keputusan yang diambil oleh

seseorang. Nilai-nilai itu yang menjadi dasar kenyataan yang tidak dapat

dipisahkan atau diabaikan (Sjarkawi, 2015: 29).

2. Pendidikan Karakter

Pendidikan karakter adalah sebuah sistem yang menanamkan nilai-

nilai karakter pada peserta didik yang mengandung komponen

pengetahuan, kesadaran individu, tekad serta adanya kemauan dan

tindakan untuk melaksanakan nilai-nilai, baik terhadap Tuhan Yang Maha

Esa, diri sendiri, sesama manusia, maupun bangsa, sehingga akan

terwujud Insan Kamil (Yulia, 2012: 238).

3. Buku Gelandangan Di Kampung Sendiri Karya Emha Ainun Nadjib.

Buku ini Gelandangan Di Kampung Sendiri ini merupakan buku

karya Emha Ainun Nadjib. Buku ini memaparkan tentang kehidupan

rakyat rakyat kecil yang kurang dipedulikan oleh pemerintahnya. Pada

sinopsis dituliskan bahwa rakyatlah pemilik pembangunan. Tetapi pada

nyata hanya mempunyai kewajiban untuk menaati peraturan yang di buat

oleh pemerintah. Tidak hanya itu dalam buku juga banyak dibahas

Page 30: NILAI-NILAI PENDIDIKAN KARAKTER DALAM BUKU …e-repository.perpus.iainsalatiga.ac.id/5761/1/Lutfi Isnan Romdloni... · NILAI-NILAI PENDIDIKAN KARAKTER DALAM BUKU GELANDANGAN DI KAMPUNG

16

mengenai keluhan dan curhatan orang-orang kepada Emha Ainun Nadjib

tentang kehidupannya.

H. Sistematika Penulisan

Untuk mendapatkan pemahaman yang komprehensif dan menyeluruh

maka diperlukan sebuah sistematika penulisan yang runtut dari satu bab ke

bab yang lain. Sistematika sendiri memiliki arti sebagai suatu tata urutan

yang saling berkaitan, saling berhubungan serta saling melengkapi. Penulisan

skripsi ini terbagi kedalam 5 bab, adapun sistematika penulisan skripsi ini

adalah sebagai berikut:

BAB I PENDAHULUAN memuat latar belakang masalah, rumusan

masalah, tujuan penelitian, manfaat penelitian, kajian pustaka, definisi

operasional, metodologi penelitian dan sistematika penulisan.

BAB II KAJIAN TEORI pada bab ini akan diuraikan mengenai,

pengertian nilai, pendidikan karakter, prinsip pendidikan karakter, ciri-ciri

pendidikan karakter,nilai-nilai pendidikan karakter, tujuan pendidikan

karakter, serta landasan pendidikan karakter.

BAB III GAMBARAN UMUM BUKU GELANDANGAN DI

KAMPUNG SENDIRI Pada bab ini akan dipaparkan mengenai gambaran

umum buku gelandangan dikampung sendiri, seperti biografi penulis, profil

buku, unsur buku dan sinopsis buku.

BAB IV PEMBAHASAN pada bab ini akan dipaparkan deskripsi

nilai-nilai pendidikan karakter dalam buku Gelandangan di Kampung Sendiri

Page 31: NILAI-NILAI PENDIDIKAN KARAKTER DALAM BUKU …e-repository.perpus.iainsalatiga.ac.id/5761/1/Lutfi Isnan Romdloni... · NILAI-NILAI PENDIDIKAN KARAKTER DALAM BUKU GELANDANGAN DI KAMPUNG

17

karya Emha Ainun Nadjib, serta relevansin buku Gelandangan di Kampung

Sendiri karya Emha Ainun Nadjib khususnya dalam kehidupan modern ini.

BAB V PENUTUP merupakan bagian akhir dari penulisan skripsi ini

yang akan dikemukakan kesimpulan, saran dan penutup.

Page 32: NILAI-NILAI PENDIDIKAN KARAKTER DALAM BUKU …e-repository.perpus.iainsalatiga.ac.id/5761/1/Lutfi Isnan Romdloni... · NILAI-NILAI PENDIDIKAN KARAKTER DALAM BUKU GELANDANGAN DI KAMPUNG

18

BAB II

KAJIAN TEORI

A. Pengertian Nilai

Nilai berasal dari bahasa latin vale‟re yang artinya berguna, mampu

akan, berdaya, berlaku, berlaku, sehingga nilai diartikan sebagai sesuatu yang

baik, bermanfaat dan paling benar menurut keyakinan seseorang atau

sekelompok orang (Adisusilo, 2013: 56). Hal yang sama dikemukakan oleh

Sjarkawi (2015: 29), menurutnya nilai atau value (bahasa Inggris) atau valere

(bahasa Latin) berarti berguna, mampu akan, berdaya, berlaku, dan kuat. Nilai

adalah kualitas suatu hal yang menjadikan hal itu disukai, diinginkan,

berguna, dihargai dan dapat menjadi objek kepentingan. Nilai dianggap

sebagai “keharusan” suatu cita yang menjadi dasar bagi keputusan yang

diambil oleh seseorang. Nilai-nilai itu yang menjadi dasar kenyataan yang

tidak dapat dipisahkan atau diabaikan.

Sedangkan menurut Ghufron (2017: 107), nilai adalah sesuatu yang

berharga, bermutu, menunjukkan kualitas, dan berguna bagi manusia. Sesuatu

itu bernilai bararti sesuatu itu berharga atau berguna bagi kehidupan manusia.

Adapun pengertian nilai menurut Steeman dalam Adisusilo (2013:

56), berpendapat nilai merupakan sesuatu yang memberi makna hidup, yang

memberi acuan, titik tolak dan tujuan hidup. Nilai adalah sesuatu yang

dijunjung tinggi yang dapat mewarnai dan menjiwai tindakan seseorang. Nilai

itu lebih dari sekedar keyakinan, nilai selalu menyangkut pola pikir dan

tindakan, sehingga ada hubungan yang amat erat antara niali dan etika.

Page 33: NILAI-NILAI PENDIDIKAN KARAKTER DALAM BUKU …e-repository.perpus.iainsalatiga.ac.id/5761/1/Lutfi Isnan Romdloni... · NILAI-NILAI PENDIDIKAN KARAKTER DALAM BUKU GELANDANGAN DI KAMPUNG

19

Sementara itu menurut Kalven dalam Adisusilo (2013: 56), nilai

merupakan preferensi yang tercermin dari perilaku sesorang, sehingga

seseorang akan melakukan atau tidak melakukan sesuatu tergantung pada

sistem nilai yang dipegangnya.

Muhajir (2016: 60), Nilai merupakan sifat yang melekat pada suatu

sistem kepercayaan yang berhubungan dengan subjek yang memberi arti.

Dalam hal ini, subjeknya adalah manusia yang mengartikan dan yang

menyakini.

Sedangkan jika merujuk pada Kamus Besar Bahasa Indonesia nilai

diartikan sebagai berikut: (a) Harga (dalam arti taksiran harga), (b) harga

uang (dibandingkan dengan harga uang yang lain), (c) angka kepandaian; biji;

ponten: rata-rata, (d) banyak sedikitnya isi; kadar; mutu, (e) sifat-sifat (hal-

hal) yang penting atau berguna bagi kemanusiaan, (f) sesuatu yang

menyempurnakan manusia sesuai dengan hakikatnya. (https://kbbi.

kemdikbud.go.id/entri/nilai diakses diakses pada tanggal 10 Juli 2019)

Jadi dari beberapa pengertian nilai di atas dapat diambil kesimpulan

bahwa nilai adalah sesuatu yang berharga, bermutu, menunjukkan kegunaan

yang memberi makna hidup, acuan, serta tolok ukur dan tujuan hidup yang

dijunjung tinggi yang tercermin dari perilaku seseorang.

B. Pendidikan Karakter

1. Pengertian Pendidikan Karakter

Menurut Yulia (2012: 238), pendidikan karakter adalah sebuah

sistem yang menanamkan nilai-nilai karakter pada peserta didik yang

Page 34: NILAI-NILAI PENDIDIKAN KARAKTER DALAM BUKU …e-repository.perpus.iainsalatiga.ac.id/5761/1/Lutfi Isnan Romdloni... · NILAI-NILAI PENDIDIKAN KARAKTER DALAM BUKU GELANDANGAN DI KAMPUNG

20

mengandung komponen pengetahuan, kesadaran individu, tekad serta

adanya kemauan dan tindakan untuk melaksanakan nilai-nilai, baik

terhadap Tuhan Yang Maha Esa, diri sendiri, sesama manusia, maupun

bangsa, sehingga akan terwujud Insan Kamil.

Sedangkan menurut Samani dan Hariyanto berpendapat bahwa

pendidikan karakter adalah proses pemberian tuntunan kepada peserta

didik untuk menjadi manusia seutuhnya yang berkarakter dalam dimensi

hati, pikir, raga, serta rasa dan karsa (Samani dan Hariyanto, 2014: 45).

Pendidikan karakter dimaknai sebagai pendidikan budi pekerti, pendidikan

moral, pendidikan watak, yang bertujuan mengembangkan kemampuan

peseta didik untuk memberi keputusan baik atau buruk, memelihara yang

baik, dan mewujudkan kebaikan itu dalam kehidupan sehari-hari dengan

sepenuh hati.

Sementara itu menurut Winton dalam Samani dan Hariyanto (2014:

43), pendidikan karakter adalah hal positif apa saja yang dilakukan guru

dan pengaruhnya pada karakter siswa yang diajarnya. Pendidikan karakter

adalah upaya sadar dan sungguh-sungguh dari seorang guru untuk

mengajarkan nilai-nilai kapada para siswanya.

Berbeda lagi dengan pendapat Lickona dalam Samani dan

Hariyanto (2014: 44), Thomas berpendapat pendidikan karakter adalah

upaya yang sungguh-sungguh untuk membantu seseorang memahami,

peduli, dan bertindak dengan landaan inti nilai-nilai etis. Secara sederhana

Page 35: NILAI-NILAI PENDIDIKAN KARAKTER DALAM BUKU …e-repository.perpus.iainsalatiga.ac.id/5761/1/Lutfi Isnan Romdloni... · NILAI-NILAI PENDIDIKAN KARAKTER DALAM BUKU GELANDANGAN DI KAMPUNG

21

didefinisikan sebagai upaya yang dirancang secara sengaja untuk

memperbaiki karakter siswa.

Selain itu dari pendapat Megawangi dalam Dharma (2012: 5),

pendidikan karakter adalah sebuah usaha mendidik anak-anak agar dapat

mengambil keputusan dengan bijak dan kemudian mempraktikkannya

dalam kehidupan sehari-hari, sehingga mereka dapat memberikan

kontribusi yang positif kepada lingkungannya.

Kemudian menurut Gaffar dalam Dharma (2012: 5), pendidikan

karakter adalah sebuah proses transformasi nilai-nilai kehidupan untuk

ditumbuh kembangkan dalam kepribadian seseorang sehingga menjadi

satu dalam perilaku kehidupan orang itu.

Sedangkan jika merujuk pada Kamus Besar Bahasa Indonesia

karakter merupakan sifat-sifat kejiwaan, akhlak atau budi pekerti yang

membedakan seseorang dengan yang lain. (https://kbbi.kemdikbud.go.id/

entri/karakter diakses pada tanggal 10 Juli 2019)

Jadi dari beberapa pengertian di atas dapat diartikan bahwa

pendidikan karakter adalah pendidikan dengan konsep dan sistem

menanamkan nilai-nilai karakter positif pada peserta didik menjadi peserta

didik dapat mengambil keputsan yang bijak sehingga berkarakter baik

terhadap Tuhan Yang Maha Esa, diri sendiri, sesama manusia, maupun

bangsa, sehingga akan terwujud Insan Kamil.

Sedangkan dalam ayat al-Qur‟an yang terkait dengan pendidikan

karakter adalah sebagai berikut:

Page 36: NILAI-NILAI PENDIDIKAN KARAKTER DALAM BUKU …e-repository.perpus.iainsalatiga.ac.id/5761/1/Lutfi Isnan Romdloni... · NILAI-NILAI PENDIDIKAN KARAKTER DALAM BUKU GELANDANGAN DI KAMPUNG

22

Artinya: “Sesungguhnya Allah menyuruh (kamu) berlaku adil dan

berbuat kebajikan, memberi kepada kaum kerabat, dan Allah

melarang dari perbuatan keji, kemungkaran dan permusuhan. Dia

memberi pengajaran kepadamu agar kamu dapat mengambil

pelajaran”. (QS. An-Nahl: 90)

Dalam ayat tersebut dijelaskan bahwa Allah memerintahkan kita

untuk berlaku atau berperilaku adil dan berbuat kebaikan kepada sesama

serta melarang kita untuk berbuat keji atau kemungkaran dan permusuhan.

2. Sejarah Pendidikan Karakter

Istilah karakter dipakai secara khusus dalam konteks pendidikan

baru muncul pada akhir abad-18, dan untuk pertama kalinya dicetuskan

oleh pedadog Jerman F.W. Foester. Terminologi ini mengacu pada sebuah

pendekatan idealis spiritualis dalam pendidikan yang juga dikenal dengan

teori pendidikan normatif. Yang menjadi prioritas adalah nilai-nilai

transenden yang dipercaya sebagai motor penggerak sejarah, baik bagi

individu maupun bagi sebuah perubahan sosial.

Namun, sebenarnya pendidikan karakter telah lama menjadi bagian

inti sejarah pendidikan itu sendiri. Misalnya dalam cita-cita Paideia

Yunani dan Humanitas Romawi. Pendekatan idealis dalam masyarakat

modern memuncak dalam ide tentang kesadaran Roh Hegelian.

Page 37: NILAI-NILAI PENDIDIKAN KARAKTER DALAM BUKU …e-repository.perpus.iainsalatiga.ac.id/5761/1/Lutfi Isnan Romdloni... · NILAI-NILAI PENDIDIKAN KARAKTER DALAM BUKU GELANDANGAN DI KAMPUNG

23

Perkembangan ini pada gilirannya mengukuhkan dialektika sebagai sebuah

bagian integral dari pendekatan pendidikan karakter.

Lahirnya pendidikan karakter bisa dikatakan sebagia sebuah usaha

untuk menghidupkan kembali pedagogi ideal-spiritual yang sempat hilang

diterjang gelombang positivisme yang dipelopori oleh filsuf prancis

Auguste Comte. Foster menolak gagasan yang meredusir pengalaman

manusia pada sekadar bentuk murni hidup alamiah (Masnur, 2015: 37).

Sebagian sejarawan yang lain jika di dunia Islam sudah memiliki

konsep mengenai pendidikan karakter, jauh sebelum dicetuskan oleh FW

Foster. Menurut agama Islam, pendidikan karakter bersumber dari wahyu

Allah dan As-Sunnah. Akhlak atau karakter Islam ini, terbentuk atas dasar

prinsip “ketundukan, kepasrahan, dan kedamain” sesuai dengan makna

dasar dari makna dasar kata Islam (Wibowo, 2012: 26).

3. Prinsip Pendidikan Karakter

Menurut Zubaedi (2013: 138), prinsip yang digunakan dalam

pengembangan pendidikan karakter adalah:

a. Berkelanjutan, mengandung makna bahwa proses pengembangan

nilai-nilai karakter merupakan proses yang tiada henti dimulai dari

awal peserta didik masuk sampai selesai dari suatu satuan pendidikan

bahkan sampai terjun ke masyarakat.

b. Melalui semua mata pelajaran, pengembangan diri dan budaya

sekolah, serta muatan lokal.

Page 38: NILAI-NILAI PENDIDIKAN KARAKTER DALAM BUKU …e-repository.perpus.iainsalatiga.ac.id/5761/1/Lutfi Isnan Romdloni... · NILAI-NILAI PENDIDIKAN KARAKTER DALAM BUKU GELANDANGAN DI KAMPUNG

24

c. Nilai tidak diajarkan tetapi dikembangkan dan dilaksanakan. Satu hal

yang selalu harus diingat bahwa suatu aktivitas belajar dapat

digunakan untuk mengembangkan kemampuan ranah kognitif, efektif,

dan psikomotorik.

d. Proses pendidikan dilakukan peserta didik secara aktif dan

menyenangkan.

4. Ciri Dasar Pendidikan Karakter

Manurut Foester dalam Masnur (2015: 127-128) ada empat ciri

pendidikan karakter, yaitu:

a. Keteraturan interior dimana setiap tindakan diukur berdasarkan

hirearki nilai. Nilai menjadi pedoman normatif setiap tindakan.

b. Koherensi yang memberi keberanian, membuat seseorang menjadi

teguh terhadap prinsip, tidak mudah terombang-ambing pada situasi

baru atau takut resiko. Koherensi merupakn dasar yang membangun

rasa percaya satu sama lain. Tidak adanya koherensi meruntuhkan

kredibilitas seseorang.

c. Otonomi, di sini seseorang menginternalisasikan aturan dari luar

sampai menjadi nilai-nilai pribadi.

d. Keteguhan dan kesetiaan, keteguhan merupakan daya tahan seseorang

guna mengingini apa yang dipandang baik, dan kesetiaan merupakan

dasar bagi penghormatan atas komitmen yang dipilih.

Page 39: NILAI-NILAI PENDIDIKAN KARAKTER DALAM BUKU …e-repository.perpus.iainsalatiga.ac.id/5761/1/Lutfi Isnan Romdloni... · NILAI-NILAI PENDIDIKAN KARAKTER DALAM BUKU GELANDANGAN DI KAMPUNG

25

5. Nilai-Nilai Pendidikan Karakter di Indonesia

a. Religius

Religius adalah sifat religi yang melekat pada diri seseorang.

Sikap dan perilaku yang patuh dalam melaksanakan ajaran agama yang

dianutnya, toleransi terhadap pelaksanaan ibadah agama yang

dianutnya, toleransi terhadap pelaksanaan ibadah agama lain, dan

hudup rukun dengan pemeluk agama lain (Yaumi, 2014: 87). Jadi

karakter religi ini adalah untuk menjadikan sesorang menjalankan

keyakinan religinya secara utuh, dengan tetap menjaga toleransi

dengan pemeluk keyakinan lain.

Dalam Al-Qur‟an diterangkan tentang sikap religius yang

terdapat pada surah Yunus ayat 84-85:

Artinya: “Berkata Musa: "Hai kaumku, jika kamu beriman

kepada Allah, maka bertawakkallah kepada-Nya saja, jika kamu

benar-benar orang yang berserah diri. Lalu mereka berkata:

"Kepada Allahlah kami berserah diri! Ya Tuhan kami;

janganlah Engkau jadikan kami sasaran fitnah bagi kaum

yang´zalim.” (QS. Yunus: 84-85)

Pada ayat di atas dijelaskan bahwa seseorang haruslah

bertawakal kepada Allah atau beserahdiri, karena berserah diri kepada

Allah menandakan bahwa orang tersebut adalah orang yang beriman.

Page 40: NILAI-NILAI PENDIDIKAN KARAKTER DALAM BUKU …e-repository.perpus.iainsalatiga.ac.id/5761/1/Lutfi Isnan Romdloni... · NILAI-NILAI PENDIDIKAN KARAKTER DALAM BUKU GELANDANGAN DI KAMPUNG

26

b. Jujur

Secara harfiah, jujur berarti lurus hati, tidak berbohong, tidak

curang (Naim, 2012: 132-133). Jujur adalah perilaku seseorang yang

didasarkan pada upaya menjadikan dirinya sebagai orang yang selalu

dapat dipercaya dalam perkataan, tindakan, dan pekerjaan (Yaumi,

2014: 87). Jujur menupakan nilai penting yang harus dimiliki

seseorang. Jujur tidak hanya diucapkan, tetapi juga harus tercermin

dalam perilaku sehari-hari. Nilai jujur penting untuk ditumbuh

kembangkan sebagai karakter karena kejujuran saat ini semakin

terkikis. Jika ketidak jujuran telah menjadi sistem, masa depan bangsa

ini akan suram.

Dalam Al-Qur‟an diterangkan tentang sikap jujur yang terdapat

pada surah Al-Anfal ayat 58:

Artinya: “Dan jika kamu khawatir akan (terjadinya)

pengkhianatan dari suatu golongan, maka kembalikanlah

perjanjian itu kepada mereka dengan cara yang jujur.

Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang

berkhianat” (QS. Al-Anfal: 58)

Pada potongan ayat di atas dijelaskan bahwa sesorang haruslah

berlaku jujur, karena Allah tidak menyukai orang-orang yang

berkhianat.

Page 41: NILAI-NILAI PENDIDIKAN KARAKTER DALAM BUKU …e-repository.perpus.iainsalatiga.ac.id/5761/1/Lutfi Isnan Romdloni... · NILAI-NILAI PENDIDIKAN KARAKTER DALAM BUKU GELANDANGAN DI KAMPUNG

27

c. Toleransi

Toleransi berarti sikap membiarkan ketidaksepakatan dan tidak

menolak pendapat, sikap, ataupun gaya hidup yang berbeda. Sikap

toleran dalam implementasinya tidak hanya dilakukan terhadap hal-hal

yang berkaitan dengan aspek spiritual dan moral yang berbeda, tetapi

juga harus dilakukan terhadap aspek yang luas, termasuk aspek

ideologi dan politik yang berbeda (Naim, 2012: 132-133).

Toleransi lahir dari sikap menghargai diri yang tinggi. Kuncinya

adalah bagaimana semua pihak memerepsi dirinya dan orang lain. Jika

persepsi lebih mengedepankan dimensi negatif kemungkinan

toleransinya akan lemah atau bahkan tidak ada. Sedangkan, jika

persepsi diri dan orang lainnya positif, yang muncul adalah sikap yang

toleran dalam menghadapi keragaman.

Dalam Al-Qur‟an diterangkan tentang karakter toleransi yang

terdapat pada surah Al-Kafirun ayat 1-6 :

Artinya: “Katakanlah: "Hai orang-orang kafir. Aku tidak akan

menyembah apa yang kamu sembah. Dan kamu bukan

penyembah Tuhan yang aku sembah. Dan aku tidak pernah

menjadi penyembah apa yang kamu sembah. Dan kamu tidak

pernah (pula) menjadi penyembah Tuhan yang aku sembah.

Untukmu agamamu, dan untukkulah, agamaku" (QS. Al-

Kafirun: 1-6)

Page 42: NILAI-NILAI PENDIDIKAN KARAKTER DALAM BUKU …e-repository.perpus.iainsalatiga.ac.id/5761/1/Lutfi Isnan Romdloni... · NILAI-NILAI PENDIDIKAN KARAKTER DALAM BUKU GELANDANGAN DI KAMPUNG

28

Pada potongan ayat di atas dijelaskan bahwa Allah memberikan

pilihan bagi setiap orang untuk memilih jalannya sendiri, dan

seseorang agamanya masing-masing.

d. Disiplin

Kata disiplin berasal dari bahasa latin discere yang memiliki arti

belajar. Dari kata itu kemudian muncul kata disiplina yang berarti

pengajaran atau pelatihan. Seiring berjalannya waktu, kata disiplina

juga mengalami perkembangan makna. Kata disiplin sekarang ini

dimaknai secara beragam ada yang mengartikan disiplin sebagai

kepatuhan terhadap peraturan atau tunduk pada pengawasan dan

pengendalian. Ada juga yang mengartikan disiplin sebagai latihan yang

bertujuan mengembangkkan diri agar dapat berperilaku tertib (Naim,

2012: 142.

Menurut Fauzi dalam Naim (2012: 142-143) disiplin adalah

kepatuhan untuk menghormati dan melaksanakan suatu sistem yang

mengharuskan orang untuk tunduk kepada keputusan, perintah, dan

peraturan yang berlaku. Dengan kata lain disiplin adalah sikap menaati

peraturan dan ketentuan yang telah ditetapkan tanpa pamrih.

Dalam Al-Qur‟an terdapat ayat yang memerintahkan untuk kerja

keras. Yang terdapat dalam surah An-Nisa ayat 59:

Page 43: NILAI-NILAI PENDIDIKAN KARAKTER DALAM BUKU …e-repository.perpus.iainsalatiga.ac.id/5761/1/Lutfi Isnan Romdloni... · NILAI-NILAI PENDIDIKAN KARAKTER DALAM BUKU GELANDANGAN DI KAMPUNG

29

Artinya: “Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan

taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu. Kemudian

jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka

kembalikanlah ia kepada Allah (Al Quran) dan Rasul

(sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan

hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan

lebih baik akibatnya” (QS. An-Nisa:59)

Pada ayat di atas sudah dijelaskan bahwa Allah telah

memerintahkan untuk orang-orang yang beriman menaati Allah dan

rosul serta ulil amri, yang bisa juga diartikan sebagai disiplin terhadap

apa yang diperintahkan oleh Allah.

e. Kerja Keras

Kerja keras yaitu perilaku yang menunjukkan upaya sungguh-

sungguh dalam mengatasi berbagai hambatan belajar dan tugas, serta

menyelesaikan tugas dengan sebaik-baiknya (Yaumi, 2014: 94).

Tidak ada keberhasilan yang dicapai tanpa kerja keras. Kerja

keras melambangkan kegigihan dan keseriusan mewujudkan cita-cita.

Sebab hidup yang dijalani dengan kerja keras akan memberi nikmat

yang semakin besar manakala mencapai kesuksesan (Naim, 2012:

148).

Page 44: NILAI-NILAI PENDIDIKAN KARAKTER DALAM BUKU …e-repository.perpus.iainsalatiga.ac.id/5761/1/Lutfi Isnan Romdloni... · NILAI-NILAI PENDIDIKAN KARAKTER DALAM BUKU GELANDANGAN DI KAMPUNG

30

Jadi dengan adanya pendidikan karakter kerja keras ini agar

memicu sesorang untuk semangat kerja keras dalam untuk

mewujudkan cita-citanya.

Dalam Al-Qur‟an terdapat ayat yang memerintahkan untuk kerja

keras. Yang terdapat dalam surah At:Taubah ayat 105:

Artinya “Dan Katakanlah: "Bekerjalah kamu, maka Allah dan

Rasul-Nya serta orang-orang mukmin akan melihat

pekerjaanmu itu, dan kamu akan dikembalikan kepada (Allah)

Yang Mengetahui akan yang ghaib dan yang nyata, lalu

diberitakan-Nya kepada kamu apa yang telah kamu kerjakan”

(QS. At-Taubah: 105).

Pada ayat di atas sudah dijelaskan bahwa Allah telah

memerintahkan umat manusia untuk bekerja keras, karena Allah pasti

akan melihatmu dan hasil dari kerja keras tidak akan pernah

menghianati hasilnya nanti. Dalam surah yusuf 87 Allah berfirman:

Artinya “Hai anak-anakku, pergilah kamu, maka carilah berita

tentang Yusuf dan saudaranya dan jangan kamu berputus asa

dari rahmat Allah. Sesungguhnya tiada berputus asa dari

rahmat Allah, melainkan kaum yang kafir". (QS. Yusuf: 87)

Page 45: NILAI-NILAI PENDIDIKAN KARAKTER DALAM BUKU …e-repository.perpus.iainsalatiga.ac.id/5761/1/Lutfi Isnan Romdloni... · NILAI-NILAI PENDIDIKAN KARAKTER DALAM BUKU GELANDANGAN DI KAMPUNG

31

f. Kreatif

Kreatif secara intrinsik mengandung sifat dinamis. Orang kreatif

adalah orang yang tidak bisa diam, dalam arti selalu berusaha mencari

hal baru dari hal yang telah ada. (Naim, 2012: 152). Kreatif sebagai

salah satu nilai pendidikan karakter sangat tepat karena kreatif akan

menjadikan sesorang tidak pasif. Jiwanya selalu gelisah, pikirannya

terus berkembang, dan selalu melakukan kegiatan dalam rangka

mencari hal-hal baru yang bermanfaat bagi kehidupan.

Berikut ini adalah ayat Al-Qur‟an yang berkaitan dengan

karakter kreatif:

Artinya: “Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan

silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi

orang-orang yang berakal” (QS. Ali-Imran: 190)

Pada ayat di atas akan merangsang akal untuk terus meraih ilmu

dan kreatif dalam memahami ciptaan-ciptaan Allah. Pikiran-pikiran

yang kreatif memilki imajinasi yang memungkinkan mereka untuk

melihat dengan mata pikiran, gambaran-gambaran tanda-tanda ciptaan

Allah yang ada didunia ini.

g. Mandiri

Mandiri adalah sikap dan perilaku yang tidak mudah bergantung

kepada orang lain dalam menyelesaikan tugas (Yaumi, 2014: 98).

Page 46: NILAI-NILAI PENDIDIKAN KARAKTER DALAM BUKU …e-repository.perpus.iainsalatiga.ac.id/5761/1/Lutfi Isnan Romdloni... · NILAI-NILAI PENDIDIKAN KARAKTER DALAM BUKU GELANDANGAN DI KAMPUNG

32

Kemandirian tidak otomantis tumbuh dalam diri seorang anak. Mandiri

pada dasarnya merupakan hasil dari proses pembelajaran yang

berlangsung lama. Mandiri tidak selalu berkaitan dengan usia. Bisa

saja seorang anak sudah memiliki sifat mandiri karena proses latihan

atau karena faktor kehidupan yang memaksanya untuk mandiri. Tetapi

tidak jarang seseorang yang sudah dewasa, tetapi tidak juga bisa hidup

mandiri. Ia selalu tergantung orang lain (Naim, 2012: 162).

Jadi karakter mandiri ini merupakan karakter sesorang yang

tidak mudah bergantung kepada orang lain, dan sesorang mampu

menjalani hidup tanpa terlalu bergantung terhadap orang lain.

Dalam Al-Qur‟an diterangkan tentang karakter mandiri yang

terdapat pada surah Al-Mukminun ayat 62:

Artinya: “Kami tiada membebani seseorang melainkan menurut

kesanggupannya, dan pada sisi Kami ada suatu kitab yang

membicarakan kebenaran, dan mereka tidak dianiaya.” (QS.

Al-Mukminun: 62)

Pada ayat di atas dapat diambil hikmah bahwa seseorang

haruslah bersifat mandiri karena Allah tidak akan membebani

seseorang jika orang tersebut tidak mampu, melainkan Allah akan

memberinya sesuai kemampuannya.

Page 47: NILAI-NILAI PENDIDIKAN KARAKTER DALAM BUKU …e-repository.perpus.iainsalatiga.ac.id/5761/1/Lutfi Isnan Romdloni... · NILAI-NILAI PENDIDIKAN KARAKTER DALAM BUKU GELANDANGAN DI KAMPUNG

33

h. Demokratis

Demokrasi merupakan gabungan dari kata demos yang berarti

rakyat dan kratos yang berarti kekuasaan atau undang-undang.

Pengertian yang dimaksud demokrasi adalah kekuasaan atau undang-

undang yang berakar kepada rakyat. Dengan demikian rakyat

memegang kekuasaan tertinggi (Naim, 2012: 164).

Sedangkan menurut Yaumi (2014: 100), berpendapat bahwa

demokratis adalah cara berpikir, bersikap, serta bertindak yang menilai

sama hak dan kewajiban dirinya dengan orang lain.

Jadi jika ditarik kedalam pendidikan karakter ini demokratis

dapat diartikan sebagai sikap, cara berpikir, dan bertindak sesorang

dalam menilai hak dan kewajiwan yang sama dengan orang lain dalam

kedudukannya didalam negara.

Dalam Al-Qur‟an diterangkan tentang karakter demokratis yang

terdapat pada surah Ali-Imran ayat 159:

Artinya: “Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku

lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras

lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari

sekelilingmu. Karena itu maafkanlah mereka, mohonkanlah

Page 48: NILAI-NILAI PENDIDIKAN KARAKTER DALAM BUKU …e-repository.perpus.iainsalatiga.ac.id/5761/1/Lutfi Isnan Romdloni... · NILAI-NILAI PENDIDIKAN KARAKTER DALAM BUKU GELANDANGAN DI KAMPUNG

34

ampun bagi mereka, dan bermusyawaratlah dengan mereka

dalam urusan itu. Kemudian apabila kamu telah membulatkan

tekad, maka bertawakkallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah

menyukai orang-orang yang bertawakkal kepada-Nya.” (QS.

Ali-imran: 159)

Pada ayat di atas dijelaskan bahwa Allah memerintahkan kita

untuk bermusyawarah dalam menghadapi persoalan secara demokratis

serta bertawakal kepada Allah.

i. Rasa Ingin Tahu

Rasa ingin tahu dapat diartikan sebagai sikap dan tindakan yang

selalu berupaya untuk mengetahui lebih mendalam dan meluas dari

sesuatu yang dipelajarinya, dilihat, dan didengar (Yaumi, 2014: 102).

Disebabkan rasa ingin tahu ini, manusia sejak dini cenderung

untuk terus menerus mempertanyakan berbagai hal yang memang

belum diketahui dan dipahami, baikyang dia amati maupun yang di

pikirkan. Dorongan ini menunjukkan bahwa manusia tidak akan puas

terhadap fenomena yang tampak pada permukaan. Selalu ada

keinginan untuk memahami secara lebih mendalam dan mendetail

(Naim, 2012: 171).

Oleh karena itu perlu pendidikan karakter untuk mengarahkan

rasa ingin tahu seseorang. Rasa ingin tahu harus

ditumbuhkembangakan, dirawat, dan diberi jawaban yang benar agar

tidak muncul perilaku destruktif generasi muda yang sebagian besar

berasal dari rasa ingin tahu yang tidak mendapatkan jawaban secara

memadai.

Page 49: NILAI-NILAI PENDIDIKAN KARAKTER DALAM BUKU …e-repository.perpus.iainsalatiga.ac.id/5761/1/Lutfi Isnan Romdloni... · NILAI-NILAI PENDIDIKAN KARAKTER DALAM BUKU GELANDANGAN DI KAMPUNG

35

Dalam Al-Qur‟an diterangkan tentang karakter rasa ingin tahu

yang terdapat pada surah Ali-Imran ayat 190-191:

Artinya: “Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan

silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi

orang-orang yang berakal. (Yaitu) orang-orang yang mengingat

Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadan berbaring

dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi

(seraya berkata): "Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau

menciptakan ini dengan sia-sia, Maha Suci Engkau, maka

peliharalah kami dari siksa neraka” (QS. Ali-Imran: 190-191)

Pada ayat di atas selain berkaitan dengan karakter kreatif

dijelaskan juga mengenai karakter rasa ingin tahu, bahwa dilangit dan

bumi terdapat tanda-tanda kekuasaan Allah, dan manusia dibekali

dengan akal, agar digunakan untuk berfikir, sehingga manusia tahu

tanda-tanda kebesaran dan kekuasaan Allah dan meningkatkan

keimanannya.

j. Semangat Kebangsaan

Menurut Djohar dalam Naim (2012: 173), semangat kebangsaan

mengandung arti adanya rasa satu dalam suka, duka, dan dalam

kehendak mencapai kebahagiaan hidup lahir-batin seluruh bangsa.

Page 50: NILAI-NILAI PENDIDIKAN KARAKTER DALAM BUKU …e-repository.perpus.iainsalatiga.ac.id/5761/1/Lutfi Isnan Romdloni... · NILAI-NILAI PENDIDIKAN KARAKTER DALAM BUKU GELANDANGAN DI KAMPUNG

36

Dalam semangat kebangsaan ini seseorang menempatkan kepentingan

bangsa dan negara di atas kepentingan diri dan kelompoknya.

k. Cinta Tanah Air

Cinta tanah air adalah cara berpikir, bersikap, dan berbuat yang

menunjukkan kesetiaan kepedulian, dan penghargaan yang tinggi

tehadap bangsa, lingkungan fisik, sosial, budaya, ekonomi, dan politik

bangsa (Yaumi, 2014: 104).

Sekarang ini kebutuhan terhadap semangat mencintai tanah air

seharusnya semakin ditumbuhkembangkan ditengah gempuran

globalisasi yang semakin tidak terkendali. Cinta tanah air tidak hanya

merefleksikan kepemilikan, tetapi juga bagaimana mengangkat harkat

dan martabat bangsa ini dalam kompetisi global.

Dalam Al-Qur‟an diterangkan tentang karakter cinta tanah air

yang terdapat pada surah At-Taubah ayat 122:

Artinya: “Tidak sepatutnya bagi mukminin itu pergi semuanya

(ke medan perang). Mengapa tidak pergi dari tiap-tiap

golongan di antara mereka beberapa orang untuk

memperdalam pengetahuan mereka tentang agama dan untuk

memberi peringatan kepada kaumnya apabila mereka telah

kembali kepadanya, supaya mereka itu dapat menjaga dirinya.”

(QS. At-Taubah: 122)

Page 51: NILAI-NILAI PENDIDIKAN KARAKTER DALAM BUKU …e-repository.perpus.iainsalatiga.ac.id/5761/1/Lutfi Isnan Romdloni... · NILAI-NILAI PENDIDIKAN KARAKTER DALAM BUKU GELANDANGAN DI KAMPUNG

37

Menurut Syekh Muhammad Mahmud al-Hijazi dalam Tafsir al-

Wadlih yang dikutip oleh nu.or.id ayat tersebut mengisyaratkan bahwa

belajar ilmu adalah suatu kewajiban bagi umat secara keseluruhan,

kewajiban yang tidak mengurangi kewajiban jihad, dan

mempertahankan tanah air juga merupakan kewajiban yang suci.

Karena tanah air membutuhkan orang yang berjuang dengan pedang

(senjata), dan juga orang yang berjuang dengan argumentasi dan dalil.

Bahwasannya memperkokoh moralitas jiwa, menanamkan

nasionalisme dan gemar berkorban, mencetak generasi yang

berwawasan cinta tanah air sebagian dari iman, serta

mempertahankannya (tanah air) adalah kewajiban yang suci.

Jadi dalam hal ini dapat diartikan bahwa karakter cinta tanah air

merupakan salah satu kewajiban setiap warganya, karna hal tersebut

sangat diperlukan untuk menjaga kedaulatan negara tetap utuh.

l. Menghargai Prestasi

Menghargai prestasi yaitu sikap dan tindakan yang mendorong

dirinya untuk menghasilkan sesuatu yang berguna bagi masyarakat,

serta mengakui dan menghormati keberhasilan orang lain (Yaumi,

2014: 105).

Dalam iklim kehidupan sekarang ini, arus kompetisi semakin

ketat. Dalam konteks pengembangan karakter, penting untuk

menanamkan menghagai prestasi kepada anak-anak. Prestasi

menunjukkan adanya proses dalam meraihnya. Jangan sampai anak-

Page 52: NILAI-NILAI PENDIDIKAN KARAKTER DALAM BUKU …e-repository.perpus.iainsalatiga.ac.id/5761/1/Lutfi Isnan Romdloni... · NILAI-NILAI PENDIDIKAN KARAKTER DALAM BUKU GELANDANGAN DI KAMPUNG

38

anak kita menjadi generasi yang hanya menyukai produk dan tidak

menghargai proses. Menghargai prestasi merupakan bagaian dari

mengahrgai proses.

Dalam Al-Qur‟an diterangkan tentang sikap menghargai prestasi

yang terdapat pada surah An-Nahl ayat 97:

Artinya: “Barangsiapa yang mengerjakan amal saleh, baik laki-

laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka

sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang

baik dan sesungguhnya akan Kami beri balasan kepada mereka

dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka

kerjakan” (QS. An-Nahl: 97)

Menurut Quraish Shihab menjelaskan ayat tersebut dalam

kitabnya Tafsir Al-Misbah sebagai berikut :

“Barang siapa yang mengerjakan amal saleh, apapun jenis

kelaminnya, baik laki-laki maupun perempuan, sedang dia

adalah mukmin yakni amal yang dilakukannya lahir atas

dorongan keimanan yang shahih, maka sesungguhnya pasti

akan kami berikan kepadanya masing-masing kehidupan yang

baik di dunia ini dan sesungguhnya akan kami berikan balasan

kepada mereka semua di dunia dan di akherat dengan pahala

yang lebih baik dan berlipat ganda dari apa yang telah mereka

kerjakan“ (http://anggahardianto1994.blogspot.com/2017/12/

wawasan-al-quran-dan-hadits-tentang.html diakses pada tanggal

16 Juli 2019).

Page 53: NILAI-NILAI PENDIDIKAN KARAKTER DALAM BUKU …e-repository.perpus.iainsalatiga.ac.id/5761/1/Lutfi Isnan Romdloni... · NILAI-NILAI PENDIDIKAN KARAKTER DALAM BUKU GELANDANGAN DI KAMPUNG

39

Jadi jika dilihat dari kacamata islam dari hal tersebut dapat kita

artikan bahwa Allah pun akan menghargai apa yang akan dilakukan

sesorang dimana amal saleh akan diberikan pahala yang lebih baik.

m. Bersahabat/Komunikatif

Bersahabat/komunikatif adalah tindakan yang memperlihatkan

rasa senang berbicara, bergaul, dan bekerja sama dengan orang lain

(Yaumi, 2014: 106).

Dengan menjadi seseorang yang bersahabat dan komunikatif

akan mewujudkan kenyamanan bagi orang disekitarnya karena

tindakannya memperlihatkan rasa senang berbicara, bergaul, dan

bekerja sama dengan orang lain.

Dalam Al-Qur‟an diterangkan tentang sikap cinta damai yang

terdapat pada surah Al-Baqarah 195:

Artinya: “Dan belanjakanlah (harta bendamu) di jalan Allah,

dan janganlah kamu menjatuhkan dirimu sendiri ke dalam

kebinasaan, dan berbuat baiklah, karena sesungguhnya Allah

menyukai orang-orang yang berbuat baik” (QS. Al-Baqarah:

195)

Pada ayat di atas dijelaskan bahwa Allah agar jangan

menjatuhkan diri ke binasaan dan selalu berbuat baik, dalam hal ini

adalah bersahabat dalam berlaku dan berbicara.

Page 54: NILAI-NILAI PENDIDIKAN KARAKTER DALAM BUKU …e-repository.perpus.iainsalatiga.ac.id/5761/1/Lutfi Isnan Romdloni... · NILAI-NILAI PENDIDIKAN KARAKTER DALAM BUKU GELANDANGAN DI KAMPUNG

40

n. Cinta Damai

Cinta damai adalah sikap, perkataan, dan tindakan yang

menyebabkan orang lain merasa senang serta aman atas kehadiran

dirinya (Yaumi, 2014: 107).

Budaya damai harus terus menerus ditumbuhkembangkan

dalam berbagai aspek kehidupan. Kekerasan dalam berbagai bentuknya

sekarang ini semakin banyak ditemukan. Harus ada kemauan dari

berbagai pihak untuk memebangun secara sistematis cinta damai

menjadi budaya yang mengakar dalam kehidupan.

Dalam Al-Qur‟an diterangkan tentang sikap cinta damai yang

terdapat pada surah An-Nahl ayat 90:

Artinya: “Sesungguhnya Allah menyuruh (kamu) berlaku adil

dan berbuat kebajikan, memberi kepada kaum kerabat, dan

Allah melarang dari perbuatan keji, kemungkaran dan

permusuhan. Dia memberi pengajaran kepadamu agar kamu

dapat mengambil pelajaran.” (QS. An-Nahl: 90)

Pada ayat di atas dijelaskan bahwa Allah memerintahkan kita

untuk berlaku adil dan berbuat kebaikan kapada kerabat dan melarang

kekejian, kemungkaran dan permusuhan, artinya yaitu untuk selalu

mencintai kedamain tidak membuat permusuhan antar sesama.

Page 55: NILAI-NILAI PENDIDIKAN KARAKTER DALAM BUKU …e-repository.perpus.iainsalatiga.ac.id/5761/1/Lutfi Isnan Romdloni... · NILAI-NILAI PENDIDIKAN KARAKTER DALAM BUKU GELANDANGAN DI KAMPUNG

41

o. Gemar Membaca

Gemar membaca yaitu kebiasaan menyediakan waktu untuk

membaca berbagai bacaan yang memberikan kebajikan bagi dirinya

(Yaumi, 2014: 109). Menurut hernowo dalam Naim (2012: 191) ,

sebagaimana yang dikutip oleh Naim dalam bukunya, membaca

membuat kita berpikir dalam bentuk yang terbaik. Membaca kan

melatih kita untuk bertafakur. Tafakur disini berarti berpikir secara

sistematis, hati-hati, dan dalam. Membaca akan menghindarkan diri

kita dari kegiatan asal-asalan dan tidak bertanggung jawab. Membaca

akan menguji seberapa tinggi dan seberapa jauh kesungguhan kita

dalam memahami dan memecahkan sesuatu.

Dengan membaca kita mampu menyelami pikiran orang lain dan

menambahkan pemikiran serta pengalaman orang lain ke dalam

pemikiran dan pengalaman kita sendiri.

Jadi, dalam konteks pendidikan karakter, membangun tradisi

membaca harus dilakukan dengan membiasakan diri untuk membaca.

Setiap ada kesempatan bisa dimanafaatkan untuk membaca. Kalau hal

ini lakukan secara rutin, tentu akan banyak manfaat yang dapat dipetik,

karena membaca tidak hanya menambah pengetahuan, tetapi jug

amengubah hidup.

Dalam Al-Qur‟an diterangkan tentang sikap gemar membaca

yang terdapat pada surah Fathir ayat 29:

Page 56: NILAI-NILAI PENDIDIKAN KARAKTER DALAM BUKU …e-repository.perpus.iainsalatiga.ac.id/5761/1/Lutfi Isnan Romdloni... · NILAI-NILAI PENDIDIKAN KARAKTER DALAM BUKU GELANDANGAN DI KAMPUNG

42

Artinya: “Sesungguhnya orang-orang yang selalu membaca

kitab Allah dan mendirikan shalat dan menafkahkan sebahagian

dari rezeki yang Kami anugerahkan kepada mereka dengan

diam-diam dan terang-terangan, mereka itu mengharapkan

perniagaan yang tidak akan merugi” (QS. Fatir: 29)

Pada ayat di atas dijelaskan bahwa orang-orang yang selalu

membaca kitab Allah dan sholat serta menafkahkan sebagian dari

rezekinya akan dianugrahi oleh Allah rezeki yang berkah.

p. Peduli Lingkungan

Peduli lingkungan merupakan sikap dan tindakan yang selalu

berupaya mencegah kerusakan pada lingkungan alam sekitarnya, serta

mengembangkan upaya-upaya untuk memperbaiki kerusakan alam

yang sudah terjadi (Yaumi, 2014: 111).

Manusia yang berkarakter adalah manusia yang memiliki

kepedulian terhadap lingkungannya. Kualitas lingkungan hidup

sekarang ini memang cenderung mengalami penurunan. Pencemaran

lingkungan terjadi dimana-mana, kerugian yang ditanggung sudah

tidak terhitung lagi. Padahal persolan tersbut disebabkan oleh tangan

jahil manusia. Oleh karena itu sangat perlu dibangun karakter peduli

lingkungan dalam diri seseorang.

Dalam Al-Qur‟an diterangkan tentang sikap tanggung jawab

yang terdapat pada surah Al-A‟raf ayat 56:

Page 57: NILAI-NILAI PENDIDIKAN KARAKTER DALAM BUKU …e-repository.perpus.iainsalatiga.ac.id/5761/1/Lutfi Isnan Romdloni... · NILAI-NILAI PENDIDIKAN KARAKTER DALAM BUKU GELANDANGAN DI KAMPUNG

43

Artinya: “Dan janganlah kamu membuat kerusakan di muka

bumi, sesudah (Allah) memperbaikinya dan berdoalah kepada-

Nya dengan rasa takut (tidak akan diterima) dan harapan (akan

dikabulkan). Sesungguhnya rahmat Allah amat dekat kepada

orang-orang yang berbuat baik” (QS. Al-A‟raf: 56).

Dari ayat di atas dapat diambil hikmah bahwa sebagai makhluk

Allah, janganlah kita membuat kerusakan di bumi ini atau lingkungan

alam sekitar, karena Allahlah yang sudah memperbaikinya, sungguh

rahmat Allah sangat dekat dengan orang-orang yang berbuat baik.

q. Peduli Sosial

Peduli sosial dapat diartikan sebagai sikap serta tindakan yang

selalu ingin memberi bantuan kepada orang lain dan masyarakat yang

membutuhkan (Yaumi, 2014: 112).

Manusia merupakan makhluk sosial. Ia tidak bisa hidup dan

menjadi bagian terpisah dari lingkungan sosialnya. Karena manusia

tidak bisa sepenuhnya egois dan beranggapan kalau dirinya bisa hidup

sendiri tanpa peran serta orang lain.

Dikehidupan modern ini masyarakat bergeser dari kebersamaan

dan saling tolong menolong dengan penuh ketulusan yang dahulu

merupakan ciri khas masyarakat Indonesia semakin menghilang

menjadi masyarakat yang lebih individualis. Konsentrasi kehidupan

masyarakat sekarang ini didominasi pada bagaimana mencapai mimpi-

Page 58: NILAI-NILAI PENDIDIKAN KARAKTER DALAM BUKU …e-repository.perpus.iainsalatiga.ac.id/5761/1/Lutfi Isnan Romdloni... · NILAI-NILAI PENDIDIKAN KARAKTER DALAM BUKU GELANDANGAN DI KAMPUNG

44

mimpi materialis. Oleh karena itu perlu adanya pendidikan karakter

peduli sosial untuk mengembalikan budaya masyarakat yang peduli

sesama yang dulu menjadi ciri khas dalam negeri kita ini.

Dalam Al-Qur‟an diterangkan tentang sikap peduli sosial dan

lingkungan yang terdapat pada surah Al-Maidah ayat 2:

Artinya: “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu

melanggar syi´ar-syi´ar Allah, dan jangan melanggar

kehormatan bulan-bulan haram, jangan (mengganggu)

binatang-binatang had-ya, dan binatang-binatang qalaa-id, dan

jangan (pula) mengganggu orang-orang yang mengunjungi

Baitullah sedang mereka mencari kurnia dan keridhaan dari

Tuhannya dan apabila kamu telah menyelesaikan ibadah haji,

maka bolehlah berburu. Dan janganlah sekali-kali

kebencian(mu) kepada sesuatu kaum karena mereka

menghalang-halangi kamu dari Masjidilharam, mendorongmu

berbuat aniaya (kepada mereka). Dan tolong-menolonglah

kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan

tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. Dan

bertakwalah kamu kepada Allah, sesungguhnya Allah amat

berat siksa-Nya” (QS. Al-Maidah: 2)

Page 59: NILAI-NILAI PENDIDIKAN KARAKTER DALAM BUKU …e-repository.perpus.iainsalatiga.ac.id/5761/1/Lutfi Isnan Romdloni... · NILAI-NILAI PENDIDIKAN KARAKTER DALAM BUKU GELANDANGAN DI KAMPUNG

45

Pada ayat di atas dijelaskan bahwa Allah memerintahkan kita

untuk tolong menolong dalam kebaikan, artinya juga dalam bidang

kepedulian sosial serta peduli tehadap lingkungan sekitar.

r. Tanggung Jawab

Tanggung jawab adalah suatu kewajiban untuk melakukan atau

menyelesaikan tugas (ditugaskan oleh seseorang, atau diciptakan oleh

janji sendiri atau keadaan) yang seseorang harus penuhi, dan yang

memiliki konsekuensi hukuman terhadap kegagalan (Yaumi, 2014:

114).

Karakter tanggung jawab sangat dibutuhkan di era sekarang ini

dimana seseorang sesungguhnya memiliki tanggung jawab masing-

masing terhadap dirinya maupun lingkungan sekitarnya.

Dalam Al-Qur‟an diterangkan tentang sikap tanggung jawab

yang terdapat pada surah Al-Muddatsir ayat 38:

Artinya: “Tiap-tiap diri bertanggung jawab atas apa yang telah

diperbuatnya.” (QS. Al-Muddatsir: 38)

Sedangkan dalam surah Az-Zalzalah Allah berfirman sebagai

berikut:

Page 60: NILAI-NILAI PENDIDIKAN KARAKTER DALAM BUKU …e-repository.perpus.iainsalatiga.ac.id/5761/1/Lutfi Isnan Romdloni... · NILAI-NILAI PENDIDIKAN KARAKTER DALAM BUKU GELANDANGAN DI KAMPUNG

46

Artinya: “Barangsiapa yang mengerjakan kebaikan seberat

dzarrahpun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya. Dan

barang siapa yang mengerjakan kejahatan sebesar dzarrahpun,

niscaya dia kan melihat (balsasan)nya pula.” (QS. Az-zalzalah:

7-8)

Pada ayat di atas dijelaskan bahwa setiap orang akan

bertanggung jawab atas apa yang telah dia perbuat baik itu sedikit

ataupun sebesar gunung.

6. Tujuan Pendidikan Karakter

Tujuan pendidikan adalah meningkatkan mutu penyelenggaraan

dan hasil pendidikan yang mengarah pada pencapaian pembentukan

karakter dan akhlak mulia peserta didik secara utuh, terpadu, dan seimbang

(Masnur, 2015: 81).

Menurut Dharma (2012: 9) tujuan pendidikan karakter adalah

sebagai berikut:

a. Menguatkan dan mengembangkan nilai-nilai kehidupan yang dianggap

penting dan perlu sehingga menjadi kepribadian/kepemilikan peserta

didik yang khas sebagaimana nilai-nilai yang dikembangkan.

b. Mengoreksi perilaku peserta didik yang tidak bersesuaian dengan nilai-

nilai yang dikembangkan.

c. Membangun koneksi yang harmoni dengan keluarga dan masyarakat

dalam memerankan tanggung jawab pendidikan karakter secara

bersama.

Sedangkan menurut Mulyasa (2014: 9), tujuan pendidikan karakter

adalah untuk meningkatkan mutu proses dan hasil pendidikan yang

Page 61: NILAI-NILAI PENDIDIKAN KARAKTER DALAM BUKU …e-repository.perpus.iainsalatiga.ac.id/5761/1/Lutfi Isnan Romdloni... · NILAI-NILAI PENDIDIKAN KARAKTER DALAM BUKU GELANDANGAN DI KAMPUNG

47

mengarah pada pembentukan karakter dan akhlak mulia peserta didik

secara utuh, terpadu dan seimbang, sesuai dengan standar kompetisi

lulusan pada setiap satuan pendidikan. Melalui pendidikan karakter peserta

didik diharapkan mampu secara mandiri meningkatkan dan menggunakan

pengetahuannya, mengkaji dan menginternalisasikan serta

mempersonalisasikan nilai-nilai karakter dan akhlak mulia sehingga

terwujud dalam prilaku sehari-hari.

Menurut pendapat Fooster dalam Wibowo (2012: 26), tujuan

pendidikan karakter adalah untuk pembentukan karakter yang terwujud

dalam kesatuan esensial subjek dengan perilaku dan sikap hidup yang

dimilikinya.

Jadi dari beberapa pendapat di atas dapat diambil kesimpulan

bahwa tujuan inti dari pendidikan karakter adalah untuk meningkatkan

mutu dan hasil pendidikan sehingga menghasilkan pembentukan karakter

peserta didik yang berakhlak mulia secara utuh, seimbang serta

membangun koneksi yang harmoni dengan keluarga dan masyarakat dalam

memerankan tanggung jawab pendidikan karakter secara bersama.

7. Landasan Pendidikan Karakter

Untuk membentuk karakter, diperlukan landasan penyelenggara

pendidikan karakter yaitu sebagai berikut:

Page 62: NILAI-NILAI PENDIDIKAN KARAKTER DALAM BUKU …e-repository.perpus.iainsalatiga.ac.id/5761/1/Lutfi Isnan Romdloni... · NILAI-NILAI PENDIDIKAN KARAKTER DALAM BUKU GELANDANGAN DI KAMPUNG

48

a. Landasan yuridis

Landasan pelaksanaan pendidikan karakter sangat jelas. Hal ini

tampak dalam Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem

Pendidikan Nasional pada Pasal 3 yang menyatakan: “Pendidikan

Nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk

watak serta peradaban bangsa yang /bermartabat dalam rangka

mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya

potensi peserta didik agar menjadi: beriman dan bertakwa kepada

Tuhan Yang Maha Esa; berakhlak mulia; sehat; berilmu; cakap;

kreatif; mandiri; dan menjadi warga yang demokratis serta

bertanggung jawab”.

Dalam pasal tersebut, secara tersirat dapat disimpulkan bahwa

pendidikan nasional berfungsi dan bertujuan untuk membentuk

karakter(watak) pendidik menjadi insan kamil. Dengan demikian

landasan yuridis pelaksanaan pendidikan karakter adalah Undang-

Undang tersebut. (Novan, 2013: 32)

b. Landasan filsafat manusia

Agar dapat menjadi manusia yang sesungguhnya, dalam proses

pertumbuhan dan perkembangannya, anak-anak manusia memerlukan

bantuan. Upaya membantu manusia untuk menjadikan manusia

sesungguhnya itulah yang disebut pendidikan. Berbeda dengan hewan,

anak-anak hewan hanya memerlukan bantuan seperlunya saja untuk

hidup mandiri. Hewan adalah ciptaan yang sudah selesai, sudah jadi,

Page 63: NILAI-NILAI PENDIDIKAN KARAKTER DALAM BUKU …e-repository.perpus.iainsalatiga.ac.id/5761/1/Lutfi Isnan Romdloni... · NILAI-NILAI PENDIDIKAN KARAKTER DALAM BUKU GELANDANGAN DI KAMPUNG

49

dan sudah terspesialisasi dan menjadi hewan sesungguhnya dan

berkarakter hewan.

Berbeda dengan hewan, manusia yang ketika kanak-kanak

terlihat berkarakter, dapat saja saat dewasa berkarakter buruk jika

dalam proses pendewasaan salah didik. Sifat-sifat kemanusiaan dapat

terkikis dan tidak pantas disebut manusia yang pantas dikaruniai akal,

makhluk mulia, bermartabat, dan beradab. Dalam proses

perkembangannya, karakter manusia bahkan dapat menjadi lebih buruk

dari pada hewan. Oleh sebab itu pendidikan karakter sangat diperlukan

bagi manusia sepanjang hidupnya, agar menjadi manusia yang

berkarakter baik. (Novan, 2013: 32-33)

c. Landasan filsafat Pancasila

Manusia Indonesia yang ideal adalah manusia Pancasilais, yaitu

menghargai nilai-nilai Ketuhanan, Kemanusiaan, Persatuan,

Kerakyatan, dan Keadilan Sosial. Nilai-nilai Pancasila tersebut yang

menjadi inti nilai dalam pendidikan karakter di negeri ini. (Novan,

2013: 33)

d. Landasan filsafat pendidikan

Pendidikan pada dasarnya bertujuan mengembangkan

kepribadian untuh untuk menctak warga negara yang baik. Seseorang

yang berkepribadian utuh digambarkan dengan terinternalisasikannya

nilai-nilai dari berbagai nilai, yaitu simbolik, empirik, estetik, etik,

sinoptik, dan sinnoetik. Nilai-nilai tersebut menjadikan seseorang

Page 64: NILAI-NILAI PENDIDIKAN KARAKTER DALAM BUKU …e-repository.perpus.iainsalatiga.ac.id/5761/1/Lutfi Isnan Romdloni... · NILAI-NILAI PENDIDIKAN KARAKTER DALAM BUKU GELANDANGAN DI KAMPUNG

50

berkarakter baik. Nilai simbolik ada dalam bahsa, ritual-ritual

keagamaan, dan matematika. Nilai empirik terdapat dalam berbagai

macam disiplin ilmu empirik, diantarnya Ilmu Pengetahuan Alamdan

Sosial. Nilai etik berupa pilihan-pilihan perilaku moral yang

dikembangkan melalui pendidikan moral, budi pekerti, adab, dan

akhlak. Nilai estetik terdapat pada kesenian . Sementara nilai sinnoetik

adalah nilai yang bersifat personal yang hadir dari pengalaman-

pengalaman personal yang hadir dari pengalaman-pengalaman

personal yang bersifat relasional antara pribadi dan Sang Pencipta.

Nilai sinoptik di dalamnya terangkum nilai-nilai simbolik, estetik, etik

dan sinnoetik. Nilai-nilai tersebut hadir dalam pendidikan agama,

sejarah, dan filsafat. Disebabkan pendidikan karakter pada dasarnya

merupakan proses internlaisasi nilai dari berbagi nilai di atas,

pendidikan karakter dapat diintegrasikan dalam berbagai macam mata

pelajaran yang diajarkan di satuan-satuan pendidikan. (Novan, 2013:

33-34)

e. Landasan religius

Manusia adalah ciptaan Tuhan. Dalam agama-agama dan sistem

kepercayaan yang berkembang di Indonesia, manusia baik adalah

manusia yang; (1) secara jasmani dan ruhani sehat dan dapat

melaksanakan berbagai aktivitas hidup yang dikaitkan dengan

peribadatannya kepada Tuhan; (2) bertakwa dengan menghambakan

diri kepada Tuhan dengan jalan patuh dan taat terhadap ajaran-ajaran-

Page 65: NILAI-NILAI PENDIDIKAN KARAKTER DALAM BUKU …e-repository.perpus.iainsalatiga.ac.id/5761/1/Lutfi Isnan Romdloni... · NILAI-NILAI PENDIDIKAN KARAKTER DALAM BUKU GELANDANGAN DI KAMPUNG

51

Nya; (3) menjadi pemimpin diri, keluarga, dan masyrakatyang dapat

dipercaya atas dasar jujur, amanah, disiplin, kerja keras, ulet, dan

bertanggung jawab; (4) manusiawi dalam arti berkarakter sebagai

manusia yang mempunyai sifat-sifat cinta kasih terhadap sesama

manusia, dan bermartabat. Dengan demikian, pemdidikan karakter

perlu mengembangkan karakter manusia agar menjadi manusia yang

berpirilaku hidup sehat,patuh tehadap ajaran-ajaran Tuhan. (Novan,

2013: 34)

f. Landasan sosiologis

Secara sosiologis, manusia Indonesia hidup dalam masyrakat

heterogen yang terus berkembang. Kita berada di tengah-tengah

masyarakat dengan suku, etnis, agama, golongan, status sosial, dan

ekonomi yang berbeda-beda. Di samping itu, bangsa Indonesia juga

hidup berdampingan dan bergaul dengan bangsa-bangsa lain. Oleh

sebab itu, upaya mengembangakan karakter saling menghargai dan

toleran pada aneka ragam perbedaan menjadi sangat mendasar.

(Novan, 2013: 35)

g. Landasan psikologis

Dari sisi psikologis, karakter dapat dideskripsikan dari dimensi-

dimensi intrapersonal, interpersonal, dan interaktif. Dimensi

intrapersonal terfokus pada kemampuan atau upaya manusia untuk

memahami diri sendiri. Dimensi interpersonal secara umum dibangun

atas kemampuan inti untuk mengenali perbedaan, sedangkan secara

Page 66: NILAI-NILAI PENDIDIKAN KARAKTER DALAM BUKU …e-repository.perpus.iainsalatiga.ac.id/5761/1/Lutfi Isnan Romdloni... · NILAI-NILAI PENDIDIKAN KARAKTER DALAM BUKU GELANDANGAN DI KAMPUNG

52

umum merupakan kemampuan mengenali perbedaan, sedangkan

secara khusus merupakan kemampuan mengenali perbedaan dalam

suasana hati, temperamen, motivasi, dan kehendak. Dimensi interaktif

adalah kemampuan manusia dalam berinteraksi sosial dengan sesama

secara bermakna. Kemampuan berinterkasi sosial secara bermakna

diperlukan karakter humor, toleransi, dan mengatasi konflik.

Dari segi psikologi perkembangan, terdapat tahapan-tahapan

dalam perkembangan manusia. Perkembangan manusia tercermin dari

karakteristik masing-masing dalam setiap tahap perkembangan. Usia

anak-anak berbeda karakteristiknya dengan usia remaja, pemuda, dan

usia tua. Di antara mereka perlu memahami dan menghargai

sesamanya yang tingkat perkembangannya berbeda-beda. Oleh karena

itu diperlukan pendidikan karakter yang terkait dengan kesopanan,

kesantunan, penghargaan, dan kepedulian. (Novan, 2013: 34-35)

Jadi, dilihat dari beberapa landasan pendidikan karakter di atas

pendidikan karakter bangsa menjadi sebuah keharusan bagi bangsa

Indonesia. Di samping untuk memperbaiki karakter bangsa yang semakin

terpuruk, juga mengembangkan karakter bangsa Indonesia untuk masa

depan yang lebih baik.

Page 67: NILAI-NILAI PENDIDIKAN KARAKTER DALAM BUKU …e-repository.perpus.iainsalatiga.ac.id/5761/1/Lutfi Isnan Romdloni... · NILAI-NILAI PENDIDIKAN KARAKTER DALAM BUKU GELANDANGAN DI KAMPUNG

53

BAB III

GAMBARAN UMUM BUKU GELANDANGAN DI KAMPUNG SENDIRI

A. Biografi Emha Ainun Nadjib

1. Sejarah Hidup

Emha Ainun Nadjib lahir di Jombang Jawa Timur pada 27 Mei

1953. Emha merupakan anak keempat dari 15 bersaudara. Ayahnya,

Almarhum MA Lathif adalah seorang petani. Istrinya yang sekarang

bernama Novia Kolopaking. Anak-anaknya bernama Sabrang Mowo

Damar Panuluh, Ainayya Al-Fatihah, Aqiela Fadia Haya, Jembar

Tahta Aunillah, dan Anayallah Rampak Mayesha (http://profilbiodata

ustadz.blogspot.com/2016/12/profil-biodata-dan-biografi-cak-nun.html

di akses pada 10 Juli 2019).

Emha mengenyam pendidikan SD di Jombang (1965) dan SMP

Muhammadiyah di Yogyakarta (1968). Sebelumnya dia pernah masuk

Pondok Modern Darrussalam Gontor tapi kemudian dikeluarkan

karena melakukan demo, dalam Wikipedia Indonesia dikatakan bahwa

beliau demo melawan pimpinan pondok karena sistem pondok yang

kurang baik pada pertengahan tagun ketiga studinya. Kemudian pindah

ke SMA Muhammadiyah I, Yogyakarta sampai tamat. Pendidikan

formalnya hanya berakhir di semester 1 Fakultas Ekonomi Universitas

Gadjah Mada (UGM). Lalu ia berproses di PSK (Persada Stubi Klub),

sebuah komunitas sastrawan terkemuka di Yogya dekade 1970-an

asuhan penyair Umbu Landu Paranggi.

Page 68: NILAI-NILAI PENDIDIKAN KARAKTER DALAM BUKU …e-repository.perpus.iainsalatiga.ac.id/5761/1/Lutfi Isnan Romdloni... · NILAI-NILAI PENDIDIKAN KARAKTER DALAM BUKU GELANDANGAN DI KAMPUNG

54

Emha Ainun Nadjib adalah seorang budayawan multitalenta:

penyair, esais, pegiat teater pemusik, dan lain-lain. Sebagi seorang

penulis, Emha sangat produktif karena telah menghasilkan puluhan

buku. Selain berkiprah didunia tulis menulis, Emha juga merupakan

motor penggerak dibalik kelompok musik kiai kanjeng dan komunitas

sinau bareng Maiyah yang tersebar diberbagai kota di Indonesia.

Dalam pertemuan-pertemuan sosial atau yang sering disebut jamiyah

Maiyah itu ia melakukan berbagai dekonstruksi pemahaman atas nilai-

nilai, pola-pola komunikasi, metode perhubungan kultural, pendidikan

cara berpikir, serta pengupayaan solusi-solusi masalah masyarakat.

Di maiyah beliau terjun langsung di masyarakat dan melakukan

aktivitas-aktivitas yang merangkum dan memadukan dinamika

kesenian, agama, pendidikan politik, sinergi ekonomi guna

menumbuhkan potensi rakyat. (https://id.wikipedia.org/wiki/Emha_

Ainun_Nadjib di akses pada 10 Juli 2019)

Untuk menjalin komunikasi dengan Emha Ainun Nadjib atau

melihat jadwal beliau, sekarang bisa dihubungi melalui rumah maiyah

progress (sekretariat Emha Ainun Nadjib dan Kiai Kanjeng) di Jl.

Wates km. 2,5 Gg. Barokah No. 287 Kadipiro, Bantul, Yogyakarta

Indonesia, Indonesia kode pos 55182. Telp. (0274) 618810. Fax.

(0274) 618810 atau Email [email protected]. Beliau juga

mempunyai web yaitu caknun.com, youtube caknun.com, fanpage

facebook caknun.com serta twitter caknun.com.

Page 69: NILAI-NILAI PENDIDIKAN KARAKTER DALAM BUKU …e-repository.perpus.iainsalatiga.ac.id/5761/1/Lutfi Isnan Romdloni... · NILAI-NILAI PENDIDIKAN KARAKTER DALAM BUKU GELANDANGAN DI KAMPUNG

55

2. Karya Emha Ainun Nadjib

Emha memacu kehidupan multi-kesenian di Yogya bersama

Halimd HD, networker kesenian melalui Sanggarbambu, aktif di

Teater Dinasti dan mengasilkan beberapa reportoar serta pementasan

drama. Di antaranya: Geger Wong Ngoyak Macan (1989, tentang

pemerintahan „Raja‟ Soeharto); Patung Kekasih (1989, tentang

pengkultusan); Keajaiban Lik Par (1980, tentang eksploitasi rakyat

oleh berbagai institusi modern); Mas Dukun (1982, tentang gagalnya

lembaga kepemimpinan modern).

Selain itu, bersama Teater Salahudin mementaskan Santri-Santri

Khidhir (1990, di lapangan Gontor dengan seluruh santri menjadi

pemain, serta 35.000 penonton di alun-alun madiun). Lautan Jilbab

(1990, dipentaskan secara massal di Yogya, Surabaya dan Makassar);

dan Kiai Sableng dan Baginda Faruq (1993).

Dia juga termasuk kreatif dalam menulis puisi. Terbukti, dia

telah menerbitkan 16 buku puisi: “M” Frustasi (1976); Sajak-Sajak

Sepanjang Jalan (1978); Sajak-Sajak Cinta (1978); Nyanyian

Gelandangan (1982); 99 Untuk Tuhanku (1983); Suluk Pesisiran

(1989); Lautan Jilbab (1989); Seribu Masjid Satu Jumlahnya ( 1990);

Cahaya Maha Cahaya (1991); Sesobek Buku Harian Indonesia (1993);

Abacadabra (1994); dan Syair Asmaul Husna (1994)

(http://bio.or.id/biografi-emha-ainun-nadjib/ diakses pada tanggal 11

Juli 2019)

Page 70: NILAI-NILAI PENDIDIKAN KARAKTER DALAM BUKU …e-repository.perpus.iainsalatiga.ac.id/5761/1/Lutfi Isnan Romdloni... · NILAI-NILAI PENDIDIKAN KARAKTER DALAM BUKU GELANDANGAN DI KAMPUNG

56

Selain itu Emha juga menulis beberapa buku essai, yaitu sebagai

berikut: (a) Arus Bawah (Bentang Pustaka: 2014), (b) Dari Pojok

Sejarah (1985), (b) Seribu Masjid Satu Jumlahnya (1990), (c)

Secangkir Kopi Jon Pakir (1992), (d) Markesot Bertutur (1993), (e)

Markesot Bertutur Lagi (1994), (f) 99 Untuk Tuhanku (Bentang

Pustaka: 2015), (g) Istriku Seribu (Bentang Pustaka: 2015), (h) Kagum

Kepada Orang Indonesia (2015), (i) Titik Nadir Demokrasi (Bentang

Pustaka: 2016), (j) Tidak. Jibril Tidak Pensiun! (Bentang Pustaka:

2016), (k) Anak Asuh Bernama Indonesia (Bentang Pustaka: 2017), (l)

Iblis Tidak Butuh Pengikut (Bentang Pustaka: 2017), (m) Mencari

Buah Simalakama (Bentang Pustaka: 2017), (n) Anggukan Ritmis

Kaki Pak Kiai (Bentang Pustaka: 2019), (o) Sedang Tuhanpun

Cemburu (Bentanng Pustaka: 2018).

3. Prestasi Emha Ainun Nadjib

Bulan Maret 2011, Emha memperoleh Penghargaan

Satyalancana Kebudayaan 2010 dari Negara Kesatuan Republik

Indonesia. Menurut Menteri Kebudayaan dan Pariwisata Jero Wacik,

penghargaan diberikan berdasarkan pertimbangan bahwa si penerima

memiliki jasa besar di bidang kebudayaan yang telah mampu

melestarikan kebudayaan daerah atau nasional serta hasil karyanya

berguna dan bermanfaat bagi masyarakat, bangsa, dan negara.

Selain itu beliau juga pernah mengikuti lokakarya teater di

Filipina (1980), International Writing Program di Universitas Iowa,

Page 71: NILAI-NILAI PENDIDIKAN KARAKTER DALAM BUKU …e-repository.perpus.iainsalatiga.ac.id/5761/1/Lutfi Isnan Romdloni... · NILAI-NILAI PENDIDIKAN KARAKTER DALAM BUKU GELANDANGAN DI KAMPUNG

57

Amerika Serikat (1984), Festival Penyair Internasional di Rotterdam,

Belanda (1984) dan Festival Horizonte III di Berlin Barat, Jerman

(1985). Emha juga pernah terlibat dalam produksi film Rayya, Cahaya

di Atas Cahaya (2011), skenario film ditulis bersama Viva Westi.

(https://id. wikipedia.org/wiki/Emha_Ainun_Nadjib diakses pada 10

Juli 2019)

4. Karakteristik Buku Karya Emha Ainun Nadjib

Emha memliki ciri khas dalam setiap karya-karyanya dengan

mengangkat tema-tema kritik sosial, serta kemanusiaan. Secara

keseluruhan, buku karyanya merupkan buku ataupun essai yang

sangat menjunjung tinggi nilai kemanusiaan dan kesaamaan hak dan

kewajiban setiap orang, sehingga mampu membius pembacanya

seperti merasa ikut dalam setiap kejadian dalam karyanya, serta

pembaca ikut serta berpikir.

Dari karya-karyanya Emha ingin membagi pemahaman bahwa

hidup ini digunakan untuk memperbanyak sahabat dan mencintai

sesama makhluk Allah. Emha berkata :

“Hidup saya yang hanya satu kali ini dengan serius saya

pergunakan untuk memperbanyak sahabat, dari yang muda,

anak-anak, orang tua, orang miskin, orang pangkat, orang

biasa, bahkan jin dan makhluk-makhluk lain, pokoknya siapa

saja. Itu saya pergunakan untuk meningkatkan kadar dan

kualitas cinta kasih kemanusiaan saya, sembari saya

manfaatkan untuk mengikis rasa benci dihati saya.” (Emha,

2018: 30).

Dalam karyanya Emha selalu menyelipkan pesan-pesan positif

serta seputar pengetahuan, moral dan agama Islam. Dengan

Page 72: NILAI-NILAI PENDIDIKAN KARAKTER DALAM BUKU …e-repository.perpus.iainsalatiga.ac.id/5761/1/Lutfi Isnan Romdloni... · NILAI-NILAI PENDIDIKAN KARAKTER DALAM BUKU GELANDANGAN DI KAMPUNG

58

penyampaian yang unik serta membuat pembaca berpikir merupkan

nilai tambah di setiap karyanya.

5. Pemikiran Emha Ainun Nadjib

Sebagai seorang yang piawai dalam menorehkan kata-kata, ada

beberapa pemikiran Emha yang menonjol, di antaranya adalah ide

yang bernama “Beribu Pintu Berruang Satu” maksudnya adalah

ruangan besar diartikan keilmuan Islam dan ribuan pintu diartikan

berbagai disiplin ilmu keislaman seperti pintu pertama adalah ilmu

fiqih, pintu kedua adalah ilmu tauhid, pintu ketiga adalah ilmu sejarah,

pintu keempat adalah ilmu mantik, dan seterusnya. Dengan demikian

jika seseorang memasuki rumah dari pintu fiqih, orang itu tidak hanya

menemukan ilmu fiqih saja, akan tetapi orang tersebut akan

menemukan berbagai disiplin ilmu keislaman lainnya, yang bertujuan

untuk memahami Islam secara menyeluruh (Fajriyah, 2018: 55-56).

Dalam hal ilmu, Emha juga tidak membedakan antara ilmu

agama dan ilmu umum seperti kebanyakan orang, karena baginya ilmu

umum atau agama adalah ilmu Islam. Misalnya ilmu biologi yang

biasanya dianggap ilmu umum, bagi Emha biologi adalah ilmu agama

karena dengannya kita bisa mensyukuri makhluk hidup. Begitu juga

dengan matematika. Matematika adalah pelajaran yang sangat suci.

Misalnya penghitungan 4 x 4, hasilnya tidak bisa dirubah oleh

kekuasaan politik, uang, ataupun ketakutan. Hasilnya akan tetap 16

yang artinya matematika mengajarkan kita bahwa ketauhidan kita tidak

Page 73: NILAI-NILAI PENDIDIKAN KARAKTER DALAM BUKU …e-repository.perpus.iainsalatiga.ac.id/5761/1/Lutfi Isnan Romdloni... · NILAI-NILAI PENDIDIKAN KARAKTER DALAM BUKU GELANDANGAN DI KAMPUNG

59

boleh dipengaruhi oleh kekuasaan politik, uang ataupun ketakutan.

Oleh karena itu Matematika adalah pelajaran agama nomor satu

(Fajriyah, 2018: 56).

B. Buku Gelandangan di Kampung Sendiri

Buku Gelandangan di Kampung Sendiri ini merupakan kumpulan

esai yang dibukukan. Menurut Antilan Purba dalam Fajriyah (2018: 44),

esai adalah karangan yang ditulis berdasarkan sudut pandang pribadi yang

disusun sistematis berupa hasil pengamatan dan penyelidikan penulis yang

di dalamnya terdapat gagasan, sikap, gaya khas penulis yang bersifat

interpretatif yang ditulis dengan gaya ringan yang berisi soal kehidupan.

Esai dari buku ini pernah diterbitkan dengan judul yang sama pada tahun

1995. Namun penulis lebih memilih dan menjadikan sumber data

dalampenelitian ini adalah buku cetakan pertama dati penerbit PT Bentang

Pustaka pada tahun 2018.

1. Profil Buku

Judul : Gelandangan di Kampung Sendiri

Penulis : Emha Ainun Nadjib

Tahun Terbit : 2018

Cetakan ke : 1 (Pertama)

Penertbit : PT Bentang Pustaka

Tebal Buku : 298 Halaman

Page 74: NILAI-NILAI PENDIDIKAN KARAKTER DALAM BUKU …e-repository.perpus.iainsalatiga.ac.id/5761/1/Lutfi Isnan Romdloni... · NILAI-NILAI PENDIDIKAN KARAKTER DALAM BUKU GELANDANGAN DI KAMPUNG

60

2. Gaya Bahasa

Menurut Aminudidin dalam Diyah (2017: 49), istilah gaya

diangkat dari istilah style yang berasal dari bahasa Latin stilus dan

mengandung arti leksikal “alat untuk menulis”, dalam karya sastra

istilah gaya mengandung pengertian cara seorang pengarang

menyampaikan gagasannya dengan menggunakan media bahasa yang

indah dan harmonis serta mampu menuansakan makna dan suasana

yang dapat menyentuh daya intelektual dan emosi pembaca.

Sedangkan menurut Gorys dalam Siswantoro (2010: 206), gaya bahasa

merujuk kepada cara mengungkapkan pikiran melalui bahasa secara

khas yang memperlihatkan jiwa dan kepribadian penulis atau

pengguna bahasa. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa gaya

bahasa merupakan cara seorang dalam mengungkapkan pikiran atau

gagasan melalui media bahasa khas pengarang.

Dalam buku ini Emha menggunakan gaya bahasa yang

mengajak pembaca untuk berpikir juga mengenai masalah-masalah

yang dialami berbagai orang dalam buku dan beberapa kali Emha

menggunakan gaya bahasa yang menyindir pemerintah. Di mana

beliau menggunakan kata-kata kiasan dan pengibaratan dalam

berpendapat mengenai masalah yang ada.

3. Tema Pembahasan Buku Gelandangan di Kampung Sendiri

Menurut Aminuddin dalam Diyah (2017: 38), menjelaskan

bahwa tema adalah ide yang mendasari suatu cerita sehingga

Page 75: NILAI-NILAI PENDIDIKAN KARAKTER DALAM BUKU …e-repository.perpus.iainsalatiga.ac.id/5761/1/Lutfi Isnan Romdloni... · NILAI-NILAI PENDIDIKAN KARAKTER DALAM BUKU GELANDANGAN DI KAMPUNG

61

berperan juga sebagai pangkal tolak pengarang dalam memaparkan

karya fiksi yang diciptakannya

Dalam buku ini memuat 4 garis besar tema di dalamnya, yaitu

pengaduan I, pangaduan II, ekpresi, dan visi. Kemudian dari 4 garis

besar tersebut memuat sub tema yang berbeda-beda.

a. Pengaduan I yang berisi sub tema sebagai berikut :

Pada tema-tema yang terdapt dalam pengaduan I ini berisi

pengenai keluhan-keluhan mayarakat terhadap situasi sosial yang

terjadi disekitarnya.

1) Lingsem

Pada tema ini berisi mengenai lingsem (jawa) adalah

keadaan psikologis ketika seseorang mempertahankan sesuatu

tidak lagi karena objektivitas suatu persoalan, karena fokus

permasalahannya sudah menjadi bagian dari privasi harga

dirinya. Dalam tema ini di dalamnya dibahas mengenai

pembelaan Emha atas keadilan dan demokrasi yang harus ada

di tangan rakyat. Emha mengkritik birokrasi pemerintahan

yang tidak memihak kepada rakyat.

2) Sunyi kopra dipulau kei

Pada tema ini Emha membahas mengenai petani kopra

atau kelapa yang menjadi tanaman perdagangan utama rakyat

di pulau kei yang mengalami penurunan produksi. Pada inti

Page 76: NILAI-NILAI PENDIDIKAN KARAKTER DALAM BUKU …e-repository.perpus.iainsalatiga.ac.id/5761/1/Lutfi Isnan Romdloni... · NILAI-NILAI PENDIDIKAN KARAKTER DALAM BUKU GELANDANGAN DI KAMPUNG

62

tema ini adalah Emha ingin petani kopra untuk kerja keras agar

mereka bisa mandiri tanpa harus mengandalkan pemerintah.

3) Warga Molo “molo-molo”

Pada tema ini menceritakan mengenai warga mollo yang

mengalami masalah penggusuran hutan adat dan padang ternak

yang padahal masyaratat di sana menggantungkan penghasilan

pokoknya pada ternak sapi. Pihak Dinas Kehutanan tidak

dahulu bermusyawarah dengan masyarakat atau pemerintah

desa. Di sini Emha mengkritik mengenai adab zaman yang

berubah, dan warga Mollo kebetulan kena adab baru tersebut.

Adap yang dimaksud adalah dalam pemerintahan.

4) Buruh 1, Buruh 2 dan Buruh 3

Pada tiga tema ini memiliki bahasan yang sama, yaitu

mengenai lika-liku para buruh di negeri Indonesia. Dan di sini

Emha mencoba untuk memberikan solusi-solusi terbaik dalam

mengatasi masalah-masalah dalam keadaan buruh tersebut.

5) Kita semua buruh

Tema ini berisi mengenai dialog Emha dengan para

mahasiswa. Di sini Emha menceritakan tetang dirinya yang

bersahabat dengan semua orang dari berbagai kalangan, dari

kalangan orang kecil hingga orang-orang besar. Dan dalam

tema ini juga masih berkaitan erat dengan para buruh.

Page 77: NILAI-NILAI PENDIDIKAN KARAKTER DALAM BUKU …e-repository.perpus.iainsalatiga.ac.id/5761/1/Lutfi Isnan Romdloni... · NILAI-NILAI PENDIDIKAN KARAKTER DALAM BUKU GELANDANGAN DI KAMPUNG

63

6) Awas! Pasar kalin terbakar

Pada tema ini membahas mengenai modus pembakaran

pasar oleh suatu oknum pada beberapa kota, di sini

dicontohkan yaitu pasar legi, dan rakyat merasa sangat

dirugikan.

7) Balada Faridah dan Mbah Jiwo

Pada tema ini Emha membahas mengenai kasus

kemanusiaan di mana seorang nenek yang bernama mbah Jiwo

membunuh seorang anak yang bernama Faridah, kemudian

badannya dimutilasi. Di sini Emha juga mengajak pembaca

berpikir lagi mengenai kasus ini.

8) Cerdas, terampil, dan jujur, tapi melarat

Pada tema ini disuguhkan curhatan seorang pemilik

bengkel motor tentang pekerjanya kepada Emha. Pekerja yang

diceritakan merupakan pekerja yang cerdas, terampil dan jujur,

namun karena sifatnya itu dia malah merugikan sang pemilik

bengkel. Pada bagian ini kemudian Emha menyerahkan

kembali keputusan kepada pemilik bengkel, jika dia mau jadi

kapitalis maka campakkan dia. Namun jika masih ingin

menjadi manusia, jadikan dia sahabat sejati yang menawarkan

penyelamatan kemanusiaan juga kemelaratan.

Page 78: NILAI-NILAI PENDIDIKAN KARAKTER DALAM BUKU …e-repository.perpus.iainsalatiga.ac.id/5761/1/Lutfi Isnan Romdloni... · NILAI-NILAI PENDIDIKAN KARAKTER DALAM BUKU GELANDANGAN DI KAMPUNG

64

9) Darah dagingku riba

Pada bagian tema ini berisi mengenai curhatan

mahasiswa melalui surat kepada Emha. Mahasiswa itu curhat

mengenai bapaknya yang pedagang mencampurkan antara

barang bagus dengan yang jelek, sementara bapaknya memberi

harga seolah-olah semuanya adalah barang yang bagus, dan

pembeli tidak diberi tahu bahwa barang itu campuran. Si

mahasiswa resah akan hal itu, karena semua makan, minum,

dan biaya hidupnya berasal dari hal tersebut. Kemudian

dibagian akhir emha memberikan simpulan bahwa mahasiswa

tersebut tidak usah meratap, dia harus bersyukur karena dalam

dirinya mengalami perbaikan-perbaikan.

10) Kontraktor pembangunan

Tema ini menceritakan mengenai sesorang yang akan

dilantik menjadi wali kota, yang beberapa hari sebelum dilantik

dia berkunjung ke rumah kakanya yang bekerja sebagai penjual

barang kelontong di sebuah toko kecil, di sana sang kakak

menasehati banyak hal kepada adiknya tersbut mengenai

kedudukannya sebagai wali kota.

11) Leher kambing si miskin

Pada tema ini Emha bercerita mengenai kepemimpinan

Rasulullah yang mengedepankan Uswatun Khasanah, teladan

hidup yang bersih dan konsisten. Di tema ini banyak

Page 79: NILAI-NILAI PENDIDIKAN KARAKTER DALAM BUKU …e-repository.perpus.iainsalatiga.ac.id/5761/1/Lutfi Isnan Romdloni... · NILAI-NILAI PENDIDIKAN KARAKTER DALAM BUKU GELANDANGAN DI KAMPUNG

65

disampaikan mengenai kesederhanaan Nabi, dan tetang

bagaimana ia menjadi sorang pemimpin yang baik.

12) Memasak nasi dengan doa dan asap dupa

Pada tema ini berisi mengenai seorang mahasiswa yang

bercurhat kepad Emha tentang perilaku ayahnya yang

cenderung mengaitkan segala sesuatu dengan perdukunan,

terutama di sini ayahnya resah tentang anaknya yang tak

kunjung lulus kuliah dikarenakan skripsinya yang tak jadi-jadi.

Kemudian sang ayah mengajak anak ke tempat dukun. Di sini

Emha memberikan pemikiran tentang sikap yang harus

dilakukan oleh mahasiswa tersebut. Dan memberikat beberapa

nasihat untuk segera menyelesaikan skripsinya.

13) Memungut yang dibuang

Pada tema ini berisi tentang curahan hati Emha tentang

kehidupannya, pada saat beliau sakit tetapi masih banyak tamu

dari berbagai macam orang dengan sikap dan keunikannya

masing-masing, Emha selalu berusaha untuk menyambut tamu

itu dengan baik meskipun tubuhnya masih sakit. Di akhir tema

dia mendeskripsiakn mengenai dikap sosial dalam masyarat.

14) Matahari siap dijual

Pada tema ini Emha membahas mengenai surat yang

dikirim oleh seorang seniman atau sastrwan, sang seniman

Page 80: NILAI-NILAI PENDIDIKAN KARAKTER DALAM BUKU …e-repository.perpus.iainsalatiga.ac.id/5761/1/Lutfi Isnan Romdloni... · NILAI-NILAI PENDIDIKAN KARAKTER DALAM BUKU GELANDANGAN DI KAMPUNG

66

tersebut menulis puisi kepada Emha yang kemudian dipaparkan

maknanya oleh beliau.

15) Gelandangan dikampung sendiri

Pada tema ini Emha menceritakan mengenai nasib

sebuah kelompok pemain film di Indonesia saat itu, di mana

mereka ditekan oleh penguasa dan diremehkan oleh sebagian

orang. Di sini Emha berpendapat ini memang titik sejarah yang

harus di lewati.

16) Orang kecil orang biasa

Pada tema ini dikemukakan rasa syukur Emha terhadap

Allah atas apa yang diterimanya sekarang. Emha bersyukur atas

nikmat yang Allah berikan terhadapnya, atas keadaannya yang

sekarang.

17) Bayi kok jadi DPR

Pada tema ini membahas mengenai intropeksi terhadap

diri sendiri di mana sesorang sering menyalahkan sikap orang

lain tapi membenarkan diri sendiri. Kemudian pada akhir tema

ini mengungkap tentang ketidak tahuan kita tentang apa yang

sebenernya terjadi di dalam pemerintahan.

18) Kiai ndableg jatuh cinta

Pada tema ini berisi mengenai sajak-sajak Emha

mengenai cintanya terhadap berbagai macam lini aktivitas

kemasyaraktan yang yang terjadi, sekaligus beliau sedikit

Page 81: NILAI-NILAI PENDIDIKAN KARAKTER DALAM BUKU …e-repository.perpus.iainsalatiga.ac.id/5761/1/Lutfi Isnan Romdloni... · NILAI-NILAI PENDIDIKAN KARAKTER DALAM BUKU GELANDANGAN DI KAMPUNG

67

mengkritik orang-orang yang tahu akan akhirat tetapi mereka

tetap mementingkan dunianya.

19) Lalu lintas dunia ketiga.

Pada tema ini membahas mengenai akan

diberlakukannya Undang-Undang Lalu Lintas, dan menitik

beratkan kepada oknum pemerintah. Di sini Emha

mengibaratkannya dengan cerita pewayangan dan

membandingkannya dengan wanita tuna susila. Di akhir tema

beliau berpendapat bahwa jangan semena-mena dalam

membuat Undang-Undang.seolah Negeri ini sama dengan

Negeri lain.

b. Pengaduan II yang berisi subtema sebagai berikut :

Pengaduan II ini Emha menuliskan tentang banyak curhan

hati dari berbagai kalangan kepada Emha melalui surat-surat yang

diterimanya.

1) Para patriot 1

Pada tema ini dibahas mengenai seorang pemuda pekerja

keras, yang seorang mahasiswa yang ikut membantu

perekonomian orang tuanya. Di sini juga membahas mengenai

ibu-ibu yang bentrok dengan suaminya mengenai masalah

keyakinan agamanya serta problem rumah tangganya.

Page 82: NILAI-NILAI PENDIDIKAN KARAKTER DALAM BUKU …e-repository.perpus.iainsalatiga.ac.id/5761/1/Lutfi Isnan Romdloni... · NILAI-NILAI PENDIDIKAN KARAKTER DALAM BUKU GELANDANGAN DI KAMPUNG

68

2) Para patriot 2,

Pada awal tema ini di bahas tentang curhatan seorang

pendeta kepada Emha mengenai penanganan bencara di Flores.

Di akhir tema dibahas mengenai seorang siswa yang kesulitan

ekonomi. Namun Emha menasehati untuk tidak meminta.

Masih ada solusi lain, yaitu dengan bekerja keras.

3) Para patriot 3

Pada tema ini di ceritakan mengenai seorang pelajar

SMA yang meminta mesin ketik untuk pengembangan bidang

tulis menulis baginya. Di sini Emha mengkritik dimana seorang

janganlah pasrah sebelum dia bekerja keras untuk mencapai

apa yang dia inginkan.

4) Para patriot 4

Pada awal tema ini juga masih membahas mengenai

kesulitan ekonomi dalam pendidikan. Di sini ditulis kenapa

lembaga pendidikan memproduksi banyak problem.

5) PRT

Pada tema ini membahas mengenai curahan hati seorang

pembantu rumah tangga kepad Emha. Pembantu itu dipandang

rendah orang-orang di sekitarnya, terutama adalah juragannya

yang meiliki ilmu pengetahuan. Namun ia menjadi bersyukur

ketika ia melihat anak yang cacat.

Page 83: NILAI-NILAI PENDIDIKAN KARAKTER DALAM BUKU …e-repository.perpus.iainsalatiga.ac.id/5761/1/Lutfi Isnan Romdloni... · NILAI-NILAI PENDIDIKAN KARAKTER DALAM BUKU GELANDANGAN DI KAMPUNG

69

6) Bersalaman dengan gadis gila

Dalam tema ini berisi Emha yang mendapat surat

permintamaafan oleh segerombolan anak muda yang

berpenampilan jauh dari hedonisme. Di mana mereka tidak

mau bersalaman dengan seorang gadis gila. Hal itu membuat

Emha meledak-ledak, karena menurutnya hal tersebut tidak

memelihara bebrayan sosial.

7) Oknum

Pada tema ini mencoba untuk berkonsultasi dengan

pembaca mengenai curahan hati seorang ibu yang sedang

bermasalah dengan sang suami yang suka berselingkuh dengan

orang lain, yang padahal suaminya tersebut adalah orang yang

sering meminpin doa. Akan ada kabar bahwa suaminya terjerat

kasus korupsi. Emha berpendapat bahwa sang ibu harus tegas

menabrak dengan memperjuangkan hak pisah atau

menghimpun energi untuk menuntun suaminya menuju khusnul

khotimah.

8) Polsek dan Nabi Khidir

Pada tema ini Emha membahas lagi mengenai kasus

mbah Jiwo lagi, di mana beliau mengajak pembaca mengingat

mengenai kisah Nabi Ibrahim, Ismail dan Khidir. Kemudian

beliau membandingkannya dengan kisah mbah Jiwo di

Probolinggo tersebut.

Page 84: NILAI-NILAI PENDIDIKAN KARAKTER DALAM BUKU …e-repository.perpus.iainsalatiga.ac.id/5761/1/Lutfi Isnan Romdloni... · NILAI-NILAI PENDIDIKAN KARAKTER DALAM BUKU GELANDANGAN DI KAMPUNG

70

9) Terhapus, terbuang

Pada tema ini Emha membahas mengenai import tenaga

asing dan masalah penembak misterius atau petrus. Di sini

dijabarkan mengenai mungkin pemerintah menganggap rakyat

sebagai anak kecil, rakyat belum cukup umur ataupun belum

siap mental untuk mengetahui realitas yang sebenarnya.

10) Kepada siapakah engkau mengeluh?

Pada tema ini dibahas mengenai keluhan-keluhan yang

terjadi di masyarakat, seperti hutang, di PHK, masalah

ekonomi. Di akhir kata Emha memberi nasehat untuk berkeluh

kesah hanyalah kepad Allah saja.

11) Independen.

Pada pembahasan ini di terangkan mengenai Emha yang

berafiliasi ke suatu partiai politik pada tahun 3 Juni 1992. Di

mana partai tersebut merupakan partai kecil masa itu. Walau

begitu Emha hanya membantu saja di partai tesebut, tidak ikut

di dalamnya secara langsung. Karena Emha tetap independent.

c. Ekspresi yang berisi subtema sebagai berikut :

Dibagian ini ditulis mengenai cerita beberapa tokoh-tokoh di

Indonesia serta beberapa kalangan pemuda serta mahasiswa.

1) Ai! Jijik, ai

Pada tema ini membahas mengenai penolakan Indonesia

terhadap bantuan yang akan diberikan oleh negara Belanda, di

Page 85: NILAI-NILAI PENDIDIKAN KARAKTER DALAM BUKU …e-repository.perpus.iainsalatiga.ac.id/5761/1/Lutfi Isnan Romdloni... · NILAI-NILAI PENDIDIKAN KARAKTER DALAM BUKU GELANDANGAN DI KAMPUNG

71

sini banyak para tokoh berpendapat mengenai kebijakan

pemerintah yang menolak bantuan dari Belanda tersebut.

2) Ilmu penyakit dan ilmu sakit

Pada tema ini membahas mengenai salah satu tokoh

masyarakat ysng bernama pak kunto, selain itu juga dibahas

mengenai hakikatnya orang sakit dan penyakit itu sendiri.

3) Negara teater modern dan negara teater rakyat

Pada tema ini membahas mengenai sepak terjang Nirwan

dewanto dalam Kongres Kebudayaan Nasional.yang secara tak

sengaja mewakili wilayah pinggiran orde. Dan di sini dibahas

mengenai sesungguhnya rakyat memiliki kemandirian dan

kepribadian yang tak diharus di desain oleh penguasa.

4) Konvensionalisme gusdur

Pada tema ini tema ini Emha membahas mengenai Gus

Dur yang berulah lagi, Emha mencoba untuk menerangkan

tentang apa yang sedang Gus Dur lakukan serta ucapan-ucapan

dari Gus Dur yang berbeda dari orang lain.

5) Kepentingan oknum dan sindrom ketertindasan

Pada tema ini membahas mengenai dikotomi dalam cara

pandang, Emha berpendapat bahwa sebagai rakyat tidak boleh

berpikir secara subjektif. Dengan tujuan antara pemerintah dan

rakyat terjalin romantisme. Rakyat harus sadar akan politik ego

oleh sebagian oknum yang merugikan nama baik pemerintah.

Page 86: NILAI-NILAI PENDIDIKAN KARAKTER DALAM BUKU …e-repository.perpus.iainsalatiga.ac.id/5761/1/Lutfi Isnan Romdloni... · NILAI-NILAI PENDIDIKAN KARAKTER DALAM BUKU GELANDANGAN DI KAMPUNG

72

6) ”Inzar” pak pandam

Pada tema ini membahas mengenai pak pangdam atau

pak Hartono dalam menghadapi demonstran. Dalam tema ini

pula Emha mengkaji mengenai kesalahan presepsi seseorang

dalam memandang posisi sesorang ketika di luar dari

pekerjaannya.

7) ”Sawang sinawang” politik

Pada tema ini dibahas mengenai saling pandang dalam

politik, di mana Emha membaginya dalam sisi positif yang

mengendalikan empati antar sesama manusia dalam pergaulan

dan sisi negatif yang membuat subjektivisme, egosentrisme,

atau kesepihakan seseorang yaitu seseorang hanya menerima

orang lain sejauh hasil dari pendangannya sendiri.

8) Budaya takut

Pada tema ini dibahas mengenai budaya takut, yaitu

budaya takut untuk berbeda, takut untuk melangkahkan kaki

kearah yang berbeda, takut akan hilangnya kekuasaan, karena

ketakutan ini merupakan turun temurun sejak kanak-kanak

dididik untuk takut dengan berbagai hal.

9) Mendemontrasikan demokrasi

Pada tema ini demontrasi oleh mahasiswa untuk menolak

adanya senat mahasiswa perguruan tinggi yang di curigai

merupaka rekayasa yang dilakukan oleh kalangan atas.

Page 87: NILAI-NILAI PENDIDIKAN KARAKTER DALAM BUKU …e-repository.perpus.iainsalatiga.ac.id/5761/1/Lutfi Isnan Romdloni... · NILAI-NILAI PENDIDIKAN KARAKTER DALAM BUKU GELANDANGAN DI KAMPUNG

73

Uniknya demontrasi tersebut dilakukan dengan cara mogok

makan, dan demontrasi tersebut juga di demo oleh sebagian

mahaiswa yang lain. Di sini Emha menjelaskan mengenai

budaya demontrasi dan penting kritik untuk keseimbangan

demokrasi.

10) Kaum muda yang menggemaskan.

Pada tema ini membahas mengenai kaum-kaum pemuda

yang melakukan unjuk rasa memprotes suatu kasus. Di sini

Emha mencoba memberi pemahaman kepada kaum tua untuk

memberi empati kepada kaum muda di mana anak muda

memang belum mengerti asam garam kehidupan, sebagai kaum

tua seharusnya memberikan contoh yang baik kepada generasi

selanjutnya.

d. Visi yang berisi sebagai berikut :

Pada tema visi ini berisi mengenai kisah seorang guru

bernama Mataki yang sangat kritis dalam melihat kondisi dari

desanya. Guru ini memiliki sikap yang berbeda dari kebanyakan

orang lainnya, di mana pak guru Mataki tersebut tidak memandang

posisinya sebagai guru dalam menjalani hidupnya, yang menurut

masyarakat saat itu guru selalu berposisi tinggi, seorang priayi dan

lebih tinggi dari pekerja kasar. Di lain pihak juga ada yang

mendukung apa yang dilakukan oleh pak Mataki tersebut karena

mengarkan panutan yang baik bagi masyarakat sekitarnya.

Page 88: NILAI-NILAI PENDIDIKAN KARAKTER DALAM BUKU …e-repository.perpus.iainsalatiga.ac.id/5761/1/Lutfi Isnan Romdloni... · NILAI-NILAI PENDIDIKAN KARAKTER DALAM BUKU GELANDANGAN DI KAMPUNG

74

Selain itu di sini diceritakan tentang desa pak Mataki yang

kedatangan mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN), dimana pak

Mataki mengalami perasaan yang campur aduk atas kedatangan

mereka. Pertama pak Mataki bersimpati atas niat baik mereka,

kedua pak Mataki terharu karena bagaimanapun mahasiswa

tetaplah anak kecil di tengah usia tua peradaban masyarakat desa,

dan yang terakhir adalah menggelikan karena mahasiswa

membawa sejumlah ide dari yang disebut kemajuan yang sungguh-

sungguh tidak dibutuhkan oleh rakyat desa itu.

Kemudian yang paling menonjol diceritakan pada tema visi

ini adalah tentang pemikiran-pemikiran kritis dan sepak terjang pak

Mataki dalam menghadapi berbagai permasalahan didesanya

seperti masalah wanita karis, masalah lurah muda yang baru

menjabat, dalam masalah pertanian, UMKM desa.

4. Amanat

Menurut Wiyanto dalam Diyah (2017: 49), mendefinisikan

amanat adalah unsur pendidikan, terutama pendidikan moral, yang

ingin disampaikan oleh pengarang kepada pembaca lewat karya sastra

yang ditulisnya. Unsur pendidikan ini tentu saja tidak disampaikan

secara langsung. Pembaca karya sastra baru dapat mengetahui unsur

pendidikannya setelah membaca seluruhnya.

Amanat dari buku Gelandangan di Kampung Sendiri ini adalah

sebagai berikut:

Page 89: NILAI-NILAI PENDIDIKAN KARAKTER DALAM BUKU …e-repository.perpus.iainsalatiga.ac.id/5761/1/Lutfi Isnan Romdloni... · NILAI-NILAI PENDIDIKAN KARAKTER DALAM BUKU GELANDANGAN DI KAMPUNG

75

a. Menjadi seseorang haruslah independen dan mandiri terhadap

dirinya sendiri, jangan terlalu bergantung terhadap orang lain,

seperti dalam kutipan berikut:

“Ia putra keenam dari sembilan bersaudara, menegerti kedua

orang tuanya memanggul beban terlampau berat sehingga

memutuskan ikut mengarungi beban itu. Setidaknya mungkin ia

malu: wong mahasiswa itu agent of social change, elite

intelektual dan calon pemimpin bangsa, kok, numpang makan

dan minta biaya sekolah kepada orang tua yang pendidikannya

rendah dan melarat? Masak ujung tombak era instrialisasi dan

globalisasi nyusu pada orang agraris-tradisional?” (Emha,

2018: 114).

b. Menjadi wakil rakyat bukan berarti menjadi atasan rakyat, tapi

dengan menjadi wakil rakyat haruslah mengerti keinginan rakyat.,

sebagaimana dalam kutipan berikut ini:

“Kamu pikir rakyat itu siapa? Rakyat itu bosmu! Rakyat itu

juragan dan pemilik negara ini. Kamu sebagai wali kota hanya

berpartisipasi sebagai kontraktor pembangunan yang diupah

oleh rakyat. Wali kota itu buruhnya masyarakat. Wali kota dan

semua pejabat itu hamba sahaya. Wali kota dan keluarganya

bisa makan karena dibayar rakyat. Yang punya segala kekayaan

bumi negari ini rakyat. Yang punya uang pajak dan semua

devisa negara itu rakyat. Pokoknya, kalian para pejabat itu

jongosnya rakyat. Namun jangan khawatir, rakyat itu juragan

yang baik. Tidak pernah ada rakyat yang memperbudak jongos-

jongosnya. Malahan yang banyak adalah jongos-jongos yang

memperbudak rakyat, padahal rakyat sesungguhnya adalah

juragan mereka” (Emha, 2018: 62).

c. Bersyukur terhadap nikmat yang diberikan oleh Allah,

sebagaimana dalam kutipan berikut:

“Salah satu rahmat Allah yang amat saya syukuri tak habis-

habisnya adalah bahwa Ia senantiasa melapangkan jalan bagi

saya untuk tetap menjadi orang kecil, orang biasa” (Emha, 2018:

90).

5. Sinopsis

Page 90: NILAI-NILAI PENDIDIKAN KARAKTER DALAM BUKU …e-repository.perpus.iainsalatiga.ac.id/5761/1/Lutfi Isnan Romdloni... · NILAI-NILAI PENDIDIKAN KARAKTER DALAM BUKU GELANDANGAN DI KAMPUNG

76

Buku ini berisi mengenai kritik-kritik sosial dan dikemas dalam

dialog-dialog unik oleh pengarang sebagian besar isi buku adalah

pengalaman pribadi dari pengarang buku, kemudian setelah dialog

dipaparkan pendapat-pendapat pengarang mengenai masalah-masalah

yang dijadikan dialog ataupun monolog

Dalam buku ini dipaparkan mengenai para pejabat yang salah

sangka terhadap rakyat dan dirinya sendiri. Mereka menyangka bahwa

mereka adalah atasan rakyat, sementara rakyat mereka kira bawahan.

Mereka merasa tinggi dan rakyat itu rendah. Maka, mereka merasa sah

dan tidak berdosa kalau memaksakan kehendak mereka atas rakyat

karena mereka yang berhak membuat peraturan. Rakyat hanya punya

kewajiban untuk menaatinya. Seperti tatanan dunia yang dibalik.

Karena hak atas segala aturan seharusnya ada ditangan rakyat. Kalo

rakyat tidak setuju itu artinya bos tidak setuju. Rakyat adalah pemilik

pembangunan.

Page 91: NILAI-NILAI PENDIDIKAN KARAKTER DALAM BUKU …e-repository.perpus.iainsalatiga.ac.id/5761/1/Lutfi Isnan Romdloni... · NILAI-NILAI PENDIDIKAN KARAKTER DALAM BUKU GELANDANGAN DI KAMPUNG

77

BAB IV

PEMBAHASAN

A. Deskripsi Nilai-Nilai Pendidikan Karakter pada Buku Gelandangan di

Kampung Sendiri

Nilai Pendidikan Karakter pada buku Gelandangan di Kampung

Sendiri karya Emha Ainun Nadjib ini banyak disajikan dalam bentuk

dialog serta cerita yang dialami oleh Emha Ainun Nadjib secara langsung

dan respon Emha Ainun Nadjib dalam menyikapi suatu masalah dalam

dialog tersebut.

Kalimat yang digunakan oleh penulis buku mudah dipahami bagi

kalangan akademisi, dan pengarang buku juga berusaha untuk mengajak

pembaca untuk terlibat dan berpikir pada masalah yang ada di dalam buku.

Penulis akan menjabarkan nilai-nilai pendidikan karakter yang

terdapat pada buku Gelandangan di Kampung Sendiri, sebagai berikut:

1. Religius

Religius dalam bersikap sangat penting dalam kehidupan ini, di

mana karakter ini mencerminkan kepatuhan seseorang terhadap ajaran

agamanya. Pada buku Gelandangan di Kampung Sendiri ini terdapat

kutipan yang menunjukkan nilai pendidikan karakter yaitu religius. Hal

tersebut terdapat pada kutipan berikut:

“Masyarakat tidak tahu harus membawa keluhan mereka kemana

dan kepada siapa lagi. Maka, harapan kami hendaklah keluhan

ini tidak didiamkan, melainkan disuarakan, sesuai kepengasuhan

dan kasih sayang Tuhan” (Emha, 2018: 14).

Page 92: NILAI-NILAI PENDIDIKAN KARAKTER DALAM BUKU …e-repository.perpus.iainsalatiga.ac.id/5761/1/Lutfi Isnan Romdloni... · NILAI-NILAI PENDIDIKAN KARAKTER DALAM BUKU GELANDANGAN DI KAMPUNG

78

“Tuhan Allah pasti dengan gampang bisa menjawab soal-soal

“rutin seperti ini. Namun ia telah mendelegasikam

pengelolaannya kepada pengurus-pengurus dunia yang

diciptkan-Nya: lembaga-lembaga sosial, institusi keagamaan,

organisasi kemsyarakatan, dan sebagainya” (Emha, 2018: 16).

“Dan mestinya, demikianlah pula yang disebut dengan teater

pancasila, yang tidak hanya mengutamakan dan menggali

muatan dari sumber nilai keadilan dan kesejahteraan bersama,

tetapi melandasi seluruhnya pada nilai kemanusiaan dan

regiositas ketuhanan” (Emha, 2018: 26-27).

“Ilmu manusia, ilmu kita sangatla terbatas. Tiap hari kita

membaca dan mendengar tentang George Bush, tentang hari

bumi di Brazil atau tentang suara-suara di Surabaya dan Jakarta.

Namun sekedar mendengar dan membaca. Selebihnya kita tidak

mengerti persis. Hanya sunyi sembahyang kita, yang insha Allah

menunjukkan mana yang sejati mana yang palsu? ” (Emha, 2018:

46).

“Yang pertama mesti dilakukan oleh mahasiswa kita ini adalah

mensyukuri hidayah Allah, bahwa di tengah lingkungan yang

sekuler-abangan-klenik, malah lahir dalam dirinya dambaan-

dambaan serius untuk mengislamkan darah daging jiwa

raganya” (Emha, 2018: 71).

“Salah satu rahmat Allah yang amat saya syukuri tak habis-

habisnya adalah bahwa Ia senantiasa melapangkan jalan bagi

saya untuk tetap menjadi orang kecil, orang biasa” (Emha, 2018:

90).

“Aku jatuh cinta kepada-Mu, ya Allah sebab aku mencintai

mereka. Dan aku jatuh cinta kepada mereka, ya Kekasih, sebab

aku mencintai-Mu” (Emha, 2018: 103).

Pada kutipan-kutipan di atas menunjukkan karakter religius di

mana sikap dan perilaku yang patuh dalam melaksanakan ajaran agama

yang dianutnya. Di dalam kutipan tersebut terdapat karakter bersyukur,

pasrah dan semangat dalam menjalankan ajaran agamanya.

Page 93: NILAI-NILAI PENDIDIKAN KARAKTER DALAM BUKU …e-repository.perpus.iainsalatiga.ac.id/5761/1/Lutfi Isnan Romdloni... · NILAI-NILAI PENDIDIKAN KARAKTER DALAM BUKU GELANDANGAN DI KAMPUNG

79

2. Jujur

Jujur merupakan karakter yang terpuji, tanpa kejujuran seseorang

akan menimbulkan kebohongan baik bagi dirnya sendiri maupun orang

lain. Pada buku Gelandangan di Kampung Sendiri ini terdapat kutipan

yang menunjukkan nilai pendidikan karakter yaitu jujur. Hal tersebut

terdapat pada kutipan berikut:

“Sebagai putrinya, saya telah berusaha menasehati Bapak, juga

berdoa kepada Tuhan agar beliau menghentikan kecurangan itu.

Namun, Bapak terus saja,padahal makan minun, dan biaya hidup

saya berasal dari kecurangan ini. Saya jadi merasa bahwa diri

saya juga berdosa. Bahwa seluruh perbuatan baik saya, sholat,

puasa, dan amal-amal saya tidak ada gunanya. Darah daging

saya ini riba, haram” (Emha, 2018: 55-56).

“Logika dan moralitas Muhammad terbalik bagi kita. Sebelum

menjadi nabi dan pemimpin , Muhammad membuktikan dulu

perilaku yang terpercaya (al-amin), menjadi sales yang jujur dan

menjaga setiap ucapannya. Kemudian setelah jadi nabi malah

berhenti berdagang. Padahal mestinya menurut gaya hidup kita

yang maju dan modern sesudah tercapai menjadi pengusaha

itulah justru peluang amat luas untuk menggunungkan omzet

dagang” (Emha, 2018: 67-68).

“Ada rambu SARA, yang penafsiran atasnya selalu kabur dan

berdasarkan subjektivisme kekuasaan, dan sebagainya. Itu senua

membuat kita sering terpaksa menyembunyikan kejahatan,

melindungi kebobrokan, atau menutup-nutupi kekejaman. Kita

sungguh-sungguh belum lulus dalam hal menentukan strategi

aplikasi dari filosofi demokrasi, keterbukaan, atau yang dalam

agama disebut qulil haqqa walau kana nurran. Katakan yang

benar, meskipun pahit. Yang benar tentang kebenaran, maupun

yang benar tentang kejahatan” (Emha, 2018: 133).

Pada kutipan-kutipan di atas terdapat nilai karakter jujur yaitu

untuk senantiasa berbuat jujur, jujur dalam bersikap serta menjaga

setiap ucapannya, jangan pernah menutup-nutupi kekejaman ataupun

kebobrokan, dan katankan yang benar walaupun itu pahit.

Page 94: NILAI-NILAI PENDIDIKAN KARAKTER DALAM BUKU …e-repository.perpus.iainsalatiga.ac.id/5761/1/Lutfi Isnan Romdloni... · NILAI-NILAI PENDIDIKAN KARAKTER DALAM BUKU GELANDANGAN DI KAMPUNG

80

3. Toleransi

Indonesia merupakan negara yang berdiri atas banyak suku,

bangsa, dan agama, dengan adanya toleransi maka akan tetap terjaga

persatuan yang berbeda-beda ini. Pada buku Gelandangan di Kampung

Sendiri ini terdapat kutipan yang menunjukkan nilai pendidikan

karakter yaitu toleransi. Hal tersebut terdapat pada kutipan berikut:

“Seorang pendeta di Tarus, Kupang, Nusa Tenggara Timur, yang

saya pernah senda gurau dengannya semalam-malaman,

menginginkan anggotanya dalam organisasi pengembangan

masyarakat agar pergi ke pulau Flores yang ditimpa bencana,

untuk melihat apa-apa yang mereka bantu” (Emha, 2018: 117).

“Ibarat kalau ada orang kejet-kejet ditabrak truk, segera saja

Anda menolongnya, tak usah dulu tanya korban apa agamanya,

apa maadzhabnya, apa alirannya, dan apa proposalnya” (Emha,

2018: 118).

“Ketika berhadapan dengan komunitas Kristiani, termasuk para

pendeta dan pastor, di sebuah kota Indonesia bagian timur

beberapa minggu lalu , saya diprotes tentang islamisasi di Timor

Timur. Saya hanya menjawab dengan kejujuran,bahwa

islamisasi, seperti juga kristenisasi, adalah resiko dan tanggung

jawab normal dari keimanan. Bagi Kristen, mengkristenkan

orang adalah menyelamatkan dari murka Allah. Kedua jenis

iman itu, meskipun berbenturan, sebaiknya tidak dilihat sebagai

konflik, tetapi sebagai dinamika, dialog, dan kompetisi yang

wajar. Persoalannya bagaimana me-menage aturan main

nasional dengan mekanisme saling kontrol yang seadil-adilnya”

(Emha, 2018: 174-175).

“Kata orang Jawa, hidup ini sawang-sinawang. Kata orang

Islam, tawashau bil-haq wa tawashau bi-shabr. Saling bercermin,

saling ingat mengingatkan dalam hal kebenaran dan kesabaran.

Bangsa, suku, dan agama lain pasti juga punya jargon filosofi

semacam itu, yang saya belum memperoleh informsinya. Namun,

jelas bahwa baik dalam pergaulan sehari-hari, bermasyarakat,

maupun dalam mekanisme kehidupan bernegara, filosofi itu

sangat diperlukan. Hanya saja penerjemahnya secara sistematik

berbeda-beda” (Emha, 2018: 200).

Page 95: NILAI-NILAI PENDIDIKAN KARAKTER DALAM BUKU …e-repository.perpus.iainsalatiga.ac.id/5761/1/Lutfi Isnan Romdloni... · NILAI-NILAI PENDIDIKAN KARAKTER DALAM BUKU GELANDANGAN DI KAMPUNG

81

Pada kutipan-kutipan di atas terdapat nilai karakter toleransi yaitu

saling menghargai antar umat beragama kehidupan berbangsa dan

bernegara, dalam menolong sesorang tanpa janganlah memandang

perbedaan serta saling ingat mengingatkan dalam hal kebenaran.

4. Kerja keras

Kerja keras merupakan upaya sungguh-sungguh dalam mencapai

tujuannya, di mana seseorang akan berusaha mencapainya dengan

sebaik mungkin. Pada buku Gelandangan di Kampung Sendiri ini

terdapat kutipan yang menunjukkan nilai pendidikan karakter yaitu

kerja keras. Hal tersebut terdapat pada kutipan berikut:

“Sejak pukul satu tengah malam, ibu-ibu di Srandakan, Bantul,

sudah menyiapkan dagangannya yang kemuudian mereka

panggul di punggung lalu jalan kaki dua puluh kilometer ke

Pasar Kota Yogyakarta, berjuang sampai siang untuk

memperoleh seribu-duaribu rupiah.” (Emha, 2018: 9).

“Sekarang juga mereka harus makan, beli sabun cuci, dan

membersihkan WC. Tak bisa menunggu hasil perjuangan

nasional. Maka, mereka harus kerja keras sekarang juga:

berangkat kerja ke ladang dari pukul enam pagi hingga senja

menjelang” (Emha, 2018: 11).

“Apa yang kita perjuangkan terutama adalah etos kerja,

kesediaan untuk bekerj keras dan kejam kepada diri sendiri,

bukan memimpikan fasilitas. Salah satu wujud kreativitas adalah

kesanggupan bekerja maksimal dalam kondisi dan fasilitas yang

minimal” (Emha, 2018: 122).

“Pak Guru Mataki mengajarkan mental kerja, bukan hanya

pandai menghafal isi pelajaran sekolah yang mereka belum tentu

paham. Pak Mataki memberi contoh jangan malu mengerjakan

apa saja, asal halal dan baik bagi masyarakat maupun dirinya

sendiri” (Emha, 2018: 213).

“Oh,Pak Dayik! Siapa gerangan Pak Dayik? Ia rakyat kecil yang

lugu. Juga lugu dalam segala macam obsesi dan mimpi-

Page 96: NILAI-NILAI PENDIDIKAN KARAKTER DALAM BUKU …e-repository.perpus.iainsalatiga.ac.id/5761/1/Lutfi Isnan Romdloni... · NILAI-NILAI PENDIDIKAN KARAKTER DALAM BUKU GELANDANGAN DI KAMPUNG

82

mimpinya. Sejak masa mudanya ia adalah aktivis dusunyang

jasanya besar terhadap penduduk. Ia bagian disuruh-suruh oleh

siapa saja, baik Pak Lurah, para pamong, serta orang-orang

kaya dan terpandang, meski statusnya tidak jelas. Ia pekerja

keras. Disuruh mamanjat kelapa ya mau, disuruh beli obat di

pasar kecamatan juga mau, disuruh jaga rumah juga mau.

Pokokny apa saja, asal jangan diajak merampok atau

memperkosa (Emha, 2018: 241).

Pada kutipan-kutipan di atas terdapat nilai karakter kerja keras

sebagai sebagai contoh adalah seorang ibu-ibu yang bekerja keras untuk

mendapat beberapa rupiah untuk menghidupi keluarganya. Ibu-ibu itu

rela sejak pukul satu malam menyiapkan dagangannya, lalu

memanggulnya dengan jalan kaki dua puluh kilometer ke pasar

berjuang sampai siang, pak Mataki yang mengajarkan muridnya untuk

bekerja tanpa malu asal halal dan baik bagi masyarakat maupun dirinya

sendiri, dan Pak Dayik yang bekerja keras melakukan apa saja untuk

obsesi mimpi-mimpinya.

5. Kreatif

Kreatif untuk menghasilkan hal baru sangat dibutuhkan,

penemuan-penemuan yang sekarang kita nikmati sekarang ini adalah

salah satu hasil kreatifitas ilmuan pada masa lampau. Seiring

berjalannya waktu tentu saja ide kreatif akan selalu berpartisipasi aktif

dalam kehidupan. Pada buku Gelandangan di Kampung Sendiri ini

terdapat kutipan yang menunjukkan nilai pendidikan karakter yaitu

kerja kreatif. Hal tersebut terdapat pada kutipan berikut:

“Maksud saya, dari pada kalau nganggur-nganggur hanya diisi

dengan joget dangdut atau ngramal buntutan, mungkin bisa

mendayagunakan proses teater untuk menatar diri mereka sendiri

Page 97: NILAI-NILAI PENDIDIKAN KARAKTER DALAM BUKU …e-repository.perpus.iainsalatiga.ac.id/5761/1/Lutfi Isnan Romdloni... · NILAI-NILAI PENDIDIKAN KARAKTER DALAM BUKU GELANDANGAN DI KAMPUNG

83

mereka sendiri. Ini perlu karna proyek penataran pemerintah

tidak bisa menjangkau semua lapisan masyarakat. Jadi, kaum

buruh harus tahu cara menatar diri mereka sendiri” (Emha,

2018: 25-26).

“Ia autodidak penuh, mengembangkan pengetahuan dan

ketrampilannya sejak kanak-kanak. Kalau terknisi lain sudah

angkat tangan dia selalu menjadi pamungkas penyelesaian

problemnya. Dia juga selalu sangat kritis, dan sesekali sambil

memperbaiki mesin mobil, dia menggerutu menyalahkan

pabriknya yang dia bilang keliru mengonsep sistem-sistem

tertentu. Akan tetapi, justru karena keahliannya, dia sering kali

merugikan usaha saya. Sampai tingkat tertentu ia bisa

memperbaiki suatu onderdil dengan cara dan akal yang tak

habis-habisnya sampai layak pakai kembali” (Emha, 2018: 52).

“Oleh karena itu, ketika bagian tertentu dari suratnya ia

menyatakan bahwa sebagai ikan ia telah melompat dari

akuarium, saya hanya bisa menyatakan optimisme dan

kegembiraan bahwa ia tergolong manusia kreatif dan sadar

kemandirian” (Emha, 2018: 85.

“Maka, teater rakyat memiliki mekanisme lebih demokratis. Para

pemainnya ditantang untuk kreatif, menguasai persoalan secara

autentik.pemain-pemain ketoprak jauh lebih menguasai bahasa

dan sastra Jawa dibanding penguasa teater modern atas bahasa

dan sastra Indonesia” Emha, 2018: 172)

“Pengembilan jarak itu penting, terutama bagi masyarakat yang

berada dalam keadaan mendem atau tenggelam dalam sesuatu

yang mereka tak bisa menilainya. Pengembilan jarak dengan

demikian bisa berarti aliensi, pergeseran untuk mengasingkan

diri, dan mungkin pada saat-saat tertentu dianggap gila dan naif.

Namun memang hanya orang yang berani gila dan naif saja yang

punya peluang untuk menilai zaman ini dan memperbaikinya”

(Emha, 2018: 191).

Pada kutipan-kutipan di atas mencerminkan bahwa seseorang

dituntut untuk kreatif dalam menyampaikan keinginannya, pantang

menyerah dalam menggapai sesuatu, dan selalu mencari jalan keluar

yang kreatif dan berbeda dari orang lain.

Page 98: NILAI-NILAI PENDIDIKAN KARAKTER DALAM BUKU …e-repository.perpus.iainsalatiga.ac.id/5761/1/Lutfi Isnan Romdloni... · NILAI-NILAI PENDIDIKAN KARAKTER DALAM BUKU GELANDANGAN DI KAMPUNG

84

6. Mandiri

Pribadi yang mandiri adalah pribadi yang tak bergantung pada

orang lain, di mana bisa menjalankan tugas yang diberikan kepadanya

tanpa harus merepotkan orang lain. Pada buku Gelandangan di

Kampung Sendiri ini terdapat kutipan yang menunjukkan nilai

pendidikan karakter yaitu mandiri. Hal tersebut terdapat pada kutipan

berikut:

“Maksud saya, dari pada kalau nganggur-nganggur hanya diisi

dengan joget dangdut atau ngramal buntutan, mungkin bisa

mendayagunakan proses teater untuk menatar diri mereka sendiri

mereka sendiri. Ini perlu karna proyek penataran pemerintah

tidak bisa menjangkau semua lapisan masyarakat. Jadi, kaum

buruh harus tahu cara menatar diri mereka sendiri” (Emha,

2018: 25-26).

“Allah yang Maha Kasih masih tetap memperkenankan saya

untuk tidak terlalu terhalang oleh apa pun dalam melakukan

pekerjaan sehari-hari sebagai orang kecil. Umpamannya mandi

sendiri, menggelar tikar tidur sendiri, mencuci pakaian sarung

bantal sendiri, memasak dan meracik minuman sendiri,

memotong kuku sendiri, menyapu lantai dan halaman rumah

sendiri, memperbaiki genteng sendiri,dan sebagainya, meskipun

saya tidak sanggup memotong rambut saya sendiri” (Emha,

2018: 90).

“Ia putra keenam dari sembilan bersaudara, menegerti kedua

orang tuanya memanggul beban terlampau berat sehingga

memutuskan ikut mengarungi beban itu. Setidaknya mungkin ia

malu: wong mahasiswa itu agent of social change, elite

intelektual dan calon pemimpin bangsa, kok, numpang makan dan

minta biaya sekolah kepada orang tua yang pendidikannya

rendah dan melarat? Masak ujung tombak era instrialisasi dan

globalisasi nyusu pada orang agraris-tradisional?” (Emha, 2018:

114).

Pada kutipan di atas menunjukkan karakter mandiri yaitu

memberi nasihat kepada kaum buruh agar mereka bisa mandiri dengan

Page 99: NILAI-NILAI PENDIDIKAN KARAKTER DALAM BUKU …e-repository.perpus.iainsalatiga.ac.id/5761/1/Lutfi Isnan Romdloni... · NILAI-NILAI PENDIDIKAN KARAKTER DALAM BUKU GELANDANGAN DI KAMPUNG

85

cara menatar diri mereka sendiri dan dengan karakter mandiri ini

seseorang bisa mengurangi beban orang lain walaupun mandiri sendiri

bukan berarti tidak membutuhkan bantuan orang lain.

7. Demokratis

Karakter demokratis harus dibangun agar sesorang dapat saling

menghargai pendapat orang lain dan mengerti tentang kesamaan hak

dan kewajiban antar manusia. Pada buku Gelandangan di Kampung

Sendiri ini terdapat kutipan yang menunjukkan nilai pendidikan

karakter yaitu demokrasi. Hal tersebut terdapat pada kutipan berikut:

“Tidak harus berdiri sama tinggi duduk sama rendah, sebab

tempat keududukan direktur dengan tempat tukang sapu memang

berlainan sesuai dengan struktur pembagian kerja. Namun,

setikdaknya berat sama dipikul ringan sama dijinjing” (Emha,

2018: 22).

“Memang betul bahwa pemerintah dan lembaga perwakilan

rakyat telah diberi mandat untuk membuat aturan-aturan. Namun

hak atas segala tatanan dan aturan tetaplah di tangan rakyat”

(Emha, 2018: 63).

“Adapun dalam lakon-lakon demokrai, apalagi demokrasi

Pancasila (semacam Wahyu Makutarama Modern), setiap

penonton dituntut untuk menjadi dalang, masing-masing atau

bersama. Setiap rakyat adalah subjek pembangunan,

sebagaimana tiap pejabat adalah pekerja pembangunan yang

mengabdi kepada rakyat. Aspirasi rakyat adalah dalang utama”

(Emha, 2018: 107).

“Kita bebas menentukan sikap, tetapi objektivitas dan keadilan

sejarah juga merdeka untuk melihat siapa yang adil dan objektif

serta siapa yang adil dan subjektif dalam ber-sawang sinawang”

(Emha, 2018: 193).

“Soal topik yang muluk-muluk dan suka pakai bahasa asing itu,

kan, bisa diatasi. Toh, dalam aturan diskusi setiap peserta berhak

ikut menentukan tema yang sebaliknya diperbincangkan. Siapa

saja boleh menolah dan usul” (Emha, 2018: 220).

Page 100: NILAI-NILAI PENDIDIKAN KARAKTER DALAM BUKU …e-repository.perpus.iainsalatiga.ac.id/5761/1/Lutfi Isnan Romdloni... · NILAI-NILAI PENDIDIKAN KARAKTER DALAM BUKU GELANDANGAN DI KAMPUNG

86

“Tidak tahu apa istimewanya yang tepat. Namun, pokoknya

kedaulatan rakyat harus diterjemahkan secra objektif, jujur,

adil,dan sungguh-sungguh di segala bidang” (Emha, 2018: 276).

Pada kutipan di atas menunjukkan karakter demokratis dimana

hak satu dengan yang lainnya sama, berat sama dipikul ringan sama

dijinjing, walaupun begitu tetap pada tempatnya masing-masing.

8. Rasa Ingin Tahu

Rasa ingin tahu akan mengantarkan seseorang untuk selalu

bertanya dan mengantarkan seseorang untuk kritis di lingkungan

sekitarnya, jika karakter ini diarahkan kearah yang positif maka tentu

saja akan terbentuk karakter positif apa diri. Pada buku Gelandangan di

Kampung Sendiri ini terdapat kutipan yang menunjukkan nilai

pendidikan karakter yaitu rasa ingin tahu. Hal tersebut terdapat pada

kutipan berikut:

“Hakikat mogok itu sama dengan hakikat macetnyanya lalu

lintas. Apakah bisa dibuat undang-undang yang melarang

jalannya macet? Karena kecerdasan buruh meningkat, mungkin

akan ada yang membuka wawasan lain: “Bagaimana kalau jalan

yang ditempuh bukan pemogokan, melaikan suatu cara yang

lebih bijak?” (Emha, 2018: 23).

“Dalam pergaulan hidup ini, kita sebisa mungkin harus tahu

siapa kita, siapa orang didepan kita dan orang-orang lain di sini

dan di sana, serta harus tahu apa yang kita perbuat” (Emha,

2018: 29).

“Kita ingin tahu, kita ingin diberitahu oleh mereka yang memiliki

kemampuang dan ilmu untuk memberi tahu. Kita tidak bisa

membiarkan diri kita tidak tahu”(Emha, 2018: 40).

“Akan tetapi, bagaimana penjelasan yang melegakan tentang

mbah Jiwo? Siapa yang memerintahkan agar ia melakukan itu?

Struktur kejiwaanya yang tidak normal? Apa yang kita maksud

Page 101: NILAI-NILAI PENDIDIKAN KARAKTER DALAM BUKU …e-repository.perpus.iainsalatiga.ac.id/5761/1/Lutfi Isnan Romdloni... · NILAI-NILAI PENDIDIKAN KARAKTER DALAM BUKU GELANDANGAN DI KAMPUNG

87

normal? Normalkah kita yang menghidupi sekian banyak jenis

ktidakadilan, pengisapan, dan penindasan?” (Emha, 2018: 140).

“Allah menuntun mulut kita agar mengucapkan, Innama

asykubatstsi wa huzni illah. Aku keluhkan derita dan kesedihanku

kepada Allah. Namun bukankah Ia telah mewakilkan diri-Nya

dan tugas-tugas itu kepada kita? Akankah kita perintahkan Allah

agar mengurusi soal kenaikan harga?” Emha, 2018: 149)

“Saya tidak mengatakan bahwa kualitas mental dan etika

manusia bengsa kita dewasa ini cukup tahu diri dan bisa diubah

oleh imbauan atau sindiran, tetapi manusia senantiasa butuh

berzikir atau mengingat-ingat, bahwa benere wong akeh pun

tidak selalu benar, apalagi benere dewa yang sering dilakukan

oleh mereka dumeh lan mumpung kuwoso. Sehingga betapa perlu

semua orang, institusi, serta setiap komponen kebangsaan kita

meluangkan waktu untuk mencari bener seng sejati” (Emha,

2018: 179).

“Sebelum-menentukan ilmu dan pilihan-pilihan anak muda

terpelajar dari kota justru harus dilihat dari gejala dinamika

kreatif. Anak-anak itu berada pada fase mencari sehingga

memang selayaknya kalau kepada penduduk dusun pun mereka

mau belajar” (Emha, 2018: 219).

“Tidak hanya untuk memberi contoh dan dorongan bagi kaum

muda desa, tetapi juga karena Pak Mataki inin memiliki gairah

mencari ilmu yang sangat besar. Ia sangat bersemanagt bertanya

dan membantah atau mempertanyakan sesuatu yang tidak cocok

dengan pandangannya” (Emha, 2018: 222).

“Mumpung masih ada mahasiswa yang ber-KKN di desa kita,

katanya setiap kali kepada guru-guru lain atau siapa saja yang

dijumpainya, kita serap ilmu dan informasi dari mereka

sebanyak-banyak” (Emha, 2018: 223).

“Kalian ini anak-anak muda yang terdidik dan menjadi jauh

lebih pandai dari kami. Jadi kenapa, kalian meremehkan kami?

Kenapa kalian meminta kami orang-orang bodoh ini

menyesuaikan diri pada taraf dan displin ilmu kalian? Apa tidak

terbalik? Bukankah seharusnya orang pandai yang menyesuaikan

diri kepada orang bodoh? Apa gunanya kepandaian kalau tidak

digunakan untuk menampung orang bodoh? Apa gunanya ilmu

kalau dengan itu kalian malah meminta kami yang tak berilmu ini

untuk mengabdi kepada kalian dan selalu menyesuaikan diri

kepada kalian?” (Emha, 2018: 225).

Page 102: NILAI-NILAI PENDIDIKAN KARAKTER DALAM BUKU …e-repository.perpus.iainsalatiga.ac.id/5761/1/Lutfi Isnan Romdloni... · NILAI-NILAI PENDIDIKAN KARAKTER DALAM BUKU GELANDANGAN DI KAMPUNG

88

Pada kutipan di atas menunjukkan karakter rasa ingin tahu di

mana rasa ingin tahu tersebut memberi dampak yang positif dan

membuat seseorang kritis terhadap apa yang terjadi di lingkungannya.

9. Semangat Kebangsaan

Seseorang yang memiliki semangat kebangsaan yang tinggi akan

memiliki rasa nasionalisme yang tinggi pula. Pada buku Gelandangan

di Kampung Sendiri ini terdapat kutipan yang menunjukkan nilai

pendidikan karakter yaitu semangat kebangsaan. Hal tersebut terdapat

pada kutipan berikut:

“Sejak di taman kanak-kanak, kita selalu diajari bahwa cita-cita

yang terbaik adalah membela bangsa dan negara. Sesudah kita

dewasa, sekarang kita selalu menyadari bahwa tugas mulia kita

adalah bagaimana senantiasa menyumbangkan tenaga dan

pikiran kita untuk menyejahterakan rakyat, membela bangsa,

membahagikan mansyarakat, dan menciptakan ketentraman

sosial” (Emha, 2018: 17).

“Sebagai warga negara yang berusaha baik, saya selalu merasa

wajib mencegah segala sesuatu yang bisa meresahkan

masyarakat, meskipun yang bisa saya lakukan, ya, hanya sebatas

begini-begini saja.” (Emha, 2018: 19).

“Sejarah, peradaban, negara, dan masyarakat selalu terdiri atas

berbagai komponen yang seyogyanya saling bekerja sama. Para

negarawan, politisi, dan teknokratnya; para rohaniwan dan

ilmuan dengan segala tangan partisipasinya; juga siapapun saja

tidak hanya bisa bekerja sendirian. Pemerintah tidak bisa dan

tidak wajib bertanggung jawab seluruh persoalan manusia yang

diperintahnya sehingga ia perlu bersedia untuk dibantu, bukan

justru mencurigai setiap gerak partisipasi sosial yang kebetulan

mereka belum memahami dan tidak langsung berada dalam

kubunya. Juga komponen-komponen lainnya dalam kebersamaan

nasional ini” (Emha, 2018: 80-81).

“Padahal, yang Gus Dur, sebut formalisasi Islam pada hemat

saya sekedar penerapan hak biasa-biasa saja. Umat Islam,

sebagaimana umat Kristen, atau sebagaimana kelompok-

Page 103: NILAI-NILAI PENDIDIKAN KARAKTER DALAM BUKU …e-repository.perpus.iainsalatiga.ac.id/5761/1/Lutfi Isnan Romdloni... · NILAI-NILAI PENDIDIKAN KARAKTER DALAM BUKU GELANDANGAN DI KAMPUNG

89

kelompok sosial dalam konteks non-teologi, memiliki hak untuk

memperoleh tempatnya sendiri dalam kehidupan bernegara. Dan

justru itulah makna bhineka. Kebinekaan, keberagaman kelompok

dan kepentingan tidak otomatis berarti sektarianisme sejauh

mereka mengorientasikan diri pada kesepakatan ika, untuk

persatuan dan kesatuan nasional” (Emha, 2018: 177).

“Payah! Pak Mataki Protes, Kalau di tingkat desa saja kalian tak

berani, bagaimana mau mengubah negara?” (Emha, 2018: 221).

Pada kutipan di atas terdapat karakter kebangsaan bahwa cita-cita

mulia adalah senantiasa menyumbangkan tenaga dan pikiran untuk

menyejahterakan masyarakat dan sebagai warga negara yang baik wajib

mencegah segala sesuatu yang bisa meresahkan masyarakat.

10. Cinta Tanah Air

Dengan adanya karakter cinta tanah air ini maka akan membuat

seseorang untuk rela berkorban dan berjuang demi bangsa, serta selalu

memberi kontribusi positif bagi negara. Pada buku Gelandangan di

Kampung Sendiri ini terdapat kutipan yang menunjukkan nilai

pendidikan karakter yaitu cinta tanah air. Hal tersebut terdapat pada

kutipan berikut:

“Padahal, rakyat negeri kita terkenal gampang diajak

bermusyawarah, lunak hatinya, luas dadanya, tinggi kesediannya

untuk berkorban demi kemajuan pembangunan” (Emha, 2018: 5)

“Mak kepad massa PPP di Surabaya itu saya kemukakan, yang

saya lihat bukan PPP kemarin dan sekarang, melainkan PPP

yang anda semua impikan dan aspirasikan. Dalam selebaran

juga saya sebutkan, saya ikut berdoa agar PPP mampu

mentransformasikan diri menjadi partai hari depan yang relevan

terhadap umat Islam dan berfungsi rahmatan lil alamin bagi

seluruh rakyat Indonesia” (Emha, 2018: 151)

“Itu juga menunjukkan bahwa tingkat nilai demokrasi kita tidak

sangat tinggi: ada yang lebih tinggi dan mulia yang dibutuhkan

Page 104: NILAI-NILAI PENDIDIKAN KARAKTER DALAM BUKU …e-repository.perpus.iainsalatiga.ac.id/5761/1/Lutfi Isnan Romdloni... · NILAI-NILAI PENDIDIKAN KARAKTER DALAM BUKU GELANDANGAN DI KAMPUNG

90

oleh kehidupan. Mungkin itu sebabnya orang mencita-citakan

demokrasi Pancasila. Pada Pancasila itulah, tampaknya, termuat

nilai yang lebih tinggi” (Emha, 2018: 174-175).

“Dalam hal ini, saya sendiri sedang meletakkan diri sebagai

warga negara yang penuh syukur dan optimisme hidup. Meskipun

barangkali saya juga bisa mengambil posisi sebaliknya;

menganggap secara apatis dan skeptis bahwa pemilu ini bisa saja

tak usah ada sama sekali kalau, toh, tidak mengubah realitas”

(Emha, 2018: 195).

“Ia menghabiskan umurnya, tenaga, pikiran, dan cintanya untuk

kepentingan para tetangganya sedesa, kalau perlu melebar ke

desa-desa sebelah. Bu Limah adalah orang yang benar-benar

menerapkan slogan „berjuang demi bangsa dan negara‟,

sementara banyak wanita atau pria karier di dunia yang merasa

modern itu sebenarnya menggunkan segala fasilitas bangsa dan

negara ini demi kemajuan dan kepentingan pribadinya dan

keluargnya saja. Maaf juga” (Emha, 2018: 256).

Pada kutipan di atas mengandung karakter cinta tanah air yaitu

rela mengorbankan kepentingan pribadi demi tanah air dan bangga akan

Pancasila.

11. Menghargai Prestasi

Menghargai prestasi artinya juga menghargai proses karena

didalam proses terdapat kerja keras usaha yang akhirnya menghasilkan

prestasi yang diinginkan. Pada buku Gelandangan di Kampung Sendiri

ini terdapat kutipan yang menunjukkan nilai pendidikan karakter yaitu

menghargai prestasi. Hal tersebut terdapat pada kutipan berikut:

“Saya katakan diketahui dan dipahami dalam arti, kita semua

sebagai bangsa yang ingin menjadi makin dewasa, ditantang

untuk memberikan empati dan apresiasi terhadap gejala situasi

anak-anak sendiri. Sebab, biasanya yang kita berikan kepada

gejolak kaum muda yang demikian adalah sisnisme, sikap apriori,

meremehkan, atau bahkan menuduh, menghakimi, dan

memfitnah” (Emha, 2018: 203).

Page 105: NILAI-NILAI PENDIDIKAN KARAKTER DALAM BUKU …e-repository.perpus.iainsalatiga.ac.id/5761/1/Lutfi Isnan Romdloni... · NILAI-NILAI PENDIDIKAN KARAKTER DALAM BUKU GELANDANGAN DI KAMPUNG

91

“Biarkan saja dia bergaya seperti itu. Yang penting cara kita

mengukur pak dayik tidak melalui baju dan aksesoris lainnya,

melainkan lewat kerja dan prestasinya” (Emha, 2018: 243).

Pada kutipan di atas mengandung karakter menghargai prestasi

yaitu dengan mengapresiasi apa yang dilakukan oleh generasi muda dan

tidak malah meremehkan, sinis, atau bahkan memfitnah.

12. Bersahabat/Komunikatif

Bersahabat/komunikatif sangat diperlukan dalam berkomunikasi

antar manusia, karena hal tersebut akan membuat seorang lawan bicara

akan senang. Pada buku Gelandangan di Kampung Sendiri ini terdapat

kutipan yang menunjukkan nilai pendidikan karakter yaitu

bersahabat/Komunikatif. Hal tersebut terdapat pada kutipan berikut:

“Saya hanya ingin membagi kebahagiaan saya kepada Anda

semua yang berasal dari pergaulan saya dengan bermaam-

macam manusia, terutama orang-orang kecil. Orang-orang yang

sakit jiwa, yang mengalami broken home atau menjadi campakan

dari global broken society, buruh-buruh kecil, karyawan-

karyawan rendahan, bapak-bapak terlilit utang, mahasiswa yang

kacau sistem otaknya karena ada konsleting antara kapasitas

informasi dan tingkat kecanggihan programnya, suami-suami

yang istrinya digondol, anak-anak yang pandai tetapi cita-citanya

tinggi tapi tak punya biaya kuliah, pejalan-pejalan yang terikat

tersesat karena tanpa mursyid, orang dengan jenis kesulitan

hidup yang tak bisa dijamin akan berubah siapa pun yang

menang dalam pemilu” (Emha, 2018: 78).

“Ketika ku sapa mereka yang kesakitan nasibnya dan karena itu

mereka tertawa-tawa, ketika kulambaikan tangan kepada mereka-

mereka yang memanggul beratnya mencari nafkah, dahsyatnya

mempertahankan kemanuisaan dan kewajaran hiup-kulihat

Engkau bersama bercengkrama dengan mereka” (Emha, 2018:

103).

“Pak Mataki tak bosan-bosannya mengingatkan siapa saja,

terutama kaum muda, agar jangan bersikap negatif dan apriori

kepada lurah baru itu. Betapapun Ia tidak peka terhadap tugas-

Page 106: NILAI-NILAI PENDIDIKAN KARAKTER DALAM BUKU …e-repository.perpus.iainsalatiga.ac.id/5761/1/Lutfi Isnan Romdloni... · NILAI-NILAI PENDIDIKAN KARAKTER DALAM BUKU GELANDANGAN DI KAMPUNG

92

tugas kepemimpinannya, betapapun ia sering tinggi hati, bersikap

feodal, bahkan terkadang eksplosif, tetapi ia justru harus

ditemani agar berproses mengembangkan dirinya. Siapa tahu

kelak ia akan bisa menjadi pemimpin sebagaimana yang

didambakan oleh penduduknya” (Emha, 2018: 236).

Pada kutipan di atas terdapat karakter bersahabat dan komunikatif

yaitu berteman dengan siapapun tanpa harus memandang status dan

membawa kedamaian dan kenyamanan bagi orang disekitarnya.

13. Cinta Damai

Kedamain hidup adalah harapan setiap orang. Dengan kedamaian

akan berkurang rasa permusuhan dan kebencian serta akan

menyelesaikan suatu konflik. Pada buku Gelandangan di Kampung

Sendiri ini terdapat kutipan yang menunjukkan nilai pendidikan

karakter yaitu cinta damai. Hal tersebut terdapat pada kutipan berikut:

“Tentu saja saya yang bagian ngerem-ngerem hatinya” (Emha,

2018: 9).

“Hidup saya yang hanya satu kali ini dengan serius saya

pergunakan untuk memperbanyak sahabat, dari yang muda,

anak-anak, orang tua, orang miskin, orang pangkat, orang biasa,

bahkan jin dan makhluk-makhluk lain, pokoknya siapa saja. Itu

saya pergunakan untuk meningkatkan kadar dan kualitas cinta

kasih kemanusiaan saya, sembari saya manfaatkan untuk

mengikis rasa benci dihati saya” (Emha, 2018: 30).

“Ketika berhadapan dengan komunitas Kristiani, termasuk para

pendeta dan pastor, di sebuah kota Indonesia bagian timur

beberapa minggu lalu , saya diprotes tentang islamisasi di Timor

Timur. Saya hanya menjawab dengan kejujuran,bahwa

islamisasi, seperti juga kristenisasi, adalah resiko dan tanggung

jawab normal dari keimanan. Bagi Kristen, mengkristenkan

orang adalah menyelamatkan dari murka Allah. Kedua jenis

iman itu, meskipun berbenturan, sebaiknya tidak dilihat sebagai

konflik, tetapi sebagai dinamika, dialog, dan kompetisi yang

wajar. Persoalannya bagaimana me-menage aturan main

Page 107: NILAI-NILAI PENDIDIKAN KARAKTER DALAM BUKU …e-repository.perpus.iainsalatiga.ac.id/5761/1/Lutfi Isnan Romdloni... · NILAI-NILAI PENDIDIKAN KARAKTER DALAM BUKU GELANDANGAN DI KAMPUNG

93

nasional dengan mekanisme saling kontrol yang seadil-adilnya”

(Emha, 2018: 174-175).

“Oleh karena itu, selalu ada baiknya dipelihara romantisme kita

untuk berempati terhadap penderitaan orang-orang yang menjadi

korban, serta jengkelan terhadap mereka yang mengorbankan.

Namun tulisan ini bermaksud melakukan suatu interlude untuk

mencoba berpikir jernih, serta menilai persoalan-persoalan

secara seimbang dan adil” (Emha, 2018: 179).

“Ketakutan adalah hak milik budaya kita yang bersifat

tradisional. Sejak kecil kita dididik untuk takut kepada orang tua,

bapak-ibu guru, pak lurah, hantu, dan tentara. Sedemikian rupa

sehingga mereka akhirnya selalu menakutkan. Alangkah

indahnya kala pola hubungan ketakutan itu ganti pelan-pelan

dengan pola hubungan cinta, sayang, saling memahami, dan

saling memberi ruang” (Emha, 2018: 197-198).

“Saya katakan diketahui dan dipahami dalam arti, kita semua

sebagia bangsa yang ingin menjadi makin dewasa, ditantang

untuk memberikan empati dan apresiasi terhadap gejala situasi

anak-anak sendiri. Sebab, biasanya yang kita berikan kepada

gejolak kaum muda yang demikian adalah sisnisme, sikap apriori,

meremehkan, atau bahkan menuduh, menghakimi, dan

memfitnah” (Emha, 2018: 203).

“Seperti saya katakan tadi, saya hanya takut, khawatir. Saya ini

ornag yang lemah hati. Tidak tegaan. Apalagi, melihat orang

menjadi renggang hanya karena sesuatu yang sebenarnya tidak

perlu membuat mereka renggang. Itulah sebabnya pada pemilu

lima tahun lalu saya selenggarakan terbangan massal agar

semua bisa kompak kembali dan bersatu dalam lingkaran

kemanusiaan serta landasan keagamaan. Ingat kamu?” (Emha,

2018: 268).

Pada kutipan di atas menunjukkan karakter cinta damai yaitu

menenagkan hati orang yang berkonflik, hidup dengan serius di

pergunakan untuk memperbanyak sahabat untuk meningkatkan kadar

dan kualitas cinta kaih kemanusiaan dan untuk mengikis ras benci

dihati, memelihara romantisme dan empati terhadap penderitaan orang

lain.

Page 108: NILAI-NILAI PENDIDIKAN KARAKTER DALAM BUKU …e-repository.perpus.iainsalatiga.ac.id/5761/1/Lutfi Isnan Romdloni... · NILAI-NILAI PENDIDIKAN KARAKTER DALAM BUKU GELANDANGAN DI KAMPUNG

94

14. Gemar Membaca

Dengan membaca akan meningkatkan kualitas dan kuantitas

pengetahuan seseorang, karna membaca akan meningkatkan rasa

keinignin tahuan lalu akan terus haus akan ilmu dan mencari tahu akan

keingin tahuannya itu. Pada buku Gelandangan di Kampung Sendiri ini

terdapat kutipan yang menunjukkan nilai pendidikan karakter yaitu

gemar membaca. Hal tersebut terdapat pada kutipan berikut:

“Ilmu manusia, ilmu kita, amatlah terbatas. Tiap hari kita

membaca dan mendengar tentang George Bush, tentang hari

bumi di Brazil atau tentang suara-suara di Surabaya dan Jakarta.

Namun, sekedar mendengar dan membaca . Selebihnya kita tidak

mengerti persis. Hanya sunyi sembahyang kita, yang insya Allah

menunjukkan mana yang sejati mana yang palsu” (Emha, 2018:

46)

“Dari koran kemarin, kita membaca dua masalah yang menarik

dan komentar yang jauh lebih menarik lagi Menko Polkam

Sudomo. Pertama maslah impor tenaga kerja asing di proyek PT

Sinar Mas Grup, yang ada kaitannya dengan persoalan

nasionalisme karena konteksnya semata-mata hanya

pertimbangan ekonomis” (Emha, 2018: 144)

“Pak Guru Mataki tahu bahwa dengan hidup di desa, pasti ia

akan berpotensi untuk kuper atau ketinggalan kereta dalam soal

ilmu dan informasinya, maka di samping selalu meningkatkan

daya analisis ketika nonton televisi, mendengarkan radia serta

membaca satu-dua koran yang kebetulan masuk desa, Pak Mataki

merasa memperoleh rezeki besar dengan datangnya para anak

pandai dari kota” (Emha, 2018: 222-223).

Pada kutipan di atas menunjukkan karakter gemar membaca,

dengan membaca seseorang dapat mengetahui tentang apa yang belum

dia ketahui sebelumnya dan akan membuka wawasan baru.

Page 109: NILAI-NILAI PENDIDIKAN KARAKTER DALAM BUKU …e-repository.perpus.iainsalatiga.ac.id/5761/1/Lutfi Isnan Romdloni... · NILAI-NILAI PENDIDIKAN KARAKTER DALAM BUKU GELANDANGAN DI KAMPUNG

95

15. Peduli Sosial

Rasa peduli sosial dan lingkungan merupakan hal yang sangat

penting dalam kehidupan bermasyarakat karena sejatinya kita tidak bisa

hidup sendiri, tentu kita memerlukan orang lain dalam berbagai aspek

kehidupan. Sehingga meniptakan kehidupan masyarakat yang saling

peduli satu dengan yang lainnya. Pada buku Gelandangan di Kampung

Sendiri ini terdapat kutipan yang menunjukkan nilai pendidikan

karakter yaitu peduli sosial. Hal tersebut terdapat pada kutipan berikut:

“Dalam segala jenis dan tingkat perundang-undangan negeri ini

tidak ada pasal yang melarang orang mengeluh, menangis, dan

meratap? Karena jawabannya tidak ada! Bahkan, yang ada

adalah kewajiban dari Allah untuk menjenguk orang sakit,

menolong orang susah, memberi makan orang lapar, sekurang-

kurangnya ikut merasakan hati orang yang teraniaya, dan

menyapa orang yang tengah kesepian” (Emha, 2018: 13).

“Dan mestinya, demikianlah pula yang disebut dengan teater

pancasila, yang tidak hanya mengutamakan dan menggali

muatan dari sumber nilai keadilan dan kesejahteraan bersama,

tetapi melandasi seluruhnya pada nilai kemanusiaan dan

regiositas ketuhanan” (Emha, 2018: 26-27).

“Menjadi manusia adalah pergulatan untuk menyeimbangkan

antara individualitas dan sosialitas” (Emha, 2018: 53).

“Akan tetapi, rupa-rupanya perniagaan Muhammad memang

lain. Ketika diberi seekor kambing, beliau lantas menyembelihnya

dan membagi-bagikannya keseluruh tetangganya” (Emha, 2018:

68).

“Tadi malam, sejumlah mahasiswa Universitas Gadjah Mada

Yogyakarta menyelenggarakan acara doa bersama untuk

kesembuhan ilmuan brilian yang dimiliki oleh universitas tersebut

dan Indonesia” (Emha, 2018: 162)

Pada kutipan di atas menunjukkan karakter peduli sosial yaitu

menjenguk orang sakit, saling berbagi, menolong orang susah atau

Page 110: NILAI-NILAI PENDIDIKAN KARAKTER DALAM BUKU …e-repository.perpus.iainsalatiga.ac.id/5761/1/Lutfi Isnan Romdloni... · NILAI-NILAI PENDIDIKAN KARAKTER DALAM BUKU GELANDANGAN DI KAMPUNG

96

sekurang-kurangnya ikut merasakan orang teraniaya dan

menyeimbangkan antara individualitas dan sosialitas.

16. Peduli Lingkungan

Alam semakin tua, kerusakan lingkungan semakin parah terjadi,

maka karakter peduli lingkungan perlu digalakkan lagi, apa yang

dilakukan sekarang akan mempengaruhi apa yang terjadi dimasa depan.

Pada buku Gelandangan di Kampung Sendiri ini terdapat kutipan yang

menunjukkan nilai pendidikan karakter yaitu peduli lingkungan. Hal

tersebut terdapat pada kutipan berikut:

”Pihak Dinas Kehutanan, kecamatan, dan kabupaten, tidak

dahulu bermusyawarah dengan masyarakat, pemuka-pemuka

masyarakat atau pemerintah desa. Terutama tentang penentuan

dan pengukuran batas-batas lokasi proyek, yang tidak disetujui

oleh penduduk karena telah merupakan hutan adat sejak nenek

moyang dahulu kala, yang secara tradisional diupacarai melalui

ritus sumpah taradisional, dalam konteks religi pergaulan antara

hamba Allah yang bernama masyarakat dan makhluk Allah yang

bernama sapi” (Emha, 2018: 14).

Pada kutipan di atas menunjukkan karakter peduli lingkungan

yaitu tetap memperjuangkan kelestarian hutan adat yang merupakan

warisan dari nenek moyang,

17. Tangungg Jawab

Orang yang bertanggung jawab memiliki karakter berbuat sebaik

mungkin dan tidak menyalahkan orang lain ketika berbuat kesalahan.

Pada buku Gelandangan di Kampung Sendiri ini terdapat kutipan yang

menunjukkan nilai pendidikan karakter yaitu tanggung jawab. Hal

tersebut terdapat pada kutipan berikut:

Page 111: NILAI-NILAI PENDIDIKAN KARAKTER DALAM BUKU …e-repository.perpus.iainsalatiga.ac.id/5761/1/Lutfi Isnan Romdloni... · NILAI-NILAI PENDIDIKAN KARAKTER DALAM BUKU GELANDANGAN DI KAMPUNG

97

“Apakah para pelaku kejahatan dan sadisme yang teramat

istimewa itu akan kita suruh bercermin, ataukah mereka adalah

justru cermin terpampang di depan wajah kita?” (Emha, 2018:

40).

“Akan tetapi, jangankan Muhammad. Kepala suku Amatoa di

Kajang, Bulukumba, Sulawesi Selatan dan kepala suku Boti, Soe,

Nusa Tenggara Timur pun tahu dan konsisten bagaimana

berperilaku sebagai pemimpin. Ia tak bersedia menerima sesuap

nasi pun dari rakyat. “Kalau saya menerima sesuatu dari rakyat

saya, mereka berhak meniru saya unutk meminta-minta.”

Katanya, “Saya harus mencontohkan bagaimana bertanggung

jawab kepada diri sendiri. Harus mencari makan sendiri, makan

dari piring yang saya buat sendiri dan minum dari gelas yang

juga saya buat sendiri” (Emha, 2018: 67).

“Namun, manusia suka jual mahal atau ogah-ogahan” ujar Pak

Guru Mataki lagi, “Manusia sudah dilantik jadi khilafah, tetapi

begitu banyak tugas dan tanggung jawabnya tak ia kerjakan.

Atau, malah ia kerjakan untuk monopoli kepentingan dirinya

sendiri” (Emha, 2018: 249).

Pada kutipan di atas menunjukkan karakter tanggung jawab

terhadap diri sendiri, serta agar bercermin kepada diri dan bertanggung

jawab atas apa yang telah diperbuat, bukan menyalahkan orang lain.

B. Relevansi Nilai-Nilai Pendidikan Karakter dalam Buku Gelandangan

di Kampung Sendiri di Kehidupan Modern

Pendidikan karakter merupakan salah satu komponen inti dalam

mewujudkan negara yang maju melalui generasi penerus bangsa yang

berkualitas. Dengan adanya pendidikan karakter, generasi penerus bangsa

akan memiliki kepribadian yang lebih baik dan berkualitas dalam

membangun bangsa dan negara. Sampai saat ini dunia pendidikan di

Indonesia dinilai belum mendorong pembangunan karakter bangsa.

Pendidikan kita kehilangan nilai-nilai luhur kemanusiaan, padahal

Page 112: NILAI-NILAI PENDIDIKAN KARAKTER DALAM BUKU …e-repository.perpus.iainsalatiga.ac.id/5761/1/Lutfi Isnan Romdloni... · NILAI-NILAI PENDIDIKAN KARAKTER DALAM BUKU GELANDANGAN DI KAMPUNG

98

pendidikan seharusnya memberikan pencerahan terhadap nilai-nilai luhur

itu sendiri.

Di era sekarang ini atau yang sering kita sebut sebagai era

globalisasi, masih banyak sekali orang tua yang kurang memperhatikan

moral anak-anaknya. Dengan berbagai alasan, seperti sibuk karena kerjaan

sehingga mereka lalai dalam memperhatikan anak-anaknya. Masa anak-

anak adalah masa dimana seorang anak belajar banyak hal, dari mulai

berperilaku, adap ataupun ilmu pengetahuan yang lain. Pada masa itu

anak-anak berada pada masa mencari jati diri dengan berbagai macam

cara, tingkah laku, serta seringkali penasaran dan dengan berbagai hal

kemudian mencoba melakukan hal-hal tersebut, yang terkadang perbuatan

tersebut adalah perbuatan yang negatif.

Di era sekarang ini terknologi informasi semakin maju dengan

sangat cepat, sehingga lebih memudahkan seseorang untuk mencari

informasi apa yang dia inginkan. Bahkan sudah seperti menjadi kebutuhan

bagi setiap orang. Perkembangan teknologi ini tentu saja sangat berguna

bagi setiap orang, namun dengan perkembangan ini tentu saja ada dampak

negatif yang diberikan. Contohnya adalah ketika sesorang salah

menggunakan smartphone yang sebenarnya smartphone sangat bermanfaat

bagi kehidupan sehari-hari, namun jika kita berlebihan tentu saja yang

datang adalah hal yang tidak baik, dari liputan6.com diberitakan bahwa

angka kematian pejalan kaki naik hingga 6.227 kecelakaan. Angka ini

tertinggi dalam 30 tahun terakhir. Angka tersebut pun statistiknya menjadi

Page 113: NILAI-NILAI PENDIDIKAN KARAKTER DALAM BUKU …e-repository.perpus.iainsalatiga.ac.id/5761/1/Lutfi Isnan Romdloni... · NILAI-NILAI PENDIDIKAN KARAKTER DALAM BUKU GELANDANGAN DI KAMPUNG

99

yang tercepat jika dibandingkan dengan kecelakaan terkait lalu-lintas

lainnya. Dalam kasus lain menyangkut dengan karakter yaitu kasus yang

sering terjadi yaitu tersebarnya hoax atau berita palsu yang disebarkan

dengan sangat cepat seperti kasus yang baru ini terjadi di Sulawesi

Tengah, sebagaimana yang diberitakan oleh detik.com. Anggota DPRD

Sulawesi Tengah, Yahdi Basma dilaporkan ke polisi oleh Gubernur

Sulawesi Tengah Longki Djanggola karena diduga menyebarkan kabar

bohong atau hoax. Yahdi menyebut dirinya hanya jadi korban orang yang

mengedit foto koran yang disebarnya.

Dengan seperti itu terbentuknya karakter negatif sudah sangat

terlihat dan sudah menjadi rahasia umum. Selain kemajaun terknologi

tentu saja masih banyak faktor yang menyebabkan hal ini terjadi, seperti

orangtua, lingkungan ataupun pemerintah yang sedang berdaulat saat itu.

Kemajuan teknologi juga berdampak pada faktor minat membaca

sesorang, karena sesorang sibuk bermain dengan mainan barunya yang

lebih menarik tersebut, minat membaca menjadi berkurang. Hal tersebut

berdampak buruk bagi diri. sering kali remajalah yang diserang oleh hal

tersebut, dan menyebabkan moral mereka semakin merosot, yang padahal

masa depan bangsa berada di tangan remaja. Jika karakter remaja saat ini

sudah dikatakan rusak, maka bagaimana dengan nasib bangsa ini di masa

depan.

Dalam buku ataupun karya sastra terdapat banyak sekali pelajaran

yang dapat diambil. Dalam buku Gelandangan di Kampung Sendiri ini

Page 114: NILAI-NILAI PENDIDIKAN KARAKTER DALAM BUKU …e-repository.perpus.iainsalatiga.ac.id/5761/1/Lutfi Isnan Romdloni... · NILAI-NILAI PENDIDIKAN KARAKTER DALAM BUKU GELANDANGAN DI KAMPUNG

100

mengajarkan nilai-nilai pendidikan karakter yang relevan bagi kehidupan

era sekarang ini, di mana buku ini mengajarkan kita untuk bersifat religius

dengan berpasrah diri dan melaksanakan ajaran agama, jujur terhadap apa

yang dilakukan, menjunjung tinggi nilai toleransi antar sesama, kerja keras

dalam mencapai tujuan, kreatif dalam hidup, mandiri dan tidak bergantung

kepada orang lain, demokratis dalam kenegaraan, memiliki rasa ingin tahu

terhadap sesuatu yang belum diketahui, membangun semangat kebangsaan

dan cinta tanah air, menghargai prestasi orang lain, bersahabat dan

komunikatif dalam berperilaku, mencintai kedamaian, gemar membaca,

peduli terhadap lingkungan dan sosial, bertanggung jawab terhadap apa

yang dipebuatnya.

Page 115: NILAI-NILAI PENDIDIKAN KARAKTER DALAM BUKU …e-repository.perpus.iainsalatiga.ac.id/5761/1/Lutfi Isnan Romdloni... · NILAI-NILAI PENDIDIKAN KARAKTER DALAM BUKU GELANDANGAN DI KAMPUNG

101

BAB V

PENUTUP

A. Kesimpulan

Setelah penulis melakukan pembahasan terhadap buku Gelandangan

di Kampung Sendiri karya Emha Ainun Nadjib berupa analisa nilai-nilai

pendidikan karakter, maka penulis dapat mengambil kesimpulan sebagai

berikut:

1. Nilai-nilai pendidikan karakter yang terkandung dalam buku

Gelandangan di Kampung Sendiri karya Emha Ainun Nadjib

meliputi: religius, jujur dalam situasi apapun, menjunjung tinggi nilai

toleransi antar sesama, kerja keras, kreatif dalam hidup, mandiri dan

tidak bergantung kepada orang lain, demokratis hidup bernegara,

memiliki rasa ingin tahu terhadap sesuatu, semangat kebangsaan, cinta

tanah air, menghargai prestasi, bersahabat dan komunikatif dalam

berperilaku, mencintai kedamaian, gemar membaca, peduli terhadap

lingkungan dan sosial, bertanggung jawab terhadap apa yang

dipebuatnya.

2. Relevansi nilai-nilai pendidikan karakter dalam buku Gelandangan di

Kampung Sendiri Karya Emha Ainun Nadjib dalam kehidupan

modern ini yaitu buku ini sangat relevan dengan pendidikan karakter

di Indonesia karena di dalam buku Gelandangan di Kampung Sendiri

karya Emha Ainun Nadjib terdapat nilai edukasi khususnya nilai-nilai

pendidikan karakter. Di mana dengan membaca buku ini pembaca

Page 116: NILAI-NILAI PENDIDIKAN KARAKTER DALAM BUKU …e-repository.perpus.iainsalatiga.ac.id/5761/1/Lutfi Isnan Romdloni... · NILAI-NILAI PENDIDIKAN KARAKTER DALAM BUKU GELANDANGAN DI KAMPUNG

102

juga sekaligus mendapatkan edukasi mengenai pendidikan karakter

yang terdapat dalam buku. Serta amanat yang disertakan di dalamya

menuntun kita menjadi insan yang lebih baik.

B. Saran

1. Bagi Orang Tua

Orang yang paling betanggung jawab dalam pendidikan anak

adalah orang tua. Perilaku seorang anak yang paling pertama

dipelajarinya adalah dari karakter orang tuanya dalam beraktivitas

sehari-hari. Orang tua harus selalu menjadi role model terbaik untuk

anak-anaknya, sehingga sang anak juga akan berperilaku baik juga.

2. Bagi Dunia Pendidikan

Pendidikan merupakan sentral pembelajaran karakter, budaya,

dan kemajuan bangsa, baik buruknya pendidikan maka akan selalu

berpengaruh besar dalam hal tersebut. Dengan era modern ini, yang

perkembangan ilmu dan teknologi yang semakin cepat, seorang

pendidik harus kreatif serta inovatif dalam setiap pembelajaran

sehingga peserta didik dapat menjangkau dengan baik pelajaran yang

diajarkan.

3. Bagi Dunia Sastra

Dalam membuat karya sastra, sebaiknya diperbanyak nilai-nilai

yang mengajarkan kebaikan didalamnya agar menjadi manfaat bagi

banyak orang dan diri sendiri.

Page 117: NILAI-NILAI PENDIDIKAN KARAKTER DALAM BUKU …e-repository.perpus.iainsalatiga.ac.id/5761/1/Lutfi Isnan Romdloni... · NILAI-NILAI PENDIDIKAN KARAKTER DALAM BUKU GELANDANGAN DI KAMPUNG

103

4. Bagi Peneliti

Penelitian yang menggunakan studi literatur dengan

pembahasan buku hendaknya pemilihan buku benar-benar diteliti

dengan seksama. Penelitian disesuaikan dengan apa yang akan diteliti.

Hal tersebut bertujuan untuk memudahkan dalam penelitian. Dalam

skripsi ini penulis mencoba untuk menghubungi penulis buku yaitu

Emha Ainun Nadjib melalu email [email protected] dan direspon

dengan memberi izin penelitian. Saran bagi teman-teman yang ingin

meneliti suatu buku hendaknya untuk menghubungi pengarang jauh-

jauh hari, sehingga bisa bertemu pengarang secara langsung.

Page 118: NILAI-NILAI PENDIDIKAN KARAKTER DALAM BUKU …e-repository.perpus.iainsalatiga.ac.id/5761/1/Lutfi Isnan Romdloni... · NILAI-NILAI PENDIDIKAN KARAKTER DALAM BUKU GELANDANGAN DI KAMPUNG

104

DAFTAR PUSTAKA

Adisusilo, Sutarjo. 2013. Pembelajaran Nilai-Karakter. Jakarta: PT Raja

Grafindo Persada.

Afita, Ida Risqi. 2018. Nilai-Nilai Materi Pendidikan Karakter pada Novel

Ayahku (Bukan) Pembohong Karya Tere Liye. Skripsi tidak

diterbitkan. Salatiga: Program Seudi Pendidikan Agama Islam

IAIN Salatiga.

Albertus, Doni Koesoema. 2012. Pendidikan Karakter Utuh dan Menyeluruh.

Yogyakarta: Kanisius.

Ansori, Raden Ahmad Muhajir. 2016. Strategi Penanaman Nilai-Nilai

Pendidikan Islam pada Peserta dalam Jurnal Pusaka LP3M IAI Al-

Qolam: 60.

Ardy, Novan Wiyani. 2013. Konsep, Praktik, dan Strategi Membumikan

Pendidikan Karakter di SD. Yogyakarta: Ar-Ruzz Media.

Arikunto, Suharsimi. 2014. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktik.

Jakarta: Rineka Cipta.

Citra, Yulia. 2012. Pelaksanaan Pendidikan Karakter dalam Pembelajaran

dalam Jurnal Ilmiah Pendidikan Khusus Vol. 01. No. 01. 238.

Endraswara, Suwardi. 2003. Metodologi Penelitian Sastra. Yogyakarta:

Pustaka Widyatama.

Faisol, Ahmad. 2015. Nilai-Nilai Pendidikan Karakter dalam Novel Pelangi

Karya Andrea Hirata. Skripsi tidak diterbitkan. Malang: Program

Studi Pendidikan Agama Islam UIN Maulana Malik Ibrahim.

Fajriyah, Latifatul. 2018. Nilai-Nilai Pendidikan Islam dalam Kumpulan Esai

Istriku Seribu Karya Emha Ainun Nadjib. Skripsi ini tidak

diterbitkan. Surabaya: Program Studi Pendidikan Agama Islam

UIN Sunan Ampel.

Ghufron, Moh. 2017. Filsafat Pendidikan.Yogyakarta: Kalimedia.

Hadi, Sutrisno. 1981. Metodologi Research. Yogyakarta: Yayasan Penerbitan

Fakultas Psikologi UGM Yogyakarta.

Page 119: NILAI-NILAI PENDIDIKAN KARAKTER DALAM BUKU …e-repository.perpus.iainsalatiga.ac.id/5761/1/Lutfi Isnan Romdloni... · NILAI-NILAI PENDIDIKAN KARAKTER DALAM BUKU GELANDANGAN DI KAMPUNG

105

Hafidz, Muhammad dan Kastolani. 2009. Pendidikan Islam: Antara Tradisi

dan Modernitas. STAIN Salatiga Press.

Idhawati, Diyah. 2017. Nilai-Nilai Pendidikan Karakter yang Terkandung

dalam Novel Anak Rantau Karya Ahmad Fuadi. Skripsi tidak

diterbitkan. Salatiga: Program Studi Pendidikan Agama Islam IAIN

Salatiga.

Kusuma, Dharma. 2012. Pendidikan Karakter Kajian Teori dan Praktik di

Sekolah. Bandung: PT. Remaja Posdakarya.

Mulyasa. 2014. Manajemen Pendidikan Karakter. Jakarta: PT Bumi Aksara.

Muslich, Masnur. 2015. Pendidikan Karakter. Jakarta: PT Bumi Aksara.

Nadjib, Emha Ainun. 2018. Gelandangan di Kampung Sendiri. Yogyakarta:

PT Bentang Pustaka.

Naim, Ngainun. 2012. Character Building. Yogyakarta: Ar-Ruzz Media

Samini, Muchlas dan Hariyanto. 2014. Konsep dan Model Pendidikan

Karakter. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.

Siswantoro. 2010. Metode Penelitian Sastra. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Sjarkawi. 2015. Pembentukan Kepribadian Anak Pesan Moral, Intelektual,

Emosional, dan Sosial Sebagai Wujud Integritas Membangun Jati

Diri. Jakarta: Bumi Aksara.

Sukardjo dan Ukim. 2009. Landasan Pendidikan: Konsep dan Aplikasinya.

Jakarta: Raja Grafindo Persada.

Wibowo, Agus. 2012. Pendidikan Karakter. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Yaumi, Muhammad. 2014. Pendidikan Karakter: Landasan, Pilar,

dan Implementasi. Jakarta: Kencana Prenada media Group.

Zed, Mestika. 2004. Metode Penelitian Kepustakaan. Jakarta: Yayasan Obor

Indonesia.

Zubaedi. 2013. Desain Pendidikan Karakter. Jakarta: Kencana Prenada

Media Group.

http://angga-hardianto1994.blogspot.com/2017/12/wawasan-al-quran-dan-

hadits-tentang.html

http://bio.or.id/biografi-emha-ainun-nadjib/ diakses pada tanggal 11 Juli 2019

Page 120: NILAI-NILAI PENDIDIKAN KARAKTER DALAM BUKU …e-repository.perpus.iainsalatiga.ac.id/5761/1/Lutfi Isnan Romdloni... · NILAI-NILAI PENDIDIKAN KARAKTER DALAM BUKU GELANDANGAN DI KAMPUNG

106

https://id.wikipedia.org/wiki/Emha_Ainun_Nadjib

https://kbbi.kemdikbud.go.id/entri/nilai.

https://news.detik.com/berita/d-4613376/dipolisikan-karena-sebar-hoax-

anggota-dprd-sulteng-ngaku-hanya-

korban?_ga=2.178166049.565099309.1562575233-

908823869.1562575233

http://profilbiodata ustadz.blogspot.com/2016/12/profil-biodata-dan-biografi-

cak-nun.html

https://www.caknun.com/

https://www.liputan6.com/tekno/read/3909887/kematian-akibat-smartphone-

sentuh-angka-tertinggi-selama-30-tahun-

terakhir?utm_expid=.9Z4i5ypGQeGiS7w9arwTvQ.0&utm_referrer

=https%3A%2F%2Fwww.google.com%2F

https://www.biografiku.com/biografi-emha-ainun-najib/ karya wink

https://www.nu.or.id/post/read/87932/dalil-dalil-cinta-tanah-air-dari-al-quran-

dan-hadits

Page 121: NILAI-NILAI PENDIDIKAN KARAKTER DALAM BUKU …e-repository.perpus.iainsalatiga.ac.id/5761/1/Lutfi Isnan Romdloni... · NILAI-NILAI PENDIDIKAN KARAKTER DALAM BUKU GELANDANGAN DI KAMPUNG

1

LAMPIRAN

Page 122: NILAI-NILAI PENDIDIKAN KARAKTER DALAM BUKU …e-repository.perpus.iainsalatiga.ac.id/5761/1/Lutfi Isnan Romdloni... · NILAI-NILAI PENDIDIKAN KARAKTER DALAM BUKU GELANDANGAN DI KAMPUNG

2

Page 123: NILAI-NILAI PENDIDIKAN KARAKTER DALAM BUKU …e-repository.perpus.iainsalatiga.ac.id/5761/1/Lutfi Isnan Romdloni... · NILAI-NILAI PENDIDIKAN KARAKTER DALAM BUKU GELANDANGAN DI KAMPUNG

3

DAFTAR RIWAYAT HIDUP

A. Identitas Diri

1. Nama : Lutfi Isnan Romdloni

2. NIM : 23010150361

3. Fakultas/Progdi : FTIK/PAI

4. Tempat/Tanggal Lahir : Boyolali/6 Februari 1997

5. Alamat : Kedokan RT.15 RW. 04, Kel. Klego Kec.

Klego, Kab. Boyolali

6. Nama Ayah : Supomo

7. Nama Ibu : Warinah

8. Agama : Islam

B. Pendidikan

1. TK BA Aisyiyah Kedokan lulus tahun 2003

2. MI Negeri Kedokan lulus tahun 2009

3. Mts Muhammadiyah 07 Klego lulus tahun 2012

4. MAN Karanggede lulus tahun 2015

Demikian daftar riwayat hidup ini penulis buat dengan sebenar-benarnya.

Boyolali, 23 Juli 2019

Penulis,

Lutfi Isnan Romdloni