nilai-nilai pendidikan karakter dalam riwayat …

of 13 /13
77 2020, Jurnal Lingko Volume 2 (1) Hestiyana NILAI-NILAI PENDIDIKAN KARAKTER DALAM RIWAYAT DATU-DATU BANJAR THE VALUES OF CHARACTER EDUCATION IN DATU-DATU BANJAR HISTORY Hestiyana Balai Bahasa Kalimantan Selatan Jalan Jenderal Ahmad Yani Nomor 60 Loktabat Utara, Banjarbaru, Kalsel [email protected] Abstrak Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan nilai-nilai pendidikan karakter dalam riwayat Datu- Datu Banjar. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif dengan menggunakan pendekatan kualitatif. Sumber data dalam penelitian ini diperoleh dari buku Datu-Datu Terkenal Kalimantan Selatan. Teknik yang digunakan dalam pengumpulan data dan analisis data adalah teknik analisis teks. Dari hasil penelitian ditemukan, yaitu: (1) nilai karakter religius, (2) nilai karakter disiplin, (3) nilai karakter mandiri dan tanggung jawab, (4) nilai karakter sahabat atau komunikatif, dan (5) nilai karakter cinta damai. Kelima nilai karakter tersebut terdapat dalam riwayat “Datu Murkat Rantau”, “Datu Kalampayan Martapura”, “Datu Bakumpai Marabahan”, “Datu Taniran Kandangan”, “Datu Sanggul Rantau”, dan “Datu Kandang Haji Paringin”. Kata-kata kunci: nilai, pendidikan karakter, riwayat Datu-Datu Abstract This study aims to describe the values of character education in the history of the Datu-Datu Banjar. This research is a descriptive study using a qualitative approach. The source of data in this study was obtained from the book of Famous Datu-Datu of South Kalimantan. The technique used in data collection and data analysis is text analysis technique. The result of the study indicated the values of character education, namely: (1) religious character values, (2) discipline character values, (3) values of independent and responsibility character, (4) values of friend or communicative character, and (5) values of peace-loving character. The five-character values are found in the history of Datu Murkat Rantau, Datu Kalampayan Martapura, Datu Bakumpai Marabahan, Datu Taniran Kandangan, Datu Sanggul Rantau, and Datu Kandang Haji Paringin. Keywords: values, character education, Datu-Datu history Naskah Diterima 6 Januari 2020—Direvisi Akhir 9 Juni 2020—Diterima 10 Juni 2020

Author: others

Post on 23-Oct-2021

1 views

Category:

Documents


0 download

Embed Size (px)

TRANSCRIPT

Hestiyana
THE VALUES OF CHARACTER EDUCATION IN DATU-DATU BANJAR HISTORY
Hestiyana
Balai Bahasa Kalimantan Selatan Jalan Jenderal Ahmad Yani Nomor 60 Loktabat Utara, Banjarbaru, Kalsel
[email protected]
Abstrak Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan nilai-nilai pendidikan karakter dalam riwayat Datu- Datu Banjar. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif dengan menggunakan pendekatan kualitatif. Sumber data dalam penelitian ini diperoleh dari buku Datu-Datu Terkenal Kalimantan Selatan. Teknik yang digunakan dalam pengumpulan data dan analisis data adalah teknik analisis teks. Dari hasil penelitian ditemukan, yaitu: (1) nilai karakter religius, (2) nilai karakter disiplin, (3) nilai karakter mandiri dan tanggung jawab, (4) nilai karakter sahabat atau komunikatif, dan (5) nilai karakter cinta damai. Kelima nilai karakter tersebut terdapat dalam riwayat “Datu Murkat Rantau”, “Datu Kalampayan Martapura”, “Datu Bakumpai Marabahan”, “Datu Taniran Kandangan”, “Datu Sanggul Rantau”, dan “Datu Kandang Haji Paringin”.
Kata-kata kunci: nilai, pendidikan karakter, riwayat Datu-Datu
Abstract This study aims to describe the values of character education in the history of the Datu-Datu Banjar. This research is a descriptive study using a qualitative approach. The source of data in this study was obtained from the book of Famous Datu-Datu of South Kalimantan. The technique used in data collection and data analysis is text analysis technique. The result of the study indicated the values of character education, namely: (1) religious character values, (2) discipline character values, (3) values of independent and responsibility character, (4) values of friend or communicative character, and (5) values of peace-loving character. The five-character values are found in the history of Datu Murkat Rantau, Datu Kalampayan Martapura, Datu Bakumpai Marabahan, Datu Taniran Kandangan, Datu Sanggul Rantau, and Datu Kandang Haji Paringin.
Keywords: values, character education, Datu-Datu history
Naskah Diterima 6 Januari 2020—Direvisi Akhir 9 Juni 2020—Diterima 10 Juni 2020
78 2020, Jurnal Lingko Volume 2 (1)
Nilai-nilai ...
1. PENDAHULUAN Sastra lisan merupakan hasil karya manusia yang dituturkan secara lisan dan
disebarkan dari mulut ke mulut serta menjadi warisan turun temurun. Sastra lisan itu sendiri merupakan folklor. Dundes (dalam Danandjaja, 2015: 63) menjelaskan bahwa folk adalah sekelompok orang yang memiliki ciri-ciri pengenal fisik, sosial, dan kebudayaan sehingga dapat dibedakan dari kelompok-kelompok lainnya. Ciri-ciri pengenal itu antara lain dapat berwujud warna kulit yang sama, bentuk rambut yang sama, mata pencaharian yang sama, bahasa yang sama, taraf pendidikan yang sama, dan agama yang sama. Namun yang penting lagi mereka telah memiliki satu tradisi, yakni kebudayaan yang telah mereka warisi turun temurun.
Endraswara (2013: 151) mengemukakan pendapat yang sama bahwa sastra lisan adalah karya yang penyebarannya disampaikan dari mulut ke mulut secara turun temurun. Finnegan (dalam Pudentia, 2015: 374) menekankan bahwa karya dapat disebut sastra atau tradisi lisan dengan melihat ketiga aspeknya, yaitu komposisi, cara penyampaian, dan pertunjukkannya.
Dengan demikian, folklor merupakan bagian dari kebudayaan yang menjadi milik bersama masyarakatnya dan disampaikan secara turun-temurun dari mulut ke mulut. Folklor ini memiliki beberapa bentuk dan salah satunya adalah cerita rakyat atau riwayat seseorang. Ciri-ciri kelisanan memang tampak dalam sastra lisan seperti cerita rakyat atau riwayat tokoh agama. Sastra lisan hadir di tengah-tengah masyarakat pendukungnya memberikan sistem nilai yang berfungsi untuk penuntun kehidupan manusia dalam berperilaku. Sastra lisan ini terwujud dalam alam pikiran masyarakat pendukungnya yang mampu membentuk karakter seseorang.
Cerita atau riwayat merupakan bagian dari sastra lisan yang memiliki fungsi dan nilai bagi masyarakat pemilik kebudayaan tersebut. Selain berperan sebagai sumber hiburan juga sarat dengan unsur pendidikan dan pembentukan nilai-nilai karakter yang dapat membentuk karakter anak. Masyarakat Banjar kaya akan sastra lisan berbentuk riwayat yang bersifat religius dan kaya akan nilai-nilai kebaikan yang mampu menuntun kepada pendidikan karakter anak. Daud (1997: 61) mengemukakan bahwa masyarakat Banjar dikenal sebagai masyarakat yang religius dan memegang kuat nilai-nilai agama, tetapi juga masih selalu mempertahankan nilai-nilai tradisi budayanya termasuk sastra.
Dalam kehidupan masyarakat Banjar dipercaya adanya karamoh wali atau datu- datu yang mensyiarkan agama Islam sebagai penuntun dalam menjalani kehidupan. Makam-makam datu atau wali Allah yang pernah menjadi panutan pun masih sering diziarahi. Cerita atau riwayat datu-datu mengandung nilai-nilai luhur dan memiliki fungsi dalam pembentukan karakter anak. Dengan kereligiusan yang dimiliki masyarakat Banjar sehingga dipercayai adanya wali atau seseorang yang memiliki kedudukan istimewa dan mampu menjadi penuntun kehidupan. Daud (1997: 20)
792020, Jurnal Lingko Volume 2 (1)
Hestiyana
mengemukakan bahwa tidak ada kategori tertentu seseorang bisa dianggap sebagai wali, tetapi biasanya seorang ulama dan seseorang yang kecerdasannya kurang dibandingkan umur sebenarnya, sedangkan kuburan keramat, selain kuburan orang yang selagi masih hidup sudah dianggap wali, juga biasanya ialah ulama-ulama terkemuka atau orang yang karena kelakuannya setelah meninggal dianggap sebagai orang yang istimewa di sisi Allah Swt.
Hal ini didukung dengan pendapat Sjamsuddin (2001: 267) yang mengemukakan bahwa Islam masuk ke Kalimantan Selatan dari pulau Jawa pada abad ke-16, yakni ketika Sultan Demak membantu Pangeran Banjar, Pangeran Samudra, menundukkan pamannya yang bernama Pangeran Temenggung dalam perang saudara memperebutkan tahta. Sebagai imbalan terhadap bantuan Sultan Demak itu, Pangeran Samudra menyatakan diri masuk Islam. Ia menjadi sultan Islam pertama dari Kesultanan Banjarmasin dengan gelar Sultan Suriansyah. Konversinya lambat laun agama Islam diikuti oleh para pembesar dan rakyatnya.
Riwayat Datu-Datu Banjar merupakan cerita yang mengandung ajaran-ajaran moral yang mampu membentuk karakter seseorang, terutama peserta didik. Melalui karya sastra berbentuk cerita atau riwayat Datu-Datu Banjar yang diterapkan dalam pembelajaran sastra, anak akan merasa tidak digurui dan dapat mengekspresikan diri mereka dengan cara mereka sendiri. Pembelajaran di sekolah pun diharapkan dapat berjalan lancar dan guru dapat menanamkan rasa keindahan budi pekerti dalam diri peserta didik.
Penelitian yang terkait dengan kajian tentang datu-datu yang terdapat di Kalimantan Selatan pernah dilakukan Hestiyana (2015) berjudul Fungsi Cerita Legenda Datuk Landak bagi Masyarakat Banjar. Dari hasil penelitian ditemukan tiga fungsi, yakni sebagai sistem proyeksi, sebagai alat pengesahan pranata-pranata atau lembaga- lembaga kebudayaan, dan sebagai alat pendidikan yang mencakup nilai moral, nilai keagamaan, serta nilai etika. Kemudian, penelitian yang relevan dengan pendidikan karakter dilakukan Sanubarianto dan Wiyatmi (2019) berjudul Nilai Pendidikan Karakter dalam Cerita Rakyat Kakak Beradik Tange dan Berei. Hasil penelitian tersebut menunjukkan terdapat nilai pendidikan karakter, yaitu religius, jujur, disiplin, kerja keras, kreatif, bersahabat/komunikatif, peduli sosial, toleransi, cinta damai, menghargai prestasi, dan mandiri.
Berbeda dengan penelitian sebelumnya, penelitian ini membahas tentang nilai- nilai pendidikan karakter dalam riwayat Datu-Datu Banjar. Melalui pembelajaran sastra, anak dapat menemukan nilai-nilai luhur atau moral yang mampu mengembangkan pengembangan karakter anak, baik secara eksplisit ataupun implisit dalam kehidupannya.
Berdasarkan uraian terdahulu, masalah penelitian ini adalah bagaimana nilai- nilai pendidikan karakter dalam riwayat Datu-Datu Banjar? Adapun tujuan yang ingin
80 2020, Jurnal Lingko Volume 2 (1)
Nilai-nilai ...
Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif. Wuraji (dalam Jabrohim, 2012: 1) mengemukakan bahwa penelitian adalah suatu kegiatan atau proses sistematis untuk memecahkan masalah dengan dukungan data sebagai landasan dalam mengambil kesimpulan. Berkaitan dengan metode deskriptif, Endraswara (2013: 5) menyatakan bahwa metode kualitatif adalah metode yang paling cocok bagi fenomena sastra.
Ratna (2011: 46) mengatakan bahwa metode kualitatif memanfaatkan cara-cara penafsiran dengan menyajikan data dalam bentuk deskripsi. Sumber data penelitian kualitatif dalam ilmu sastra adalah karya, naskah, dan data penelitiannya. Data formalnya adalah kata-kata, kalimat, dan wacana. Sumber data dalam penelitian ini adalah buku Cerita Datu-Datu Terkenal Kalimantan Selatan yang disusun oleh Tim Sahabat (2013). Awalnya, riwayat Datu-Datu ini hanya dituturkan dari mulut ke mulut saja dalam masyarakat Banjar. Akan tetapi, agar cerita riwayat Datu-Datu Banjar tidak hilang dan punah riwayat tersebut kemudian dituliskan dan dipublikasikan dalam bentuk buku. Hal ini juga untuk inventaris sastra daerah sehingga dapat diwariskan kepada generasi penerus.
Semi (2012: 105) menyatakan bahwa teknik merupakan cara khas yang digunakan atau dilalui dalam mencapai tujuan yang telah ditetapkan dan dengan berpegang pada proses sistematis yang terdapat dalam metode. Dalam hal ini, teknik yang digunakan dalam pengumpulan data dan analisis data adalah teknik analisis teks. Siregar, dkk., (2015: 1) menyatakan bahwa studi teks merupakan salah satu metodologi dalam lingkup kajian penelitian kualitatif yang menitikberatkan pada analisis atau interpretasi bahan tertulis berdasarkan konteksnya. Bahan dapat berupa catatan yang terpublikasikan, buku teks, surat kabar, majalah, surat-surat, film, catatan harian, naskah, artikel, dan sejenisnya. Pendapat yang sama disampaikan Titscher, dkk., (2009: 32) menyatakan bahwa kata teks menghadirkan bayangan tentang buku, majalah, atau surat kabar. Teknik analisis teks digunakan untuk mendeskripsikan nilai-nilai pendidikan karakter dalam riwayat Datu-Datu Banjar.
2. KAJIAN TEORI Terkait dengan nilai-nilai moral yang dapat membentuk karakter seseorang,
Bertens (2011: 31) mengemukakan bahwa setiap masyarakat memiliki dan mengenal nilai-nilai dan norma-norma etis. Nilai dan norma tersebut berkaitan dengan erat dengan perilaku dan moralitas individu di dalam masyarakat. Menurut Bertens (dalam Pudentia, 2015: 395), untuk memahami apa yang disebut nilai, perlu dilakukan dengan perbandingan fakta. Fakta ditemui dalam konteks deskripsi: semua unsurnya dapat dilukiskan satu demi satu dan uraian itu pada prinsipnya dapat diterima oleh
812020, Jurnal Lingko Volume 2 (1)
Hestiyana
semua orang. Nilai adalah segala sesuatu yang berharga (Koyan, 2000: 12). Menurut Koyan,
ada dua nilai, yaitu nilai ideal dan nilai aktual. Nilai ideal adalah nilai-nilai yang menjadi cita-cita setiap orang, sedangkan nilai aktual adalah nilai yang diekspresikan dalam kehidupan sehari-hari. Kemudian, Zuriah (2007: 38) mengatakan bahwa dalam pendidikan formal (di sekolah) nilai-nilai yang akan ditanamkan serta metode dan kegiatan yang akan digunakan untuk penanaman nilai tersebut direncanakan dan dirancang secara bertahap sesuai dengan tugas perkembangan jiwa anak. Jadi, nilai merupakan sesuatu yang dicari dan sesuatu yang diinginkan yang menjadi pedoman dalam pembentukan karakter dan dapat diekspresikan dalam bertindak dan berperilaku di kehidupan sehari-hari.
Karya sastra dicipta, tidak lain sebagai alat “menanamkan” nilai-nilai atau moral dan budi pekerti, agar pembaca semakin bersifat arif. Karya yang mampu mempengaruhi moralitas pembaca, meninggikan akhlak, dan mengangkat nilai-nilai humanis adalah karya yang sukses. Dengan kata lain, peneliti akan menyoroti masalah ajaran-ajaran moral dalam karya sastra (Endraswara, 2013: 165).
Dalam suatu karya sastra terpancar pemikiran dan kehidupan serta tradisi suatu masyarakat. Menurut Dundes (dalam Danandjaja, 2002: 1) bahwa folk merupakan suatu masyarakat yang memiliki ciri-ciri yang sama dan budaya yang sama yang tinggal dalam daerah tertentu, sedangkan lore merupakan sebagian dari kebudayaan yang disampaikan secara turun-temurun dari mulut ke mulut. Folklor memiliki beberapa bentuk dan salah satunya ialah cerita rakyat atau riwayat seseorang.
Dalam cerita atau riwayat banyak tertanam nilai-nilai karakter yang patut diteladani anak. Hal ini seperti yang dikemukakan Rusyana (dalam Djamari, 2013: 211) bahwa keteladanan yang terdapat dalam cerita dapat berupa (1) ajaran kebaikan terdapat dalam cerita, (2) moral yang digambarkan, (3) falsafah hidup tokoh-tokohnya, (4) ganjaran yang diterima tokoh-tokohnya, (5) isme-isme yang memengaruhi atau menggerakkan tokohnya, (6) kekalahan nilai keburukan, (7) keadaan pendidikan tokohnya yang digambarkan, dan (8) amanat di akhir cerita.
Karakter merupakan watak atau sifat yang mendasar dalam diri seseorang. Wisniewski dan Miller dalam Sukowati (2016: 233) mengemukakan bahwa karakter atau watak merupakan suatu hubungan timbal balik antara diri (self) dengan tiga hal yang pasti ada, yaitu lingkungan internal (diri), lingkungan eksternal (orang lain dan lingkungan fisik), dan lingkungan spiritual (sesuatu yang lebih besar dan abadi dari diri).
Alwisol (2006: 8) karakter merupakan gambaran tingkah laku yang menonjolkan nilai benar-salah, baik-buruk, baik secara eksplisit maunpun implisit. Karakter berbeda dengan kepribadian karena pengertian kepribadian dibebaskan dari nilai. Meskipun demikian, baik kepribadian maupun karakter berwujud tingkah laku yang ditunjukkan
82 2020, Jurnal Lingko Volume 2 (1)
Nilai-nilai ...
kepada lingkungan sosial. Keduanya relatif permanen, menuntun, mengarahkan, dan mengorganisir aktivitas individu.
Ratna dalam Pamungkas (2012: 22) menyusun karakter mulia yang selayaknya diajarkan kepada anak yang disebut sembilan pilar, yaitu: (1) cinta Tuhan dan alam semesta beserta isinya; (2) tanggung jawab, kedisiplinan, dan kemandirian; (3) kejujuran; (4) hormat dan santun; (5) kasih sayang; (6) percaya diri, kreatif, kerja keras, dan pantang menyerah; (7) keadilan dan kepemimpinan; (8) baik dan rendah hati; dan (9) toleransi, cinta damai, dan persatuan.
Aspek pembentuk karakter yang merupakan pokok pendidikan karakter di Indonesia yang telah dirumuskan oleh Pusat Kurikulum dan Perbukuan Kemendikbud, yaitu: (1) religius, (2) jujur, (3) toleransi, (4) disiplin, (5) kerja keras, (6) kreatif, (7) mandiri, (8) demokratis, (9) rasa ingin tahu, (10) semangat kebangsaan, (11) cinta tanah air, (12) menghargai prestasi, (13) bersahabat atau komunikatif, (14) cinta damai, (15) gemar membaca, (16) peduli lingkungan, (17) peduli sosial, dan (18) tanggung jawab (Al-Ma’ruf, 2014: 26).
Foerster dalam Adisusilo (2017: 78) menjelaskan bahwa terdapat empat ciri dasar pendidikan karakter. Pertama, keteraturan interior di mana setiap tindakan diukur berdasarkan seperangkat nilai yang menjadi pedoman normatif setiap tindakan. Kedua, koherensi yang memberi keberanian, yang membuat seseorang teguh pada prinsip, tidak mudah terombang-ambing pada situasi. Ketiga, otonomi maksudnya seseorang menginternalisasikan nilai-nilai dari luar sehingga menjadi nilai-nilai pribadi, menjadi sifat yang melekat, melalui keputusan bebas tanpa paksaan dari orang lain. Keempat, keteguhan dan kesetiaan. Keteguhan merupakan daya tahan seseorang guna mengingini apa yang dipandang baik dan kesetiaan merupakan dasar bagi penghormatan atas komitmen yang dipilih.
Pendidikan karakter telah muncul bersamaan dengan lahirnya sistem pendidikan itu sendiri (Sullivan dalam Agboola & Kaun, 2012: 1). Kemudian, Aqib & Sujak (2011: 3) menjelaskan bahwa pendidikan karakter adalah segala sesuatu yang dilakukan guru yang mampu mempengaruhi peserta didik. Pendidikan karakter mengandung makna, antara lain: (1) pendidikan yang terintegrasi dengan pembelajaran yang terjadi pada semua mata pelajaran, (2) diarahkan pada penguatan dan pengembangan perilaku anak secara utuh, (3) penguatan dan pengembangan perilaku didasari oleh nilai yang dirujuk sekolah atau lembaga (Kesuma & Permana, 2011: 5).
Pendidikan karakter merupakan proses pembelajaran untuk menanamkan nilai-nilai luhur, budi pekerti, akhlak mulia yang berakar pada ajaran agama, adat istiadat, dan nilai-nilai keindonesiaan dalam rangka mengembangkan kepribadian peserta didik agar menjadi manusia yang bermartabat, menjadi warga bangsa yang berkarakter sesuai nilai-nilai luhur bangsa dan agama (Sardiman, 2009: 76).
Pendidikan karakter sebagai upaya pembentukkan karakter tidak diajarkan
832020, Jurnal Lingko Volume 2 (1)
Hestiyana
secara mandiri sebagai sebuah bahan ajar sebagaimana halnya mata pelajaran yang lain, melainkan termuat dan diikutsertakan dalam pembelajaran berbagai mata pelajaran, baik dalam proses dan strategi pembelajaran. Apabila dimungkinkan juga masuk dalam pembelajaran agama, kesenian, bahasa dan sastra, sejarah, matematika, dan lain-lain (Nurgiyantoro, 2010: 26).
Zuchdi (2006: 39) menyatakan bahwa tujuan pendidikan karakter adalah mengajarkan nilai-nilai tradisional tertentu, nilai-nilai yang diterima secara luas sebagai landasan perilaku yang baik dan bertanggung jawab. Tujuan pendidikan karakter adalah mendorong lahirnya anak-anak yang baik. Anak-anak yang tumbuh dalam karakter yang baik akan tumbuh dengan kapasitas dan komitmennya untuk melakukan berbagai hal yang terbaik dan melakukan segalanya dengan benar sesuai dengan tujuan hidup yang dimilikinya (Musfiroh, 2008: 29).
Aqib dan Sujak (2011: 24) menjelaskan tujuan dikembangkannya pendidikan karakter melalui manajemen sekolah adalah untuk memberikan rambu-rambu bagi kepala sekolah agar melakukan hal-hal berikut: (1) merencanakan, melaksanakan, dan melakukan pengawasan terhadap seluruh program sekolah yang dijiwai nilai-nilai karakter dalam hubungannya dengan Tuhan Yang Maha Esa, diri sendiri, sesama manusia, lingkungan, dan nilai-nilai kebangsaan; (2) mengelola komponen kurikulum dan pembelajaran, pendidik dan tenaga kependidikan, sarana dan prasarana, peserta didik, dan biaya pendidikan yang dijiwai nilai-nilai karakter dalam hubungannya dengan Tuhan Yang Maha Esa, diri sendiri, sesama manusia, lingkungan, dan nilai- nilai kebangsaan; (3) memadukan nilai-nilai dalam manajemen berbasis sekolah seperti kemandirian, kerja sama, partisipasi, transparansi, dan akuntabilitas dengan nilai-nilai karakter dalam hubungannya dengan Tuhan Yang Maha Esa, diri sendiri, sesama manusia, lingkungan, dan nilai-nilai kebangsaan.
Materi pembelajaran di sekolah yang berkaitan dengan nilai-nilai karakter perlu dikembangkan dan diterapkan dalam diri anak. Hal ini seperti yang diungkapkan Imam (dalam Karni, 2008: 139) bahwa sekolah yang berkualitas adalah sekolah yang di dalamnya ada perangkat yang bisa menstimulasi sebuah inspirasi.
Dengan demikian, pendidikan karakter merupakan pendidikan yang diberikan kepada siswa agar siswa memiliki kepribadian yang luhur serta akhlak yang mulia. Karakter merupakan konsep lama yang berarti seperangkat sifat-sifat yang selalu dikagumi sebagai tanda-tanda kebaikan dan kematangan moral. Pembelajaran sastra di sekolah mampu menjadi sarana strategis dalam pendidikan karakter anak di sekolah. Tentunya, hal ini perlu apresiasi pendidik dan tenaga kependidikan di sekolah. Melalui media cerita atau riwayat, siswa akan lebih mudah memahami dan menerapkan nilai-nilai karakter dalam hubungannya dengan Tuhan Yang Maha Esa, diri sendiri, sesama manusia, lingkungan, dan nilai-nilai kebangsaan.
84 2020, Jurnal Lingko Volume 2 (1)
Nilai-nilai ...
3. PEMBAHASAN Penelitian ini akan menganalisis nilai-nilai pendidikan karakter yang telah dirumuskan oleh Pusat Kurikulum dan Perbukuan Kemendikbud dalam Al-Ma’ruf (2014: 26). Dari hasil kajian, berikut nilai-nilai pendidikan karakter yang terdapat dalam riwayat Datu-Datu Banjar yang perlu diapresiasi, baik oleh guru ataupun peserta didik sebagai pembelajaran sastra di sekolah. Dalam buku Datu-Datu Terkenal Kalimantan Selatan akan diambil enam riwayat Datu-Datu Banjar berjudul “Datu Murkat Rantau,” “Datu Kalampayan Martapura,” “Datu Bakumpai Marabahan,” “Datu Taniran Kandangan,” “Datu Sanggul Rantau,” dan “Datu Kandang Haji Paringin.” Dari keenam riwayat Datu-Datu Banjar tersebut akan dipilih satu nilai pendidikan karakter yang paling banyak ditemukan dan mewakili nilai karakter sesuai dengan tujuan penelitian ini. Berikut penjelasannya
3.1 Nilai Karakter Religius Nilai karakter religius merupakan nilai tentang keagamaan. Nilai religius ini
harus ditanamkan kepada peserta didik sejak dini. Begitu juga dengan sikap hidup saling hormat-menghormati terhadap sesama. Agama juga mengajarkan agar selalu taat beribadah, memiliki akhlak yang mulia, serta hati yang selalu sabar. Berikut hasil analisis nilai karakter religius yang terdapat dalam riwayat Datu Murkat.
“Menurut hujarat orang tua dahulu kita akan kedatangan musuh dari luar yang sukar ditandingi, musuh tersebut akan mengalahkan dan menjajah kita” lanjut Datu Murkat, “namun kita tidak perlu gentar untuk menghadapinya, semua telah ditentukan oleh Allah dan Allah akan berpihak kepada orang yang sabar dan akan memberi jalan dari kesulitan apapun, dan sesuai pesan Datu Suban kita harus bersatu padu” Datu Murkat menambahkan pesannya (hlm. 87).
Dari kutipan di atas diceritakan bahwa Datu Murkat mengatakan kepada para sahabatnya agar sabar dan tidak takut kepada musuh karena semua sudah ditentukan oleh Allah. Riwayat Datu Murkat ini mengajarkan kepada peserta didik agar senantiasa memiliki sifat sabar, yakni menahan diri ketika kita sedang mengalami kesusahan. Dengan nilai keimanan ini, Allah sudah menjanjikan surga kepada orang-orang yang menjalankan semua perintah-Nya secara baik dan sesuai dengan syariat yang sudah Allah perintahkan.
Dalam cerita riwayat Datu Kalampayan juga sarat akan nilai-nilai keagamaan, yakni nilai syariah. Hal ini nampak ketika beliau dalam perjalanan menuju Banjarmasin dan masih berada tanah Betawi (Jakarta), beliau berkunjung ke beberapa masjid. Kemudian, beliau melihat beberapa masjid yang arah kiblatnya masih kurang tepat. Dengan ilmu yang beliau miliki, akhirnya beliau membetulkan arah kiblat masjid yang kurang tepat tersebut. Berikut kutipannya.
Setiba di tanah Betawi (Jakarta) Muhammad Arsyad dan kawan-kawan disambut oleh para ulama dan orang banyak yang gembira. Selama 60 hari berada di Betawi (Jakarta), beliau berkunjung ke beberapa
852020, Jurnal Lingko Volume 2 (1)
Hestiyana
mesjid. Berkat beberapa karamah (keahlian) yang beliau miliki, beliau dapat membetulkan arah kiblat mesjid yang kurang tepat. Mesjid yang beliau perbaiki arah kiblatnya adalah Mesjid Jembatan Lima, Mesjid Luar Batang, dan Mesjid Pekojan (hlm. 31-32).
3.2 Nilai Karakter Disiplin Nilai karakter disiplin terdapat dalam riwayat Datu Bakumpai Marabahan.
Qadhi Haji Abdush Shamad merupakan cucu dari Syeikh Muhammad Arsyad Al- Banjari. Beliau mewarisi sikap disiplin dalam menuntut ilmu agama sehingga banyak ilmu yang beliau peroleh dengan cepat menghimpun ilmu-ilmu syariat, tarekat, dan hakikat (ma’riat) dalam waktu yang relatif singkat. Berikut hasil analisis nilai karakter disiplin yang terdapat dalam riwayat Datu Bakumpai Marabahan.
Setibanya di Tanah Haram Makkah Al-Mukarramah Qadhi Haji Abdush Shamad berjumpa dengan keponakannya yang bernama Mufti Haji Jamaluddin bin Haji Ahmad Kusyasyi yang telah dua puluh tahun lamanya menuntut ilmu agama sekaligus bermukim di sana sebelum akhirnya kedatangan sang paman (Qadhi Haji Abdush Shamad). Maka mulailah Qadhi Haji Abdush Shamad mengaji kepada guru- guru dan para ulama di Tanah Suci Makkah Al-Mukarramah dengan tekunnya sehingga dalam waktu relatif singkat banyak ilmu pengetahuan yang ia dapatkan (hlm. 96).
Dari kutipan di atas dapat diketahui bahwa dalam riwayat Datu Bakumpai Marabahan terdapat nilai karakter disiplin. Melalui media riwayat Datu Bakumpai Marabahan, guru dapat mengajarkan kepada peserta didik bahwa karakter disiplin harus ditanamkan dalam diri sendiri. Dengan pemberian materi pembelajaran sastra berbasis nilai karakter, guru dapat membimbing peserta didik menjadi anak yang mempunyai disiplin tinggi.
3.3 Nilai Karakter Mandiri dan Tanggung Jawab Nilai karakter mandiri dan tanggung jawab terdapat dalam riwayat Datu Taniran
Kandangan. Diceritakan bahwa Datu Taniran adalah sosok panutan yang mempunyai sikap mandiri dan tanggung jawab. Hal ini nampak dari pribadi Datu Taniran yang hidup mandiri dalam menuntut ilmu. Bahkan, setelah selesai menuntut ilmu pun beliau pun masih merasa memiliki tanggung jawab dalam menyebarkan ilmu agama kepada masayarakat Banjar. Berikut hasil analisis nilai karakter mandiri dan tanggung jawab yang terdapat dalam riwayat Datu Taniran Kandangan.
Di usia 35 tahun, yaitu setelah bermukim dan menuntut ilmu di Tanah Suci Makkah Al-Mukarramah selama 10 tahun, beliau kembali ke tanah air dengan membawa ilmu pengetahuan yang sarat dan luas serta gelar Al-Alimul Allamah. Sekembalinya dari berhaji dan menuntut ilmu di Tanah Suci, beliau tidak langsung berdakwah namun beliau langsung berkhadam kepada orang tua beliau, yaitu Alimul Allamah Mufti Haji Muhammad As’ad dan juga selalu mengikuti saudara-saudara beliau yang berdakwah ke berbagai daerah. Dua tahun sekembalinya beliau dari berhaji dan menuntut ilmu di Tanah Suci, pada tahun 1812 Masehi beliau berhijrah dari Dalam Pagar, Martapura ke Kampung Taniran (Kandangan/ Hulu Sungai Selatan). Beliau berhijrah dan menetap di Kampung Taniran adalah untuk menjadikan kampung tersebut tempat untuk mengajar dan sebagai pusat atau basis penyiaran agama Islam untuk daerah Hulu Sungai atau Banua Lima (hlm. 144—145).
86 2020, Jurnal Lingko Volume 2 (1)
Nilai-nilai ...
Dari kutipan di atas dapat diketahui bahwa dalam riwayat Datu Taniran Kandangan terdapat nilai karakter mandiri dan tanggung jawab. Dengan pembelajaran sastra berbasis nilai karakter, guru dapat mengajarkan kepada peserta didik bahwa karakter mandiri dan tanggung jawab harus diterapkan dalam kehidupan sehari-hari, terutama di sekolah.
3.4 Nilai Karakter Bersahabat atau Komunikatif Nilai karakter bersahabat atau komunikatif ditemukan dalam riwayat Datu
Sanggul Rantau. Diceritakan bahwa Datu Sanggul datang dari Palembang ke daerah Tatakan, Rantau dengan tujuan untuk memperdalam ilmu agama kepada Datu Suban. Konon berkat mengamalkan ilmu yang diperoleh, baik lewat guru maupun lewat membaca Kitab Barencong sehingga beliau mendapat kesaktian atau keramat dari Allah Swt. Beliau setiap hari Jumat melaksanakan salat Jumat di Masjidil Haram, Makkah. Berikut hasil analisisnya.
Karena seringnya salat Jumat di Masjidil Haram, Makkah, maka beliau pun dapat berkenalan dengan Syekh Muhammad Arsyad Al-Banjari yang sedang menuntut ilmu di Tanah Suci Makkah. Dari perkenalan itu membuahkan persahabatan. Datu Sanggul selalu membawakan oleh-oleh dari tanah air seperti cempedak, konon cempedak yang diberikan kepada Syekh Muhammad Arsyad Al-Banjari masih bergetah, sebagai tanda baru saja dipetik dan sebagai tanda bahwa perjalanan Datu Sanggul dari Tatakan ke Makkah Al- Mukarramah tersebut hanya sebentar (hlm. 219).
Dari kutipan di atas dapat diketahui bahwa dalam riwayat Datu Sanggul Rantau mengandung nilai karakter bersahabat atau komunikatif. Hal ini terlihat dari persahabatan Datu Sanggul dengan Syekh Muhammad Arsyad Al-Banjari. Kedua Datu tersebut sering bertemu dan saling berkomunikasi untuk menanyakan kampung halaman. Bahkan, Datu Sanggul membawakan oleh-oleh buah cempedak kepada Syekh Muhammad Arsyad Al-Banjari sebagai obat pelepas rindu akan kampung halaman. Kemudian, nilai karakter bersahabat dan komunikatif juga ditemukan pada kutipan di bawah ini.
Sebagai bukti keduanya bersahabat, kitab yang diperoleh Datu Sanggul hasil berguru dari Datu Suban, dipotong dua secara rencong. Kitab tersebut dipotong Datu Sanggul dengan kuku jari beliau, setelah Syekh Muhammad Arsyad Al-Banjari gagal memotongnya dengan menggunakan Mandau. Hasil potongan itu, satu diberikan kepada Syekh Muhammad Arsyad Al-Banjari dan yang satunya disimpan oleh Datu Sanggul sendiri (hlm. 219).
Kutipan di atas menunjukkan bahwa persahabatan antara Datu Sanggul dengan Syekh Muhammad Arsyad Al-Banjari yang seperti saudara sendiri. Bahkan, Datu Sanggul rela membagikan separo Kitab Barencong yang diberikan guru beliau, yakni Datu Suban kepada sahabatnya Syekh Muhammad Arsyad Al-Banjari. Jadi, melalui media pembelajaran sastra berbasis nilai-nilai pendidikan karakter, guru sebagai pendidik dapat menerapkan kepada siswa mengenai nilai persahabatan.
872020, Jurnal Lingko Volume 2 (1)
Hestiyana
3.5 Nilai Karakter Cinta Damai Nilai karakter cinta damai terdapat dalam riwayat Datu Kandang Haji Paringin.
Dalam riwayat beliau diceritakan bahwa masyarakat pada masa itu hidup tenteram dan damai. Berikut hasil analisis nilai karakter cinta damai yang terdapat dalam riwayat Datu Kandang Haji Paringin.
Awalnya Desa Baluning dibangun oleh dua orang bersaudara dan delapan saudara sepupu. Mereka masing- masing mempunyai kelebihan atau keistimewaan. Desa yang dibangun oleh para datu itu pada masanya penuh dengan kedamaian, ketenteraman, dan kesejahteraan. Hal itu karena desa tersebut dibangun dan dibina oleh para datu yang bijak bestari (hlm. 255).
Dari kutipan di atas, dapat diketahui bahwa dalam riwayat Datu Kandang Haji Paringin sarat akan nilai karakter cinta damai. Melalui media riwayat Datu Kandang Haji Paringin, guru dapat mengajarkan kepada peserta didik bahwa kehidupan yang rukun, damai dan tenteram akan selalu mendatangkan kebahagiaan. Akan tetapi, kehidupan yang penuh perkelahian dan permusuhan akan merugikan diri sendiri dan orang lain.
4. SIMPULAN Dari hasil analisis nilai-nilai pendidikan karakter dalam riwayat Datu-Datu
Banjar ditemukan antara lain: (1) nilai karakter religius, (2) nilai karakter disiplin, (3) nilai karakter mandiri dan tanggung jawab, (4) nilai karakter sahabat atau komunikatif, dan (5) nilai karakter cinta damai. Kelima nilai karakter tersebut terdapat dalam riwayat “Datu Murkat Rantau”, “Datu Kalampayan Martapura”, “Datu Bakumpai Marabahan”, “Datu Taniran Kandangan”, “Datu Sanggul Rantau”, dan “Datu Kandang Haji Paringin”.
Dengan nilai-nilai pendidikan karakter dalam riwayat Datu-Datu Banjar yang terkait dengan pembelajaran sastra di sekolah, guru dapat menanamkan nilai-nilai karakter dalam diri siswa sebagai peserta didik. Selain itu, siswa akan lebih mudah menyerap nilai-nilai moral dan ajaran-ajaran luhur yang menjadi salah satu metode untuk menuju pendidikan karakter bangsa yang lebih baik lagi.
DAFTAR PUSTAKA Adisusilo, Sutarjo. 2017. Pembelajaran Nilai-Karakter Konstruktivisme dan VCT Sebagai
Inovasi Pendekatan Pembelajaran Afektif. Jakarta: RajaGrafindo Persada. Agboola, Alex & Kaun Chen Tsai. 2012. “Bring Character Education into Classroom”.
Dalam European Journal of Educational Research, Vol. 1 (2), 163—170. Al-Ma’ruf, Ali Imron. 2014. Signifikansi Sastra Transendental dan Ekranisasi Sastra Sebagai
Potensi Industri Kreatif dalam Perspektif Budaya Bangsa. Surakarta: Universitas Muhammadiyah Surakarta.
Aqib, Zainal & Sujak. 2011. Panduan dan Aplikasi Pendidikan Karakter. Bandung: Yama Widya.
88 2020, Jurnal Lingko Volume 2 (1)
Nilai-nilai ...
Bertens, K. 2011. Etika. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama. Djanandjaja, James. 2002. Folklor Indonesia, Ilmu Gosip, Dongeng, dan Lain-lain. Jakarta:
Grafiti Press. -----------------------. 2015. “Pendekatan Folklor dalam Penelitian Bahan-Bahan Tradisi
Lisan.” Dalam Pudentia MPSS (ed.), Metodologi Kajian Tradisi Lisan, hlm. 63—78. Jakarta: Yayasan Pustaka Obor Indonesia.
Daud, Alfani. 1997. Islam dan Masyarakat Banjar. Jakarta: Raja Grafindo Persada. Djamari. 2013. “Nilai-Nilai Edukatif dalam Kumpulan Cerpen Darah Karya Putu
Wijaya”. Dalam Aksara, Volume 25 (2), hlm. 210—230. Denpasar: Balai Bahasa Provinsi Bali.
Endraswara, Suwardi. 2013. Metodologi Penelitian Sastra Epistemologi, Model, Teori, dan Aplikasi. Yogyakarta: Buku Seru.
----------------------------, dkk., (Ed.). 2013. Folklor dan Folklife dalam Kehidupan Dunia Modern: Kesatuan dan Keberagaman. Yogyakarta: Ombak.
Hestiyana. 2015. “Fungsi Cerita Legenda Datu Landak bagi Masyarakat Banjar”. Dalam Undas, Volume 11 (2), hlm. 80—92. Banjarbaru: Balai Bahasa Provinsi Kalimantan Selatan.
Jabrohim. 2012. Teori Penelitian Sastra. Yogyakarta: Pustaka Pelajar. Karni, Asrori S. 2008. Laskar Pelangi: The Phenomenon. Jakarta: Mizan Publika. Kesuma & Johan Permana. 2011. Pendidikan Karakter Kajian Teori dan Praktik di Sekolah.
Bandung: Remaja Rosdakarya. Koyan, I Wayan. 2000. Pendidikan Moral Pendekatan Lintas Budaya. Jakarta: Depdiknas. Musfiroh, Tadzkirotun. 2008. Tinjauan Berbagai Aspek Character Building: Pengembangan
Karakter Anak melalui Pendidikan Karakter. Yogyakarta: Tiara Kencana. Nurgiyantoro, Burhan. 2010. Sastra Anak: Pengantar Pemahaman Dunia Anak. Yogyakarta:
Gajah Mada University. Pamungkas, Sri. 2012. Bahasa Indonesia dalam Berbagai Perspektif. Yogyakarta: ANDI. Pudentia (Ed.). 2015. Metodologi Kajian Tradisi Lisan. Jakarta: Yayasan Pustaka Obor
Indonesia. Ratna, Nyoman Kutha. 2011. Teori, Metode, dan Teknik Penelitian Sastra. Yogyakarta:
Pustaka Pelajar. Sanubarianto, Salimullah Tegar & Wiyatmi. 2019. “Nilai Pendidikan Karakter dalam
Cerita Rakyat Kakak Beradik Tange dan Berei”. Dalam Lingko, Vol. 1, No. 2, hlm. 177—194.
Sardiman. 2009. “Membangun Karakter Bangsa melalui Pembelajaran Sejarah.” Dalam Zuchdi (ed.) Pendidikan Karakter Grand Design dan Nilai-Nilai Target, hlm. 71—82. Yogyakarta: UNS Press.
Semi, M. Atar. 2012. Metode Penelitian Sastra. Bandung: Angkasa Jaya. Siregar, Thufeil Alfarisi, dkk. 2015. “Studi Teks dan Dokumentasi”. Makalah dalam
Penelitian Kualitatif. Universitas Sumatera Utara. Sjamsuddin, Helius. 2001. Pegustian dan Temenggung Akar Sosial, Politik, Etnis, dan
Dinasti Perlawanan di Kalimantan Selatan dan Kalimantan Tengah 1859-1906. Jakarta:
892020, Jurnal Lingko Volume 2 (1)
Hestiyana
Balai Pustaka. Sukowati, Ida. 2016. “Karya Sastra Berbasis Karakter Sebagai Media Pembangun
Mental Berbangsa Tantangannya Kini dan Nanti”. Dalam Prosiding Seminar Nasional Pendidikan Bahasa dan Sastra sebagai Media Revolusi Mental Generasi Masa Depan, September 2016, hlm. 231-238.
Tim Sahabat. 2013. Datu-Datu Terkenal Kalimantan Selatan. Kandangan: “Sahabat” Mitra Pengetahuan.
Titscher, dkk. 2009. Metode Analisis Teks dan Wacana. Yogyakarta: Pustaka Pelajar. Zuchdi, Darmiyati. 2006. Humanisasi Pendidikan: Menemukan Kembali Pendidikan yang
Manusiawi. Jakarta: Bumi Aksara. Zuriah, Nurul. 2007. Pendidikan Moral dan Pendidikan Budi Pekerti dalam Perspektif
Perubahan: Menggagas Platform Pendidikan Budi Pekerti secara Kontekstual dan Futuristik. Jakarta: Bumi Aksara.