nilai-nilai pendidikan karakter dalam tradisi...

of 145 /145
NILAI-NILAI PENDIDIKAN KARAKTER DALAM TRADISI TAHLILAN DI DESA SRATEN KECAMATAN TUNTANG KABUPATEN SEMARANG TAHUN 2018 SKRIPSI Diajukan Untuk Memenuhi Kewajiban dan Syarat Guna Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan (S.Pd) Oleh: MUHAMMAD FAUZIL „ADZIM NIM. 11114120 JURUSAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM (PAI) FAKULTAS TARBIYAH DAN ILMU KEGURUAN (FTIK) INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI (IAIN) SALATIGA 2018

Author: ngoanh

Post on 10-Jul-2019

245 views

Category:

Documents


2 download

Embed Size (px)

TRANSCRIPT

  • NILAI-NILAI PENDIDIKAN KARAKTER

    DALAM TRADISI TAHLILAN DI DESA SRATEN

    KECAMATAN TUNTANG KABUPATEN SEMARANG

    TAHUN 2018

    SKRIPSI

    Diajukan Untuk Memenuhi Kewajiban dan Syarat

    Guna Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan (S.Pd)

    Oleh:

    MUHAMMAD FAUZIL ADZIM

    NIM. 11114120

    JURUSAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM (PAI)

    FAKULTAS TARBIYAH DAN ILMU KEGURUAN (FTIK)

    INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI (IAIN)

    SALATIGA

    2018

  • ii

  • iii

    NILAI-NILAI PENDIDIKAN KARAKTER

    DALAM TRADISI TAHLILAN DI DESA SRATEN KECAMATAN

    TUNTANG KABUPATEN SEMARANG TAHUN 2018

    SKRIPSI

    Diajukan Untuk Memenuhi Kewajiban dan Syarat

    Guna Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan (S.Pd)

    Oleh:

    MUHAMMAD FAUZIL ADZIM

    NIM. 11114120

    JURUSAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM (PAI)

    FAKULTAS TARBIYAH DAN ILMU KEGURUAN (FTIK)

    INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI (IAIN)

    SALATIGA

    2018

  • iv

  • v

  • vi

  • vii

    MOTTO

    . .

    . ): ( -

    Hai orang-orang yang beriman, berzikirlah (dengan menyebut nama) Allah,

    zikir yang sebanyak-banyaknya. Dan bertasbihlah kepada-Nya di waktu pagi dan

    petang. Dialah yang memberi rahmat kepadamu dan malaikat-Nya (memohonkan

    ampunan untukmu), supaya Dia mengeluarkan kamu dari kegelapan kepada

    cahaya (yang terang). Dan adalah Dia Maha Penyayang kepada orang-orang

    yang beriman. (Qs. Al-Ahzab: 41-43)

  • viii

    PERSEMBAHAN

    Puji syukur kehadirat Allah SWT. atas limpahan rahmat serta karunia-Nya, skripsi

    ini penulis persembahkan untuk :

    1. Bapak dan ibuku tersayang, Muzazin dan Sri Muflikhah yang selalu

    membimbingku, memberikan doa, nasihat, kasih sayang, dan motivasi dalam

    kehidupanku.

    2. Saudara kandungku adik Aini Aqilatul Munawaroh dan M. Ulul Azmi atas

    motivasi yang tak ada hentinya kepadaku sehingga proses penempuhan gelar

    sarjana ini bisa tercapai.

  • ix

    KATA PENGANTAR

    Assalamualaikum Wr. Wb

    Bismillahirrahmanirrohim

    Puji syukur alhamdulillahi robbilalamin, penulis panjatkan kepada Allah

    Swt yang selalu memberikan nikmat, kaunia, taufik, serta hidayah- Nya sehingga

    dapat menyelesaikan skripsi ini. Sholawat serta salam semoga senantiasa

    tercurahkan kepada nabi agung Muhammad SAW, kepada keluarga, sahabat, serta

    para pengikutnya yang selalu setia dan menjadikannya suri tauladan yang mana

    beliau satu-satunya umat manusia yang dapat mereformasi umat manusia dari

    zaman kegelapan menuju zaman terang benerang seperti ini yakni dengan

    ajarannya agama Islam.

    Skripsi ini berjudul Nilai-Nilai Pendidikan Karakter Dalam Tradisi

    Tahlilan di Desa Sraten Kecamatan Tuntang Kabupaten Semarang Tahun 2018.

    Topik yang diangkat dalam penulisan skripsi ini bertujuan untuk menggambarkan

    nilai-nilai pendidikan karakter dalam tardisi tahlilan di masyarakat desa Sraten

    yang selama ini belum banyak diketahui oleh masyarakat desa kecuali ulama atau

    mereka yang pernah mengenyam pendidikan formal atau non formal.

    Penulisan skripsi ini pun tidak akan terselesaikan tanpa bantuan dari

    berbagai pihak yang telah berkenan membantu penulis menyelesaikan skripsi ini.

    Oleh karena itu penulis mengucapkan banyak terimakasih kepada:

    1. Rektor IAIN Salatiga, Bapak Dr. Rahmat Hariyadi, M.Pd.

    2. Dekan Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan, Bapak Suwardi, M.Pd.

  • x

    3. Ketua jurusan PAI IAIN Salatiga, Ibu Siti Rukhayati, M.Ag.

    4. Bapak Dr. Miftahuddin, M.Ag. selaku pembimbing skripsi yang telah

    memberikan saran, arahan dan bimbingan dengan ikhlas dan kebijaksanaan

    meluangkan waktunya untuk penulis sehingga skripsi ini terselesaikan.

    5. Ibu Dr. Lilik, M.Si. selaku Dosen Pembimbing Akademik yang telah memberi

    dukungan dan pengarahan selama masa perkuliahan di IAIN Salatiga.

    6. Bapak Muh Aji Nugroho, Lc., MA. yang telah memberikan ide dan inspirasi

    kepada penulis dalam menyelesaikan skripsi ini.

    7. Bapak dan Ibu dosen yang telah membekali berbagai ilmu pengetahuan, serta

    karyawan IAIN Salatiga sehingga penulis dapat menyelesaikan jenjang

    pendidikan S1.

    8. Kepada K. Matori Mansur selaku Pengasuh Pondok Pesantren Mansyaul

    Huda Desa Sraten Kecamatan Tuntang Kabupaten Semarang

    9. Seluruh perangkat Desa Sraten Kecamatan Tengaran Kabupaten Semarang

    10. Seluruh tokoh Agama, Ustadz, dan kyai serta seluruh masyarakat desa Sraten

    yang telah membantu dan berpartisipasi dan berkenan untuk memberikan

    informasi dan bantuan dalam penulisan sekripsi ini.

    11. Sahabat-sahabat seperjuanganku Maimun, Faizal, Gus Alip, Ahsin, Fuadi,

    Ulil, Latif, Burhan, Diah Suko, Alfi, Elfa, Aulina, Ririn, Malika, Syukuri,

    Aulina, Nastiti, Lina, Marjai, Yusuf, Chuzaini dan Empit yang selalu

    memberikan motivasi kepadaku, somoga sukses serta diberi kelancaran dalam

    menyelesaikan skripsi

  • xi

    12. Sahabat-sahabati PMII Komisariat Djoko Tingkir Kota Salatiga yang selalu

    memberikan motivasi kepadaku dan membantu menyelesaikan skripsi ini.

    13. Keluarga besar santri Pondok Pesantren Mansyaul Huda Sraten Tuntang

    Kabupaten Semarang.

    14. Keluarga Besar LDK Nusantara Salatiga terimakasih atas doa dan motivasinya

    sehingga penulisan skripsi ini bisa terselesaikan.

    15. Sahabat-sahabat seperjuanganku Posko 1 KKN Giyanti Candi Mulyo Kab.

    Magelang (iqbal, daus, mbk anis, mbak mut, bella, ratna, fera) yang selalu

    mendoakanku dalam segala hal tak terkecuali menyelesaikan tugas akhir ini.

    16. Sahabat-sahabat seperjuanganku di Dewan Mahasiswa Institut

    17. Sahabat-sahabat seperjuanganku angkatan 2014 khususnya jurusan PAI.

    18. Dan seluruh teman yang tidak bisa saya sebutka satu per satu terimakasih atas

    segala yang telah diberikan baik itu tenaga, motivasi, doa dan lain

    sebagainya.

    19. Semua pihak yang telah memberikan bantuan dan kerjasamanya sehingga

    penulisan skripsi ini dapat berjalan dengan lancar.

    Atas jasa mereka, penulis hanya dapat memohon doa semoga amal mereka

    mendapat balasan yang lebih baik dari serta mendapatkan kesuksesan baik di

    dunia maupun di akhirat.

    Penulis menyadari bahwa sepenuhnya dalam penulisan skripsi ini masih

    sangat jauh dari sempurna. Dengan segala kerendahan hati penulis menyampaikan

    permohonan maaf yang sebesar-besarnya, serta penulis mengharapkan adanya

  • xii

    kritik dan saran yang membangun agar dapat memberikan manfaat bagi penulis

    sendiri dan bagi pembacanya. Aamiin.

    Wassalamualaikum Wr. Wb.

    Salatiga, 26 September 2018.

    M. Fauzil Adzim

    NIM. 11114120

  • xiii

    DAFTAR ISI

    LEMBAR BERLOGO .................................................................................... ii

    HALAMAN JUDUL ..................................................................................... iii

    PERSETUJUAN PEMBIMBING ................................................................... iv

    PENGESAHAN KELULUSAN ..................................................................... v

    PERNYATAAN KEASLIAN TULISAN ....................................................... vi

    MOTTO ........................................................................................................... vii

    PERSEMBAHAN ........................................................................................... viii

    KATA PENGANTAR .................................................................................... xi

    DAFTAR ISI ................................................................................................... xiii

    DAFTAR TABEL ........................................................................................... xvii

    DAFTAR LAMPIRAN .................................................................................... xviii

    ABSTRAK ...................................................................................................... xix

    BAB I PENDAHULUAN

    A. Latar Belakang Masalah ...................................................................... 1

    B. Fokus Penelitian ................................................................................... 6

    C. Tujuan Penelitian .................................................................................. 6

    D. Manfaat Penelitian ................................................................................ 7

    E. Penegasan Istilah .................................................................................. 7

    F. Sistematika Penulisan ........................................................................... 9

    BAB II KAJIAN PUSTAKA

    A. Landasan Teori .................................................................................... 12

  • xiv

    1. Nilai-Nilai Pendidikan Karakter ................................................... 12

    a. Pengertian Nilai ....................................................................... 12

    b. Pengertian Pendidikan Karakter .............................................. 13

    c. Fungsi dan Tujuan Pendidikan Karakter ................................. 17

    d. Nilai-Nilai Pendidikan Karakter .............................................. 18

    2. Tahlilan ......................................................................................... 22

    a. Pengertian Tahlilan ................................................................. 22

    b. Sejarah Tahlilan ....................................................................... 24

    c. Dasar Hukum Tahlilan ............................................................ 26

    d. Pelaksanaan Tradisi Tahlilan .................................................. 33

    B. Kajian Penelitian Terdahulu ................................................................ 36

    BAB III METODE PENELITIAN

    A. Jenis Penelitian .................................................................................... 39

    B. Subyek Penelitian ................................................................................ 39

    C. Sumber dan Jenis Data ........................................................................ 40

    D. Teknik Pengumpulan Data .................................................................. 41

    E. Analisis Data ....................................................................................... 42

    F. Pengecekan keabsahan Data ................................................................ 44

    G. Tahap-tahap Penelitian ........................................................................ 44

  • xv

    BAB IV PAPARAN DAN ANALISIS DATA

    A. Paparan Data ........................................................................................ 46

    1. Gambaran Umum Obyek Penelitian Desa Sraten Kec. Tuntang

    Kab. Semarang .............................................................................. 46

    a. Letak dan Kondisi Geografis ................................................... 46

    b. Kependudukan ......................................................................... 46

    c. Bidang Pembangunan/Sarana Fisik ......................................... 51

    d. Kondisi Sosial Budaya dan Tradisi Keagamaan ..................... 52

    2. Tradisi Tahlilan Desa Sraten Kec. Tuntang Kab. Semarang ....... 55

    a. Asal-Usul atau Dasar Orang Melaksanakan Tradisi Tahlilan .. 55

    b. Tujuan Mengadakan Tradisi Tahlilan ..................................... 57

    c. Waktu dan tempat Pelaksanaan Tradisi Tahlilan .................... 58

    d. Pelaksanaan Tradisi Tahlilan .................................................. 62

    e. Hidangan dan Tujuannya ......................................................... 65

    f. Manfaat Melakukan Tradisi Tahlilan ...................................... 67

    g. Nilai-Nilai Pendidikan Karakter dalam Tradisi Tahlilan ........ 69

    B. Analisa Data ........................................................................................ 74

    1. Penyelenggaraan Tradisi Tahlilan Di Desa Sraten Kecamatan

    Tuntang Kabupaten Semarang ...................................................... 74

    2. Nilai-Nilai Pendidikan Karakter dalam Tradisi Tahlilan di Desa

    Sraten Kecamatan Tuntang Kabupaten Semarang ........................ 80

  • xvi

    BAB V PENUTUP

    A. Kesimpulan .......................................................................................... 92

    B. Saran .................................................................................................... 96

    DAFTAR PUSTAKA ..................................................................................... 97

    LAMPIRAN-LAMPIRAN

  • xvii

    DAFTAR TABEL

    1. Tabel 4.1 Jumlah Penduduk Menurut Agama

    2. Tabel 4.2 Jumlah Penduduk Menurut Usia

    3. Tabel 4.3 Jumlah Penduduk Menurut Tingkat Pendidikan

    4. Tabel 4.4 Jumlah Penduduk Menurut Mata Pencarian

  • xviii

    DAFTAR LAMPIRAN

    1. Lampiran Pedoman Wawancara

    2. Lampiran Hasil Transkip Wawancara

    3. Lampiran Dokumentasi

    4. Lampiran Surat Permohonan Izin Penelitian

    5. Lampiran Surat Keterangan Penelitian

    6. Lampiran Surat Pembimbing Skripsi

    7. Lampiran Lembar Konsultasi Penelitian

    8. Lampiran Daftar Nilai SKK

    9. Lampiran Daftar Riwayat Hidup

  • xix

    ABSTRAK

    Adzim, Fauzil. 2018. Nilai-Nilai Pendidikan Karakter dalam Tradisi Tahlilan di

    Desa Sraten Kecamatan Tuntang Kabupaten Semarang. Skripsi. Jurusan

    Pendidikan Agama Islam. Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan. Institut

    Agama Islam Negeri Salatiga. Pembimbing: Dr. Miftahuddin, M.Ag.

    Kata Kunci : Nilai-Nilai Pendidikan Karakter, Tradisi Tahlilan

    Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan nilai-nilai pendidikan karakter

    yang dirumuskan oleh DIKNAS dalam tradisi tahlilan di Desa Sraten Kecamatan

    Tuntang Kabupaten Semarang. Pertanyaan utama yang ingin dijawab melalui

    penelitian ini adalah: Pertama, bagaimana pelaksanaan penyelenggaraan tradisi

    tahlilan di Desa Sraten Kecamatan Tuntang Kabupaten Semarang. Kedua,

    bagaimana nilai-nilai pendidikan karakter yang ada dalam pelaksanaan tradisi

    tahlilan di Desa Sraten Kecamatan Tuntang Kabupaten Semarang.

    Penelitian ini menggunakan penelitian kualitatif dengan teknik pengumpulan

    data menggunakan metode observasi, metode wawancara, metode dokumentasi.

    Subjek penelitian ini adalah Tokoh Masyarakat, Masyarakat desa Sraten dan

    kegiatan tahlilan yang ada di desa Sraten. Sedangkan teknik analisis data

    dilakukan dengan klarifikasi data, penyaringan data dan penyimpulan.

    Hasil penelitian ini adalah pertama, tradisi tahlilan dilakukan secara bersama-

    sama yang dipimpin oleh imam tahlil, diawali dengan membaca hadharah kepada

    Nabi, sahabat, dan seterusnya. Kemudiam pembacaan tahlil dan al-Quran serta

    pembacaan doa. Kedua, nilai-nilai pendidikan karakter dalam tradisi tahlilan

    diantaranya nilai religius, kerja keras, bersahabat/komunikatif, peduli sosial dan

    disiplin.

  • 1

    BAB I

    PENDAHULUAN

    A. Latar Belakang

    Kondisi karakter bangsa Indonesia saat ini mendapat perhatian khusus dari

    pemerintah. Hal ini terjadi karena adanya kemerosotan moral yang terjadi

    dalam berbagai lapisan masyarakat. Mulai dari masyarakat awam hingga

    masyarakat yang berpendidikan sekalipun. Menurut Tim Pakar Yayasan Jati

    Diri Bangsa, kondisi karakter di Indonesia saat ini mengalami penurunan, hal

    ini ditunjukkan adanya beberapa kasus yaitu kebiasaan korupsi yang sulit

    diberantas, lemahnya disiplin, melemahnya nasionalisme, menurunnya

    kemampuan untuk menerima dan menghargai perbedaan, kurangnya rasa

    kepedulian, serta adanya kesenjangan antara yang diketahui dan yang

    dilakukan (Tim Pakar Yayasan Jati Diri Bangsa, 2011:30-33)

    Indikasi penurunan moral bangsa juga ditunjukkan dengan data kejahatan

    dalam media berita sindonews, setiap 41 menit terjadi satu kejahatan di provisi

    Jawa Tenagh sepanjang tahun 2016. Hal ini disampaikan oleh Kapolda Jawa

    Tengah Irjen Pol Condro Kirono di Mapolda Jawa Tengah Kota Semarang,

    Kamis (29/12/2016). Menurut Condro, jumlah kejahatan di tahun 2016

    mencapai 12.574 kasus.

    Kasus penyimpangan moral remaja yang terjadi di Kecamatan Tuntang

    Kabupaten Semarang baru-baru ini, misalnya kasus seorang siswi SMK bunuh

    bayi yang baru dilahirkannya di kamar mandi pada 27 Januari 2017

  • 2

    (Kompas.com), kemudian kasus bunuh diri pada 14 bulan April 2017

    (Harian7.com).

    Dengan memperhatikan kondisi moral bangsa Indonesia tersebut,

    Indonesia membutuhkan formula untuk memperbaiki moral bangsa Indonesia

    melalui pendidikan karakter

    Istilah pendidikan karakter kembali menguat ketika Menteri Pendidikan

    Muhammad Nasir dalam pidatonya pada Hari Pendidikan Nasional 2011

    menekankan pentingnya pendidikan karakter sebagai upaya pembangunan

    karakter bangsa. Bahkan ditahun yang sama Kementrian Pendidikan

    menerbitkan buku pelatihan dan penegembangan pendidikan budaya karakter

    bangsa yang disusun oleh Badan Penelitian dan Pengembangn Pusat

    Kurikulum Kemendiknas RI.

    Dalam buku yang didisusun oleh Badan Penelitian dan Pengembangan

    Pusat Kurikulum Kemendiknas RI ada 18 nilai dalam pendidikan karakter

    bangsa yaitu religius, jujur, toleransi, disiplin, kerja keras, kreatif, mandiri,

    demokratis, rasa ingin tahu, semangat kebangsaan, cinta tanah air, menghargai

    prestasi, bersahabat/komunikatif, cinta damai, gemar membaca, peduli

    lingkungan, peduli sosial, tanggung jawab. (Kementerian Pendidikan Nasional,

    2011: 7)

    Indikator nilai-nilai pendidikan karakter yang ditetapkan oleh pemerintah

    terdapat dalam dalam ajaran Aswaja. Menurut M. Mahbubi, Aswaja yang

    menjadi inti ajaran NU telah sesuai dengan indikator nilai-nilai pendidikan

    karakter yang ditetapkan Kementerian Pendidikan Nasional dalam Renstra

  • 3

    Indonesia Emas 2045 (Mahbubi, 2012: 149). Dalam ajaran Aswaja terdapat

    tradisi tahlilan. Aswaja memiliki lingkup yang lebih luas dari tradisi tahlilan.

    Dengan demikian, tradisi tahlilan memiliki keterkaitan dengan pendidikan

    karakter.

    Mengingat ajaran Aswaja yang memiliki nilai-nilai karakter yang sesuai

    dengan harapan pemerintah Indonesia, maka tradisi tahlilan dapat menjadi

    salah satu alternatif strategi pembentukan karakter bangsa.

    Tradisi atau sering disebut dengan adat atau urf yaitu kebiasaan

    masyarakat,baik berupa perkataan maupun perbuatan yang dilakukan secara

    kontinu dan seakan-akan merupakan hukum tersendiri, sehingga jiwa merasa

    tenang dalam melakukan karena sejalan dengan akal dan diterima oleh tabiat

    (citra batin individu yang menetap) yang sejahtera (Muhaimin, Abdul Mujib &

    Jusuf Muzakkir, 2005: 201-202). Tahlian yang biasa diamalkan oleh

    masyarakat Islam pengikut faham Ahlussunnah wal Jamaah adalah membaca

    dzikir kalimat tauhid tersebut, yang dirangkai dengan bacaan ayat-ayat al-

    Quran (Surah al-Fatihah, al-Ikhlas, al-Falaq, an-Nas, Permulaan Surah al-

    Baqarah, Ayat Kursi, akhir Surah al-Baqarah) dan bacaan shalawat Nabi

    SAW., tasbih, tahmid, takbir serta istiqhfar, yang urut-urutannya seperti

    bacaan tahlil dimuka, diakhiri dengan doa (Umar,1997: 106-107).

    Tradisi tahlilan merupakan salah satu hasil akulturasi antara nilai-nilai

    kebudayaan masyarakat setempat dengan nilai-nilai Islam. Dalam tradisi lama,

    bila ada orang meninggal, maka sanak famili dan tetangga berkumpul di rumah

    duka. Mereka bukannya mendoakan mayit tetapi begadang dengan bermain

  • 4

    judi, mabuk-mabukan atau lainnya. Wali Songo tidak serta merta

    membubarkan tradisi tersebut, tetapi masyarakat dibiarkan tetap berkumpul

    namun isinya diganti dengan mendoakan si mayit dan membaca tahlil, tahmid,

    tasbih dan sholawat kepada Nabi SAW, sekeluarganya dan para sahabatnya.

    Menurut keyakinan Islam, orang yang sudah meninggal dunia ruhnya tetap

    hidup dan tinggal sementara di alam kubur atau alam barzah, sebagai alam

    antara sebelum memasuki alam akhirat tanpa kecuali. Kapercayaan tersebut

    telah mewarnai orang Jawa. Hanya saja menurut orang Jawa, arwah orang-

    orang tua sebagai nenek moyang yang telah meninggal dunia berkaliaran di

    sekitar tempat tinggalnya, atau sebagai arwah leluhur menetap di makam

    (pesarean). Mereka masih mempunyai kontak hubungan dengan keluarga yang

    masih hidup sehingga suatu saat arwah itu nyambangi datang ke kediaman

    anak keturunan. Di sisi lain atas dasar kepercayaan islam bahwa orang yang

    yang meninggal dunia perlu dikirim doa, maka muncul tradisi kirim doa,

    tahlilan tujuh hari, empat puluh hari, seratus hari (nyatus), satu tahun

    (mendhak), dan seribu hari (nyewu) setelah seseorang meninggal dunia

    merupakan anjuran menurut ajaran Islam, sedangkan penentuan hari-hari

    sebagai saat pelaksanaan upacara kirim doa lebih diwarnai oleh warisan budaya

    Jawa pra Islam (Darori Amin, 2002: 127-128). Oleh karena itu Islam yang

    berkembang di Indonesia memiliki ragam budaya yang masih dilestarikan

    seperti tradisi tahlilan.

    Setiap tradisi mengandung nilai-nilai pendidikanya, khususnya pada

    pendidikan karakter. Pendidikan sebagai proses untuk mencapai sebuah tujuan

  • 5

    hidup seseorang sehingga menjadikan seseorang dianggap sempurna dan

    mempunyai kreativitas. Akan tetapi, dalam pendidikan tidak hanya

    berhubungan dengan kreativitas, ilmu pengetahuan, dan teknologi belaka,

    melainkan juga tentang pembentukan karakter dan penanaman nilai-nilai

    tertentu dalam diri seseorang.

    Karakter merupakan kepribadian yang khas pada diri seseorang yang

    terbentuk karena pengaruh lingkungannya. Karakter manusia akan sangat

    menentukan arah kehidupan manusia, baik secara individual maupun komunal.

    Karakter yang baik akan melahirkan sebuah tatanan yang baik, begitu juga

    sebaliknya. Pendidikan karakter membutuhkan upaya yang melibatkan semua

    pihak baik rumah tangga dan keluarga, sekolah dan lingkungan, maupun

    masyaraat luas. Karena itu, sistem dari jaringan pendidikan ini harus

    disambung kembali karena pendidikan tidak akan berhasil sepanjang kondisi

    antarlingkungan pendidikan terputus satu sama lain (Ali Masykur, 2014: 238-

    241). Oleh karena itu, rumah tangga dan keluarga sebagai pembentuk

    pendidikan karakter pertama dan utama harus lebih diberdayakan.

    Pendidikan dimasyarakat juga memiliki signifikansi yang kuat, karena

    lingkungan masyarakat sangat mempengaruhi karakter dan watak seseorang.

    Lingkungan masyarakat luas sangat mempengaruhi keberhasilan penerapan

    nilai-nilai etika dan etetika dalam pembentukan karakter.

    Berkaitan dengan uraian diatas, maka timbul suatu keinginan dari penulis

    penulis untuk mengadakan penelitian terhadap kandungan nilai-nilai

    pendidikan karakter yang dirumuskan oleh DIKNAS dapat dijadikan

  • 6

    pembelajaran bagi masyarakat sekitar dalam tradisi tahlilan tersebut.

    Pembelajaran dalam hal ini adalah sebagai upaya pembentukan karakter, yang

    diterapkan pada diri sendiri maupun dalam masyarakat luas yang akan peneliti

    tuangkan dalam bentuk judul: NILAI-NILAI PENDIDIKAN KARAKTER

    DALAM TRADISI TAHLILAN DI DESA SRATEN KECAMATAN

    TUNTANG KABUPATEN SEMARANG TAHUN 2018

    B. Fokus Penelitian

    Berdasarkan latar belakang masalah di atas, maka permasalahan yang akan

    diteliti adalah:

    1. Bagaimana pelaksanaan penyelenggaraan tradisi tahlilan di Desa Sraten

    Kecamatan Tuntang Kabupaten Semarang?

    2. Bagaimana nilai-nilai pendidikan karakter yang ada dalam pelaksanaan

    tradisi tahlilan di Desa Sraten Kecamatan Tuntang Kabupaten Semarang?

    C. Tujuan Penelitian

    Sesuai dengan permasalahan tersebut, maka tujuan peneliti adalah sebagai

    berikut:

    1. Untuk mengetahui pelaksanaan penyelenggaraan tradisi tahlilan di Desa

    Sraten Kecamatan Tuntang Kabupaten Semarang

    2. Untuk mengetahui nilai-nilai pendidikan karakter yang ada dalam

    pelaksanaan tradisi tahlilan di Desa Sraten Kecamatan Tuntang Kabupaten

    Semarang

  • 7

    D. Manfaat Penelitian

    Penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat baik untuk peneliti sendiri

    maupun untuk budaya dan masyarakat Jawa. Secara lebih rinci manfaat

    penelitian ini adalah sebagai berikut:

    1. Teoritis

    a. Dapat menambah khasanah keilmuan dalam ranah agama, pendidikan

    dan kebudayaan.

    b. Sebagai bahan rujukan bagi perpustakaan IAIN atau Fakultas sebagai

    acuan bagi peneliti selanjutnya yang berkenan dengan tahlilan.

    2. Praktis

    Diharapkan dapat memberikan kontribusi nyata kepada pihak

    masyarakat untuk meningkatkan nilai-nilai pendidikan karakter serta

    tingkat moralitas masing-masing, supaya tahu pentingnya akan agama bagi

    kita terutama warga Desa Sraten Kecamatan Tuntang Kabupaten

    Semarang.

    E. Penegasan Istilah

    Untuk memperoleh gambaran yang jelas dan menghindari

    kesalahpahaman penafsiran terhadap penelitian ini, maka perlu dijelaskan

    tentang istilah-istilah yang terdapat dalam judul penelitian sebagai berikut::

    1. Nilai

    Nilai adalah suatu makna yang terkandung dari setiap perilaku.

    Menurut Liliweri (2002:50) nilai adalah sebuah unsur penting dalam

  • 8

    kebudayaan, nilai juga membimbing manusia untuk menentukan apakah

    sesuatu itu boleh atau tidak boleh dilakukan.

    2. Pendidikan Karakter

    Pendidikan karakter dalam pengertian sederhana adalah hal positif apa

    saja yang dilakukan oleh guru dan berpengaruh lepada karakter siswa yang

    diajarkannya. (Muchlas Samani dan Hariyanto, 2014: 43).

    Jadi pendidikan karakter itu sebuah proses pemberian tuntunan kepada

    anak untuk menjadi manusia seutuhnya, yang berkarakter dalam dimensi

    hati, fikir, raga serta rasa. Oleh karena itu, pendidikan karakter tidak hanya

    melibatkan pengetahuan yang baik saja, tetapi juga menanamkan kebiasaan

    hal yang baik, merasakan dengan baik, dan berperilaku yang baik dengan

    sepenuh hati tanpa paksaan.

    3. Tradisi

    Tradisi atau sering disebut dengan adat atau urf yaitu kebiasaan

    masyarakat,baik berupa perkataan maupun perbuatan yang dilakukan

    secara kontinu dan seakan-akan merupakan hukum tersendiri, sehingga

    jiwa merasa tenang dalam melakukan karena sejalan dengan akal dan

    diterima oleh tabiat (citra batin individu yang menetap) yang sejahtera

    (Muhaimin, Abdul Mujib & Jusuf Muzakkir, 2005: 201-202).

    Maka tradisi itu kebiasaan dalam masyarakat dan menjadi salah satu

    kebutuhan sosial yang sulit untuk ditinggalkan dan berat untuk dilepaskan.

    Dan juga adat kebiasaan turun-temurun (dari nenek moyang yang masih

  • 9

    dijalankan dalam masyarakat). Sesuatu anggapan yang telah ada dan

    dianggap benar, lalu dilanjutkan secara terus.

    4. Tahlilan

    Tahlilan adalah sesuatu yang biasa diamalkan oleh masyarakat Islam

    pengikut faham Ahlussunnah wal Jamaah adalah membaca dzikir kalimat

    tauhid tersebut, yang dirangkai dengan bacaan ayat-ayat al-Quran (Surah

    al-Fatihah, al-Ikhlas, al-Falaq, an-Nas, Permulaan Surah al-Baqarah, Ayat

    Kursi, akhir Surah al-Baqarah) dan bacaan shalawat Nabi SAW, tasbih,

    tahmid, takbir serta istiqhfar, yang urut-urutannya seperti bacaan tahlil

    dimuka, diakhiri dengan doa (Ali Chasan Umar,1997: 106-107).

    Maka tahlilan merupakan salah suatu sarana taqorrub illallah

    (mendekatkan diri kepada Allah) baik dilakukan sendiri atau bersama-

    sama, untuk melakukan dzikir (mengingat) kepada Allah dengan membaca

    al-Quran dan kalimat thayyibah.

    F. Sistematika Penulisan

    Untuk mempermudah pemahaman dan agar pembaca skripsi segera

    mengetahui pokok-pokok pembahasan skripsi, maka penulis akan

    mendeskripsikan ke dalam bentuk kerangka skripsi.

    Sistematika penulisan ini terdiri dari tiga bagian, yaitu bagian awal, bagian

    isi dan bagian akhir.

    1. Bagian Awal

    Berisi mengenai halaman judul, halaman persetujuan pembimbing,

    halaman pengesahan kelulusan, halaman pernyataan keaslian tulisan,

  • 10

    halaman motto dan persembahan, kata pengantar, abstrak dan daftar isi,

    daftar gambar dan daftar tabel.

    2. Bagian Isi

    Bagian isi terdiri dari beberapa bab, yang masing-masing bab terdiri

    dari beberapa sub bab dengan susunan sebagai berikut:

    Bab pertama adalah pendahuluan yang mencakup latar belakang,

    rumusan masalah, tujuan, manfaat, penegasan istilah, tinjauan pustaka dan

    sistematika penelirtian.

    Bab kedua berisi tentang kajian pustaka yang terdiri dari dua sub bab

    yaitu sub bab pertama tentang landasan teori yang mencakup pengertian

    pendidikan karakter, tujuan dan fungsi pendidikan karakter, nilai-nilai

    pendidikan karakter, pengertian tahlil, sejarah tahlil, dasar hukum tentang

    tahlil, pelaksanaan kegiatan tahlil. Dan sub bab kedua tentang kajian

    penelitian terdahulu.

    Bab ketiga membahas tentang metode penelitian yang mencakup jenis

    penelitian, subyek penelitian, sumber dan jenis data, teknik pengumpulan

    data, analisis data, pengecekan keabsahan data, tahap-tahap penelitian.

    Bab keempat berisi tentang paparan data dan analisis data yang terdiri

    dari dua sub bab yaitu sub bab pertama tentang paparan data yang meliputi

    gambaran umum Desa Sraten Kabupaten Semarang dan tardisi tahlilan di

    Desa Sraten Kabupaten Semarang. Sub bab kedua tentang analisis data

    yang meliputi pelaksanaan tahlilan pada masyarakat Desa Sraten

    Kecamatan Tuntang Kabupaten Semarang dan nilai-nilai pendidikan

  • 11

    karakter dalam tradisi tahlilan di Desa Sraten Kecamatan Tuntang

    Kabupaten Semarang.

    Bab kelima adalah penutup kesimpulan dari seluruh uraian yang telah

    dikemukakan dan merupakan jawaban terhadap permasalahan yang

    terkandung dalam penelitian ini. Bab ini juga mengemukakan saran

    sebagai kelanjutan dari kesimpulan yang dihasilkan peneliti dalam

    penelitian ini

    3. Bagian Akhir mengenai lampiran-lampiran penelitian berisi tentang hasil

    wawancara, dokumentasi, surat permohonan izin penelitian, surat

    keterangan penelitian, lembar konsultasi penelitian, surat pembimbing

    skripsi, daftar nilai SKK dan daftar riwayat hidup.

  • 12

    BAB II

    KAJIAN PUSTAKA

    A. Landasan Teori

    1. Nilai-Nilai Pendidikan Karakter

    a. Pengertian Nilai

    Nilai secara etimologi kata nilai berasal dari bahasa Latin valere

    yang artinya berguna, mampu akan, berdaya, berlaku. Nilai adalah

    kualitas suatu hal yang menjadikan hal itu disukai, diingikan, dikejar,

    dihargai, berguna dan dapat membuat orang yang menghayatinya

    menjadi bermartabat (Satardo Adisusilo, 2012: 54). Sehingga nilai

    dapat diartikan sesuatu yang dipandang baik, bermanfaat dan paling

    benar menurut keyakian seseorang atau kelompok.

    Sedangkan pengertian nilai secara terminologi ada beberapa

    pendapat sebagai berikut:

    1) Dalam buku Pendidikan Profetik, Khoirul Rosyadi (2004: 115)

    menuturkan bahwa nilai merupakan realitas abstrak. Nilai kita

    rasakan dalam diri kita masing-masing sebagai daya pendorong

    atau prinsip yang menjadi penting dalam kehidupan sampai pada

    suatu tingkat dimana sementara orang lebih siap untuk

    mengorbankan hidup mereka daripada mengorbankan nilai.

    2) Dalam buku Pemikiran Pendidikan Islam ditulis oleh Muhaimin

    dan Abdul Mujib, (1993: 110) berpendapat bahwa nilai itu bersifat

  • 13

    praktis dan efisien dalam jiwa dan tindakan manusia serta

    melembaga secara objektif di masyarakat.

    3) Menurut Wabster dalam buku Pendidikan Islam: Mengurai

    Benang Kusut Dunia Pendidikan yang dikutip oleh Muhaimin

    (2006: 148) bahwa nilai adalah suatu keyakinan yang menjadi

    dasar bagi seseorang atau sekelompok orang untuk memilih

    tindakannya atau menilai suatu yang bermakna atau yang tidak

    bermakna bagi kehidupannya.

    Dari beberapa pendapat tersebut, dapat dikatakan bahwa nilai

    merupakan sesuatu yang positif dan bermanfaat bagi kehidupan

    manusia dan harus dimiliki setiap manusia sebagai landasan, alasan,

    atau motivasi dalam setiap tingkah laku dan perbuatan seseorang

    dalam kehidupan bermasyarakat. Nilai juga dapat mencerminkan

    kualitas tindakan dan pandangan hidup yang dipilih oleh seseorang

    atau masyarakat.

    b. Pengertian Pendidikan Karakter

    Kata karakter diambil dari bahasa Inggris dan juga berasal dari

    bahasa Yunani Character. Kata ini awalnya digunakan untuk

    menandai hal yang mengesankan dari dua koin (keping uang).

    Selanjutnya istilah ini digunakan untuk menandai dua hal yang

    berbeda satu sama lainnya, dan akhirnya digunakan juga untuk

    menyebut kesamaan kualitas pada tiap tiap orang yang membedakan

    dengan kualitas lainnya (Fathul Muin, 2011: 162).

  • 14

    Dalam Kamus Lengkap Bahasa Indonesia, karakter diartikan

    sebagai sifat-sifat kejiwaan, tabiat, watak, akhlak atau budi pekerti

    yang membedakan seseorang dengan yang lain. Karakter adalah ciri

    khas yang dimiliki oleh suatu benda atau individu. Ciri khas tersebut

    asli dan mengakar pada kepribadian benda atau individu, serta

    merupakan mesin yang mendorong bagaimana seorang bertindak,

    bersikap, berucap dan merespon sesuatu.

    Menurut Kamisa dalam buku Konsep, Praktik & Strategi

    Membumikan Pendidikan Karakter di SD, berkarakter artinya

    mempunyai watak dan kepribadian Karakter akan memungkinkan

    individu untuk mencapai pertumbuhan yang berkesinambungan. Hal

    ini disebabkan karakter memberikan konsistensi, integritasi dan energi.

    Orang yang memiliki karakter yang kuat, akan memiliki momentum

    untuk mencapai tujuan. Begitu pula sebaliknya, mereka yang

    berkarakter mudah goyah, akan lebih lambat untuk bergerak dan tidak

    bisa menarik orang lain untuk bekerja sama dengannya (Novan Ardy,

    2013: 25).

    Menurut Scerenko dalam buku Konsep dan Model Pendidikan

    Karakter yang dikuti oleh Muchlas Samani dan Hariyanto (2014: 42)

    mendefinisikan karakter sebagai atribut atau ciri-ciri yang membentuk

    dan membedakan ciri pribadi, ciri etnis dan kompleksitas mental dari

    seseorang, suatu kelompok atau bangsa.

  • 15

    Dengan ini dapat dinyatakan bahwa karakter adalah nilai dasar

    yang membangun pribadi seseorang, yang membedakannya dengan

    orang lain serta mewujudkan dalam sikap dan prilaku dalam kehidupan

    sehari-hari.

    Pendidikan sangat berperan penting dalam kehidupan dan

    kemajuan umat manusia. Karena pendidikan merupakan suatu

    kekuatan yang dinamis dalam kehidupan setiap individu, yang

    berpengaruh pada perkembangan fisiknya, daya jiwa (akal, rasa, dan

    kehendak), sosialnya dan moralitasnya. Dalam hal ini, pendidikan

    tidak hanya mengembangkan ilmu, keterampilan, teknologi, tetapi juga

    mengembangkan aspek-aspek lainnya, seperti kepribadian, etika,

    moral dan lain-lain. Pendidikan juga tidak hanya berlangsung di dalam

    kelas, tetapi juga dalam kehidupan sehari-hari.

    Pendidikan karakter dalam pengertian sederhana adalah hal positif

    apa saja yang dilakukan oleh guru dan berpengaruh lepada karakter

    siswa yang diajarkannya. (Muchlas Samani dan Hariyanto, 2014: 43).

    Sedangkan pengertian pendidikan karakter menurut beberapa

    pendapat sebagai berikut:

    1) Menurut Ratna Megawangi dalam buku Konsep, Praktik &

    Strategi Membumikan Pendidikan Karakter di SD yang dikutip

    oleh Nova Ardy (2013: 26), pendidikan karakter yaitu sebuah

    usaha untuk mendidik anak-anak agar dapat mengambil keputusan

    dengan bijak dan mempraktekkan dalam kehidupan sehari-hari

  • 16

    sehingga mereka dapat memberikan konstribusi positif pada

    masyarakat.

    2) Menurut Fikry Gaffar dalam buku Konsep, Praktik & Strategi

    Membumikan Pendidikan Karakter di SD yang dikutip oleh Nova

    Ardy (2013: 26), pendidikan karakter adalah sebuah proses

    tranformasi nilai-nilai kehidupan untuk ditumbuhkembangkan

    dalam kepribadian seseorang sehingga menjadi satu kehidupan

    orang itu.

    3) Menurut Burke dalam buku Konsep dan Model Pendidikan

    Karakter yang dikutip oleh Muchlas Samani dan Hariyanto (2014:

    43) pendidikan karakter semata-mata merupakan bagian dari

    pembelajaran yang baik dan merupakan bagian fundamental dari

    pendidikan yang baik.

    Dari beberapa paparan di atas, peneliti berusaha menyimpulkan

    bahwa pendidikan karakter merupakan sebuah proses pemberian

    tuntunan kepada anak untuk menjadi manusia seutuhnya, yang

    berkarakter dalam dimensi hati, fikir, raga serta rasa. Oleh karena itu,

    pendidikan karakter tidak hanya melibatkan pengetahuan yang baik

    saja, tetapi juga menanamkan kebiasaan hal yang baik, merasakan

    dengan baik, dan berperilaku yang baik dengan sepenuh hati tanpa

    paksaan.

  • 17

    c. Fungsi dan Tujuan Pendidikan Karakter

    Fungsi Pendidikan karakter menurut Kemendiknas (2011: 7)

    adalah sebagai berikut:

    1) Membangun kehidupan kebangsaan yang multikultural,

    2) Membangun peradaban bangsa yang cerdas, berbudaya luhur, dan

    mampu berkontribusi terhadap pengembangan kehidupan umat

    manusia, mengembangkan potensi dasar agar berhati baik,

    berpikiran baik, dan berperilaku baik serta keteladanan baik,

    3) Membangun sikap warga Negara yang cinta damai, kreatif,

    mandiri, dan mampu hidup berdampingan dengan bangsa lain

    dalam suatu harmoni.

    Sedangkan tujuan pendidikan karakter menurut Kemendiknas

    (2011:7) adalah mengembangkan nilai-nilai yang membentuk karakter

    bangsa yaitu Pancasila, meliputi:

    1) Mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi manusia

    berhati baik, berpikiran baik, dan berperilaku baik,

    2) Membangun bangsa yang berkarakter Pancasila,

    3) Mengembangkan potensi warga Negara agar memiliki sikap

    percaya diri, bangga pada bangsa dan negaranya serta mencintai

    umat manusia.

    Dari tersebut di atas, peneliti menyimpulkan bahwa pendidikan

    karakter bertujuan untuk menangkap nilai yang diwujudkan dalam

    sebuah tindakan. Nilai yang dimaksud adalah nilai-nilai dalam

  • 18

    kehidupan pribadi dan interaksi sosial. Dengan internalisasi nilai

    kebajikan pada diri seorang anak, diharapkan dapat mewujudkan

    perilaku baik.

    d. Nilai-Nilai Pendidikan Karakter

    Nilai-nilai pendidikan karakter dapat ditangkap manusia melalui

    berbagai hal diantaranya melalui keluarga, satuan pendidikan,

    masyarakat, pemerintah, dunia usaha, media massa, dan sebagainya

    (Kemendiknas, 2011: 7). Termasuk melalui pemahaman dan

    penikmatan sebuah tradisi dan budaya. Tradisi khususnya sangat

    berperan penting sebagai media dalam pentransformasian sebuah nilai

    termasuk halnya nilai pendidikan karakter. Dalam penelitian ini, nilai-

    nilai pendidikan karakter dapat ditemukan dalam tradisi Tahlilan yang

    dilihat dari beberapa unsur dalam penyajiannya.

    Dalam rumusan pengembangan nilai pendidikan karakter oleh

    Kementrian Pendidikan Nasional (2011: 8), terdapat hubungan antara

    nilai-nilai perilaku manusia dengan Tuhan Yang Maha Esa, diri

    sendiri, sesama, lingkungan, maupun kebangsaaan. Wujud nilai

    tersebut dikembangkan menjadi 18 nilai karakter, antara lain:

    1) Religius, sikap dan perilaku yang patuh dalam melaksanakan ajaran

    agama yang dianutnya.

    2) Jujur, perilaku yang didasarkan pada upaya menjadikan dirinya

    sebagai orang yang selalu dapat dipercaya dalam pikiran, perkataan,

    dan perbuatan.

  • 19

    3) Toleransi, sikap dan tindakan yang menghargai perbedaan agama,

    suku, etnis, pendapat, sikap, dan hal-hal yang berbeda dari dirinya

    secara sadar dan terbuka.

    4) Disiplin, tindakan yang konsisten, menunjukkan perilaku tertib dan

    patuh pada berbagai ketentuan dan peraturan.

    5) Kerja keras, perilaku yang menunjukkan upaya sungguh-sungguh

    dalam mengatasi berbagai tugas, permasalahan, pekerjaan dan

    sebagainya dengan sebaik-baiknya.

    6) Kreatif, berpikir dan melakukan sesuatu untuk menghasilkan cara atau

    hasil baru dari sesuatu yang telah dimiliki.

    7) Mandiri, merupakan sikap dan perilaku yang tidak mudah tergantung

    pada orang lain dalam menyelesaikan tugas-tugas.

    8) Demokratis, merupakan cara berpikir, bersikap, dan bertindak yang

    menilai sama hak dan kewajiban dirinya dan orang lain.

    9) Rasa ingin tahu, merupakan sikap dan tindakan yang selalu berupaya

    untuk mengetahui lebih mendalam dan meluas dari sesuatu yang

    dipelajarinya, dilihat, dan didengar.

    10) Semangat kebangsaan, merupakan cara berpikir, bertindak, dan

    berwawasan yang menempatkan kepentingan bangsa dan Negara di

    atas kepentingan diri dan kelompoknya.

    11) Cinta tanah air, merupakan cara berpikir, bersikap, dan berbuat yang

    menunjukkan kesetiaan, kebanggaan, kepedulian, dan penghargaan

  • 20

    yang tinggi terhadap bahasa, lingkungan fisik, sosial, budaya,

    ekonomi, dan politik bangsa.

    12) Menghargai prestasi, merupakan sikap dan tindakan yang mendorong

    dirinya untuk menghsilkan sesuatu yang berguna bagi masyarakat, dan

    mengakui, serta menghormati keberhasilan orang lain.

    13) Bersahabat/Komunikatif, tindakan yang memperlihatkan rasa senang

    berbicara, bergaul, dan bekerja sama dengan orang lain.

    14) Cinta damai, merupakan sikap, perkataan, dan tindakan yang

    menyebabkan orang lain merasa damai, nyaman, senang, tenang dan

    aman atas kehadiran dirinya.

    15) Gemar membaca, merupakan kebiasaan menyediakan waktu untuk

    membaca berbagai bacaan yang memberikan kebajikan bagi dirinya.

    16) Peduli lingkungan, merupakan sikap dan tindakan yang selalu

    berupaya menjaga dan melestarikan lingkungan alam sekitar.

    17) Peduli sosial, merupakan sikap dan tindakan yang mencerminkan

    kepedulian terhadap orang lain maupun masyarakat yang

    membutuhkan.

    18) Tanggung jawab, merupakan sikap dan perilaku seseorang untuk

    melaksanakan tugas dan kewajibannya, baik yang berkaitan dengan

    dirinya sendiri, masyarakat, lingkungan (alam, sosial, dan budaya),

    negara, dan agama.

    Sedangkan didalam buku Buku Panduan Internalisasi Pendidikan

    Karakter di Sekolah ditulis oleh Jamal Ma'mur Asmani (2011: 36-40)

  • 21

    mengelompokkan nilai-nilai pendidikan karakter menjadi empat

    macam sebagai berikut:

    1) Nilai pendidikan karakter hubungannya dengan Tuhan. Nilai ini

    bersifat religius untuk memperbaiki karakter individu, yang

    berhubungan dengan Tuhan maupun kepercayaannya. Nilai ini

    dapat berupa percaya, berdoa, taat, dan bersyukur kepada Tuhan.

    2) Nilai pendidikan karakter hubungannya dengan diri sendiri. Nilai

    ini merupakan tuntunan yang ditujukan untuk diri pribadi, yang

    menekankan pada pengembangan rasa. Nilai ini meliputi jujur,

    bertanggung jawab, bijaksana, bergaya hidup sehat, disiplin, kerja

    keras, percaya diri, berjiwa wirausaha, berpikir logis, kritis, kreatif,

    inovatif, mandiri, ingin tahu, dan cinta ilmu.

    3) Nilai pendidikan karakter hubungannya dengan sesama. Pada

    dasarnya manusia selain sebagai makhluk individu juga sebagai

    makhluk sosial dengan cara hidup berdampingan dengan orang

    lain. Nilai ini dapat berupa sadar hak dan kewajiban diri dan orang

    lain, patuh pada aturan sosial, menghargai karya dan prestasi orang

    lain, santun, gotong royong, dan demokratis.

    4) Nilai pendidikan karakter hubungannya dengan alam

    sekitar/lingkungan. Nilai ini berupa sikap dan tindakan yang selalu

    berupaya mencegah kerusakan pada lingkungan alam sekitarnya.

    5) Nilai pendidikan karakter hubungannya dengan kebangsaan. Nilai

    ini dapat berupa nasionalis dan menghargai keberagaman.

  • 22

    Dengan demikian nilai-nilai pendidikan karakter yang tersirat

    dalam berbagai hal dapat mengembangkan individu maupun

    masyarakat dalam berbagai hal pula, dan nilai-nilai tersebut mutlak

    dihayati, diresapi individu atau masyarakat karena nilai tersebut

    mengarah pada kebaikan dalam berpikir dan bertindak sehingga budi

    pekerti serta pikiran atau intelegensinya berkualitas.

    2. Tahlilan

    a. Pengertian Tahlilan

    Tahlilan secara etimologis (bahasa) berasal dari sighat masdar

    dari kata - yang berarti mengucapkan lafadz Laa

    ilaaha illa Allah.

    Sedangkan secara terminologis (istilah) telah dikemukakan oleh

    pakar Agama, diantaranya:

    1) Menurut Ahmad Syafii Mufid dalam bukunya yang berjudul

    Tangklungan Abangan dan Tarekat Kebangkitan Agama di

    Jawa, bahwa tahlilan adalah serangkaian bacaan dimulai dengan

    membaca Surat Al-Fatihah, Surat Al-Ikhlas, Surat An-Nas dan

    Surat Al-Falaq (muawazatain), lima ayat pemula Surat Al-

    Baqarah, bacaan Lailahaillallah, bacaan tasbih (Subhanallah),

    tahmid (Alhamdulillah), takbir (Allahu Akbar) dan shalawat

    (Allahumma Salli Ala Muhammad) dan ditutup dengan doa

    (Ahmad Syafii Mufid, 2006: 131).

  • 23

    2) Menurut KH. Abdul Muchith Muzadi yang dikuti oleh Saifullah

    al-Aziz dalam bukunya yang berjudul Kajian Hukum-Hukum

    Walimah (Selametan), bahwa tahlilan adalah bersama-sama

    melakukan doa bagi orang (keluarga, teman dsb) yang sudah

    meninggal dunia, semoga diterima amalnya dan diampuni dosanya

    oleh Allah SWT, yang sebelum doa, diucapkan beberapa kalimah

    thayyibah (kalimah-kalimah yang bagus, yang agung), berwujud

    hamdalah, shalawat, tasbih, tahlil dan beberapa ayat suci Al-

    Quran (Saifulloh, 2009: 241-242).

    3) Menurut Drs. M. Ali Chasan Umar dalam bukunya yang berjudul

    Risalah Merawarat Jenazah, Shalat Jenazah, Talqin dan Tahlil,

    bahwa tahlil yang biasa diamalkan oleh masyarakat Islam

    pengikut faham Ahlussunnah wal Jamaah adalah membaca dzikir

    kalimat tauhid tersebut, yang dirangkai dengan bacaan ayat-ayat

    al-Quran (Surah al-Fatihah, al-Ikhlas, al-Falaq, an-Nas,

    Permulaan Surah al-Baqarah, Ayat Kursi, akhir Surah al-Baqarah)

    dan bacaan shalawat Nabi SAW., tasbih, tahmid, takbir serta

    istiqhfar, yang urut-urutannya seperti bacaan tahlil dimuka,

    diakhiri dengan doa (Ali Chasan Umar,1997: 106-107).

    4) Menurut H. Munawir Abdul Fattah dalam bukunya yang berjudul

    Tradisi Orang-Orang NU, bahwa Tahlil berasal dari kata

    hallala, yuhallilu, tahlilan, artinya membaca kalimat La Ilaha

    Illallah. Di masyarakat NU sendiri berkembang pemahaman

  • 24

    bahwa setiap pertemuan yang didalamnya dibaca kalimat itu

    secara bersama-sama disebut Majelis Tahlil. Majelis tahlil di

    masyarakat Indonesia sangat variatif, dapat diselenggarakan kapan

    dan dimana saja, bisa pagi, siang, sore atau malam. Bisa di masjid,

    musholla, rumah, atau lapangan (Munawir, 2008: 276).

    Jadi penulis dapat menyimpulkan dari beberapa pendapat diatas

    bahwa tahlilan adalah salah suatu sarana taqorrub illallah

    (mendekatkan diri kepada Allah) baik dilakukan sendiri atau bersama-

    sama untuk melakukan dzikir (mengingat) kepada Allah dengan

    membaca kalimat thayyibah seperti Laa ilaaha illallah,kemudian

    membaca sholawat kepada Nabi Muhammad, ayat-ayat Al-Quran dan

    doa yang diharapkan memiliki pengaruh dalam meningkatkan nilai-

    nilai, kebiasaan baik di masyarakat dan lain-lain dalam menjalani

    kehidupan.

    b. Sejarah Tahlilan

    Tahlil secara lughot (bahasa) yang artinya bacaan Laa ilaaha illa

    Allah, berlaku sejak pada zaman Nabi Muhammad SAW. Akan tetapi

    tradisi bacaan tahlil sebagimana yang dilakukan kaum muslimin

    sekarang, itu mulai ada sejak zaman Ulama Mutaakhirin sekitar abad

    11 hijriyah yang mereka lakukan berdasarkan istinbath dari al-Quran

    dan Hadits Nabi SAW, lalu mereka menyusun rangkaian bacaan tahlil,

    mengamalkannya secara rutin dan mengajarkannya kepada kaum

    muslimin.

  • 25

    Ulama berbeda pendapat tentang siapa yang pertama kali

    menyusun rangkaian bacaan tahlil dan mentradisikannya. Hal ini

    pernah dibahas dalam forum Bahtsul Masail oleh para Kiyai Ahli

    Thariqah. Sebagian mereka berpendapat, bahwa yang pertama

    menyusun tahlil adalah Sayyid Jafar Al-Barzanji dan sebagian lain

    berpendapat, bahwa yang menyusun tahlil pertama kali adalah Sayyid

    Abdullah bin Alwi Haddad.

    Pendapat yang paling kuat dari kedua pendapat yang disebut diatas

    adalah pendapat bahwa orang yang menyusun tahlil pertama kali

    adalah Imam Sayyid Abdullah bin Alwi Al-Haddad, karena Imam Al-

    Haddad yang wafat pada tahun 1132 H lebih dahulu daripada Sayyid

    Jafar Al-Barzanji yang wafat pada tahun 1177 H (Muhammad Danial

    Royyan, 2013: 2-3).

    Pendapat ini juga diperkuat oleh tulisan Sayyid Alwi bin Ahmad

    bin Hasan bin Abdullah bin Alwi Al-Haddad bahwa kebiasaaan Imam

    Abdullah bin Alwi Al-Haddad sesudah membaca Ratib adalah bacaab

    tahlil. Pada hadirin dalam Majlis Imam Al-Haddad itu ikut membaca

    tahlil secara bersama-sama (Sayyid Alwi bin Ahmad, 1414: 94).

    Sedangkan tahlil yang dilakukan oleh kaum muslimin di Indonesia

    sama atau mendekati dengan tahlil yang dilakukan kaum muslimin di

    Yaman. Hal ini dikarenakan tahlil yang berlaku di Indonesia ini dahulu

    disiarkan Wali Songo. Lima orang Wali Songo itu Hababib (keturunan

    Nabi Muhammad SAW) dengan marga Baalawy yang berasal dari

  • 26

    Hadramaut Yaman, terutama dari kota Tamrin (Muhammad Danial

    Royyan, 2013: 8).

    Dengan demikian tradisi tahlilan ini berkembang di Indonesia

    melalui akulturasi budaya yang mana dalam tradisi lama, bila ada

    orang meninggal, maka sanak famili dan tetangga berkumpul di rumah

    duka. Mereka bukannya mendoakan mayit tetapi berkumpul dengan

    bermain judi, mabuk-mabukan atau lainnya. Kemudian Wali Songo

    tidak serta merta membubarkan tradisi tersebut, tetapi masyarakat

    dibiarkan tetap berkumpul namun acaranya diganti dengan mendoakan

    pada mayit. Jadi istilah tersebut dikenal dengan tahlilan.

    c. Dasar Hukum Tahlilan

    Sampai saat ini kegiatan tahlilan yang telah menjadi indentitas

    dari masyarakat Nahdlotul Ulama (NU) tidak lepas dari adanya

    sebuah persetujan dan penolakan eksistensinya dengan pendapat

    masing-masing. Oleh sebab itu, sebagian masyarakat muncul-lah

    keraguan pada mereka yang terbiasa melakukan kegiatan tersebut.

    Agar kegiatan tahlilan tidak diragukan lagi maka perlu adanya

    pengetahuan yang lebih sebagai dasar dari pemikiran dalam melakukan

    atau untuk melaksanakan kegiatan ini.

    Semua rangkaian kalimat yang ada dalam tahlilan diambil dari

    ayat-ayat al-Quran dan hadist Nabi. Yang menyusun jadi kalimat-

    kalimat baku tahlil dulunya seorang Ulama, tetapi kalimat demi

  • 27

    kalimat yang disusunnya tidak lepas dari anjuran Rasulullah SAW

    (Munawir, 2018: 277).

    Memperbanyak dzikir mengingat Allah maupun tasbih dan

    shalawat Nabi SAW itu disyariatkan, bahkan suatu keharusan bagi

    orang-orang yang beriman, berdasarkan firman Allah Taala:

    . .

    . ): -

    )

    Artinya: Hai orang-orang yang beriman, berzikirlah (dengan

    menyebut nama) Allah, zikir yang sebanyak-banyaknya. Dan

    bertasbihlah kepada-Nya di waktu pagi dan petang. Dialah yang

    memberi rahmat kepadamu dan malaikat-Nya (memohonkan

    ampunan untukmu), supaya Dia mengeluarkan kamu dari

    kegelapan kepada cahaya (yang terang). Dan adalah Dia Maha

    Penyayang kepada orang-orang yang beriman. (Qs. Al-Ahzab:

    41-43)

    Dzikir yang utama adalah LAA ILAAHA ILLALLAH,

    berdasarkan hadits Nabi SAW:

    :

    . ) ( :

    Artinya: Dari Jabir bin Abdullah ra. ia berkata: Saya mendengar

    Rasulullah saw. bersabda: Dzikir yang paling utama adalah Laa

    ilaaha illallah . (HR. Turmudzi)

  • 28

    Tentang keutamaan Tasbih disebutkan dalam hadits dari Abu

    Hurairah ra. Dari Nabi SAW, beliau bersabda:

    . ) (

    Artinya: Ada dua ucapan yang ringan membacanya tetapi berat

    timbangannya dan keduanya dicintai Tuhan pula adalah:

    Subhanallahal adzim Subhanallahi wabihamdih. (HR. Bukhari)

    Bershalawat atas Nabi SAW juga diperintahkan berdasarkan

    firman Allah Taala:

    .

    (: )

    Artinya: Sesungguhnya Allah dan malaikat-malaikat-Nya

    bershalawat untuk Nabi. Hai orang-orang yang beriman,

    bersalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam

    penghormatan kepadanya. (Qs. Al-Ahzab: 56)

    Adapun keutamaan membaca al-Quran sebagaimana sabda

    Rasululllah SAW:

    . ) (

    Artinya: Seutama-utamanya ibadah umatku ialah membaca al-

    Quran. (HR. Abu Nuaim)

    Sedangkan bacaan ayat-ayat al-Quran yang dihadiahkan untuk

    mayit menurut pendapat mayoritas ulama boleh dan pahalanya bisa

    sampai kepada mayit tersebut. Berikut ini adalah dalil-dalilnya:

  • 29

    :

    )

    , , , , , , , , ,

    (

    Artinya: Dari sahabat Maqal bin Yasar r.a. bahwa Rasulallah

    s.a.w. bersabda : Surat Yasin adalah pokok dari al-Quran, tidak

    dibaca oleh seseorang yang mengharap ridha Allah kecuali

    diampuni dosa-dosanya. Bacakanlah surat Yasin kepada orang-

    orang yang meninggal dunia di antara kalian. (H.R. Abu Dawud,

    dll)

    Berikut ini adalah Pendapat para ulama tentang sampainya pahala

    bacaan ayat-ayat Al-Quran kepada mayit dalam buku Tradisi

    Amaliyah NU dan Dalil-Dalilnya yang ditulis oleh Ngadurrohman Al-

    Jawi dan KH. Abdul Manan A. Ghani (2012: 49-53).

    1) Pendapat Ulama Madzhab Syafiiyah

    a) Imam Syafii

    ,

    Artinya : Disunahkan membacakan ayat-ayat al-Quran

    kepada mayit, dan jika sampai khatam al-Quran maka akan

    lebih baik.

  • 30

    b) Imam al-Hafidz Jalaludin

    Imam as-Suyuthi menjelaskan bahwa, jumhur ulama salaf

    telah berpendapat dengan pendapat yang mengatakan

    sampainya pahala bacaan terhadap mayit.

    c) Imam Nawawi

    Imam Nawawi berkata, Disunahkan bagi orang yang

    ziarah kubur untuk membaca ayat-ayat al-Quran lalu

    setelahnya diiringi berdoa untuk mayit.

    d) Imam al-Qurthubi

    Imam al-Qurthubi memberikan penjelasan bahwa, dalil

    yang dijadikan acuan oleh ulama kita tentang sampainya

    pahala kepada mayit adalah bahwa, Rasulallah S.A.W. pernah

    membelah pelepah kurma untuk ditancapkan di atas kubur dua

    sahabatnya sembari bersabda: Semoga ini dapat meringankan

    keduanya di alam kubur sebelum pelepah ini menjadi kering.

    Imam al-Qurtubi kemudian berpendapat, jika pelepah

    kurma saja dapat meringankan beban si mayit, lalu

    bagaimanakah dengan bacaan-bacaan al-Quran dari sanak

    saudara dan teman-temannya? Tentu saja bacaan-bacaan al-

    Quran dan lainlainnya akan lebih bermanfaat bagi si mayit.

  • 31

    2) Pendapat Ulama Madzhab Hanafiyah

    a) Imam Badr al-Aini

    Alamah Badr al-Aini berkata dalam kitabnya Kanzu

    Daqaiq : bisa sampai (pahalanya) kepada mayit segala sesuatu

    kebaikan, mulai dari shalat, puasa, haji, shadaqah, dzikir, dan

    lain sebagainya.

    b) Imam Az-Zailai

    Beliau berkata: bahwa pendapat Ahlussunah wal Jamaah

    adalah membolehkan seseorang menghadiahkan pahala amal

    baiknya kepada mayit.

    3) Pendapat Ulama Madzhab Malikiyah

    a) Imam al-Alamah Ibnu al-Haj

    Beliau berkata dalam kitabnya al-madkhal : jikalau

    seseorang membaca al-Quran di rumahnya lalu

    menghadiahkan pahalanya kepada ahli kubur maka, pahala

    tersebut pasti sampai kepada mayit.

    b) Abul Walid Ibnu Rusyd

    Artinya : Seseorang yang membaca ayat al-Quran dan

    menghadiahkan pahalanya kepada mayit, maka pahala

    tersebut bisa sampai kepada mayit tersebut.

  • 32

    4) Pendapat Ulama Madzhab Hanbaliyah

    a) Syekh Taqiyudin Ibnu Taimiyah

    Beliau berkata: Barang siapa yang berpendapat bahwa,

    seseorang tidak mendapat pahala kecuali dengan amalanya

    sendiri, maka orang tersebut telah menghancurkan dan

    menyalahi ijma.

    b) Syekh Ibnu Qayyim al-Jauzi

    Beliau berkata dalam kitabnya Kitab ar-Ruh : telah

    dituturkan dari kalangan ulama salaf, mereka semua berwasiat

    supaya mereka dibacakan ayat-ayat al-Quran, setelah mereka

    meninggal dunia.

    c) Imam al-Khalal

    Imam al-Khalal meriwayatkan dari Abu Ali al-Hasan bin

    al-Haitsam al-Bazar, bahwa saya melihat Imam Ahmad bin

    Hanbal shalat di kuburan lalu berdoa.

    Imam al-Khalal juga meriwayatkan dari Imam as-Syibi

    bahwa:

    :

    Artinya : Imam Khalal menuturkan riwayat dari Syibi : bahwa

    sahabat Anshar ketika di antara mereka meninggal dunia maka

    mereka membacakan al-Quran untuk mayit tersebut

    dipemakamannya.

  • 33

    Dengan demikian tradisi tahlilan tidak bisa dianggap bidah yang

    sesat atau khurafat. Karena dalam historis kegiatan tahlilan di

    Indonesia khususnya di pulau jawa memang telah menjadi sebuah

    tradisi yang tidak bisa dipisahkan dari masyarakat islam di Jawa.

    Kegiatan ini juga sebagai mediasi pekumpulan untuk mempersatukan

    rasa kekeluargaan di desa masing-masing.

    Oleh sebab itu, kegiatan ini boleh dilaksanakan karena selain

    sebagai perantara untuk mengembangkan persatuan dan kesatuan

    bangsa, juga sebagai Islam Rahmatalil Alamin di Indonesia, serta

    sebagai dimensi untuk hubungan antara manusia dengan Tuhan (hablu

    minallah) yang didalam kegiatan ini bisa meberikan ketenangan jiwa,

    dan sekaligus dimensi hubungan sosial (hablu minannas).

    d. Pelaksanaan Tradisi Tahlilan

    Tahlil berasal dari kata hallala, yuhallilu, tahlilan, artinya

    membaca kalimat La Ilaha Illallah. Di masyarakat NU sendiri

    berkembang pemahaman bahwa setiap pertemuan yang didalamnya

    dibaca kalimat itu secara bersama-sama disebut Majelis Tahlil. Majelis

    tahlil di masyarakat Indonesia sangat variatif, dapat diselenggarakan

    kapan dan dimana saja, bisa pagi, siang, sore atau malam. Bisa di

    masjid, musholla, rumah, atau lapangan (Munawir, 2008: 276).

    Pernyataan Al-Imam Muhammad bin Ali bin Muhammad Al-

    Syaukani dalam buku Kajian Hukum-Hukum Walimah (Selamatan)

    yang ditulis oleh Drs. Moh. Saifulloh Al Aziz tentang penyelenggaraan

  • 34

    kegiatan membaca al-Quran, shalawat, istighfar, tahlil, dzikir, yang

    pahalanya dihadiahkan kepada orang yang meninggal dunia adalah

    boleh (jaiz). Berikut pernyataan Al-Imam Muhammad bin Ali bin

    Muhammad Al-Syaukani dalam kitabnya Al-Rasaail Al-Salafiyah,

    yaitu:

    Kebiasaan di sebagian negara mengenai perkumpulan atau

    pertemuan di Masjid, rumah, di atas kubur, untuk membaca Al-

    Quran, yang pahalanya dihadiahkan kepada orang yang telah

    meninggal dunia, tidak diragukan lagi hukumnya boleh (jaiz)

    jika didalamnya tidak terdapat kemaksiatan dan kemungkaran,

    meskipun tidak ada penjelasan (secara dzahir) dari syariat.

    Kegiatan melaksanakan perkumpulan itu pada dasarnya

    bukanlah suatu yang haram (muharramfi nafsih), apalagi jika

    didalamnya diisi dengan kegiatan yang dapat menghasilkan

    ibadah seperti membaca Al-Quran atau lainnya. Dan tidak

    tercela menghadiahkan pahala membaca Al-Quran atau

    lainnya kepada yang telah meninggal dunia (Saifulloh,

    2010:247).

    Memahami tahlilan adalah serangkaian kegiatan berupa

    pengiriman doa terhadap orang yang meninggal. Dalam acara ini

    diikuti oleh keluarga, saudara, dan tetangga terdekat. Mengenai acara

    ini pengiriman doa dengan rangkaian bacaan tahlil merupakan

    kelengkapan acara. Hingga selesainya acaranya terdapat tanda terima

    kasih. Hingga pelaksanaa tahlilan terjadi pada hari-hari tertentu setelah

    orang meninggal, dengan maksud untuk pengiriman doa. Hal ini

    diperjelas dalam rangkaian pelaksannnya, sebelum pembacaan tahlil

    sebagai puncak, terlebih dahulu dibaca berbagai ayat Al-Quran dan

    berbagai kalimat thayyibah (seperti hamdalah, takbir, shalawat, tasbih

  • 35

    dan sejenisnya) untuk menambah rasa pendekatan diri kepada Allah

    sebelum berdoa dan bertawajjuh dengan bacaan tahlil.

    Kegiatan ini dapat dilaksanakan khusus kegiatan tahlil, meski

    banyak kegiatan tahlil ini ditempelkan pada kegiatan inti lainnya.

    Misalnya, setelah dzibaan disusul dengan tahlil, acara tasmiyah

    (memberi nama bayi), khitanan, dan lainnya (Munawir, 2008: 276).

    Sebelum masuk pada acara inti, yaitu tahlil, biasanya diantarkan

    kalimat-kalimat untuk mendekatkan diri kepada Allah. Lalu, bacaan

    Al-Quran sebagai pengantarnnya. Pada umumya bacaan Al-Quran

    yang ditemui adalah bacaan surat yasin. Dalam rangkaian-rangkaian

    doa itu dipimpin oleh imam upcara yang memiliki pengetahuan lebih

    dalam agama. Imam tersebut disebutnya sebagai modin atau lebe

    dalam masyarakat Islam Jawa.

    Setelah ritual tahlilan selesai, pada umunya tuan rumah

    menghidangkan makanan dan minuman untuk Jamaah. Kadang masih

    ditambah dengan berkat buah tangan dalam bentuk makanan matang.

    Hidangan dan pemberian ini dimaksudkan sebagai shadaqah, yang

    pahalnya dihadiahkan (ditransfer) kepada orang yang sudah meninggal

    untuk didoakan tersebut, selain sebagai bentuk ungkapan rasa cinta dan

    kasih sayang dan silahturahim rohani (Sholikhin, 2010: 154).

    Dengan demikian tanda terima kasih atas pengiriman doa yaitu

    menghidangkan makanan dan minuman. Biasanya yang dihidangkan

    makanan yang ringan, dan yang dibawa pulang makanan berat. Bentuk

  • 36

    makana yang dibawa pulang ini umumnya dikatakan berkat karena

    sudah didoakan.

    B. Kajian Penelitian Terdahulu

    Penelitian terdahulu dilakukan untuk menelaah penelitian-peneltian yang

    telah diteliti yang relevan dengan kajian peneliti ini. Telaah peneliti ini

    penting dilakukan untuk pembandingan dalam sebuah penelitian. Berikut ini

    beberapa penelitian terdahulu yang relevan dengan peneliti ini:

    1. Penelitian Skripsi ini dilakukan oleh Tatik Susanti, Program Studi

    Pendidikan Seni Tari, Fakultas Bahasa dan Seni, Universitas Negeri

    Yogyakarta, 2015. Berjudul NILAI-NILAI PENDIDIKAN KARAAKTER

    YANG TERKANDUNG DALAM TOPENG LENGGER KINAYAKANDI

    DESA RECO, KECAMATAN KERETEK, KABUPATEN WONOSOBO.

    Hasil yang didapatkan penelitian ini adalah Nilai-nilai pendidikan

    karakter yang terkandung dalam tari Topeng Lengger Kinayakan dapat

    diklasifikasikan sebagai nilai pendidikan karakter hubungannya dengan

    Tuhan, diri sendiri, sesama, dan kebangsaan.

    Penelitian diatas mempunyai kesamaan dengan penelitian yang

    penulis lakukan yaitu membahas nilai-nilai pendidikan karakter. Namun

    perbedaanya terletak pada objek penelitian, di mana penulis membahas

    tentang nilai-nilai pendidikan karakter dalam tradisi tahlilan sedangkan

    penelitian diatas membahas tentang nilai-nilai pendidikan Islam dalam

    tradisi tahlilan. Sehingga dari penelitian diatas dapat menguatkan satu

  • 37

    sama lain yang mana pentingnya pendidikan karakter bagi generasi

    bangsa.

    2. Penelitian Skripsi ini dilakukan oleh Dinar Risprabowo, Fakultas Tarbiyah

    dan Ilmu Keguruan, Jurusan Pendidikan IPS, UIN Syarif Hidayatullah,

    2016 Berjudul FAKTA SOSIAL PADA TRADISI TAHLILAN DALAM

    MASYARAKAT ISLAM JAWA DI KELURAHAN GEDONG KECAMATAN

    PASAR REBO KOTA JAKARTA TIMUR.

    Dalam penelitian tersebut menyimpulkan behwa Fakta sosial

    (anggapan) dalam tradisi tahlilan mengarahkan individu untuk melakukan

    tindakan yang didasari rasa takut akan konsekuensinya. Konsekuensi yang

    didapat, bila diterima, dianggap sesuai dengan norma masyarakat. Bila

    tidak diterima, dianggap tidak sesuai dengan norma dalam masyarakat.

    Keterkaitan terhadap teori fakta sosial Durkheim berupa analisis

    identifikasi (kolektif, eksternal, dan koersif) dan analisis tipe (material dan

    non material).

    Penelitian diatas mempunyai kesamaan dengan penelitian yang

    penulis lakukan yaitu membahas tentang tradisi tahlilan. Namun

    perbedaanya terletak pada isi penelitian, di mana penulis membahas

    tentang nilai-nilai pendidikan karakter dalam tradisi tahlilan sedangkan

    penelitian diatas membahas tentang fakta sosial pada tradisi tahlilan.

    Sehingga dari penelitian diatas dapat menguatkan satu sama lain, yang

    mana tradisi tahlilan tersebut banyak manfaat bagi oarang yang

    melakukan dari beberapa aspek.

  • 38

    3. Penelitian Skipsi ini dilakukan oleh Siti Umi Hanik, Fakultas Tarbiyah,

    Jurusan Pendidikan Agama Islam IAIN Sunan Ampel Surabaya, 2011.

    Berjudul NILAI-NILAI PENDIDIKAN ISLAM DALAM TRADISI

    TAHLILAN DI DESA KREMBANGAN TAMAN SIDOARJO.

    Dalam penelitian tersebut menyimpulkan tentang nilai-nilai

    pendidikan islam dalam tradisi tahlilan yaitu nilai shodaqoh, tolong

    menolong, silahturahim, kerukuanan, dakwah.

    Penelitian diatas mempunyai kesamaan dengan penelitian yang

    penulis lakukan yaitu membahas tentang nilai-nilai pendidikan yang ada

    pada tradisi tahlilan. Namun perbedaanya terletak pada isi peneliti, di

    mana penulis lakukan lebih khusus di nilai-nilai pendidikan karakter

    sedangkan penelitian diatas substansinya lebih umum pada nilai-nilai

    pendidikan Islam dalam tradisi tahlilan, sehingga saling menguatkan satu

    sama lain.

  • 39

    BAB III

    METODE PENELITIAN

    A. Jenis Penelitian

    Dalam penelitian ini, peneliti menggunakan penelitian kualitatif lapangan

    dengan menggunakan jenis penelitian fenomenologis. Penelitian kualitatif

    adalah penelitian yang bermaksud untuk memahami fenomena tentang apa

    yang dialami oleh subjek penelitian, misalnya perilaku, persepsi, tindakan,

    motivasi dan lain-lain (Lexy J. Moleong, 2009: 6). Sedangkan pendekatan

    fenomenologis digunakan untuk memahami makna atau hakikat yang

    sebenarnya dari suatu gejala objek yang dikaji (Lexy J. Moleong, 2009: 14-

    15). Peneliti berusaha memahami arti peristiwa dan kaitanya terhadap orang-

    orang biasa dalam situasi tertentu.

    Alasan memilih jenis ini adalah dalam penelitian ini, peneliti berupaya

    menggali data berupa pandangan responden dalam bentuk cerita rinci atau asli

    dan data hasil pengamatan di lapangan terkait nilai-nilai pendidikan karakter

    dalam tradisi tahlilan di Desa Sraten Kecamatan Tuntang Kabupaten

    Semarang.

    B. Lokasi dan Subyek Penelitian

    Berdasarkan di atas maka peneliti melakukan penelitian di Desa Sraten

    Kecamatan Tuntang Kabupaten Semarang. Sedang subyek atau sasaran

    penelitiannya adalah Tokoh Masyarakat, Masyarakat Desa Sraten dan kegiatan

    tahlilan yang ada di desa Sraten. Guna untuk mendapatkan informasi yang

  • 40

    sesuai dengan yang diharapkan dalam penelitian, serta untuk membuktikan

    data yang akan dijadikan referensi tersendiri bagi peneliti, hal ini dilakukan

    supaya memudahkan peneliti untuk melakukan wawancara kepada narasumber

    yang benar.

    C. Sumber dan Jenis Data

    Data yang dikumpulkan meliputi berbagai macam data yang berhubungan

    dengan nilai-nilai pendidikan karakter dalam tradisi tahlilan di Desa Sraten

    Kecamatan Tuntang Kabupaten Semarang. Secara umum, data yang

    dikumpulkan terdiri dari data primer dan data sekunder.

    Data primer adalah data yang diambil secara langsung dari sumber data

    pertama. Hal ini dikatakan data primer karena diperoleh dan dikumpulkan dari

    sumber pertama. Data primer yang menyangkut wawancara mendalam

    berkaitan dengan informan kunci yaitu dari orang yang dianggap tahu dan

    orang sebagai pelaku tentang dilaksanakannya tradisi tahlilan pada tradisi

    tahlilan pada acara-acara syukuran. Sedangkan data primer yang menyangkut

    observasi secara langsung di lapangan yaitu mengikuti fenomena apa yang

    dilakukan masyarakat dalam kehidupan sehari-hari dan kemudian apa yang

    terjadi saat dilaksanakannya tradisi tahlilan pada acara-acara kematian dan

    syukuran.

    Adapun data sekunder adalah data yang biasanya telah tersusun dalam

    bentuk dokumen-dokumen berupa catatan, laporan, foto-foto atau lainnya.

  • 41

    D. Teknik Pengumpulan Data

    Keberhasilan suatu penelitian terutama penelitian kualitatif, tergantung

    beberapa fakor. Paling tidak ditentukan oleh kejelasan tujuan dan

    permasalahan penelitian, ketepatan pemilihan pendekatan/metodologi,

    ketelitian dan kelengkapan data informasi itu sendiri. Dalam penelitian ini

    digunakan beberapa tekhnik pengumpulan data yakni metode observasi,

    metode wawancara dan metode dokumentasi.

    1. Metode Observasi

    Menurut Lexy J. Moleong (2009: 174) observasi atau pengamatan

    dapat didefinisikan sebagai perhatian yang terfokus pada kejadian,

    gejalanya sesuatu. Dengan melakukan pengamatan terhadap gejala yang

    akan diteliti kemudian dijadikan bahan untuk menggumpulkan data yang

    lebih mendalam. Metode observasi ini digunakan untuk mengamati secara

    langsung terhadap proses/atau tahapan dalam pelaksanaan tradisi tahlilan

    di Desa Sraten Kecamatan Tuntang Kabupaten Semarang.

    2. Metode Wawancara

    Wawancara identik dengan pengumpulan data dengan bertanya

    langsung, lisan maupun tertulis kepada narasumber. Menurut Lexy J.

    Moleong (2009: 186) wawancara adalah percakapan dengan maksud

    tertentu yang berlangsung antara dua pihak yaitu pewawancara (yang

    mengajukan pertanyaan) dan terwawancara (yang memberikan jawaban

    atas pertanyaan). Dengan ini yang pewawancara meminta informasi atau

    ungkapan kepada orang yang diteliti yang berputar disekitar pendapat dan

  • 42

    keyakinanya. Ciri utamanya adalah kontak langsung dengan tatap muka

    antara penulis dengan sumber informasi.

    Metode wawancara digunakan untuk menggali informsasi tentang

    bentuk tradisi tahlilan di Desa Sraten Kecamatan Tuntang Kabupaten

    Semarang. Informasi disini mencakup tokoh masyarakat, tokoh Agama

    serta warga yang menetap di desa tersebut.

    3. Metode Dokumentasi.

    Dokumentasi adalah pengumpulan data berdasarkan catatan, traskrip,

    buku, surat kabar, majalah, agenda dan buku-buku. Menurut Lexy J.

    Moleong (2009: 216) dokumentasi adalah setiap bahan tertulis atau film

    yang tidak dipersiapkan karena adanya permintaan dari peneliti.

    Metode ini digunakan untuk mengumpulkan data yang diperoleh

    penulis dalam hal ini adalah berupa dokumen dan buku-buku serta

    kumpulan dari beberapa pengamatan secara langsung di lokasi penelitian

    yakni berupa foto-foto pelaksanaan kegiatan tradisi tahlilan di masyarakat.

    E. Analisis Data

    Analisis data Kualitatif adalah upaya yang dilakukan dengan jalan bekerja

    dengan data, mengorganisasikan data, memilah-milah menjadi satuan yang

    dapat dikelola, mensistensiskanya mencari danmenemukan pola, menemukan

    apa yang penting yang dapat dipelajari dan memutuskan apa yang dapat

    diceritakan kepada orang lain. (Lexy J. Moleong, 2009: 248)

  • 43

    Kegiatan analisis data selama pengumpulan data dapat dimulai setelah

    peneliti memahami fenomena sosial yang sedang diteliti dan setelah menelaah

    seluruh data yang tersedia dari berbagai sumber yaitu dari hasil wawancara,

    observasi, dokumen pribadi, maupun resmi, gambar, foto, dan lain sebagainya.

    Tentunya tidak semua data dapat dipindah dalam laporan penelitian,

    melainkan dianalisis dengan menggunakan analisis tertentu. Menurut Lexy J.

    Moleong (2009: 247-257) menjelaskan tentang langkah-langkah analisis data

    sebagai berikut:

    1. Reduksi Data

    Pada tahap ini, peneliti melakukan abstraksi yaitu usaha membuat

    rangkuman data dari data penelitian yang tersedia dari berbagai sumber

    yaitu wawancara, pengamatan lapangan, dan dokumen sehingga dapat

    ditemukan hal-hal pokok penting dari fokus penelitian.

    2. Penyusunan Satuan

    Pada tahap ini dilakukan penyusunan hal-hal pokok yang ditemukan

    kemudian menggolongkannya ke dalam pola, unit, tema atau kategori,

    sehingga tema utama dapat diketahui dengan mudah kemudian diberi

    makna sesuai materi penelitian.

    3. Kategorisasi

    Pada tahap ini dilakukan pengkategorian dari tema utama yang telah

    ditemukan, dengan cara pengelompokan tematema utau berdasarkan

    keterkaitan antara satu tema dengan tema yang lain.

  • 44

    Dengan ini penulis berusaha memaparkan data yang telah tersusun

    sebagaimana adanya, dengan melakukan kajian dan tafsiran data-data tersebut.

    Sehingga dapat menggambarkan permasalahan secara sistematis dan

    representatif faktor-faktor yang berhubungan dengan fenomena yang diteliti.

    F. Pengecekan Keabsahan Data

    Dalam penelitian ini untuk mendapatkan keabsahan data yang digunakan

    dalam penelitian ini yaitu triangulasi. Triangulasi adalah pengecekan data dari

    berbagai sumber dengan berbagai cara, dan berbagai waktu (Lexy J. Moleong,

    2009: 330).

    Menurut Lexy J. Moleong (2009: 331) terdapat pembagian triangulasi

    yaitu triangulasi sumber, dan triangulasi waktu.

    1. Triangulasi sumber untuk menguji kredibilitas data dilakukan dengan cara

    mengecek data yang telah diperoleh melalui beberapa sumber.

    2. Triangulasi waktu sering mempengaruhi kredibilitas data. data yang

    dikumpulkan dengan teknik wawancara di pagi hari pada saat narasumber

    masih segar, belum banyak masalah, akan memberikan data yang lebih

    valid sehingga lebih kredibel

    G. Tahap-Tahapan Penelitian

    Proses analisis data yang akan digunakan dalam penelitian ini setelah data

    terkumpul adalah dengan langkah-langkah sebagai berikut:

    1. Membaca

    Dalam proses membaca ini, penulis sekaligus mengkaji secara mutlak

    dan mendalam apakah memang ada nilai-nilai pendidikan karakter dalam

  • 45

    tradisi tahlilan dan sekaligus usaha untuk mengetahui bentuk nilai-nilai

    pendidikan karakter dalam Tradisi tahlilan tersebut.

    2. Menafsirkan

    Dalam proses ini, setelah data dikaji, kemudian data ditafsirkan,

    setelah itu disesuaikan dengan teori yang terkait dengan masalah

    pelaksanaan acara tahlilan yang telah ada.

    3. Menyimpulkan

    Sebagai langkah terakhir adalah menyimpulkan dari seluruh hasil dari

    penafsiran. Kegiatan menyimpulkan ini diharapkan dapat menghasilkan

    kebenaran obyektif dari pemecahan masalah yang dirumuskan.

  • 46

    BAB IV

    PAPARAN DAN ANALISIS DATA

    A. Paparan Data

    1. Gambaran Umum Obyek Penelitian Desa Sraten Kec. Tuntang Kab.

    Semarang

    a. Letak dan Kondisi Geografis

    Desa Sraten adalah desa yang terletak di kecamatan Tuntang

    Kabupaten Semarang yang berjarak 8 Km dari pusat pemerintahan

    kecamatan, 22 Km dari Ibukota Kabupaten. Luas wilayah Desa Sraten

    ini seluas 168.859 Ha, dibagi menjadi 7 wilayah tingkat dusun yang

    terdiri dari 7 Rukun Warga (RW) dan 26 Rukun Tetangga (RT). Desa

    Sraten memiliki batas-batas wilayah yakni:

    1) Sebelah Utara berbatasan dengan Desa Jombor

    2) Sebelah Selatan berbatasan dengan Desa Gedangan

    3) Sebelah Barat berbatasan dengan Desa Rowosari

    4) Sebelah Timur berbatasan dengan Desa Gedangan

    b. Kependudukan

    Jumlah penduduk di Desa Sraten adalah 4.190 jiwa/orang

    yang terdiri dari (2.097 Laki-laki dan 2.093 Perempuan) pada

    tahun 2017, yang terdiri dari 1.337 Kepala Keluarga (KK).

  • 47

    1) Jumlah Penduduk Menurut Agama

    No Kelompok

    Agama

    Laki-Laki Perempuan Jumlah

    1 Islam 2.003 1.996 3.9999

    2 Kristen 58 63 121

    3 Katholik 36 34 70

    4 Hindu 0 0 0

    5 Budha 0 0 0

    6 Khonghuchu 0 0 0

    7 Kepercayaan 0 0 0

    Jumlah 2.097 2.093 4.190

    Tabel 4.1. Jumlah Penduduk Menurut Agama

    Tampak jelas pada tabel agama Islam merupakan agama

    mayoritas penduduk yang mendiami di Desa Sraten. Agama

    Kristen menduduki peringkat ke dua terbanyak, setelah itu

    terdapat agama Hindu. Dari data yang beragam di atas, pada

    kenyataannya mereka dapat hidup harmonis dan membaur

    tanpa hadirnya konflik antar agama.

    Saling berbaur dan hormat menghormati antara sesama

    pemeluk agama di desa ini, tampak langsung pada saat

    perayaan hari besar keagamaan. Pada saat perayaan Hari

    Raya Idul Fitri. Kelompok mayoritas dan minoritas

    berdasarkan agama yang dianut tidak berpengaruh terhadap

    perlakuan dalam pembangunan desa. Rumah-rumah Ibadah

  • 48

    berdiri tegak walaupun dengan jumlah bangunan fisik yang

    tidak selalu ramai ditangani pemeluk agama masing-masing

    guna menjalankan ajaran agamanya masing-masing. Dari

    hal tersebut dapat dilihat bahwa sistem kekeluargaan yang

    mereka miliki cukup erat dan tidak pernah terjadi konflik

    antar sesama pemeluk agama, jika pun terjadi konflik

    mereka selalu melakukan musyawarah untuk mencari solusi

    dan berakhir dengan baik.

    2) Jumlah Penduduk menurut Usia

    No Kelompok

    Umur

    Laki-Laki Perempuan Jumlah

    1 0 4 149 125 274

    2 5 9 156 137 293

    3 10 19 308 305 613

    4 20 29 358 363 716

    5 30 39 338 321 659

    6 40 49 299 301 600

    7 50 59 260 283 543

    8 60 69 162 152 314

    9 70 72 106 178

    Jumlah 2.097 2.093 4.190

    Tabel 4.2. Jumlah Penduduk Menurut Usia

  • 49

    3) Jumlah Penduduk Menurut Tingkat Pendidikan

    No Jenis Pendidikan Laki-Laki Perempuan Jumlah

    1 Tidak/Belum

    Sekolah

    360 344 704

    2 Belum Tamat SD 175 164 339

    3 Tamat SD 377 429 806

    4 Tamat SMP/SLTP 276 305 581

    5 Tamat SMS/SLTA 691 618 1.309

    6 Diploma (I/II.III) 45 61 106

    7 Strata I 156 160 316

    8 Strata II/III 17 12 29

    Jumlah 2.097 2.093 4.190

    Tabel 4.3. Jumlah Penduduk Menurut Tingkat Pendidikan

    4) Jumlah Penduduk Menurut Mata Pencaharian

    No Jenis Pekerjaan Jumlah

    1 Tidak/Belum Bekerja 816

    2 Mengurus Rumah Tangga 487

    3 Pelajar/Mahasiswa 771

    4 Pensiunan 74

    5 PNS 144

    6 TNI 7

    7 POLRI 12

    8 Perdagangan 26

  • 50

    9 Petani/Pekebun 38

    10 Nelayan/Perikaan 2

    11 Karyawan Swasta 779

    12 Karyawan BUMN 9

    13 Karyawan BUMD 1

    14 Karyawan Honorer 4

    15 Buruh Harian Lepas 439

    16 Buruh Tani/Perkebunan 5

    17 Buruh Peternakan 1

    18 Pendeta 1

    19 Dosen 7

    20 Guru 47

    21 Dokter 4

    22 Bidan 2

    23 Perawat 4

    24 Pelaut 1

    25 Sopir 3

    26 Pedagang 7

    27 Perangkat Desa 1

    28 Wiraswasta 498

    Jumlah 4.190

    Tabel 4.4. Jumlah Penduduk Menurut Mata Pencaharian

  • 51

    c. Bidang Pembangunan/Sarana Fisik

    Sarana fisik merupakan suatu aspek pendukung yang sangat

    penting dalam kehidupan bermasyarakat. Sarana fisik

    merupakan sarana umum yang digunakan oleh suatu

    masyarakat untuk melakukan aktifitas sehari-hari, khususnya

    yang berhubungan dengan kepentingan umum. Di Desa Sraten

    Kecamatan Tuntang Kabupaten Semarang terdapat sarana-

    sarana fisik antara lain:

    1) Sarana Agama

    Jumlah sarana ibadah yang terdapat di Desa Sraten

    adalah 18 unit bangunan yang terdiri dari 6 buah Masjid, 9

    Musholla. Untuk sarana ibadah Gereja, Vihara, Klenteng

    dan Pura tidak terdapat di Lokasi Desa Sraten, dan untuk

    masyarakat yang beragama selain Islam, mereka

    menjalankan ibadahnya di luar Desa Sraten.

    2) Sarana Pendidikan

    Sarana pendidikan di Desa Sraten terdiri dari Taman Kanak-

    kanak (TK) ada 1 gedung, Sekolah Dasar (SD) 2 gedung, 1 gedung

    Madrasah Ibtidaiyah (MI), dan 2 Pondok Pesantren. Dari fasilitas

    pendidikan yang ada di sini diharapkan pemerintah dapat

    membantu melalui pembangunan sekolah untuk memudahkan

    masyarakat agar dapat bersekolah tanpa membayar biaya apapun.

  • 52

    3) Fasilitas Sosial

    Fasilitas sosial di Desa Sraten terdapat 1 unit Pos Kesehatan

    Desa (PKD) untuk memberikan pelayanan kesehatan dasar

    masyarakat Desa Sraten. Kemudian ruas jalan di Desa Sraten 95%

    sudah beraspal.

    d. Kondisi Sosial Budaya dan Tradisi Keagamaan

    Masyarakat pedesaan memiliki jiwa sosial yang lebih tinggi

    dibandingkan dengan masyarakat perkotaan, begitu juga dengan

    masyarakat Sraten memiliki jiwa sosial yang tinggi, memiliki

    kehidupan bermasyarakat yang tenteram, damai, selaras, jauh

    dari perubahan yang dapat menimbulkan konflik. Masyarakat

    hidup bersama, bekerja sama, dan berhubungan erat satu sama

    lain, dengan sifat-sifat yang hampir seragam. Dengan kata lain

    rasa kekeluargaan masyarakat Desa Sreten lebih kental.

    Di sektor budaya Desa Sraten termasuk desa yang kaya

    akan budaya, adat, dan kesenian tradisional. Budaya adat yang

    berkembang di kalangan masyarakat Desa Sraten antara lain

    berupa kegiatan ziarah kubur, shodaqoh massal, bersih Desa,

    sodaqoh tolak balak, Haul, kirim doa. Sedangkan kesenian yang

    ada di Desa Sukomarto berupa Drumblek, Mauludan, Rebana.

    Pendidikan yang di peroleh warga sebagian besar sudah

    sampai kejenjang yang tinggi. Walaupun mereka menganggap

    bahwa pendidikan formal penting tapi juga tidak

  • 53

    mengesampingkan pendidikan agamanya sehingga sebagian

    besar anak mereka bersekolah dan diasramakan dipondok

    pesantren, sehingga nilai-nilai Akhlak dan budaya Islam warga

    Sraten masih tetap terjaga dengan baik.

    Warga Sraten sebagian besar menganut paham Ahlissunan

    Waljamaah mereka termasuk warga yang taat dan sangat

    religius. Mereka juga aktif dalam kegiatan organisasi ke-NU-

    an, ibu-ibu mengikuti MUSLIMAT-an, kaum muda-mudi

    mengikuti IPNU-IPPNU dan juga ANSOR. Tradisi-tradisi ke-

    NU-an juga sering dilakukan diantaranya:

    1) Tahlilan

    Keberagamaan di desa ini yang paling mencolok adalah

    tahlilan. Kegiatan ini biasanya dibarengi dengan pembacaan

    Yasin yang rutin diadakan setiap seminggu sekali yaitu pada

    malam Jumat di setiap musholla, masjid atau pondok.

    Adapun tahlilan yang dilaksanakan di rumah setiap

    warga secara bergiliran Di Desa ini dilaksanakan secara

    bergiliran dari rumah kerumah.

    2) Dzibaan dan Manaqiban

    Kegiatan ini dilaksanankan di musholla, masjid atau di

    rumah-rumah oleh ibu-ibu MUSLIMAT dan santri putri

    yang dipimpin oleh Bu Nyai Siti Asiyah.

  • 54

    Kegiatan ini juga dilaksanakan di pondok pada setiap

    hari Kamis setelah Isya oleh para santri dengan membaca

    barjanji dari Yaa Robbi Sholli sampai Yaa Badrotim.

    3) Isra Miraj

    Kegiatan Isra Miraj, yaitu kegiatan yang dilaksanakan

    pada tanggal 10 Rajab tahun Hijriyah diadakan secara besar-

    besaran. Hal tersebut dilakukan untuk memperingati

    peristiwa Isra Miraj Nabi Muhammad SAW dengan

    mengharapkan syafaatnya.

    4) Mauludan

    Kegiatan Muludan, yaitu kegiatan yang dilaksanakan

    pada tanggal 12 Robiul Awal tahun Hijriyah. Kegiatan

    yang dilakukan yaitu dengan membaca barjanji bersama-

    sama (Sholawat kepada Baginda Rasulullah), dan kadang-

    kadang bila acara Muludan tersebut diadakan secara besar-

    besaran maka biasanya dilengkapi dengan mauidlatul

    hasanah oleh Pak Kyai/Bu.Nyai. Hal tersebut dilakukan

    untuk memperingati dan menghormati hari kelahiran Nabi

    Muhammad SAW. Dengan mengharapkan syafaatnya di

    setiap pelaksanaannya.

    Dan Tradisi-tradisi lain yang diikuti bersama sehingga

    memepererat tali persaudaraan antar warga maupun antar santri

  • 55

    pondok pesantren yang berada di Desa Sraten Kecamatan

    Tuntang Kabupaten Semarang.

    2. Tradisi Tahlilan di Desa Sraten Tuntang Kab. Semarang

    a. Asal-usul atau Dasar Orang Melaksanakan Tradisi Tahlilan

    Masyarakat Sraten memandang bahwa asal-usul orang

    melaksanakan tradisi tahlilan berasal dari budaya Islam (Jawa),

    mereka mengacu pada sejarah masuknya Islam di Jawa yang

    tidak terlepas dari peran para wali, yang terkenal dengan

    sebutan Wali Songo. Seperti yang diungkapkan oleh Ibu Siti

    Asiyah.

    Tahlilan itu ikut sunnahnya Rasulullah dan warisan para Wali,

    daripada kumpulan saja tidak ada manfaatnya lebih baik diisi

    tahlilan. (Wawancara pada hari Ahad, 27 Mei 2018, pukul.

    12:53 WIB)

    Maka dari itu tradisi tahlilan tentunya sudah menjadi

    kebiasaan masyarakat desa Sraten sejak dulunya dan menjadi

    sebuah kegiatan yang dilaksanakan secara turun temurun,

    sehingga tradisi tahlilan sampai sekarang ini masih sering

    ditemukan atau dilaksanakan oleh warga desa Sraten. Hal ini

    sesuai yang disampaikan oleh K. Matori Mansur sebagai

    Pengasuh Pondok Pesantren Mansyaul Huda.

    Kegiatan tahlil di desa Sraten yang saya tau sudah ada sejak

    saya mengetahui adamya tahlilan kira-kira umur 15 tahun,

    sekarang saya berumur 67 tahun,tapi itu sudah berlaku tahlilan

    sejak dulu dan saya tidak tau pastinya (Wawancara pada hari

    Kamis, 10 Mei 2018, pukul. 06:30 WIB)