web viewsebagian besar mengalami perbaikan partial dan resiko untuk terjadinya gtl antisocial,...

Click here to load reader

Post on 30-Jan-2018

227 views

Category:

Documents

0 download

Embed Size (px)

TRANSCRIPT

CHILD PSCHIATRY

Dr. Warih Adnan, Sp.Kj | Jumat, 19 November 2010 | Editor : venny

Assalamualaikum

Sebenernya masalah psikiatri pada anak-anak itu banyak kawand, Cuma berhubung kita dapat jatah kuliahnya 2 jam aja jadi diambil materi yang paling banyak ditemuin di tempat-tempat pelayanan kesehatan kayak AUTIS n ADHD. Paling ngga kita ini sebagai calon dokter umum harus bisa mengindentifikasi kedua macam gangguan tersebut supaya cepat mendapat intervensi dan prognosisnya baik.

AUTIS

(DETEKSI DINI GANGGUAN AUTISME)

yang paling penting buat dokter umum adalah deteksi dini karena deteksi dini lah yang akan memperbaiki prognosis secara keseluruhan.

LATAR BELAKANG

Autism merupakan gangguan perkembangan pada anak yang seharusnya pada usia kurang dari 3 tahun sudah bisa terdeteksi. Karena sebenernya sejak lahir kelainannya sudah muncul, bukan di dapat saat anak sudah besar. Namun biasanya baru terdeteksi setelah usianya 3 tahun. Karena pada usia 3 tahun kelainannya sudah tampak jelas. Misalnya usia segitu harusnya udah bisa komunikasi sama orang tua, teman-teman, tapi kok dia gak bisa ngomong. Atau harusnya dia bisa bersosialisasi dengan orang lain, tapi kok dia gak bisa.

Adanya keterlambatan-keterlambatan kayak gitu biasanya yang kemudian menimbulkan kekhawatiran orang tua sehingga orang tua baru memeriksakan anaknya. Padahal sebenernya ada tanda-tanda yang harus dicurigai bahwa anak mengalami autis.

Dari bagan sudah jelas dong ya kalo autism itu ditandai dengan symptom yang paling nyata yaitu:

a. Gangguan Interaksi social

b. Gangguan komunikasi

c. Gangguan perilaku

Prevalensinya pada tahun 1966-2000 meningkat 10x lipat, sehingga perlu penanganan yang tepat untuk mengatasi masalah-masalah ini.

Peningkatan tersebut dapat disebabkan oleh:

a. prevalensinya memang meningkat

b. Deteksi terhadap autis sudah sangan jeli sehingga kasusnya banyak ditemukan

Keterlambatan diagnosis mengakibatkan intervensi yang terlambat juga sehingga prognosisnya buruk.

Makin cepat deteksi makin cepat mendapat intervensidiharapkan dapat mempengaruhi prognosis pasien.

Gejala klinis gangguan autism

1. Gangguan kualitatif interaksi social

Gagal dalam:

a. Mengembangkan empati

Anak-anak tu biasanya kalo temennya diserang maka dia akan membantu temennya itu, ngebelain temennya lah istilahnya mah. Nah itu tu cikal bakal rasa empati pada anak-anak. Jadi kalo liat anak yang beramtem buat ngebelain temennya tu jangan di marahin, tapi harus diarahkan karena kadang-kadang si anak membela yang gak bener. Tapi prinsipnya yang kayak gitu tu anak sedang belajar mengembangkan rasa empatinya.

Anak-anak yang autis itu cuek, cenderung berperilaku stereotipik. Dia gak akan peduli walopun di sampingnya ada temennya yang disakiti.

b. Interaksi social dengan lingkungannya

Keakraban dengan orang tua, orang lain (guru dan saudara)

Anak gak akan nangis kalo ditinggal ibunya pergi. Nah, kita sebagai calon ibu ntar kalo udah punya anak jangan bangga atau seneng kalo anak anteng-anteng aja pas ditinggal pergi karena jangan-jangan anak mengalami autis. Secara perkembangan normal anak itu pasti ada rasa kecewa dan sedih kalo ditinggal orang yang dicintai dia walopun reaksi masing-masing anak itu berbeda tegantung rasa keamannya dia. Misalnya walopun ditinggal pergi ibunya, tapi dirumahnya ada nenek atau pengasuhnya yang dia cintai biasanya anak jadi gak rewel tapi tetep aja sebenernya dia meresa sedih. Kalo anak jadi rewel karena ditinggal ibunya, maka harus dicari penyebab kerewelannya itu. Mungkin aja karena anak mengkhawatirkan ibunya atau dia merasa tidak nyaman dengan lingkungannya. Jadi kerewelan anak itu jangan dianggap sebagai hal sepele karena kalo gak ditanganni bisa-bisa anak mengalami gangguan pada psikologisnya.

Anak autis itu seperti gak butuh orang lain. Mainpun dia lebih seneng sendirian. Hanya aktif dalam kesendirian dan fikirannya sendiri.

berbagi kesenangan dengan orang lain.

Misalnya punya mainan baru untuk dimainkan dengan orang lain, dia malah tidak merasa senang.

menjalin persahabatan

Senang beraktivitas seorang diri.

Hidup dalam dunianya sendiri

Jadi anak autis itu cenderung anteng, tenang, cuek dan gak butuh orang lain. Kalo ada bayi pada usia awal-awal itu gak rewel harus dicari penyebabnya, kalo gak rewelnya karena dia nyaman ya gak masalah. Tapi kalo gak rewelnya karena emang karena gak membutuhkan orang lain berarti kemungkinan bayi mengalami autis. Dari usia 1 bulan pun sebenernya udah bisa diliat gangguan interaksi sosialnya, jadi jangan nunggu sampe usia sekolah baru diperiksain karena udah terlambat dan prognosisnya pun jadi buruk.

2. Gangguan kualitatif komunikasi

Terlambat dalam kualitas bicara, tidak bisa bicara, dan tidak bisa megungkapkan apa yang ingin diungkapkannya.

Gangguan bahasa verbal (berkata-kata) dan nonverbal (ekspresi, senyuman)

Keluhan utama yang diungkapkan orang tua biasanya keterlambatan bicara pada anak. Sedangkan masalah interaksi social biasanya kurang terperhatikan oleh orang tua.

Gangguan bahasa verbal itu seperti:

Ekolalia adalah mengulang kata-kata yang sama. Misalnya ibu nanya: udah makan de?, anak menjawab: makan, makan, makan. Karena komunikasinya yang emang gak bagus, jadi kata-kata yang diucapkannya itu asal aja, gak ada maknanya. Biasanya juga anak mengulang kata terakhir yang dia ucapkan.

Gangguan artikulasi. Ngomongnya gak jelas.

Gangguan kualitas suara dan irama. Terbatas dalam menceritakan atau mengungkapkan sesuatu. Kalo anak marah, yang muncul itu perilakunya misalnya ngebanting barang-barang, mukul-mukul, karena dia gak bisa mengekspresikan kemarahannya dengan kata-kata.

Di dalam perkembangan anak, penting untuk diajarkan ekspresi perasaan. Sehingga ketika anak menagis, tugas orang tua atau yang lainnya bukan Cuma menyuruh anak untuk berhenti menangis tapi juga harus sambil mengenalkan emosinya. Misalnya anak nangis karena mainannya diambil kakaknya, maka si ibu bilang ade jengkel ya mainannya diambil kakak?. Dengan begitu anak jadi tau emosinya, perasaan kayak gitu tu namanya jengkel. Setelah anaknya berhenti menangis atau udah tenang, ajarkan anak untuk mengekspresikan perasaannya. Misalnya suruh menceritakan tadi dia nangisnya itu kenapa. Kalo dari kecilnya udah diajarkan cara mengidentifikasi emosi dan mengungkapkan perasaannya maka sampe anak dewasa dia akan terbiasa sehingga gak makan hati dan kondisi mentalnya lebiih baik. Kalo makan hati lama-lama dipendem bisa jadi penyakit kayak depresi. Nah lho? Maka penting bagi orang tua untuk mengajarkan anaknya mengekspresikan apa yang dia rasakan supaya kesehatan mentalnya lebih baik.

Anak autis tidak bisa mengekspresikan perasaan nya karewna memang dia punya gangguan dalam berkomunikasi.

3. Gangguan perilaku

Perilaku, minat dan aktivitas streotipik (itu-itu aja, monoton) serta terbatas, tidak banyak yang disukai. lebih suka benda yang berputar.

Gerakan aneh, monoton, dan berulang.

Mobil-mobilan dan sepeda bukan dimainin tapi malah dibalik dan diputar-putar rodanya. Anak autis bisa memandangi roda yang berputar selama berjam-jam.

Konsistensi

Tidak menyukai perubahan. Kalo di dalam ruangan letak benda-benda yang dia suka diubah, dia akan marah. Anak normal mempunyai keterampilan yang bervariasi sedangkan anak autis perilakunya saja sangat terbatas.

4. Gejala lain

Hiperaktif

Impulsive. Empati rendah impulsif tinggi

Destruktif (merusak)

Respon sensorik abnormal

Dulu ada teori social yang mengatakan bahwa autis itu diakibatkan oleh gaya pengasuhan ternyata terbatahkan dengan adanya gangguan sensori dan pemeriksaan penunjang yang abnormal. Dengan demikian ternyata autis itu ada faktor herediternya sehingga seharusnya sudah bisa terdeteksi sejak bayi.

5. Gejala penyerta

75%-80% mengalami retardasi mental.

Untuk mengetahui seseorang mengalami retardasi mental itu tesnya memerlukan kemampuan kognitif. Nah, anak autis itu apa mungkin emang kemampuan kognitifnya rendah dengan IQ di bawah 70 atau IQnya normal tapi tidak kooperatif saat tes karena gak bisa berkomunikasi, perilakunya terbatas dan tidak memenuhi intruksi saat tes sehingga hasil IQnya rendah. Sebagian ahli ada yang berpendapat seperti itu karena memang retardasi mental itu acuannya IQ.

10%-35% mengalami bangkitan kejang

FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI DETEKSI DINI GANGGUAN AUTISM

a. Faktor gejala yang tidak konsisten.

Jadi gejala-gejala yang muncul pada tiap anak autis itu kadang-kadang tidak sama persis. maka kemudian ada yang namanya spectrum autism. Spectrum autisme ini gejalanya mirip anak autis tapi tidak sesuai dengan pedoman diagnostic yang ada di PPDGJ.

b. Perjalanan penyakit gangguan autism

Sejak lahir sudah autis tapi progresivitasnya berbeda-beda. Ada yang dari bayi emang udah langsung memburuk. Tapi ada juga memburuknya tuh waktu udah gede.

c. Faktor orang tua

Kesibukan orang tua sehingga anaknya gak diperhatiin. Atau mengira bahwa anaknya mengalami keterlambatan karena emang di keluarganya ada riwayat yang sama. Atau bahkan menganggap anaknya gak rewel karena mengerti kesibukan orang tua. Nah, kekurangtanggapan orang tua ini lah yang mengakibatkan anak terlambat terdiagnosis.

d. Faktor klinisi

Dokter umum diharapkan bisa mengatasi masalah yang muncul karena faktor klinisi. Kalo kita punya pasien anak, jangan hanya memperhatikan kesehatan fisiknya saja tapi juga harus mengidentifikasi kesehatan mentalnya. Harus memeriksa secara holistik gitu deh. Orang tua cenderung lebih memilih membawa anaknya ke dokter umu