minimalisasi dampak kenaikan tarif dasar listrik melalui kebijakan moneter

Click here to load reader

Post on 22-Jul-2015

280 views

Category:

Documents

2 download

Embed Size (px)

TRANSCRIPT

1

[makalah makro ekonomi]

MINIMALISASI DAMPAK KENAIKAN TARIF DASAR LISTRIK MELALUI KEBIJAKAN MONETERDitulis bersama Nasrudin dan Nila RifaiMahasiswa program Doktor Mayor Ekonomi Pertanian IPB

PendahuluanPertumbuhan ekonomi suatu negara erat kaitannya dengan ketersediaan akses energi. Energi memainkan peranan yang sangat penting dalam kegiatan produksi output ekonomi dan ekonomi tidak akan dapat berkembang tanpa pasokan energi yang cukup atau akses terhadap pelayanan energi. Sekali pasokan energi berkurang yang berakibat pada naiknya biaya energi atau kurangnya akses ke pelayanan energi, akan terjadi kenaikan biaya yang menekan perekonomian, mendorong naiknya kemiskinan dan pengangguran serta mengganggu prospek-prospek pembangunan lainnya (Nkomo, 2007). Energi, baik yang berupa penerangan, panas, tenaga mekanika atau listrik, merupakan hal pokok pada masyarakat dan memainkan peran penting dalam pembangunan suatu negara, terutama untuk negara-negara miskin dan negara-negara sedang berkembang. Akses terhadap energi modern merupakan prasyarat penting dalam pengurangan kemiskinan dan dalam upaya mencapai tujuan pembangunan milenium atau millennium development goals (Schubert, et al, 2007). Energi juga memiliki peran yang sangat penting dalam pencapaian tujuan sosial, ekonomi dan lingkungan untuk terlaksananya pembangunan berkelanjutan dan mendukung kegiatan-kegiatan nasional. Selama hampir 40 tahun pembangunan yang telah dilaksanakan di Indonesia, ternyata tingkat kemiskinan dan jumlah orang miskin masih tetap tinggi terutama diEPN | IPB

2

[makalah makro ekonomi]

perdesaan, tempat dimana sebagian besar kegiatan pertanian berlangsung. Data statistik seperti terlihat pada Tabel 1.1. menunjukkan bahwa pada tahun 2005 tingkat kemiskinan di perdesaan Indonesia masih sebesar 19.5 persen, jauh di atas kemiskinan di perkotaan yang 11.4 persen. Jika dilihat dari sisi jumlah, orang miskin di perdesaan pada tahun 2005 masih sebanyak 22.7 juta orang sedangkan di perkotaan sebanyak 12.4 juta orang sehingga total jumlah orang miskin di Indonesia adalah 35.1 juta orang atau sekitar 15.97 persen dari total jumlah penduduk Indonesia. Selain tingginya angka kemiskinan di Indonesia, hal lain yang juga perlu diperhatikan adalah jumlah pengangguran terbuka. Pertumbuhan ekonomi yang di atas 5 persen sejak tahun 2004, mampu meningkatkan jumlah orang bekerja yang pada tahun 2004 masih 93.72 juta orang dan pada tahun 2008 dapat ditingkatkan sehingga mencapai 105.25 juta orang sebagaimana terlihat pada Tabel 1.2. Peningkatan jumlah orang yang bekerja di atas tetap belum mampu secara signifikan menurunkan jumlah pengangguran terbuka di Indonesia. Jumlah orang yang tidak bekerja atau pengangguran terbuka di Indonesia pada tahun 2008 masih cukup besar yang mencapai 9.12 juta orang atau sekitar 7.97 persen dari total angkatan kerja. Ini menunjukkan bahwa pertumbuhan ekonomi yang berhasil diraih selama periode 2004 2008 masih belum cukup untuk menyerap penambahan tenaga kerja yang ada pada periode yang sama. Tabel 1.1. Tingkat Kemiskinan dan Jumlah Orang Miskin di Indonesia

Sumber : BPS, 2007

EPN | IPB

3

[makalah makro ekonomi]

Tabel 1.2. Pertumbuhan Ekonomi, Jumlah Orang Bekerja dan PengangguranPeriode 2001 2002 2003 2004 2005 2006 2007 2008 Sumber : BPS, 2008 Pertumbuhan Ekonomi (%) 3.44 3.66 4.10 5.05 5.60 6.11 5.91 6.50 Jumlah Orang Bekerja (Juta) 90.81 91.65 92.81 93.72 94.95 95.18 101.94 105.25 Pengangguran Terbuka Jumlah (Juta) 8.00 9.13 9.82 10.25 10.85 11.11 10.29 9.12 % 8.10 9.06 9.50 9.86 10.26 10.44 9.19 7.97

Untuk menurunkan angka kemiskinan dan jumlah pengangguran terbuka di atas, diperlukan upaya-upaya yang lebih keras dan sistematis dari pemerintah, selain pertumbuhan ekonomi yang lebih baik, konsisten dan berkualitas. Upaya-upaya keras dan sistematis serta pertumbuhan ekonomi yang lebih baik, konsisten dan berkualitas tersebut diharapkan dapat meningkatkan pendapatan masyarakat dan menciptakan banyak lapangan kerja sehingga semakin banyak jumlah orang yang bekerja dan mendapat pekerjaan di Indonesia yang pada akhirnya dapat menurunkan angka kemiskinan dan jumlah pengangguran. Menurut Bisnis Watch Indonesia (2003) kenaikan tarif dasar listrik disebabkan oleh besarnya hutang luar negeri pada sektor ketenagalistrikan (10% dari total pinjaman luar negeri), beban kontrak listrik swasta sebanyak 27 proyek (pembelian dengan mata uang asing dan penjualan dengan mata uang Rupiah), adanya devaluasi uang Rupiah, harga bahan bakar yang sangat tinggi, menurunnya daya beli masyarakat dan di bebarapa daerah PLN tidak mampu meberikan layanan pembangunan pembangkit baru. Sebagian besar pembangkit listrik PLN menggunakan BBM untuk menggerakkan pembangkit sehingga ketika terjadi kenaikkan harga minyak mentah dunia akan memberikan dampak keuangan kepada PLN dan Pemerintah. Karena hal tersebut di atas pada tanggal 1 Juli 2010 kemaren Pemerintah Indonesia dengan persetujuan DPR memberlakukan kenaikan tarif dasar listrik (TDL) yang bervariasi untuk sektor rumah tangga dan industri dengan rata-rata kenaikan tarif sebesar 18%. Namun, pada prakteknya menurut Asosiasi Pengusaha Indonesia kenaikan TDL pada sektor Industri ada yang mencapai lebih dari 50%. Kenaikan TDL yang tinggi pada sektor industri akan memberikan dampak pada kenaikan biaya input produksi yang menyebabkan harga barang produksi meningkat di pasaran. Biaya produksi untuk listrik merupakan 2 5% dari total input antara sektor-sektor ekonomi (Data Input-Output, 2007). Agar tidak mengalami kerugian, perusahaan melakukan efisiensi biaya produksi dengan melakukan pengurangan karyawan dan menurunkan kualitas barang. Kualitas barang yang menurun dan biaya produksi yang membengkak berakibat pada lemahnya daya saing produk Indonesia.

EPN | IPB

4

[makalah makro ekonomi]

Sedangkan di sektor rumah tangga, kenaikan TDL akan menyebabkan biaya hidup rumah tangga menjadi meningkat dan daya beli menjadi turun. Pengeluaran rumah tangga untuk listrik merupakan 3 4% dari pengeluaran konsumsi rumah tangga (SBH, 2007). Dengan turunnya daya beli rumah tangga, maka permintaan terhadap barang produksi menjadi turun sehingga output nasional akan turun sehingga akan meningkatkan jumlah pengangguran. Ini berarti upaya-upaya untuk melakukan penurunan angka kemiskinan dan jumlah pengangguran terancam gagal. Untuk mengatasi hal tersebut pemerintah melakukan berbagai kebijakan fiskal. Namun kebijakan fiskal tidak akan efektif jika tidak diimbangi dengan kebijakan moneter yang tepat. Untuk itu perlu dilakukan kajian kebijakan moneter apa saja yang perlukan dilakukan untuk meminimalkan dampak kenaikan tarif dasar listrik (TDL). Berdasarkan permasalahan-permasalahan yang telah diuraikan, maka tujuan dari penulisan ini secara umum adalah untuk menganalisis minimalisasi dampak kenaikan tarif dasar listrik melalui kebijakan moneter. Secara khusus penulisan ini bertujuan untuk: 1. Mendiskripsikan dampak kebijakan kenaikan TDL terhadap sektor industri dan rumah tangga. 2. Menganalisis kebijakan moneter apa yang paling tepat untuk mengurangi dampak kenaikan TDL. 3. Merekomendasikan kebijakan untuk meminimalisasi dampak kenaikan TDL melalui kebijakan moneter.

Kerangka TeoriSalah satu indikator kemajuan pembangunan pada suatu negara adalah pertumbuhan ekonomi. Pertumbuhan ekonomi merupakan ukuran kemampuan suatu negara untuk memperbesar outputnya dalam laju yang lebih cepat dari tingkat pertumbuhan penduduknya (Todaro dan Smith, 2006). Pertumbuhan ekonomi menunjukkan sejauh mana aktivitas perekonomian dapat menghasilkan tambahan pendapatan atau kesejahteraan pada periode tertentu (Mankiw, 2007). Pertumbuhan ekonomi diukur menggunakan data produk domestik bruto (PDB) yang mengukur pendapatan total setiap orang dalam perekonomian (Mankiw, 2007). Pertumbuhan ekonomi tercapai ketika tingkat produk domestik bruto (PDB) riil mengalami peningkatan dari tahun sebelumnya. Dornbusch, et al, (2004) menyatakan tumbuhnya PDB riil dipengaruhi oleh tersedianya sumber daya modal dan tenaga kerja dan efisiensi dalam penggunaan faktor produksi atau produktivitas. PDB sendiri menurut Mankiw (2007) terdiri dari empat komponen sebagai berikut : 1. Konsumsi; Konsumsi terdiri dari barang dan jasa yang dibeli rumah tangga. Tingkat konsumsi rumah tangga dipengaruhi oleh pendapatan disposable atau pendapatan yang dapat dibelanjakan. 2. Investasi; Investasi terdiri dari barang-barang yang dibeli untuk penggunaan masa depan. Tingkat investasi dipengaruhi oleh tingkat bunga yang mengukur biaya dari dana yang digunakan untuk membiayai investasi.

EPN | IPB

5

[makalah makro ekonomi]

3. Pembelian Pemerintah; Pembelian pemerintah adalah barang dan jasa yang dibeli oleh pemerintah pusat dan daerah. Pembelian pemerintah dibiayai oleh pendapatan pemerintah dari pajak dan pinjaman. 4. Ekspor Neto; Ekspor neto adalah nilai barang dan jasa yang diekspor ke negara lain dikurangi nilai barang dan jasa yang diimpor dari negara lain. Ekspor neto menunjukkan pengeluaran neto dari luar negeri atas barang dan jasa domestik, yang memberikan pendapatan bagi produsen domestik. Dornbusch, et al, (2004) menyatakan bahwa terdapat hubungan antara pertumbuhan ekonomi, pengangguran dan inflasi. Pertumbuhan PDB riil yang tinggi akan diikuti oleh penurunan tingkat pengangguran. Hubungan antara laju pertumbuhan riil di atas dengan perubahan tingkat pengangguran dikenal sebagai Hukum Okun. Kebijakan moneter ditujukan agar likuiditas dalam perekonomian berada dalam jumlah yang tepat sehingga dapat melancarkan transaksi perdagangan tanpa menimbulkan tekanan inflasi (Djojosubroto, 2009). Kebijakan moneter, yang terutama dilakukan dengan pengendalian jumlah uang beredar bertujuan untuk mendorong pertumbuhan ekonomi dengan tetap mengendalikan inflasi dan pengendalian kestabilan neraca pembayaran (Muhammad, 2009). Kebijakan m