tinjauan kebijakan moneter - november 2008 · pdf filetinjauan kebijakan moneter - november...

Click here to load reader

Post on 11-Mar-2019

216 views

Category:

Documents

0 download

Embed Size (px)

TRANSCRIPT

Tinjauan Kebijakan Moneter - November 2008

1

Tinjauan Kebijakan MoneterNovember 2008

Tinjauan Kebijakan Moneter (TKM) dipublikasikan secara bulanan

oleh Bank Indonesia setelah Rapat Dewan Gubernur (RDG) pada

setiap bulan Februari, Maret, Mei, Juni, Agustus, September,

November, dan Desember. Laporan ini dimaksudkan sebagai

media bagi Dewan Gubernur Bank Indonesia untuk memberikan

penjelasan kepada masyarakat luas mengenai evaluasi kondisi

moneter terkini atas asesmen dan prakiraan perekonomian

Indonesia serta respon kebijakan moneter Bank Indonesia yang

dipublikasikan dalam Laporan Kebijakan Moneter (LKM) secara

triwulanan pada setiap bulan Januari, April, Juli dan Oktober. Secara

rinci, TKM menyampaikan hasil evaluasi atas perkembangan terkini

mengenai inflasi, nilai tukar dan kondisi moneter selama bulan

laporan, serta keputusan respon kebijakan moneter yang ditempuh

Bank Indonesia.

Dewan Gubernur

Boediono Gubernur

Miranda S. Goeltom Deputi Gubernur Senior

Hartadi A. Sarwono Deputi Gubernur

Siti Ch. Fadjrijah Deputi Gubernur

S. Budi Rochadi Deputi Gubernur

Muliaman D. Hadad Deputi Gubernur

Adhayadi Mitroatmodjo Deputi Gubernur

Budi Mulya Deputi Gubernur

Tinjauan Kebijakan Moneter - November 2008

2

Daftar Isi

I. Statement Kebijakan Moneter .....................................................3

II. Perkembangan dan Kebijakan Moneter ......................................5

Inflasi ................................................................................................6

Nilai Tukar Rupiah .............................................................................7

Kebijakan Moneter ...........................................................................8

Strategi Kebijakan ..........................................................................8

Suku Bunga ...................................................................................9

Dana, Kredit, dan Uang Beredar ..................................................10

Pasar Modal .................................................................................11

Kondisi Perbankan ..........................................................................14

III. Respon Kebijakan Moneter .........................................................15

Tinjauan Kebijakan Moneter - November 2008

3

I. Statement KebIjaKaN MoNeTeR

Perekonomian Indonesia masih terus merasakan rambatan dari krisis

finansial global. Melemahnya perekonomian dunia telah mengimbas pada

menurunnya kinerja perekonomian Indonesia. Dampaknya lebih dalam dari

perkiraan semula. Berbagai indikator makroekonomi domestik mengalami

penyesuaian dalam beberapa pekan terakhir. Ekonomi Indonesia sedang

menuju keseimbangan barunya. Di sisi inflasi, melambatnya perekonomian

dunia tentu menurunkan tekanan inflasi yang berasal dari harga barang

internasional. Secara umum, tekanan inflasi di dalam negeri mereda.

Meski demikian, Bank Indonesia masih mencermati beberapa risiko

tekanan inflasi ke depan yang perlu terus diwaspadai. Menghadapi kondisi

tersebut, Bank Indonesia memandang penting untuk menjaga kebijakan

moneter yang tepat untuk dapat mencapai keseimbangan antara

pencapaian sasaran inflasi dengan kestabilan ekonomi dalam jangka

menengah panjang.

Berbagai indikator perekonomian menunjukkan bahwa krisis

perekonomian global telah mengalir dan menyebar pada kinerja

perekonomian dalam negeri. Pertumbuhan ekonomi diperkirakan akan

mengalami perlambatan. Konsumsi rumah tangga diperkirakan tumbuh

melambat, sama halnya dengan investasi yang diperkirakan melemah

akibat menurunnya permintaan eksternal dan meningkatnya faktor risiko

ketidakpastian perekonomian dunia. Pertumbuhan ekspor diperkirakan

juga akan melambat sedangkan pertumbuhan impor diperkirakan

akan tertahan. Di sisi penawaran, beberapa sektor utama penopang

pertumbuhan yakni sektor pertanian dan industri diperkirakan tumbuh

lebih rendah dari triwulan sebelumnya. Namun, beberapa sektor seperti

sektor pengangkutan dan telekomunikasi, serta sektor listrik, diperkirakan

masih akan tumbuh tinggi.

Di tengah berbagai perkembangan tersebut, inflasi tetap menjadi

perhatian utama Bank Indonesia. Berbagai kebijakan Bank Indonesia

diarahkan untuk mengurangi tekanan inflasi dalam jangka menengah

panjang. Inflasi bulan Oktober 2008 tercatat sebesar 11,77% (yoy), lebih

rendah dari bulan sebelumnya. Penurunan laju inflasi tersebut terutama

disebabkan oleh menurunnya inflasi pada kelompok volatile food dan

sumbangan deflasi dari kelompok administered price. Sementara itu, dari

sisi fundamental, melambatnya permintaan domestik serta berkurangnya

Tinjauan Kebijakan Moneter - November 2008

4

tekanan dari imported inflation menyebabkan tekanan pada inflasi inti

cenderung menurun. Meski demikian, Bank Indonesia masih mencermati

tekanan inflasi yang berasal dari sisi permintaan serta pertumbuhan kredit

perbankan yang masih tinggi. Dengan memperhitungkan berbagai hal

yang mengurangi tekanan inflasi dan faktor risiko tersebut. Bank Indonesia

masih memperkirakan inflasi IHK pada akhir tahun 2008 akan berada

dalam kisaran 11,5% - 12,5%.

Nilai tukar rupiah selama Oktober 2008 mengalami depresiasi. Sentimen

global telah mendorong terjadinya perilaku menghindari risiko (risk

aversion) oleh para investor asing. Secara alamiah, terjadinya krisis

global menyebabkan para investor memindahkan portfolionya keluar

dari Indonesia. Hal ini memicu terjadinya capital outflow, Meski kondisi

fundamental Indonesia masih kondusif, perilaku tersebut menyebabkan

nilai tukar Rupiah melemah. Indonesia tidak sendiri dalam hal ini.

Pelemahan nilai tular terjadi pada mata uang di kawasan regional, dengan

penyebab yang sama, yaitu imbas dari sentimen global. Secara rata-rata,

selama bulan Oktober 2008, Rupiah melemah 6,5% atau mencapai

level Rp 9.998 per USD. Di pasar saham, kinerja Indeks Harga Saham

Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia juga mengalami penurunan yang

cukup signifikan sebagai imbas krisis keuangan global. Namun, untuk

keseluruhan bulan investor masih mencatat net beli di pasar saham.

Menghadapi prahara krisis global tersebut, kondisi perbankan Indonesia

secara umum masih solid. Indikator-indikator utama perbankan

menunjukkan ketahanan yang tetap baik dalam menghadapi gejolak pasar

keuangan dunia. Kondisi likuiditas perbankan, yang sempat ketat di awal-

awal krisis, kini mulai longgar kembali. Berbagai kebijakan yang ditempuh

oleh Pemerintah dan Bank Indonesia, seperti pelonggaran GWM.

telah memberikan kontribusi pada kelonggaran likuiditas perbankan di

pasar keuangan. Hal ini memberi keleluasaan bagi perbankan dalam

menjalankan usahanya.

Dengan berbagai perkembangan tersebut, dalam keputusan Rapat

Dewan Gubernur (RDG) tanggal 6 November 2008, Dewan Gubernur

Bank Indonesia memutuskan untuk mempertahankan BI Rate pada

tingkat 9,5%. Selain menggunakan BI Rate, Bank Indonesia juga tetap

mengoptimalkan penggunaan seluruh instrumen kebijakan moneter

yang tersedia, seperti pelaksanaan Operasi Pasar Terbuka (OPT) dan

menjaga stabilitas di pasar uang dan valas. Transmisi kebijakan moneter

akan bekerja melalui pergerakan suku bunga yang dikaitkan dengan

Tinjauan Kebijakan Moneter - November 2008

5

suku bunga Pasar Uang Antar Bank (PUAB) sebagai sasaran operasional

kebijakan moneter.

Ke depan, Bank Indonesia akan terus mewaspadai timbulnya beberapa

risiko global yang dapat mempengaruhi tekanan infasi dan kestabilan

makeroekonomi. Untuk itu Bank Indonesia akan terus melakukan

koordinasi dengan Pemerintah dalam mencermati perkembangan

dan prospek perekonomian global, regional dan domestik untuk

mengamankan stabilitas ekonomi jangka menengah.

II. Perkembangan dan kebIjakan moneterMeningkatnya intensitas krisis di pasar keuangan global mewarnai

perkembangan makroekonomi selama Oktober 2008. Imbas krisis global

mendorong penurunan kinerja pasar keuangan regional termasuk

Indonesia. Meskipun demikian, tekanan terhadap inflasi mulai mereda

seiring dengan perlambatan ekonomi dunia dan penurunan harga

komoditas internasional. Secara bulanan, laju inflasi pada Oktober 2008

mencapai 11,77% (yoy). Penurunan laju inflasi terutama bersumber

dari penurunan inflasi volatile foods sejalan dengan penurunan harga

komoditas internasional dan deflasi kelompok administered prices

sehubungan dengan penyesuaian harga bahan bakar minyak jenis

Pertamax dan Pertamax Plus. Meski menurun, beberapa tekanan inflasi ke

depan tetap perlu diwaspadai terutama yang berasal dari sisi permintaan,

masih tingginya pertumbuhan kredit, dan pelemahan nilai tukar rupiah.

Nilai tukar rupiah pada Oktober 2008 mengalami pelemahan dibanding

bulan sebelumnya disebabkan oleh pengaruh faktor global. Dari sisi

moneter, kenaikan BI Rate ditransmisikan ke jalur suku bunga yaitu suku