meruntuhkan hegemoni persia dan romawi - pola hubungan dengan penguasa persia dan romawi — 19...

Download MERUNTUHKAN HEGEMONI PERSIA DAN ROMAWI - Pola Hubungan dengan Penguasa Persia dan Romawi — 19 Kesimpulan

Post on 02-Sep-2019

0 views

Category:

Documents

0 download

Embed Size (px)

TRANSCRIPT

  • 1

    Edisi 08/Mei 2016Laporan Bulanan SYAMINA

    MERUNTUHKAN HEGEMONI PERSIA DAN ROMAWI

    Foreign Policy Khalifah Umar Bin Khaththab

    Prestasi yang berhasil ditoreh Umar bin Khaththab tatkala menjabat khalifah terasa cukup unik dan mengesankan. Umar bin Khaththab yang dijuluki oleh Rasulullah n sebagai Al-Faruq langsung menjabat sebagai khalifah pengganti

    Abu Bakar setelah kematiannya pada tahun 13 Hijriah. Jika Abu

    Bakar adalah khalifah yang berjasa mengokohkan politik Islam

    dan membuka jalan bagi pembebasan negeri-negeri di sekitarnya

    dengan foreign policy (kebijakan luar negeri) yang diambilnya,

    terkhusus Irak dan Syam, maka dapat dikatakan bahwa Umar

    bin Khaththab adalah penyempurna foreign policy Abu Bakar.

    Sejarah mencatat, dalam rentang waktu selama sepuluh tahun

    lebih masa khilafahnya, Umar berhasil meruntuhkan hegemoni

    DAFTAR ISI ————————— BIOGRAFI UMAR BIN KHATHTHAB — 2 UMAR DILANTIK SEBAGAI KHALIFAH — 3 MERUNTUHKAN HEGEMONI DAN EKSISTENSI PERSIA — 5

    1. Perang Namariq (13 H/634 M) — 6 2. Perang Saqathiya [13 H/634 M] — 6 3. Perang Barosma [13 H/634 M] — 6 4. Perang Jisr (Jembatan) [13 H/634 M] — 6 5. Perang Buwaib [13 H/634 M] — 6 6. Perang Qadisyah [14 H/635 M] — 7 7. Perang Nahawand [21 H] — 7

    MERUNTUHKAN HEGEMONI ROMAWI — 7 1. Penaklukan Damaskus [14 H/635 M] — 8 2. Peperangan di Fihl [13 H/634 M] — 8 3. Penaklukan Baisan dan Thabariyah — 8 4. Pertempuran Qanasrin — 8 5. Peperangan Homs [15 H/636 M] — 9 6. Pembebasan Al-Quds [15 H/637 M] — 9

    BEBERAPA FOREIGN POLICY UMAR BIN KHATHTHAB — 10 1. Menyebarkan Keadilan dan Tidak Memaksa Umat

    Lain Masuk Islam Sebagai Karakter Penaklukan Islam — 10

    2. Tepat dalam Memilih Gubernur dan Panglima Perang serta Mengevaluasi Kinerja Mereka — 11

    3. Memerhatikan Batas-Batas Wilayah Kekuasaan Islam — 18

    4. Membangun Pola Hubungan dengan Penguasa Persia dan Romawi — 19

    Kesimpulan — 19

    ABOUT US ————————— Laporan ini merupakan sebuah publikasi dari Lembaga Kajian SYAMINA (LKS). LKS merupakan sebuah lembaga kajian independen yang bekerja dalam rangka membantu masyarakat untuk mencegah segala bentuk kezaliman.

    Publikasi ini didesain untuk dibaca oleh pengambil kebijakan dan dapat diakses oleh semua elemen masyarakat. Laporan yang terbit sejak tahun 2013 ini merupakan salah satu dari sekian banyak media yang mengajak segenap elemen umat untuk bekerja mencegah kezaliman.

    Media ini berusaha untuk menjadi corong kebenaran yang ditujukan kepada segenap lapisan dan tokoh masyarakat agar sadar realitas dan peduli terhadap hajat akan keadilan. Isinya mengemukakan gagasan ilmiah dan menitik-beratkan pada metode analisis dengan uraian yang lugas dan tujuan yang legal.

    Pandangan yang tertuang dalam laporan ini merupakan pendapat yang diekspresikan oleh masing-masing penulis. Untuk komentar atau pertanyaan tentang publikasi kami, kirimkan e-mail ke: lk.syamina@gmail.com.

    Seluruh laporan kami bisa diunduh di website: www. syamina.org

  • 2

    Edisi 08/Mei 2016Laporan Bulanan SYAMINA Persia dan Romawi, terkhusus di wilayah Irak,

    Syam, Mesir dan Jazirah Arab. Bahkan tidak hanya

    berhasil meruntuhkan hegemoni Persia, Umar bin

    Khaththab juga tuntas melenyapkan eksistensi

    Persia.

    BIOGRAFI UMAR BIN KHATHTHAB Dilahirkan 13 tahun setelah Tahun Gajah,1 ia

    diberi nama Umar oleh orang tuanya, Khaththab.

    Garis keturunannya bertemu dengan Rasulullah n

    pada kakek yang kedelapan, yaitu Ka’ab bin Luayy

    bin Ghalib.2 Sementara ibunya adalah Hantamah

    binti Hisyam bin Al-Mughirah, dari bani Makhzum,

    kakak dari Abu Jahal bin Hisyam.3

    Jika Abu Bakar berasal dari bani Taim, maka

    Umar bin Khaththab juga berasal dari keluarga

    terpandang bangsa Quraisy, bani ‘Adi. Kakeknya,

    Nufail bin Abdul Uzza termasuk orang yang

    diminta pertimbangan oleh bangsa Quraisy jika

    terjadi pertikaian.4

    Umar menghabiskan sebagian hidupnya pada

    masa jahiliah dan tumbuh berkembang seperti

    kebanyakan anak-anak bangsa Quraisy pada

    umumnya. Hanya saja karena berasal dari keluarga

    terpandang, Umar termasuk salah seorang pemuda

    Quraisy yang bisa membaca dan menulis pada saat

    itu. Suatu keterampilan yang dapat dibilang cukup

    langka untuk bangsa Arab pada masa itu.5

    Semasa kecil, Umar sudah memikul tanggung

    jawab dan tugas yang bisa dibilang cukup berat.

    Ia tumbuh dalam kehidupan sangat keras yang

    tidak mengenal kemewahan. Dengan sikap keras

    dan kasar, ayahnya, Khaththab, menyuruhnya ke

    padang pengembalaan untuk mengembalakan

    unta miliknya.6 Bahkan, Umar tidak hanya

    mengembala ternak milik ayahnya saja, namun

    1 As-Suyuthi, Tarikh Al-Khulafa’, Maktabah Nizar Mushthafa Al-Baz, 2004, hal. 89.

    2 Muhammad Husain Heikal, Umar bin Khaththab, terj Ali Audah, Litera Antar Nusa, Bogor, 2002, hal. 8.

    3 Inilah pendapat yang benar mengenai nama dan nasab ibu Umar bin Khaththab. Lihat Muhammad bin Shamil as-Sulami, Al-Bidayah wan Nihayah: Masa Khalafa`ur Rasyidin, terj Abu Ihsan Al-Atsari, Darul Haq, 2004, hal. 168.

    4 Ali Muhammad Ash-Shallabi, Fashl Al-Khitab fi Sirah Ibn Al-Khaththab Amir Al-Mukminin ‘Umar bin Al-Khaththab: Syakhshiyyatuhu wa ‘Ashruhu, Maktabah Shahabah, 2002, hal. 16.

    5 Muhammad Husain Heikal, Umar bin Khaththab, hal. 11. 6 Ibid, hal. 9.

    juga pernah berkerja mengembala beberapa ternak

    milik bibinya dari pihak ibu.7

    Selain berprofesi sebagai penggembala, Umar

    juga terlibat dalam perdagangan dan mendapatkan

    keuntungan darinya, meski ia tidak menjadi salah

    seorang konglomerat di Mekah. Dari aktivitas

    perdagangan ini, ia mendapatkan berbagai macam

    pengetahuan dari negara yang disinggahinya saat

    berdagang.

    Umar menempati posisi yang menonjol pada

    masyarakat Mekah Jahiliah dan secara efektif

    memberi sumbangsih pada peristiwa di Mekah.

    Ia terbantu oleh sejarah mulia nenek moyangnya.

    Interaksi Umar dengan kakeknya dan latar belakang

    keluarganyalah yang pada akhirnya memberi

    pengalaman, ilmu dan pengetahuan mengenai

    kondisi-kondisi orang Arab dan kehidupan mereka.

    Apalagi dengan kepandaian dan kecerdasannya,

    orang-orang Arab selalu merujuk pada Umar

    bin Khaththab untuk menguraikan perselisihan

    mereka.8

    Pada fase hidupnya, Umar pernah

    menjalani hidup pada masa jahiliah, mengukur

    kedalamannya, memahami hakikatnya, tradisinya,

    adat istiadatnya, dan membelanya dengan segenap

    kekuatan yang dimilikinya. Oleh karenanya,

    ketika ia memeluk Islam, kemudian memahami

    keindahannya, hakikatnya, dan meyakini

    perbedaan antara kebenaran dan kebatilan,

    dan juga antara keimanan dan kekufuran, maka

    keislamannya begitu bermakna pada dirinya.

    Tidaklah mengherankan jika ia pernah berujar,

    “Sesungguhnya, ikatan Islam akan terlepas ikat

    demi ikat, apabila seseorang tumbuh dalam Islam

    yang tidak mengenal jahiliah.”9

    Umar memeluk Islam pada saat berusia 27

    tahun.10 Saat itu, enam tahun setelah Rasulullah

    n diangkat sebagai seorang Nabi. Ia tercatat

    sebagai laki-laki ke 40 yang menyatakan keislaman

    mereka. Sejarawan mencatat bahwa keislamannya

    7 Ash-Shallabi, Fashl Al-Khitab ..., hal. 18. 8 Ibid, 19. 9 Perkataan Umar bin Khaththab ini disebutkan oleh Ibnu Taimiyyah

    dalap Majmu’ Al-Fatawanya, jilid. 10, hal. 301. 10 Muhammad Shamil, Al-Bidayah wan Nihayah: Masa Khalafa`ur

    Rasyidin, hal. 170.

  • 3

    Edisi 08/Mei 2016Laporan Bulanan SYAMINA hanya berjarak tiga hari setelah keislaman paman

    Rasulullah n, Hamzah bin Abdul Muthallib.11

    Sebelum keislamannya, Umar bahkan sempat

    berkeinginan untuk membunuh Rasulullah n.

    Namun, hidayah Allah lebih dahulu menyelinap

    dalam hatinya kemudian malah berbalik mencintai

    Rasululullah n.12 Keislaman Umar, bagaimanapun,

    tidak terlepas dari peran doa Rasulullah n: “Ya

    Allah! Kuatkanlah Islam dengan salah satu dari

    dua orang yang paling Engkau cintai; Abu Jahal bin

    Hisyam atau Umar bin Khaththab.”13

    Keislaman Umar memberi pengaruh besar

    terhadap dakwah Islam. Umar lah yang mengusulkan

    kepada Rasulullah n untuk mendakwahkan Islam

    secara terang-terangan dan dikabulkan oleh

    Rasulullah n, sehingga untuk pertama kalinya

    umat Islam bisa terang-terangan masuk ke Masjidil

    Haram secara berombongan. Umarlah yang berani

    terang-terangan menyatakan keislamannya di

    hadapan para tokoh bangsa Quraisy.14 Selain itu,

    ketika umat Islam lainnya sembunyi-sembunyi

    berhijrah ke Yatsrib (Madinah), justru Umar

    menantang bangsa Quraisy, yaitu siapa di antara

    mereka yang berani menghalanginya berhijrah ke

    Yatsrib.15

    UMAR DILANTIK SEBAGAI KHALIFAH Pengalaman selama sekitar 17 tahun

    mendampingi Rasulullah n dan sekitar 2 tahun

    lebih ikut serta membantu Abu Bakar Ash-Shiddiq

    dalam menjalankan roda kekhalifahan merupakan

    bekal paling berharga yang dimiliki Umar bin

    Khaththab sebagai khalifah. Segala aspek yang

    berkaitan tentang khilafah telah ia kuasai dengan

    baik. Ia tahu betul pek