makalh pemicu 1 blok 6

Click here to load reader

Post on 05-Aug-2015

433 views

Category:

Documents

28 download

Embed Size (px)

TRANSCRIPT

BAB II ISI A. NYERI a. Definisi Nyeri merupakan suatu pengalaman multidimensional yang kompleks yang melibatkan sensasi yang distimulus oleh rangsang dan respon terhadapnya. Sensasi rasa sakit tersebut bergantung pada pengalaman masa lalu, kepribadian dan tingkat kegelisahan pasien. Banyak aspek nyeri merupakan petunjuk kuat adanya penyakit endodonsi dan perlunya dilakukan perawatan. 1. Jenis serabut saraf dan perannya Tipe Serat Fungsi Diameter Conduction Velocity A Motor, proprioception 12-20 70-120 A Tekanan,sentuhan 5-12 30-70 A Motor,muscle spindle 3-6 15-30 A Pain,temperature,touch 1-53 6-30 C dorsal Root Pain 1mm Tes Vitalitas: a) Tes termal yang meliputi tes panas dan dingin untuk menentukan sensitivitas termal. Suhu yang digunakan: 0-65,50C. Tes dingin dilakuakn dengan semprotan etil klorida dan kristal karbondioksida. Tes paans dilakukan dengan semprotan udara panas, burnisher panas dan gutta percha panas. Cara peletakkan: pada spertiga tengah permukaan labial atau bukal mahkota gigi dan dilakukan dengan hati-hati agar tidak melukai mukosa mulut. b) Tes listrik dengan EPT (Electric pulp tester) yang dapat menimbulkan rangsang pada serabut saraf pulpa. Hasil: gigi vital atau tidak. Pada gigi susu kurang efektif karena perkembangan sistem saraf belum sempurna. Permukaan gigi harus kering dan kemudian diberikan lapisan konduktor yang kental seperti pasta gigi dan ditempelkan pada daerah email permukaaan labial sepertiga incisal atau sepertiga tengah incisal atau oklusal. Aliran listrik pulptester ditingkatkan perlahan. Kontaindikasi pada penyakit jantung, terutama pemakai cardiac pacemaker

3. Pemeriksaan Radiografik Bertujuan untuk membantu kejelasan temuan klinis, karena dalam radiograf dapat dilihat hal-hal seperti: a) Letak kelainan / penyakit pada jaringan keras gigi dan tlang alveolar. Misalnya luas karies, kelainan ruang pulpa, resorpsi interna/ekdterna, dan luas kelainan periapeks b) Anatomi gigi, yaitu bentuk akar, jumlah akar, bentuk saluran akar, panjang akar, lebar saluran akar. c) Jaringan periodontal dan kontinuitas lamina dura d) Radiodensitas jenis gambaran radiologis yang hitam/gelap, radiolusen dan radiopaknya Radiografi dapat diaplikasikan dalam rangkaian perawatan endodontik pada tiga tahap penting yaitu : a) Diagnosis Fungsi radiograf pada prosedur diagnosis : 1) Mengidentifikasi penyakit

Dilakukan identifikasi terhadap adanya perubahan yang menunjuk pada lesi pulpa, lesi periapeks, lesi periodontium, atau lesi tulang.2)

Menentukan anatomi pulpa dan akar Anatomi meliputi : o Pengidentifikasian dan penghitungan jumlah akar dan saluran akar. o Penentuan kelengkungan akar, hubungan antar saluran akar dan lokasinya. o Penentuan anatomi potongan melintang saluran akar secara individual. Menentukan ciri-ciri struktur anatomi normal Ada beberapa struktur anatomi normal yang saling tumpang tindih dan besar kemungkinan untuk keliru diinterpretasikan dengan masalah endodonsi. o Maksila sinus maksilaris, kanalis insisivus, fosa nasalis, prosesus zygomatikus, spina nasalis anterior. o Mandibula foramen mentalis berupa radiolusensi di apeks premolar bawah, daerah radiolusen yang terbentuk dari pola trabekuler yang jarang. Hal ini dapat diidentifikasi dari karakteristik struktur, identifikasi lamina dura, apakah ada pergeseran pada radiograf yang disudutkan berbeda dan respon gigi terhadap tes.

3)

b) Perawatan Fungsi radiograf pada prosedur perawatan : 1) Menentukan panjang kerja Cara : Tentukan jarak titik acuan ke apeks pada radiograf untuk mengetahui jarak saluran akar dari apeks yang harus dipreparasi dan diisi. 2) Memindahkan struktur radiopak yang tumpang tindih Cara : memakai proyeksi dengan penyudutan tabung sinar yang khusus. 3) Menentukan lokasi saluran akar Cara : dengan proyeksi paralel standar atau proyeksi dengan penyudutan khusus. 4) Mengevaluasi pengisian Cara : evaluasi panjang, densitas, konfigurasi, dan kualitas pengisian tiap-tiap saluran akar. c) Evaluasi Beberapa bulan atau tahun setelahnya, baru dapat diketahui kegagalan atau keberhasilan suatu perawatan endodontik. Oleh karena itu, radiografi sangat penting dilakukan untuk melakukan evaluasi. Hal-hal yang dapat dievaluasi : 1) Identifikasi penyakit baru Penyakit yang mungkin muncul antara lain, lesi di periapeks, lesi periodontium atau lesi non endodonsi. Lewat radiografi dapat diketahui keberadaan dan sifat lesi-lesi tersebut. Beberapa lesi hanya dapat diidentifikasi lewat radiograf, tanpa adanya gejal klinis. 2) Evaluasi penyembuhan Pada kasus yang berhasil, akan terbentuk struktur normal pada radiograf evaluasi atau lesi pra-perawatan yang dalam proses penyembuhan. 4. Pemerisaan Laboratorik Beberapa pemeriksaan laboratoris dapat dilakukan, antara lain biopsi jaringan atau cairan periapeks, untuk sediaan histopatologis, atau sitologis. Pemeriksaan laboratoris dilakukan apabila ditemui kesukaran dalam menentukan diagnosis. Misalnya dalam menentukan kasus kista radikuler sering ditemui kesukaran, apabila hanya berdasarkan radiologis saja. G. PULPOTOMI DAN PULPEKTOMI Pulpotomi Pulpotomi adalah pembuangan jaringan pulpa vital daerah mahkota / korona.Pulpotomi dibagi menjadi dua macam; pulpotomi parsial dan total. 1. Pulpotomi Parsial

Pulpotomi parsial berarti pembuangan jaringan pulpa di mahkota sampai batas pulpa sehat.Pengetahuan tentang reaksi dari pulpa setelah mengalami cedera traumatik sangat membantu dalam menentukan secara akurat jaringan pulpa yang masih sehat.Prosedur ini umum dikenal sebagai pulpotomi Cvek. Teknik Lakukan anestesi (tanpa vasokonstriktor tidak masalah), penempatan rubber dam, dan disinfeksi dangkal.Preparasi kavitas pada pulpa sedalam 1-2 mm menggunakan henpis high-speed dengan bur intan yang steril dengan ukuran yang sesuai bersamaan dengan aliran air pendingin.Bur kecepatan rendah atau ekskavator (berbentuk sendok) harus dihindari.Apabila pendarahan yang terjadi berlebihan, pulpa diamputasi lebih dalam lagi sampai hanya pendarahan tingkat sedang yang terlihat. Darah yang berlebih dibuang secara hati-hati dengan membilasnya dengan saline yang steril dan area tersebut dikeringkan dengan menggunakan cotton pellet yang steril. Penggunaan 5% NaOCl direkomendasikan untuk membilas pulpa yang terluka. NaOCl akan menyebabkan amputasi secara kimiawi pada bekuan darah, membuang selsel pulpa yang rusak, dentin yang tersisa, dan debri-debri lain, dan membantu mengontrol pendarahan dengan kerusakan yang minimal pada jaringan pulpa normal di bawahnya. Hindari terbentuknya gumpalan darah.Selapis tipis kalsium hidroksida dicampur dengan saline steril atau cairan anestesi hingga membentuk campuran yang tebal lalu secara hati-hati ditempatkan pada pulpa.Apabila pulpa yang hilang sudah sangat banyak, maka kalsium hidroksida hard-setting dapat digunakan.Kavitas yang telah dipreparasi selanjutnya ditumpat dengan material yang dapat menyegel secara erat kavitas dari kontaminasi bakteri (zinc oxide eugenol atau glass ionomer cement). Kemudian material pada kavitas pulpa dan semua dentin tubulus yang terekspos dietsa dan ditumpat menggunakan resin komposit. Kelanjutan Penekanan dilakukan pada adanya respons pada tes sensitivitas dan adanya perkembangan dari akar Prognosis Prognosisnya baik, Metode ini lebih menguntungkan daripada pulp capping. Pulpa yang terinflamasi (dangkal) dibuang selama preparasi kavitas pulpa.Kalsium hidroksida mendisinfeksi dentin dan pulpa dan menghilangkan peradangan pulpa.Pulpa mahkota juga masih tersisa sehingga memungkinkan dilakukannya tes sensitivitas. 2. Pulpotomi Total Prosedur ini melibatkan pembuangan seluruh pulpa di bagian mahkota sampai batas orifis akar. Indikasi Pulpotomi total diindikasikan ketika ada kemungkinan pulpa mengalami peradangan di level yang lebih dalam lagi dari pulpa di bagian mahkota. Contoh indikasi perawatan ini adalah trauma yang telah terjadi lebih dari 72 jam atau karies pada gigi muda dengan apeks yang belum terbentuk sempurna (masih berkembang). Pulpotomi total kontraindikasi pada gigi permanen. Keuntungan dari pulpotomi total hanyalah untuk memberi waktu bagi gigi imatur untuk membentuk apeks dan dinding dentin (yang masih tipis). Teknik Prosedur diawali dengan anestesi, penempatan rubber dam, dan disinfeksi dangkal seperti pada pulp capping dan pulpotomi parsial. Pulpa mahkota dihilangkan seperti pada pulpotomi parsial tetapi sampai level orifis akar. Kelanjutan Kerugian utama dari metode perawatan ini adalah tidak mungkin dilakukannya tes sensitivitas karena pulpa koronal telah hilang, oleh karena itu gambaran radiografik menjadi amat penting untuk menilai adanya periodontitis apical dan memastikan kelanjutan pembentukan akar. Prognosis Prognosis pulpotomi total lebih buruk daripada pulpotomi parsial. Karena evaluasi keadaan pulpa setelah dilakukan pulpotomi total tidak dapat dilakukan, beberapa pakar merekomendasikan untuk dilakukannya pulpektomi setelah akar-akar giginya telah terbentuk sempurna. Perbedaan antara pulpotomi pada gigi permanen dan gigi susu adalah pulpotomi pada gigi dewasa menggunakan kalsium hidroksida, sedangkan pada gigi susu menggunakan formokresol atau glutaradehid. Kalsium hidroksida pada pulpotomi vital gigi susu menyebabkan resorpsi interna.

Ilustrasi Pulpotomi Total pada Gigi Vital dengan Formokresol Pulpektomi Pulpektomi adalah pembuangan keseluruhan jaringan pulpa sampai level foramen apikal. Teknik pulpektomi disebut parsial atau total bergantung pada penetrasi instrumen saluran akar. Pulpektomi disebut total bila jaringan pulpa diambil seluruhnya sampai tercapainya panjang kerja, sebaliknya pulpektomi disebut parsial bila hanya sebagian jaringan pulpa saja yang diambil sehingga menyisakan sisa-sisa pulpa di akar. Indikasi Pulpektomi diindikasikan pada fraktur mahkota yang kompleks pada gigi matur bila kondisinya sudah tidak ideal untuk terapi pulpa vital. Pada gigi sulung, pilihan kasus pulpektomi adalah pada gigi yang pulpanya telah mengalami infeksi dan jaringan