kepiting bakau

Click here to load reader

Post on 29-May-2015

36.835 views

Category:

Business

11 download

Embed Size (px)

DESCRIPTION

SKRIPSI PENELITIAN GUA

TRANSCRIPT

  • 1. 1BAB IPENDAHULUAN1.1 Latar BelakangSalah satu sumberdaya hayati perairan bernilai ekonomis tinggi danpotensial untuk dibudidayakan adalah kepiting bakau (Scylla sp). Jenis kepiting inidisenangi masyarakat karena bernilai gizi tinggi yakni mengandung berbagainutrien penting (Catacutan 2002). Selama ini kebutuhan konsumen akan kepitingbakau sebagian besar masih dipenuhi dari hasil penangkapan di alam yang sifatnyafluktuatif. Berdasarkan pertimbangankontinyuitas produksi, makaperludikembangkan budidaya kepiting bakau secara terkontrol. Guna menunjang usahabudidaya kepiting yang efektif, efisien dan menguntungkan secara ekonomis makaperlu dilakukan pengkajian terhadap sifat-sifat biologis kepiting bakau. Hal tersebutdimaksudkan agar manipulasi terhadap lingkungan budidaya mem-berikanpertumbuhan yang maksimal.Seperti organisme perairan lainnya, pertumbuhan kepiting bakau hanyadapat terjadi apabila terdapat kelebihan energi setelah energi yang dikonsumsidikurangi dengan kebutuhan energi untuk berbagai aktivitas. Dengan demikian,partumbuhan kepiting akan semakin meningkat apabila energi bersihnya semakinmeningkat atau energi yang dimetabolisme tetap atau semakin menurun. Adanyaperubahan lingkungan akan berpengaruh terhadap besaran energi yang dikonsumsi,dapat lebih besar atau lebih kecil daripada energi yang dimetabolisme, sehingga halini mengakibatkan terjadinya peningkatan atau penurunan energi tubuh.

2. 2Metabolisme merupakan segala proses reaksi kimia yang terjadi di dalamtubuh organisme yang meliputi anabolisme dan katabolisme. Konsumsi oksigenmerupakan salah satu parameter fisiologis yang dapat digunakan untuk menaksirlaju metabolisme secara tidak langsung, yaitu dengan mengukur oksigen yangdigunakan dalam proses oksidasi. Dalam proses ini mendapat, mengubah danmemakai senyawa kimia dari sekitarnya untuk mempertahankan kelangsunganhidup (Wirahadikusumah, 1985). Konsumsi oksigen pada krustase dipengaruhi olehdua faktor yaitu faktor eksternal dan faktor internal. Faktor eksternal yangberpengaruh adalah salinitas, konsentrasi oksigen terlarut, suhu, cahaya, statusmakanan dan karbondioksida. Faktor internal adalah spesies, stadia, bobot,aktivitas, jenis kelamin, reproduksi, dan molting (Kumlu et al. 2001; Verslycke danJanssen 2002; Villareal at al. 2003). Salinitas merupakan masking factor bagi organisme akuatik yang dapatmemodifikasi peubah fisika dan kimia air menjadi satu kesatuan pengaruh yangberdampak terhadap organisme (Gilles dan Pequeux, 1983; Ferraris et al., 1986).Hal ini sangat berpengaruh terhadap proses metabolisme kepiting yang dapatberpengaruh pada tingkat pembelanjaan energi. Oleh sebab itu, pertumbuhankepiting yang maksimum hanya dapat dihasilkan apabila penggunaan energi untukmetabolisme dapat diminimalisir. Pengetahuan masyarakat tentang pengaruh salinitas terhadap prosesmetabolisme kepiting bakau (Scylla sp) di perairan akuatik yang berada padasubstrat baik keras maupun yang lunak, masih sangat terbatas yaitu berupapetunjuk-petunjuk teknis terkait peningkatan kepiting bakau (Scylla sp) dalam 3. 3 ekosistemnya, hal ini disebabkan karena masih kurangnya instansi atau lembagayang melakukan penelitian ini, khususnya di Kawasan Hutan Mangrove yangterdapat di Desa Moluo Kecamatan Kwandang Kabupaten Gorontalo Utara. Sehubungan dengan hal tersebut di atas guna mendapatkan gambarantentang laju metabolisme kepiting bakau (Scylla sp) yang ada pada berbagaisalinitas maka dilakukan penelitian dengan formulasi judul: Pengaruh Salinitas Terhadap Laju Metabolisme Kepiting Bakau(Scylla sp) Di Kawasan Perairan Akuatik Hutan Mangrove Desa MoluoKecamatan Kwandang Kabupaten Gorontalo Utara .1.2 Identifikasi Masalah Berdasarkan uaraian di atas maka penulis merumuskan masalah dalampenelitian ini yaitu: Bagaimanakah pengaruh salinitas terhadap laju metabolismedalam konsumsi oksigen kepiting bakau (Scylla sp) pada kondisi basal, makan, danrutin di perairan akuatik kawasan hutan bakau Desa Moluo Kecamatan KwandangKabupaten Gorontalo Utara.1.3 Tujuan Penelitian Adapun yang menjadi tujuan dalam penelitian ini yaitu: Untuk mengetahuipengaruh salinitas terhadap laju metabolisme dalam konsumsi oksigen kepitingbakau (Scylla sp) pada kondisi basal, makan, dan rutin di perairan akuatik kawasanhutan bakau Desa Moluo Kecamatan Kwandang Kabupaten Gorontalo Utara. 4. 4 1.2 Manfaat Penelitian Setelah penelitian ini dilakukan, maka dapat memberikan manfaat sebagaiberikut: 1. Sebagai salah satu bahan informasi bagi usaha pengembangan kepiting bakau terutama aspek budidayanya. 2. Dapat memberikan imformasi ilmiah bagi petani kepiting (Scylla sp) dan instansi terkait tentang pengaruh salinitas terhadap laju metabolisme dalam konsumsi oksigen kepiting bakau (Scylla sp) pada kondisi basal, makan, dan rutin di perairan akuatik kawasan hutan bakau Desa Moluo Kecamatan Kwandang Kabupaten Gorontalo Utara. 3. Sebagai bahan masukan untuk mata kuliah Biokimia tentang metabolisme yaitu konsumsi oksigen kepiting bakau (Scylla sp) pada kondisi basal, makan, dan rutin. 4. Sebagai bahan masukan untuk mata kuliah Fiswan tentang konsumsi oksigen kepiting bakau (Scylla sp) pada kondisi basal, makan, dan rutin. 5. Sebagai sumber informasi lanjutan bagi mahasiswa Jurusan Biologi untuk melakukan penelitian.BAB II KAJIAN PUSTAKA 5. 5 2.1 Deskripsi Tentang Mangrove Hutan mangrove adalah hutan yang tumbuh di muara sungai, daerah pasangsurut atau tepi laut. Tumbuhan mangrove bersifat unik karena merupakan gabungandari ciri-ciri tumbuhan yang hidup di darat dan di laut. Umumnya mangrovemempunyai sistem perakaran yang menonjol yang disebut akar nafas(pneumatofor). Sistem perakaran ini merupakan suatu cara adaptasi terhadapkeadaan tanah yang miskin oksigen atau bahkan anaerob. Hutan mangrove juga merupakan habitat bagi beberapa satwa liar yangdiantaranya terancam punah, seperti harimau sumatera (Panthera tigrissumatranensis), bekantan (Nasalis larvatus), wilwo (Mycteria cinerea), bubut hitam(Centropus nigrorufus), dan bangau tongtong (Leptoptilus javanicus, dan tempatpersinggahan bagi burung-burung migran.2.1.3 Jenis-Jenis Mangrove Banyak jenis mangrove yang sudah dikenal dunia, tercatat jumlah mangroveyang telah dikenali sebanyak sampai dengan 24 famili dan antara 54 sampai dengan75 spesies, tentunya tergantung kepada pakar mangrove yang mana pertanyaan kitatujukan (Tomlinson dan Field, 1986 dalam Irwanto, 2006). Irwanto (2006), menyatakan bahwa Asia merupakan daerah yang palingtinggi keanekaragaman dan jenis mangrovenya. Di Thailand terdapatsebanyak 27 jenis mangrove, di Ceylon ada 32 jenis, dan terdapat sebanyak41 jenis di Filipina. Di benua Amerika hanya memiliki sekitar 12 spesiesmangrove, sedangkan Indonesia disebutkan memiliki sebanyak tidak kurangdari 89 jenis pohon mangrove, atau paling tidak menurut FAO terdapatsebanyak 37 jenis. Dari sekian banyak jenis mangrove di Indonesia, jenis mangrove yangbanyak ditemukan antara lain adalah jenis api-api (Avicennia sp.), bakau 6. 6 (Rhizophora sp.), tancang (Bruguiera sp.), dan bogem atau pedada (Sonneratia sp.),merupakan tumbuhan mangrove utama yang banyak dijumpai. Jenis-jenismangrove tersebut adalah kelompok mangrove yang berfungsi menangkap,menahan endapan dan menstabilkan tanah habitatnya. Jenis api-api atau di duniadikenal sebagai black mangrove mungkin merupakan jenis terbaik dalam prosesmenstabilkan tanah habitatnya karena penyebaran benihnya mudah, toleransiterhadap temperartur tinggi, cepat menumbuhkan akar pernafasan (akar pasak) dansistem perakaran di bawahnya mampu menahan endapan dengan baik. Mangrovebesar, mangrove merah atau Red mangrove (Rhizophora spp.) merupakan jeniskedua terbaik. Jenis-jenis tersebut dapat mengurangi dampak kerusakan terhadaparus, gelombang besar dan angin (Irwanto, 2006). Gambar Fauna perairan yang hidup di ekosistem mangrove (Bengen,2002) Menurut Zeinyta Azra Haroen dalam penelitiannya menyimpulkan bahwaHutan Mangrove di Indonesia memiliki keanekaragaman yang terbesar di dunia.Komunitas Mangrove membentuk pencampuran antra dua kelompok : 7. 71. Kelompok fauna daratan /terestial (arboreal) yang umumnya menempati bagian atas pohon mangrove. 2. Kelompok fauna perairan /akuatik terdiri atas dua tipe yaitu: Yang hidup di kolom air terutama jenis-jenis ikan dan udang. Yang menempati substrat baik keras ( akar dan batang pohon mangrove ) maupun yang lunak yaitu kepiting dan kerang.2.2 Deskripsi Tentang Kepiting Manusia tak sadar, kepiting begitu berjasa bagi kehidupannya. Mungkinkarena penelitian mengenai kepiting masih sedikit dilakukan, informasi mengenaikeberadaannya seolah hilang. Di Indonesia, kepiting hanya dikenal sebagai bahanmakanan semata. Padahal apabila dicermati lebih jauh lagi, kepiting tak hanya enakdikonsumsi. Banyak manfaat lain yang bisa diambil. Kepiting bisa dinikmati secaravisual (sebagai kepiting hias), digunakan sebagai bioindikator logam berat danpenangkal racun. Bahkan kepiting bisa juga dipelihara sebagai hewan peliharaan yang lucu.Lebih jauh lagi, apabila dilihat dari sisi ekologi, jumlahnya yang dominan di daerahmangrove mampu mengatur keseimbangan ekosistem di daerah tersebut.2.2.1 Fungsi Ekologis Kepiting menjaga keseimbangan ekosistem dan memainkan peranan pentingdi daerah mangrove. Daun yang dimangsa kepiting dan dikeluarkan dalam bentukfaeces terbukti lebih cepat terurai dibandingkan dengan daun yang tidak dimangsa.Hal ini menyebabkan proses perputaran energi berjalan cepat di mangrove. Selainitu, keberadaan lubang-lubang kepiting, secara tidak langsung mampu mengurangi 8. 8 kadar racun tanah mangrove yang terkenal anoksik. Lubang-lubang ini membantuterjadinya proses pertukaran udara di tanah mangrove.2.2.2 Keanekaragaman Jenis Kepiting Bakau Scylla sp. Kepiting bakau (Scylla sp) merupakan-satu-satunya spesies dari familiPortunidea yang memiliki assosiasi yang dekat dengan lingkungan mangrove/hutanbakau, sehingga dikenal dengan nama kepiting bakau atau mud crab. Telahdilakukan penelitian tenta

View more