analisa variasi karakter morfometrik dan … · analisa variasi karakter morfometrik dan meristik...

Click here to load reader

Post on 25-Mar-2019

232 views

Category:

Documents

0 download

Embed Size (px)

TRANSCRIPT

ANALISA VARIASI KARAKTER MORFOMETRIK

DAN MERISTIK KEPITING BAKAU (Scylla spp.)

DI PERAIRAN INDONESIA

PUPUT FITRI RACHMAWATI

SKRIPSI

DEPARTEMEN MANAJEMEN SUMBERDAYA PERAIRAN

FAKULTAS PERIKANAN DAN ILMU KELAUTAN

INSTITUT PERTANIAN BOGOR

BOGOR

2009

PERNYATAAN MENGENAI SKRIPSI

DAN SUMBER INFORMASI

Dengan ini saya menyatakan bahwa skripsi yang berjudul:

Analisa Variasi Karakter Morfometrik dan Meristik Kepiting Bakau (Scylla

spp.) di Perairan Indonesia

adalah benar merupakan hasil karya saya sendiri dan belum diajukan dalam bentuk

apa pun kepada perguruan tinggi mana pun. Semua sumber data dan informasi yang

berasal atau dikutip dari karya yang diterbitkan maupun tidak diterbitkan dari

penulis lain telah disebutkan dalam teks dan dicantumkan dalam Daftar Pustaka di

bagian akhir skripsi ini.

Bogor, September 2009

Puput Fitri Rachmawati

C24053089

RINGKASAN

Puput Fitri Rachmawati. C24053089. Analisa Variasi Karakter Morfometrik

dan Meristik Kepiting Bakau (Scylla spp.) di Perairan Indonesia. Dibawah

bimbingan Yusli Wardiatno dan M. Mukhlis Kamal.

Indonesia memiliki sebuah garis hipotesis yang memisahkan wilayah geografi

hewan Asia dan Australasia yang ditemukan oleh Alfred Russel Wallace yang

bernama garis Wallace. Garis Wallace ditarik melalui kepulauan Melayu (di antara

Kalimantan dan Sulawesi) serta di antara Bali dan Lombok. Keanekaragaman jenis

hewan di bagian barat dari garis Wallace berhubungan dengan spesies Asia

sedangkan di bagian timur berhubungan dengan spesies Australia. Oleh karena itu

terdapat perbedaan karakteristik jenis hewan yang berada di wilayah barat dan timur

Indonesia. Perbedaan karakteristik tersebut lebih terfokus pada fauna terestrial

sedangkan perbedaan karakteristik pada fauna air belum banyak diketahui, salah

satunya adalah kepiting bakau.

Kepiting bakau (Scylla spp.) merupakan hewan yang berasosiasi kuat dengan

hutan mangrove dan memiliki daerah penyebaran yang meluas di seluruh Indonesia.

Hutan bakau (mangrove) merupakan ekosistem perairan pesisir yang khas dengan

variasi biofisik yang besar. Hal ini menyebabkan biota di daerah tersebut

beradaptasi dengan cara memiliki toleransi yang luas terhadap variasi biofisik

terutama suhu dan salinitas.

Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui perbedaan karakteristik

morfometrik dan meristik kepiting bakau (Scylla spp.) yang ada di perairan

Indonesia berdasarkan perbedaan lokasi penelitian. Hasil penelitian diharapkan

dapat memberikan informasi dasar mengenai jenis dan penyebaran kepiting bakau di

perairan Indonesia, informasi mengenai variasi karakter morfometrik dan meristik

berdasarkan spesies kepiting bakau, serta sebagai bahan acuan dalam pengelolaan

kepiting bakau di perairan Indonesia.

Penelitian dilaksanakan selama 11 bulan yaitu mulai dari bulan Juli 2008

hingga bulan Mei 2009. Kepiting bakau yang diteliti merupakan hasil tangkapan

nelayan di 14 lokasi pengambilan sampel, mencakup Pidie (Nangroe Aceh

Darussalam), Tanjung Jabung Timur (Jambi), Bintan (Kep. Riau), Cilamaya

(Karawang), Blanakan (Subang), Gebang dan Ambulu (Cirebon), Mataram (Nusa

Tenggara Barat), Pontianak dan Samarinda (Kalimantan), Maros dan Teluk Bone

(Sulawesi), Jayapura dan Teluk Bintuni (Irian Jaya).

Data yang diukur ialah data karakter morfometrik dan meristik kepiting bakau,

yang meliputi panjang karapas (P), lebar karapas (L), tinggi tubuh (T), panjang duri

orbital pada frontal margin (P.orb), panjang cheliped sebelah kiri dan kanan (PCL

dan PCR), panjang profundus sebelah kiri dan kanan (PPL dan PPR), tinggi cheliped

sebelah kiri dan kanan (TCL dan TCR), berat tubuh (B), jumlah duri frontal margin

(SO), serta jumlah duri anterolateral sebelah kiri dan kanan (SCL dan SCR).

Pengukuran karakter morfometrik dan meristik dilakukan secara in situ dan di

laboratorium yang bertempat di Laboratorium Biologi Makro I (BIMA I),

Departemen Manajemen Sumberdaya Perairan, Fakultas Perikanan dan Ilmu

Kelautan, Institut Pertanian Bogor. Analisis data meliputi distribusi frekuensi

panjang dan lebar karapas, hubungan lebar karapas-berat, analisis komponen utama

(principal component analysis), dan analisis biplot. Analisis data dibantu dengan

menggunakan software SPSS 15.0 for Windows Evaluation, MINITAB 14.0 dan

SAS 9.1.

Kepiting bakau yang diteliti berasal dari genus Scylla berjumlah 625 ekor,

keseluruhan kepiting ini berasal dari 14 daerah penelitian yang telah ditentukan.

Persentase spesies yang paling banyak dikumpulkan selama penelitian ialah Scylla

serrata, yaitu 36,64% dari jumlah total sampel, sedangkan persentase spesies yang

paling sedikit dikumpulkan ialah Scylla tranquebarica, yaitu sebanyak 28,32% dari

jumlah total sampel. Selanjutnya, persentase sampel Scylla oceanica yang diperoleh

selama penelitian adalah 35,04% dari jumlah total sampel.

Berdasarkan hasil penelitian, diperoleh identifikasi karakter morfologis untuk

membedakan ketiga jenis kepiting bakau, yaitu Scylla serrata, Scylla tranquebarica,

dan Scylla oceanica berdasarkan warna karapas, bentuk alur H, bentuk duri frontal

margin, duri pada cheliped carpus (inner carpal), serta corak pada pleopod masing-

masing spesies. Selanjutnya diketahui bahwa sebagian besar kepiting bakau di

seluruh lokasi penelitian lebih banyak dipengaruhi oleh pola pertumbuhan isometrik

sedangkan sebagian kecilnya dipengaruhi oleh pola pertumbuhan allometrik negatif.

Kemudian masing-masing spesies kepiting bakau memiliki puncak pemijahan dan

rekruitmen yang berbeda-beda berdasarkan distribusi frekuensi panjang dan lebar

karapas, tetapi seluruhnya berlangsung sepanjang tahun.

Berdasarkan analisis komponen utama, diketahui bahwa masing-masing

spesies (Scylla serrata, Scylla tranquebarica, dan Scylla oceanica) memiliki

perbedaan karakter morfometrik dan meristik di setiap lokasi penelitian. Hal ini

dikarenakan terdapat pengelompokkan masing-masing spesies di beberapa lokasi

penelitian. Karakter morfometrik dan meristik pada ketiga spesies saling berkorelasi

positif dan memiliki nilai keragaman yang bervariasi. Setiap spesies kepiting bakau

memiliki ukuran yang bervariasi.

Kesimpulan yang diperoleh ialah terdapat perbedaan karakter morfometrik dan

meristik ketiga spesies kepiting bakau di setiap lokasi penelitian. Hal ini

dikarenakan terdapat pengelompokkan masing-masing spesies di beberapa lokasi

penelitian berdasarkan analisis komponen utama. Selain itu, ketiga spesies tersebut

menyebar luas di perairan Indonesia, meliputi perairan di Pulau Sumatera, Jawa,

Kalimantan, Sulawesi, dan Papua dan penyebaran tersebut tidak dipengaruhi oleh

adanya garis Wallace.

ANALISA VARIASI KARAKTER MORFOMETRIK

DAN MERISTIK KEPITING BAKAU (Scylla spp.)

DI PERAIRAN INDONESIA

PUPUT FITRI RACHMAWATI

C24053089

Skripsi

sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar

Sarjana Perikanan pada Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan

DEPARTEMEN MANAJEMEN SUMBERDAYA PERAIRAN

FAKULTAS PERIKANAN DAN ILMU KELAUTAN

INSTITUT PERTANIAN BOGOR

BOGOR

2009

PENGESAHAN SKRIPSI

Judul Skripsi : Analisa Variasi Karakter Morfometrik dan Meristik

Kepiting Bakau (Scylla spp.) di Perairan Indonesia

Nama : Puput Fitri Rachmawati

N I M : C24053089

Program Studi : Manajemen Sumberdaya Perairan

Menyetujui:

Pembimbing I, Pembimbing II,

Dr. Ir. Yusli Wardiatno, M. Sc Dr. Ir. M. Mukhlis Kamal, M. Sc

NIP. 19660728 199103 1 002 NIP. 19680914 199402 1 001

Mengetahui:

Ketua Departemen Manajemen Sumberdaya Perairan,

Dr. Ir. Yusli Wardiatno, M.Sc

NIP 19660728 199103 1 002

Tanggal Ujian: 15 September 2009

vii

PRAKATA

Puji dan syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT atas segala rahmat

dan karunia-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan Skripsi yang berjudul

Analisa Variasi Karakter Morfometrik dan Meristik Kepiting Bakau di

Perairan Indonesia. Skripsi ini disusun berdasarkan hasil penelitian pada bulan

Juni 2008 hingga Mei 2009 dan merupakan salah satu syarat untuk memperoleh

gelar sarjana perikanan pada Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Institut

Pertanian Bogor.

Penulis menyadari adanya ketidaksempurnaan dalam skripsi ini dikarenakan

keterbatasan pengetahuan penulis. Semoga hasil penelitian ini dapat memberikan

sumbangsih bagi ilmu pengetahuan serta bermanfaat untuk berbagai pihak.

Bogor, September 2009

Penulis

viii

UCAPAN TERIMAKASIH

Pada kesempatan ini penulis mengucapkan terima kasih yang sebesar-

besarnya kepada:

1. Dr. Ir. Yusli Wardiatno, M. Sc. selaku pembimbing I atas kesabaran,

bimbingan, masukan, dan wawasan yang berarti bagi penulis, serta atas izin

beliau, penulis dapat bergabung dengan proyek penelitian ini.

2. Dr. Ir. M. Mukhlis Kamal, M. Sc. selaku pembimbing II sekaligus pembimbing

akademik atas kesabaran, masukan, arahan, dan wawasan kepada penulis

hingga penulisan skripsi ini selesai, serta atas izin beliau, penulis dapat

bergabung dengan proyek penelitian ini.

3. Dr. Ir. Isdradjad Setyobudiandi, M. Sc. selaku dosen penguji tamu dan Dr. Ir.

Yunizar Ernawati, M.S. selaku dosen penguji Departemen yang telah

memberikan saran dan masukan yang sangat berarti bagi penulis.

4. Ayah dan Ibu tercinta, Bapak Suwandi Sardiyanto dan Ibu Wasiah, atas semua

doa, dukungan, dan kasih sayang yang tidak pernah terputus kepada penulis,

serta adik-adikku, Diwa dan Helmi atas keceriaan, dukungan, dan kasih sayang.

6. Bapak Ruslan selaku staf Laboratorium Bio Makro I (BIMA I), Supriyadi, S.

Pi., serta staf Tata Usaha MSP yang telah banyak membantu penulis selama

penelitian.

7. Naila Faiqotul Muna, teman seperjuanganku selama penelitian yang telah

banyak membantu. Teman-teman MSP 41, MSP 43, dan MSP 42 (Pungky,

Endah, Ebith, Avie, Silfi, Lenggo, Erys, Eka, Guse, Awan, Moro, Didi, Mecin,

Puni, Shiro, Pipit, Irma, Lenny, Wati, Trio Kutai, dan semua yang tidak bisa

disebutkan satu persatu) atas bantuan dan kebersamaan yang tak terlupakan.

8. Keluarga besar Darmaga Regency B19 & B24 (Ka Hage, Ayu, Laras, Eno,

Zeni, Tyas) atas keceriaan dan canda tawa, serta Reri, Icha, dan Ayu yang telah

banyak memberikan semangat dan nasehat selama penulisan skripsi ini.

ix

RIWAYAT HIDUP

Penulis dilahirkan di Karawang, pada tanggal 12 Mei 1987 dari

pasangan Bapak Suwandi Sardiyanto dan Ibu Wasiah. Penulis

merupakan putri pertama dari tiga bersaudara. Pendidikan formal

ditempuh di SDN Adiarsa 3 Karawang (1999), SLTPN 2

Karawang (2002) dan SMAN 1 Karawang (2005).

Pada tahun 2005, Penulis lulus seleksi masuk Institut Pertanian

Bogor melalui jalur USMI dan diterima di Departemen Manajemen Sumberdaya

Perairan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan.

Selama mengikuti perkuliahan penulis berkesempatan menjadi Asisten luar

biasa mata kuliah Avertebrata Air (2007/2008 dan 2008/2009), Biologi Perikanan

(2007/2008 dan 2008/2009), dan Sumberdaya Perikanan (2008/2009). Selain itu,

penulis juga aktif di berbagai organisasi, diantaranya sebagai Sekretaris II

(2007/2008) dan Sekretaris I (2008/2009) Himpunan Mahasiswa Manajemen

Sumberdaya Perairan (HIMASPER), serta anggota Organisasi Mahasiswa Daerah

Karawang (PANATAYUDA) pada tahun 2006-2007. Penulis pernah mengikuti

Program Kreativitas Mahasiswa di bidang Penelitian dan berhasil didanai DIKTI

pada tahun 2006 yang berjudul Penggunaan lendir ikan lele (Clarias batrachus)

sebagai obat alternatif Hipertensi

Sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar sarjana pada Fakultas

Perikanan dan Ilmu Kelautan, Institut Pertanian Bogor, penulis menyusun skripsi

yang berjudul Analisa Variasi Karakter Morfometrik dan Mersitik Kepiting

Bakau (Scylla spp.) di Perairan Indonesia.

x

DAFTAR ISI

Halaman

DAFTAR TABEL .................................................................................... xii

DAFTAR GAMBAR ................................................................................ xiii

DAFTAR LAMPIRAN ........................................................................... xv

1. PENDAHULUAN ............................................................................... 1 1.1. Latar Belakang ............................................................................. 1

1.2. Rumusan Masalah ........................................................................ 2

1.3. Tujuan Penelitian .......................................................................... 3

1.4. Manfaat Penelitian ........................................................................ 3

2. TINJAUAN PUSTAKA ..................................................................... 4

2.1. Kepiting Bakau Genus Scylla ....................................................... 4

2.1.1. Klasifikasi dan identifikasi kepiting bakau ......................... 4

2.1.2. Morfologi kepiting bakau ................................................... 6

2.1.3. Distribusi dan habitat kepiting bakau ................................. 10

2.1.4. Daur hidup kepiting bakau ................................................. 13

2.1.5. Karakteristik lingkungan dan substrat terhadap

kepiting bakau .................................................................... 14

2.2. Hutan Mangrove ........................................................................... 15

2.2.1. Pengertian hutan mangrove ................................................ 15

2.2.2. Komposisi, fungsi, dan manfaat hutan mangrove ............... 16

2.2.3. Sebaran hutan mangrove di Indonesia ................................ 18

2.2.4. Ketergantungan kepiting bakau pada ekosistem

mangrove ........................................................................... 21

2.3. Garis Wallace ............................................................................... 21

2.4. Karakter Morfometrik dan Meristik serta Hubungan

Kekerabatan ................................................................................. 22

3. METODOLOGI ................................................................................. 24

3.1. Waktu dan Lokasi Penelitian ........................................................ 24

3.2. Metode Kerja ................................................................................ 24

3.3. Identifikasi Morfologi Kepiting Bakau ......................................... 29

3.4. Analisis Data ................................................................................ 30

3.4.1. Distribusi frekuensi panjang dan lebar karapas .................. 30

3.4.2. Hubungan lebar karapas-berat ........................................... 30

3.4.3. Analisis komponen utama (principal component analysis) . 31

3.4.4. Analisis biplot.................................................................... 32

4. HASIL DAN PEMBAHASAN ........................................................... 33

4.1. Komposisi Jumlah Kepiting Bakau Selama Penelitian .................. 33

4.2. Distribusi Frekuensi Panjang Karapas Setiap Spesies Kepiting

Bakau ........................................................................................... 35

4.3. Identifikasi Karakter Morfologi Sederhana ................................... 41

xi

4.3.1. Scylla serrata ...................................................................... 43

4.3.2. Scylla tranquebarica ........................................................... 44

4.3.3. Scylla oceanica ................................................................... 46

4.4. Pola Pertumbuhan Kepiting Bakau ............................................... 47

4.5. Analisis Komponen Utama (AKU) dan Hubungan Kekerabatan

Genus Scylla ................................................................................. 52

4.5.1. Scylla serrata ...................................................................... 52

4.5.2. Scylla tranquebarica ........................................................... 56

4.5.3. Scylla oceanica ................................................................... 58

4.6. Analisis Biplot Karakter Meristik dan Morfometrik Kepiting

Bakau ........................................................................................... 61

4.7. Pengelolaan Kepiting Bakau .......................................................... 64

5. KESIMPULAN DAN SARAN ............................................................ 66

5.1. Kesimpulan ................................................................................... 66

5.2. Saran ............................................................................................. 66

DAFTAR PUSTAKA ............................................................................... 67

LAMPIRAN ............................................................................................. 70

xii

DAFTAR TABEL

Halaman

1. Karakteristik jenis kepiting bakau (Scylla spp.) menurut Estampador ..... 10

2. Daerah penyebaran spesies Scylla di dunia ............................................. 11

3. Luas hutan mangrove di Indonesia ......................................................... 19

4. Karakter morfometrik kepiting bakau yang diukur ................................. 26

5. Karakter meristik yang kepiting bakau diukur ........................................ 26

6. Jumlah kepiting bakau yang dikumpulkan selama penelitian .................. 34

7. Hasil regresi hubungan lebar karapas-berat Scylla serrata ...................... 48

8. Hasil regresi hubungan lebar karapas-berat Scylla tranquebarica ........... 49

9. Hasil regresi hubungan lebar karapas-berat Scylla oceanica ................... 51

xiii

DAFTAR GAMBAR

Halaman

1. Perbandingan bentuk karapas (tampak dorsal dan ventral) serta cheliped carpus pada ketiga spesies Scylla (jantan) (Fushimi &

Watanabe 2001) .................................................................................. 5

2. Bagian-bagian tubuh kepiting tampak dorsal (FAO 1998) ................... 8

3. Bagian-bagian tubuh kepiting tampak ventral (FAO 1998) .................. 9

4. Daerah penyebaran kepiting bakau menurut Keenan (FAO 1998)........ 12

5. Siklus hidup kepiting bakau (Scylla spp.) (Smith et al. 2004 in

Butar-Butar 2006) ............................................................................... 14

6. Peta penyebaran mangrove di Indonesia (warna hijau kehitaman) (Reef at risk 1999 in Fisheries Businnes Center 2009) ........................ 20

7. Garis Wallace (Southchinasea 2009) ................................................... 22

8. Lokasi pengambilan sampel kepiting bakau di Perairan Indonesia (peta dimodifikasi dari www.hino.co.id/peta-indonesia-simplfy.gif).... 25

9. Karakter morfometrik dan meristik tampak dorsal .............................. 27

10. Karakter morfometrik pada chela ........................................................ 27

11. Abdomen kepiting jantan (kiri) dan abdomen kepiting betina (kanan) 27

12. Identifikasi kepiting bakau menurut Estampador (dimodifikasi) (FAO 1998)......................................................................................... 30

13. Distribusi frekuensi panjang karapas Scylla serrata berdasarkan lokasi pengambilan sampel.................................................................. 36

14. Distribusi frekuensi panjang karapas Scylla tranquebarica berdasarkan lokasi pengambilan sampel .................................................................. 36

15. Distribusi frekuensi panjang karapas Scylla oceanica berdasarkan

lokasi pengambilan sampel.................................................................. 37

16. Scylla serrata (jantan) ......................................................................... 44

17. Scylla tranquebarica (jantan) .............................................................. 45

18. Scylla oceanica (jantan) ...................................................................... 46

19. Grafik sebaran nilai b Scylla serrata.................................................... 49

20. Grafik sebaran nilai b Scylla tranquebarica ......................................... 50

21. Grafik sebaran nilai b Scylla oceanica ................................................. 51

22. Grafik score plot Scylla serrata ........................................................... 54

23. Peta distribusi Scylla serrata di dunia.................................................. 55

xiv

24. Grafik score plot Scylla tranquebarica ................................................ 57

25. Peta distribusi Scylla tranquebarica di dunia ....................................... 58

26. Grafik score plot Scylla oceanica ....................................................... 59

27. Peta distribusi Scylla oceanica di dunia ............................................... 60

28. Grafik biplot Scylla serrata ................................................................. 61

29. Grafik biplot Scylla tranquebarica ...................................................... 62

30. Grafik biplot Scylla oceanica .............................................................. 63

xv

DAFTAR LAMPIRAN

Halaman

1. Contoh sampel kepiting bakau yang telah dinomori.............................. 71

2. Alat yang digunakan selama penelitian................................................. 71

3. Proses pengukuran kepiting bakau saat di lapangan.............................. 72

4. Data sheet parameter karakter morfometrik dan meristik kepiting bakau ................................................................................................... 73

5. Data mentah karakter morfometrik dan meristik selama penelitian ....... 94

6. Distribusi frekuensi panjang karapas tiap spesies kepiting bakau.......... 96

1. PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

Indonesia adalah sebuah negara kepulauan yang beriklim tropik. Iklim tropik

tersebut menyebabkan Indonesia memiliki keanekaragaman flora dan fauna yang

tinggi. Tingginya keanekaragaman hayati tersebut bukan hanya disebabkan oleh

letak geografis yang sangat strategis, melainkan juga dipengaruhi oleh faktor variasi

iklim musiman, arus atau massa air laut yang dipengaruhi oleh massa air dari dua

samudera, serta keragaman tipe habitat dan ekosistem yang terdapat di dalamnya,

salah satunya adalah ekosistem mangrove (Dahuri 2003). Selain itu, Indonesia

memiliki sebuah garis hipotesis yang memisahkan wilayah geografi hewan Asia dan

Australasia yang ditemukan oleh Alfred Russel Wallace yang bernama garis

Wallace. Garis Wallace ditarik melalui kepulauan Melayu (di antara Kalimantan

dan Sulawesi) serta di antara Bali dan Lombok. Keanekaragaman jenis hewan di

bagian barat dari garis Wallace berhubungan dengan spesies Asia sedangkan di

bagian timur berhubungan dengan spesies Australia (Wikipedia 2008). Oleh karena

itu terdapat perbedaan karakteristik jenis hewan yang berada di wilayah barat dan

timur Indonesia. Perbedaan karakteristik tersebut lebih terfokus pada fauna terestrial

sedangkan perbedaan karakteristik pada fauna air belum banyak diketahui, termasuk

kepiting bakau.

Kepiting bakau (Scylla spp.) merupakan hewan yang berasosiasi kuat dengan

hutan mangrove dan memiliki daerah penyebaran yang meluas di seluruh Indonesia.

Hutan bakau (mangrove) merupakan ekosistem perairan pesisir yang khas dengan

variasi biofisik yang besar. Hal ini menyebabkan biota di daerah tersebut

beradaptasi dengan cara memiliki toleransi yang luas terhadap faktor abiotik

terutama suhu dan salinitas.

Kepiting bakau merupakan hewan pemakan segala dan pemakan bangkai

(omnivorous-scavenger), sehingga merupakan salah satu komoditas sumberdaya

perikanan yang sangat potensial dikembangkan di Indonesia karena

pembudidayaannya tidak sulit. Selain itu, Indonesia memiliki sekitar 3,5 juta Ha

hutan mangrove (pada tahun 1996) yang merupakan habitat dari kepiting bakau

(Dahuri 2003). Kepiting bakau biasanya ditangkap dengan menggunakan perangkap

2

bambu (wadong) dan jaring angkat (lift net atau disebut juga pintur) (Sulistiono et

al. 1994). Kepiting bakau tidak hanya diminati oleh konsumen dalam negeri tetapi

juga diminati konsumen luar negeri. Menurut Kasry (1996) kepiting bakau banyak

dikonsumsi masyarakat terutama kepiting yang sedang bertelur karena rasa

dagingnya yang enak. Kepiting bakau juga mengandung protein yang sangat tinggi

dan memiliki nilai ekonomis yang cukup tinggi (Kordi 1997).

Studi mengenai kepiting bakau hingga saat ini sudah meliputi aspek

reproduksi, makanan dan kebiasaan makan, serta aspek lainnya yang berkaitan

dengan hutan mangrove yang merupakan habitat kepiting bakau. Penelitian

mengenai sumberdaya hayati kepiting bakau masih minim, terutama studi mengenai

aspek morfometrik-meristik kepiting bakau sebagai dasar identifikasi spesies.

Penelitian yang telah dilakukan baik di Indonesia maupun luar negeri, diantaranya

adalah bioekologi kepiting bakau (Scylla spp.) di ekosistem mangrove Kabupaten

Subang, Jawa Barat (Siahainenia 2008); kualitas habitat kepiting bakau Scylla

serrata, S. oceanica, S. tranquebarica di hutan mangrove RPH Cibuaya, Karawang

(Sirait 1997); permasalahan identifikasi spesies kepiting bakau genus Scylla

(Brachyura: Portunidae) (Fushimi & Watanabe 2001); pengelolaan dan ekologi

kepiting bakau Scylla spp. (Le Vay 2001); penangkapan kepiting bakau berbasis

akuakultur (Shelley 2008); dan analisa multifaktor kepiting bakau Scylla serrata

(Brachyura: Portunidae) yang berasal dari empat lokasi di Asia Tenggara (Overton

et al. 1997).

Minimnya informasi mengenai sumberdaya hayati kepiting bakau dapat

menjadi faktor penghambat dalam usaha pemanfaatan dan pengelolaannya. Oleh

karena itu, diperlukan penelitian mengenai sumberdaya kepiting bakau terutama

mengenai aspek yang terkait dengan informasi dasar biologi perikanan seperti

karakteristik morfometrik-meristik yang selanjutnya dapat digunakan sebagai dasar

identifikasi spesies.

1.2. Rumusan Masalah

Indonesia memiliki sebuah garis hipotesis, yang bernama garis Wallace, yang

membentang di antara Kalimantan dan Sulawesi serta di antara Bali dan Lombok.

Garis Wallace memisahkan distribusi flora dan fauna terestrial di Indonesia, dimana

3

pada bagian barat garis Wallace berhubungan dengan spesies di Asia, sedangkan

pada bagian timur garis Wallace berhubungan dengan spesies Australia (Wikipedia

2008). Hingga saat ini, belum diketahui apakah hal tersebut berpengaruh pada fauna

air, salah satunya adalah kepiting bakau. Kepiting bakau merupakan salah satu

hewan yang berasosiasi dengan hutan bakau (mangrove) dan memiliki distribusi

yang luas di perairan Indonesia.

Namun, berdasarkan data hasil tangkapan yang berasal dari Dinas Perikanan

dan Kelautan (DKP 2006), hasil tangkapan kepiting bakau di daerah Jawa bagian

utara selama kurun waktu 3 tahun (2003 sampai 2005) menurun dari 41 ton/tahun

menjadi 24 ton/tahun. Selain peningkatan eksploitasi kepiting bakau, eksploitasi

habitat dan perubahan lingkungan menjadi faktor-faktor penyebab menurunnya

populasi kepiting bakau. Jika hal ini terus berlanjut, dikhawatirkan akan terjadi

perubahan variasi morfometrik sehingga akan berdampak pada penurunan

keanekaragaman kepiting bakau di perairan Indonesia.

Berdasarkan kenyataan ini, diperlukan suatu kajian mengenai keanekaragaman

populasi kepiting bakau. Kajian tersebut diteliti melalui analisa variasi morfometrik

dan meristik. Analisa karakter morfometrik-meristik kepiting bakau dapat

digunakan sebagai acuan dasar bagi pengelolaan sumberdaya hayati kepiting di

Indonesia sehingga diperoleh pemanfaatan kepiting bakau yang optimal dengan

tetap memperhatikan kelestariannya.

1.3. Tujuan Penelitian

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan karakteristik

morfometrik dan meristik kepiting bakau (Scylla spp.) yang ada di perairan

Indonesia berdasarkan perbedaan lokasi penelitian.

1.4. Manfaat Penelitian

Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan informasi dasar mengenai

jenis dan penyebaran kepiting bakau di perairan Indonesia, informasi mengenai

variasi karakter morfometrik dan meristik berdasarkan spesies kepiting bakau, serta

sebagai bahan acuan dalam pengelolaan kepiting bakau di perairan Indonesia.

2. TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Kepiting Bakau Genus Scylla

2.1.1. Klasifikasi dan identifikasi kepiting bakau

Kepiting bakau tergolong dalam famili Portunidae yang terdiri atas 6

subfamili, yaitu: Carcininae, Polybiinae, Caphrynae, Catoptrinae, Podopthalminae,

dan Portuninae. Moosa et al. (1985) memperkirakan bahwa terdapat sekitar 234

jenis kepiting yang tergolong ke dalam subfamili Portuninae di wilayah Indopasifik

Barat dan 124 jenis di wilayah Indonesia. Portunidae tergolong ke dalam kelompok

kepiting perenang (swimming crab) karena memiliki pasangan kaki terakhir yang

memipih dan digunakan untuk berenang. Famili Portunidae mencakup rajungan

(Portunus, Charybdis, dan Thalamita) dan kepiting bakau (Scylla spp). Kepiting

bakau memiliki nama lokal yang beragam, yaitu kepiting (Jawa), katang nene

(Maluku Tengah), dan ketam batu (Sumatera). Di mancanegara, kepiting bakau pun

memiliki nama yang beragam yaitu kepiting batu (Malaysia) (Oong 1966 in

Siahainenia 2008), kepiting lumpur atau mud crab (Australia), kepiting samoa

(Hawaii), alimango (Philipina), tsai jim (Taiwan), serta nokoro gozami (Jepang)

(Cowan 1984 in Siahainenia 2008).

Aiyun & Siliang (1991) dan Sukarya (1991) in Sulistiono et al. (1994),

mengklasifikasikan kepiting bakau sebagai berikut:

Filum : Arthropoda

Kelas : Crustacea

Ordo : Decapoda

Sub ordo : Pleocyemata

Infra ordo : Brachyura

Famili : Portunidae

Sub famili : Portuninae

Genus : Scylla (de Haan)

Spesies : Scylla serrata (Forskal)

Scylla tranquebarica (Dana)

Scylla oceanica (Fabricious)

Hingga saat ini, pengidentifikasian spesies kepiting bakau masih kontroversi.

Beberapa tahun yang lalu, hanya terdapat satu spesies yang dikenal sebagai genus

Scylla (Fuseya 1998 in Fushimi & Watanabe 2001). Akan tetapi, saat ini para

5

peneliti telah melaporkan bahwa genus Scylla memiliki beberapa spesies

(Estampador 1949 in Fushimi & Watanabe 2001). Estampador (1949) in Fushimi &

Watanabe (2001), mengklasifikasikan kepiting bakau menjadi tiga spesies dan satu

varietas, yaitu Scylla serrata, Scylla tranquebarica, Scylla oceanica, dan Scylla

serrata var. paramamosain. Karaketristik morfologi yang telah ditemukan dari

ketiga spesies tersebut sesuai dengan deskripsi yang dijabarkan oleh Estampador

pada tahun 1949. Karakteristik morfologi dari rostrum dan gigi anterolateral serta

cheliped pada kepiting bakau dapat dilihat sebagai berikut: Scylla serrata: duri

frontal margin tumpul berukuran sama dan duri anterolateral berjumlah 9 dengan

gigi yang bergerigi tajam dan berukuran sama; Scylla tranquebarica: duri frontal

margin tajam dengan duri berukuran sama dan duri anterolateral berjumlah 9 dengan

gigi yang bergerigi tajam dan berduri; Scylla oceanica: duri frontal margin tajam

berukuran sama dan duri anterolateral berjumlah 9 dengan gigi yang bergerigi tajam.

Selain itu terdapat pembeda lainnya, yaitu jumlah duri pada cheliped carpus dan

corak pada pleopod pertama yang terdapat pada ketiga spesies kepiting bakau.

Perbedaan dari ketiga spesies kepiting bakau di atas dapat dilihat pada Gambar 1.

Gambar 1. Perbandingan bentuk karapas (tampak dorsal dan ventral) serta cheliped

carpus pada ketiga spesies Scylla (jantan) (Fushimi & Watanabe 2001).

6

Fuseya & Watanabe (1996) in Fushimi & Watanabe (2001) juga

mengklasifikasikan kepiting bakau menjadi 3 spesies, yaitu Scylla serrata, Scylla

tranquebarica, dan Scylla oceanica berdasarkan klasifikasi Estampador. Perbedaan

nyata tersebut ditemukan pada 3 dari 17 loci sampel dan jarak genetik relatifnya pun

telah dihitung antara ketiga spesies kepiting bakau dari genus Scylla. Ketiga spesies

kepiting bakau yang diklasifikasikan oleh Estampador berdasarkan ciri morfologis

memiliki kesamaan dengan hasil percobaan di atas. Akan tetapi, analisis genetik

memperlihatkan bahwa Scylla serrata dan Scylla tranquebarica berkorelasi lebih

dekat dibandingkan dengan Scylla oceanica. Informasi tersebut diperoleh dari

investigasi mutakhir yang menyatakan bahwa ketiga spesies kepiting bakau benar-

benar berbeda dan dapat dibedakan. Selanjutnya Klinbunga et al. (2001) in

Watanabe et al. (2002) melakukan studi dengan menggunakan sampel dari Thailand

dan menyatakan bahwa telah ditemukan tiga spesies kepiting bakau dengan

menggunakan analisa RAPD dari DNA genom, ketiga spesies kepiting bakau (S.

serrata, S. tranquebarica, S. oceanica) tersebut sesuai dengan kriteria yang telah

dijabarkan oleh Estampador. Berdasarkan perbedaan tersebut, penulis menggunakan

identifikasi kepiting genus Scylla berdasarkan deskripsi morfologi dari Estampador

yaitu Scylla serrata, Scylla tranquebarica, dan Scylla oceanica karena telah diuji

oleh berbagai ahli di bidangnya.

2.1.2. Morfologi kepiting bakau

Menurut Moosa (1981) in Siahainenia (2008) untuk mengenal dan

memberikan diagnosa dari tiga jenis krustasea, terlebih dahulu diperlukan

pengetahuan tentang istilah bagian-bagian tubuh yang biasanya digunakan dalam

taksonomi kepiting bakau. Dijelaskan pula bahwa bagian-bagian tubuh penting

yang digunakan dalam pengenalan jenis famili Portunidae adalah sebagai berikut

dan dapat dilihat pada Gambar 2 dan Gambar 3:

a. Karapas (carapace), yaitu selubung kepala-dada serta bagian-bagian yang ada di

atasnya.

b. Jumlah, bentuk dan sifat duri pada bagian dahi karapaks (rostrum).

c. Jumlah, bentuk dan sifat duri pada tepi antero-lateral karapaks.

d. Bentuk sudut postero-lateral tubuh.

7

e. Bagian-bagian yang terdapat pada ruas-ruas kaki jalan (periopod), terutama dari

pasangan kaki pertama yang berbentuk capit (cheliped) dan pasangan kaki

terakhir yang berbentuk dayung (pleopod).

f. Bentuk tutup abdomen dan bentuk pleopod.

g. Bentuk mulut terutama maxiliped III.

h. Bentuk bagian ruas dasar antena (basal antennal joint).

Secara umum, ciri dari jenis-jenis organisme yang tergolong ke dalam famili

Portunidae adalah: karapas pipih atau agak cembung, berbentuk heksagonal atau

agak persegi, bentuk umum adalah bulat telur memanjang atau berbentuk kebulat-

bulatan, karapas umumnya berukuran lebih lebar daripada panjangnya dengan

permukaan yang tidak selalu jelas pembagiannya, dan memiliki tepi antero-lateral

karapaks dengan jumlah duri lima (jarang kurang dari lima kecuali pada subfamili

Podopthalminae) sampai sembilan buah. Kemudian memiliki dahi lebar serta

terpisah dengan jelas dari sudut supraorbital dan memiliki jumlah duri dua sampai

enam buah, antena (antennulae) kecil terletak menyerong atau melintang, pasangan

kaki terakhir berbentuk pipih menyerupai dayung, terurtama pada dua ruas terakhir

(terdapat beberapa genus yang tidak berbentuk demikian) (Moosa et al. 1985).

Menurut Kasry (1996) kepiting bakau memiliki karapaks berwarna seperti

lumpur atau sedikit kehijauan, pada bagian kiri dan kanan karapas terdapat sembilan

buah duri tajam, dan pada bagian depan karapas di antara kedua tangkai matanya

terdapat enam buah duri. Dalam keadaan normal sapit kanan lebih besar daripada

sapit kiri dengan warna kemerah-merahan pada masing-masing ujung sapit.

Kepiting bakau memiliki tiga kaki pejalan dan satu kaki perenang, di mana kaki

perenang tersebut terdapat pada bagian ujung perut dan ujung kaki perenang ini

dilengkapi dengan alat pendayung. Selanjutnya Sulistiono et al. (1992) in Mulya

(2000) menyatakan bahwa secara umum karapas berbentuk cembung dan halus,

lebar karapas satu setengah dari panjangnya, bentuk alur H antara gastric

(pencernaan) dan cardiac (jantung) jelas, empat gigi triangular pada lengan bagian

depan mempunyai ukuran yang sama, orbit lebar dan memiliki dua celah, ruas-ruas

abdomen pada kepiting bakau jantan berbentuk segitiga sedangkan pada kepiting

bakau betina berbentuk sedikit membulat. Akan tetapi ketiga spesies kepiting bakau

8

S. serrata, S. tranquebarica, dan S. oceanica memiliki morfologi yang berbeda-

beda, perbedaan morfologi tersebut dapat dilihat pada Tabel 1.

Gambar 2. Bagian-bagian tubuh kepiting tampak dorsal (FAO 1998).

9

Gambar 3. Bagian-bagian tubuh kepiting tampak ventral (FAO 1998).

10

Tabel 1. Karakteristik jenis kepiting bakau (Scylla spp) menurut Estampador.

Warna dan ciri

morfologis Scylla serrata Scylla oceanica

Scylla

tranquebarica

Scylla serrata var.

paramamosain

Warna

karapaks

Coklat merah

seperti karat

Hijau keabu-

abuan

Hijau buah zaitun Coklat kehijauan

Sumber

pigmen

polygonal

Tidak ada Pada capit dan

semua kaki

jalan

Hanya pada

bagian terakir

kaki jalan

Pigmen putih pada

bagian terakhir

dari kaki

Bentuk alur

H pada

karapaks

Tidak dalam Dalam Dalam Relatif tidak

begitu dalam

Bentuk duri

depan

Tumpul Tajam Tajam Sedang

Bentuk duri

pada

fingerjoint

Duri tidak ada

dan berubah

menjadi vestigial

Kedua duri jelas

dan runcing

Kedua duri jelas

dan satu agak

tumpul

-

Bentuk

rambut/setae

Hanya pada

hepatic area

Melimpah pada

karapaks

- -

Sumber: Estampador (1949) in Siahainenia (2008).

Menurut Moosa et al. (1985) kepiting bakau genus Scylla di Indonesia

memiliki dua warna dasar berbeda, yaitu yang termasuk warna kehijauan atau hijau

keabuan (S. oceanica dan S. tranquebarica) serta kelompok yang berwarna dasar

hijau-merah-kecoklatan (S. serrata dan S. serrata var. paramamosain). Jenis S.

oceanica dan S. tranquebarica biasanya ditemukan pada perairan terbuka sedangkan

jenis S. serrata dan S. serrata var. paramamosain ditemukan meliang di daerah

mangrove. Selanjutnya, Kathirvel & Srinivasagam (1992) menyatakan bahwa

morfologi dari Scylla oceanica dan Scylla tranquebarica memiliki kesamaan, yaitu

kedua spesies Scylla ini dapat tumbuh dengan ukuran yang sangat besar, keduanya

tidak hidup meliang, dan memiliki dua duri tajam pada sisi terluar cheliped carpus.

Variasi warna yang terdapat pada karapas dari kedua spesies ini disebabkan oleh

perbedaan letak geografis. Sedangkan spesies Scylla serrata memiliki ukuran tubuh

yang lebih kecil dibandingkan S. oceanica dan S. tranquebarica, hidupnya meliang,

serta hanya memiliki satu duri yang tumpul pada sisi terluar cheliped carpus.

2.1.3. Distribusi dan habitat kepiting bakau

Kepiting bakau hanya tersebar di perairan tropik atau pada perairan berkondisi

tropik. Daerah sebarannya meliputi wilayah Indopasifik, mulai dari pantai selatan

dan timur Afrika Selatan, Mozambik, Iran, Pakistan, India, Srilangka, Bangladesh,

pulau-pulau di lautan Hindia, Kamboja, Vietnam, negara-negara ASEAN, Jepang,

11

Taiwan, serta Filipina. Kemudian kepiting bakau pun ditemukan di pulau-pulau

Lautan Pasifik mulai dari Kepulauan Hawaii sampai ke Selandia Baru dan Australia

(Kasry 1996). Menurut Sulistiono et al. (1994) kepiting bakau ditemukan di

perairan payau dan sebagian besar tertangkap di wilayah pesisir perairan Indonesia

(Pulau Sumatera, Pulau Jawa, Pulau Kalimantan, Pulau Sulawesi, Maluku, dan Irian

Jaya). Pemusatan daerah pengusahaan kepiting bakau berkaitan dengan habitat yang

masih baik, antara lain terdapat di selatan Jawa (Cilacap), utara Jawa (Tanjung Pasir,

Pamanukan), barat Sumatera (Bengkulu, Riau), timur Kalimantan (Kota Baru, Pasir,

Balikpapan), Sulawesi (Teluk Bone, Teluk Kolono, Kendari), Nusa Tenggara Barat

(Teluk Waworada, Teluk Bima), dan Irian Jaya (Teluk Bintuni, Biak Nimfor)

(Asmara 2004).

Secara representatif, kepiting bakau genus Scylla memiliki daerah sebaran

yang luas yaitu di sepanjang Indo-Pasifik Barat, dimana daerah penyebaran dari

maisng-masing spesies dapat dipisahkan secara jelas menurut Keenan (Tabel 2 dan

Gambar 4). Scylla serrata (S. oceanica Estampador) memiliki daerah penyebaran

paling luas, yang meliputi Samudera Hindia bagian Barat hingga ke Kepulauan

Pasifik Selatan. S. tranquebarica (S. serrata var. paramamosain Estampador) dan S.

olivacea (S. serrata Estampador) memiliki daerah penyebaran yang terfokus di Laut

Cina Selatan yang memanjang sampai Samudera Hindia dan Samudera Pasifik

bagian Barat. Sementara itu, S. paramamosain (S. tranquebarica Estampador)

memiliki daerah penyebaran yang terbatas, kebanyakan berada di Laut Cina Selatan

dan Laut Jawa (Le Vay 2001 dan Keenan et al. 1998 in Watanabe et al. 2002).

Tabel 2. Daerah penyebaran spesies Scylla di dunia.

Spesies Daerah Penyebaran

S. serrata Indo-Pasifik Barat: Afrika Selatan, Laut Merah, Australia, Filiphina,

Kepulauan Pasifik (Fiji, P. Solomon, Caledonia Baru, Samoa Barat), Taiwan,

Jepang.

S. paramamosain Laut Cina Selatan: Kamboja, Vietnam, Singapura, Cina, Taiwan, Hong Kong;

Laut Jawa: Kalimantan, Jawa Tengah.

S. olivacea Samudera Hindia: Pakistan hingga Australia Barat;

Laut Cina Selatan: Thailand, Singapura, Vietnam, Sarawak hingga Cina

Selatan;

Samudera Pasifik: Filipina, Timor-Timur, Teluk Carpentaria.

S. tranquebarica Samudera Hindia: Pakistan hingga Malaysia;

Laut Cina Selatan: Sarawak, Singapura;

Samudera Pasifik: Filiphina.

Sumber: Keenan et al. (1998) in Le Vay (2001).

12

Gambar 4. Daerah penyebaran kepiting bakau di dunia menurut Keenan

(FAO 1998).

Kepiting bakau dapat ditemukan di daerah estuari dan daerah pesisir yang

tertutup, secara umum kepiting bakau biasanya berasosiasi kuat dengan hutan

mangrove, terutama daerah estuari. Selanjutnya, terdapat kondisi yang membedakan

distribusi lokal dan kelimpahan keempat spesies kepiting bakau secara kompleks,

Hill (1975;1978); Hill et al. (1982) in Le Vay (2001) menyatakan bahwa distribusi

dan kelimpahan kepiting bakau bergantung pada stadia perkembangan kepiting

bakau. Kepiting bakau juvenil hingga ukuran karapaks 8 cm biasanya melimpah

pada daerah intertidal, sedangkan kepiting bakau subadult dan dewasa berada di

daerah subtidal. Chandrasekaran & Natarajan (1994) in Le Vay (2001) menyatakan

bahwa juvenil baru kepiting bakau akan lebih memilih berada di lingkungan perairan

yang tertutupi oleh lamun, alga, dan akar mangrove.

Menurut Kasry (1996) kepiting bakau akan beruaya dari perairan pantai ke

perairan laut, kemudian induk dan anak-anaknya akan berusaha kembali ke perairan

pantai, muara sungai atau perairan hutan bakau untuk berlindung, mencari makan,

atau membesarkan diri. Kepiting bakau yang telah siap melakukan perkawinan akan

beruaya dari perairan bakau ke tepi pantai dan selanjutnya ke tengah laut untuk

13

melakukan pemijahan. Kepiting jantan yang telah melakukan perkawinan akan

kembali ke perairan hutan bakau atau paling jauh di sekitar perairan pantai yaitu

pada bagian-bagian yang berlumpur dengan organisme makanan yang berlimpah.

Telur kepiting yang telah dibuahi akan menetas menjadi zoea (Z I, II, III, IV, V),

megalopa, kepiting muda, dan akhirnya menjadi kepiting dewasa. Kepiting muda

akan kembali ke pantai atau kawasan bakau untuk mencari makan dan tempat

berlindung yang aman.

2.1.4. Daur hidup kepiting bakau

Potensi reproduksi kepiting bakau sangat tinggi, menurut Arriola (1940) in

Moosa et al. (1996) satu induk kepiting bakau dapat memijahkan telur dua juta telur.

Daur hidup kepiting bakau dimulai dari telur hingga mencapai kepiting dewasa

melalui beberapa tingkat perkembangan, antara lain tingkat zoea, tingkat megalopa,

tingkat kepiting muda, dan tingkat kepiting dewasa (Gambar 5) (Ong Kah Sin 1964;

Motoh et al. 1977 in Moosa et al. 1985). Sedangkan menurut Estampador (1949) in

Moosa et al. (1985) perkembangan kepiting bakau terbagi ke dalam tiga tahap, yaitu

tahap embrionik, tahap larva, dan tahap postlarvae.

Menurut Ong Kah Sin (1964); Motoh et al. (1977) in Moosa et al. (1985)

dalam perkembangan dari tingkat zoea ke tingkat zoea selanjutnya memerlukan

waktu 3-4 hari, dan untuk perkembangan tingkat zoea seluruhnya memerlukan

waktu minimal 18 hari. Dalam perkembangan tingkat zoea menuju tingkat

megalopa, terdapat lima kali pergantian kulit (moulting). Ukuran panjang tubuh dari

setiap tingkatan dari setiap pergantian kulit (moulting) zoea ialah 1,15 mm (zoea

tingkat 1); 1,51 mm (zoea tingkat 2); 1,93 mm (zoea tingkat 3); 2,40 mm (zoea

tingkat 4), dan 3,45 mm (zoea tingkat 5). Selanjutnya dari tingkat megalopa ke

tingkat kepiting muda (instar 1) memerlukan waktu 11-12 hari dengan salinitas 31

2 ppt, sedangkan jika dilakukan pada salinitas 21-27 ppt akan diperlukan waktu 7-8

hari. Kepiting bakau hanya memiliki satu tingkat perkembangan megalopa dan

kuran panjang karapas dan lebar karapas pada tingkat megalopa ialah 2,18 mm dan

1,52 mm.

Menurut Smit et al. (2004) in Butar-Butar (2006) waktu yang diperlukan

kepiting dewasa yang siap memijah adalah antara 18 hingga 24 bulan, dimana

14

kepiting dewasa akan memijah pada bulan-bulan yang memiliki suhu perairan lebih

hangat.

Gambar 5. Siklus hidup kepiting bakau (Scylla spp) (Smit et al. 2004 in Butar-

Butar 2006).

2.1.5. Karakteristik lingkungan dan substrat terhadap kepiting bakau

Parameter fisika dan kimia adalah faktor lingkungan yang dapat

mempengaruhi pertumbuhan kepiting bakau, diantaranya adalah salinitas, suhu, pH,

kedalaman air saat pasang surut, serta substrat dasar. Kepiting bakau di alam

menempati habitat yang berbeda-beda bergantung pada stadia daur hidupnya. Untuk

mengetahui kekhususan habitat kepiting bakau diperlukan pengetahuan mengenai

parameter fisika dan kimia di mana organisme ini berada (Mulya 2000).

Kasry (1996) menyatakan kisaran salinitas yang dapat ditolerir kepiting bakau

cukup luas. Kepiting bakau dapat hidup pada kisaran salinitas yang lebih kecil dari

15 dan lebih besar dari 30. Hill (1978) in Mulya (2000) menyatakan bahwa S.

serrata mampu mentolerir perairan dengan salinitas hingga 60. Keenan et al.

(1998) in Le Vay (2001) menyatakan bahwa keempat spesies Scylla pada stadia

larva atau juvenil memiliki toleransi yang berbeda-beda terhadap salinitas. Scylla

serrata lebih dominan berada di perairan dengan salinitas 34 dan berada di daerah

mangrove yang tergenang oleh air laut selama hampir sepanjang tahun sedangkan

15

spesies lainnya lebih banyak berada di perairan dengan salinitas 33 di daerah

estuari yang tergenang air laut secara periodik.

Selanjutnya, suhu air mempengaruhi pertumbuhan (moulting), aktivitas dan

nafsu makan kepiting bakau (Hill 1982 in Mulya 2000). Fieder dan Haesman (1978)

in Siahainenia (2008) menyatakan bahwa perairan yang bersuhu tinggi cenderung

akan meningkatkan pertumbuhan kepiting bakau sehingga waktu untuk mencapai

dewasa menjadi singkat. Menurut Baliao (1983) in Siahainenia (2008) disamping

kepadatan makanan, suhu perairan diduga berperan terhadap efisiensi pemanfaatan

makanan dan peningkatan kelulushidupan larva kepiting bakau. Dinyatakan pula

bahwa kepiting bakau akan tumbuh lebih cepat pada perairan dengan kisara suhu 23

oC 32

oC.

Wahyudi dan Ismail (1987) in Mulya (2000) menyatakan bahwa kepiting

bakau dapat hidup pada kondisi perairan asam, yaitu pada daerah bersubstrat lumpur

dengan pH rata-rata 6,5. Pendapat ini didukung oleh La Sara (1994) in Mulya

(2000) yang menyatakan bahwa kepiting bakau dapat hidup pada kisaran pH 6,5-7,0.

Kedalaman air berpengaruh bagi kehidupan kepiting bakau pada saat terjadi

perkawinan. Kepiting bakau dapat hidup pada perairan yang dangkal. Wahyuni dan

Ismail (1987) in Mulya (2000) berpendapat bahwa kepiting bakau dapat hidup pada

kedalaman 30 cm 79 cm di perairan dekat hutan mangrove dan pada kedalaman 30

cm 125 cm di muara sungai. Kepiting bakau menuju perairan dangkal pada waktu

siang hari (Hill 1980 in Mulya 2000).

Menurut Snedaker dan Getter (1985) in Siahainenia (2008) habitat kepiting

bakau adalah perairan intertidal (dekat hutan mangrove) yang bersubstrat lumpur.

Substrat di sekitar hutan mangrove sangat mendukung kehidupan kepiting bakau

terutama dalam melangsungkan perkawinan.

2.2. Hutan Mangrove

2.2.1. Pengertian hutan mangrove

Kata mangrove merupakan perpaduan antara bahasa Portugis mangue dan

bahasa Inggris grove. Dalam bahasa Inggris, kata mangrove dipergunakan baik

untuk komunitas pohon-pohonan, rumput-rumputan, maupun semak belukar yang

tumbuh di laut. Sedangkan dalam bahasa Portugis, kata mangrove dipergunakan

16

untuk individu-individu jenis mangrove tersebut (Macnae 1969 in Pramudji 2004).

Hutan mangrove adalah suatu formasi hutan yang mampu tumbuh dan berkembang

di daerah tropik dan subtropik pada lingkungan pesisir yang berkadar garam sangat

ekstrim, jenuh air, serta kondisi tanah yang tidak stabil dan anaerob yang selalu

dipengaruhi oleh pasang surut. Umumnya hutan mangrove tumbuh dan berkembang

dengan baik pada kawasan pesisir di daerah yang terlindung dari hempasan ombak

dan ditopang oleh adanya aliran sungai yang selalu membawa material, misalnya di

daerah pesisir teluk, muara sungai, delta, dan estuari (Pramudji 2004).

2.2.2. Komposisi, fungsi, dan manfaat hutan mangrove

Komposisi flora yang terdapat pada ekosistem mangrove ditentukan oleh

beberapa faktor penting, seperti kondisi jenis tanah dan genangan pasang-surut.

Komunitas mangrove di Indonesia memiliki keragaman hayati tertinggi di dunia,

dengan jumlah total kurang lebih 89 spesies yang terdiri atas 35 spesies tanaman, 9

spesies perdu, 9 spesies liana, 29 spesies epifit, dan 2 spesies parasit. Beberapa jenis

yang umum dijumpai di wilayah pesisir Indonesia adalah: bakau (Rhizophora), api-

api (Avicennia), pedada (Sonneratia), tanjang (Bruguiera), nyirih (Xyclocarpus),

tengar (Ceriops), dan buta-buta (Exoecaria). Dikarenakan sifat lingkungan hutan

mangrove yang keras, misalnya karena genangan pasang-surut air laut, perubahan

salinitas yang besar, perairan berlumpur tebal dan anaerobik, maka pohon-pohon

mangrove telah beradaptasi baik secara morfologi maupun fisiologi (Nontji 2007).

Mangrove umumnya tumbuh pada daerah intertidal dan supratidal yang selalu

dipengaruhi oleh air tawar serta terlindung dari hempasan ombak. Oleh karena itu,

magrove banyak tumbuh di kawasan pesisir yang terlindung. Sehubungan dengan

hal tersebut, untuk mempertahankan eksistensinya mangrove memiliki daya adaptasi

yang tinggi terhadap lingkungan pesisir yang sangat ekstrim (Smith 1987 in

Pramudji 2004). Kemampuan mangrove untuk beradaptasi terhadap lingkungan

tersebut adalah adaptasi terhadap salinitas dan suhu udara yang tinggi dengan cara

memiliki daun yang tebal, kuat, serta sel khusus untuk menyimpan garam; adaptasi

terhadap kadar oksigen yang rendah dengan cara memiliki bentuk perakaran yang

khas; serta adaptasi terhadap substrat (sedimen) dengan cara memiliki struktur

17

perakaran yang mampu menahan dan mengendapkan bahan organik (Pramudji

2004).

Besarnya daya adaptasi jenis tumbuhan mangrove terhadap kisaran salinitas

mempengaruhi terjadinya pemintakatan atau zonasi pada kawasan hutan mangrove.

Pembagian zonasi hutan mangrove berdasarkan perbedaan salinitas tersebut adalah

sebagai berikut (Pramudji 2004):

a. Zona garis pantai, yaitu kawasan hutan mangrove yang berhadapan langsung

dengan laut. Zona ini umumnya memiliki lebar sekitar 10-75 meter dari garis

pantai. Jenis mangrove yang biasa ditemukan pada zonasi ini adalah Rhizophora

stylosa, R. mucronata, Avicennia marina, dan Soneratia alba.

b. Zona tengah, yaitu kawasan hutan mangrove yang terletak di belakang zona

garis pantai dan memiliki substrat berupa lumpur liat. Pada zona ini umumnya

ditemukan jenis Rhizopora apiculata, Avicennia officinalis, Bruguiera

cylindrica, B. gymnorrhiza, B. parviflora, B. sexangula, Ceriops tagal,

Aegiceras corniculatum, Sonneratia caseolaris, dan Lumnitzera littorea.

c. Zona belakang, yaitu kawasan hutan mangrove yang berbatasan dengan hutan

darat. Jenis mangrove yang tumbuh pada pada zona ini adalah Xylocarpus

granatum, Excoecaria agalocha, Nypa fruticans, Derris trifolia, Osbornea

octodonta, dan Heritiera littoralis.

Sedangkan pembagian zonasi hutan mangrove berdasarkan jenis vegetasi yang

dominan mulai dari arah laut ke darat berturut-turut adalah zona Avicennia, zona

Rhizophora, zona Bruguiera, dan zona Nypa (Arief 2003 in Pramudji 2004).

Menurut Pramudji (2004), hutan mangrove memiliki beberapa fungsi penting

berdasarkan aspek ekologinya, yaitu:

a. Sebagai sumber nutrisi (nursery ground), karena didalamnya terjadi proses

biologi yang dimanfaatkan oleh berbagai biota laut.

b. Sebagai tempat penghasil oksigen.

c. Sebagai tempat memijah (spawning ground), pembesaran, mencari makan

(feeding ground) serta habitat dari berbagai biota laut, yaitu ikan, udang,

kepiting, dan kerang-kerangan.

d. Sebagai tempat berlindung dan berkembangnya hewan-hewan darat, seperti

burung, kelelawar, kera, buaya, biawak, dan ular.

18

e. Sebagai sumber plasma nutfah dan genetika.

f. Sebagai pelindung pantai dari abrasi, banjir, serta bencana gelombang pasang

tsunami.

g. Membantu dalam perluasan tanah dengan membentuk teras-teras pantai di

kawasan pesisir, karena akar mangrove mampu menahan sedimen yang terbawa

aliran sungai.

h. Sebagai kawasan penyangga proses intrusi air laut ke daratan, serta mampu

berperan sebagai filter untuk menyerap air limbah industri maupun air limbah

rumah tangga.

Selain itu hutan mangrove juga memiliki manfaat yang sangat besar bagi

masyarakat pesisir, manfaat tersebut antara lain adalah sebagai penyedia keperluan

rumah tangga, misalnya: kayu bangunan, kayu, dan arang; sebagai area tambak

udang dan ikan; sebagai bahan baku kertas, penyamak kulit, dan kayu lapis untuk

industri; sebagai tempat penghasil benih ikan, udang, kepiting, dan kerang; serta

sebagai kawasan ekowisata bagi masyarakat maupun sebagai tempat penelitan dan

pendidikan (Pramudji 2004).

2.2.3. Sebaran hutan mangrove di Indonesia

Luas hutan mangrove di seluruh Indonesia diperkirakan sekitar 4,25 juta

hektar atau 3,98% dari seluruh luas hutan Indonesia (Nontji 2007). Luas hutan

mangrove di Indonesia pada tahun 1982 diperkirakan sekitar 4,25 juta hektar namun

pada tahun 1993 atau dalam kurun waktu 11 tahun, luas hutan mangrove tersebut

turun menjadi 2,49 juta hektar (Pramudji 2004). Area hutan mangrove yang luas

antara lain terdapat di pesisir Sumatera sebesar 19,7% , pesisir Kalimantan sebesar

26,2%, dan pesisir selatan Papua sebesar 30% (Pramudji 2004; Nontji 2007). Pulau-

pulau tersebut memiliki banyak aliran sungai besar dan panjang dengan tipe delta

beragam sebagai akibat dari arus sungai yang membawa materi ke muara (Pramudji

2004). Sebaran dan luas hutan mangrove di Indonesia dapat dilihat pada Tabel 3.

19

Tabel 3. Luas hutan mangrove di Indonesia.

Provinsi Luas (ha)

Sumatera:

Aceh 20.000

Sumatera Utara 30.750

Sumatera Barat 1.800

Riau 184.400

Jambi 4.050

Sumatera Selatan 231.025

Bengkulu

20

Gam

bar

6.

Pet

a penyeb

aran m

angro

ve

di

Indones

ia (

warn

a hij

au k

ehit

aman

) (R

eef

at R

isk 1

999 in F

isheri

es B

usi

nnes

Cen

ter

2009).

20

21

2.2.4. Ketergantungan kepiting bakau pada ekosistem mangrove

Kepiting bakau menjalani sebagian besar daur hidupnya di ekosistem

mangrove dan memanfaatkan ekosistem mangrove sebagai habitat alami utamanya,

yakni sebagai tempat berlindung, mencari makan, dan pembesaran. Kepiting bakau

melangsungkan perkawinan di perairan hutan mangrove dan secara berangsur-

angsur sesuai dengan perkembangan telurnya, kepiting betina akan beruaya dari

perairan hutan mangrove ke laut untuk memijah. Sedangkan kepiting bakau jantan

akan tetap berada di perairan hutan mangrove untuk melanjutkan aktifitas hidupnya.

Setelah memijah, kepiting bakau betina akan kembali ke hutan mangrove, demikian

pula dengan dengan juvenil kepiting bakau yang akan bermigrasi ke hulu estuaria

untuk kemudian berangsur-angsur memasuki hutan mangrove (Siahainenia 2008).

Ekosistem mangrove merupakan tempat ideal bagi kepiting bakau untuk

berlindung. Kepiting muda yang berasal dari laut, banyak dijumpai di sekitar estuari

dan hutan mangrove karena terbawa arus laut dan pasang sehingga akan menempel

pada akar-akar mangrove untuk berlindung (Hutching & Saenger 1987 in

Siahainenia 2008). Sedangkan kepiting bakau dewasa merupakan penghuni tetap

hutan mangrove dan sering dijumpai membenamkan diri dalam substrat lumpur atau

menggali lubang pada substrat lunak sebagai tempat persembunyian (Queensland

Departement of Industries 1989 in Siahainenia 2008). Lebih lanjut dikemukakan

oleh Pagcatipunan (1972) in Siahainenia (2008) yang menyatakan bahwa setelah

berganti kulit (moulting), kepiting bakau akan melindungi dirinya dengan cara

membenamkan diri atau bersembunyi di lubang hingga karapaksnya mengeras.

Hutching & Saenger (1987) in Siahainenia (2008) menyatakan bahwa kepiting

bakau hidup di perairan sekitar hutan mangrove dan memakan akar-akarnya

(pneumatophore). Sementara Hill (1982) in Siahainenia (2008) menyatakan bahwa

perairan di sekitar hutan mangrove sangat cocok untuk kehidupan kepiting bakau

karena sumber makanannya seperti bentos dan serasah cukup tersedia.

2.3. Garis Wallace

Garis Wallace adalah sebuah garis hipotetis yang memisahkan wilayah

geografi hewan Asia dan Australasia. Bagian barat dari garis ini berhubungan

dengan spesies Asia sedangkan pada bagian timur berhubungan dengan spesies

22

Australia. Garis ini dinamakan atas nama Alfred Russel Wallace, yang menyadari

perbedaan tersebut pada saat melakukan kunjungan ke Hindia Timur pada abad ke-

19. Garis Wallace membentang melalui Kepulauan Melayu, antara Borneo

(Kalimantan) dan Sulawesi serta antara Bali (sebelah barat) dan Lombok (sebelah

timur). Keberadaan garis Wallace pun tercatat oleh Antonio Pigafetta dalam

catatannya mengenai perbedaan biologis antara Filipina dan Kepulauan Maluku dan

tercatat dalam perjalanan Ferdinand Magellan pada tahun 1521. Kemudian garis

Wallace diperbaiki dan digeser ke Timur (daratan pulau Sulawesi) oleh Weber dan

diberi nama garis Wallace-Weber. Batas penyebaran flora dan fauna Asia ini

ditentukan secara berbeda-beda, berdasarkan tipe-tipe flora dan fauna (Wikipedia

2008).

Gambar 7. Garis Wallace (Southchinasea 2009).

2.4. Karakter Morfometrik dan Meristik serta Hubungan Kekerabatan

Afrianto et al. (1996) menyatakan bahwa morfometrik ialah ukuran dalam

satuan panjang atau perbandingan ukuran bagian-bagian luar tubuh organisme,

sedangkan meristik adalah sifat-sifat yang menunjukkan jumlah-jumlah bagian-

bagian tubuh luar, seperti jumlah jari-jari sirip (pada ikan), yang digunakan untuk

penentuan klasifikasi. Ukuran dalam morfometrik adalah jarak antara satu bagian ke

23

bagian tubuh lainnya dan biasanya dinyatakan dalam satuan milimeter atau

centimeter.

Karakter morfometrik dapat memberikan informasi mengenai perbedaan antar

spesies, termasuk variasi spesies Crustacea. Contohnya variasi interspesifik pada

dua spesies Procambarus spp. (crayfish di Meksiko), yang kemudian diketahui

merupakan dua spesies simpatrik (Allegrucci et al. 1992 in Overton et al. 1997);

analisa multivariat kepiting bakau Scylla serrata yang berasal dari empat lokasi

negara di Asia Tenggara, yang kemudian diketahui merupakan tiga grup yang

berbeda berdasarkan karakter morfometrik dan meristiknya (Overton et al. 1997);

pengklasifikasian tiga spesies kepiting bakau genus Scylla di Thailand dan Laut

Andaman menggunakan analisis morfometrik, yang kemudian diketahui memiliki

tiga spesies yang berbeda (Sangthong & Jondeung 2006).

Selain itu, analisis karakter morfometrik dan meristik pun dapat digunakan

untuk mengetahui hubungan kekerabatan pada organisme lain, contohnya ikan dan

udang Penaeus monodon (Imron 1998). Studi morfometrik secara kuantitatif

memiliki tiga manfaat yaitu membedakan jenis kelamin dan spesies,

mendeskripsikan pola-pola keragaman morfologis antar spesies, dan

mengklasifikasikan serta menduga hubungan filogenik. Perbedaan morfologis antar

populasi atau spesies biasanya digambarkan sebagai kontras dalam bentuk tubuh

secara keseluruhan atau ciri-ciri anatomi tertentu. Hal yang sama dapat dilakukan

pada ciri-ciri meristik. Terdapat perbedaan yang mendasar antara ciri morfometrik

dan meristik, yaitu ciri meristik memiliki jumlah yang lebih stabil selama masa

pertumbuhan, sedangkan ciri morfometrik berubah secara kontinu sejalan dengan

ukuran dan umur (Strauss and Bond 1990 in Imron 1998).

3. METODOLOGI

3.1. Waktu dan Lokasi Penelitian

Penelitian ini akan dilaksanakan selama 11 bulan yaitu mulai dari bulan Juli

2008 hingga bulan Mei 2009. Kepiting bakau yang diteliti merupakan kepiting

bakau yang telah ditangkap oleh nelayan di masing-masing lokasi pengambilan

sampel dengan menggunakan metode pengambilan contoh acak sederhana (PCAS),

dimana jumlah sampel yang diambil sesuai dengan yang ada pada saat itu tanpa

melihat spesiesnya. Menurut Boer (2001), teknik pengacakan dapat mengurangi

faktor subjektivitas pelaksana percobaan dalam memilih dan mengatur perlakuan

atau ulangan pada satuan percobaan.

Lokasi pengambilan sampel yang dicakup berjumlah 14 lokasi, yaitu Pidie

(Nangroe Aceh Darussalam), Tanjung Jabung Timur (Jambi), Bintan (Kep. Riau),

Cilamaya (Karawang), Blanakan (Subang), Gebang dan Ambulu (Cirebon),

Mataram (Nusa Tenggara Barat), Pontianak dan Samarinda (Kalimantan), Maros

dan Teluk Bone (Sulawesi), Jayapura dan Teluk Bintuni (Irian Jaya). Lokasi

pengambilan sampel tersebut dapat dilihat pada Gambar 8.

Pengukuran karakter morfometrik dan meristik dilakukan secara in situ dan di

laboratorium. Sampel kepiting bakau dimasukkan ke dalam ice box dan selanjutnya

di bawa ke Laboratorium Biologi Makro I (BIMA I), Departemen Manajemen

Sumberdaya Perairan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Institut Pertanian

Bogor. Data yang digunakan merupakan data primer.

3.2. Metode Kerja

Sampel kepiting bakau diambil dengan cara membeli langsung dari nelayan

yang menangkap kepiting bakau di sekitar perairan mangrove pada masing-masing

lokasi penelitian. Alat yang digunakan pada saat menangkap kepiting bakau ialah

pancing, bubu, dan jaring. Kepiting bakau yang diambil mewakili berbagai ukuran

kepiting bakau jantan dan betina dan dianalisis di Laboratorium Biologi Makro 1,

Departemen Manajemen Sumberdaya Perairan. Sampel kepiting bakau yang

terkumpul akan diukur secara mofometrik, yang meliputi 10 karakter utama seperti

yang dilakukan Clark et al. (2001) terhadap genus Carcinus (Portunidae). Karakter

25

Gam

bar

8. L

okas

i pen

gam

bil

an s

ampel

kep

itin

g b

akau

di

Per

air

an I

ndones

ia (

pet

a dim

odif

ikas

i dar

i w

ww

.hin

o.c

o.i

d/

peta

-indones

ia-s

implf

y.g

if).

25

26

morfometrik dan meristik yang diukur tertera pada Tabel 4, Tabel 5, Gambar 9,

Gambar 10, dan Gambar 11.

Tabel 4. Karakter morfometrik kepiting bakau yang diukur.

No. Karakter Morfometrik Keterangan

1. Lebar karapas (L) Jarak antara ujung duri marginal terakhir di sebelah

kanan dengan duri marginal terakhir di sebelah kiri

(horizontal)

2. Panjang karapas (P) Jarak antara tepi duri frontal margin dengan tepi

bawah karapas

3. Tinggi karapas (T) Panjang garis tegak antara karapas dengan

abdomen

4. Optical groove widths Jarak duri frontal margin di antara mata

5. Panjang chela sebelah kanan (PCR)

Panjang capit (hand) sebelah kanan mulai dari ujung palm hingga ujung dactylus

6. Tinggi chela sebelah

kanan (TCR)

Jarak lurus terbesar secara vertikal antara tepi atas

dan bawah chela sebelah kanan 7. Panjang profundus chela

sebelah kanan (PCR)

Jarak antara ujung palm dengan tepi dactylus

sebelah kanan

8. Panjang chela sebelah kiri

(PCL)

Panjang capit (hand) sebelah kiri mulai dari ujung

palm hingga ujung dactylus

9. Tinggi chela sebelah kiri

(TCL)

Jarak lurus terbesar secara vertikal antara tepi atas

dan bawah chela sebelah kiri

10. Panjang profundus chela

sebelah kiri (PCL)

Jarak antara ujung palm dengan tepi dactylus

sebelah kiri

Tabel 5. Karakter meristik kepiting bakau yang diukur.

No. Karakter Meristik Keterangan

1. Jumlah duri frontal margin Jumlah duri frontal margin yang berada di antara

kedua mata kepiting 2. Jumlah duri anterolateral

margin sebelah kanan

Jumlah seluruh duri anterolateral margin yang

berada di sebelah kanan karapas

3. Jumlah duri anterolateral

sebelah kiri

Jumlah seluruh duri anterolateral margin yang

berada di sebelah kiri karapas

Berikut ini merupakan langkah kerja saat melakukan pengukuran. Pertama-

tama, dilakukan penomoran kepiting menggunakan kertas label dimana sebelumnya

telah dibersihkan dari lumpur dan air menggunakan tissue (Lampiran 1). Lalu

dilakukan pengamatan terhadap jenis kelamin dengan cara melihat bentuk abdomen

kepiting tersebut, dimana jantan memiliki bentuk abdomen yang mengerucut

sedangkan betina memiliki bentuk abdomen yang melebar.

27

Gambar 9. Karakter morfometrik dan meristik tampak dorsal (Keterangan: 1

(lebar karapas); 2 (panjang karapas); 3 (Optical groove widths ); 4 (

tinggi karapas); 5 (Duri anterolateral kiri); 6 (Duri anterolateral

kanan); 7 (duri frontal margin)).

Gambar 10. Karakter morfometrik pada chela (Keterangan: 8 (PPR); 9 (PCR); 10

(TCR); 11 (PPL); 12 (PCL); 13 (TCL)).

Gambar 11. Abdomen kepiting jantan (kiri) dan abdomen kepiting betina (kanan).

28

Kemudian, bobot tubuh ditimbang menggunakan timbangan dengan ketelitian

10 gram dan pengukuran tinggi karapas dengan menggunakan jangka sorong dengan

ketelitian 1 mm. Selanjutnya dilakukan pengukuran aspek morfometrik dengan

menggunakan penggaris dengan ketelitian 1 mm serta pengukuran aspek meristik

secara visual (Lampiran 2 dan 3). Seluruh data tersebut dicatat pada data sheet yang

telah dipersiapkan sebelumnya (Lampiran 4 dan 5). Setelah proses pengukuran

selesai, dilakukan proses identifikasi dan klasifikasi spesies, dengan cara dilakukan

pengamatan terhadap dua duri tajam yang berada pada bagian cheliped carpus,

warna karapas, bentuk alur H, corak pada pleopod, serta bentuk duri pada frontal

margin.

Penulis menggunakan klasifikasi dan identifikasi kepiting bakau berdasarkan

Estampador karena hingga saat ini masih terdapat perdebatan antara para ahli

mengenai jenis-jenis kepiting bakau. Estampador (1949) in Fushimi & Watanabe

(2001) mengklasifikasikan kepiting bakau menjadi tiga spesies dan satu varietas,

yaitu Scylla serrata, Scylla tranquebarica, Scylla oceanica, dan Scylla serrata var.

paramamosain dengan menggunakan spesimen yang dikumpulkan dari Filiphina

berdasarkan perbedaan morfologi eksternal (warna karapas dan kaki, gigi

anterolateral pada karapas, dan duri luar pada cheliped carpus). Serene (1952) in

Fushimi & Watanabe (2001) menyatakan bahwa eksistensi keempat spesies kepiting

bakau yang ditemukan di Vietnam sesuai dengan penemuan Estampador. Akan

tetapi, Stephenson dan Campbell (1960) in Fushimi & Watanabe (2001) menyatakan

bahwa keempat spesies tersebut merupakan satu spesies kepiting bakau berdasarkan

kesimpulan yang diambil dari sampel yang berasal dari Queensland dan New South

Wales (Australia). Stephenson dan Campbell menduga bahwa perbedaan karakter

morfologis tersebut diperoleh dari perbedaan lingkungan habitat kepiting bakau.

Selanjutnya Fuseya & Watanabe (1996) in Fushimi & Watanabe (2001)

melakukan studi mengenai variasi genetik di 3 loci pada kepiting bakau dan

menyatakan bahwa ketiga spesies tersebut benar-benar berbeda dan dapat dibedakan

sesuai dengan klasifikasi Estampador. Keenan et al. (1998) in Fushimi & Watanabe

(2001), membuat sebuah revisi mengenai genus Scylla dengan menggunakan

spesimen yang berasal dari Laut Merah dan beberapa lokasi di Indo-Pasifik,

menggunakan 2 metode genetik yang independen, allozyme elektrophoresis, dan

29

sequencing of two mitochondrial DNA genes (Sitokrom oksidase I dan 16s RNA)

yang bekerja pada masing-masing spesies. Keenan et al. (1998) in Fushimi &

Watanabe (2001), menyatakan bahwa terdapat 4 spesies dengan menggunakan

kriteria morfologi tetapi keempatnya berbeda secara istilah.

Fuseya (1998) in Fushimi & Watanabe (2001) melakukan analisis

morfometrik antar spesies pada genus Scylla yang berasal dari daerah sebaran

geografis kepiting bakau yang luas. Fuseya pun melakukan uji karakteristik

morfologi pada pleopod pertama dan kedua dari kepiting bakau jantan. Berdasarkan

analisisnya, spesies Scylla serrata, Scylla tranquebarica, dan Scylla oceanica benar-

benar dapat dibedakan. Karaketristik morfologi yang telah ditemukan dari ketiga

spesies tersebut sesuai dengan deskripsi yang dijabarkan oleh Estampador pada

tahun 1949.

3.3. Identifikasi Morfologi Kepiting Bakau

Proses pengidentifikasian kepiting bakau menggunakan klasifikasi yang

digunakan Estampador, di mana kepiting bakau dibedakan menjadi 3 spesies

berdasarkan perbedaan karakter morfologisnya, yaitu Scylla serrata, Scylla

tranquebarica, dan Scylla oceanica. Klasifikasi dan identifikasi kepiting bakau

(FAO 1998) adalah sebagai berikut:

a. Cheliped carpus hanya memiliki setidaknya 1 duri yang tidak pernah tajam; warna tubuh biasanya

agak keorangean atau kekuningan ...........................

c d

b. Cheliped carpus memiliki 2 duri tajam; warna tubuh biasanya hijau hingga ungu ...........................

e

c. Frontal margin bergigi tajam; duri pada ujung carpus tajam ............................................................

Scylla tranquebarica

d. Frontal margin bergigi tumpul membundar; duri pada ujung carpus hampir tereduksi ......................

Scylla serrata

e. Frontal margin bergigi tajam; duri pada cheliped

carpus kebanyakan tajam; warna karapas hijau

atau hijau-olive; pleopod biasanya bercorak (jantan

dan betina) ...............................................................

Scylla oceanica

30

Gambar 12. Identifikasi kepiting bakau menurut Estampador (dimodifikasi)

(FAO 1998).

3.4. Analisis Data

3.4.1. Distribusi frekuensi panjang dan lebar karapas

Analisis data dilakukan terhadap sebaran frekuensi panjang dan lebar karapas

kepiting bakau untuk mendapatkan selang kelas, nilai tengah, dan frekuensi dengan

menggunakan program Microsoft Excel dalam hal perhitungannya. Langkah-

langkah dalam penentuan distribusi frekuensi panjang adalah sebagai berikut:

a. Menentukan nilai maksimum dan minimum dari keseluruhan data panjang dan

lebar karapas dari jumlah total kepiting bakau.

b. Menentukan jumlah kelas.

c. Menentukan wilayah data (c); c = nilai maksimum nilai minimum.

d. Menentukan lebar kelas; lebar kelas = c/jumlah kelas.

e. Menetukan batas atas kelas dan batas bawah kelas setiap selang kelas.

f. Mendaftarkan seluruh batas kelas untuk setiap selang kelas.

g. Menentukan nilai tengah setiap selang kelas.

h. Menjumlahkan frekuensi panjang dan lebar karapas yang telah ditentukan

berdasarkan masing-masing selang kelas.

i. Memplotkan distribusi frekuensi panjang dan lebar karapas dalam sebuah

grafik untuk melihat jumlah distribusi normalnya.

31

3.4.2. Hubungan lebar karapas-berat

Data yang digunakan pada analisis pada hubungan lebar karapas-berat ialah

data gabungan kepiting jantan dan betina pada masing-masing lokasi penelitian.

Analisis hubungan lebar karapas-berat menggunakan rumus hubungan panjang-berat

pada kepiting (Hartnoll 1982):

W = a Lb

Keterangan: W = berat

L = lebar karapas

a = intersep (perpotongan kurva hubungan panjang-

berat dengan sumbu y)

b = penduga pola pertumbuhan panjang-berat

Untuk mendapatkan persamaan linier atau garis lurus digunakan persamaan:

Log W = Log a + b Log L

Y = a + b x

Untuk menguji nilai b digunakan uji t, dengan hipotesis:

H0 : b = 1, hubungan lebar karapas-berat adalah isometrik

H1 : b 1, hubungan lebar karapas-berat adalah allometrik, yaitu:

Allometrik positif (b > 1), pertumbuhan berat lebih dominan dibandingkan

dengan pertumbuhan panjang.

Allometrik negatif (b < 1), pertumbuhan panjang lebih dominan dibandingkan

dengan pertumbuhan berat.

t hitung = 1

01

Sb

bb

Keterangan: b1 = nilai b (dari hubungan panjang-berat)

b0 = 1

Sb1 = simpangan koefisien b

Kemudian, bandingkan antara nilai thitung dengan nilai ttabel dengan selang

kepercayaan 95% ( = 0.05). Selanjutnya untuk mengetahui pola pertumbuhannya,

kaidah keputusan yang diambil adalah sebagai berikut:

thitung > ttabel : tolak hipotesis nol (H0)

thitung < ttabel : gagal tolak hipotesis nol (H0)

Penulis menggunakan bantuan software SPSS 15.0 for Windows Evaluation Version

dan Microsoft Excel dalam hal perhitungannya.

32

3.4.3. Analisis komponen utama (principal component analysis)

Sepuluh karakter morfometrik dianalisis dengan menggunakan program

Principal Components Analysis (PCA). Berdasarkan hasil analisis dari program

PCA, didapatkan suatu komponen utama yang mampu mempertahankan sebagian

besar informasi yang diukur menggunakan keragaman total dengan menggunakan

sedikit komponen utama saja. Penggunaan komponen utama sering disarankan

untuk digunakan dalam proses mereduksi banyaknya peubah (Sartono et al. 2003).

Selain itu, hasil plot antar komponen utama (grafik score plot) dapat digunakan

untuk untuk menentukan banyaknya penggerombolan secara sederhana. Penulis

menggunakan bantuan software MINITAB 15.0 dalam hal perhitungan PCA.

3.4.4. Analisis biplot

Analisis perbandingan karakter morfometrik yang telah ditentukan bertujuan

untuk melihat karakter morfometrik yang memiliki keterkaitan dengan karakter

lainnya. Biplot merupakan teknik statistik deskriptif dimensi ganda yang dapat

disajikan secara visual dengan menyajikannya secara simultan segugus objek

pengamatan dan peubah dalam suatu grafik pada suatu bidang datar sehingga ciri-

ciri peubah dan objek pengamatan serta posisi relatif antara objek pengamatan dan

peubah dapat dianalisis. Biplot dapat menunjukkan hubungan antar peubah

kemiripan relatif antar objek pengamatan, serta posisi relatif antara objek

pengamatan dengan peubah (Jolllife 1986 & Rawling 1988 in Sartono et al. 2003).

Perhitungan dalam analisis biplot, Penulis dibantu dengan menggunakan software

SAS 9.1.

Salah satu informasi yang didapat melalui analisis bilpot adalah untuk

mengetahui korelasi antar peubah, dimana dua peubah yang memiliki korelasi

positif tinggi digambarkan dengan dua buah garis dengan arah yang sama

(membentuk sudut sempit). Sementara itu, dua peubah yang memiliki korelasi

negarif tinggi akan digambarkan dalam bentuk dua garis dengan arah yang

berlawanan (membentuk sudut tumpul). Sedangkan dua peubah yang tidak

berkorelasi akan digambarkan dalam bentuk dua garis yang membentuk sudut

mendekati 90o (Sartono et al. 2003).

4. HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1. Komposisi Jumlah Kepiting Bakau Selama Penelitian

Kepiting bakau (genus Scylla) yang diteliti selama bulan Juni 2008 hingga Mei

2009 berasal dari 14 daerah yang mencakup Pidie (Nangroe Aceh Darussalam),

Bintan (Kep. Riau), Tanjung Jabung Timur (Jambi), Cilamaya (Karawang),

Blanakan (Subang), Gebang dan Ambulu (Cirebon), Samarinda dan Pontianak

(Kalimantan), Mataram (Nusa Tenggara Barat), Maros dan Bone (Sulawesi), Teluk

Bintuni dan Jayapura (Papua). Kepiting bakau yang diperoleh selama penelitian

berasal dari para nelayan setempat yang menangkap kepiting bakau dengan

menggunakan alat tangkap pancing dan bubu. Lokasi penangkapan kepiting bakau

berada di perairan hutan mangrove maupun di perairan pesisir yang berlokasi di

sekitar perairan pada setiap lokasi penelitian.

Pemilihan daerah penelitian berdasarkan lokasi sebaran hutan mangrove di

Indonesia, dimana kepiting bakau menjalani sebagian besar daur hidupnya di

ekosistem mangrove dan memanfaatkan ekosistem mangrove sebagai habitat alami

utamanya, yakni sebagai tempat berlindung, mencari makan, dan pembesaran

(Siahainenia 2008). Area hutan mangrove yang luas antara lain terdapat di pesisir

Sumatera sebesar 19,7%, pesisir Kalimantan sebesar 26,2%, dan pesisir selatan

Papua sebesar 30% (Pramudji 2004; Nontji 2007).

Menurut Pramudji (2004) sebaran hutan mangrove mencakup hampir di

seluruh wilayah Indonesia, mulai dari Sumatera (Aceh, Sumatera Utara, Sumatera

Barat, Riau, Jambi, Sumatera Selatan, Bengkulu, Lampung), Jawa (DKI Jakarta,

Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur), Bali, Kalimantan (Kalimantan Barat,

Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, Kalimantan Timur), Nusa Tenggara (Nusa

Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur), Sulawesi (Sulawesi Utara, Sulawesi

Tengah, Sulawesi Tenggara, Sulawesi Selatan), Maluku, serta Irian Jaya (Papua).

Kepiting bakau yang diteliti berasal dari genus Scylla berjumlah 625 ekor,

keseluruhan kepiting ini berasal dari 14 daerah penelitian yang telah ditentukan dan

dapat dilihat pada Tabel 6.

34

Tabel 6. Jumlah kepiting bakau yang dikumpulkan selama penelitian.

Jumlah data (ekor)

No.

Daerah Scylla spp.

(gabungan ketiga spesies)

Scylla

serrata

Scylla

tranquebarica

Scylla

oceanica

1 Pidie 83 11 64 8

2 Jambi 12 9 - 3

3 Bintan 5 - - 5

4 Cilamaya 36 36 - -

5 Blanakan 49 20 21 8

6 Gebang 54 24 24 6

7 Ambulu 23 23 - -

8 Mataram 30 10 14 6

9 Samarinda 98 2 29 67

10 Pontianak 30 - 1 29

11 Maros 61 29 12 20

12 Bone 75 55 5 15

13 Teluk Bintuni 55 4 6 45

14 Jayapura 14 6 1 7

Total 625 229 177 219

Berdasarkan Tabel 6, jumlah sampel kepting bakau (Scylla spp.) tertinggi

berasal dari Samarinda yaitu 98 ekor atau 15,68% dari jumlah total sampel,

sedangkan jumah sampel terendahnya berasal dari Bintan yaitu 5 ekor atau 0,8%

dari jumlah seluruh sampel. Persentase spesies yang paling banyak dikumpulkan

selama penelitian ialah Scylla serrata, yaitu 36,64% dari jumlah total sampel,

sedangkan persentase spesies yang paling sedikit dikumpulkan ialah Scylla

tranquebarica, yaitu sebanyak 28,32% dari jumlah total sampel. Selanjutnya,

persentase sampel Scylla oceanica yang diperoleh selama penelitian adalah 35,04%

dari jumlah total sampel.

Berdasarkan jumlah sampel yang paling banyak ditemukan di setiap lokasi

penelitian, spesies Scylla serrata mendominasi di 5 lokasi, yaitu Jambi, Cilamaya,

Ambulu, Maros, dan Bone. Sedangkan spesies Scylla tranquebarica mendominasi

di 3 lokasi, yaitu Pidie, Blanakan, dan Mataram. Kemudian spesies Scylla oceanica

mendominasi di 6 lokasi, yaitu Bintan, Samarinda, Pontianak, Teluk Bintuni, dan

Jayapura.

Jumlah sampel Scylla serrata terbanyak berasal dari Bone, yaitu sebanyak 55

ekor atau 24,02% dari jumlah total sampel S. serrata, sedangkan jumlah sampel

terendah berasal dari Bintan dan Pontianak, dimana pada kedua lokasi tidak

35

ditemukan S. serrata pada saat pengambilan sampel. Selanjutnya, jumlah sampel S.

tranquebarica terbanyak berasal dari Pidie, yaitu sebanyak 64 ekor atau 36,16% dari

jumlah total sampel S. tranquebarica. Jumlah sampel S. tranquebarica terendah

berasal dari Jambi, Bintan, Cilamaya, dan Ambulu, dimana pada keempat lokasi

tersebut tidak ditemukan S. tranquebarica pada saat pengambilan sampel.

Kemudian, jumlah sampel S.oceanica terbanyak berasal dari Samarinda yaitu 67

ekor atau 30,59% dari jumlah total sampel S. oceanica, sedangkan jumlah sampel

terendahnya berasal dari Ambulu dan Cilamaya, dimana pada kedua lokasi tidak

ditemukan S. oceanica pada saat pengambilan sampel.

Tidak ditemukannya kepiting bakau dari setiap spesies di beberapa daerah

penelitian bukan berarti kepiting tersebut tidak menempati habitat di daerah tersebut,

karena distribusi sebaran kepiting bakau ketiga spesies tersebut mencakup hampir

seluruh wilayah perairan Indonesia. Menurut Sulistiono et al. (1994) kepiting bakau

ditemukan di perairan payau dan sebagian besar tertangkap di wilayah pesisir

perairan Indonesia (Pulau Sumatera, Pulau Jawa, Pulau Kalimantan, Pulau Sulawesi,

Maluku, dan Irian Jaya). Akan tetapi, tidak adanya beberapa spesies kepiting bakau

di beberapa lokasi penelitian diduga oleh lokasi penangkapan kepiting bakau, karena

para nelayan biasanya melakukan penangkapan di dua tempat, yaitu di perairan

hutan mangrove dan di perairan pesisir yang berlokasi di sekitar perairan pada setiap

lokasi penelitian. Hal tersebut berkaitan dengan habitat ketiga spesies kepiting