· web view(cholik dan hanafi, 1991). kepiting bakau merupakan salah satu alternatif yang bisa...

Click here to load reader

Post on 03-Mar-2019

221 views

Category:

Documents

0 download

Embed Size (px)

TRANSCRIPT

BUDIDAYA KEPITING SANGKAK (LUNAK) DI LAMJABAT, BANDA ACEH

Diusulkan Oleh :

NOVITA SARI

0908106010010

KARYA TULIS ILMIAH

JUDUL TOPIK: KETAHANAN PANGAN

JURUSAN BUDIDAYA PERAIRAN

KOORDINATORAT KELAUTAN DAN PERIKANAN

UNIVERSITAS SYIAH KUALA

BANDA ACEH, 2012

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Sumber daya kelautan dan perikanan merupakan salah satu kekayaan alam yang dimiliki Indonesia dan banyak dimanfaatkan oleh masyarakat. Adanya beberapa penyakit yang menyerang tambak-tambak udang membuat ekspor udang ditolak ke luar negeri. Akibatnya beberapa petambak mulai membudidayakan kepiting. Permintaan konsumen terhadap kepiting terus meningkat baik di pasaran dalam negeri maupun luar negeri membuat kepiting menjadi salah satu komoditas unggulan yang memiliki nilai ekonomi tinggi.

Seiring perkembangan teknologi yang semakin canggih, saat ini telah berkembangnya teknologi budidaya kepiting lunak (sangkak). Kepiting lunak atau soka adalah kepiting yang memiliki cangkang (karapas) lunak. Saat ini trend makanan di Aceh sedang digalakkan untuk mengkonsumsi kepiting lunak. Budidaya kepiting lunak merupakan jenis budidaya perikanan yang sesuai dengan kondisi perikanan di Aceh yang banyak terdapat tambak namun tidak dipergunakan.

Budidaya kepiting lunak ini masih baru di Aceh, salah satu daerah yang telah menerapkan teknik budidaya kepiting lunak di Aceh adalah Gampong Lamjabat, Kecamatan Meuraxa, Banda Aceh. Puluhan warga Gampong Lamjabat ini telah bersama-sama membangun pusat layanan informasi kepiting sangkak yang merupakan salah satu budidaya warga setempat. Untuk wilayah aceh harga kepiting lunak berkisar antara Rp 55,000 sampai dengan Rp 65,000/kg, kepiting lunak (segar atau beku) bisa dijual ke pasar lokal, rumah makan, Medan, dan Jakarta dengan harga jual yang lebih tinggi.

Selain di desa Lamjabat, budidaya kepiting lunak ini juga sudah mulai dikembangkan di desa Pusong, Sigli. Berbeda dengan budidaya kepiting lunak di Lamjabat, di Pusong wadah budidayanya masih menggunakan takir yang terbuat dari bilah bambu. Pemiliknya mengaku banyak kepitingnya yang lolos dari takir sehingga beliau berniat untuk menggantinya dengan keranjang (basket) apabila modalnya telah mencukupi. Usaha ini baru berjalan selama kurang lebih 1 bulan dengan modal awal Rp.100.000.000,-.

Jenis kepiting yang umum dibudidayakan untuk produksi kepiting lunak adalah spesies kepiting bakau (Scylla serrata). Kepiting bakau (Scylla serrata) adalah spesies kepiting yang dominan di Indonesia. Diperkirakan sekitar 80% dari total kepiting bakau di darat adalah dari spesies Scylla serrata (Cholik dan Hanafi, 1991). Kepiting bakau merupakan salah satu alternatif yang bisa dipilih untuk dibudidayakan karena mempunyai nilai ekonomis tinggi dan merupakan salah satu jenis golongan crustaceae yang mengandung protein hewani cukup tinggi, hidup di perairan pantai dan muara sungai, terutama yang ditumbuhi oleh pohon bakau dengan dasar perairan berlumpur (Mossa et al, 1995).

1.2 Perumusan Masalah

Semenjak menurunnya hasil produksi udang akibat serangan penyakit yang belum dapat diatasi dengan baik, masyarakat pecinta makanan laut (seafood) mulai beralih kepada kepiting yang memiliki cita rasa yang lezat. Meningkatnya permintaan masyarakat akan kepiting ini mengakibatkan berkurangnya jumlah kepiting di alam atau dengan kata lain ketersediaan kepiting dari hasil tangkapan alam semakin terbatas. Mulanya beberapa petambak sudah mulai melakukan usaha pembenihan kepiting, tapi tingkat kelulushidupan benihnya relative rendah. Kemudian para petambak mulai melakukan usaha pembesaran kepiting.

Selama ini masyarakat yang ingin mengonsumsi kepiting seringkali direpotkan dengan cangkangnya yang keras. Pemilihan kepiting berukuran besarpun seringkali mengecewakan konsumen karena setelah dibuka ternyata cangkangnya saja yang besar namun dagingnya hanya sedikit. Namun, dengan adanya teknologi budidaya kepiting sangkak ini diharapkan tidak ada lagi keengganan dan kekecewaan masyarakat dalam mengonsumsinya.

1.3 Manfaat dan Tujuan Penulisan

Adapun maksud dan tujuan dari penulisan karya tulis budidaya kepiting sangkak ini adalah:

1. Mempelajari dan memperkenalkan teknik budidaya kepiting sangkak kepada masyarakat.

2. Menjadi pengetahuan awal bagi petambak yang mempunyai keinginan untuk membudidayakan kepiting sangkak.

3. Mengaplikasikan cara berbudidaya yang ramah lingkungan sehingga budidaya yang dilakukan terhindar dari ancaman penyakit yang dapat merugikan petambak kepiting.

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Klasifikasi Kepiting Bakau

Menurut Kanna (2002) kepiting bakau mempunyai beberapa spesies antara lain Scylla serrata, Scylla tranquebarica, dan Scylla oceanic dengan klasifikasi sebagai berikut :

Phyllum: Arthropoda

Class: Crustacea

Ordo: Decapoda

Family: Portunidae

Genus: Scylla

Spesies: Scylla sp.

Gambar 1: Kepiting Bakau (Afrianto dan Liviawaty,1992)

2.2 Morfologi Kepiting Bakau

Kepiting bakau (Scylla sp.) memiliki ukuran lebar karapas lebih besar daripada ukuran panjang tubuhnya dan permukaanya agak licin. Pada dahi antara sepasang matanya terdapat enam buah duri dan disamping kanan dan kirinya masing-masing terdapat sembilan buah duri. Kepiting bakau jantan memiliki sepasang capit yang dapat mencapai panjang hampir dua kali lipat daripada panjang karapasnya, sedangkan kepiting bakau betina relatif lebih pendek. Selain itu, kepiting bakau juga mempunyai 3 pasang kaki jalan dan sepasang kaki renang. Kepiting bakau berjenis kelamin jantan ditandai dengan abdomen bagian bawah berbentuk segitiga meruncing, sedangkan pada kepiting bakau betina melebar (Kanna, 2006).

Menurut Prianto (2007), walaupun kepiting mempunyai bentuk dan ukuran yang beragam tetapi seluruhnya mempunyai kesamaan pada bentuk tubuh. Seluruh kepiting mempunyai chelipeds dan empat pasang kaki jalan (Gambar 1 dan 2). Pada bagian kaki juga dilengkapi dengan kuku dan sepasang penjepit, chelipeds terletak di depan kaki pertama dan setiap jenis kepiting memiliki struktur chelipeds yang berbeda-beda. Di samping itu, tubuh kepiting juga ditutupi dengan Carapace. Carapace merupakan kulit yang keras atau dengan istilah lain exoskeleton (kulit luar) berfungsi untuk melindungi organ dalam bagian kepala, badan dan insang.

Morfologi kepiting bakau dapat dilihat pada gambar 2 dan 3 di bawah ini:

Gambar 2. Tubuh bagian dorsal kepiting dewasa (Sumber: Quinitio & Parado, 2003).

Gambar 3. Tubuh bagian ventral kepiting dewasa (Sumber: www.portofpeninsula.org, 1997).

Capit pada jantan dewasa lebih panjang dari pada Capit betina (Nontji, 2002). Disamping morfologi sapit, kepiting jantan dan betina dapat dibedakan juga berdasarkan ukuran abdomen, dimana abdomen jantan lebih sempit dari pada abdomen betina (Gambar 4).

Gambar 4. perbedaan morfologi kepiting jantan dengan kepiting betina (Sumber: www.zonaikan.wordpress.com, 2010)

2.3 Habitat Kepiting Bakau

Kepiting banyak ditemukan di daerah hutan bakau, sehingga di Indonesia lebih dikenal dengan sebutan kepiting bakau (mangove crab) (Gufron dan H. Kordi, 2000). Kepiting mangrove seperti Scylla serrata (Mud Crab) merupakan hewan yang hidup di wilayah estuaria dengan didukung oleh vegetasi mangrove. Hewan ini merupakan hewan omnivora dan kanibal, memakan kepiting lainnya, kerang dan bangkai ikan. Kepiting ini dapat tumbuh sampai ukuran 25 cm atau dengan berat mencapai 2 kg, dimana kepiting betina ukurannya lebih besar dari yang jantan (DPI & F, 2003).

Kepiting bakau dalam menjalani hidupnya beruaya dari perairan pantai ke perairan laut, kemudian induk dan anak-anaknya berusaha kembali ke perairan pantai, muara, sungai, atau daerah hutan mangrove untuk berlindung, mencari makan dan membesarkan diri (Karsy, 1996). Kepiting bakau termasuk golongan hewan nocturnal, karena kepiting beraktivitas pada malam hari. Kepiting ini bergerak sepanjang malam untuk mencari pakan bahkan dalam semalam kepiting ini mampu bergerak mencapai 219 910 meter (Mossa, et al. 1995).

2.4 Daur Hidup Kepiting Bakau

Kepiting bakau yang telah siap melakukan pekawinan akan memasuki hutan bakau dan tambak. Setelah perkawinan berlangsung kepiting betina secara perlahan-perlahan akan beruaya di perairan bakau, tambak, ke tepi pantai, dan selanjutnya ke tengah laut untuk melakukan pemijahan. Kepiting jantan yang telah melakukan perkawinan atau telah dewasa berada diperairan bakau, tambak, di sela-sela bakau, atau paling jauh di sekitar perairan pantai yaitu pada bagian-bagian yang berlumpur, dan ketersediaan pakan yang berlimpah (Kasry. 1996).

Menurut Boer (1993), setelah telur menetas, maka masuk pada stadia larva, dimulai pada zoea 1 (satu) yang terus menerus berganti kulit sebanyak 5 (lima) kali, sambil terbawa arus ke perairan pantai sampai pada zoea 5 (lima). Kemudian kepiting tersebut berganti kulit lagi menjadi megalopa yang bentuk tubuhnya sudah mirip dengan kepiting dewasa, tetapi masih memiliki bagian ekor yang panjang. Pada tingkat megalopa ini, kepiting mulai beruaya pada dasar perairan lumpur menuju perairan pantai. Kemudian pada saat dewasa kepiting beruaya ke perairan berhutan bakau untuk kembali melangsungkan perkawinan.

Telur

PembuahanLarva Zoea

Kepiting DewasaMegalops

Kepiting Muda

Gambar 5. Siklus hidup kepiting bakau (sumber: www.zonaikan.wordpress.com, 2010)

2.5 Peluang Usaha

Kepiting lunak dari jenis kepiting bakau mempunyai nilai ekonomis yang tinggi baik di pasar dalam negeri maupun di pasar luar negeri. Sementara benih kepiting bakau masih mengandalkan pasokan dari alam karena teknologi pembenihan kepiting belum dikuasai dengan baik. Dari