analisa kebijakan investigasi anti dumping cina terhadap impor produk ayam dan otomotif amerika...

Click here to load reader

Post on 27-Jul-2015

2.199 views

Category:

Documents

12 download

Embed Size (px)

TRANSCRIPT

Analisa Kebijakan Investigasi Anti-Dumping Cina terhadap Impor Produk Ayam dan Otomotif Amerika Serikat

Disusun oleh : Erika 0706291243 Jurusan Ilmu Hubungan Internasional

Tugas Makalah Akhir Mata Kuliah Rejim Perdagangan Internasional Program Studi S1 Reguler Ilmu Hubungan Internasional Semester Ganjil 2009/2010

DEPARTEMEN ILMU HUBUNGAN INTERNASIONAL FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK UNIVERSITAS INDONESIA 2009

Page | 1

BAB I PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang Beberapa tahun terakhir, terjadi perubahan dalam struktur perekonomian negara-negara dunia. Jika dulunya perekonomian dunia seperti dikuasai oleh Amerika Serikat dan negara Eropa lainnya, sekarang tren itu telah bergeser ke arah negara-negara berkembang yang semakin menunjukkan eksistensinya dalam perekonomian internasional. Di antara semua negara berkembang tersebut, ada empat negara yang disebut-sebut akan menggantikan posisi Amerika Serikat (AS) sebagai poros perekonomian internasional yaitu Brazil, Rusia, India, dan Cinaatau yang lebih dikenal dengan singkatan BRIC, empat negara emerging giants dalam perdagangan internasional kala ini. Pertumbuhan ekonomi yang pesat, didorong dengan besarnya kontribusi keempat negara tersebut dalam perdagangan internasional, menjadikan keempat negara tersebut sebagai pemain besar dalam perdagangan internasional. Di antara keempat negara tersebut, Cina disebut-sebut sebagai negara dengan kans terbesar yang dapat menggantikan posisi AS sebagai pusat perekonomian internasional, terutama paska krisis finansial global yang sukses menghancurkan perekonomian AS. Karena itu, sangatlah menarik untuk memperhatikan perekonomian Cina, terutama memperhatikan hubungan perdagangan Cina dan AS sebagai dua kekuatan ekonomi besar dunia. Hubungan perdagangan antara Cina dan AS sebagai dua kekuatan ekonomi besar dunia, merupakan hubungan yang rumit. Walaupun kedua negara tersebut saling membutuhkan satu sama lainCina bergantung pada ekspornya ke AS untuk mengendalikan pertumbuhan ekonominya, sementara AS memerlukan investasi dari Cina untuk membiayai defisit perekonomiannya yang besarBeijing dan Washington secara rutin sering bertengkar mengenai berbagai isu sensitif antar keduanya.1 Hingga kini, berbagai sengketa perdagangan telah terjadi antara keduanya. Sengketa perdagangan paling baru terjadi pada 11 September 2009 kemarin, saat pemerintahan Obama mengumumkan kenaikan tarif impor pada ban-ban1

Michael Schuman, Why the China-US Trade is Heating Up. http://www.time.com/time/business/article/ 0,8599,1922155,00.html, diakses pada 4 November 2009, pukul 05.20.Page | 2

produksi Cina menjadi 35%. Dua hari kemudian, Departemen Perdagangan Cina mengumumkan bahwa Cina akan mulai melakukan investigasi anti-dumping terhadap produk ayam dan otomotif dari AS. Walaupun kementrian Cina sama sekali tidak menyebutkan kaitan investigasi anti-dumping tersebut dengan kenaikan tarif ban yang diterapkan AS, jangka waktu yang relatif singkat dengan pengumuman kenaikan tarif ban, menjadikan kebijakan Cina tersebut seakan merupakan reaksi2 terhadap keputusan Obama. Spekulasi terhadap faktor utama yang mendasari penerapan kebijakan investigasi anti-dumping yang diterapkan pemerintah Cina terhadap impor ayam dan otomotif AS pun terus bergulir. Makalah ini kemudian akan mencoba menganalisa faktor-faktor utama yang mendasari penerapan kebijakan tersebut.

1.2. Pertanyaan Permasalahan Makalah ini akan mencoba menjawab pertanyaan: Mengapa pemerintah Cina menerapkan kebijakan perdagangan berupa investigasi anti-dumping terhadap impor produk ayam dan otomotif Amerika Serikat?

1.3. Kerangka Konsep

1.3.1. Kebijakan Anti-Dumping dalam Perdagangan Internasional Dalam kerangka perdagangan internasional, World Trade Organization (WTO) mengijinkan anggotanya untuk melindungi industri domestik pada suatu kesempatan tertentu dan dengan metode tertentu. Metode ini, yang oleh John Ruggie diistilahkan sebagai embedded liberalism, mengajak negara untuk meliberalisasikan perekonomiannya, sekaligus mengijinkan mereka untuk mengadopsi metode-metode tertentu untuk

memperingan tekanan pada buruh domestik dan pada kepentingan bisnis tertentu.3 Kebijakan anti-dumping, karenanya, diperbolehkan penggunaannya untuk melawan berbagai praktik tidak adil dari perdagangan internasional, seperti misalnya lewat pelaksanaan dumping dan2

3

Michael Schuman menyebut keputusan Cina ini sebagai an-eye-for-an-eye reaction to Obamas decision. Lihat Ibid. John G. Ruggie, Embedded Liberalism Revisited: Institutions and Progress in International Economic Relations, dalam E. Adler dan B. Crawford (ed.), Progress in Postwar International Relations, (New York: Columbia University Press, 1991), hal. 201234.Page | 3

pemberian subsidi4, terutama apabila ada bukti-bukti bahwa penjual luar negeri melakukan dumping. Tarif untuk melawan dumping ini diizinkan dalam International Anti Dumping Code yang ditandatangani oleh kebanyakan anggota GATT dalam tahun 1967.5 Dumping sendiri didefinisikan sebagai diskriminasi harga secara internasional di mana suatu perusahaan yang mengekspor menjual di pasar luar negeri dengan harga yang lebih rendah daripada di pasar-pasar (biasanya di dalam negerinya sendiri) lain.6 Praktik dumping sendiri dapat dibagi menjadi dua macam, yaitu dumping yang bersifat perampasan (predatory dumping), yang terjadi bila perusahaan melakukan diskriminasi dan menguntungkan untuk sementara pembeli di luar negeri dengan tujuan untuk menghilangkan beberapa saingan dan setelah saingan itu menyingkir, harga kembali dinaikkan; dan dumping yang bersifat terus-menerus (persistent dumping) yang berlangsung tanpa batas waktu.7 Praktik dumping sendiri dapat terjadi karena pemerintah suatu negara cenderung menerapkan hambatan tinggi dalam perdagangan (high trade barriers), menyediakan subsidi, atau membiarkan adanya kartel sehingga para eksporter di negara tersebut dapat memperoleh keuntungan maksimal dari penjualan produknya di suatu negara, dan keuntungan itu kemudian digunakan untuk mempermurah harga jual produk tersebut di negara lain. Sehingga yang terjadi adalah harga impor suatu barang akan lebih rendah dibanding harga barang sejenis dari negara lain yang tidak menerapkan high trade barriers, subsidi, atau kartel. Bila suatu negara terbukti melakukan dumping, negara korban dapat menerapkan tarif terhadap produk dumping tersebut, sebesar jumlah yang sama dengan dumping margin8. Pertemuan GATT tahun 1947 mendefinisikan dumping sebagai praktik perdagangan di mana produk sebuah negara diperdagangkan ke negara lain pada harga yang lebih rendah dari nilai sebenarnya produk tersebut. Awalnya dumping didefinisikan sebagai kebijakan menjual dengan harga lebih rendah daripada harga yang adil, less than fair value (LTFV), akan tetapi seiring perkembangannya, terjadi berbagai amandemen terhadap definisi dumping4

5

6 7 8

Scott Kennedy, Chinas Porous Protectionism: The Changing Political Economy of Trade Policy, dalam Ka Zeng (ed.), Chinas Foreign Trade Policy: The New Constituencies, (New York: Routledge, 2007), hal. 76. Peter H. Lindert, dan Charles P. Kindleberger. Ekonomi Internasional, dalam Rudy Sitompul (ed.), (Jakarta: Penerbit Erlangga, 1987), hal. 181. Ibid, hal. 179. Ibid. dumping margin dimengerti sebagai perbedaan antara harga ekspor suatu produk dengan harga normal produk tersebut tanpa praktik dumping.Page | 4

dalam perdagangan internasional. The Tokyo Round pada tahun 1979, misalnya, menyebutkan bahwa definisi LTFV tersebut diperluas tidak hanya dalam diskriminasi harga, tetapi juga dalam penjualan di bawah harga normal. 9 Berbagai perubahan definisi pada kebijakan dumping ini tentunya berpengaruh pada kebijakan anti-dumping itu sendiri, karena kebijakan anti-dumping baru dapat dijalankan apabila suatu negara terbukti melakukan praktik dumping. Dalam hal ini, kebijakan anti-dumping berupa pajak dumping dapat dikenakan apabila aksi dumping tersebut dapat menyebabkan kerugian material pada industri domestik.10 Unsur kerugian material pada industri domestik yang menjadi prasayarat penerapan kebijakan anti-dumping pun pada perkembangannya terus berkembang. Patrick Low menyebutkan bahwa setiap industri yang merasa dirinya diperlakukan tidak adil oleh perusahaan asing dan dapat membuktikannya melalui petisi pengajuan kebijakan anti-dumping, memiliki kesempatan besar untuk membuktikan dirinya mengalami kerugian material.11 Perkembangan yang terus-menerus terjadi pada definisi dumping dan pada definisi kerugian material tersebut menjadikan penerapan praktik kebijakan anti-dumping menjadi berbeda-beda di setiap negara. Yang menjadi persamaan dari setiap kebijakan anti-dumping itu adalah semua kebijakan anti-dumping negara-negara dunia pasti berdasar pada the WTO guidelines anti-dumping code, di mana WTO guidelines itu sendiri sebenarnya masih kabur. Tidak mengherankan, masih kaburnya aturan dari WTO mengenai kebijakan anti-dumping membuat terdapat berbagai variasi substansial mengenai undang-undang anti-dumping, di mana setiap negara akan mengklaim kebijakannya sebagai yang paling adil.12

1.3.2. Kebijakan Anti-Dumping di Cina Awalnya, Cina belum mengenal adanya kebijakan anti-dumping (AD). Akan tetapi, seiring dengan pengajuan kebijakan AD pada produk-produk ekspor Cina, Cina mulai memahami pentingnya penggunaan AD untuk melindungi industri domestiknya dari berbagai9

Peter H. Lindert, dan Charles P. Kindleberger, op.cit., hal. 255. Bruce A. Blonigen, dan Thomas J. Prusa, Antidumping, dalam E. Kwan Choi dan James Harrigan, Handbook of International Trade, (Oxford: Blackwell Publishing, 2003), hal. 254. 11 Patrick Law, Trading Free: The GATT and US Trade Policy. (New York: The Twentieth Century Fund Press, 1993), hal. 86. 12 Blonigen dan Prusa, op.cit., hal. 256.10

Page | 5

praktik perdagangan internasional yang tidak adil. Pemaka