web view pada sebuah gua yang lapuk dan sangat lembab. gua ini adalah istana ratu ular, di dalam gua...

Click here to load reader

Post on 21-Aug-2020

3 views

Category:

Documents

0 download

Embed Size (px)

TRANSCRIPT

DELAJJAM

Karya Rido Amilin H.E

[email protected]

PERHATIAN!

Bila Anda akan mementaskan naskah ini mohon untuk menghubungi penulis naskah untuk sekedar pemberitahuan.

DELAJJAM

Karya Rido Amilin H.E

PARA PELAKU PELAKU PANGGUNG / AKTOR

1. Dulfatih Arwiraya Kusuma(Seorang pengembara tampan yang terlahir sebagai Delajjam Kedatuan)

2. Bujang Kurap(Dulfatih dalam bentuk lain)

3. Umak ( Nek Rokiah ):(Ibu angkat dulfatih / bujang kurap)

4. Latusko Kammal(Raja kubu dalam Penguasa tertinggi di kalangan masyarakat)

5. Obanda Siden(panglima perang)

6. Usen Cangok(Adik kandung Latusko Kamal)

7. Mansor Hasan (Peserah raja sebelum raja)

8. Kulop Koplik(Bujang tua PDKT-an Rokiah Sekaligus pekerja seni)

9. Putri Sayati dan Sayatin(Putri raja kembar)

10. Zat Zubeida (Istri Rajo / Ibu dari Sayati dan Sayatin)

11. Kubu Laot(Perompak / Orang-orang yang hidup disungai)

12. Orang-orang darat(Masyarakat yang tinggal di dusun Sungai Jernih)

13. Algojo / Anak Kapak : Prajurit.

BABAK SATU(Teaser)

Pekan 1

PADA SEBUAH GUA YANG LAPUK DAN SANGAT LEMBAB. GUA INI ADALAH ISTANA RATU ULAR, DI DALAM GUA CAHAYA COLOP SAMAR-SAMAR TIDAK TERLALU TERANG. COLOP MENGHIASI SISI-SISI UJUNG DI DALAM GUA. SEMENTARA TERLIHAT SEBUAH KURUNGAN YANG BERBENTUK BUBU IKAN, BUBU ITU TERGANTUNG SATU METER DARI TANAH. BUBU ITU BERWARNA GELAP DAN TERBUAT DARI KAYU RENGAS BULAT. SEDANGKAN DI BELAKANG BUBU TERDAPAT SEBUAH KELAMBU BESAR BERWARNA PUTIH. KELAMBU ITU BERSEGI EMPAT, LALU KASURNYA DIBALUTI KAIN MERAH BESAR. JUGA DI TIANG-TIANG KELAMBU ITU ADALAH KAYU-KAYU YANG TERUKIR SEPERTI LILITAN ULAR DI TIANG, SEMENTARA DI ATAS KELAMBU TERDAPAT SIMBOL KEPALA ULAR. SELAIN ITU DI LANTAI GUA BERSERAKAN LENDIR DAN SISIK ULAR DI ATAS BATU-BATU BULAT YANG TIDAK TERSUSUN RAPIH.

KEMUDIAN SEORANG TUBUH TUA BERJALAN MENUJU BUBU, TUBUHNYA MEMBUNGKUK, TUBUH TUA MEMBAWA SATU LAMPU KECIL YANG TERIKAT DI UJUNG TONGKAT KECILNYA. SEMENTARA BENTUK TUBUH MANGYANG BERSISIK-SISIK SEPERTI ULAR BERWARNA PUTIH, RAMBUT, DAN KULIT-KULITNYA.

SUARA-SUARA SUNYI MENGUMPAL DI DALAM GUA, LALU SUARA DESIT ULAR YANG LAPAR BEGITU TERDENGAR PANJANG SEKALI. DULFATIH TERSADARKAN DARI TEMPATNYA DI KURUNG.

TUBUH TUA : (DI IRINGI OLEH GITAR TUNGGAL) Berlagu. Tubuhku malang tubuh ku malang, kini kumakan sisa harapan.Tubuhku hilang tubuhku hilang, kapankah datang mengulang petang. Sudah kelam kini malamnya akan datang, malam tanpa tamu, malam tanpa di undang. Bukan harapan bukan pula keharusan, namun kembali sudah memang pasti. Datanglah pagi sambutlah jeritan di dusun mati.

(DIALOG BIASA)

Seorang tua seperti awak ini. Hanya dapat membina. Kemudian berharap. Setelah berharap banyak, sedikit tersenyum. Sungguh malang nasibnya. Masa yang begitu sulit. 7 tahun telah berlalu. Kini mungkin engkau sudah tumbuh menjadi pemuda yang genap berusia 20 tahun. Oh Panangkulanta… Malang sekali nasibmu.

Darahnya mengalir. Tubuhnya kejang-kejang lalu suaranya tak dapat didengarkan lagi. Hingga seorang Delajjam berkain silang kuning mengorok lehernya, sampai terpisah dari tubuhnya. Perlahan-lahan darahnya tertumpah dan kepalanyapun terpisah dari badan yang kaku dan dingin itu. Kuat sekali mandaumu menebang kepalanya.Oh anak manusia. Dengar! Meskipun tuju purnama engkau bertapah. Tak akan mampu menguba takdir yang telah kau penggal kepalanya itu. Engkau telah memberi sudah sepantasnya di balas kembali. Engkau sudah membuat jalan yang salah.

DARI TEPI PANGGUNG TERDENGAR SUARA DESIT-DESIT SUARA ULAR YANG BERIRAMA PANJANG DAN MENDAYU-DAYU. SEMENTARA DI SISI KANAN DUA ORANG BERJALAN PELAN, TUBUHNYA BERWARNA KUNING, DAN MERAH, SEDANGKAN KULITNYA BERSISIK-SISIK SEPERTI ULAR. SEMENTARA DUA ORANG DI SISI KIRI, BADANYA BERWARNA HITAM DAN HIJAU, TUBUHNYA JUGA BERSISIK-SISIK. DUA ORANG INI MEMANGGUL SEONGGOK ULAR YANG TIDAK BERKEPALA. SEMENTARA KEPALANYA DI BAWA OLEH DUA ORANG DARI KANAN. MEREKA MENDESIT HINGGA SUARA YANG RISAU DAN BEGITU PILU MEMENUHI DI DALAM GUA.

ORANG ORANG : Dia membunuh.. Dia membunu… Dia harus menerima sumpah. Dia telah membunuh Pangeran Ular. Hukum.. hukum.. hukum…

TUBUH TUA : Pangeran telah mati selamnya. Tubuhnya tumbuh lubang-lubang. Aroma busuk mulai menyulapi istana. Dendam, air mata darah terus mengalir, hingga ketepian lembah penderitaan. Segalanya tertuju padamu. Kau harus bertanggung jawab. Dengan darah! Dengan darah!!!

ORANG ORANG : Kematian harus dibayar dengan kematian! Bunuh dia! Oh tuanku Pangeran Panangkulanta (MENGELILINGI BUBU DENGAN ARAKAN KAKI DAN TANGAN YANG SEIMBANG)

DULFATIH : Aku tidak sengaja! Jangan hakimi aku. Sungguh ampunilah kesalahanku. Jangan, jatuhi sumpah itu. Jangan. Bebaskan aku!! Aku seorang pangeran.

(BERSYAIR)

TUBUH TUA : Nasib anak malang dimakan kelam.Menangung beban menangung kekesalan.Oy malang… Oh Panangkulanta pangeran kecil yang melarat nasibnya. Kini engkau telah tiada.

ORANG ORANG : (BERIRAMA SERENTAK) Nasib tuanku malang!Nasib dimakan separuh jalan! Oh Panangkulanta.

DULFATIH : Tidak! Tidak! (TIPU DAYA MANGYANG) Jangan kutuk aku. Oh Tubuhku, mataku rasanya , begitu sangat kelam. Seluruh tubuhku terasa gatal. Oh kulit-kulitku. Wahai Tubuh Tua, adakah jalan yang dapat ku tempuh untuk menuai segala kesengsaraan ini? Ayahku memiliki kekayaan yang melimpah, emas, perak, garam dan segala-galanya. Bila kau ingin ambilah akan ku serahkan semuanya. Tapi jangan kutuk aku.Jangan…

(ORANG-ORANG DAN TUBUH TUA BERJALAN KELUAR DENGAN TARIAN).

Tidak jangan pergi. Tulonglah jangan pergi. Ampunlah segala kelakuanku. Aku menyesal. Kembali.. kembali…

TUBUH TUA : (BERHENTI MENATAP TAJAM) Penyesalan adalah akhir dari segala perbuatan yang memalukan. Hanya ada satu cara untuk kembali.

DULFATIH : Apa itu kumohon katakanlah!

TUBUH TUA : Perjalana panjang menuju pengambdian, sangat lama. Begitu lama. Tujuh purnama melingkar tunggal. Kau harus samapai pada waktu yang berliku, penuh kesakitan, penuh penderitaan. Lebih gelap dari lorong-lorong penderitaan di dunia.

DULFATIH : Tidak! aku tidak akan melakukanya. Aku akan menolak itu! Kau telah merendahkan martabat kedatuan ku.

TUBUH TUA : (TERTAWA) Terimalah, engkau akan menemukanya. Waktumu ditunggangi pada purnama tunggal dan tegak di sebuah kekuasaan yang begitu kejam. Tidak ada batas yang dapat menghentikanya. Tidak ada ilmu yang dapat menangkisnya. Engkau akan mendapatkanya. Meskipun engkau telah melampau ajian-ajian yang di turuni oleh puyang sipahitmu. 7 purnama tunggal telah engkau tanggali dalam pertapaanmu. Tetap saja. Tidak ada jalan untuk mengelak. Takdirmu telah di tentukan. Waktumu hanya tersisi empat purnama. Tepat di puncak purnama tunggal yang melingkar. Sambutlah takdirmu (TERTAWA) Ratu akan memakanmu!

DULFATIH : (MENYESAL) Tidak, jangan lakukan ini. Oyumak… malang nian nasib awak ini.. Malang nian. (TERUS MENANGIS DIDALAM KOTAK PENJARA)

SUARA TANGIS LENYAP, LALU SUARA GONG DAN GENDANG BURDAH TAMPAK BERTABUH BEGITU RAMAINYA. ORANG-ORANG BERTUBUH ULAR MASUK DENGAN RITME YANG PELAN, DUA ORANG MEMBAWA MANGKUK BATU YANG BERISI BARA API DAN ASAPNYA TERUS KELUAR LALU MELETAKANYA DI ATAS DUA BATU, KANAN DAN KIRI. SEDANG IA BERJALAN DENGAN DESITAN-DESITAN YANG MENGERIKAN. TAMPAK DI BELAKANG MEREKA SEORANG RATU ULAR YANG DATANG DI DAMPINGI OLEH TUBUH TUA / MANGYANG. TUBUH TUA HANYA MENDESIT-DESIT TANPA BERKATA-KATA, SEMUA KEPALA TERTUNDUK TIDAK MENATAP RATU ULAR. RATU ULAR MENGENAKAN SEBUAH BAJU BERWARNA HITAM YANG DI LENGKAPI DENGAN ULAR-ULAR YANG MELILIT DI TUBUHNYA. SEDANGKAN DI ATAS KEPALANYA MAHKOTA EMAS LAMBANG ULAR MEMANCAK TEGAK.

DI DALAM BUBU DULFATIH TERUS MERONTAH-RONTAH HENDAK KELUAR DARI DALAM BUBU.

TUBUH TUA: (KEPALANYA MENUNDUK) Ratu, lihatlah siapa yang terkurung di dalam bubu itu. Dia lah orang nya. Dia-lah yang merengut nasib malang Pangeran Panangkulanta.

DULFATIH: Siapa kau, tidak jangan mendekat.

RATU ULAR: Akulah ibu dari tubuh yang telah kau penggal kepalanya. Tuju hari telah berlalu, tubuhnya dipenuhi oleh belatung. Ulat-ulat jahanam itu telah memangsa tubuhnya. Tubuhnya berlubang-lubang juga berna-nana. Engkau telah melakukan hal yang salah pangeran.

DULFATIH: Ratu ampuninlah segala perbuatanku, aku tidak sengaja memenggal kepala anakmu. Sungguh semuanya di luar dugaanku. Jika ayahku tahu aku yakin ia akan sangat murka padamu. Biarkan aku pulang. Tidak akan ku ceritakan apa-apa kepada ayahku.

RATU ULAR: Hal yang sama dilakukan putraku bila berada pada posisimu pangeran. Kau seorang pangeran yang rakus. Kejam. Tidak berbelas kasihan. Bagaimana dapat aku membelasimu dengan kasihan-kasihan yang panjang. Tidak akan ada manusia yang mampu mencari tempat ini. Sekalipun kesaktianya sudah menguasi tuju belas ribu purnama, dan tuju belas ribu pertapaan.

TUBUH TUA: (TUBUH TUA MENGAMBIL SEBUAH BOTOL TERBUAT DARI KAYU YANG BERISI RACUN, LALU MEMBERIKAN KEPADA RATU ULAR) Ratu, telah kami siapkan racun yang sangat mematikan.berilah perintah kami untuk melumat racun ini pada terkutuk yang sudah membunuh pangeran Panangkulanta.

RATU ULAR: Tubuh tua buat dia tidak sadarkan diri.

TUBUH TUA: Tapi ratu, dia sudah memenggal kepala pangeran ular.

RATU TUA: (MATANYA MELOTOT)Lakukan apa yang aku perintahkan.

TUBUH TUA: (MENGANGGUK), Sit.sitt… sittttt….

ORANG ORANG: (BANGKIT MEMBAWAKAN MANGKUK DENGAN ASAP YANG MENYALA).

DULFATIH: Tidak ratu, lepaskan aku.. lepaskan aku (MENANGIS)

TUBUH TUA: (MENGELILINGI BUBU LALU MENGELILINGI DULFATIH DENGAN MEMBACAKAN MANTRA). Sitttss.. sittss… sitttss… Payo e toboh ketong beropong-ropong..Beropong-ropong. Kubang lingong..Nak nampong ke suare, suare mate yang beropong-ropong tenung ku salip pada titik yang dalam. Tenung k