sm 3 hermeneutika tafsit ahmad khan

Download Sm 3 Hermeneutika Tafsit Ahmad Khan

Post on 24-Jun-2015

289 views

Category:

Documents

7 download

Embed Size (px)

TRANSCRIPT

TAFSIR ALQURAN SYED AHMAD KHAN;Studi Analisis dari Perspektif Hermeneutik

Makalah Perbaikan Mata Kuliah Hermeneutika Program Studi S3 Agama dan Filsafat Islam

Disusun oleh: Parluhutan Siregar

Dosen Pembimbing Dr. Yusuf Rahman

PROGRAM PASCASARJANA IAIN SUMATERA UTARA MEDAN 2010

TAFSIR ALQURAN SYED AHMAD KHAN; Studi Analisis dari Perspektif Hermeneutik Parluhutan Siregar A. Pendahuluan Syed Ahmad Khan (1817-1898) adalah seorang pembaru Islam di Anak-benua India. Pembaruan Khan meliputi banyak aspek, terutama di bidang politik, sosial, pendidikan, dan pemikiran keagamaan. Karena pemikiran dan usaha-usahanya, Khan dijuluki Bapak Pembaruan Islam India dan Bapak Tafsir Modernis. Pemikiran keagamaan Ahmad Khan didasarkan pada prinsip-prinsip pengetahuan modern. Pengetehuan modern tersebut digunakan untuk menafsirkan kembali ajaran Islam dan memahami konsep Alquran. Dengan kesungguhan yang luar biasa, ia berusaha mempertemukan ajaran Islam dengan perkembangan kontemporer, dan mempublisnya melalui media publikasi dan pendidikan. Karena kepiawaian, keberanian dan ketegasannnya melakukan pembaruan membuat Khan sebagai sosok yang sempurna bagi upaya modernisasi. Kebesarannya tidak hanya terekam dari pemikiran dan gerakannya yang unik dan luar biasa, tetapi juga pada kemampuannya mendorong dan menyumbangkan kemajuan bagi orang lain. Metode penulisan Ahmad Khan terhadap kitab Tafsir Alquran menarik untuk dikaji ulang. Isi kitab tafsir ini tergolong ganjil, karena menyimpang dari tradisi penulisan kitab-kitab tafsir Alquran sebelumnya. Penafsiran Ahmad Khan terhadap ayat Alquran banyak dipengaruhi oleh sains, sehingga dengan sangat jelas merefresentasikan pemikiran pemikiran modern, dan metodenya pun berbeda dengan metode tafsir lainnya. Para ahli kontemporer menggolongkan metode penulisan kitab Tafsir Khan ini ke dalam kelompok hermeneutik. Fakhruddin Faiz menyebut Khan sebagai tokoh Islam yang menggeluti kajian Hermeneutika sejajar dengan tokoh lainnya di India, seperti, Amir Ali dan Ghulam Ahmad Parves. Alasannya, kitab tafsir Ahmad Khan berusaha melakukan demitologisasi konsep-konsep dalam Alquran yang dianggap bersifat mitologis.1 Mengingat peran Ahmad Khan yang besar dalam usaha pembaruan, pembahasan mengenai penafsiran Alquran menjadi semakin penting dikaji ulang. Aspek-aspek yangFaiz, Fahruddin, Hermeneutika Al-Quran, Tema-tema Kontroversial, (Yogyakarta: elSAQ, 2005), h. 14-15.1

2

perlu diungkap tersimpul pada tiga pertanyaan berikut; Bagaimana cara-cara penafsiran Alquran dengan memanfaatkan sains modern dilihat dari kacamata hermeneutik? B. Mengenal Syed Ahmad Khan Ahmad Khan lahir pada tahun 1817 di Delhi. Ia dibesarkan dalam keluarga yang taat beragama. Dari pihak ayah, Muhammad Muttaqy, keluarga Khan masih memiliki hubungan geneologis dengan Husein cucu Nabi Muhammad. Moyangnya berasal dari Iran yang pindah ke Delhi pada masa pemerintahan Akbar Syah. Atas dasar hubungan geneologis ini keluarga Ahmad Khan digelari Sayyid.2 Ahmad Khan dapat disebut seorang otodidak, karena tidak ada satu jenis pendidikan formal pun yang benar-benar diselesaikannya. Pengetahuan agama tradisional, seperti Alquran, Bahasa Arab dan Parsi, yang dipelajari dari ibunya dan Syekh Ghulam Ali, seorang pemimpin tarikat mujaddidi yang cukup disegani, tidak sampai pada tingkat mahir. Ia beralih ke pengetahuan umum, seperti matematika dan astronomi, tetapi juga tidak ditekuni secara intensif dan hanya berlangsung beberapa waktu.3 Pengetahuan lain diperoleh Khan ketika bekerja sebagai pegawai pemerintah. Selama 8 tahun di Delhi, Khan banyak bergaul dengan para pemuka Muslim India, seperti Ghalib (sasterawan), Maulvi Wilayat Ali, Maulvi Inayat Ali dan Maulvi Abdullah (para pembaru, pengikut Syah Waliyullah), Nawab Ahmad Baksh dan Nawab Aminuddin (negarawan), Mahmud Khan (hakim) serta Nawab Mushthafa Khan (ilmuwan)4. Pergaulan ini menumbuhkan kesadaran baru bagi Khan atas keterbatasan ilmunya, sehingga ia merasa perlu menyempurnakannya. Dari kesadaran itu, Khan semakin mencintai pengetahuan dan terus belajar, sampai ia berhasil menyelesaikan pendidikannya dan sekaligus mengangkat posisinya menjadi seorang intelektual.

Ahmad Amin, Zuama al-Ishlah fi al-Ashr al-Hadis, (Qohiroh: Maktabah al-Nahdhah al-Mishriyyah, 1979), h. 133. John L. Esposito, The Oxford Encyclopedia of the Modern Islamic World, (New York: University Press, 1995), p. 57. 3 John L. Esposito, The Oxford., p. 57. 4 A. Mukti Ali, Alam Pikiran Islam Modern di India dan Pakistan, (Bandung: Mizan, 1995), h. 56-57.2

3

Pada tahun 1869 Ahmad Khan mendapat kesempatan berkunjung ke Inggris5. Kunjungan sekitar 17 bulan tersebut ternyata cukup banyak membentuk pemikirannya. Berbabagai kemajuan yang dilihat Ahmad Khan di negara Inggris membuka mata dan hatinya atas kondisi sumber daya manusia di negerinya yang berada jauh di bawah bangsa Eropa. Kesadaran itulah yang mendorong Khan mengambil keputusan untuk melakukan moderniasasi di India.6 Keputusan ini membentuk gagasan dan aktifitasnya pada masa-masa selanjutnya sampai ia meninggal dunia pada tahun 1898. C. Pembaruan Ahmad Khan Setidaknya ada tiga tahapan penting --dalam perjalanan hidup Ahmad Khan-yang dapat digunakan untuk menganalisis corak pemikirannya dalam pembaruan. Ketiga tahapan dimaksud adalah periode sebelum peristiwa mutiny7, periode pasca mutiny, dan periode setelah kunjungan ke Inggris. Sebelum mutiny (revolusi) tahun 1857, pemikiran Ahmad Khan masih menggambarkan corak ketimuran dan belum terpengaruh oleh pemikiran dan budaya Barat modern. Tulisan-tulisannya pada waktu itu lebih menonjolkan bidang sastera atau sainssains Islam abad pertengahan. Gagasan-gagasan keagamaan yang ditawarkan juga lebih menonjolkan upaya-upaya pemurnian agama, yang lebih-kurang sejalan dengan pandangan kaum Wahhabi.8 Pasca mutiny, Ahmad Khan mulai memperlihatkan corak pemikiran dan sikap berbeda dari mainstrem ulama dengan memperkenalkan ilmu-ilmu modern; suatu pengetahuan yang masih dianggap merusak9 oleh kaum ulama konservatif.Menurut Abul Hasan al-Nadwi, kunjungan Ahmad Khan ini sampai ke Prancis serta bersama Ferdinand De Lesseps melakukan perjalanan ke Terusan Suez. Pada saat ini pula pemerintah Inggris memberikan gelar C.S.I (Sir) kepada Ahmad Khan. Lihat Ali Nadwi, Western Civilization Islam and Muslim, terjemahan Inggris oleh Mohammad Asif Kidwal, (Lucknow: Academy of Islamic Research and Publications, edisi ke-3, 1978), h. 68-69. 6 W. C. Smith, Modern Islam in Idia: A Social Analysis, (New Delhi: Usha Publications, 1979), p. 11. 7 Peristiwa mutiny (pemberontakan Sepoy) pada 1857 merupakan masa kritis yang membawa perubahan besar bagi jalan hidup Ahmad Khan. Pada saat pemberontakan terjadi, Khan dengan tegas mengecam para pemeberontak dan ia bertindak sebagai pelindung orangorang Inggris. Lebih jauh, Khan berusaha untuk meyakinkan pemerintah Inggris ketidakterlibatan umat Islam dalam gerakan revolusi, dengan mengungkapkan beberapa nama orang Islam terkemuka yang memihak pada Inggris. Dalam buku The Causes of the Indian Revoll (1859), Khan menjelaskan bahwa, jika ada orang-orang Islam yang terlibat dalam pemberontakan, maka hal itu adalah karena kebodohan. Lihat Harun Nasution, Pembaharuan dalam Islam: Sejarah Pemikiran Gerakan, (Jakarta: Bulan Bintang, cet.2, 1995), h. 166-167; A. Mukti Ali, Alam Pikiran, h. 60-61; Ahmad Amin, Zuama, h. 134; 8 W. C. Smith, Modern Islam h. 9. 9 Ahmad Amin, Zuama., h. 130.5

4

Periode ketiga ditandai dengan kesungguhan Ahmad Khan untuk memodernisasi pemahaman ajaran Islam dengan menggunakan pendekatan rasional dan empiris. D. Paradigma dan Metode Penafsiran Alquran Karya-karya tafsir ditulis Ahmad Khan setahun setelah didirikannya Aligarh College. Pada dasarnya, Ahmad Khan tidak secara khusus mempersiapkan sebuah kitab tafsir yang lengkap, melainkan hanya memilih beberapa tema yang berkaitan dengan masalah-masalah yang dianggapnya penting pada masanya. Masalah-masalah dimaksud berkaitan dengan fenomena alam, dan hal-hal yang berkaitan dengan aqidah dasar umat Islam, serta hubungan Muslim-Nonmuslim. Semua tema itu ditulis dalam bentuk esei, kemudian dikoleksi menjadi kitab, baik dalam bentuk kumpulan esei maupun dalam bentuk Kitab Tafsir.10 Tulisan-tulisan Ahmad Khan yang berkenaan dengan penafsiran Alquran dapat dikelompokkan pada tiga kategori; (1) karya tulis yang membahas tentang prinsip-prinsip dan pendekatan dalam penafsiran; (2) karya tulis yang menafsirkan Alquran secara fragmentaris sesuai topik-topik tertentu; dan (3) karya tulis yang menafsirkan Alquran khusus surat-surat tertentu secara lengkap. Dengan demikian, jika ingin mendalami pikiran-pikiran Ahmad Khan berkaitan dengan penafsiran Alquran harus dirujuk pada tiga kategori karya tulis tersebut. Karya kategori pertama ditulis Ahmad Khan dalam bentuk artikel yang kemudian menghasilkan sebuah antologi mengenai prinsip-prinsip tafsir Alquran. Kumpulan artikel ini diberi judul Tahrir fi Ushul at-Tafsir (1892). Kehadiran Tahrir bermula dari korespondensi Khan dengan Muhsin al-Muluk Mahdi Ali Khan, seorang sahabat dekatnya, yang banyak tidak setuju dengan metode penafsiran Alquran yang diterapkan Ahmad Khan.11 Prinsip-prinsip dasar yang ditulis Khan dalam Tahrir dinilai cukup penting dalam memahami argumentasinya menafsir Alquran dengan cara-cara yang tidak lazim.10

Amal, Taufik Adnan, Ahmad Khan: Bapak Tafsir Modern, (Jakarta: Teraju, 2004), h.

79.

Tafsir Ahmad Khan dipublikasikan secara berangsur-angsur. Ia mulai menulis tafsir tahun 1879 dan berakhir tahun 1898. Tafsir Ahmad Khan tidak hanya mendapat resistensi dari kaum ulama ortodoks, tetapi juga dari sahabatnya sendiri Nawab Muhsin al-Mulk. Dengan sahabatnya Khan berpolemik melalui korespondensi, yang kemudian kumpulan tulisan itu menghasilkan sebuah kitab. Kumpulan tulisan tentang prinsip tafsir ini dipublikasikan pada 1892 dengan nama Tahrr fil-Usl al-tafsr. Lebih lanjut lihat