hermeneutika abu hamid al-ghazali dalam …

of 15 /15
16 HERMENEUTIKA ABU HAMID AL-GHAZALI DALAM MEMAHAMI MAKNA GERHANA Oleh : SUDARMADI PUTRA, M.Ud ABSTRAK Tulisan ini mengungkap tentang siapa itu Abu Hamid Al-Ghazali dan bagaimana hermeneutiknya terhadap gerhana di alam semesta ini. Penelitian ini menggunakan studi pustaka. Imam Al- Ghazali atau al-Ghazali seorang ulama yang sangat generalis. Yang mungkin sulit dicari pengganti sesudah beliau hingga saat ini. Kontribusinya yang ditorehkan untuk Islam menjadikan beliau sebagai Imam para penulis. Hampir ratusan kitab yang ditulis dari buah pikirannya. Seorang Filsuf, Sufi, kalam, dan Mufassir serta Faqih. Hermeneutiknya terhadap al-Qur’an menggunakan metode kebanyakan para ulama ahlusunnah, yaitu menggunakan metode tafsir bilmatsur dan bil ra’yi, isoterik-eksoterik. Hasil dari penelitian ditemukan bahwa Corak penafsiran Abu hamid Al-Ghazali cenderung bersifat sufistik dengan Metode al-Takhaliyah dan al-Tahaliyah maksudnya membersihkan jiwa dengan bermujahadah dari sifat-sifat tercela. Setelah bersih, jiwa akan mempunyai potensi besar untuk melakukan sifat-sifat yang luhur. kolaborasi yang seimbang di antara ilmu jiwa dan akhlaq mulia serta sebagai kompromi antara makna zahir dan makna batin alquran (tekstual dan kontekstual). Kata Kunci : al-Ghazali, hermeneutik, gerhana. telah sangat populer di Indonesia jauh sebe- lum munculnya istilah hermeneutika. Istilah yang kedua ini baru agak terasa nuasanya pada dasawarsa terakhir ini. 1 Selain itu, oleh sebagian kalangan, hermenutika juga dilihat dengan penuh curiga karena ia berasal dari Barat dan digunakan untuk analisis terha- dap Bibel. Karena itulah, kemudian muncul perbedaan pendapat bahkan “kontroversial” tentang hermenutika. Sebagian kalangan me- nerima hermeneutika dan menganggapnya sebagai metode modern, bagus dan valid, se- hingga menepiskan tradisi-tradisi pemikiran Islam yang sesungguhnya tidak kalah cang- gih. Sebagian lainnya menolak hermenutika 1 Nashruddin Baidan, Wawasan Baru Ilmu Tafsir, Cetakan I (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2005). A. Pendahuluan Memahami al-Qur’an dan Hadis (Islamic Studies) dalam perspektif hermeneutika ada- lah sebuah ikhtiyar untuk menggali makna dan isi kandungan yang lebih komprehensif secara mendalam terhadap kedua pusaka tersebut. Disamping dengan ilmu tafsir yang sudah ada. Di kalangan bangsa kita tidak asing lagi dengan istilah ini karena sudah diperke- nalkan bahkan sudah yang melekat kepada mereka sejak Islam mulai datang ke bumi Nu- santara ini sekitar abad pertama dan kedua Hijriah( VII-VIII M). Meskipun fakta ini masih memerlukan fakta lain yang lebih signifikan, namun suatu hal yang tidak dapat dibantah dan dipungkiri ialah bahwa term ilmu tafsir

Author: others

Post on 07-Nov-2021

11 views

Category:

Documents


0 download

Embed Size (px)

TRANSCRIPT

Oleh : SUDARMADI PUTRA, M.Ud
ABSTRAK
Tulisan ini mengungkap tentang siapa itu Abu Hamid Al-Ghazali dan bagaimana hermeneutiknya terhadap gerhana di alam semesta ini. Penelitian ini menggunakan studi pustaka. Imam Al- Ghazali atau al-Ghazali seorang ulama yang sangat generalis. Yang mungkin sulit dicari pengganti sesudah beliau hingga saat ini. Kontribusinya yang ditorehkan untuk Islam menjadikan beliau sebagai Imam para penulis. Hampir ratusan kitab yang ditulis dari buah pikirannya. Seorang Filsuf, Sufi, kalam, dan Mufassir serta Faqih. Hermeneutiknya terhadap al-Qur’an menggunakan metode kebanyakan para ulama ahlusunnah, yaitu menggunakan metode tafsir bilmatsur dan bil ra’yi, isoterik-eksoterik.
Hasil dari penelitian ditemukan bahwa Corak penafsiran Abu hamid Al-Ghazali cenderung bersifat sufistik dengan Metode al-Takhaliyah dan al-Tahaliyah maksudnya membersihkan jiwa dengan bermujahadah dari sifat-sifat tercela. Setelah bersih, jiwa akan mempunyai potensi besar untuk melakukan sifat-sifat yang luhur. kolaborasi yang seimbang di antara ilmu jiwa dan akhlaq mulia serta sebagai kompromi antara makna zahir dan makna batin alquran (tekstual dan kontekstual).
Kata Kunci : al-Ghazali, hermeneutik, gerhana.
telah sangat populer di Indonesia jauh sebe- lum munculnya istilah hermeneutika. Istilah yang kedua ini baru agak terasa nuasanya pada dasawarsa terakhir ini.1 Selain itu, oleh sebagian kalangan, hermenutika juga dilihat dengan penuh curiga karena ia berasal dari Barat dan digunakan untuk analisis terha- dap Bibel. Karena itulah, kemudian muncul perbedaan pendapat bahkan “kontroversial” tentang hermenutika. Sebagian kalangan me- nerima hermeneutika dan menganggapnya sebagai metode modern, bagus dan valid, se- hingga menepiskan tradisi-tradisi pemikiran Islam yang sesungguhnya tidak kalah cang- gih. Sebagian lainnya menolak hermenutika
1 Nashruddin Baidan, Wawasan Baru Ilmu Tafsir, Cetakan I (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2005).
A. Pendahuluan
Memahami al-Qur’an dan Hadis (Islamic Studies) dalam perspektif hermeneutika ada- lah sebuah ikhtiyar untuk menggali makna dan isi kandungan yang lebih komprehensif secara mendalam terhadap kedua pusaka tersebut. Disamping dengan ilmu tafsir yang sudah ada. Di kalangan bangsa kita tidak asing lagi dengan istilah ini karena sudah diperke- nalkan bahkan sudah yang melekat kepada mereka sejak Islam mulai datang ke bumi Nu- santara ini sekitar abad pertama dan kedua Hijriah( VII-VIII M). Meskipun fakta ini masih memerlukan fakta lain yang lebih signifikan, namun suatu hal yang tidak dapat dibantah dan dipungkiri ialah bahwa term ilmu tafsir
17
dengan alasan bahwa ia adalah metode yang “berbahaya” yang dapat merusak teks suci umat Islam dan seterusnya2
Ilmu tafsir dan hermeneutika hampir memiliki persamaan keduanya, tetapi juga memiliki perbedaan yang sangat menonjol. Karena kedua memiliki berkonotasi penafsir- an atau interprestasi.3Ilmu tafsir berasal dari bahasa arab sedangkan hermeneutika ber- asal dari bahasa Yunani.4 Dalam Ilmu Tafsir setiap proses penafsiran tidak terlepas dalam tiga hal : 1) Siapa yang menyabdakan, 2) ke- pada siapa ia diturunkan, 3) ditujukan kepa- da siapa.5 Begitu juga dalam Hermeneutika ti- dak jauh beda dari yang dipakai ulama tafsir. Dalam teori hermeneutika terkenal dengan tiga prinsip pokok atau juga disebut “triad- ic structure”yakni satu struktur yang terdiri atas tiga unsur yang saling terkait, yaitu 1) teks, 2) interpreter, 3) audien. Ketiga aspek itu secara implisit berisi tiga konsep pokok yak- ni, 1) membicarakan hakikat teks, 2) apakah interpreternya memahami teks dengan baik dan 3) bagaimana suatu penafsiran dapat di- batasi oleh asumsi-asumsi dasar serta keper- cayaan atau wawasan para audien.
Dalam sejarah hermeneutika tafsir al- Qur’an, setidaknya terbagi menjadi dua: 1) hermeneutika al-Qur’an tradisional, dan 2) hermeneutika kontemporer. Dalam herme- neutika tradisional, perangkat metodologi yang digunakan sebatas pada linguistik dan riwayah. Jadi, belum ada rajutan sistemik antara teks, penafsir, dan audiens sasaran teks, meskipun unsur triadik ini telah hidup di dalamnya waktu itu. Sedangkan herme-
2 Achmad Khudori Soleh, “Membandingkan Hermeneutika Dengan Ilmu Tafsir” 7, no. 1 (n.d.).
3 E. Sumaryono, Hermeneutika Sebuah Metode Filsafat, Edisi Revi (Yogyakarta: Kanisius, 1999).
4 Eliade Mircea, Encyclopedia of Religion, VI (New York: Mac Millan Publishing Company, 1987).
5 Ibn Taimiyah, Muqaddimat Fi Ushul Al-Tafsir, Cetakan I (Kuwait: Dar al-Qur’an al-Karim, 1971).
neutika kontemporer telah melakukan peru- musan sistematis unsur triadik tersebut. Di dalamnya, suatu proses penafsiran tidak lagi berpusat pada teks, tetapi penafsir di satu sisi dan audiens di sisi yang lain, secara me- todologi merupakan bagian yang mandiri.6
Muhammad ‘Abduh pernah mengem- bangkan hermeneutik al-Qur’an untuk ma- syarakat umum dan mengaitkannya dengan kehidupan sehari-hari. Ia menegaskan bah- wa al-Qur’an haruslah dipahami dan diinter- prestasikan berdasarkan atas materi-materi al-Qur’an sendiri. Lain halnya dengan Ghazali atau Imam Ghazali, Meski Al-Ghazali sering menyerang fisafat, namun uniknya ia justru tetap menyayangi logika, yang jelas merupa- kan anak kandung filsafat (Yunani). Menurut- nya, di antara pengetahuan-pengetahuan filsafat yang lain, hanya logikalah yang pa- ling sedikit mengandung kesalahan. Bagi Al-Ghazali arti penting logika adalah bahwa logika merupakan muqaddimah (organon) bagi seluruh ilmu. Bahkan di dalam bukunya yang berjudul al-Mustasyfâ fî ‘Ilmi al-Ushûl ia menyatakan bahwa barang siapa yang tidak menguasai logika maka pengetahuannya ti- dak dapat dipercaya sama sekali.7
Lalu bagaimana Perspektif Hermeneutik Ghazali terhadap ayat-ayat al-Qur’an pada umumnya, dan terhadap gerhana pada khu- susnya.
B. Riwayat Hidup Al-Ghazali
Nama lengkapnya Abu Hamid Muham- mad bin Muhammad al Ghazali ath-Thusi asy- Syafi’i. Lahir di Tus, Persia, pada 1059 M. Ia berkuniah Abu Hamid karena salah seorang anaknya bernama Hamid. Gelar dia al-Ghaza- li ath-Thusi berkaitan dengan ayahnya yang
6 Islah Gusmian, Khazanah Tafsir Indonesia, ed. Mukhtar Alshodiq, Cetakan I (Bandung: Teraju, 2002).
7 Jurnal Al- Ulum et al., “ISLAM DAN LOGIKA MENURUT PEMIKIRAN ABU HAMID AL-GHAZALI Muhammad Nur IAIN Raden Intan Lampung,” no. 3 (2011): 47–78.
18
bekerja sebagai pemintal bulu kambing dan tempat kelahirannya yaitu Ghazalah di Ban- dar Thus, Khurasan, Persia (Iran). Sedang- kan gelar asy-Syafi’i menunjukkan bahwa dia bermazhab Syafi’i. Ia berasal dari keluarga yang miskin. Ayahnya mempunyai cita-ci- ta yang tinggi yaitu ingin anaknya menjadi orang alim dan saleh. Al-Ghazali adalah seo- rang ulama, ahli pikir, ahli filsafat Islam yang terkemuka yang banyak memberi sumban- gan bagi perkembangan kemajuan manusia. Ayahnya meninggal dunia ketika ia masih cukup muda. Tetapi pengasuhnya menyadari bahwa anak ini dan saudaranya, Ahmad, harus mendapatkan pendidikan yang baik. Al-Ghazali muda menghabiskan masa-masa pendidikannya di bawah bimbingan teolog besar, Al-Juwaini. Bakat intelektualnya yang mencolok terlihat oleh wazir Nizam Al-Mulk yang diberi kepercayaan penuh oleh Sultan Seljuk sebagai penguasa kekhalifahan Abba- siyah di Bagdad.8
Al-Ghazali memang orang yang cer- das dan sanggup mendebat segala sesuatu yang tidak sesuai dengan penalaran yang jernih hingga Imam Al-Juwaini sempat memberi predikat beliau “laut dalam nan menenggelamkan (Bahrun Muughriq).” Ketika gurunya ini meninggal dunia, Al- Ghazali meninggalkan Nisabur menuju ke Istana Nidzam Al-Mulk yang menjadi seorang perdana menteri Sultan Bani Saljuk. Keikutsertaan Al-Ghazali dalam suatu diskusi bersama sekelompok ulama dan para intlektual dihadapan Nidzam Al-Mulk membawa kemenangan baginya. Hal ini tidak lain berkat ketinggian ilmu filsafatnya, kekayaan ilmu penegetahuannya, kefasihan lidahnya dan kejituan argumentasinya. Nidzam al-Mulk benar-benar kagum melihat kehebatan beliau ini dan berjanji akan mengangkatnya sebagai guru besar di 8 Taufik Abdullah, Ensiklopedi Tematis Dunia Islam, Cetakan
I (Jakarta: Ichtiar Baru Van Hoeve, 2002).
Universitas yang didirikannya di Baghdad. Peristiwa ini terjadi pada tahun 484/1091 M.9
Al-Ghazali mempunyai daya ingat yang kuat dan bijak berhujjah. Ia digelar Hujjat- ul Islam karena kemampuannya tersebut. Ia sangat dihormati di dua dunia Islam yaitu Saljuk dan Abbasiyah yang merupakan pusat kebesaran Islam. Ia berjaya menguasai pelbagai bidang ilmu pengetahuan. Al-Ghaza- li sangat mencintai ilmu pengetahuan. Ia juga sanggup meninggalkan segala kemewahan hidup untuk bermusafir dan mengembara serta meninggalkan kesenangan hidup demi mencari ilmu pengetahuan. Sebelum dia memulai pengembaraan, dia telah mempe- lajari karya ahli sufi ternama seperti al-Ju- naid Sabili dan Bayazid Busthami. Al-Ghazali telah mengembara selama 10 tahun. Ia telah mengunjungi tempat-tempat suci di daerah Islam yang luas seperti Mekkah, Madinah, Je- rusalem, dan Mesir. Ia terkenal sebagai ahli fil- safat Islam yang telah mengharumkan nama ulama di Eropa melalui hasil karyanya yang sangat bermutu tinggi. Sejak kecil lagi dia telah dididik dengan akhlak yang mulia. Hal ini menyebabkan dia benci kepada sifat riya, megah, sombong, takabur, dan sifat-sifat ter- cela yang lain. Ia sangat kuat beribadat, wara’, zuhud, dan tidak gemar kepada kemewah- an.10
Al-Ghazali cukup banyak menulis buku- buku dalam bidang logika, yaitu Maqâshid al-Falâsifah, Mi’yar al-‘Ilm, Mihak al-Nazâr fî al-Mantiq, al-Qistas al-Mustaqîm, dan al- Mustasyfâ fî al-‘Ilm Ushûl. Di antara semua buku-buku tersebut di atas yang paling sistematis pembahasannya adalah yang berjudul Maqâshid al-Falâsifah. Buku-buku yang penulis sebutkan di atas adalah buku 9 Islamic Education, According To, and Imam Ghazali,
“Oleh : Muhammad Khairil Mustofa,” n.d. 10 Abdullah, Ensiklopedi Tematis Dunia Islam.
19
yang ditulis dalam bidang logika. Sementara itu, buku-buku karya Al- Ghazali yang lain sebenarnya sangatlah banyak. Terdiri dari berbagai bidang kajian ilmu, mulai dari bidang hukum, teologi, filsafat, dan terutama ilmu tasawwuf. Buku karangan Al-Ghazali yang paling monumental adalah Ihyâ’ Ulûmuddîn (menghidupkan ilmu-ilmu agama), sebuah buku tebal yang terdiri dari beberapa jilid besar yang berisi tentang akhlak dan tasawwuf yang merupakan hasil refleksi sepanjang hidupnya. Buku tersebut dikarangnya selama beberapa tahun dalam keadaan berpindah-pindah antara Syam, Yerussalem, Hijaz dan Tus.11 Berikut ini adalah karya-karya al-Ghazali sesuai urutan periode dan masanya12:
a. Periode Pertama (465-478 H), sebelum wafatnya Imam al-Haramain
1. Al-Ta’liqah fi Furu’ al-Madhhab 2. Al-Manhul fi Usul al-Fiqh
b. Periode Kedua (478-488 H)
1. Al-Basi 2. Al-Wasit 3. Al-Wajiz 4. Ma’akhidh al-Khilaf 5. Lubab al-Nadar 6. Al-Mabadi’ wa al-Ghayat 7. Shifa al-Ghalil 8. Tahafut al-Falasifah 9. Mi’yar al-‘Ilm (ditulis sebelum pergi ke
Damaskus) 10. Mahk al-Nadar fi al-Mantiq (menurut
al-Dhahabi, ditulis ketika sudah di Damaskus)
11. Mizan al-‘Amal (menurut Sulaiman Dunya,
11 Ulum et al., “ISLAM DAN LOGIKA MENURUT PE- MIKIRAN ABU HAMID AL-GHAZALI Muhammad Nur IAIN Raden Intan Lampung.”
12 ‘Abd al-Rahman Badawi, Muallafat Al-Ghazali, n.d.
kitab ini ditulis di akhir hayat al-Ghazali) 12. Al-Iqtisad fi al-‘I’tiqad 13. Al-Risalah al-Qudsiyyah fi al-‘Aqa’id 14. Al-Ma’arif al-‘Aqliyyah wa al-Asrar al-Ila-
hiyyah
c. Periode Ketiga (periode uzlah 488-499 H)
1. Ihya’ ‘Ulum al-Din 2. Mafsal al-Khilaf 3. Mishkat al-Anwar 4. Al-Maqsad al-Asna fi Sharh Asma’ Allah
al-Husna 5. Bidayah al-Hidayah 6. Jawahir Al-Qur’an 7. Al-Arba’in fi Usul al-Din 8. Al-Qistas al-Mustaqim 9. Kaimiya’ al-Sa’adah 10. Ayyuha al-Walad 11. Nasihat al-Muluk 12. Al-Risalah al-Laduniyyah 13. Mishkat al-Anwar 14. Tafsir Yaqut al-Ta’wil 15. Al-Kashf wa al-Tabyin fi Ghurur al-Khalq
Ajma’in 16. Talbis Iblis (terjadi perbedan pendapat
apakah benar kitab ini karya al- Ghazali)
d. Periode Keempat (499-503 H)
1. Al-Munqidh min al-Dalal 2. Fi ‘Aja’ib al-Khawas 3. Al-Mustasfa min ‘Ilm al-Usul 4. Sirr al-‘Alamin wa Kashf Ma fi al-Darain 5. Al-Imla’ ‘ala al-Ihya’
e. Periode ke lima (masa akhir hayat al-Ghazali
1. Al-Durrat al-Fakhirah fi Kashf ‘Ulum al-Akhirah
2. Iljam al-‘Awam ‘an ‘Ilm al-Kalam
20
3. Minhaj al-‘Abidin.
Dalam buku-buku sejarah yang mengki- sahkan al-Ghazali, tercatat bahwa al-Ghazali menikah cukup dini ketika belum mengin- jak umur dua puluh tahun. Dianugerahi tiga anak perempuan yang salah satunya berna- ma Sitt al-Muna dan satu anak lelaki yang bernama ‘Ubaidillah. Adapun saudaranya, yakni Ahmad, meninggal setelah lima belas tahun wafatnya al-Ghazali pada tahun 520 H dan dimakamkan di kota Qazwin. Adapun tentang ibu al-Ghazali, tidak ada buku-buku sejarah yang mencatatnya secara jelas. Akan tetapi, diketahui bahwa ibu al-Ghazali masih hidup setelah kematian suaminya dan mera- sakan kebahagiaan yang sempurna sebagai ibu, karena melihat kedua anaknya tumbuh menjadi anak yang mempunyai derajat tinggi dengan kapasitas keilmuan yang mumpuni.
Setelah melakukan perjalanan ilmiahnya ke berbagai negeri, al-Ghazali akhirnya me- netap di kota kelahirannya, Tus. Kehidupan di akhir hayat al-Ghazali dihabiskan untuk beribadah dan aktifitas ilmiah. Al-Ghazali wafat di waktu subuh hari Senin bulan Ju- madil Akhir tahun 505 H dan di makamkan di daerah Tabiran. Ibn al-Jauzi menceritakan kematian al-Ghazali seperti yang telah di- ungkapkan oleh saudaranya, Ahmad, bahwa al-Ghazali meninggal di waktu Subuh setelah mengambil wudhu dan melakukan shalat, kemudian al-Ghazali mengambil kain kafan dan menciuminya lalu diletakkan di kedua matanya. Dalam posisi menghadap kiblat itu kemudian al-Ghazali wafat.
C. Lingkungan Pemikiran di Masa al- Ghazali
Pemikiran seseorang, sudah tidak diragukan lagi, akan terbentuk karena di pengaruhi oleh lingkungan dimana ia hidup. Untuk itu, mengetahui lingkungan kehidupan
al-Ghazali menjadi penting, sebab, pemikir sekaliber al-Ghazali sekalipun, pemikirann- ya akan dipengaruhi oleh kondisi kehidupan dan aliran pemikiran di masa itu. Dimulai dari kota kelahirannya, Thus, adalah sebuah kota yangberpenduduk heterogen. Meskipun masyarakatnya banyak yang beraliran sunni, tetapi ada sebagian kecil yang syi’ah dan be- ragama Kristen. Untuk memenuhi kepuasan intelektualnya, al-Ghazali hampir mengha- biskan mayoritas umurnya untuk hidup ber- pindah-pindah dari Negara ke Negara lain.13
Al-Ghazali hidup di abad ke 5, dimulai dari tahun 1010 M hingga tahun 1106 M. Dari segi situasi politik saat itu, satu rezim kekuasaan Islam hilang dan berganti dengan rezim yang lain. Meskipun pada masa ini kekuasaan di bawah kekhalifahan Abbasiyyah, tetapi, ba-nyak dinasti-dinasti yang mempunyai kekuasaan yang luar biasa. Meskipun secara resmi, Daulah Abbasiyyah masih berkuasa, tetapi kekuasaan Abbasiyyah kelihatan seperti dalam hal-hal formalitas saja. Secara politik dan kekuatan militer, kekuasaan sesugguhnya ada dalam dinasti Seljuk. Pada tahun 1039, di Timur, berdiri dinasti Seljuk. Dinasti Seljuk menjadi kuat dan solid di bawah kepemim- pinan Thughrul Bik dan saudaranya Daud di Khurasan, sehingga mampu memenangkan peperangan dengan dinasti Ghaznawiyyah. Puncak kekuatan Thughrul Bik adalah ketika kekuasaannya semakin luas hingga ke Irak setelah menaklukkan dominasi dinasti syi’ah Buwaihiyyah di Baghdad pada tahun 1055. Kekuasaan dinasti Seljuk ini semakin besar hingga di masa kepemimpinan Shah bin Alp Arsalan. Luas kekuasaannya hingga dimulai dari dataran cina hingga akhir dataran Syam dan juga menguasai hampir di seluruh Negara-negara Islam di utara hingga negeri Yaman. Di masa ini juga, raja Shah bin Alp
13 Sulaiman Dunya, Al-Haqiqah Fi Nazhr Al-Ghazali (Kairo: Dar al-Ma’arif, 1971).
21
Arsalan juga mewajibkan membayar pajak bagi Romawi Timur. Setelah raja Shah bin Alp Arsalan meninggal pada tahun 1092, terjadi konflik perebutan kekuasaan di antara kedua puteranya Mahmud dan Barakyarik hingga mengakibatkan dinasti Seljuk mengalami perpecahan. Akibat dari konflik perebutan kekuasaan ini, selain wilayah-wilayah kekusaan dinasti Seljuk menjadi terkotak- kotak, juga kekuasaan Islam menjadi lemah14
Dari segi aliran keagamaan, dinasti Seljuk adalah dinasti Turki yang menganut faham keagamaannya ahli sunnah seperti umumnya dinasti-dinasti Turki yang lain. Untuk itu, meskipun kekuasaan dinasti Seljuk sudah kuat dan besar, tetapi mereka tetap taat dengan kekuasaan Abbasiyyah karena kesamaan aliran kepercayaan ahli sunnah tersebut. Alasan ini yang membuat hubungan dengan dinasti buwaihiyyah buruk dan tidak harmonis yang berakibat peperangan, karena dinasti Buwaihiyyah adalah penganut aliran Syi’ah. Seperti halnya di timur, di barat, kekuasaan Islam juga mengalami gejolak politik di masa abad ke lima ini. Pada tahun 1016, di Andalus, Spanyol, kekuasaan Bani Umayyah hancur, kemudian kekuasaan Islam di barat menjadi terpecah-pecah dan saling berperang satu dengan yang lainnya. Konflik ini yang membuat kekuasaan Islam di barat menjadi lemah sehingga bangsa Eropa mempunyai celah untuk lebih melemahkan kekuasaan Islam. Tetapi. Di barat dekat, juga berdiri dinasti Islam dari suku-suku Barbar yaitu dinasti Murabitin pada tahun pada tahun 1056. Raja yang paling kuat dalam dinasti tersebut adalah Yusuf bin Tashifin pendiri kota Marakesh (saat ini masuk wilayah Maroko) kemudian kota tersebut dijadikan ibukota pemerintahan yang berkuasa pada tahun 1069. Yusuf bin Tashifin
14 ‘Abd al-Karim Al-‘Uthman, Sirah Al-Ghazali Wa Aqwal Al-Mutaqaddimin (Damaskus: Dar al-Fikr, n.d.).
adalah penguasa yang berusaha menyatukan dinasti Islam di Andalus, Spanyol yang melemah karena terpecah-pecah merebutkan kekuasaan. Untuk itu, Yusuf bin Tashifin menyerukan agar dinasti Islam hendaknya mengikuti madzhab Ahlusunnah agar bersatu dan melawan serangan-serangan dari Eropa.
Al-Ghazali lahir di masa terakhir kekuasaan raja Thughrul Bik ketika menguasai Baghdad dan dekat dengan lingkungan kekuasaanya, bahkan al-Ghazali dinikahkan dengan keponakannya. Al- Ghazali juga hidup dengan menyaksikan banyak sekali pergantian kekuasaan di dalam dinasti Seljuk. Di mulai raja Alp Arsalan, Malik Shah, Nasir al-Din Mahmud, Abu al- Mudaffar Barakyarik, Malik Shah II dan Muhammad bin Malik Shah. Raja Muhammad bin Malik Shah adalah raja yang menjadi obyek buku karya al-Ghazali yang berbahasa Persia dan kemudian diterjemahkan ke bahasa Arab, al-Tibr al-Masbuk fi Nasihat al- Muluk. Selain diakibatkan oleh konflik secara eksternal, situasi politik dan keamanan dalam negeri Dinasti Seljuk juga tidak stabil secara internal, karena terjadinya perebutan tahta sepeninggal Sultan Malik Syah dan gangguan stabilitas keamanan dalam negeri yang dilancarkan gerakan politik bawah tanah yang berbajukan agama, yakni gerakan Batiniyyah. Gerakan ini, yang semula merupakan pecahan sekte Syi’ah Isma’iliyyah yang terjadi dalam istana Fâthimiyyah di Mesir, menjadi kuat dan berbahaya di bawah kepemimpinan pemimpin keduanya Hasan al-Shabbah, yang memegang pimpinan mulai tahun 1090 M. Hasan al-Shabbah menjadikan Alamut (sebelah utara Qazwin) sebagai sentral gerakan dan kekuasaannya. Dalam mensukseskan gerakannya, Batiniyyah tidak segan-segan mengadakan serangkaian pembunuhan terhadap tokoh- tokoh penguasa dan ulama yang dianggap
22
penghalang mereka.15
Tidak hanya dalam hal politik, pada masa al-Ghazali, juga terjadi gejolak dalam pe- mikiran keagamaan. Umat Islam saat itu men- galami fanatik dalam bermadzhab Fiqih dan ilmu Kalam. Banyak ulama yang menanam- kan fanatisme madzhab kepada masyarakat. Peran pemimpin Negara rupanya juga sangat berpengaruh besar dalam masyarakat untuk menganut sebuah aliran keagamaan. Sebab, penguasa juga mempunyai peran untuk me- maksa masyarakat untuk menganut aliran keagamaan tertentu, bahkan pemaksaan itu juga dengan menggunakan kekerasan dan intimidasi. Seperti yang telah dilakukan oleh al-Kunduri, menteri pertama dinasti Seljuk yang menganut Muktazilah, sehingga menja- dikan aliran-aliran lain seperti madzhab
Syafi’i dan penganut aliran Ash’ari men- jadi minoritas dan terancam intimidasi. Umat Islam di masa al-Ghazali juga sedang mengalami kemarahan terhadap ilmu fil- safat. Banyak pemikiran keagamaan yang terpengaruh oleh filsafat Yunani sehingga al-Ghazali berusaha untuk mengembalikan aliran-aliran Islam menuju ajaran-ajaran yang murni bersumber Al-Qur’an dan ha- dis. Fanatisme yang menjangkit di dalam masyarakat tersebut tidak jarang menimbul- kan konflik fisik dengan menyalahkan satu dengan yang lainnya. Seperti peristiwa kon- flik yang terjadi di Baghdad pada tahun 469 H. terjadi apa yang disebut sebagai “Peristi- wa Qushairî”, yaitu konflik fisik antara pengi- kut Ash’ariyyah dan Hanabilah, karena pihak pertama menuduh pihak kedua berpaham “tajsîm”; dan konflik ini memakan korban seorang laki-laki.
Pada tahun 473 H terjadi pula konflik
15 ‘Adil ‘Abd al-Maujud ‘Ali Mu’awwadh, Mukaddimah Kitab Al-Wajiz Fi Fiqh Al-Imam Al-Shafi’i (Lebanon: al- Arqam, 1997).
antara golongan Hanabilah dengan Syi’ah- dan dua tahun kemudian terjadi lagi konflik antara Hanabilah dan Ash’ariyyah. Di antara pemikir besar yang muncul pada abad 5, di masa al-Ghazali adalah Ishaq al-Isfiray- ini (yang bermadhhab Shafi’i), Abu ‘Umar al-Tamalanki (bermadhhab Maliki), Abu Zaid al-Dabusi (bermadhhab Hanafi), Ibn Hazm (mulanya bermadhhab Shafi’i kemudian berpindah madhhab Dahiriyyah), Abu al- Walid al- Baji (Maliki), Abu Ishaq al-Shairazi, al-Juwaini (Shafi’i dan ‘Ali bin Muhammad al-Bazdawi (Hanafi). Kesimpulannya adalah bahwa al-Ghazali tumbuh sebagai pemikir yang mengalami berbagai konflik politik dan aliran keagamaan. Semisal konflik di antara ulama akidah Ash’ari dan Muktazilah, teo- log dan filosof, dan aliran dalam madhhab Fiqih. Al-Ghazali kemudian berusaha untuk meredam konflik-konflik itu dengan beru- saha mengembalikan pemahaman sesuai al-Qur’an dan hadis. Karya populer dalam usaha al-Ghazali meredam konflik tersebut adalah buku Tahafut al-Falasifah, dan usaha al-Ghazali untuk membersihkan Tashawwuf dari pengaruh-pengaruh filsafat. Komen- tar Ulama tentang al-Ghazali Membincang al-Ghazali memang tidak pernah ada ha- bisnya. Karena ilmu al-Ghazali yang multi- disipliner dan banyak mempengaruhi pe- mikiran dalam Islam sejak dulu hingga saat ini. Banyak ‘Ulama’ entah dulu dan sekarang yang mengomentari al- Ghazali sesuai tema pembahasannya. Bahkan, al-Ghazali juga menjadi sosok yang kontroversial. Banyak pendukungnya, dan banyak juga pencibirnya. Komentar pendukung dan pencibirnya juga seringkali berlebihan. Misalnya komentar dari salah satu pendukungnya tentang ki- tab Ihya’ yang karya tersebut hampir seperti Al-Qur’an. Bahkan ada juga yang beran- dai-andai jika saja ada nabi Menurut Mustafa al-Maraghi, membincang al-Ghazali tidaklah membincang tentang satu orang saja, tetapi,
23
D. Pandangan-pandangan al-Ghazali
1. Pandangan al-Ghazali Terhadap Alam
Al-Ghazali berkata “Alam semesta bu- kan suatu sistem yang berdiri sendiri, bebas dari unsur lain, bergerak, berubah, tumbuh, dan ber-kembang dengan zatnya melewati hukumnya. Akan tetapi, wujud, sistem serta tatanan hukum yang berlaku padanya harus terikat kepada Tuhan. Karena Tuhanlah yang mencipta, menahan, mengendalikan, meng- hidupkan, dan mematikan segala sesuatu.” bagi al-Ghazali alam semesta ini adalah baru dan diciptakan oleh Allah SWT. Tuhan men- cipta alam dari “tiada” menjadi “ada”. Adanya ketiadaan sebelum penciptaan alam bukan- lah sesuatu yang mustahil. Kehendak Tuhan tidak bisa dianalogikan dengan kehendak manusia, dari tidak mau (mencipta alam) berubah menjadi mau (mencipta alam). Ke- hendak Tuhan tidak mengalami perubahan. Sebab, makna kehendak adalah pilihan, bu- kan perubahan. Kritik al-Ghazali terhadap konsep keazalian alam berpijak pada asal- usul konsep ini yang berangkat dari konsep Tuhan Aristoteles. Konsep Tuhan seperti itu bertentangan dengan konsep Tuhan yang ada dalam al-Qur’an. Di mana konsep Tuhan Aris- toteles berangkat dari konsep Tuhan yang ha- rus mencipta alam. Tuhan – tidak bisa tidak- harus mencipta alam. Jadi, Tuhan berbuat dengan keharusan. Bukan itu saja, perbuat- an-Nya pun selanjutnya ditentukan dengan benda-benda di luar diri-Nya. Dia tidak ber- tindak secara langsung ke dalam alam cipta- an-Nya. Namun tindakan-Nya melalui serial sebab-sebab esensial yang berlaku sebagai
perantara. Premis-premis seperti ini yang mendorong Aristoteles untuk merumus- kan alam ini tidak berpemulaan. Pemikiran metafisis ini yang mempengaruhi pemikiran al-Farabi, Ibnu Sina, dan Ibnu Rusyd.16
Sementara bagi al-Ghazali dan mayoritas kaum Muslim, konsep Tuhan dalam al-Qur’an adalah Maha Kuasa. Dia juga Maha Berkehen- dak. Dia tidak berbuat dengan keharusan. Tidak ada di luar diri-Nya yang menentukan perbuatan-Nya. Alam sepenuhnya tergantung kepada-Nya. Eksistensi alam secara total se- tiap saat bergantung kepada perbuatan-Nya secara langsung. Setiap saat segala sesuatu di alam ini secara langsung berada dalam geng- gaman-Nya. Dia-lah yang menyebabkan sega- la perubahan dan pergerakan. Tidak ada ke- harusan keterkaitan sebab-akibat di alam ini.
2. Pandangan al-Ghazali Terhadap Logika
Pemahaman logika al-Ghazali adalah bagaimana agar seseorang dapat berpikir secara benar dan kemudian dengan itu ia dapat menghasilkan sebuah simpulan yang benar pula. Karena itu titik fokus kajiannya adalah pada metode-metode di dalam penarikan simpulan yang benar (inferensi/al-istidhlâl). Di sini, al-Ghazali melihat ada beberapa cara yang bisa dilakukan untuk dapat menarik sebuah kesimpulan, dan ia menempatkan kualitas hasil penarikan simpulan tersebut secara piramidal. Ia berkeyakinan bahwa deduktif silogistik (al-qiyâs) adalah proses penyimpulan yang paling valid (shahîh) di dalam menghasilkan sebuah pengetahuan. Kemudian setingkat di bawahnya adalah al- istiqrâ’ (induksi), disusul selanjutnya dengan analogi (al-tamsîl). Ia juga membagi qiyâs ke dalam beberapa bagian bentuk, serta merinci berbagai syarat yang harus dipenuhi untuk membentuk sebuah qiyâs agar sah. Tidak
16 Abu Hamid, “Alam Dalam Pandangan Abu Hamid Al- Ghazali” 12, no. 2 (n.d.).
24
lupa, al-Ghazali juga menambah pembahasan tentang istidlâl ini, dengan pembahasan tentang kesalahan-kesalahan (mugha- llat) yang sering terjadi di dalam proses berpikir manusia dikarenakan mereka tidak menerapkan dengan benar hukum- hukum berpikir di dalam logika. Proses Istidlal di atas pada dasarnya selalu terdiri dari premis-premis yang merupakan suatu acuan berpikirnya. Berdasarkan hal tersebut, al-Ghazali kemudian membahas berbagai macam Qadhiyah (proposisi) sebelum masuk kepada pembahasan tentang al-istidlal. Selanjutnya, karena setiap proposisi mestilah terbentuk dari berbagai macam kata (al- lafdz), maka dengan demikian al-Ghazali pun secara lengkap membahas berbagai macam bentuk kata yang biasa digunakan di dalam logika. Di awal pembahasan tentang kata inilah al-Ghazali menjelaskan tentang Eisagoge dan lima predikabel (al-kulliyah al- khams).17 pemahaman terhadap lima hal tersebut sebagai bagian yang menentu- kan di dalam pembuatan definisi (al-hâd/al-ta’rîf), juga agar sese- orang bisa membedakan mana yang merupakan sifat esensial (dzâti) dari sesuatu dan mana yang hanya merupakan sifat aksidental (‘irdi)18
Di dalam Maqâshid al-Falâsifah, al- Ghazali tidak hanya membahas secara panjang le-bar tentang berbagai macam proses istidlal, qadiyah, al-lafdz, Eisagoge, serta lima predikabel. Dalam buku tersebut ia juga membahas secara panjang lebar tentang definisi dan aturan-aturan yang harus dilaksanakan agar seseorang dapat membuat definisi secara sempurna. Di dalam kitab tersebut, tidak lupa ia juga membagi bentuk- bentuk pengetahuan manusia. Di dalam
17 Ulum et al., “ISLAM DAN LOGIKA MENURUT PE- MIKIRAN ABU HAMID AL-GHAZALI Muhammad Nur IAIN Raden Intan Lampung.”
18 Muhammad Al-Ghazali, MaqâShid Al-FalâSifah (Beirut: Darul Fikr, 1960).
bukunya yang lain (Qistas al-Mustaqîm), ia bahkan melangkah lebih jauh dengan membahas secara khusus bentuk-bentuk logika (yang ia yakini) dipakai oleh al-Qur’an di dalam menjawab “penantangnya”. Di situ ia menempatkan logika sebagai sesuatu yang inheren di dalam al-Qur’an, bukan lagi sekadar suatu warisan tradisi pemikiran yang diperoleh dari Yunani. Selain itu, di dalam kitabnya yang lain (al- Mustasyfâ fî al- ‘ilm al usûl), ia telah secara sungguh-sungguh menerapkan logika di dalam pembentukan yurisprudensi Islam (ilmu Fiqh).
Jika di dalam Maqâsid al-Falâsifah al- Ghazali mengelompokkan pengetahuan filsafat kedalam empat golongan, maka di dalam al-Munqidz min al-Dalâl secara garis besar ia mengelompokkan filsuf kedalam tiga golongan, yaitu golongan al-dahriyyun (materialis-ateis), al-tabi’iyyun (naturalis), dan ilâhiyyun (teistis), yang selanjutnya, di dalam buku tersebut ia kemudian membagi pengetahuan filsafat ke dalam enam bagian ya-itu:Yang selanjutnya, di dalam buku tersebut ia kemudian membagi pengetahuan filsafat ke dalam enam bagian yaitu19:
1. Al-Riyâdiyyah (ilmu pasti). Ini adalah pengetahuan yang berkaitan dengan ilmu hitung, ilmu teknik, dan pergerakan alam.
2. Al-Mantiqiyyah (logika). Di dalam ilmu ini dibahas tentang metode-metode di dalam menarik kesimpulan (turûq al-adillah), silogisme, premis-premis dalam argu- mentasi serta bagaimana susunannya, dan syarat-syarat di dalam membuat defi- nisi (al- hâdd) yang benar. Logika adalah jenis pengetahuan dari filsafat yang tidak perlu untuk diingkari.
3. Al-Tabi’iyyah (ilmu kealaman). Di dalam-
19 Muhammad Al-Ghazali, Al-Munqîdz Min Al-DalâL (Beirut: Darl Fikr, 1996).
25
nya dibahas tentang langit, bintang-bin- tang dan apa yang ada di “bawahnya”, seperti air, udara, debu, api, hewan, tum- buhan, tembang, serta sebab-sebab peru- bahan masing-masing.
4. Al-Ilâhiyyah (teologi). Di dalam ilmu inilah para filsuf paling banyak melaku- kan kesalahan. Para filsuf justru tidak mampu menerapkan syarat-syarat logis argumentasi dalam berbagai pendapat- nya seputar teologi ini. Paling tidak ada, ada 20 kesalahan yang filsuf yang dicatat oleh Al-Ghazali dalam masalah ini. 20 persoalan tersebut ia uraikan secara pan- jang lebar di dalam Tahâfut al-Falâsifah.
5. Al-Siyâsah (politik). Ini adalah ilmu yang menurut Al-Ghazali bersumber pada hukum-hukum kemaslahatan yang berkaitan dengan persoalan duniawi dan pemerintahan.
6. Al-Khulûqiyyah (etika). Semua pembaha- san filsuf di dalamnya bersumber kepa- da masalah sifat-sifat jiwa individu dan perilakunya. Di dalamnya disebutkan juga tentang jenis dan pola perilaku, ser- ta bagaimana cara membentuk akhlak. Pembagian pengetahuan filsafat ke dalam enam bagian di atas merupakan pemba- gian yang lebih rinci dan disertai pen- jelasan yang lebih luas jika dibandingkan dengan pembagian yang ia lakukan di da- lam al-Maqâshid al-Falâsifah.
E. Hermeneutik al-Ghazali terhadap Al-Quran
Metode hermeneutik al-Ghazali dan ap- likasinya tentang penelitian aliran al- Ghaza- li di dalam disiplin ilmu akidah, fiqih dan tashawwuf dipandang dari penafsirannya bisa disimpulkan sebagai berikut:
• Dalam hermeneutik, al-Ghazali menggu- nakan metode-metode penafsiran yang sudah dirumuskan dan disepakati oleh ulama ahli tafsir. Setelah meneliti de- ngan komprehensif tafsirnya di dalam ki- tab Tafsir al-Imam al-Ghazali, al-Ghazali menggunakan metode tafsir bi al-ma’tsur dan tafsir bi al-ra’yi. Metode tafsir bi al- ma’tsur mencakup metode penafsiran yang paling baik, yaitu metode tafsir al- Qur’an bi al-Qur’an. Tidak hanya menaf- siri ayat Al-Qur’an dengan metode tafsir al-Qur’an bi al-al-Qur’an, dalam menaf- siri ayat Al-Qur’an secara komprehensif, al-Ghazali juga tidak lupa memberikan petunjuk adanya ayat- ayat lain yang sama dalam susunan kalimat dan maknanya. al-Ghazali juga menggunakan metode taf- sir al-Qur’an bi al-Hadis.
Metode al-Takhaliyah dan al- Tahaliyah yang dibangun oleh al-Ghazali terlihat ketika menafsiri ayat:20 Maksud dari . dasar pertama adalah membersihkan jiwa dengan bermujahadah dari sifat- sifat tercela. Setelah bersih, jiwa akan mempunyai potensi besar untuk melakukan sifat-sifat yang luhur. Hal ini arti dari dasar yang kedua. Dari dua dasar tersebut, kemudian bisa diketahui bahwa tashawwuf, menurut al-Ghazali, adalah kolaborasi yang seimbang di antara ilmu jiwa dan akhlaq mulia. Dua terma tersebut, tentu sesuai dengan ajaran Islam yang bersumber dari Al- Qur’an dan hadis nabi. al-Ghazali berhasil mengembalikan tashawwuf sesuai ajaran Islam yang murni. Sesuai pengakuan al- Ghazali sendiri bahwa penguasaannya tentang disiplin ilmu hadis lemah, oleh karenanya, dalam penggunaan metode ini, al-Ghazali terkadang menggunakan
20 Al-Qur’an Dan Terjemahan (Depok: Penerbit Sabiq, 2009).
26
hadis yang derajatnya sahih, hasan, da’if bahkan disinyalir juga menggunakan hadis munkar dan maudu’.21 selain itu, al-Ghazali juga menggunakan metode tafsir bi al-ra’yi. Dengan kemampuan keilmuan yang dimiliki al-Ghazali, dengan metode tersebut, kemudian melahirkan penafsiran dalam berbagai permasalahan dan di antaranya permasalahan akidah, fiqih dan tashawwuf.22
• Hermeneutik al-Ghazali tentang masalah akidah, al-Ghazali tercatat sebagai pengikut pemikiran madzhab imam Ash’ari. Selain bukti bahwa karya- karya al-Ghazali tentang masalah akidah selalu membela paham Ash’ari, fakta tersebut juga terbukti benar jika meneliti penafsiran-penafsiran al- Ghazali terhadap ayat-ayat Al-Qur’an yang berbicara masalah-masalah akidah. Pembuktian paham al-Ghazali dalam dalam Tafsir al-Imam al-Ghazali tersebut akan lebih otoritatif, karena bersumber dari pokok agama, yaitu Al-Qur’an. Bahkan, Dalam pemikiran akidah, al- Ghazali adalah seorang yang dikenal sebagai figur penting dalam penyebaran dan perkembangan madhhab Imam ‘Ash’ari setelah al-Baqilani dan Imam al- Haramain al-Juwaini. al-Ghazali dalam tafsirnya juga berijtihad dalam masalah disiplin ilmu fiqih.
Dalam sejarahnya, fiqih al-Ghazali menganut madzhabnya Imam Syafi’i, dengan bukti bahwa di dalam silsilah tokoh-tokoh madzhab Syafi’i, al-Ghazali adalah tokoh penting dan mempunyai kontribusi besar dalam penyebarannya. Karya-karya al- Ghazali juga sangat
21 Ibrahim bin Abdullah Al-Lahim, Al-Jarhu Wa Al-Ta’dil (Riyad: dar al-Rushd, 2003).
22 Muhammad fuad Abdul baqi, Al-Mu’jam Al Mufahras Li Alfazh Al-Qur’an Al-Karim (Cairo: Dar asy Sya’ab, 1945).
berpengaruh di dalam silsilah madhhab Shafi’i. Aliran madhhab fiqih yang dianut oleh al-Ghazali tidak terlepas dari pengaruh gurunya, Imam al-Haramain al-Juwaini, yang pengikut madzhab imam Syafi’I dengan karya bukunya yang fenomenal, al-Nihayah (Nihayah al-Matlab). Kitab al-Nihayah terbukti menjadi kitab dengan madzhab Syafi’i, sebab kitab tersebut adalah kitab yang meringkas empat buku Imam Syafi’i, yaitu kitab al-Um, al-Imla’, al-Buwaiti dan Mukhtasar al-Muzani. Empat kitab tersebut adalah kitab pokok dalam madhhab imam Syafi’i yang otentik. Selain itu, penafsiran-penafsiran al- Ghazali di dalam kitab tafsir al-Imam al-Ghazali juga membuktikan bahwa al- Ghazali sesuai dengan imam Syafi’i dalam masalah kaidah dan hukum-hukum fiqih. Walaupun juga, dengan kapasitas keilmuan al-Ghazali, tentu dalam masalah tertentu, al-Ghazali berbeda pendapat dengan Imam Syafi’i. Tidak hanya menjadi tokoh penting dan berpengaruh di dalam disiplin ilmu akidah dan fiqih, dalam sejarah kehidupan al-Ghazali, sudah tidak diragukan lagi bahwa kehidupan al-Ghazali selalu berhubungan dengan dunia tashawwuf yang kental. Kemudian al-Ghazali menjadi tokoh sufi yang berpengaruh di dalam dunia pemikiran Islam. Tasawwuf23, di masa al-Ghazali, berada dalam keadaan yang tidak jelas dan diragukan kemurnian sumbernya. Bersama Imam al-Qushairi, al-Ghazali disebut-sebut sebagai seorang yang berusaha mengembalikan ajaran-ajaran tashawwuf yang murni bersandarkan al-Qur’an dan hadis, setelah di abad sebelumnya ajaran- ajaran tashawwuf disinyalir telah menyimpang dari
23 Ahmad Al-Shirbashi, Al-Ghazaliwa Al-Tasawwuf Al-Islami (Mesir: Dar al-Hilal, n.d.).
27
ajaran pokok agama karena mengalami akulturasi dengan ajaran-ajaran agama dan pemikiran lain. Upaya yang telah dilakukan oleh al-Ghazali terbukti berhasil. Dari pengalaman perjalanan spritualnya, al-Ghazali mampu menghasilkan sebuah metode dalam disiplin ilmu tashawwuf yang kemudian disebut dengan tashawwuf sunni. Pengalaman spiritual al-Ghazali didapat setelah pergulatannya dalam ilmu akidah dan filsafat tidak membuat kedamaian dalam jiwa al- Ghazali. Al-Ghazali juga merasa tidak menemukan keyakinan tentang hakikat kebenaran. Tashawwuf sunni yang diusung al-Ghazali juga sesuai dengan penafsirannya. Dan setelah meneliti di dalam kitab tafsir al-Ghazali, metode tashawwuf al-Ghazali tidak terlepas dari al-Qur’an dan hadis. Dalam tashawwuf, al- Ghazali menjadi seperti imam madzhab baru. Sebab, al-Ghazali dengan mandiri berhasil menemukan metode untuk mengembalikan tashawwuf sesuai ajaran Islam yang murni, setelah berakulturasi dengan paham pemikiran dari luar Islam. Untuk itu, dalam pemahaman golongan ahlussunnah wal jama’ah, tashawwuf yang harus dianut selain Imam Junaid, adalah tashawwuf sunninya al-Ghazali.
Hermeneutk sufistik al-Gazali dalam karyanya yang berjudul Ihya ‘Ulum al-Din. Hermeneutik sufistik tersebut menggu- nakan potensi intuitif untuk menyingkap isyarat-isyarat makna batin alquran. Ma- salah pokok dalam penelitian ini adalah hermeneutik sufistik al-Gazali dalam ki- tab Ihya ‘Ulm al-Din, Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa al-Gazali melihat tafsir sebagai kompromi antara makna zahir dan makna batin alquran (tekstu- al dan kontekstual) melalui sumber taf- sir sufi, karena menurutnya tafsir zahir
bukanlah tujuan final atau akhir dari in- terpretasi terhadap Alquran. Sedangkan tasawuf harus berdiri di atas pondasi ayat-ayat Alquran dan hadis sebagai sum- ber tertinggi melalui tiga hal yaitu ilmu, tahalli, dan takhalli. Dengan demikian, tasawuf adalah perpaduan ilmu dan amal yang berbuah kesucian hati dan akh- lak mulia. Epistemologi yang dibangun al-Gazali adalah epistemologi tafsir sufis- tik. Sumbernya berbasis intuitif, semen- tara perolehannya harus melalui tahapan berupa maqam dan ahwal untuk dapat menangkap isyarat-isyarat Ilahiyah de- ngan potensi intuitif tersebut.
Hermeneutik yang dibangun al- Gazali adalah corak tafsir sufistik dengan sumber tafsir alquran dengan alquran, alquran dengan hadis dan alquran dengan ijtihad atau pandangan sufi yang menekankan aspek makna batin ayat-ayat alquran. Dilihat dari metode penelitian tafsir, le-bih pada metode tahlili yakni penafsiran yang mengandalkan pada arti-arti harfiah, ayat-ayat atau hadis- hadis lain yang mempunyai beberapa kata atau pengertian yang sama dengan ayat yang sedang dikaji dalam membantu menerangkan makna bagian yang sedang ditafsirkan, sambil memperhatikan konteks naskah tanpa memperhatikan topik ayat-ayatnya. Dari sini terlihat bahwa al-Gazali adalah masuk dalam kategori penganut tafsir sufi isyar’i yang menjadikan potensi intuitif manusia sebagai sumber pengetahuan dengan prasarat sulk (maqam dan ahwal sebagai proses perolehan) untuk mendapatkan isyarat Ilahiyah. Hal tersebut berangkat dari sebuah asumsi bahwa semua ulama mengakui bahwa alquran tidak hanya memiliki makna zahir, tetapi juga memiliki makna batin. Epistemologi penafsiran
28
sufistik telah memiliki landasan teoretis yang bersumber dari al-quran dan hadis. Sumber dan perolehannya dapat dijelaskan secara sistematis hingga sampai pada sebuah produk tafsir. Namun dalam implementasinya, hermeneutik sufistik akan mengalami sebuah kesulitan untuk menjadi sebuah produk tafsir, karena seseorang harus melakukan zuhud atau kontemplasi melalui maqam- maqam tasawuf untuk mencapai ahwal yaitu suatu keadaan hati yang mulai menghilangkan hijab-hijab (kasyf) antara hamba dan Tuhan, yaitu suatu keadaan hati yang suci, kemudian melahirkan ilmu ma’riah. Seorang sufi jika sudah berada pada tataran mukasyi akan mampu membaca simbol-sombol dalam hati yang menjadi isyarat-isyarat Tuhan dalam makna batin alquran.
Pandangan Abu Hamid Al-Ghazali Terha- dap gerhana
Gerhana adalah fenomena astronomi yang terjadi apabila sebuah benda angkasa bergerak ke dalam bayangan sebuah benda angkasa lain. Namun, gerhana juga terjadi pada fenomena lain yang tidak berhubungan dengan Bumi atau Bulan, misalnya pada planet lain dan satelit yang dimiliki planet lain
Matahari dan bulan adalah makhluk (ciptaan) Allah SWT, sampai detik ini kedua makhluk tersebut taat (tunduk/sujud) de- ngan perintah Allah untuk bergerak pada porosnya dan berkeliling pada garis edarnya. Dalam Al Quran ada 10 ayat lebih yang me- nerangkan tentang matahari dan bulan (QS. 13:2, 14:33, 16:12, 21:33, 29:61, 31:29 dst.), berikut ini salah satunya :

()
Dan Dia (Allah) telah menundukkan (pula) bagimu matahari dan bulan yang terus me- nerus beredar (dalam orbitnya); dan telah menundukkan bagimu malam dan siang.” (QS. Ibrahim 14:33)
Dijelaskan oleh imam al-Ghazali bahwa jika seorang bertafakkur terhadap alam semesta, maka akan tersingkap banyak rahasia, yang ia gambarkan bagaikan suatu bangunan rumah yang di dalamnya tersedia perabotan yang diperlukan. Tafakkur tidak lain dengan cara melakukan riset. Dengan demikian, terungkap bahwa seorang researcher (peneliti/periset) sains alam haruslah orang yang memiliki adab kepada diri dan Tuhannya. Sebagaimana ulama-ulama tafsir dahulu yang juga seorang yang mujahidu al-nafs (memerangi hawa nafsu) melalui tashfiyatul qalb (penjernihan hati). Karena posisi pandangan hidup (worldview) itu penting dalam soal ini. Dengan cara seperti itu, imam al-Ghazali mengatakan orang yang telah memahami hikmah-hikmah rahasia di balik alam ini akan menjadi menancap keimanannya kepada Allah Subhanahu Wata’ala. Termasuklah dalam meneliti jiwa manusia. Ia mengatakan: “Jika kamu melihat jiwa dirimu makan kamu akan menemukan keajaiban dan tanda-tanda kekuasan-Nya”. Alam merupakan ayat (tanda kekuasaan-Nya), yang berguna bagi manusia untuk mengenal-Nya. Jadi, perlakuan alam dalam sains Islam seperti seorang yang membaca al-Qur’an. Dunia memiliki banyak tanda-tanda yang samar dan mungkin bagi sebagian orang tidak menarik, khususnya bagi orang yang tidak memiliki intelektualitas dan disiplin spiritual. Bagi mereka, dunia ini adalah benda fisik, mati dan bukan bagian dari ‘wahyu’/ayat Allah.
29
Tentang penciptaan alam, al-Ghaza- li mempunyai konsep yang sangat berbeda dari konsepsi yang dimiliki para filsuf Mus- lim. Para filsuf Muslim, termasuk Ibnu Rusyd, berpendapat bahwa alam itu azali, atau qa- dim, yakni tidak bermula dan tidak pernah ada. Sementara itu, al-Ghazali berpikir sebali- knya. Bagi al-Ghazali, bila alam itu dikatakan qadim, mustahil dapat dibayangkan bahwa alam itu diciptakan oleh Tuhan. Jadi paham qadim-nya alam membawa kepada simpu- lan bahwa alam itu ada dengan sendirinya, tidak diciptakan Tuhan. Dan, ini berarti ber- tentangan dengan ajaran Alquran yang jelas menyatakan bahwa Tuhanlah yang mencip- takan segenap alam (langit, bumi, dan segala isinya). Bagi al-Ghazali, alam haruslah tidak qadim dan ini berarti pada awalnya Tuhan ada, sedangkan alam tidak ada, kemudian Tuhan menciptakan alam, alam ada di samp- ing adanya Tuhan. Sebaliknya, bagi para filsuf Muslim, paham bahwa alam itu qadim sedik- it pun tidak dipahami mereka sebagai alam yang ada dengan sendirinya. Menurut mere- ka, alam itu qadim justru karena Tuhan men- ciptakannya sejak azali/qadim. Bagi mereka, mustahil Tuhan ada sendiri tanpa mencipta pada awalnya, kemudian baru menciptakan alam.
Semuanya itu terkandung di dalam. Tar- biayatul ‘alamin Artinya : “Pendidikan Alam Semesta” Ketahuilah bahwa semua industri yang telah ada sekarang maupun yang akan datang semuanya bersumber dari ben- da-benda yang telah ada (diciptakan Allah) di dunia ini.
F. Kesimpulan
Imam Al-Ghazali atau al-Ghazali seorang ulama yang sangat generalis. Kontribusinya yang ditorehkan untuk Islam menjadikan beliau sebagai Imam para penulis. Ratusan kitab yang tulis dari buah
pikirannya. Seorang Filsuf, 24Sufi, kalam, dan Mufassir serta Faqih. Dalam Islam gerhana matahari dikenal dengan sebutan kusufus syamsi dan gerhana bulan dikenal dengan sebutan khusuful qamar. Sebagai tanda sebagian keagungan Allah tampil pada fenomena alam, seperti gerhana bulan atau gerhana matahari. Dua kejadian tersebut menjadi bagian dari ayat kauniyah yang biasanya dibedakan dari ayat qauliyah (Al- Qur’an). Ayat berarti tanda. Maksudnya, representasi dari kemahabesaran Allah, yang seharusnya membuat manusia kian meresapi kehadiran-Nya dan meningkatkan intensitas penghambaan. Imam Al-Ghazali dalam menafsirkan menyebutkan beberapa adab menyambut gerhana bulan sebagai berikut:25
:

.
“ Senantiasa memiliki rasa takut, menampak- kan rasa haru, segera bertobat, tidak bersikap mudah bosan, segera melaksanakan shalat, berlama-lama dalam shalatnya dan mera- sakan adanya peringatan.”
Bagi al-Ghazali, pemikiran tentang ger- hana bulan sama dengan pemikiran para fil- suf. Tidak semua pemikiran para filsuf dito- lak. ada juga yang tidak bertentangan dengan akidah (la yasdumu madzhabuhum fihi aslan min usuliddin). Pemikiran para filsuf tentang gerhana bulan (al-kusuf al-qamariy), yaitu hi- langnya cahaya bulan disebabkan posisi bumi yang berada di antara bulan dan matahari, ti- dak bertengangan dengan Islam. Saat gerha- na, bulan berada dalam bayang-bayang bumi,
24 Jurnal Al-Ulum et al., “ISLAM DAN LOGIKA MENURUT PEMIKIRAN ABU HAMID AL-GHAZALI Muhammad Nur IAIN Raden Intan Lampung,” no. 3 (2011): 47–78.
25 Imam al-Ghazali dalam risalahnya berjudul Al-Adab fid Din dalam Majmu’ah Rasail al-Imam al-Ghazali (Kairo, Al-Maktabah At-Taufiqiyyah, halaman 437)
30
maka sinar matahari tidak dapat diserap oleh bulan. Begitu juga dengan pemikiran mereka mengenai gerhana matahari (kusuf al-syams), tatkala posisi bulan berada di tengah antara bumi dan matahari.26
Hermeneutiknya terhadap al-Qur’an menggunakan metode kebanyakan para ula- ma ahlus sunnah, yaitu menggunakan metode tafsir bil matsur dan bil ra’yi. Corak penafsiran cenderung sufistik dengan Metode al-Takha- liyah dan al-Tahaliyah maksudnya mem- bersihkan jiwa dengan bermujahadah dari sifat-sifat tercela. Setelah bersih, jiwa akan mempunyai potensi besar untuk melakukan sifat-sifat yang luhur. kolaborasi yang seim- bang di antara ilmu jiwa dan akhlaq mulia serta sebagai kompromi antara makna zahir dan makna batin alquran (tekstual dan kon- tekstual).
DAFTAR PUSTAKA
Abdul baqi, Muhammad fuad. Al-Mu’jam Al Mufahras Li Alfazh Al-Qur’an Al- Karim. Cairo: Dar asy Sya’ab, 1945.
Abdullah, Taufik. Ensiklopedi Tematis Dunia Islam. Cetakan I. Jakarta: Ichtiar Baru Van Hoeve, 2002.
Al-‘Uthman, ‘Abd al-Karim. Sirah Al- Ghazali Wa Aqwal Al-Mutaqaddimin. Damaskus: Dar al-Fikr, n.d.
Al-Ghazali, Muhammad. Al-Munqîdz Min Al-DalâL. Beirut: Darl Fikr, 1996.
———. MaqâShid Al-FalâSifah. Beirut: Darul Fikr, 1960.
Al-Lahim, Ibrahim bin Abdullah. Al-Jarhu Wa Al-Ta’dil. Riyad: dar al-Rushd, 2003.
Al-Qur’an Dan Terjemahan. Depok: Penerbit Sabiq, 2009.
Al-Shirbashi, Ahmad. Al-Ghazaliwa Al-
26 Abu Hamid, “Alam Dalam Pandangan Abu Hamid Al- Ghazali” 12, no. 2 (n.d.).
Tasawwuf Al-Islami. Mesir: Dar al- Hilal, n.d.
‘Ali Mu’awwadh, ‘Adil ‘Abd al-Maujud. Mukaddimah Kitab Al-Wajiz Fi Fiqh Al-Imam Al-Shafi’i. Lebanon: al- Arqam, 1997.
Badawi, ‘Abd al-Rahman. Muallafat Al- Ghazali, n.d.
Baidan, Nashruddin. Wawasan Baru Ilmu Tafsir. Cetakan I. Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2005.
Dunya, Sulaiman. Al-Haqiqah Fi Nazhr Al-Ghazali. Kairo: Dar al-Ma’arif, 1971.
Education, Islamic, According To, and Imam Ghazali. “Oleh: Muhammad Khairil Mustofa,” n.d.
Gusmian, Islah. Khazanah Tafsir Indonesia. Edited by Mukhtar Alshodiq. Cetakan I. Bandung: Teraju, 2002.
Hamid, Abu. “Alam Dalam Pandangan Abu Hamid Al-Ghazali” 12, no. 2 (n.d.).
Mircea, Eliade. Encyclopedia of Religion. VI. New York: Mac Millan Publishing Company, 1987.
Soleh, Achmad Khudori. “Membandingkan Hermeneutika Dengan Ilmu Tafsir” 7, no. 1 (n.d.).
Sumaryono, E. Hermeneutika Sebuah Metode Filsafat. Edisi Revi. Yogyakarta: Kanisius, 1999.
Taimiyah, Ibn. Muqaddimat Fi Ushul Al-Tafsir. Cetakan I. Kuwait: Dar al- Qur’an al-Karim, 1971.