Perkembangan ilmu pengetahuan kedokteran pada masa dinasti abbasiyah

Download Perkembangan ilmu pengetahuan kedokteran pada masa dinasti abbasiyah

Post on 29-Nov-2014

418 views

Category:

Data & Analytics

2 download

Embed Size (px)

DESCRIPTION

 

TRANSCRIPT

<ul><li> 1. BAB I PENDAHULUAN Peradaban Islam adalah terjemahan dari kata arab Al-Hadharah al-Islamiyyah. Kata Arab ini sering juga diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia dengan kebudayaan Islam. Kebudayaan dalam bahasa Arab adalah al-Tsaqafah. Di Indonesia, sebagaimana juga di Arab dan Barat, masih banyak orang yang mensinonimkan dua kata kebudayaan (Arab, al- Tsaqafah; Inggris, culture) dan peradaban (Arab, al-Hadharah; Inggris, civilization). Dalam perkembangan ilmu antropologi sekarang, kedua istilah itu dibedakan. Kebudayaan adalah bentuk ungkapan tentang semangat mendalam suatu masyarakat. Sedangkan manifestasi-manifestasi kemajuan mekanis dan teknologis lebih berkaitan dengan peradaban. Kalau kebudayaan lebih banyak direfleksikan dalam seni, sastra, religi (agama) dan moral, maka peradaban terefleksi dalam politik, ekonomi dan teknologi.1[1] Peradaban sering dipakai untuk menyebut suatu kebudayaan yang mempunyai sistem teknologi, seni bangunan, seni rupa, sistem kenegaraan dan ilmu pengetahuan yang maju dan kompleks.2[2] Sejarah perkembangan Islam sejak zaman Nabi Muhammad SAW hingga saat ini akan terus berlangsung. Demikian pula dengan peradaban Islam, senantiasa akan berlangsung di berbagai wilayah dunia Islam. Seperti kita ketahui, Islam pernah mencapai kejayaan dalam bidang peradaban, bahkan sebelum bangsa Eropa maju, peradaban Islam telah mencapai puncak kejayaannya. Dengan demikian, tidak dapat disangkal bahwa karena peradaban Islam-lah peradaban Eropa menjadi maju, karena bangsa Eropa telah belajar dari peradaban Islam, khususnya dari peradaban Islam Spanyol. Oleh karena itu, mempelajari sejarah Islam dan peradabannya adalah suatu keniscayaan, agar kemajuan peradaban Islam dapat kembali diraih oleh umat Islam. Dinasti Abbasiyah merupakan dinasti Islam yang paling berhasil dalam mengembangkan peradaban Islam. Pemerintahan dinasti ini sangat peduli dalam upaya pengembangan ilmu pengetahuan, ini terbukti dengan disiapkannya segala fasilitas untuk kepentingan tersebut; pembangunan pusat-pusat riset dan terjemah seperti Baitu Hikmah, majelis munadzarah, dan pusat-pusat studi lainnya. Masa Daulah Abbasiyah adalah masa dimana umat Islam membangun pemerintahan, yang ilmu adalah sebagai landasan utamanya, sebagai suatu keniscayaan yang diwujudkan dalam membawa umat ke suatu negeri idaman, suatu kehausan akan ilmu pengetahuan yang belum pernah ada dalam sejarah. </li> <li> 2. BAB II PEMBAHASAN A. Sejarah Berdirinya Dinasti Abbasiyah Abbasiyah, nama dinasti kekhalifahan yang berkuasa mulai 749 hingga 1258 (132 H-656 H) ini diambil dari nenek moyangnya al-Abbas bin Abdul Mutalib bin Hasyim, paman Rasulullah.3[3] Dinasti Abbasiyah didirikan oleh Abu al-Abbas al-Saffah dan sekaligus sebagai khalifah pertama. Al-Saffah artinya sang penumpah darah. Menurut Prof. Dr. Hamka, Abu al-Abbas al-Saffah dikenal sebagi orang yang masyhur karena kedermawanannya, kuat ingatannya, keras hati, tapi sangat besar dendamnya kepada Bani Umayyah. Sehingga dengan tidak mengenal belas kasihan dibunuhnya keturunan-keturunan Bani Umayyah itu.4[4] Munculnya Dinasti Abbasiyah sering dihubungkan dengan kejatuhan Dinasti Umayyah.5[5] Dalam satu hal terdapat perbedaan yang sangat mendasar: Dinasti Umayyah terdiri atas orang Arab, sementara Dinasti Abbasiyah lebih bersifat internasional. Dinasti Abbasiyah merupakan kerajaan orang Islam baru, tempat orang Arab hanya menjadi salah satu unsur dari berbagai bangsa yang membentuk kerajaan itu.6[6] Oleh karena itu, penggantian Umayyah oleh Abbasiyah ini lebih dari sekedar penggantian dinasti, ia merupakan revolusi dalam sejarah Islam, suatu titik balik yang sama pentingnya dengan revolusi Prancis dan revolusi Rusia di dalam sejarah Barat.7[7] Ketika berhasil merebut kekuasaan, orang Abbasiyah mengklaim dirinya sebagai pengusung konsep sejati kekhalifahan, yaitu gagasan negara teokrasi, yang menggantikan pemerintahan sekuler (mulk) Dinasti Umayyah.8[8] Kekuasaan dinasti Abbasiyah berlangsung dalam rentang waktu yang panjang, yaitu selama lima abad. Selama dinasti ini berkuasa pola pemerintahan yang diterapkan berbeda-beda sesuai dengan perubahan politik, sosial dan budaya. Berdasarkan perubahan pola pemerintahan dan politik itu, para sejarawan biasanya membagi masa pemerintahan Bani Abbasiyah menjadi lima periode: 1. Periode pertama (132 H/750 M 232 H/847 M), disebut periode pengaruh Persia pertama. 2. Periode kedua (232 H/847 M - 334 H/945 M), disebut masa pengaruh Turki pertama. </li> <li> 3. 3. Periode ketiga (334 H/945 M 447 H/1055 M), masa kekuasaan dinasti Buwaih dalam pemerintahan khalifah Abbasiyah. Periode ini disebut juga masa pengaruh Persia kedua. 4. Periode keempat (447 H/1055 M 590 H/1194 M), masa kekuasaan dinasti Bani Seljuk dalam pemerintahan khalifah Abbasiyah, biasanya disebut juga dengan masa pengaruh Turki kedua. 5. Periode kelima (590 H/1194 M 656 H/1258 M), masa khalifah bebas dari pengaruh dinasti lain, tetapi kekuasaannya hanya efektif disekitar kota Bagdad.9[9] Pada mulanya Ibu kota negara adalah Al-Hasyimiyah, dekat Kufah. Namun untuk lebih memantapkan dan menjaga stabilitas negara yang baru berdiri itu, al-Manshur memindahkan ibu kota negara ke kota yang baru dibangunnya, Bagdad, dekat bekas ibu kota Persia, Ctesipon, tahun 762 M. Dengan demikian pusat pemerintahan Dinasti Abbasiyah berada ditengah-tengah bangsa Persia.10[10] Dinasti Abbasiyah, seperti halnya dinasti lain dalam sejarah Islam, mencapai masa kejayaan politik dan intelektual mereka segera setelah didirikan. Kekhalifahan Bagdad yang didirikan oleh Al-Saffah dan al-Manshur mencapai masa keemasannya antara masa khalifah ketiga, al- Mahdi, dan khalifah kesembilan, al-Watsiq dan lebih khusus pada masa khalifah Harun al- Rasyid dan anaknya, al-Mamun. B. Pemerintahan Dinasti Abbasiyah Dalam pemerintahan Dinasti Abbasiyah kepala negara adalah khalifah, yang setidaknya dalam teori memegang semua kekuasaan. Ia dapat melimpahkan otoritas sipilnya kepada seorang wazir, otoritas pengadilan kepada seorang hakim (qadhi), dan otoritas militer kepada seorang jenderal (amir), namun khalifah tetap menjadi pengambil keputusan akhir dalam semua urusan pemerintahan pemerintahan. Dalam melaksanakan fungsi dan tugas pemerintahannya khalifah Bagdad mengikuti pola administrasi Persia. Penolakan masyarakat terhadap pemerintahan sekuler Umayyah dimanfaatkan Abbasiyah dengan menampilkan diri sebagai pemerintahan imamah, yang menekankan karakteristik dan kewibawaan religius.11[11] Pergantian kepemimpinan secara turun-temurun seperti yang dilakukan pada masa Umayyah juga diikuti oleh Dinasti Abbasiyah, beserta dampak buruknya. Khalifah yang sedang berkuasa akan menunjuk penggantinya seorang anak, atau saudaranya yang ia pandang cakap atau menurutnya paling tepat. Khalifah dibantu oleh pejabat rumah tangga istana (hajib) yang bertugas memperkenalkan utusan dan pejabat yang akan mengunjungi khalifah. Ada juga </li> <li> 4. seorang eksekutor yang menjadi tokoh penting istana yang bertugas di bawah tanah istana, yakni tempat penyiksaan.12[12] Pendapatan negara pada masa Dinasti Abbasiyah bersumber dari pajak sebagai sumber utama, kemudian zakat yang dibebankan atas tanah produktif, hewan ternak, emas dan perak, barang dagangan, dan harta milik lainnya yang mampu berkembang baik secara alami maupun setelah diusahakan.13[13] Ada beberapa biro dalam pemerintahan Abbasiyah; biro pajak, biro pengawas, dewan korespondensi atau biro arsip yang menangani semua surat-surat resmi, dokumen politik serta instruksi dan ketetapan khalifah, dewan penyelidik keluhan atau semacam pengadilan tingkat banding/pengadilan tinggi, departemen kepolisian dan pos.14[14] Kekuatan militer Dinasti Abbasiyah terdiri atas pasukan infanteri (harbiyah) yang bersenjatakan tombak, pedang dan perisai, pasukan panah (ramiyah) dan pasukan kavaleri (fursan) yang mengenakan pelindung kepala dan dada serta bersenjatakan tombak panjang dan kapak. C. Masa Kejayaan Peradaban Dinasti Abbasiyah Peradaban dan kebudayaan Islam tumbuh dan berkembang bahkan mencapai kejayaannya pada masa Abbasiyah. Hal tersebut dikarenakan Dinasti Abbasiyah lebih menekankan pembinaan peradaban dan kebudayaan Islam daripada perluasan wilayah.15[15] Abad X Masehi disebut abad pembangunan daulah islamiyah di mana Dunia Islam, mulai Cordova di Spanyol sampai ke Multan di Pakistan mengalami pembangunan di segala bidang, terutama di bidang ilmu pengetahuan, teknologi dan seni. Dunia Islam pada waktu itu dalam keadaan maju, jaya, makmur; sebaliknya dunia Barat masih dalam keadaan gelap gulita, bodoh dan primitif. Dunia Islam telah sibuk mengadakan penyelidikan di laboratorium dan observatorium; dunia barat masih asyik dengan jampi-jampi dan dewa-dewa. Hal ini disebabkan agama yang dibawa oleh Nabi Muhammad telah menimbulkan dorongan untuk menumbuhkan suatu kebudayaan baru yaitu kebudayaan Islam. 1. Kehidupan Masyarakat Pada Masa Dinasti Abbasiyah Sistem kesukuan primitif yang menjadi pola organisasi sosial Arab paling mendasar runtuh pada masa Dinasti Abbasiyah, yang didirikan dari berbagai unsur asing. Bahkan dalam </li> <li> 5. persoalan memilih istri dan ibu untuk anak-anak mereka, para khalifah tidak menjadikan darah keturunan Arab sebagai patokan.16[17] Pada masa awal Dinasti Abbasiyah, kaum wanita cenderung menikmati tingkat kebebasan yang sama dengan kaum wanita pada masa Dinasti Umayyah. Pada masa itu banyak perempuan yang berhasil mengukir prestasi dan berpengaruh di pemerintahan.17[18] Pada masa ini, busana laki-laki memiliki corak yang beragam dengan model terbatas. Penutup kepala yang biasa dipakai adalah qalansuwah18[19], celana panjang yang lebar (sarawil) dari Persia, kemeja, rompi dan jaket (qufthan), dengan jubah luar (aba atau jubbah), melengkapi lemari pakian laki-laki.19[20] Perabotan rumah yang paling umum adalah diwan20[21]. Karpet buatan tangan dipakai untuk menutupi lantai. Makanan disajikan pada nampan lebar dari perunggu. Dirumah-rumah orang berada nampan-nampan itu terbuat dari perak. Nasi mereka anggap sebagai makan beracun dan menggantinya dengan menu-menu dari negeri berperadaban tinggi seperti daging rebus beraroma dan manisan. Mereka menggunakan roti tipis sebagai alat tulis. Ayam peliharaan mereka diberi makan berupa kenari, kacang almond dan susu. Pada musim panas rumah- rumah mereka didinginkan dengan es.21[22] Masyarakat kelas atas yang berada dibawah kelas aristokrat terdiri atas penulis sastra, orang terpelajar, seniman, pengusaha, pengrajin, dan pekerja profesional. Sementara masyarakat kelas bawah membentuk mayoritas penduduk negara yang terdiri atas petani, pengembala, dan penduduk sipil yang berstatus sebagai dzimmi. Kekuasaan kerajaan yang luas dan tingkat peradaban yang tinggi dicapai dengan melibatkan jaringan perdagangan internasional yang luas. Para pedagang yang awalnya orang Kristen, Yahudi dan pengikut Zoroaster kemudian digantikan oleh orang-orang Arab Islam, sehingga pelabuhan-pelabuhan seperti Baghdad, Bashrah, Siraf, dan Iskandariyah segera berkembang menjadi pusat perdagangan laut dan darat yang aktif. Tingkat perdagangan seperti itu dicapai dengan dukungan pengembangan industri rumah tangga dan pertanian yang maju. Industri kerajinan tangan menjamur di berbagai pelosok kerajaan, seperti industri karpet, sutera, kapas, kain wol, satin dan brokat, sofa, serta perlengkapan dapur dan rumah tangga lainnya. Industri penting yang perlu dicatat adalah pembuatan kertas tulis, yang diperkenalkan pada pertengahan abad ke-8 dari Cina ke Samarkand. Seni mengolah perhiasan juga mengalami </li> <li> 6. kejayaannya; mutiara, safir, rubi, emerald, permata, zamrud, dan onyx (semacam batu akik). Perhiasan itu banyak digunakan untuk aksesoris penghias kepala, sepatu dan lain-lain.22[23] 2. Kebangkitan Intelektual Gerakan membangun ilmu secara besar-besaran dirintis oleh khalifah Jafar al-Manshur, setelah ia mendirikan kota Bagdad (144 H/762 M) dan menjadikannya sebagai ibukota negara.23[24] Ia menarik banyak ulama dan para ahli dari berbagai daerah untuk datang dan tinggal di Bagdad. Ia merangsang usaha pembukuan ilmu agama, seperti fiqih, tafsir, tauhid, hadits, atau ilmu lain seperti bahasa dan ilmu sejarah. Akan tetapi yang lebih mendapat perhatian adalah penerjemahan buku ilmu yang dari luar. Pada masa itu hidup para filsuf, pujangga, ahli baca al-Quran, dan para ulama di bidang agama. Didirikan perpustakaan yang diberi nama Baitul Hikmah, didalamnya orang dapat membaca, menulis, dan berdiskusi.24[25] Berkembanglah ilmu pengetahuan agama seperti ilmu al-Quran, qiraat, hadits, fiqih, ilmu kalam, bahasa dan sastra. Empat madzhab fiqih tumbuh dan berkembang pada masa Dinasti Abbasiyah. Imam Abu Hanifah (meninggal di Bagdad tahun 150 H/667 M) adalah pendiri Madzhab Hanafi. Imam Malik bin Anas banyak menulis hadits dan pendiri madzhab Maliki (wafat di Madinah tahun 179 H/795 M). Muhammad bin Idris Asy-Syafii (wafat di Mesir tahun 204 H/819 M) adalah pendiri Madzhab Syafii. Ahmad bin Hanbal pendiri madzhab Hanbali (wafat tahun 241 H/855 M). Di samping itu berkembang pula ilmu filsafat, logika, metafisika, matematika, ilmu alam, geografi, aljabar, aritmatika, astronomi, musik, kedokteran, dan kimia.25[26] Dinasti Abbasiyah dengan pusatnya di Bagdad sangat maju sebagai pusat kota peradaban dan pusat ilmu pengetahuan. Beberapa kemajuan dalam bidang ilmu pengetahuan dapat disebutkan sebagai berikut: a. Perkembangan Bidang Ilmu Naqli Ilmu naqli adalah ilmu yang bersumber dari naqli (al-Quran dan Hadits), yaitu ilmu yang berhubungan dengan agama Islam. Ilmu ini mulai disusun perumusannya pada sekitar 200 tahun setelah hijrah Nabi sehingga menjadi ilmu yang kita kenal sekarang,26[27] antara lain ulumul quran, ilmu tafsir, hadis, ilmu kalam, bahasa, dan fiqih.27[28] </li> <li> 7. 1) Ilmu Fiqh: Pada masa Abbasiyah lahir para tokoh Fuqoha (ahli Fiqih) pendiri madzhab, antara lain: a) Imam Abu Hanifah (700-767 M) b) Imam Malik (713-795 M) c) Imam Syafii (767-820 M) d) Imam Ahmad bin Hanbal (780-855 M) 2) Ilmu Tafsir. Dari tafsir yang ada cera penafsirannya ada dua macam: Tafsir bi al-matsur, yaitu menafsirkan al-Quran dengan hadits Nabi. Mufassir masyhur golongan ini pad...</li></ul>