penerapan pengetahuan genesa batu bara

10
PENERAPAN PENGETAHUAN GENESA BATUBARA Penerapan atau manfaat genesa batubara cukup banyak, tidak hanya untuk eksplorasi batubara sendiri tetapi juga untuk keperluan yang lain. Genesa batubara sampai saat ini sangat mendukung beberapa keperluan yang masih ada hubungan dengan geologi, eksplorasi maupun pengolahan, pencucian ataupun pemanfaatan batubara. Belakangan ini ilmu genesa batubara sangat banyak dipakai dalam eksplorasi minyak bumi. Secara garis besar untuk contoh, diberikan uraian dari masing- masing manfaat di bawah ini Eksplorasi batubara Eksplorasi minyak dan gas bumi Mempelajari proses sedimentasi dan diagenesa batuan sedimen Mempelajari tektonik 1. UNTUK EKSPLORASI BATUBARA Dengan mengetahui genesa batubara suatu daerah maka akan sangat berguna untuk keperluan eksplorasinya. Dari model genesa akan bisa ditentukan atau dipilih metoda dan eksplorasi yang tepat.

Upload: lehmann-jack

Post on 10-Dec-2014

117 views

Category:

Documents


6 download

DESCRIPTION

makalah

TRANSCRIPT

PENERAPAN PENGETAHUAN GENESA BATUBARA

Penerapan atau manfaat genesa batubara cukup banyak, tidak hanya untuk eksplorasi batubara sendiri tetapi juga untuk keperluan

yang lain. Genesa batubara sampai saat ini sangat mendukung beberapa keperluan yang masih ada hubungan dengan geologi,

eksplorasi maupun pengolahan, pencucian ataupun pemanfaatan batubara. Belakangan ini ilmu genesa batubara sangat banyak

dipakai dalam eksplorasi minyak bumi. Secara garis besar untuk contoh, diberikan uraian dari masing-masing manfaat di bawah ini

Eksplorasi batubara

Eksplorasi minyak dan gas bumi

Mempelajari proses sedimentasi dan diagenesa batuan sedimen

Mempelajari tektonik

1. UNTUK EKSPLORASI BATUBARA

Dengan mengetahui genesa batubara suatu daerah maka akan sangat berguna untuk keperluan eksplorasinya. Dari model

genesa akan bisa ditentukan atau dipilih metoda dan eksplorasi yang tepat.

Penafsiran luas penyebaran karena dengan tahu lokasi terjadinya (type cekungan, dimensi cekungan) maka kita akan lebih baik

dalam membatasi daerah eksplorasi, batas penyebaran bisa diketahui dari kenampakan atau keberadaan (pemunculan) sisipan

atau kita bisa menduga dari hasil pengamatan mikroskopi (maseral).

Kemungkinan struktur bisa dikaitkan dengan cekungan tempat batubara terendapkan. Stabilitas tektonik dan akibatnya terhadap

endapan batubara baik dari segi geometri lapisan maupun kalitas dan rank batubara.

Tipe batubara (berlapis dan tidak berlapis) tergantung pada fasies pengendapan dan ini juga akan berkaitan dengan kualitas

batubaranya.

Metoda eksplorasi yang dipakai juga dipengaruhi oleh genesa. Apakah berasosiasi dengan batuan samping tertentu yang

mudah dikenal, struktur geologi yang menyertai sehingga keberadaanya bisa dekat permukaan atau jauh di bawah, menerus atau

setempat, horisontal atau miring dan sebagainya.

Cara pengambilan contoh apakah dengan bor, test pit, atau paritan. Hal ini sangat tergantung pada genesa, begitu juga lokasi

pengambilan contoh apakah channel sampling dari bagian atas sampai bagian bawah lapisan, persatuan tebal, di bagian tengah, di

bagian pinggir dan sebagainya.

Kualitas dan rank batubara diketahui dengan analisa tetapi penyebaran rank dan kualitas bisa dikejar dengan penerapan

ilmu genesanya. Apakah rank yang ada akibat suatu proses geologi yang berpengaruh luas atau lokal, dalam waktu yang panjang

atau relatif singkat. Kualitas yang terjadi apakah akibat suatu proses sesudah pengendapan atau terjadi saat proses

pembatubaraan berlangsung atau memang merupakan hasil proses pengendapan.

2. UNTUK EKSPLORASI MINYAK DAN GAS BUMI

Genesa batubara sangat erat kaitannya dengan genesa minyak bumi sehingga pengetahuan genesa batubara sangat

dihandalkan untuk eksplorasi minyak dan gas bumi (Gambar 5.1). Keberadaan komponen organik pada setiap batuan sedimen

termasuk batuan induk yang mengandung minyak dan tempat terbentuknya minyak bumi. Minyak bumi terbentuk dari komponen

organik (umumnya binatang) pada tingkat kematangan (maturity) batuan sedimen tertentu. Tingkat kematangan organik yang ada

pada sedimen dengan mudah ditentukan dari pengukuran reflektan (rank batubara) komponen organik sisa tumbuhan yang ada

pada sedimen.

Genesa batubara memberikan gambaran yang jelas untuk rank dalam kaitan dengan terbentuknya minyak bumi.

Terbentuknya maseral sekunder seperti Exsudatinit dan mikrinit pada batubara) sebagai indikator oil window (daerah rank

terbentuknya minyak bumi pada sedimen), sehingga dengan mengetahui indikator ini maka eksplorasi minyak dan gas bumi bisa

diarahkan sesuai dengan kemungkinan arah migrasinya.

Bahkan beberapa ahli pernah memikirkan tentang terbentuknya minyak bumi yang bersumber dari batubara (batubara sebagai

batuan induk minyak bumi). Hal ini secara teori mungkin terbentuk tetapi migrasi untuk akumulasi dalam jumlah yang banyak masih

tidak mungkin karena pori-pori pada batubara sangat kecil.

3. UNTUK MEMPELAJARI PROSES DIAGENESA PADA BATUAN SEDIMEN SELAIN BATUBARA

Rank pada batubara merupakan akibat dari temperatur, tekanan dalam waktu yang relatif panjang. Sehingga hal ini analog

dengan proses yang terjadi pada batuan sedimen yang lain yang mengalami proses diagenesa. Pada batubara dengan mudah

dapat diketahui rank-nya sedangkan pada batuan sedimen yang lain agak sulit. Rank pada batubara merupakan posisi meterial

organik akibat proses pembatubaraan dan ini merupakan proses irreversible sehingga kalau suatu rank sudah dicapai maka tidak

akan bisa kembali ke kondisi aslinya. Dengan anggapan bahwa setiap batuan sedimen mengandung unsur organik yang bisa

diukur reflektifitasnya sebagai indikator rank maka dengan cepat dapat diketahui proses atau akibat proses diagenesa yang dialami

oleh batuan sedimen itu. Artinya walaupun keberadaannya saat ini di permukaan (tersingkap) bukan berarti dari sejak terbetuknya

tidak pernah berada pada kedalaman yang tinggi dimana temperatur tinggi (akibat gradien geothermal) dan tebal batuan penutup

yang mengakibatkan tekanan yang tinggi juga. Dengan demikian komponen organik yang berasal dari tumbuhan akan mempunyai

rank yang tinggi sesuai dengan temperatur dan tekanan yang pernah dialaminya (Gambar 5.2).

4. MEMPELAJARI TEKTONIK

Dari rank batubara yang terdapat pada suatu cekungan bisa dipelajari sejarah cekungan tempat terdapatnya endapan

batubara tersebut. Rank batubara yang tinggi bisa dikaitkan dengan masa lalu cekungan itu yang pernah berada turun sampai

kedalaman tertentu (tinggi). Proses naik turunnya cekungan sulit diketahui dari sedimen yang lain, sedangkan dari komponen

organik (batubara pada sedimen) itu dapat diketahui bahwa komponen organik yang ada pada sedimen itu sudah pada rank

tertentu dengan korelasi temperatur dan beban yang pernah dialami (Gambar 5.2). Distribusi rank yang tidak merata

mencerminkan keberadaan penyebab lokal. Hal ini bisa akibat struktur sesar, pelipatan ataupun akibat intrusi. Yang penting adalah

keberadaan suatu proses yang mengakibatkan adanya temperatur atau tekanan yang tinggi atau bahkan keduanya sekaligus.

Tidak homogennya lapisan, adanya banyak sisipan atau lapisan bercabang mecerminkan kondisi cekungan tempat

pengendapan batubara yang tidak stabil, dalam artian penurunan cekungan yang tidak homogen.

5. UNTUK PEMANFAATAN, PENGOLAHAN DAN PENCUCIAN BATUBARA

Batubara merupakan hasil proses yang terjadi terhadap tumpukan tumbuhan (gambut), sehingga dalam hal ini variasi

batubara yang dihasilkan akan sangat beragam. Dari genesanya bisa diketahui beberapa faktor penentu kualitas, rank dan tipenya

sehingga akan sangat membantu dalam perencanaan pemanfaatan maupun pengolahan dan pencucian.

Disamping itu faktor penentu kualitas batubara bisa terjadi bersamaan dengan proses pembatubaraan (tidak mencerminkan

lingkungan pengendapannya).

Dari genesa bisa diinterpretasikan jenis tumbuhan pembentuknya, tempat terjadinya, cara terjadinya dan seberapa jauh

proses pembatubaraan berlangsung. Batubara terbentuk dari berbagai jenis tumbuhan. Jenis tumbuhan pembentuk akan

bertanggung jawab terhadap komposisi maseral yang sangat menentukan karakteristik batubara yang berkaitan dengan

peruntukannya. Dalam hal ini bukan hanya jenis tumbuhan saja yang penting tetapi juga dari bagian apanya dari tumbuhan

batubara terbentuk.

Tempat terjadinya apakah di cekungan di lingkungan darat/air tawar, payau atau bahkan laut, akan membawa konsekuensi

terhadap tipe dan kualitas batubara. Apakah dia berlapis ataupun tidak berlapis tentu akan sangat mempengaruhi dalam proses

pemanfaatan/pengolahan.

Batubara yang terbentuk dari tipe atau fasies bawah air akan mempunyai kandungan abu dan sulfur yang lebih tinggi

dibanding yang terjadi dari gambut tipe highmoor.

Keterdapatan mineral (baik jenis maupun bentuknya) akan sangat mempengaruhi cara pengolahan atau pencuciannya.

Keterdapatan mineral ini bisa banyak ragamnya dengan genesa yang beragam pula. Oleh karena itu keberadaan mineral dalam

bentuk yang beragam dan terjadinya juga beragam akan sangat mempengaruhi cara pencucian, pengolahan bahkan peruntukan

batubaranya.

Belum lagi kondisi batuan samping dengan lingkungan pengendapan yang beragam, komposisi juga beragam, dapat juga

mempengaruhi kualitas batubaranya. Hal ini umumnya mempengaruhi batubara pada saat pembatubaraan berlangsung.

Komposisi meseral batubara yang merupakan produk dari ragam tumbuhan pembentuk sangat menentukan peruntukannya.

Batubara dengan komposisi dominan atrinit yang merupakan cerminan pembentuk yang kebanyakan dari tumbuhan perdu yang

banyak tumbuh pada lingkungan yang kurang subur atau kondisi PH yang kecil (asam) dimana hanya mengandalkan air hujan

(highmoor) akan baik untuk briket.

Batubara yang banyak unsur gelinit yang diyakini merupakan produk gelifikasi (bagian awal proses pembatubaraan yang

berlangsung tergantung air) akan kurang baik untuk briket.

Sebenarnya masih sangat banyak aplikasi ilmu genesa batubara untuk keperluan baik ilmu perbatubaraan maupun industri

perbatubaraan.

DAFTAR PUSTAKA

1. Diessel C. F. K. (1984) : Coal Geology, Australian Mineral Foundation, Workshop Course 274/84, Indonesia : 208 S.

2. Diessel C. F. K. (1993) : Coal Bearing Depositional Systems

3. Göttlich K., Editor (1980) : Moor und Torfkunde, 2. Auflage, E. Schweizerbart’sche Verlagsbuchhandlung (Nägele u. Obermiller), Stuttgart : 338 S.

4. Hollerbach A. (1985) : Grundlagen der organischen Geochemie, Springer Verlag, Berlin-Heidelberg : 190 S.

5. Stach E., Mackowsky M. TH., Teichmüller M., Taylor G. H., Chandra D., Teichmüller R. (1982) : Stach’s Textbooks of Coal Petrology, Gebrüder Borntraeger, Berlin-Stuttgart : 535 S.

6. Taylor G. H., Teichmueller M., Davis A., Diessel C. F. K., Littke R., Robert P. (1998), “Organic Petrologi”, Gebrueder Borntraeger, Berlin, Stuttgart.

7. Tissot B. P., Welte D. H. (1984) : Petroleum Formation and Occurrence, 2nd Edition, Springer Verlag, Berlin : 538 S.

8. Van Krevelen D. W. (1993) : Coal, Typology-Chemistry-Physics-Constitution, 3rd Comp. Rev. ed., Elsevier, Amsterdam, London, New York, Tokyo : 979 S.