nilai-nilai pendidikan islam dalam novel 99 ...e-repository.perpus.iainsalatiga.ac.id/127/1/nur...

of 82/82
NILAI-NILAI PENDIDIKAN ISLAM DALAM NOVEL 99 CAHAYA DI LANGIT EROPA (TELAAH KAJIAN DARI ASPEK UNSUR-UNSUR PENDIDIKAN) SKRIPSI Diajukan untuk Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan Islam Oleh: NURHIDAYAH NIM 111 11 136 JURUSAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM FAKULTAS TARBIYAH DAN ILMU KEGURUAN INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI (IAIN) SALATIGA 2015

Post on 05-Feb-2020

10 views

Category:

Documents

0 download

Embed Size (px)

TRANSCRIPT

  • NILAI-NILAI PENDIDIKAN ISLAM DALAM NOVEL 99

    CAHAYA DI LANGIT EROPA

    (TELAAH KAJIAN DARI ASPEK UNSUR-UNSUR

    PENDIDIKAN)

    SKRIPSI

    Diajukan untuk Memperoleh Gelar

    Sarjana Pendidikan Islam

    Oleh:

    NURHIDAYAH

    NIM 111 11 136

    JURUSAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM

    FAKULTAS TARBIYAH DAN ILMU KEGURUAN

    INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI (IAIN) SALATIGA

    2015

  • KEMENTERIAN AGAMA

    INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI (IAIN) SALATIGA

    Jl. Tentara Pelajar No. 2 Telp. (0298) 323706.323433 Fax 323433Salatiga

    50721

    Website: www.iainsalatiga.ac.id E-mail: [email protected]

    PERSETUJUAN PEMBIMBING

    Setelah dikoreksi dan diperbaiki, maka skripsi saudara:

    Nama : NURHIDAYAH

    NIM : 11111 136

    Fakultas : Tarbiyah

    Jurusan : S1-Pendidikan Agama Islam

    Judul : NILAI-NILAI PENDIDIKAN ISLAN DALAM

    NOVEL 99 CAHAYA DI LANGIT EROPA (TELAAH

    KAJIAN DARI ASPEK UNSUR-UNSUR

    PENDIDIKAN)

    telah kami setujui untuk dimunaqosyahkan.

    Salatiga, Agustus 2015

    Pembimbing,

    Dr. H. Muh. Saerozi, M.Ag.

    NIP. 19660215 199103 1001

    http://www.iainsalatiga.ac.id/mailto:[email protected]

  • SKRIPSI

    NILAI-NILAI PENDIDIKAN ISLAM DALAM NOVEL 99 CAHAYA

    DI LANGIT EROPA

    (TELAAH KAJIAN DARI ASPEK UNSUR-UNSUR PENDIDIKAN)

    DISUSUN OLEH

    NURHIDAYAH

    NIM:111 11 136

    Telah dipertahankan di depan Panitia Dewan Penguji Skripsi Jurusan Pendidikan

    Agama Islam (PAI) Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan Institut Agama Islam

    Negeri (IAIN) Salatiga pada tanggal 29 Agustus 2015 dan telah dinyatakan

    memenuhi syarat guna memperoleh gelar Sarjana S1 Kependidikan Islam.

    Susunan Panitia Penguji

    Ketua Penguji : Drs. Bahroni, M.Pd.

    Sekretaris Penguji : Dr. H. Muh. Saerozi, M.Ag

    Penguji I : Dra. Djami’atul Islamiyah, M. Ag.

    Penguji II : Drs. Abdul Syukur, M. Si

    Salatiga, 29 Agustus 2015

    Dekan

    FTIK IAIN Salatiga

    Suwardi, M.Pd

    NIP. 19670121 199903 1 002

  • PERNYATAAN KEASLIAN TULISAN

    Saya yang bertanda tangan di bawah ini:

    Nama : NURHIDAYAH

    NIM : 111 11 136

    Jurusan : Tarbiyah

    Program Studi : S1-Pendidikan Agama Islam

    Menyatakan bahwa skripsi yang saya tulis ini benar-benar merupakan karya

    saya sendiri, bukan jiplakan dari karya orang lain. Pendapat-pendapat atau temuan

    dari orang lain yang terdapat dalam skripsi ini dikutip atau dirujuk berdasarkan

    kode etik ilmiah.

    Salatiga, Agustus 2015

    Yang menyatakan,

    NURHIDAYAH

    NIM. 111 11 136

  • MOTTO HIDUP

    “Hidup ini bagaikan samudra tempat banyak ciptaan-ciptaan-Nya yang

    tenggelam. Maka jelajahilah dunia ini dengan menyebut nama Allah. Jadikanlah

    ketakutanmu pada Allah sebagai kapal-kapal yang menyelamatkan.

    Kembangkanlah keimanan sebagai layarmu, logikasebagai pendayung kapalmu,

    ilmu pengetahuan sebagai nahkoda perjalananmu, dan kesabaran sebagai

    jangkar dalam setiap badai cobaan.”(Ali bin AbiThalib)

    PERSEMBAHAN

    Untuk Bapak (alm Mashudi), Ibu Siti Juariah, kakak-kakak dan andik-adikku

    tercinta yang menjadi inspirasi dan semangatku.

    Untuk keluarga besar tercinta yang menjadi inspirasi dan semangatku pula.

  • KATA PENGANTAR

    Segala Puji syukur senantiasa penulis panjatkan kehadirat Allah SWT

    yang dengan rahmad, taufiq, dan hidayahnya, skripsi dengan judul Nilai-Nilai

    Pendidikan Islam Dalam Novel 99 Cahaya di Langit Eropa (Telaah Kajian Dari

    Aspek Unsur-Unsur Pendidikan) Karangan Hanum Salsabila Rais dan Rangga

    Almahendra ini bisa terselesaiakan.

    Shalawat serta salam penulis haturkan kepada junjungan baginda

    Rasulullah Muhammad SAW, manusia inspirasi penuh keteladanan yang

    senantiasa dinantikan syafa’atnya dihari kiamat. Tidak lupa shalawat serta salam

    juga disampaikan kepada keluarga sahabat dan orang-orang yang senantiasa

    Istiqomah di jalankebaikan .

    Penulis menyadarai bahwa penulisan skripsi ini tidak akan selesai tanpa

    motivasi, dukungan, dan bantuan dari berbagai pihak. Oleh karenanya

    Olehkarenanya, penulis mengucapkan terimakasih kepada semua pihak yang telah

    membantu dalam menyelesaikan kepada semuapihak yang telah membantu dalam

    menyelesaikan skripsi ini. Secara khusus penulis menyampaikan terimakasih

    kepada:

    1. Bapak Dr. H. Rahmat Hariyadi, M.Pd.,selaku Rektor IAIN Salatiga yang

    senantiasa memberi wejangan inspirasinya.

    2. Bapak Suwardi, M.Pd.,selaku Dekan Fakultas Tarbiyah dan Ilmu keguruan

    IAIN Salatiga.

  • 3. Ibu Siti Ruhayati, M,Ag., selaku Ketua Jurusan Pendidikan Agama Islam

    (PAI) IAIN Salatiga.

    4. Bapak Dr.H. Muh Saerozi, M.Ag. selaku pembimbing yang telah

    meluangkan watunya untuk mengarahkan dan membimbing menulis

    dalam proses penulisan skripsi.

    5. Ibu Eva Palupi, S.Psi selaku dosen Pembimbing Akademik penulis yang

    dengan kesabaranya, membimbing penulis dari waktu kewaktu.

    6. Bapak dan Ibu dosen karyawan IAIN Salatiga yang telah memberikan

    ilmu, semangat, dan inspirasinya kepada penulis.

    7. Sahabat perjuang disafira tercinta, dan najwa yang senantiasa mendukung,

    memotivasi saya disetiap waktunya.

    8. Terimakasih mbak Endang dan akh Fikri yang telah meluangkan

    waktunya untuk mengarahkan, membimbing, dan memotivasi saya

    semoga kalian menjadi pasangan serasi dengan ikatan yang suci.

    9. Sahabat perjuang di Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia

    (KAMMI) Salatiga tetaplah pada semangat nafas perjuangan menegagkan

    dinnul Islam.

    10. Sahabat perjuangan teman-teman PAI angkatan 2011, terkhusus kelas D,

    temen-temen PPL dan KKN terimakasih atas semua motivasi kawan-

    kawan semua untuk senantiasa berjuang menjadi agen muslim yang

    menebarkan kebaikan.

  • 11. Semua pihak yang tidak dapat saya sebutkan satu persatu terimakasih atas

    motivasinya semoga Allah senantiasa membalas kebaikan teman-teman

    dengan sebaik-baiknya balasan.

    Penulis menyadari dalam penulisan skripsi ini masih jauh dari

    kesempurnaan dan masih banyak kekurangan baik secara subtansitif

    ataupun teknis. Oleh karenanya penulis sangat mengharapkan kritik dan

    saran dari semua pihak agar bisa menjadi evaluasi dan perbaikan untuk

    kedepanya. Semoga skripsi ini bisa memberikan manfaat kepada pembaca

    khususnya kepada penulis.

    Penulis

  • ABSTRAK

    Nurhidayah. 2015. Nilai-nilai Pendidikan Islam dalam Novel 99 Cahaya di Langit

    Eropa (telaah kajian dari aspek unsur-unsur pendidikan)karya Hanum

    Salsabila Rais dan Rangga Almahendra. Skripsi. Jurusan Tarbiyah dan

    Ilmu Keguruan. Jurusan Pendidikan Agama Islam. Institut Agama Islam

    Negeri Salatiga. Pembimbing Dr.H. Muh Saerozi, M.Ag.

    Kata Kunci: Nilai-nilaiPendidikan Islam, Novel 99 Cahaya di Langit Eropa.

    Pendidikan Islam adalah suatu komponen inti dalam dunia pendidikan.

    Karena manusia membutuhkan tidakhanya pengetahuan saja namun juga kekuatan

    spiritual keagamaan agar terbentuk manusia seutuhnya (insan kamil) sesuai

    dengan norma Islam. Pendidikan didapat tidak hanya melalui sekolah formal saja.

    Pendidikan didapat dari mana saja. Salah satunya melalui karya sastra yang

    bermutu dan berkualitas yaitu novel 99 Cahaya di Langit Eropa karya Hanum

    Salsabila Rais dan Rangga Almahendra. Penelitian ini bertujuan untuk

    mengetahui: 1) Nilai-nilai pendidikan Islam dalam novel 99 Cahaya di Langit

    Eropa. 2) Relevansi pendidikan Islam novel 99 Cahaya di Langit Eropa dalam

    kehidupan masyarakat muslim.

    Penelitian ini merupakan jenis penelitian kepustakaan (library research),

    sedangkan dalam pengumpulan datanya menggunakan interview dan documenter.

    Analisis data yang digunakan dalam skripsi ini adalah analisis (content analysis).

    Hasil penelitian menyimpulkan bahwa: 1) Nilai-nilai Pendidikan Islam

    yang terkandung dalam novel 99 Cahaya di Langit Eropa, yaitu nilai pendidikan

    aqidah/keimanan, nilai pendidikan ibadah, nilai pendidikan akhlak. 2) Relevansi

    pendidikan novel 99 Cahaya di Langit Eropa dalam kehidupan masyarakat

    Muslim, yaitu hidup mandiri, ajakan untuk menuntut ilmu, ajaran untuk

    senantiasa bersabar, perintah mengerjakan shalat dan puasa, perintah untuk

    berbicara dengan baik, dan tatacara berhubungan dengan beda agama.

  • DAFTAR ISI

    SAMPUL ................................................................................................... i

    PERSETUJUAN PEMBIMBING.............................................................. ii

    LEMBAR PENGESAHAN ....................................................................... iii

    PERNYATAAN KEASLIAN TULISAN ................................................. iv

    MOTTO DAN PERSEMBAHAN ............................................................. v

    KATA PENGANTAR................................................................................ vi

    ABSTRAK ................................................................................................ ix

    DAFTAR ISI ............................................................................................. x

    DAFTAR LAMPIRAN ............................................................................. xi

    BAB I PENDAHULUAN

    A. Latar Belakang Masalah .................................................... 1

    B. Rumusan masalah .............................................................. 6

    C. Tujuan Penelitian ............................................................... 6

    D. Manfaat Penelitian ............................................................. 6

    E. Metode Penelitian ............................................................. 7

    F. Penegasan Istilah .............................................................. 12

    G. Sistematika Penulisan......................................................... 14

    BAB II BIOGRAFI NOVEL

    A. Biografi Pengarang ............................................................. 16

    B. Latar Belakang Penulisan Novel......................................... 18

    C. Dasar Pemikiran Pengarang Novel .................................... 20

    D. Hasil Karya Hanum Salsabila Rais Dan Rangga Almahend 20

    BAB III NILAI-NILAI PENDIDIKAN ISLAM

  • A. Unsur Pendidikan................................................................ 23

    B. Nilai Pendidikan .................................................................. 37

    1. Nilai Pendidikan Aqidah............................................... 37

    2. Nilai Pendidikan Ibadah ................................................ 45

    3. Nilai Pendidikan Akhlaq ............................................... 49

    BAB IV RELEVANSI DALAM PENDIDIKAN MASYARAKAT MUSLIM

    Relevansi dalam Kehidupan Masyarakat Muslim ...................... 54

    BAB V PENUTUP

    A. Kesimpulan ........................................................................... 62

    B. Saran ..................................................................................... 65

    DAFTAR PUSTAKA .................................................................................. 67

    LAMPIRAN-LAMPIRAN

  • DAFTAR LAMPIRAN

    1. Surat Tugas Pembimbing Skripsi

    2. Satuan Kredit Kegiatan (SKK)

    3. Lembar Bimbingan Sekripsi

    4. Riwayat Hidup Penulis

  • BAB I

    PENDAHULUAN

    A. Latar Belakang Masalah

    Disebutkan dalam Al-Qur’an surat Al-Baqarah ayat 30 bahwa entitas

    manusia diciptakan di bumi adalah sebagai khalifah. Dalam sebuah kisah yang

    diabadikan dalam Al-Qur’an tersebut, ketika Allah SWT mengatakan hal

    tersebut kepada para malaikat, mereka protes. Mereka berpikir bahwa manusia

    ini adalah makhluk yang suka berbuat kerusakan di bumi dan suka saling

    membunuh satu sama lain. Kemudian Allah SWT menunjukkan kepada para

    malaikat tersebut tentang keistimewaan Adam, yang merupakan manusia

    pertama yang diciptakan oleh Allah SWT. Keistimewaan tersebut adalah

    tentang ilmu yang diberikan Allah SWT kepada Adam (QS. Al-Baqarah:30-

    32).

    Sebuah entitas sebagai seorang khalifah yang bertugas mengelola dan

    memimpin diberikan pengertian bahwa tugas tersebut bisa dilakukan dengan

    bekal ilmu. Sehingga tugas sebagai seorang khalifah bisa terlaksana dengan

    baik dan bisa memberikan kemanfaatan. Sedemikian pentingnya ilmu, maka

    tidak heran orang-orang yang berilmu mendapat posisi yang tinggi baik di sisi

    Allah maupun manusia (QS. Al Mujadilah:11). Bahkan syaithanpun kewalahan

    terhadap orang muslim yang berilmu, karena dengan ilmunya, ia tidak mudah

    terpedaya oleh tipu muslihat syaithan.

  • Ilmu merupakan hal abstrak yang bisa dimiliki manusia ketika dia

    menangkap ilmu tersebut. Semisal ilmu tentang komputer, seseorang akan

    memiliki ilmu mengenai hal tersebut lantaran dia belajar atau diajari

    bagaimana mengoperasikan sebuah komputer. Semisal juga ilmu tentang

    berdagang, seseorang bisa memiliki kemampuan berdagang lantaran dia

    mengamati atau belajar kepada ahlinya mengenai ilmu tersebut. Begitu juga

    dengan ilmu agama seperti ilmu tentang shalat, wudhu, puasa, haji, membaca

    Al-Qur’an, dan sebagainya.

    Ilmu bisa didapatkan dari sebuah proses yang kemudian dinamakan

    pendidikan. Pendidikan merupakan proses di mana seseorang mengembangkan

    kemampuan sikap dan bentuk tingkah lakunya dalam masyarakat dia hidup.

    Dengan pendidikan manusia akan mendapatkan berbagai macam pengetahuan

    untuk bekal kehidupannya karena pendidikan merupakan kebutuhan mutlak

    yang harus dipenuhi sepanjang hayat. Pendidikan Islam adalah salah satu

    komponen inti dalam dunia pendidikan. Karena manusia membutuhkan tidak

    hanya pengetahuan saja namun juga kekuatan spiritual keagamaan agar

    terbentuk manusia seutuhnya (insan kamil) sesuai dengan norma Islam.

    Namun, di era kemajuan teknologi seperti sekarang ini pendidikan tidak

    hanya bisa didapat di sekolah atau lembaga pendidikan formal saja. Pendidikan

    bisa didapat dari mana saja. Salah satunya adalah melalui karya sastra yang

    bermutu dan berkualitas. Di era sekarang, sudah ada beberapa karya sastra

    yang bermutu dan berkulitas yang didalamnya tidak hanya mengandung unsur

  • hiburan semata namun juga banyak sekali mengandung nilai-nilai moral dan

    pendidikan.

    Memasukkan nilai-nilai pendidikan melalui cerita pun sudah ada sejak

    dahulu,misalnya melalui kisah-kisah para nabi yang dikemas dalam sebuah

    cerita sehingga anak-anak didik lebih mudah dalam mengambil ibrah dari

    tokoh-tokoh para nabi dan mengimplikasikannya dalam kehidupan sehari-hari.

    Salah satu media penyampaian ilmu yang menggunakan model cerita ini

    adalah novel. Novel berasal dari bahasa Italia yaitu novella artinya sebuah

    barang baru yang kecil. Novel dapat mengemukakan sesuatu yang lebih bebas,

    menyajikan sesuatu secara lebih banyak, lebih rinci, lebih detail, dan banyak

    melibatkan berbagai permasalahan yang kompleks (Jothee, 2013:121).

    Novel merupakan sebuah karangan yang panjang dan berbentuk prosa

    serta mengandung rangkaian cerita yang sambung menyambung kehidupan

    seseorang dengan orang lain di sekelilingnya yang menonjolkan karakter dan

    watak pada setiap pelakunya. Dari pengertian lain bahwa novel

    mendeskripsikan suatu kejadian dari semua tokoh-tokohnya, dimana peristiwa-

    peristiwa itu memunculkan pergolakan batin yang terkadang mengubah

    perjalanan nasib masing-masing tokohnya. Selanjutnya bahwa novel cenderung

    meluas serta menitikberatkan kepada komplesitas, maksudnya adalah hal

    pembawaan karakter, perwatakan, permasalahan yang dialami oleh semua

    tokoh-tokohnya, serta perluasan dari latar cerita itu.

    Para pakar neorologi melakukan penelitian selama bertahun-tahun untuk

    mengetahui efek membaca buku bagi otak. Mereka menggunakan novel

  • sebagai sarana penelitian hasilnya menakjubkan, membaca ternyata memberi

    efek yang kuat pada mental, memori, serta imajinasi dan kasih

    sayang.Membaca novel juga dapat mengurangi stres, dapat meningkatkan kerja

    otak, dapat meningkatkan daya ingat, dapat melindungi otak hingga hari tua,

    menambah kosokata baru, merubah perwatakan sipembaca, meningkatkan

    kreativitas dan masih banyak manfaat dari membaca novel.

    Diantara novel Islami yang mengandung nilai-nilai pendidikan Islam,

    salah satunya adalah novel 99 Cahaya di Langit Eropa karya Hanum Salsabila

    dan Rangga Almahendra. Novel ini tidak hanya berisi tentang cerita fiktif

    belaka, tetapi diperkuat dengan dalil-dalil Al-Qur’an maupun Hadis. Sehingga

    cerita yang dipaparkan tidak sebatas imaginer, tetapi juga memiliki misi

    edukatif. Misi edukatif ini bisa dilihat dari nilai-nilai pendidikan Islam yang

    terkandung dalam dialaog-dialog tokoh dan juga cerita sejarah yang ada dalam

    novel Best Seller tersebut. Di antara nilai-nilai pendidikan Islam yang

    terkandung dalam novel ini adalah nilai pendidikan aqidah, ibadah, dan akhlaq

    yang dikemas secara estetis dalam bentuk narasi.

    Dalam novel 99 Cahaya di Langit Eropaini dijelaskan tidak hanya

    sekedar keindahan menara eiffel, Tembok Berlin, konser mozart, Colosseum

    Roma, ataupun gondola-gondola di Venizia saja akantetapi juga sejarah

    mengenai Islam yang pernah berjaya di Eropa.Eropa dan Islam, keduanya

    pernah menjadi pasangan serasi. Namun kini hubungan keduanya penuh

    pasang surut. Berbagai kejadian sejak sepuluh tahun terakhir –misalnya

    pengeboman Madrid dan London, menyusul serangan teroris 11 September di

  • Amerika, dan kontroversi kartun Nabi Muhammad- menyebabkan hubungan

    dunia Islam dan Eropa mengalami ketegangan yang cukup serius. Masih ada

    manusia-manusia dari kedua pihak yang terus memperburuk hubungan

    keduanya. Luka dan dendam akibat ratusan tahun perang salib yang masih

    membekas sampai hari ini.

    Perang tidak hanya meninggalkan kerusakan fisik saja. Akan tetapi dapat

    menorehkan luka pada sejarah. Peristiwa penaklukan konstantinopel misalnya,

    jihad tidak hanya menggunakan genjatan atau perang saja akantetapi

    bagaimana menjadi agen muslim yang baik yang menebarkan kebaikan. Seperti

    dalam Al-Qur’an surat Fushilat ayat 33 yang artinya bahwa “ucapan yang

    paling baik adalah ucapan yang menyeru/mengajak kepada kebaikan”

    Kisah-kisah tersebut diceritakan dengan bahasa yang menarik sehingga

    tidak membosankan ketika dibaca lebih penting secara tidak langsung kisah-

    kisah tersebut menginspirasi dan memotivasi karena sarat dengan nilai-nilai

    pendidikan khususnya pendidikan Islam.

    Dari uraian di atas maka penulis tertarik untuk melakukan sebuah

    penelitian dengan mengambil judul NILAI-NILAI PENDIDIKAN ISLAM

    DALAM NOVEL 99 CAHAYA DI LANGIT EROPA(TELAAH KAJIAN

    DARI ASPEK UNSUR-UNSUR PENDIDIKAN). Judul tersebut penulis

    ambil dengan harapan bisa memberikan kemanfaatan bagi masyarakat secara

    umum khususnya umat Islam. Bahwa dimanapun kita berada kita memiliki

    komitmen dan keyakinan dan menjadi agen muslim yang menebarkan

    kebaikan.

  • B. Rumusan Masalah

    Berdasarkan pemikiran latar belakang masalah di atas, penulis membuat

    beberapa rumusan masalah sebagai langkah awal dalam penelitian ini yaitu

    sebagai berikut:

    1. Apa saja nilai-nilai pendidikan Islam dalam novel 99 Cahaya di Langit

    Eropa?

    2. Bagaimana relevansi nilai-nilai pendidikan Islam dalam novel 99 Cahaya di

    Langit Eropa terhadap pendidikan Masyarakat Muslim?

    C. Tujuan Penelitian

    Adapun tujuan dari penelitian ini adalah sebagai berikut:

    1. Untuk mengetahui nilai-nilai pendidikan yang ada dalam novel 99 Cahaya

    di Langit Eropa.

    2. Untuk mengetahui relevansi nilai-nilai pendidikan Islam dalam novel 99

    Cahaya di Langit Eropa terhadap pendidikan Masyarakat Muslim.

    D. Manfaat Penelitian

    1. Manfaat Teoritik

    Secara teoritik penelitian ini diharapkan dapat menggali wacana baru

    tentang karya-karya sastra yang mempunyai nilai-nilai pendidikan Islam.

    Selain itu dapat memperkaya khazanah ilmu pengetahuan, khususnya dalam

    bidang pendidikan agama Islam, membangun kerangka berpikir aplikatif

    yang sesuai dengan kondisi saat ini.

  • 2. Manfaat Praktis

    Secara praktis, penelitian ini memiliki beberapa manfaat sebagai

    berikut:

    a. Bagi civitas akademika, penelitian ini diharapkan dapat digunakan

    sebagai salah satu acuan penelitian-penelitian yang relevan di masa yang

    akan datang.

    b. Bagi dunia pendidikan, penelitian ini diharapkan dapat memberikan

    masukan terhadap penggunaan media pembelajaran yang efektif dan

    efesien dalam rangka melaksanakan pendidikan melalui cara yang

    inspiratif dalam mendidik siswa.

    c. Bagi dunia sastra, diharapkan penelitian ini dapat memberi masukan dan

    menjadi bahan pertimbangan dalam membuat sebuah karya, yaitu tidak

    hanya memuat tentang kehidupan dan hiburan semata sebagai daya jual

    namun juga memperhatikan isi dan masukan pesan-pesan yang dapat

    diambil dari karya sastra tersebut.

    E. Metode Penelitian

    Metode berasal dari kata methodos (Yunani) yang dimaksud adalah cara

    atau suatu jalan. Metode merupakan kegiatan ilmiah yang berkaitan dengan

    suatu cara kerja (sistematis) untuk memahami suatu objek penelitian, sebagai

    upaya untuk menemukan jawaban yang dapat dipertanggung jawabkan secara

    ilmiah dan termasuk keabsahannya (Ruslan, 2010:24).

  • Metodologi ini diartikan sebagai suatu cara atau teknis yang dilakukan

    dalam proses penelitian. Sedangkan penelitian diartikan sebagai upaya dalam

    bidang ilmu pengetahuan yang dijalankan untuk memperoleh fakta-fakta dan

    prinsip-prinsip dengan sabar, hati-hati dan sistematis untuk mewujudkan

    kebenaran(Mardalis, 2002:24). Adapun komponen dalam metode penelitian ini

    adalah:

    1. Jenis dan Pendekekatan Penelitian

    Jenis penelitian ini adalah penelitian kepustakaan (library research),

    dengan menggunakan pendekatan deskriptif analisis (descriptif of analyze

    research). Deskripsi analisis ini mengenai biografis yaitu pencarian berupa

    fakta, hasil dari ide pemikiran seseorang melalui cara mencari,

    menganalisis, membuat interpretasi serta melakukan generalisasi terhadap

    hasil penelitian yang dilakukan (Moleong, 2005:29).

    Penelitian ini menggunakan literatur dan teks sebagi objek utama

    analisis yaitu dalam penelitian ini adalah novel yang kemudian

    dideskripsikan dengan cara menggambarkan dan menjelaskan dalam teks-

    teks dalam novel yang mengandung nilai pendidikan Islam dengan

    menguraikan dan menganalisis serta memberikan pemahaman atas teks-teks

    yang dideskripsikan.

    Penulis juga menggunakan pendekatan sastra dalam mengkaji subjek

    penelitian ini yaitu pendekatan pragmatif. Pendekatan pragmatif adalah

    pendekatan yang mendasarkan pada nilai guna dan manfaat karya sastra

    memperhatikan pada peranan pembaca dalam memakai karya sastra.

  • Pandangan terhadap karya sastra (seni) secara pragmatis menggeser doktrin

    “seni” (hanya untuk seni). Pendekatan ini digunakan karena

    mempertimbangkan aspek kegunaan dan manfaat karya sastra (novel) yang

    dapat diperoleh pembaca(Mu’min, 2008:28).

    2. Metode Pengumpulan Data

    Metode pengumpulan data yang penulis gunakan adalah:

    a. Metode Penelitian Kepustakaan (library research)

    Metode penelitian kepustakaan (library research)yaitu

    pengumpulan data yang dilakukan dengan cara mencari data dan

    informasi dengan bantuan macam-macam materi yang terdapat di

    perpustakaan, misalnya beberapa buku, majalah, naskah, catatan dan

    lain-lain (Kartono, 1990:33). Metode kepustakaan ini diambil karena

    dalam hal ini penulis mencoba untuk menelusuri karya sastra yang perlu

    ketelitian dan kejelian dalam menjalaninya, sehingga diperlukan

    membaca dan memahami literatur-literatur yang ada kaitanya dengan

    judul. Dan dengan melalui metode ini pula data-data tersebut penulis

    susun menjadi karya ilmiah.

    b. Metode Interview

    Metode interview atau wawancara yaitu dialog yang dilalukan oleh

    pewawancara untuk memperoleh informasi atau data dari orang yang di

    wawancarai (Arikunto, 2002:126). Dalam metode interview ini peneliti

    mengajukan pertanyaan secara langsung kepada informan dan jawaban

    informan dicatat atau direkam dengan alat perekam (tepe recorder)

  • (Suhartono, 1999:67). Interviewini di lakukan dengan pengarang novel

    99 Cahaya di Langit Eropa yaitu Hanum Salsabila dan Rangga

    Almahendra. Hal-hal yang di ungkapkan dalam wawancara ini

    berdasarkan atas draf yang telah dibuat.

    3. Sumber Data

    Sumber data dalam penelitian adalah subjek dari mana data dapat

    diperoleh (Arikunto, 2006:129). Dalam penulisan skripsi ini, sumber data

    yang digunakan adalah beberapa sumber yang releven dengan pembahasan

    skripsi. Adapun sumber data terdiri dari dua macam yaitu:

    a. Data Primer

    Sebagai sumber data primer dalam penelitian ini adalah novel 99

    Cahaya di Langit Eropa karya Hanum Salsabila dan Rangga Almahendra

    yang secara langsung menjadi objek dalam penelitian skripsi ini. Data ini

    ditunjang dengan hasil interview dengan narasumber yang bersangkutan

    dalam penelitian ini. Dalam hal ini yang menjadi interviewnya adalah

    pengarang novel 99 Cahaya di Langit Eropa yaitu Hanum Salsabila dan

    Rangga Almahendra.

    b. Data Sekunder

    Sumber data sekunder, yaitu berbagai literatur yang berhubungan

    dan relevan dengan objek peneliti, baik itu berupa transkip, wawancara,

    buku, artikel di surat kabar, majalah, tabloid, website, multiplay, dan blog

    diinternet yang berupa jurnal.

  • 4. Metode Analisis Data

    Metode yang digunakan dalam analisis data ini adalah analisis isi,

    yaitu dengan menguraikan dan menganalisis serta memberikan pemahaman

    atas teks-teks yang didiskripsikan. Isi dalam metode analisis ini terdiri atas

    dua macam, yaitu isi laten dan isi komunikasi. Isi laten adalah isi yang

    terkandung dalam dokumen dan naskah, sedangkan isi komunikasi adalah

    pesan yang terkandung sebagai akibat yang terjadi (Ratna, 2007:48).

    Sebagaimana metode kualitatif, dasar pelaksanaan metode analisa

    isi adalah penafsiran. Apabila proses penafsiran dalam metode kualitatif

    memberi perhatian pada situasi ilmiah, maka dasar penafsiran dalam metode

    analisis isi memberikan perhatian pada isi pesan. Oleh karena itulah, metode

    analisis isi dilakukan dalam dokumen-dokumen yang padat isi. Peneliti

    menekankan bagaimana pemaknakan isi komunikasi, memaknakan isi

    interaksi, simbolik yang terjadi dalam peristiwa komunikasi (Ratna,

    2007:49).

    Dalam penelitian ini, penulis akan mengkaji isi novel 99 Cahaya di

    Langit Eropa yang mengandung nilai-nilai pendidikan Islam.

    Langkah-langkah yang penulis gunakan dalam pengolahan data

    adalah:

    a. Langkah Deskripsi, yaitu menguraikan teks-teks dalam novel 99 Cahaya

    di Langit Eropa yang berhubungan dengan nilai-nilai pendidikan Islam.

  • b. Langkah Interpretasi, yaitu menjelaskan teks-teks adalam novel 99

    Cahaya di Langit Eropayang berhungan dengan nilai-nilai pendidikan

    Islam.

    c. Langkah Analisis, yaitu menganalisis penjelasan dari novel99 Cahaya di

    Langit Eropayang berhubungan dengan nilai-nilai pendidikan Islam.

    d. Langkah mengambil kesimpulan, yaitu mengambil kesimpulan dari novel

    99 Cahaya di Langit Eropayang berhungan dengan nilai-nilai pendidikan

    Islam.

    F. Penegasan Istilah

    Untuk menghindari kesalah fahaman penafsiran terhadap judul penelitian

    diatas, maka penulis berusaha menjelaskan dari berbagai istilah pokok yang

    terkandung dalam judul tersebut, yaitu:

    1. Nilai Pendidikan Islam

    Nilai adalah sifat-sifat (hal-hal) yang penting atau berguna bagi

    kemanusiaan (Poerwadarminto, 1999:667). Nilai (value) dalam pandangan

    Brubacher tidak terbatas ruang lingkup. Nilai tersebut sangat erat dengan

    pengertian-pengertian dan aktivitas manusia yang kompleks sehingga sulit

    ditentukan batasannya (Muhaimin, 1993:109). Jadi manusia hidup di dunia

    tidak terlepas dari adanya ikatan nilai. Karena nilai itu merekat pada

    manusia dan mampu memberi arti bagi manusia.

    Pendidikan Islam adalah segala usaha untuk memelihara dan

    mengembangkan fitrah manusia serta sumber daya insani yang ada padanya

  • menuju terbentuknya manusia seutuhnya (insan kamil) sesuia dengan norma

    Islam (Materi UKL PAI, 2014: 25).

    Pendidikan Islam adalah bentuk kepribadian muslim. Cirinya adalah

    perubahan sikap dan tingkah laku sesuai dengan perunjuk dan ajaran Islam.

    Untuk itu perlu adanya usaha, kegiatan, cara, alat, dan lingkungan hidup

    yang menunjang keberhasilannya (Darajat, 2011:27).

    Pendidikan Islam tidak hanya bersifat teoritis saja, tetapi juga praktis.

    Ajaran Islam tidak memisahkan antara iman dan amal saleh. Oleh karena itu

    pendidikan Islam adalah sekaligus pendidikan iman dan amal, karena ajaran

    Islam berisi ajaran tentang sikap dan tingkah laku pribadi masyarakat,

    menuju kesejahteraan hidup perorangan dan bersama. Oleh karenanya,

    pendidikan Islam adalah pendidikan individu dan pendidikan masyarakat

    (Darajat, 2011:28).

    Berdasarkan penjelasan di atas maka dapat disimpukan bahwa

    pendidikan Islam adalah segala usaha untuk memeilihara dan

    mengembangkan fitrah manusia serta membentuk akhkaq yang baik

    sehingga tercipata kepribadian muslim yang berakhlaqul karimag.

    2. Novel 99 Cahaya di Langit Eropa

    Novel adalah sebuah karya fiksi prosa yang tertulis adanya naratif.

    Biasanya dalam bentuk cerita (Maslikah, 2013:126). Novel merupakan salah

    satu bentuk karya sastra prosa fiksi yang mengandung beberapa unsur

    pokok, yaitu: pengarang dan narator, isi penciptaan, media penyampaian isi

    berupa bahasa, elemen,elemen fiksional atau unsur-unsur intrinsik yang

  • membangun karya fiksi itu sendiri sehingga menjadi sesuatu wacana. Pada

    sisi lain dalam rangka memaparkan isi, pengarang akan memaparkannya

    melalui penjelasan atau komentar, dialog maupun monolog, dan melalui

    perbuatan (action) (Aminudin, 1991:66).

    Dalam penelitian kali ini penulis akan meneliti isi dari novel 99

    Cahaya di Langit Eropayang diterbitkan oleh Kompas Gramedia sebagai

    bahan penelitian yang mengandung nilai-nilai pendidikan Islam.

    G. Sistematika Penulisan Skripsi

    Sistematika penulisan skripsi yang disusun terbagi dalam tiga bagian,

    yaitu bagian awal, bagian isi, dan bagian akhir. Bagian awal terdiri darisampul,

    lembar berlogo, halaman judul, halaman persetujuan pembimbing, halaman

    pengesahan kelulusan, halaman pernyataan orisinalitas, halaman abstrak,

    halaman daftar isi, halaman daftar lampiran.

    Bagian inti atau isi dalam penelitian ini penulis menyususn kedalam lima

    bab yang rinciannya adalah sebagai berikut:

    BAB I PENDAHULUAN

    Pada bab pendahuluan ini berisi latar belakang masalah, rumusan

    amaslah, tujuan penelitian, manfaat penelitian, metode penelitian,

    penegasan istilah, dan sistematika penulisan penelitian.

    BAB II BIOGRAFI NOVEL

    Dalam bab ini akan diuraikan mengenai: biografi Hanum Salsabila

    Rais dan Rangga Almahendra, latar belakang penulisan novel, hasil

    karya Hanum Salsabila Rais dan Rangga Almahendra.

  • BAB III NILAI-NILAI PENDIDIKAN ISLAM

    Dalam bab ini akan diuraikan mengenai Nilai-nilai pendidikan

    Islam dan telaah kajian unsur-unsur pendidikan Islam dalam novel

    99 Cahya di Langit Eropa.

    BAB IV RELEVANSIDALAM PENDIDIKAN MASYARAKAT

    MUSLIM

    Dalam bab ini akan disajikan analisis mengenai relevansi nilai-nilai

    pendidikan dalam kehidupan masyarakat muslim dalam novel 99

    Cahya di Langit Eropa.

    BAB V PENUTUP

    Bab penutup berisi kesimpulan dan saran.

  • BAB II

    BIOGRAFI NOVEL

    A. Genealogi Keluarga Pengarang

    1. Hanum Salsabila Rais

    Hanum Salsabila Rais, lahir pada tanggal 12 April 1981 di

    yogyakarta anak kedua dari empat bersaudara dari Muhammad Amin

    Rais dan Kusnasriyati Sri Rahayu. Hanum di besarkan di Yogyakarta

    dan menghabiskan waktunya untuk menulis.

    Pengalaman pendidikan Hanum di awali dari SD

    Muhamadiayah hingga menempuh pendidikan SMA Muhamadiyah 1

    Yogyakarta. Selesai menamatkan SMA Hanum melanjutkan ke UGM

    (Universitas Gajah Mada) mengambil jurusan kedokteran gigi hingga

    hanum menamatkan sarjananaya pada tahun 2004 di Universias Gajah

    Mada (UGM).

    Hanum Mengawali karir sebagai jurnalis dan presenter di Trans

    TV. memulai petualangan di Eropa selama tinggal di Australia

    bersama suaminya Rangga Almahenrda dan bekerja untuk proyek

    video Podcast Executive Academy di WU Vienna selama 2 Tahun. Ia

    juga tercatat sebagai koresponden detik.com untuk kawasan Eropa dan

    sekitarnya.

    Tahun 2010, Hanum menerbitkan buku pertamanya, Menapaki

    Jejak Amin Rais: Persembahan Seorang Putri untuk Ayah Tercinta.

  • Sebuah novel biografi tentang kepemimpinan, keluarga dan mutiara

    hidup (R/B/08-08-2015/11.00 WIB).

    2. Rangga Almahendra

    Rangga Almahendra, lahir pada 25 Januari 1981 di Cilacap anak

    pertama dari dua bersaudara dari Marton Muslim dan Henny Listiyani.

    Rangga dibesarkan di cilacap dan menghabiskan waktunya sebgai

    pengajar Dosen FEB di UGM dan menjadi dirut AdiTV.

    Pengalaman pendidikan di awali di SD di Yogyakarta hingga

    SMA. Selesai menamatkan studinya di Yogyakarta Rangga

    melanjutkan di perguruan tinggi di ITB mengambil Jurusan Teknik

    Material di Yogyakarata. Menyelesaikan S1 nya pada tahun 2002 dan

    di lanjutkan kejenjang pendidikan yang lebih tinggi (Pasca Sarjana)

    dan selesai pada tahun 2004 dengan nilai cumlaude. (R/B/S/08-08-

    2015/11.00 WIB).

    Pada tahun 2006 Rangga mendapatkan beasiswa dari pemerintah

    Austria untuk studi S3 di WU Vienna, Rangga berkesempatan

    berpetualang bersama sang Istri menjelajahi Eropa. Pada tahun 2010

    ia menyelesaikan studinya dan meraih gelar Doktor di bidang

    International Busnis dan Management.

    Saat ini ia tercatat sebagai dosen di Johanes Kepler University

    dan Universitas Gadjah Mada. Rangga sebelumnya pernah bekerja di

  • PT Astra Honda Motor dan ABN AMRO Jakarta (R/B/S/08-08-

    2015/11.00 WIB).

    3. Karya-karya Hanum Salsabila Rais

    Sebagai seorang penulis dia tergolong seorang penulis yang

    produktif. Selama kurunwaktu 3 tahun sudah beberapa buku yang ia

    hasilkan. Dan beberapa diantaranya termasuk dalam kategori best

    seller. Adapun karya-karya Hanum yang di publikasikan antara lain

    adalah:

    - Menapak Jejak Amin Rais

    - 99 Cahaya di Langit Eropa

    - Berjalan di Atas Cahaya

    - Bulan Terbelah di Langit Amerika

    B. Latar Belakang Penulisan Novel

    Pada waktu itu Hanum bekerja di Trans TV sebagai episenter

    pada waktu itu Hanum di hadapkan pada dua pilihan untuk melanjutan

    karir atau menemani suaminya, dan kemudian Hanum konsultasi

    kepada bapaknya (Amin Rais) dan Amin Rais menasehati dengan dua

    nasehat yang pertama adalah family must came first (keluarga adalah

    yang nomer satu). Tugas seorang istri adalah untuk mendampingi

    seorang suami kemanapun suami pergi dan bumi Allah itu luas artinya

    rizki itu bisa didapatkan dari mana-mana. Pada akhirnya Hanum

    memilih ikut suaminya di Austria.

  • Kegiatan sehari-hari Hanum di Austria adalah menjadi ibu

    rumah tangga memasak untuk suaminya (Rangga) karena di Austria

    mencari makan yang halal sangat kesulitan kebanyakan makanan di

    Austria adalah babi. Setiap istirahat Hanum membawa makan siang

    untuk suaminya, setelah makan siang Hanum tidak langsung pulang

    akan tetapi Hanum pergi ke perpustakaan dengan membawa laptop

    dan mengetik. Buku pertama Hanum adalah menapak jejak Amin Rais

    itu adalah hadiah kado ulang tahun dari seorang putri untuk anaknnya.

    Karena pada waktu Hanum ulang tahun Hanum diberi kejutan hadiah

    ulang tahun oleh bapaknya berupa kue tart yang membuat Hanum

    begitu terharu pada saat itu, karena kali pertama itu bapaknya

    memberika kejutan ulang tahun kepadanya, “sederhana tapi

    bermakna”, kata Rangga saat diwawancarai, dan terlintas dalam benak

    Hanum untuk membalas kebaikan bapaknya maka menulislah buku

    yang pertama tadi yaitu menapak jejak Amien Rais dan Rangga pun

    mendorongnya buku itu untuk diterbitkan dan akhirnya sukses di

    pasaran dengan penjualan lebih dari 2000 buku terjual laris.Kemudian

    Rangga sebagai seorang suami terus memotivasi, memberi semangat

    istri tercinta dengan menantang Hanum untuk membuat buku yang

    lainnya dan akhirnya dengan semangat yang diberikan suaminya

    Hanum terus berkarya dengan menulis, hingga terbitlah novel yang

    berjudul 99 Cahaya di Langit Eropa hasil karya Hanum Salsabila Rais

    dan Rangga Almahendra (R/LBM/S/08-08-2015/11.00 WIB).

  • C. Dasar Pemikiran Hanum Salsabila Rais dan Rangga Almahendra

    Kebanyakan masyarakat Islam Indonesia adalah Islam pobia

    bahwa masyarakat Indonesia kebanyakan muslim tapi tidak bangga

    dengan agamanya sendiri. Kenapa bisa seperti itu karena selama ini

    Islam-Islam yang radikal yang diberi kesempatan untuk tampil di

    media, buku-buku, koran sehingga kebanyakan yang terjadi adalah

    sesama Islam saling bermusuhan dan Islam yang dikenal selama ini

    adalah Islam itu diidentikkan dengan yang radikal, violence

    “kekerasan”, terorizem, dan sebagainya.

    Maka novel 99 Cahaya ini menjadi the foice of moderat Islam

    suara Islam yang moderat yang mewakili suara muslim yang cinta

    damai, yang sebetulnya 99% banyak yang tidak diwakilkan di media-

    media lain. Buku ini akan banyak mengisahkan sejarah peninggalan

    Islam. Muslim 99% adalah yang cinta damai bahkan 100% bahwa

    muslim cinta damai (R/S/08-08-2015/11.00 WIB).

    D. Hasil karya Hanum Salsabila Rais dan Rangga Almahendra

    Hanum adalah salah satu penulis Indonesia yang sangat produktif

    dalam menghasilkan karya sastra yang diantaranya adalah 99 Cahaya di

    Langit Eropa yang mendapatkan antusias tinggi di masyarakat Indonesia

    hingga menjadi salah satu karya anak bangsa yang menjadi best

  • seller,bahkan novel ini sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Melayu

    yang kini sudah berhasil menembus negara tetangga seperti Malaysia.

    Berikut ini salah satu contoh karya-karya Hanum yang telah

    diterbitkan dan sudah tersebar di seluruh Indonesia dan sebagian

    karyanya sudah diterjemahkan kedalam bahasa melayu yang mana buku

    tersebut banyak mengandung nilai-nilai pendidikan dan moral salah

    satunya adalah Menapak Jejak Amin Rais

    Novel ini mengisahkan kedekatan antara anak dan Bapak,

    Amin dikenal sebagai seorang tokoh politisi dan juga tokoh

    revormasi, akantetapi banyak orang tidak tahu pak Amin adalah

    seorang bapak yang bisa mengajarkan tentang mutiara hikmah atau

    pesan-pesan untuk anaknya.

    Kisah dalam novel ini dimulai ketika keluarga Amin Rais

    mendapat tekanan yang luar bisa dari orang suruhan rezim maupun

    pasca reformasi, saat Amin Rais mendirikan partai PAN dan

    bertarung dalam pemilu demokrasi pertama setelah reformasi,

    ketabahan dan ketegaran ibunya dalam men-support perjuangan

    bapaknya sangat berpengaruh di dalam kehidupan keluarganya, yang

    menjadikan bapaknya berani, tetap kuat dan bisa bertahan hingga

    sekarang.

    Dalam novel ini dikisahkan pula tentang kenangan-kenangan

    bersama bapaknya selama mengawal reformasi. Selain itu dalam

  • novel ini Hanum juga bercerita soal bagaimana pak Amin seorang

    tokoh politik yang sibuk tetapi tidak meninggalkan kewajiban dan

    tanggungjawabnya sebagai seorang suami dan Bapak dari anak-

    anaknya yang tetap mendidik mereka memberikan teladan yang

    terbaik.

  • BAB III

    NILAI-NILAI PENDIDIKAN ISLAM

    A. Unsur Pendidikan

    Pendidikan Islam adalah mendidik akhlaq, dan jiwa mereka,

    menanamkan rasa fadilah (keutamaan), membiasakan mereka dengan

    kesopanan yang yang tinggi, mempersiapkan mereka untuk kehidupan yang

    suci seluruhnya ikhlas dan jujur (Assegaf, 2014: 225).

    Menurut teori Muhadjir (1993:1-4) ada lima unsur-unsur pendidikan

    dianatarnya yaitu:

    1. Pemberi

    Pemberi yang dimaksud di sini adalah pendidik (penulis novel).

    Dalam suatu transformasi ilmu, tanpa adanya pendidik maka tidak akan

    berlangsung yang namanya transformasi ilmu. Kedua unsur tersebut adalah

    pemberi dan penerima keduanya merupakan kunci bagi terjadinya

    pendidikan. Maka Hanum dan Rangga dalam konteks novel ini di

    kategorikan sebagai subjek atau yang menyalurkan ilmu pengetahuan.

    Dalam mencapai keberhasilan pendidikan, pendidik memiliki peran

    yang menentukan, sebab bisa dikatakan pendidik merupakan kunci utama

    terhadap kesuksesan pendidikan. Untuk itu seorang pendidik harus

    memenuhi persyaratan tertentu yang memadai.

    Menurut Langeveld dalam (Sadulloh, 2014:2) bahwa pendidikan

    adalah bimbingan yang diberikan oleh orang dewasa kepada anak yang

    belum dewasa untuk mencapai kedewasaan. Pengertian tersebut terdapat

  • dua manusia yang terkait, yaitu orang dewasa, dialah yanng menjadi

    pendidik, dan anak (manusia yang belum dewasa) yang menjadi peserta

    didiknya. Jadi pendidik adalah orang dewasa yang secara kodrati atau

    karena tugasnya bertugas untuk membimbing anak menjadi dewasa.

    Pendidik harus orang dewasa karena tidak mungkin pendidik

    membawa anak sebagai manusia yang belum dewasa dibawa kepada

    kedewasaannya oleh manusia yang belum dewasa. Jadi pendidik harus

    manusia yang sudah dewasa. Membawa anak kepada kedewasaannya bukan

    hanya sekedar dengan nasaehat, anjuran, perintah, dan larangan saja,

    melainkan yang peretama-tama ialah dengan gambaran kedewasaan yang

    senantiasa dibayangkan oleh anak didik, dalam istilah Langeveld disebut

    situasi pendidikan.

    Orang dewasa benar-benar sadar akan dirinya sendiri, ia sadar siapa

    dirinya, ia sadar apa yang diperbuat, baikkah atau burukkah perbuatan itu.

    Jadi menjadi dewasa dan kedewasaan akan menyangkut persoalan moral,

    dan persoalan susila dan kesusilaan. Orang dewasa bertanggung jawab atas

    segala perbuatannya. Pada dirinya telah terjadi keharmonisan antara jasmani

    dan rohani. Kepribadianya, baik psikologi maupun moralnya telah setabil.

    Kesetabilan inilah yang memungkinkan orang dewasa dapat melakukan

    hubungan masyarakat, seperti memilih pekerjaan, hidup berkeluarga dan

    berumah tangga, hidup dalam kebersamaan dalam kehidupan bersama

    dalam masyarakat.

  • Hanum dapat disebut pendidik sebab telah memberi kontribusi yang

    baik kepada Masyarakat, yaitu melaui karya tulis yang berupa novel 99

    Cahaya di Langit Eropa. Dalam novel tersebut banyak sekali nilai-nilai

    pendidikan Islam yang dapat kita ambil manfaatnya.

    2. Penerima

    Unsur ke dua dalam suatu pendidikan yaitu adanya penerima (peserta

    didik/objek). Penerima di sini adalah pembaca novel karangan Hanum

    Salsabila dan Rangga Almahendra. Adapun sasaran dari novel 99 Cahaya di

    Langit Eropa tidak hanya kaum muslim saja akan tetapi dari kalangan

    umum ((R/P/S/08-08-2015/11.00 WIB).

    Kaum disini yang di maksud adalah beda agama, suku ras bahasa

    ataupun negara, agar pembaca senantiasa menikmati ilmu yang di paparkan

    melaui novel ini. Dengan membaca novel ini, pembaca senatiasa akan

    penasaran dengan Islam dan sejarah masa lampau sehingga pembaca akan

    memcari pengetahuan tentang sejarah peradapan di Eropa.

    Dalam berdakwah bukan hanya ke dalam saja akan tetapi juga ke luar

    sehingga yang ke dalam itu akan membuat umat muslim semakin bangga

    terhadap Islam sedangkan yang ke luar yang tadinya tidak mengenal Islam

    yang tadinya menganggap Islam itu radikal, dan menggap agama Islam itu

    agama yang tidak baik akan berubah pikiran tentang Islam. Ternyata Islam

    itu penuh dengan kasih sayang ucap Rangga saat diwawancarai (R/P/S/08-

    08-2015/11.00 WIB).

  • Adapun sasaran novel diantaranya adalah mereka yang berbeda

    Agama, suku dan Ras. Di Indonesia banyak sekali beragam agama di

    anataranya adalah agama Islam, Hindu, Budha, kristen katolik dan masih

    banyak lagi agama. Akantetapi buku ini di tujukan untuk semua kalanagan

    baik itu agama, ras ataupun suku karena dalam berdakwah nabipun tidak

    memandang strata sosial, maupun agama.

    Akantetapi novel ini lebih ditekankan untuk kaum muslim agar kaum

    muslim lebih mengenal Islam, tidak hanya sekedar mengetahui ajaran-ajaran

    syariat namun lebih dari itu yaitu mengetahui secara kaffah (menyeluruh)

    salah satu contohnya yaitu mengetahui sejarah Islam masa lampau dan

    mengetahui kontribusi yang telah diberikan generasi Islam pada masa

    lamapau. Dengan mengetahui Islam lebih mendalam maka kita sebagai

    umat Islam bertambah kecintaaanya terhadap Islam.

    3. Tujuan Baik

    Kedua unsur tersebut belum memberi rona pendidikan, seperti

    majikan-pekerja, penjual-pembeli, penyelenggara-pengunjung pasar

    malam,oleh karena itu dipersyaratkan unsur yang ke tiga yaitu, adanya

    “tujuan baik” dari yang memberi bagi perkembangan atau kepentingan yang

    menerima. Agar anak pandai, agar orang menjadi ahli, agar orang

    bertambah cerdas, agar orang berkepribadian luhur, agar orang toleran, agar

    anak pandai membaca dll. (Muhadjir, 1993:2)

    Tujuan pendidikan menurut Sadulloh (2010:93) adalah lebih

    menyiapkan manusia supaya lebih bermanfaat bagi kehidupan pribadinya,

  • masyarakat dan bangsa. Dalam pendidikan tentu ada sebuah tujuan yang

    hendak dicapai, adapun tujuan pendidikan menurut Sadulloh (2010:74)

    harus mengandung tiga nilai yaitu sebagai berikut:

    a. Autonomy

    Autonomy, yaitu memberi kesadaran, pengetahuan, dan

    kemampuan secara maksimal kepada individu maupun kelompok, untuk

    dapat hidup mandiri, dan hidup bersama dalam kehidupan yang lebih

    baik. Seperti dalam kutipan novel di bawah ini.

    “......kau tentu pernah mendengar tentang Universitas Sorbonne,

    kan? Sewaktu kuliah dulu, aku sering menghabiskan waktu disini,

    di daerah Latin Quarter.salah satu tempat favoritku di Paris.”

    “jadi dulu kau mengambil kuliah di Sorbane?

    Bidang apa?”tanya Rangga.

    “Aku mengambil jurusan sejarah. Lebih sepesifik lagi Studi Islam

    abad pertengahan,” kata Marion sambil menghidupkan mesin

    mobil. Aku dan Rangga langusng mendeduksi mengapa marion

    akhirnya memilih untuk masuk Islam.

    “Jadi itu yang membuatmu mengenal Islam?”tanyaku sambil

    duduk di sebelah Marion dan mengencangkan sabuk pengaman.

    Marion menjawab dengan senyum (Rais dan Almahendra,

    2011:134).

    Dari dialog di atas pengarang ingin menjelaskan tentang

    pendidikan Islam, bahwa suatu Ilmu itu datangnya tidak secara tiba-tiba

    akantetapi melalui sebuah proses yaitu usaha sadar. Marion adalah

    seorang mualaf yang belajar Islam disebuah Universitas Sorbone dengan

    bekal Ilmu agama akhirnya Marion memutuskan untuk Masuk Islam. Di

    tengah masyarakat non Islam Marion dapat hidup mandiri dan hidup

    bersama dalam kehidupan yang lebih baik.

  • b. Equity(Keadilan)

    Tujuan pendidikan tersebut harus memberi kesempatan kepada

    seluruh warga masyarakat untuk dapat berpartisipasi dalam kehidupan

    kebudayaan dan kehidupan ekonomi, dengan memberinya pendidikan

    dasar yang sama. Pendidikan didapatkan dari sekolah formal maupun non

    formal. Sehingga pendidikan memberi kesempatan bagi masyarakat

    untuk senantiasa belajar dimanapun dan kapanpun kita berada selama itu

    baik untuk diri kita dan masyarakat. Seperti kutipan novel dibawah ini

    “Lalu Fatma meluncurkan ide untuk mengkaji Al-Qur’an.

    Kebetulan aku, Latife, dan Fatma sama-sama datang dari Istanbul.

    Lalu karena aku dan Fatma kurang bisa berbahasa Jerman, kami

    meminta Latife mengajari kami,”ungkap Oznur menjawab rasa

    penasaranku tentang awal pertemanan mereka (Rais dan

    Almahendra, 2011:91).

    Dari kutipan di atas penulis berusaha menjelaskan bahwa antara

    yang medapatkan pendidikan formal yang lebih tinggi dengan yang tidak

    mengenyam pendidikan formal pun dapat belajar bahasa Jerman, bahasa

    Inggris dan juga mengkaji Al-Qur’an.

    Terkadang orang yang tak mampu untuk melanjutkan ke jenjang

    pendidikan yang lebih tinggi adalah orang-oarang yang memiliki

    kecerdasan yang tinggi, akantetapi karena ketidak mampuan untuk

    membiayai pendidikan maka mimpi-mimpi untuk mendapatkan

    pendidikan yang lebih tinggi mejadi kandas.

    c. Survive

    Survive yang berarti bahwa dengan pendidikan akan menjamin

    pewarisan kebudayaan dari suatu generasi kepada generasi berikutnya.

  • Pewarisan yang dimaksud di sini tidak hanya berupa harta saja akan

    tetapi ilmu yang bermanfaat yang senantiasa diajarkan dari generasi ke

    genarasi berikutnya, baik itu berupa ajaran akhlak atau peninggalan

    bersejarah seperti masjid, lukisan-lukisan yang mengandung makna

    pendidikan agar generasi yang akan datang mengetahui antara yang benar

    dan salah.

    Seperti dalam kutipan novel di bawah ini

    The true city of lights, kota seribu cahaya, Cordoba. Kota yang

    mengispirasi banyak orang Eropa. Kami terpana melihat bangunan

    besar yang ditunjuk Gomez barusan. Cahaya yang paling terang

    tadi ternyata dipancarkan bangunan yang paling kucari selama ini.

    Masjid atau Mazquita dalam bahasa sepanyol. Bangunan yang kini

    telah menjadi gereja. Dan memang nama bangunan itu adalah the

    katedral adalah the Mosque Cathedral (Rais dan Almahendra,

    2011:239).

    Suara nyanyian dari bangunan itu lagi-lagi mengingatkanku akan

    sesuatu. Masjid ini sudah berubah menjadi gereja. Dan bangunan

    yang terpatri ditengah itu adalah tempat ibadah yang baru, altar

    gereja yang setiap waktu menggelar misi dan kebaktian (Rais dan

    Almahendra, 2011:257)

    Dari kutipan novel di atas penulis menjelaskan bawa dengan

    adanya peninggalan sejarah berupa masjid yang berada di Cordoba.

    tentunya umat Islam mengetahu sejarah masjid tersebut menjadi Gereja

    tentunya melalui peninggalan ilmu sejarah kita bisa mengetahunya.

    Berdasarkan ketiga nilai tersebut pendidikan mengemban tugas untuk

    menghasilkan generasi yang lebih baik, manusia-manusia yang

    berkebudayaan. (Sadulloh, 2010:74)

  • 4. Cara atau Jalan yang Baik

    Setelah diuraikan ketiga unsur di atas maka unsur pendidikan yang

    selanjutnya adalah cara atau jalan yang baik. Baik dalam cara/jalan dapat

    terkait pada nilai, dapat pula terkait pada hakikat yang menerima

    (objek/peserta didik) dan dapat pula terkait pada hakikat yang memberi

    (pendidik/penulis novel/subjek) (Muhadjir, 1993:3).

    Objek di sini adalah pembaca novel, sedang subjek adalah penulis

    novel yang memberikan segenap pikirannya melalui karya tulisan yang bisa

    dinikmati bagi pembacanya yang tentunya bisa memberikan kebermanfaatan

    bersama. Di sini penulis memilih berdakwah lewat tulisan bukan semata-

    mata berdakwah dengan metode ceramah. Di atas juga sudah dijelaskan

    bahwa suatu pendidikan itu harus ada yang namanya tujuan baik.Dalam

    novel ini banyak mengisahkan tentang arti kejujuran, akhlaq terhadap

    tetangga, mendamaikan antara saudara. Kebudayaan Eropa yang tak terlepas

    dari kebudayaan Islam, menebar kebaikan dengan siapapun dan masih

    banyak hal-hal positif yang lain yang dapat diambil hikmahnya.

    Hidup dalam lingkungan minoritas yang membawa misi Islam maka

    tidak sepatutnya dengan cara kekerasan, menolak dengan peraturan yang

    sudah ada. Sebagai muslim yang baik maka dalam berdakwah hendaklah

    dengan cara yang baik, semisal dengan pikiran yang baik, berakhlaq yang

    baik, dan juga prestasi yang baik membuat mereka bangga dengan

    keberadaan muslim bukan malah memperburuk keadaan.

  • Adapun cara penulis agar pembaca memahami isi novel yaitu dengan

    menggunakan bahasa sesederhana mungkin dan seolah-olah pembaca di

    ajak langsung berkomunikasi dengan penulis novel. Untuk dapat memahami

    suatu kalimat yang ada dinovel maka perlu adanya penjelasan tentang

    sebuah apresiasi karya sastra. istilah apresiasi sastra berasal dari bahasa latin

    apreciatio yang berarti “mengindahkan” atau “menghargai”.

    Dalam konteks yang lebih luas, istilah apresiasi menurut Gov

    mengandung makna pengenalan melalui perasaan atau kepekaan batin dan

    pemahaman, pemahaman dan pengakuan terhadap nilai-nilai keindahan

    yang di ungkapkan pengarang.

    Menurut Squire dan Taba dalam buku (Aminudin, 1991:34),

    berkesimpulan bahwa sebagai suatu proses, apresiasi terhadap pendidikan

    melibatkan tiga unsur inti yaitu:

    a. Aspek Kognitif

    Aspek kognitif yaitu berkaitan dengan keterlibatan intelektual

    pembaca dalam upaya memahami unsur-unsur kesastraaan yang bersifat

    objektif. Unsur-unsur kesastraaan yang bersifat objektif tersebut, selain

    dapat berhubungan dengan unsur-unsur yang secara internal terkandung

    dalam suatu teks sastra atau unsur intrinsik, juga dapat berkaitan dengan

    unsur-unsur di luar teks sastra yang secara langsung menunjang

    kehadiran teks sastra itu sendiri. Unsur intrinsik sastra yang bersifat

    objektif itu misalnya tulisan serta aspek bahasa dan struktur wacana

    dalam hubunganya dengan kehadairan makna yang tersurat. Sedangkan

  • unsur ekstrinsik yaitu: berupa biografi pengarang, latar, penciptaan,

    maupun latar sosial-budaya yang menujung kehadiran teks sastra. Seperti

    penggalan kalimat berikut:

    Teng...teng..teng....

    Nan jauh di kota Wina sana, lonceng gereja bertalu-talu gereja

    kecil yang ada di Kahnlerberhg pun tak mau kalah menyahut. Suara

    loncengnya berdentang bertkali-kali

    Waktu sudah menunjukkan pukul 6 sore, mata hari semakin

    menenggelamkan diri keperistirahatanya. Ekor sinarnya yang

    berwarna semburat jingga terlihat begitu anggun. Suguhan lukisan

    alam yang semakin indah pada singga hari. Dari mataku aku

    mengindra tiga horizon panorama. Paling atas adalah langit gelap

    dan matahari yang terbenam. Ditengah adalah bangunan-bangaun

    tinggi bercahaya yang kuyakini sebagian besar adalah gedung

    pencakar langit dikomples markas besar PBB, Gereja, dan menara

    pemancar. Paling bawah adalah sungai Danobe, simfoni gemercik

    airnya bisa terdengar dari atas bukit Kahlenberg. Komposisi

    pemandangan langka dimataku (Rais dan Almahendra, 2011:32).

    Dari penggalan kalimat di atas pembaca diajak untuk senantiasa

    memahami makna-makna tersurat yang ada dalam novel 99 Cahaya di

    Langit Eropa. Dengan membaca kalimat-kalimat diatas pembaca seolah-

    olah diajak untuk meraskan tempat yang di gambarkan penulis secara

    langsung.

    b. Aspek Emotif

    Aspek emotif ini berkaitan dengan keterlibatan unsur emosi

    pembaca dalam upaya menghayati unsur-unsur keindahan dalam teks

    sastra yang dibaca. Selain itu, unsur emosi juga sangat berperanan dalam

    upaya memahami unsur-unsur yang bersifat subjektif. Unsur subjektif itu

    dapat berupa bahasa atau paparan yang mengandung makna atau bersifat

    konotatif interpretatif serta dapat pula berupa unsur-unsur signifikan

  • tertentu, misalnya penampilan tokoh dan setting yang bersifat metaforis.

    Seperti penggalan dialog berikut:

    “.....dalam perjalanan kembali ke Wina, aku masih tak menyangka

    Fatma bisa membalas penghinaan ketiga turis itu dengan cara tak

    terbayangkan.

    Cara berfikir ku tak mampu menggapai berfikir seorang

    perempuan, ibu rumah tangga, yang takmengenyam pendidikan

    terlalu tinggi bernama Fatma. Emosi dan persaan tersinggung

    terkadang terlalu kelam dalam diri, menutupi cara berfikir untuk

    membalas dendam dengan cara luar biasa elok, elegan, dan jauh

    lebih berwibawa dari pada sekedar membalas dengan perkataan

    atau sikap antipati.

    “kau menulis apa di kertas itu fatma?”

    Hanaya kata-kata itu yang akhirnya terucap dari bibirku setelah

    sekian lama di dalam bus.

    “aku Cuma tau sedikit bahasa inggris, Hanum. Aku hanya menulis

    ‘hai, i am Fatma, a Muslim from Turke’ lalu kutilis alamat email-

    ku. Itu saja.”

    Hari itu Fatma, orang biasa yang baru kukenal dua minggu lalu

    dikelas bahasa Jerman, memberiku pelajaran luar biasa. Aku tak

    perlu mendengarkan para ustadz atau ulama di TV yang

    mengajarkan arti kesabaran dan menahan Emosi. Aku juga tak

    perlu mendengarkan khutbah para motivator hidup dan kesuksesan

    yang semakin menjamur di layar kaca. Aku juga tak perlu

    membaca kutipan kata-kata wisdom of life dari para tuweet dan face

    booker. Hari itu Fatma memberiku pesan yang sangat jelas, konkret

    tentang cara menahan diri yang belum tentu bisa dilakukan

    sembarang orang.

    “bagaimana kau bisa tak marah sedikitpun, Fatma?” tanyaku lagi

    “tentu saja aku tersinggung, Hanum. Dulu aku juga jadi Emosi jika

    mendengar hal yang tak cocok di Negeri ini. Apalagi masalah etnis

    dan agama. Tapi seperti kau dan dinginya hawa di Eropa ini, suhu

    tubuhmu akan menyesuaikan. Kau perlu penyesuaian, Hanum.

    Hanya satu yang harus kita ingat. Misi kita adalah menjadi agen

    Islam yang damai, teduh, Indah, yang membawa keberkahan di

    komunitas non Muslim. Dan itu tidak akan pernah mudah.”

    “tapi, bukankah itu menunjukkan kita begitu lemah dan terinjak-

    injak?” sanggahku.

    Fatma terdiam dia tersenyaum lembut, lalu mengambil nafas

    dalam-dalam.

    “suatu saat kau akan banyak belajar bagaimana bersikap di Negeri

    tempat kau harus menjadi minoritas. Tapi meneurut pengalamanku

    selaman ini, aku tak harus mengumbar nafsu dan emosiku jika ada

    hal yang tak berkenan dihatiku.” (Rais dan Rangga, 2011:46-47).

  • Dari penggalan dialog di atas kita tahu sosok Fatma. Disini penulis

    berusaha menjelaskan dengan adanya tokoh Fatma yang senantiasa

    berhasil menjadi agen muslim yang baik yang menebarkan kebaikan di

    tengah-tengah non muslim.

    Ketika membaca dialog di atas pembaca diajak untuk senatiasa

    meneladani sifat Fatma yang memilki sifat kasih dan sayang dan

    memiliki perilaku yang baik dengan siapapun baik itu beda agama

    ataupun sesama muslim. Semua itu bisa dilihat ketika negara Turky

    diejek oleh turis akantetapi Fatma tidak membalas dengan ejekan

    melainkan dengan kebaikan, yaitu dengan cara membayarkan semua

    pesanan makanan si turis tersebut dan memberikan secarik kertas

    bertuliskan nama Fatma dan asal tinggalnya, serta diberi alamat email.

    Dan akhirnya si turis pun masuk Islam.

    Aku yakin, sebagian besar manusia yang berpindah agama untuk

    memeluk Islam bukanlah mereka yang terpengaruh debat dan diskusi

    antara gama. Bukan terpaksa kerena menikah dengan pasangan beda

    Agama. Bukan mereka mendengarkan ceramah agama Islam yang berat

    dan terjamah oleh pikiran awam manusia akantetapi sifat keteladananlah

    yang membuat orang jatuh cinta dengan Islam.

    c. Evaluatif

    Berhubungan dengan kegiatan memberikan penilaian terhadap

    baik buruk, indah tidak indah sesuia tidak sesuai, serta sejumlah ragam

    penilaian lain yang tidak harus hadir dalam sebuah karya kritik, tetapi

  • secara personal cukup dimiliki oleh pembaca. Dengan kata lain,

    keterlibatan unsur penilaian dalam hal ini masih bersifat umum sehingga

    setiap apresiator yang telah mampu meresponsi teks satra yang dibaca

    sampai pada tahapan pemahaman dan penghayatan, sekaligus juga

    mampu melaksankan penilaian.

    “.....jadi selama kau selalu menyimpan dan memcbaca emailku?”

    Fatma mengguk pelan. Tiba-tiba rasa bersalah menggejala di

    diriku. Perjalanan di Eropa adalah obsesi kami berdua. Dan aku

    merasa bersalah karena selama 3 tahun ini aku telah membuatnya

    tertinnggal sendirian dengan mimpi-mimpinya karena akhirnya

    hanya aku sendiri yang menempuh perjalanan itu.

    “aku paling geli dengan pengalamanmu meminta izin shalat di

    Cordoba. Aku tertawa membaca emailmu. Harusku katakan

    kepadamu, taukah kau siapa yang bernah berurusan dengan polisi

    Sepanyol karena terlibat insiden dengan petugas di Mizquita?

    Mereka adalah Latife, Oznur, dan puluhan orang dari komunitas

    generasi muda Muslim di Austri!”

    Aku dam Rangga terhenyak. Kami langsung tertawa.

    “tapi kejadian itu dibesar-besarkan oleh media barat, Hanum. Kau

    tahukan, Dunia sedang demam Islam Phobia. Dan kejadian seperti

    itu merupakan makanan empuk bagi media kau tahulah, kaukan

    bekerja sebagai jurnalis. Tapi sudahlah aku hanaya bisa berharap

    suatu saat nanti Mezquita bisa menjadi musium saja agar tidak

    pernah ada kontroversi lagi.”

    Lagi-lagi kata Fatma, sama persis dengan perkataan sergio. Aku

    tersadar dengan Islam Phobia yang selama ini terus dinyalakan oleh

    pihak-pihak yang tak menginginkan perdamaian.

    “kau tau Hanum, terkadang Islam Phobia itu di pupuk oleh oknum-

    oknum saudara muslim kita. Dan kita-kita inalah yang menjadi

    korbanya. Hanya satu yang bisa kita lakukan, meski itu sepele

    dimata kebanyakan, sedikit demi sedikit menggerus islam Phobia

    itu dengan menjadi, kautaulah....” Fatma tersenyum. Aku tau yang

    dia maksudkan tak lain dan tak bukan:”menjadi agen muslim yang

    baik”.

    “Beberapa pelanggan butik kecilku ini adalah orang-orang

    nonmuslim. Salah satu dari mereka adalah korban teror bom di

    Sinagong Istanbul tahun 2003 lalu. Betapa bahagian aku ketika saat

    mengambil jahitan dia berkata: ‘Aku tak tahu seorang muslim

    sepertimu bisa menciptakan pakaian selembut dan serapi ini.’”

    (Rais dan Rangga, 2011:365-366)

  • Dari kutipan-kutipan dialog diatas penulis berharap kepada

    pembaca untuk senatiasa membaca dengan penuh penghayatan,

    merespon dan kemudian meneladani seperti tokoh-tokoh yang disebut di

    atas.

    5. Konteks yang Positif

    Aktifitas pendidikan terjadi tidak hanya antara ke empat unsur dasar

    tersebut, ada unsur yang ke lima yaitu konteks positif. Suatu konteks dapat

    berperan positif dapat pula negatif. Akan tetapi upaya pendidikan perlu

    secara aktif menyisihkan yang negatif atau mengubahnya menjadi positif,

    atau mengoptimalkan peran positif agar yang negatif proporsional menjadi

    minimal. Konteks dalam keadaan adanya memberi dampak kepada aktivitas

    pendidikan. Konteks yang dirancang perankan memberi pengaruh atau efek

    pada aktivitas pendidikan (Muhadjir, 1993:4).

    Dalam novel ini kata-kata yang sering mucul adalah menjadi agen

    muslim yang baik yang menebarkan kebaikan kata-kata tesebut ringan akan

    tetapi mengandung makna yang luar biasa. Seperti dalam kutipan dialog

    dalam novel sebagai berikut:

    “.......aku berusaha membaca pesan yang tertera dalam kertas besar

    tersebut. Bahasa jerman yang rumit membuatku lama berdiri

    menatatapnya, berusaha menyerap arti kata perkata.

    Syiar muslim di Austria

    1. Tebarkan senyum indahmu 2. Kuasai bahasa Jerman dan Inggris 3. Selalu jujur dalam berdagang Aku bertanya-tanya. Apa sebenarnya maksud tulisan ini?

    Tak kusadari Oznur mendekatikatiku. “ini semu inisiatif Fatma.

    Awalnya kita hanya bertemu untuk bersedaugurau tanpa tujuan. Bicara

    tentang anak, masalah pribadi, hingga curah keluh kesah sebagai

    warga pendatang di Austria, kurang bergunalah,...”

  • Dari kutipan di atas maka novel 99 cahaya di Langit Eropa

    mengajarkan kita untuk senantiasa menjadi agen muslim yang baik yang

    menebarkan kebaikan. Fatma dan ketiga Turki itu mengajarkan jihad

    dengan cara yang lebih indah. Mereka memang Cuma berempat. Yang

    mereka lakukan juga sesuatu yang sepele. Tapi hal-hal sepele ini membuat

    seorang Ezra jatuh cinta dan kemudian memeluk Islam. Mereka adalah

    bulir-bulir muslim sejati yang patut diteladani.

    B. Nilai Pendidikan

    1. Nilai Akidah

    Akidah adalah aspek ajaran Islam yang membicarakan pokok

    keyakinan tentang Allah Sang Pencipta (Al-Khalik) dengan alam semesta

    sebagai ciptaan Allah atau makhluk, termasuk bagaimana hubungan antara

    manusia sebagai makhluk dengan makhluk lain berupa lingkungan, rohani,

    sosial, maupun jasad (Sa’ud, 2003:144).

    Tiap-tiap pribadi pasti memiliki kepercayaan, meskipun bentuk dan

    pengungkapannya berbeda-beda. Pada dasarnya manusia memang

    membutuhkan kepercayaan, dan kepercayaan itu akan membentuk

    pandangan hidup dan sikap. Dalam sejarah umat manusia, akan selalu

    dijumpai berbagai bentuk kepercayaan. Proses pencarian kepercayaan oleh

    manusia tidak akan berhenti (selalu ada) selama manusia ada. (Zuhairini,

    1995:42).

  • Manusia yang beriman kepada Allah Tuhan Yang Maha Esa

    mengandung pengertian percaya dan meyakini akan sifat-sifat-Nya yang

    sempurna dan terpuji. Dasar-dasar kepercayaan ini digariskan-Nya melalui

    Rasul-Nya, baik langsung dengan wahyu, atau dengan sabda Rasul

    (Daradjat, 1996:65).

    Dengan demikian iman, aqidah kepercayaan atau keyakinan sungguh-

    sungguh dan murni yang tidak dicampuri oleh rasa ragu, sehingga

    kepercayaan dan keyakinan itu mengikat seseorang di dalam segala

    tindaklanjutnya, sikap dan perilakunya (Kaylani, 2000:44).

    Pendidikan yang pertama dan utama dalam pendidikan Islam untuk

    dilakukan adalah pembentukan keyakinan kepada Allah yang diharapkan

    dapat melandasi sikap, tingkah laku dan kepribadian anak didik (Zuhrain,

    1995:56)

    Proses terbentuknya iman dalam diri seseorang tentang sang pencipta

    jagad raya ini, yakni Allah SWT artinya bahwa iman itu dapat diperoleh

    lewat proses berfikir, perenungan mendalam terhadap alam semesta.

    (Assegaf, 2014:38).

    Tanpa adanya benteng keyakinan yang kuat dalam hati seseorang akan

    mudah goyah dan terpengaruh dengan segala godaan jelek atau berbuat

    yang tidak baik di lingkunagan sekitar.

  • Adapun Nilai Aqidah ini terbagi menjadi 2 dua yaitu:

    a. Nilai Ubudiyah

    1) Ajaran untuk selalu beriman kepada Allah

    Kemaha Esaan Allah dalam sifat-sifatNya ini mempunyai arti

    bahwa sifat-sifat Allah penuh kesempurnaan dan keutamaan, tidak ada

    yang menyamainya. Sifat-sifat Allah itu banyak dan tidak bisa

    diperkirakan. Namun demikian dari Al-Qur’an dapat diketahui 99

    nama sifat Tuhan yang biasanya disebut dengan asmaul Husna: 99

    nama Allah yang indah.

    Adapun di dalam Al-Qur’an dijelaskan tentang Asmaul Husna

    seperti dalam ayat Al-‘Araf ayat 180 bunyi adalah:

    Artinya: “Hanya milik Allah asma’ul Husna, maka bermohonlah

    kepadaNya dengan menyebut Asmaul Husna itu dan

    tinggalkanlah orang-orang yang menyimpang dari kebenaran

    dalam menyebut nama-namaNya. Nanti mereka akan mendapat

    balasan erhadap apa yang telah mereka kerjakan.

    Asma-asma Allah tersebar di mana-mana ini adalah bukti

    kekuasaan Allah, tidak ada yang bisa menandingi kekusaan Allah, ini

    bisa dilihat dalam kutipan novel berikut:

    “sebenarnay tulisan ‘La ilaa haillallah’ di hijab bunda maria

    masih menjadi kontroversial hingga saa ini. Ilmuan berpendapat

    untuk memasttikan bahwa inskrip di beberapa lukisan bunda

    maria memang Pseudo Kufic kalimat Tauhid. Ilmuan hanya

    sepakat dalam lukisan itu memang terdapat Pseudo Kufic atau

    coretan-coretan imitasi tulisan arab.”

    “menilik latarbelakang para penulis yang sebagian besar

    nonmuslim, tidak mungkinmereka membuat pesan rahasia

  • dilukisan bunda Maria .. kecuali satu hal ...” mereka tidak

    mengetahui arti tulisan yang mereka coret” (Rais dan

    Almahendra, 2011:168).

    Seperti contoh lain yaitu masjid Kahlenbrg, salah satu masjid

    terbesar di Wina. yang teletak lebih tepatnya di sebrang

    jembatan rel U-bahn masjid yang bercorak hijau putih yang

    berada di tepi sungai Danube yang di kelilingi orang-orang yang

    sedang menikmati pemandangan. Meraka adalah para manusia

    berbaju minim yang hampir mendekati telanjang. Ada yang

    terlentang, tengkurap, atau berpelukan. Mereka adalah orang-

    orang yang menginginkan hangatnya sinar matahari (Rais dan

    Almahendra, 2011:111).

    Masjid yang letaknya di tengah-tengah banyaknya kemaksiatan

    dan banyak pula membawa keberkahan tersendiri bagi

    penikmat keindahan sungai Danube. “inilah adalah keberkahan

    itu,”imam Hasim mengeliuarkan catatan dari balik lemari tadi.

    Thenewcomers to Islam “orang-orang baru saja masuk Islam

    (mualaf) (Rais dan Almahendra, 2011:117).

    Meraka yang masuk Islam adalah mereka yang tadinya senang

    berjemur dan menikmati suasana musim panas di tepi Danube.

    mungkin saja mereka penasaran dengan masjid yang sering

    mengumandangkan suara azan penasaran apasih masjid itu? Apa

    sih isinya...?”

    Hidayah turun tak pernah tahu dimana dan bagimana. Tidak

    semua orang yang mengucap syahadat mendapatkanya saat di

    Sungai Danube. Banyak cara den jalan ketika hidayah itu

    muncul lalu meresap kedalam hati dan jiwa”.

    “Cara seperti apa yang biasanya di alami mualaf ini,

    imam?maksud saya,..mmm.. apakah semua orang bisa menerima

    hidayah?” tanya Rangga.

    “pada dasarnya semua orang mendaptkan hidayah itu. Pada satu

    titik dalam kehidupanya, setiap manusia di Dunia ini pada

    dasarnya pernah berfikir tentang siapakah dirinya, mengapa dan

    untuk apa dia hidup, dan adakah kekuatan di atas kekuatan

    hidupnya. Hanya saja ada yang kemudian mencari dan

    menelisik, ada pula yang membuangnya jauh-jauh atau

    melupakanya. Yang mencaripun ada yang caranya salah dan

    keliru dan sebaginya dan sebgainya.”

    “tapi pada akhirnya, semua kembali pada individu itu sendiri.

    Ketika orang sudah mempunyai mempunyai pendirian, kita

    tidak berhak mengusiknya. Orang yang datang kemari bukanlah

    mereka yang dipaksa, melainkan mereka yang

  • “mencari”sementara saya hanya bisa berusaha menunjukkan,”

    tutup Imam Hasim.

    Dia duduk disebuah kursi empuk dengan bantalan di atasnya.

    Tampaknya dia sudah tak terlalu kuat untuk terus berdiri.

    “seorang muaalaf pernah bertanya tentang Islam. Kalau tidak

    salah seorang peneliti di sebuah Institut kebudayaan dan sejarah

    Eropa. Pengetahuanya sanga luas. Saya cukup terkesima dengan

    pengetahuanya tentang Islam. Dia jatuh cinta dengan Islam dan

    mendapatkan hidayah dengan cara yang indah, lalu dia

    menindak lanjutinya dengan cara yang benar.” (2011:119).

    Dari kutipan percakapan di atas jelas bahwa Islam itu tidak ada

    paksaan untuk memeluknya ini sesuai dengan ayat Al-Qur’an surat

    Al-Baqoroh 256:

    Artinya: Tidak ada paksaan untuk (memasuki) agama (Islam).

    (QS. Al-Baqarah: 256)

    Dengan kesungguhan hati setiap orang yang baru mempelajari

    Islam bisa mempelajari al-Qur’an dengan cepat. Niat yang tulus dan

    ikhlas akan dapat membantu mempercepat proses pembelajaran

    tersebut. Dari mempelajari al-Qur’an adalah mengkaji ayat-ayat al-

    Qur’an untuk diaplikasikan dalam kehidupan. Karena dengan

    mengkaji al-Qur’an, manusia akan menemukan kepribadian yang

    saleh, firman Allah Swt surat al-Isra’ ayat 9:

    Artinya: Sesungguhnya Al Qur’an Ini memberikan petunjuk

    kepada (jalan) yang lebih lurus dan memberi khabar gembira

    kepada orang-orang Mu'min yang mengerjakan amal saleh

    bahwa bagi mereka ada pahala yang besar. (QS. Al-Isra’: 9)

  • 2) Meyakini adanya malaikat Allah

    Malaikat adalah makhluk Allah yang paling mulia dan para

    hamba diantara hamba-hambaNya yang dimuliakan. Allah

    menciptakan mereka dari Cahaya, sebagai mana dia juga telah

    menciptakan manusia dari tanah kering seperti tembikar, dan telah

    menciptakan jin dari nyala api (Jaza’iri, 2008:25).

    Dalam kutipan novel ini akan di singgung mengenai adanya

    malaikat yaitu:

    “... bukan hanya di Paris dan Wina, hampir setiap kota di Eropa

    memiliki Saint Michel sendiri-sendiri,” ungkap Marion sambil

    menyerahkan kembali kamera kami, “namanya sering disebut

    dalam Al-Qur’an. Salah satunya dari malaikat yang kita kenal

    yakni.” Aku berfikir sejenak, mencari nama malaikat yang

    paling mungkin disebut Michel.

    “maksudmu, malaikat mikail? Malaikat yang diberi tugas oleh

    Allah untuk menyebar rizki?” tanya Rangga. “Islam

    mengenalnya demikian, tapi umat kristen dan yahudi memiliki

    interpretasi lain dari mikail. Dalam tradisi kristen, dia dikenal

    dengan malaikat perang, atau lebih tepatnya malaikat pelindung.

    Sementara yahudi, mikail berarti ia yang menyeruapai Tuhan’.”

    “kalau begitu, sosok bersayap dibawah kaki Saint Michel itu

    pasti imajinasi figur setan, ya?” tanyaku memastikan sembari

    melihat figur makhluk bertanduk yang diinjak Saint Michel.

    Marion mengacungakn jempolnya untukku (Rais dan

    Almahendra, 2011:132)

    Dari dialog antara Hanum dengan Marion kita tahu bahwa

    Selain agama Islam juga mempercayai adanya malaikat akan tetapi

    mereka memaknai malaikat berbeda-beda.

  • b. Nilai Muamalah

    Nilai muamalah yang penulis identifikasikan dalam novel 99

    Cahaya di Langit Eropa adalah ajakan untuk senantiasa bersabar seperti

    dalam kutipan novel sebagi berikut:

    “hatiku tersentak membaca coretan dikertas itu. Please no more

    curry or masala in the microwave and cooler! Dilarang menaruh

    kari ada masalah di pemanas dan pendingin! Kertas itu di tempel di

    badan microweve dan kulkas kantor. Sebuah peringatan yang sudah

    pasti hannya ditunjukkan untuk Rangga dan khan, muslim kolega

    Rangga dari India. Dua staf doktoral Asia yang tersangka utama

    pecinta kari, gulai dan segala jenis kuliner berwarna kuning kunyit

    jika terhidang.

    “ini pasti ulah marja kemarin aku mendengar dia bersitegang

    dengan khan tentang makanan,” ucap Rangga penuh prasangka.

    “besok aku akan gantian menempelkan kertas bertuliskan: please

    no more pork and beer! Di larang menaruh daging babi dan

    bir!”pungkas Rangga berapi-api.

    Baru kali ini aku melihat suamiku yang penyabar itu begitu

    emosional.

    Aku faham dengan perasaan suamiku. Bisa dibayamngkan bau babi

    bercampur alkohol yang mengganggu ketentraman hidung serta

    mata setiap hari. Apalagi jika potongan atau kuah babi itu sering

    bertumpah tak beraturan di dinding microweve dan kulkas. Mau

    tidak mau setiap kali Rangga harus membersihkan terlebih dahulu

    sebelum menghangatkan bekal luch kami. Samapai-sampai aku

    sering menggodanya dengan pertanyaan jail “berapa babi yang kau

    mandikan hari ini, mas?”

    Sebagai cara untuk mencairkan hatinya.

    Untunglah perang tempelan keras demi mempertahankan

    kenyamanan makan siang akhirnya batal di luncurkan. Aku teringat

    fatma yang begitu gigih memperjuangkan selogan “menjadi agen

    muslim yang baik”. Ternyata lebih mudah dari pada dilakukan.

    Rangga memutuskan mengalah. Dia membuang jauh-jauh setan

    yang siap bertepuk tangan menonton pertandingan Rangga-Khan

    lawan marja dan temen-temen Eropanaya. Pertandingan yang

    hanya akan memperkeruh suasana. Kami tak lagi menggunakan

  • microwave untuk menghangatkan bekal (Rais dan Almahendra,

    2011:206).

    Dari dialog di atas nampak jelas bahwa Rangga memilih bersabar

    tidak membalas perlakuan Marja terhadap Rangga dan Khan karena

    apabila Rangga membalasnya maka yang akan terjadi hanya akan

    memperkeruh suasana. “Mengalah bukan berarti kalah, akan tetapi sudah

    menemukan kemenangan hakiki” itu adalah nasehat fatma saat Turki di

    hina oleh beberapa turis saat sedang makan akan tetapi Fatma

    membalasnya dengan kebaikan, yaitu dengan membayari pesanan makan

    mereka dengan meninggalkan alamat email dan akhirnya turis tersebut

    masuk Islam.

    Dari penggalan paragraf di atas dapat diketahui bahwa

    keikhlasandan kesabaran itu sulit dicapai dalam setiap laku kehidupan

    manusia.Ikhlas dan sabar harus didasarkan pada pencarian ridlo Allah

    semata. Taufiqurrahman mengungkapkan bahwa ‘perlu hati’ untuk bisa

    bersikap ikhlas dan sabar, maksudnya kesabaran dan keikhlasan itu harus

    dipupuk sedikit demi sedikit, karena konsekuensinya adalah pengorbanan

    yang tidak sedikit, dan butuh waktu untuk bisa melepaskan apa-apa yang

    kita cintai. Seseorang harus berani berkorban untuk bisa mencapai

    kesabaran dan keikhlasan yang hakiki, serta ketaatan terhadap perintah

    Allah SWT.

    Setiap muslim harus bersabar atas ketaatannya, karena jiwa itu

    bertabiat bosan, dan kesabaran tidak akan terwujud jika manusia tidak

    sering merenungi tujuan dirinya diciptakan, yaitu beribadah. Kita

  • merenungi akibat akhir dari kesabaran dalam taat. Allah telah berfirman

    dalam Al-Qur’an surat ar-Ra’du ayat 23-24:

    Artinya: …sedang malaikat-malaikat masuk ke tempat-tempat

    mereka dari semua pintu (sambil mengucapkan): "keselamatan

    atasmu berkat kesabaranmu ". Maka alangkah baiknya tempat

    kesudahan itu (QS. Ar-Ra’du:23-24).

    2. Nilai Ibadah

    a. Ajakan untuk mendirikan shalat

    Keimanan individu pada sesuatu yang gaib atau kepada

    Tuhanmembawa konsekuensi penghambaan, penyerahan dan ketundukan

    yang ketiganya dirangkai dalam satu kegiatan yang disebut dengan

    ibadah (ritual prayer). Ibadah merupakan bentuk aktualisasi diri yang

    fitri dan hakiki, sebab penciptaan manusia didesain untuk beribadah

    kepada Tuhannya. Ibadah dalam Islam banyak jenisnya, tetapi ibadah

    yang merepresentasikan seluruh kepribadian manusia adalah shalat,

    karena ia yang membedakan hamba yang muslim dan yang kafir ( bakar

    Jabil 2006:256).

    Ajaran agama Islam yang harus dipelajari setelah seseorang

    mengucapkan kalimat syahadat adalah ibadah sholat. Karena bukti dari

    keimanan tersebut harus diaplikasikan dengan laku ibadah sholat. Dalam

    sholat ini setiap muslim berinteraksi dengan Allah SWT, dan melalui

    sholat pendakian spiritual dapat mencapai puncaknya. Sebagaimana

    dalam kutipan novel.

    “setiap istirahat kelas yang berdurasi 15 menit, Fatma mengajakku

    shalat zuhur berjamaah. Awalnya aku kebingungan, mana mungkin

  • Institut sekuler semacam kursus bahasa ini menyediakan langgar

    atau mushala? Tidak mudah menemukan tempat ibadah shalat di

    Eropa. Namun Fatma panjang akal. Dia menemukan sebuah

    temapat walau kurang representatif untuk shalat, tetapi suasana di

    sana cukup khidmat yaitu ruanng penitipan bayi dan anak para

    peserta kursus bahasa. Setiap kali kursus, kami berdua shalat

    dzuhur, menyempil diantara bayi dan belita yang tenagah tergeletak

    tertidur pulas. Dengkuran dan dengusan lirih bayi mungil justru

    mebuat shalat kami semakin khusyuk.” (Rais dan Almahendra,

    2011: 27).

    Fatma dan hanum senantiasa melaksanakan rukun Islam yang ke-2

    yaitu melaksakan shalat walaupun di tengah-tengah orang yang tidak

    faham dengan ajaran Islam akan tetapi keduanya tetap teguh pada

    keimananya. Ini sesuai dengan ayat Al-qur’an yang mengajarkan tentang

    perintah shalat yang tercantum dalam QS Thaha ayat 14:

    b. Perintah untuk puasa Ramadhan

    Kata puasa yang dipergunakan untuk menyebut Rukun Islam ke

    empat ini berasal dari bahasa sansekerta upawasa. Dalam bahasa arab

    dan Al-Qur’an puasa disebut saum atau siyam yang berarti menahan diri

    dari sesuatu dan meninggalkan sesuatu atau mengendalikan (diri).

    Menurut istilah artinya menahan diri makan dan minum, dan segala

    sesuatu yang membatalkan puasa dari terbitnya fajar hingga terbenamnya

    matahari denagn niat ibadah (Jaza’iril, 2008: 505).

    Hal ini sesuai dengan penggalan dialog dalam novel sebagai

    berikut:

    “aku pusa, setefen. Sekarang bulan Ramadhan jadi kau tak perlu

    mengajakku makan siang sebulan mendatang.”

  • Susah menjelaskan pada setefen bagaimana mungkin kami orang

    muslim bisa menahan lapar dan haus, tidak makan dan minum

    selama 15 jam pada musim panas. Pada suatu hari menjelang akhir

    bulan Ramadhan, setefen kembali datang ke kantor Rangga dengan

    kata-kata yang membuat Rangga terkejut.”hari ini aku juga mau

    berpuasa sepertimu. Aku ingin tahu seberapa kuat aku menjalani

    ini.”

    Rangga tersenyum sambil mengacungkan jempolnya. Stefen

    merasa terhormat walaupun mengaku terlanjur sarapan sahur jam 9

    pagi makan semangkok sereal dan susu. Rangga tetap memuji

    usahanya untuk mencoba ikut berpuasa.

    “Good start, setefen. Nanti kita berbuka bersama. Kau ku traktir

    spageti, asal kau bisa tahan samapai jam 7.30 malam. No food. No

    drink. No smokin.

    Okay?” kata Rangga menawarkan tantangan.

    Satu jam. Dua jam. Tiga jam hingga pukul 6.30 sore, 1 jam

    sebelum saatnya berbuka, setefen kembali datang kekantor Rangga

    dengan muka kusut.

    “aku tidak tahan, Rangga. Aku tak bisa berbuat apa-apa hari ini.

    Aku hanya tertidur pulas di mejaku. Aku harus minum...” kembali

    Rangga tersenyum untuk menghargai perjuangan setefen. Lalu dia

    berdiri dan menepuk pundak sefen dengan mantap.

    “minumlah, tak apa. Dari pada kaupingsan aku malas

    menggendongmu. Tapi sepagetinya tetap tunggu sejam lagi.

    Bagaimana?”

    Setefen tersenyum lebar, kemudian menenggak 2 gelas air minum

    dari kran dapur.Sejam kemudian mereka berdua sudah berada di

    kafe sepageti depan kampus.

    Setefen memesan sepageti carbonara ukuran besar yang di

    hidangkan dengan keju bubuk dan potongan daging babi cincang.

    Rangga memilih sepageti vegetarian arrabiata. Sementara setefen

    memesan satu botol bir besar, Rangga memesan satu gelas jus apel

    dan teh manis.

    “Rangga aku ingin membuat sebuah pengakuan,”ujar setefen

    memcah keheningan. “Go ahead.”

    “belum pernah dalam hidupku aku makan carbonarra seenak ini.

    Tapi harus ku akui, tadi ada sebuah perasaan aneh saat aku

    akhirnya meneguk air putih di keran. Perasaan bersalah sekaligus

    kalah karena aku tak bisa menaklukkan sesuatu dari dalam diriku

    sendiri,”cerita setefen panjang lebar.

  • “perasaan nikmat seperti itu, setefen, yang kita kejar ketika kita

    berpuasa. Toh kau tahu, ini tetap carbonarra yang sama seperi

    biasanya kaumakan. Tapi aku yakin ini terasa jauh lebih nikmat.

    Nikmat karena berhasil menaklukan sesuatu dari dalam diri kita.

    Yah, kalau kau percaya ada setan, sebenarnya setan itu yang telah

    kita taklukan. Perasaan bersalah muncul karena akhirnya kau

    merasa kalah. Air putih yang tadinya kau anggap paling nikamat,

    ternyata tetap air putih biasa. Kau membiarkan setan membisikimu,

    membiarkanya mengodamu. Kemudian kau menyesal, kau tidak

    mendapatkan apa yang setan janjikan.”

    Dalam 10 menit, sepageti setefen langsung ludes. Dia tampak heran

    melihat Rangga makan tidak selahap dirinya.

    “Rangga, tell me you didn’t cheat! Kau tidak diam-diam minum di

    kantor kan tadi.”

    Rangga hampir tersedak oleh sepagetinya. Dia ingin tertawa.

    Stefen, buat apa aku berbohong? Aku melakukanya bukan untuk

    menang taruhan denganmu. Puasa itu melatih kita jujur terhadap

    diri sendiri. Aku ingin puasaku hanya di nilai oleh Tuhanku, karena

    memang aku melakukanya untukNya.”

    “jadi,.. tak ada setetes air putih yang kau minum tadi

    siang?”kembali setefen bertanya penuh selidik.

    Rangga menggeleng sambil tersenyum melihat air muka stefen

    yang masih belum percaya ada manusia mampu bertahan tanpa

    makan, minum selama 15 jam setiap hari selama 30 hari

    (2011:214).

    Dari dialog di atas namapak jelas bahwa Allah memerintahkan

    untuk puasa bagi orang yang beriman. Dan puasa melatih kejujuran untuk

    dirinya sendiri dan pahala puasa yang menilai hanya Allah. Ini sessuai

    dengan perintah Allah untuk sanantiasa melaksakan puasa pada bulan

    Ramadahan sesuai dengan QS Al-Baqoroh 183:

    Artinya: Hai orang-orang yang beriman diwajibkan atas kamu

    berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum

    kamu agar kamu bertaqwa. (2008:276)

    3. Nilai Pendidikan Akhlaq

  • Istilah terbesar kaitannya