myrmecodia pendens merr. & perry

Click here to load reader

Post on 12-Jan-2017

224 views

Category:

Documents

0 download

Embed Size (px)

TRANSCRIPT

  • EFEK ANTIINFLAMASI EKSTRAK ETANOL UMBI SARANG SEMUT

    (Myrmecodia pendens Merr. & Perry) PADA TIKUS PUTIH

    (Rattus norvegicus L.)

    Naskah Publikasi

    Oleh:

    DANI KRISTINA

    M0403018

    JURUSAN BIOLOGI

    FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM

    UNIVERSITAS SEBELAS MARET

    SURAKARTA

    2008

  • 2

    PERSETUJUAN

    Naskah Publikasi

    SKRIPSI

    EFEK ANTIINFLAMASI EKSTRAK ETANOL UMBI SARANG SEMUT

    (Myrmecodia pendens Merr. & Perry) PADA TIKUS PUTIH

    (Rattus norvegicus L.)

    Oleh:

    Dani Kristina

    M0403018

    Telah disetujui untuk dipublikasikan

    Surakarta, September 2008

    Menyetujui,

    Pembimbing I

    Shanti Listyawati, M. Si. NIP. 132 169 256

    Pembimbing II

    Prof. Drs. Sutarno, M.Sc., Ph. D. NIP. 131 649 948

    Mengetahui,

    Ketua Jurusan Biologi

    Dra. Endang Anggarwulan, M.Si. NIP. 130 676 864

  • 3

    EFEK ANTIINFLAMASI EKSTRAK ETANOL UMBI SARANG SEMUT (Myrmecodia pendens Merr. & Perry) PADA TIKUS PUTIH

    (Rattus norvegicus L.)

    ANTIINFLAMMATORY EFFECT OF ETHANOLIC EXTRACT OF Myrmecodia pendens Merr. & Perry TUBER ON WHITE RATS (Rattus

    norvegicus L.)

    DANI KRISTINA, SHANTI LISTYAWATI, SUTARNO Jurusan Biologi FMIPA UNS Surakarta

    The aim of the research were to know about antiinflammatory effect of

    ethanolic extract of M. pendens Merr. & Perry tuber on white rats. The framefork of the research was that flavonoid constituent of M. pendens Merr. & Perry tuber have an inflammatory effect.

    Complete Randomized Design with seven treatment groups, each of the treatment had five repetitions, was used in this study. Each group have been treated: Group I CMC 0,5% control (placebo), Group II positive control (Na-Diclofenac), Group III, IV, V, VI, and VII giving ethanolic extract of M. pendens Merr. & Perry tuber dose 9, 18, 27, 36 and 45 mg/200 g BW, respectively. The inflammation was produced by subplantar injection of carrageenan suspension in the right hind paw of rats. The quantitive data of Area Under Curve of edema percentage were analized statistically with SPSS program using One-Way ANOVA followed by DMRT test. The result showed that ethanolic extract of M. pendens Merr. & Perry dose 9 mg/200 g BW had given the highest antiinflammatory effects (29,726%). Key word: Myrmecodia pendens Merr. & Perry, flavonoid, anti-inflammatory.

    PENDAHULUAN

    Tanaman obat merupakan sumber daya biologi (bio resource) utama

    dalam pengembangan obat herbal, obat tradisional, obat baru, dan bahan baku

    untuk obat semi sintesis atau modern. Pengembangan obat yang berasal dari

    produk alam telah terbukti berhasil di masa lalu dan teknologi baru telah

    dikembangkan untuk memperoleh senyawa-senyawa turunan dari berbagai jenis

    tanaman (Mulyaningsih dan Darmawan, 2006). Obat tradisional merupakan salah

    satu alternatif dalam pengobatan karena efek sampingnya dianggap lebih kecil.

    Indonesia merupakan salah satu negara yang memiliki banyak jenis

    tumbuhan sebagai sumber obat tradisional (Rusdi, 1988). Beberapa genus dari

    famili Rubiaceae mempunyai sifat-sifat farmakologis, diantaranya adalah genus

  • 4

    Myrmecodia yang telah dipelajari secara intensif. Misalnya kandungan flavonoid

    dari umbi M. pendens Merr. & Perry. menunjukkan aktifitas antiinflamasi

    (Subroto dan Saputro, 2006). Di Papua, tanaman ini banyak ditemukan terutama

    di daerah Pegunungan Tengah, seperti hutan belantara Kabupaten Jayawijaya,

    Tolikara, Puncak Jaya, Pegunungan Bintang, dan Paniai (Wiyana, 2006).

    Inflamasi merupakan suatu kasus yang sering dijumpai pada masyarakat.

    Proses inflamasi disertai dengan adanya keluhan rasa sakit yang sering menjadi

    gangguan aktifitas sehari-hari (Arbie, 2003; Lelo, 2004). Ada beberapa tanda-

    tanda utama terjadinya inflamasi, yaitu eritema, edema, panas, nyeri, dan

    gangguan fungsi (Kee dan Hayes, 1993). Berbagai tumbuhan yang secara

    tradisional dapat digunakan untuk mengurangi pembengkakan, dapat dipakai

    sebagai alternatif obat antiinflamasi baru (Uzcategui et al., 2004). M. pendens

    Merr & Perry atau biasa dikenal dengan tumbuhan sarang semut mempunyai

    aktifitas antiinflamasi karena mengandung flavonoid.

    Menurut Ahkam dalam Syariefa, dkk (2006), M. pendens Merr & Perry.

    mengandung senyawa-senyawa seperti flavonoid, tanin, tokoferol, dan mineral

    kompleks. Senyawa flavonoid dalam Ilavarasan et al (2005) disebutkan

    mempunyai efek antiinflamasi, antioksidan, dan antimikrobia. Flavonoid mampu

    melindungi membran lipida terhadap reduksi yang bersifat merusak (Robinson,

    1991). Menurut Jayasekara et al (2002), flavonoid dapat menghambat pelepasan

    mediator-mediator inflamasi seperti histamin dan prostaglandin. Lakhanpal and

    Rai (2007) menyebutkan, flavonoid dapat menghambat akumulasi leukosit,

    degranulasi neutrofil, dan pelepasan mediator-mediator inflamasi seperti histamin

    dan prostaglandin, serta dapat menstabilkan Reactive Oxygen Species (ROS).

    BAHAN DAN METODE

    Alat

    Alat-alat yang digunakan untuk uji flavonoid meliputi tabung effendorf,

    evaporator, mikropipet, perkolator, vortex, sentrifus, jarum injeksi, lempeng silika

    gelGF254, spektrodensitometer C 5 930 dan TLC Scanner (Shimadzu, Japan). Alat

    yang digunakan untuk pembuatan ekstrak yaitu timbangan analitik, gelas ukur,

    gelas beker, erlenmeyer, magnetic stirer, spatula, kertas saring, oven, pipet ukur,

  • 5

    pipet volume, dan rotary evaporator. Alat yang digunakan untuk uji antiinflamasi

    meliputi kandang tikus lengkap dengan tempat makan dan minum, canule untuk

    pemberian secara oral, spuit injeksi untuk pemberian perlakuan secara injeksi,

    gelas ukur untuk mengukur volume larutan yang akan diberikan kepada hewan

    uji, stopwatch, dan pletismometer air raksa.

    Bahan

    Tikus putih (Rattus norvegicus L.) jantan galur Wistar sebanyak 35 tikus

    dengan umur dua bulan dan berat badan 200-250 gram. Bahan tanaman yaitu

    umbi M. pendens Merr & Perry. Bahan-bahan kimia yang digunakan antara lain

    akuades, etanol, etil asetat, asam asetat, asam formiat, amoniak, CMC 0,5 %, dan

    larutan fisiologis. Sebagai induktor peradangan digunakan karagenin tipe I.

    Sebagai pembanding dalam uji antiinflamasi digunakan Na-diklofenak.

    Cara Kerja

    1. Analisis Kandungan Flavonoid

    Analisis kandungan flavonoid dilakukan dengan menggunakan

    Kromatografi Lapis Tipis (KLT) metode Densitometri (Wagner et al., 1984).

    2. Persiapan Hewan Uji

    Hewan uji tikus putih sebelum digunakan diadaptasikan dengan

    lingkungan penelitian selama satu minggu.

    3. Pembuatan Ekstrak

    Sampel yang telah berbentuk serbuk dimaserasi dalam etanol 70% selama

    3 hari, lalu difiltrasi dan diperoleh filtrat. Filtrat yang diperoleh lalu dipekatkan

    dengan rotary evaporator pada suhu maksimal 60 0C (Harborne, 1996). Untuk

    perlakuan, ekstrak lembek yang diperoleh dari proses ini disuspensikan dalam

    larutan CMC 0,5%.

    4. Perlakuan terhadap hewan uji

    Rancangan percobaan berupa Rancangan Acak Lengkap (RAL). Hewan uji 35

    tikus putih (Rattus norvegicus L.) jantan strain Wistar dibagi dalam tujuh

    kelompok perlakuan dan setiap kelompok terdiri dari lima tikus putih sebagai

    ulangan. Perlakuan yang diberikan pada masing-masing kelompok adalah sebagai

    berikut:

  • 6

    I. Kontrol negatif CMC 0,5% (plasebo)

    II. Kontrol positif Na-diklofenak 2,7 mg/200 g BB

    III. Ekstrak etanol M. pendens Merr & Perry 9 mg/200 g BB

    IV. Ekstrak etanol M. pendens Merr & Perry 18 mg/200 g BB

    V. Ekstrak etanol M. pendens Merr & Perry 27 mg/200 g BB

    VI. Ekstrak etanol M. pendens Merr & Perry 36 mg/200 g BB

    VII. Ekstrak etanol M. pendens Merr & Perry 45 mg/200 g BB

    Analisis Data

    Untuk menentukan kelompok perlakuan yang memiliki daya antiinflamasi

    paling optimal (data kuantitatif AUC antar kelompok perlakuan) dianalisis dengan

    menggunakan Analisis Varians (ANAVA) satu arah dan dilanjutkan dengan uji

    DMRT (Duncan Multiple Range Test) pada taraf kepercayaan 95% (Gill, 1978).

    HASIL DAN PEMBAHASAN

    Uji antiinflamasi ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh antiinflamasi

    ekstrak etanol M.pendens Merr & Perry pada tikus putih jantan. Edema pada kaki

    belakang yang diinduksi karagenin adalah model standar percobaan inflamasi akut

    (Chakraborty et al, 1994). Keuntungan dari metode Winter yang digunakan dalam

    penelitian ini adalah mudah dan membutuhkan biaya yang sedikit (Sedgwick and

    Willoughby, 1994).

    Pengukuran daya antiinflamasi dilakukan dengan cara melihat kemampuan

    M.pendens Merr & Perry dalam mengurangi pembengkakkan kaki hewan

    percobaan akibat penyuntikan larutan karagenin 1%. Setelah disuntik karagenin,

    tikus-tikus menunjukkan adanya pembengkakkan dan kemerahan pada kaki serta

    tikus tidak dapat berjalan lincah seperti sebelum injeksi. Hasil pengukuran

    persentase radang disajikan pada gambar 1.

  • 7

    0

    20

    40

    60

    80

    100

    120

    140

    160

    0 15 30 60 90 120 150 180 210 240 270 300

    Menit ke-

    Pers

    enta

    se R

    adan

    g (%

    )

    Kontrol NegatifKontrol PositifEkstrak Etanol 9mgEkstrak Etanol 18mgEkstrak Etanol 27mgEkstrak Etanol 36mgEkstrak Etanol 45mg

    Gambar 1. Kurva persentase radang pada kaki tikus akibat injeksi karagenin

    terhadap waktu.

    Gambar 1. menunjukkan bahwa kurva kelompok III, IV,V, VI dan VII

    berturut-turut yaitu pada dosis 9,18, 27, 36 dan 45 mg/200 g BB berada di antara

    kurva kelompok plasebo dan kontrol positif. Hal ini memperlihatkan bahwa

    volume radang lebih kecil dibandingkan plasebo namun masih lebih besar

    dibandingkan perlakuan Na-diklofenak. Hal tersebut kemungkinan disebabkan

    tidak semua senyawa yang terdapat dalam ekstrak etanol M.pendens Merr &

    Perry memberikan aktivitas antiinflamasi, namun dimungkinkan terdapat

    senyawa-senyawa yang memiliki kemampuan dalam menghambat aktivitas

    antiinflamasi, seperti flavonoid.

    Dari hasil analisa Kromatografi Lapis Tipis (KLT) terhadap ekstrak etanol

    M. pendens Merr & Perry, diketahui bahwa ekstrak tersebut mengandung

    flavonoid yang divisualisasi dengan uap amoniak dan dilihat di bawah sinar UV

    pada panjang gelombang 254 nm dan 365 nm menunjukkan bercak berwarna

    kuning. Kromatografi Lapis Tipis berlangsung dengan menggunakan fase diam

    selulosa, fase gerak etil asetat: asam formiat: asam asetat: air ( 100:11:11:27 ), dan

    pereaksinya adalah uap amoniak (Gambar 2).

  • 8

    UV 254 nm UV365 nm visibel

    Gambar 2. Kromatogram KLT dari ekstrak etanol M. pendens Merr & Perry.

    Pada kelompok plasebo, injeksi karagenin subplantar menghasilkan edema

    lokal yang meningkat cepat pada menit ke-15 dan belum menunjukkan tanda-

    tanda penurunan sampai pada menit ke-300 (persentase radang = 138,350 %).

    Persentase radang pada kelompok kontrol positif (Na-diklofenak)

    meningkat perlahan dan terus berlangsung sampai pada menit ke-120 (sebesar =

    42,244%). Persentase radang kelompok perlakuan Na-diklofenak lebih kecil jika

    dibandingkan dengan plasebo.

    Persentase radang kelompok perlakuan dosis 9 mg/200 g BB lebih kecil

    bila dibandingkan dengan plasebo. Persentase radang ini terus meningkat dan

    mencapai maksimal pada menit ke-240 (sebesar = 74,070%). Persentase radang

    kelompok perlakuan dosis 18 mg/200 g BB lebih kecil dibandingkan plasebo dan

    persentase radang maksimal dicapai pada menit ke-150. Pada dosis 27 mg/200 g

    BB, persentase radang juga lebih kecil dari plasebo dan persentase radang

    maksimal dicapai pada menit ke-180 (sebesar = 77,52%). Pada dosis 36 mg/200 g

    BB, persentase radang juga lebih kecil dari plasebo dan persentase radang

    flavonoid

  • 9

    maksimal dicapai pada menit ke-150 (sebesar = 88,738%), sedang pada dosis 45

    mg/200 g BB persentase radang juga lebih kecil dari plasebo dan persentase

    radang maksimal dicapai pada menit ke-210 (sebesar = 108,9%).

    Tabel 1. Rerata Nilai AUC dan Persentase Daya Antiinflamasi Ekstrak Etanol M.

    pendens Merr & Perry pada Edema yang Diinduksi Karagenin

    Kelompok Perlakuan

    Dosis Perlakuan (mg/200 g BB)

    AUCSD % Daya Antiinflamasi SD

    Kontrol negatif 4,7540,388c Kontrol positif 2,7 1,8160,122a 61,4945,205 M. pendens 9 3,3140,715b 29,72617,533 M. pendens 18 3,4960,835b 27,14412,026 M. pendens 27 3,7601,054bc 20,62222,743 M. pendens 36 3,8141,033bc 20,20017,213 M. pendens 45 3,8240,414bc 19,2589,862 Keterangan: N=5 dalam setiap kelompok; p0,05; Huruf yang berbeda pada kolom yang sama

    menunjukkan perbedaan nyata dengan plasebo (kontrol CMC 0,5%); AUC=Area Under Curve (luas daerah di bawah kurva).

    Kemampuan suatu bahan untuk mengurangi pembengkakan kaki hewan

    uji akibat injeksi karagenin dinyatakan sebagai daya antiinflamasi. Nilai daya

    antiinflamasi diperoleh dengan membandingkan luas daerah bawah kurva volume

    radang M. pendens Merr & Perry dan kontrol positif dengan luas daerah bawah

    kurva plasebo. Luas daerah bawah kurva memberikan informasi tentang potensi

    M. pendens Merr & Perry untuk menurunkan radang apabila dibandingkan dengan

    plasebo. Semakin besar luas daerah bawah kurva berarti semakin besar volume

    radang yang ditimbulkan. Berdasarkan Tabel 1. luas daerah bawah kurva pada

    kelompok perlakuan ekstrak etanol M. pendens Merr & Perry masih lebih besar

    dibandingkan dengan Na-diklofenak. Hal ini menunjukkan bahwa M. pendens

    Merr & Perry memiliki potensi dalam mengurangi inflamasi namun masih kurang

    efektif apabila dibandingkan dengan Na-diklofenak.

    Nilai AUC percobaan ini terdistribusi normal dan homogen yaitu berasal

    dari populasi yang sama karena harga signifikansinya pada taraf signifikansi 95 %

    adalah lebih besar dari 0,05. Dengan demikian data kuantitatif AUC antar

    kelompok perlakuan dianalisis secara statistik dengan menggunakan Analisis

  • 10

    Varian (ANAVA) satu arah dan dengan uji DMRT (Duncan Multiple Range Test)

    pada taraf signifikansi 95% untuk membedakan antar kelompok (Gill, 1978).

    Hasil analisis statistik varian satu arah dari nilai AUC volume udem

    menunjukkan bahwa secara umum terdapat perbedaan signifikan antara berbagai

    perlakuan. Bila dilihat dari besarnya volume edema yang terjadi maka perlakuan

    kontrol negatif dengan perlakuan Na-diklofenak memberikan perbedaan yang

    signifikan. Secara statistik, nilai AUC menunjukkan perbedaan nyata pada

    kelompok perlakuan ekstrak etanol M. pendens Merr & Perry dosis 9 dan 18

    mg/200 g BB. Sementara itu pada kelompok perlakuan ekstrak etanol M. pendens

    Merr & Perry dosis 27, 36, dan 45 mg/200 g BB tidak menunjukkan perbedaan

    yang nyata sehingga kurang efektif dalam menurunkan radang. Dengan demikian

    dapat disimpulkan bahwa perlakuan ekstrak etanol M. pendens Merr & Perry

    dosis 9 dan 18 mg/200 g BB merupakan dosis optimal dalam menurunkan radang.

    Dari Tabel 1. terlihat bahwa peningkatan dosis ekstrak etanol M. pendens

    Merr & Perry menunjukkan adanya kecenderungan penurunan daya antiinflamasi.

    Hal ini kemungkinan disebabkan oleh kandungan senyawa dalam ekstrak etanol

    M. pendens Merr & Perry yang memiliki daya antiinflamasi mungkin lebih dari

    satu jenis senyawa. Senyawa-senyawa tersebut memiliki lama waktu yang

    berbeda-beda dalam memberikan efeknya.

    Ekstrak etanol M. pendens Merr & Perry dosis 9 mg/200 g BB dengan

    daya antiinflamasi sebesar 29,726% menunjukkan obat telah diabsorbsi dengan

    cepat dan sempurna sehingga secara cepat pula didistribusikan ke sel target.

    Namun pada dosis 18, 27, 36, dan 45 mg/200 g BB, respon farmakologi yang

    diberikan ternyata semakin mengalami penurunan yaitu sebesar 27,144%,

    20,622%, 20,200%, dan 19,258%. Hal ini kemungkinan disebabkan senyawa-

    senyawa yang terkandung dalam ekstrak etanol M. pendens Merr & Perry tidak

    semuanya memiliki daya antiinflamasi. Senyawa-senyawa tersebut dimungkinkan

    dapat menghambat kemampuan senyawa-senyawa lain yang cenderung memiliki

    daya antiinflamasi. Ekstrak etanol M. pendens Merr & Perry pada dosis 9 mg/200

    g BB memiliki daya antiinflamasi yang paling optimal bila dibandingkan dengan

    kelompok dosis lain. Mekanisme antiinflamasinya dikarenakan penghambatan

  • 11

    pelepasan PG dan mediator-mediator serupa. Hal ini juga mungkin berhubungan

    dengan kehadiran flavonoid yang terdapat di dalam ekstrak etanol M. pendens

    Merr & Perry yang bekerja melalui mekanisme sebagai berikut:

    1. Penghambatan aktivitas enzim COX dan lipooksigenase

    Menurut Dharmananda (2006) dan Chattopadhyay et al (2005), aktivitas

    antiinflamasi flavonoid terjadi melalui penghambatan COX dan lipooksigenase.

    Neto et al (2005) dan Chattopadhyay et al (2005), mengemukakan bahwa

    penghambatan jalur COX dan lipooksigenase ini secara langsung juga

    menyebabkan penghambatan biosintesis prostaglandin dan leukotrien yang

    merupakan produk akhir dari jalur COX dan lipooksigenase.

    2. Penghambatan akumulasi leukosit

    Efek antiinflamasi flavonoid dilaporkan oleh Neto et al (2005) dan

    Dharmananda (2006) disebabkan oleh aksinya dalam menghambat akumulasi

    leukosit di daerah inflamasi. Menurut Effendi (2003), leukosit dapat melakukan

    gerakan amuboid dan melalui proses diapedesis, leukosit dapat meninggalkan

    kapiler dengan menerobos antara sel-sel endothel dan menembus ke dalam

    jaringan. Friesenker et al (1994) dalam Nijveldt et al (2001) mengemukakan

    bahwa pada kondisi normal leukosit dapat bergerak bebas sepanjang dinding

    endothel. Menurut Lakhanpal and Rai (2007), selama terjadi proses inflamasi

    berbagai mediator turunan endothel dan aktor komplemen mungkin menyebabkan

    adhesi leukosit menjadi immobil dan menstimulasi degranulasi neutrofil.

    Lakhanpal and Rai (2007) juga menyebutkan bahwa flavonoid dapat menurunkan

    adhesi leukosit ke endothel dan mengakibatkan penurunan respons inflamasi

    tubuh.

    3. Penghambatan degranulasi neutrofil

    Tordera et al (1994) dalam Nijveldt et al (2001) menduga bahwa flavonoid

    dapat menghambat degranulasi neutrofil sehingga secara langsung mengurangi

    pelepasan asam arakhidonat oleh neutrofil. Neutrofil merupakan sumber beberapa

    mediator inflamasi seperti prostaglandin, tromboksan, dan leukotrien (Rahmawati

    dkk., 2003).

  • 12

    4. Penghambatan pelepasan histamin

    Efek antiinflamasi flavonoid didukung oleh aksinya sebagai antihistamin.

    Histamin merupakan salah satu mediator pertama dalam keseluruhan proses

    antiinflamasi yang pelepasannya distimulasi oleh pemompaan kalsium ke dalam

    sel. Selanjutnya, Amella et al (1985) dalam Nijveldt et al (2001) mengemukakan

    bahwa flavonoid dapat menghambat pelepasan histamin dari sel mast, yaitu sel

    yang mengandung granula histamin, serotonin, dan heparin (Gabor, 1986 dalam

    Sucipto, 2008). Meskipun mekanisme yang tepat belum diketahui, namun Mueller

    (2005) menduga bahwa flavonoid dapat menghambat enzim c-AMP

    fosfodiesterase (Chattopadhyay et al, 2005), sehingga kadar c-AMP dalam sel

    mast meningkat sehingga kalsium dicegah masuk ke dalam sel yang berarti juga

    mencegah pelepasan histamin (Gomperts et al, 1993).

    5. Penstabil Reactive Oxygen Species (ROS)

    Kemampuan flavonoid sebagai antioksidan yaitu secara tidak langsung

    juga mendukung efek antiinflamasi flavonoid. Disamping itu, flavonoid juga

    berperan dalam melindungi tubuh dari Reactive Oxygen Species (ROS)

    (Lakhanpal and Rai, 2007). Ivanova dan Ivanov (2000) dalam Harliansyah (2001)

    menyebutkan bahwa meningkatnya akumulasi ROS dapat menimbulkan toksisitas

    bahkan kematian sel. Seperti halnya radikal bebas yang dihasilkan dari pelbagai

    sel dalam jumlah yang sedikit, maka keberadaan antioksidan di dalam tubuh juga

    diharapkan untuk mengimbangi reaksi radikal bebas (Lakhanpal and Rai, 2007).

    Antioksidan bertindak melalui mekanisme pemutusan rantai radikal bebas,

    detoksifikasi serta mengaktifkan enzim-enzim antioksidan (superoksid dismutase,

    katalase dan glutation peroksidase). Adanya radikal bebas dapat menarik berbagai

    mediator inflamasi (Halliwel, 1995 dalam Nijveldt et al, 2001). Korkina (1997)

    dalam Nijveldt et al, (2001) dan Lakhanpal and Rai (2007) menambahkan bahwa

    flavonoid dapat menstabilkan Reactive Oxygen Species (ROS) dengan bereaksi

    dengan senyawa reaktif dari radikal bebas sehingga radikal menjadi inaktif.

    Pada penelitian ini menggunakan kontrol positif Na-diklofenak yang

    termasuk dalam golongan obat AINS yang banyak digunakan untuk mengatasi

    nyeri dan inflamasi. Na-diklofenak mempunyai daya antiinflamasi karena

  • 13

    kemampuannya menghambat pembentukan prostaglandin enderoperoksida dan

    asam arakhidonat yang merupakan prekursor tromboksan, prostaglandin dan

    prostasiklin (Wilmana,1995). Na-diklofenak menghambat pembentukan

    prostaglandin melalui penghambatan kerja enzim siklooksigenase. Selain

    menghambat siklooksigenase, Na-diklofenak juga mengintervensi jalur

    lipooksigenase sehingga mengurangi pembentukan leukotrien. Na-diklofenak

    terutama digunakan untuk mengurangi rasa nyeri karena peradangan pada

    berbagai keadaan rematik (Tjay dan Rahardja, 2002).

    Na-diklofenak bekerja lebih selektif, yakni cenderung menghambat kerja

    enzim COX-2 dibanding COX-1. COX-1 terdapat di kebanyakan jaringan, antara

    lain di pelat-pelat darah, ginjal, dan saluran cerna. Zat ini berperan dalam

    pemeliharaan perfusi ginjal, melindungi lambung, dan menghambat produksi

    asam. COX-2 dalam keadaan normal tidak terdapat dalam jaringan, tetapi

    dibentuk selama proses peradangan. Penghambatan COX-1 bertanggungjawab

    atas efek sampingnya terhadap mukosa lambung, usus, dan di ginjal, sedang efek

    negatifnya seperti iritasi dan efek toksiknya terhadap ginjal. Berdasarkan

    perbedaan tersebut maka dalam penelitian ini menggunakan AINS selektif yang

    terutama menghambat COX-2 dan kurang mempengaruhi COX-1 yaitu Na-

    diklofenak. Obat ini diserap sepenuhnya dari saluran gastrointestinal dengan

    pemberian secara oral (Daniel, 2006).

    Kesimpulan

    Pemberian ekstrak etanol M. pendens Merr & Perry secara oral terhadap

    tikus (Rattus norvegicus L.) pada dosis 9 mg/200 g BB mampu menurunkan

    radang dengan daya antiinflamasi paling optimal sebesar 29,726 %, namun

    persentase daya antiinflamasi tersebut masih lebih kecil apabila dibandingkan

    dengan Na-Diklofenak. Aktifitas antiinflamasi tersebut bekerja melalui

    mekanisme penghambatan aktivitas enzim COX dan lipooksigenase,

    penghambatan akumulasi leukosit, penghambatan degranulasi neutrofil,

    penghambatan pelepasan histamin, dan penstabil Reactive Oxygen Species (ROS).

  • 14

    DAFTAR PUSTAKA

    Achmad. S. A. 1990. Flavonoid dan Phytomedica: Kegunaan dan Prospek. Phytomedica. Vol 1(2).

    Amanlou, M., Dadkhah, F., Salehnia, A., Farsam, H. And Dehpour, A.R. 2005.

    An Antiinflammatory and Anti Nociceptive Effects of Hydroalcoholic Extract of Satureja khuzistanica Jamzad Extract. Journal Pharmacology and Pharmaceutical Science 8 (1): 102-106.

    Ammar, N.M., Al-Okbi, S.Y. and Muhamed, D.A. 2005. Study of the

    Antiinfflammatory Activity of Some Medical Edible Plants Growing in Egypt. Journal of Islamic Academy of Sciences 10(4).http://www.MedicalJournal-ias.org/10_4/Ammar.htm (12 Desember 2005).

    Arbie Rosian. 2003. Penanggulangan Rasa Sakit Dengan Analgetika Dalam

    Bentuk Obat Bebas. USU Digital Library. Fak. Kedokteran Universitas Sumatera Utara.

    Ayunin, Q. 2004. Daya Antiinflamasi Infusa Daun Tapak Liman (Elephantropus

    scaber L.) terhadap Tikus Putih Jantan. Skripsi. Fak. Farmasi UMS. Surakarta.

    Buckley, R.C. (ed.). 1982. Ant-plant interactions in Australia. Dr W. Junk Publishers, The Hague.

    Cleveland Clinic. 2003. What You Need to Know About Inflamation. http://www.clevelandclinic.org./healthinfo/docs/0200/0217.asp?index=4857 [13 Maret 2007].

    Chakraborty, A., Devi, R.K.B., Rita, S., Sharatchandra,Kh., Singh, Th.I. 2004.

    Preliminary Studies on Anti Inflammatory and Analgesic Activities of Spilantes acmella in Experimental Animal Models. Indian Jornal Pharmacology 36(3): 148-150.

    Chaplin, M. 2005. Carrageenan. http://www.Isbu.ac.uk/water/hycar.html (31

    Mei 2005).

    Chattopadyay, Deprasad, Arunachalam, Ghosh, L., Rajendran, K., Mandal, A.B., Bhatta Charya, S.K. 2005. J. Pharm Pharmaceut Sci 8 (3): 558-564. www. cspsCanada.org.

    Clure, M. 1986. Physiology of Flavonoids in Plants. Plants Flavanoids in Biology

    and Medicine: Biochemicals, Pharmaceuticaland Structure ActivityRelationships. Alan R. Liss. Tnc Inc. p: 77-85.

  • 15

    Columbia Encyclopedia.2005. AntiinflamatoryDrugs.

    http://www.encyclopedia.com/html/nl/nonster.asp [13 Maret 2007]. Daniel. 2006. OAINS Konvensional Masih Jadi Pilihan Gerai. Reumatologi vol

    5(11). http:/www.farmacia.com/rubrik/one_news.asp?idn news+181. 18 Juni 2008.

    Dharmananda, S. 2006. A Popular Remedy Escapes Notice of Western

    Practitioners. Institute for Traditional Medicine. Portland. Oregon. http://www.itmonline.org/arts/bidens.htm (23 Agustus 2007).

    Effendi, Z. Dr.,Peranan Leukosit sebagai Antiinflamasi Alergik dalam Tubuh.

    USU Digital Library:1-8. http:// library.usu.ac.id/download/fk/histologi-zukesti2.pdf. [10 Juli 2007]. Faye, O. W. 1995. Prinsip-prinsip Kimia Medisinal (diterjemahkan oleh R.

    Raslim).Jilid II. UGM Press. Yogyakarta. Ferreira, S.H., and Vane, J.R. 1974. Aspirin and Prostaglandins in Ramwell,

    P.W., (Ed) in the Prostaglandins. Plenum Press. New York. Forster, P. I. 2000. The Ant, the Butterfly and the Ant-Plant: Notes on

    Myrmecodia beccarii (Rubiaceae), a Vulnerable Queensland Endemic. Haseltonia 7: 2-7.

    Fujiki, H., Horiuci, T., Yamashita, K., Haki, H. 1986. Inhibition of Tumor

    Promotion by Flavanoids. Plants Flavanoids in Biology and Medicine: Biochemicals, Pharmaceuticaland Structure ActivityRelationships. Alan R. Liss. Tnc p:429-440.

    Furst, D. E. and Munster, T. 2001. Obat-obatan Antiinflamasi Nonsteroid, Obat-

    obatan Anti Reumatik Pemodifikasi Penyakit; Analgesik Nonopioid dan Obat-obatan untuk Pirai (dalam Farmakologi Dasar dan Klinik. Diterjemahkan oleh Dripa S.). Edisi ke-2. Penerbit Salemba Medika. Jakarta.

    Gill, B. D. 1978. Design and Analysis of Experiment in the Animals and Medical

    Sciences. First Edition. Iowa States University Press. Ames. Gomperts, B.D., Baldwin, J.M., and Micklem, K.J. 1983. Rats Mast Cells

    Permeabilized with Sendai Virus Secrete Histamine in Response to Ca2+ Buffered in the Micromolar Range. Biochemistry Journal 210 (3): 737-745.

    Hakim, L. 2002. Uji Farmakologi dan Toksikologi Pada Hewan Coba (dalam

    prosiding Seminar Herbal Medical Universitas Muhamadiyah Purwokerto).

  • 16

    Hamid, R. Z. dan Anwar, Y. 1986. Histamin dan Reseptornya pada Organ Tubuh. Majalah Farmakologi Indonesia dan Terapi 3 (1) 39-43.

    Harborne, J. B. 1996. Metode Fitokomia Penuntun Cara Modern Menganalisis

    Tumbuhan. Terbitan Kedua. Penerbit ITB. Bandung. Harliansyah. 2001. Mengunyah Halia Menyah Penyakit. Indonesian Student

    Association in Malaysia. http://www.ibnusina.utm.my/-hadi/paksi/paper/paksi_harliansyah_89.pdf (10 Juli 2007).

    Hart, H., Craine, L., Hart, D. 2003. Kimia Organik. Erlangga.Jakarta. Heil, M. B. Baumann, R. Kruger and K.E. Linsenmair. 2004. Main Nutrient

    Compounds in Foods Bodies of Mexican Acacia Ant-Plants. Chemoecology 14: 45-52.

    . 2003. Protective Ant-Plant Interactions as Models Systemin

    Ecological and Evolutionary Research. Ann. Rev. Ecol. Evol. Syst. 34: 425-453.

    Hopkins, W. G. 1999. Introduction of Plant Physiology. Jhon Wiley and Sons.

    New York. Huxley, C. R. 1978. Ant-Plant Myrmecodia and Hydnophytum (Rubiaceae), and

    Relationships Between Their Morphology, Ant Accupants, Physiology nd Ecology. New Phytologist 80 (1): 231.

    . 1993. The Tuberous Epiphytes of the Rubiaceae 5: a Revision of

    Myrmecodia. Blumea 37 (2): 271-334. Ilavarasan R, Mallika, M., and Venkataraman, S.2005. Antiinflammatory and

    Antioxsidant Activities of Cassia fistula Bark Extracts. Afr. J. Traditional. CAM 2(1) : 70-85.

    Jayasekara, T.I., Stevenson, P.C., Belmain, S.R., Farman, D.I., and Hall, D.R.

    2002. Identification of Metylsalicylate as the Principal Volatile Component in the Methanol Exstract of Root Bark of Securidaca longipedunculata Fers. J. Mass Spec. 37:577-580.

    Katzung, B. 2000. Farmakologi Dasar dan Klinik. Edisi VI. EGC: Jakarta.

    Kee, J. L and Hayes, E. R. 1993. Farmakologi: Pendekatan Proses Keperawatan (diterjemahkan oleh P. Anugrah) Penerbit EGC. Jakarta.

    Lakhanpal, P., Rai D.K. 2007. Quercetin: a Versatile Flavonoid. Journal of Medical Update Jul-Dec 2

  • 17

    (2).http://www.geocities.com/agnihotrimed/paperos_Jul-Dec 2007.htm (11 Juli 2007).

    Lamp, C.A., Forbes, S.J. & Cade, J.W. (ed. Pressley, M.). 1990. Grasses of Temperate Australia. Inkata Press, Melbourne.

    Lelo, A., Hidayat, D.S., Juli Sake. 2004. Penggunaan Antiinflamasi Non Steroid Yang Rasional Pada Penanggulangan Nyeri Rematik. Fak. Kedokteran Universitas Sumatera Utara.

    Loggja, R. D., Tubaro, A., Dri, P., Zilli, C., Del Ne. 1986. The Rule of Flavonoids in the Antiinflamatory of Chamolia recutita . Plants Flavanoids in Biology and Medicine: Biochemicals, Pharmaceuticaland Structure ActivityRelationships. Alan R. Liss. Tnc p: 481-484.

    Mansjoer, S. 1997. Efek Anti Radang Minyak Atsiri Temu Putih (Curcuma zedoria Rosc.) terhadap Udem Buatan pada Tikus Putih Jantan Galur Wistar. Majalah Farmasi Indonesia 8:35-41.

    Maretnowati, N.A., Widyawaruyanti dan M.H. Santosa. 2005. Uji Toksisitas Akut dan Sub Akut Ekstrak Etanol dan Ekstrak Air Kulit Batang Artocarpus champeden Spreng dengan Parameter Histopatologi Hati Mencit. Majalah Farmasi Erlangga 5(3):91-95.

    Mueller, J. 2005. Bioflavonoids: Natural Relief for Allergies and Asthma. http://www. Worldwidehelathcenter.net/articles-336.html (1 Desember 2005).

    Mulyaningsih, S., Darmawan, E. 2006. Efek Anti Artritis Pisang Ambon (Musa Paradisiaca sapientum L.) dan Lidah Buaya (Aloe vera L.) terhadap Adjuvant-Induced Artritic pada Tikus. Biodiversitas 7 (3): 273-277.

    Murata, K. 1985. Formation of Antioxidants and Nutrient in Tempe, Asian Symposium on Non-Salted Soybean Fermentation.Tsukuba. Japan

    Nijveldt, R.J., van Nood, E., van Hoorn, D.E.C, Boelens, P.G., van Norren, K.J., van Leeuwen, P.A. M. 2001. Flavonoid : A Review of Probable Mechanisms of Action and Potential Applications. American Journal of Clinical and Nutrition 74:418-425.

    Neto, A.G., Costa, J.M.L.C., Belati, C.C, Vinholis, A.H.C.,Possebom, L.S., Da Silva Filho, A.A., Cunha, W.R.,Carvalho. J.C.I., Bastos, J.K., Silva, M.L.A. 2005. Journal of Ethnopharmacology 96 : 87-91.

    Nicks Plant Pages. 2001. Ant Plants. http://www.duke.edu/~nplummer/beccarii.html. [7 Februari 2007].

  • 18

    Peterson, T. G., Kim, H., Bames, S. 1997. Mechanism of Action of The Soy Isoflavone Genistein at the Celular Level. Second International Symposium on the Role of Soybean in Preventing and Treating Chronic Deseases. Brussel. Belgique.

    Rahmawati, I. , Yunus F., Wiyono W.H. 2003. Patogenesis dan Patofisiologi Asma. Cermin Dunia Kedokteran 41:1-8.http://www.kalbe.co.id/files/cdk/files/05_Patogenesis dan Patofisiologi Asma.pdf/05/html [10 Juli 2007].

    Rachmawati, D. 1997. Efek Antiinflamasi Lempuyang Emprit pada Tikus Putih Jantan. Skripsi. Fak. Farmasi UGM. Yogyakarta.

    Robinson, T. 1991. Kandungan Organik Tumbuhan Tingkat Tinggi (diterjemahkan oleh K. Padmawinata). Penerbit ITB. Bandung.

    Rusdi, 1988. Tetumbuhan sebagai Sumber Bahan Obat. Pusat Penelitian Universitas Andalas. Padang.

    Sedgwick, A.D. and Willoughby, D.A. 1994. Animal Models for Testing Drugs on Inflammatory and Hypersensitivity Reactions. InDale, M. M. And Foreman, J. C. Textbook of Immunopharmacology. Third Edition. Blackwell Scientific Publication. Oxford.

    Selway, J. W. T. 2006. Antiviral Activity of Flavones and Flavons. Plants Flavanoids in Biology and Medicine: Biochemicals, Pharmaceuticaland Structure ActivityRelationships. Alan R. Liss p: 521-536.

    Simon, J.E. 1990. Essential Oils and Culinary Herbs in Janick, J., and Simon, J. E. (Eds.). Advances in New Crops. Timber Press. Portland.

    Siswandono dan Soekarjo, B. 1995. Kimia Medisinal. Airlangga University Press. Surabaya.

    Snyder, H. E. and Kwon, T. W. 1987. Soybean Utilization. Van Nostrand Reinhold Co. New York.

    Stafford, A.H., and Ibrahim, K.R.1992. Phenolic Metabolism in Plants. Volume 26. Plenum Press. New York & London.

    Stahl, E. 1985. Analisis Obat secara Kromatografi dan Mikroskopi (diterjemahkan oleh K. Padmawinata dan I. Sudiro). Penerbit ITB. Bandung.

    Steenis, C. G. G. J. Van. 1987. Flora Untuk Sekolah di Indonesia (diterjemahkan oleh M. Surjopranoto). Pradnya Paramita. Jakarta.

  • 19

    Stone, K.R., and Freyer,A. 2004. Natural Anti-Inflamatories: Dealing with Arthritic Pain Drugs Versus Diet.

    http://www.ortopeditechreview.com/issues/julaug05/pg.html[1Desember 2006].

    Subroto, A. M, Saputro, H. 2006. Gempur Penyakit dengan Sarang Semut. Penebar Swadaya: Jakarta.

    Subagyo, R.L. 2005. Pemilihan NSAID untuk Berbagai Situasi Klinik. POGI (Perkumpulan Obstetri dan Ginekologi Indonesia). http://www.pogi-online.org (6 April 2008).

    Sucipto,A.2008.KedelaidanKesehatan.http://www.naksara.net/index.php?option=com_content&view=article&id=156:kedelai-dankesehatan&catid=43:helath&Itemid=27 (6 April 2008).

    Sumarni, R. dan Rahayu. 1994. Perbandingan Efek Antiinflamasi Jahe Biasa, Jahe Gajah dan Jahe Merah. Skripsi. Fakultas Farmasi Universitas Hasanudin Ujung Pandang.

    Syariefa, E., Hermansyah, Karjono, Tambunan, L., Syalita &Rosy Nur Apriyanti. 2006. Riset Alamiah Sarang Semut. http://www.trubus-online.com/mod.php?mod=publisher&op=viewarticle&artid=252.[21 Mei 2007].

    Teramoto, H., Ikeda, H., and Tamori, Y. 2000. Supressive Effect of Isoflavones on Proliferation of Breast Cancer Cells Induced by Nonyl-phenol and bi-phenol A. Prosiding ISPUC-III. Tsukuba. Japan.

    Tjay, T. H., Rahardja, K. 2002. Obat-Obat Penting: Penggunaan dan Efek Sampingnya. PT. Elex Media Komputindo: Jakarta.

    Tjokronegoro, A. dan Baziat, A. 1992. Etika Penulisan Obat Tradisional. Fak. Kedokteran UI. Jakarta.

    Turnbach, M.E., Spraggins, D.S. and Randich, A. 2002. Spinal Administration of Prostaglandin E2 or Prostaglandin F2 Primarly Produces Mechanical Hyperalgesia that is Mediated by Nociceptive Spesific Spinal Dorsal Horn Neuron. Pain 97: 35-45.

    Turner, R. A. 1965. Screening Methods in Pharmacology. Academic Press. New York.

    Uzctegui, B., Avila, D., Roca, H. S., Quintero, L., Ortega, J. Dan Gonzalez, B. 2004. Anti-inflamatory, Antinociceptive, and Antipyretic Effects of Lantana trifolia Linnaeus in Experimental Animals. http://www. scielo. org.

  • 20

    ve/scieolo. php? pid=S0535- 51332004000400004&script=sci_arttext. [1 Desember 2006].

    Ward, P.A. 1985. Inflamasi (dalam : Imonologi III. Diterjemahkan oleh S. Wahab). UGM Press. Yogyakarta.

    Wagner, H., Bladt, S. and Zgainski, E. M. 1984. Plant Drug Analysis: A Thin Layer Chromatography Atlas. Springer. London.

    Waluyo, E. B., Subroto, A. M. 2007. Sarang Semut (Ant Nest). http://medicinesherbal.blogspot.com/2007/03/sarang-semut-ant-nest.html.[21 Mei 2007].

    Waterman, P. G., J. A. M. Ross & D. B. Mckey. 1984. Factors Affecting Levels of Some Phenolic Compounds, Digestability, and Nitrogen Content of the Mature Leaves of Barteria Fistulosa (Passifloraceae). Journal of Chemical Ecology 10 (3): 387-401.

    Whitten, A. J. 1981. Notes on the Ecology of Myrmecodia Tuberosa Jack on Siberut Islands-Indonesia. Ann. Bot 47 : 525-526.

    Wilmana, P.F. 1995. Analgesik Antipiretik Antiinflamasi Nonsteroid dan Obat Pirai (dalam Farmakologi dan Terapi. Ed. S. G. Ganiswara). Edisi ke-4. Penerbit Gaya Baru. Jakarta.

    Wiyana, D. 2006. Nongon Pembunuh Kanker. Tempo (18/XXXV/26 Juni-02 Juli 2006). http://www.lipi.go.id/www.cgi?cetakberita&1158151385&&2006&. [11 Mei 2007].

    Wulandari, I. 2005. Uji Daya Antiinflamasi Akut Diasetil Heksagama Vunon-1

    (Diasetil HGV-1) secara Oral terhadap Udem Kaki tikus Betina Wistar Terinduksi Karagenin. Skripsi. Fakultas Farmasi UGM. Yogyakarta.

    WTMA (Wet Tropics Management Authority). 2004. Insects in the wet tropics: Green ants.http://www.wettropics.gov.au/pa/pa_ants.html [30 April 2007].

    Zilliken, F. I. 1997. Production of Novel Isoflavans. Material Meeting. BMBF. Bonn. Germany.