liza punya

Download Liza Punya

Post on 04-Aug-2015

207 views

Category:

Documents

13 download

Embed Size (px)

TRANSCRIPT

AIBISebuah Novel : Liza Martha Lova 1 Duka Yang Meluruh Taman bunga itu begitu luas dan asri. Mawarnya sedang bermekaran. Bau semerbak merangsang indra penciuman, memberikan kedamaian di dalam hati. Sepasang kupu-kupu yang sedang pacaran berkejar-kejaran dan berayun dari tangkai bunga satu ke tangkai bunga yang lainnya. Setiap kali dia hinggap dibawanya serbuk sari yang menempel di kakinya lalu di tempelkannya ke kepala putik bunga betina untuk membantu proses penyerbukan agar bisa menghasilkan buah yang ranum dan segar. Hidup seperti simbiosis mutualisme, saling menguntungkan satu sama lain. Walau berbeda jenis tetapi mempunyai satu misi yakni melestarikan alam semesta untuk di wariskan kepada para generasi penerus. Terik mentari pagi yang bersinar hangatkan bumi. Ia peluk erat penduduk bumi dan disebarkannya sejuta kebahagiaan dan kasih. Di tengah-tengah taman yang asri dan di temani dua kupu-kupu yang sedang berkejar-kejaran bermandikan sinar mentari pagi, seorang gadis muda tengah duduk di atas kursi roda. Sendiri. Sepintas dia terlihat tengah menikmati kebun mawar yang sedang bermekaran dan menghadirkan bau khas yang semerbak. Tetapi sejatinya mata itu tengah memandang jauh kedepan, menembus tembok kehidupan, menjelajahi hutan belantara pemikiran, mampir di sudut reot hati yang mulai jarang dikunjungi. Nun jauh di sana terlihat potret dirinya yang mulai mengabur berbentuk foto hitam putih. Padahal kehidupan itu dilaluinya dengan warna warni. Lalu, kemana perginya warna biru itu? warna yang selama bertahun-tahun menjadi warna kesukaannya. Kemana perginya warna merah jingga itu? yang menjadi pemandangan yang menyejukkan matanya ketika sore hari. Kemana semua warna yang cemerlang itu? warna mejikuhibiniu yang selalu membuat matanya takjub ketika memandangnya. Karena disana ada bukti kemaha indahan Tuhan sang pencipta alam semesta. Kemana warna itu? kenapa yang tersisa saat ini hanya warna hitam dan putih saja? Kata orang setiap selesai gerimis dan hujan akan muncul pelangi akibat pantulan dari spektrum sinar matahari, sehingga terbentuklah warna pelangi yang menyejukkan mata. Tapi kenapa hari ini pelangi itu tidak lagi muncul? Bukankah sudah bertahun-tahun ia melalui hari penuh gerimis dan hujan air mata Sudah terlalu banyak air mata yang keluar, dan pagi ini air mata itu keluar lagi. Satu persatu butiran-butiran kristal itu berjatuhan membasahi pipinya, terus mengalir ke dagunya sehingga menyentuh syal yang terlilit di lehernya yang jenjang dan mengendap disana membentuk pulau-

pulau kecil. Sudah terlalu banyak butiran-butiran yang mengandung muatan garam itu mengalir dan bercucuran dari matanya. Lima tahun berlalu, kapankah butiran hangat itu akan berhenti mengalir dari matanya yang sudah nanar dan mengabur itu? Atau kehidupan yang dijalaninya ini akan selalu di temani oleh butiran-butiran itu? Ah... Semuanya terasa semakin menyesakkan dada. Perlahan ia coba menyeka air mata yang jatuh dengan kedua telapak tangannya. Namun semakin dia menghapusnya air mata itu semakin deras mengalir. Akhirnya tubuh lemah tak berdaya itu terguncang menahan isak. Sudahlah, betapa dia ingin berdamai saja dengan masa lalunya. Dia lelah bertengkar dengan hati dan pikirannya yang masing-masingnya tidak mau saling mengalah. Betapa sudah tidak ada lagi yang bisa dilakukannya. Walau terasa pahit, tapi inilah kenyataan. Dia memang tidak akan pernah beranjak lagi dari kursi roda ini. Sampai kapanpun dia hanya akan terduduk pasrah di atas kursi pesakitan. Di telannya air liurnya yang terasa kering di kerongkongan. Semuanya terasa begitu menyesakkan dada. Dia belum siap lahir bathin menghadapinya. Tapi sampai kapan harus bersikukuh dengan kediamannya? Sampai kapan dia menolak semua ini? Apa yang dilakukannya saat ini, toh tidak akan mengembalikannya kepada keadaan semula. Dia harus ikhlas. Tapi, bisakah dia ikhlas? Bukankah ikhlas itu adalah sesuatu yang sangat sulit? 2 Rapat Terakhir Alam selalu punya bahasanya sendiri dalam mengagungkan asma-Nya. Semuanya khusyuk berzikir tak henti-hentinya. Semuanya sibuk beribadah kepada Allah. Matahari berzikir dengan caranya yang tidak dimengerti oleh para hamba. Begitu juga bintang dan rembulan yang selalu tunduk dan memujaNya penuh cinta. Pagi selalu menawarkan kesejukan yang menenangkan jiwa. Embun menetes lembut membasahi dedaunan. Suasana subuh semakin terasa indah dan menyejukkan kala bau udara pagi menyentuh hidung. Pertanda manusia-manusia di bumi akan memulai aktivitasnya setelah terlelap dalam mimpi yang indah. Remang-ramang warna subuh mulai memudar. Tampak di sana maha sempurna penciptaanNya. Fajar merekah di langit Para pedagang mulai menyiapkan dagangannya yang akan di jajakan dari rumah-ke rumah di pagi hari yang masih temaram. Dari kejauhan terdengar suara lengkingan tukang gorengan. Sekalikali suaranya yang cempreng di tingkahi oleh penjual ketan panas. Pagi ini, semua kebahagian telah memenuhi rongga dada. Setelah berjuang mati-matian, akhirnya semuanya akan segera berakhir dan perjuangan baru akan kembali dimulai. Jepang telah menunggu kehadirannya. Dengan wajah penuh sumringah Aibi berdiri di depan kaca, diamatinya setiap lekuk wajahnya. Tiba-tiba bayangan orang tuanya hadir di sana. Kerinduannya tak tertahankan lagi.Sore ini Papa dan Mamanya tercinta akan tiba di Padang. Mereka berangkat dari

Jakarta pukul 16.00 sore. Tentu ia sendiri yang langsung menjemput orang tuanya. Kebahagian itu tidak terhenti sampai di sana. Ada empat prestasi yang di raihnya tahun ini di akhir keberadaannya di kampus. Aibi digelari mahasiswa terpintar dan tercerdas yang dimiliki kampus semenjak tempat perkuliahan itu berdiri. Ia juga mendapatkan gelar best student award. Ia berhasil mengalahkan para kontestan lain. Disamping itu ia mendapatkan penghargaan sebagai mahasiswa organisatoris yang berprestasi dari University of Australia. Puncaknya ia meraih beasiswa penuh ke Jepang untuk melanjutkan S2. Semua biayanya ditanggung oleh pemerintah. Lengkap sudah kebahagiannya. Dari 3525 orang yang akan di wisuda, hanya dia yang mampu meraih sederet prestasi membanggakan tersebut. Alasan apalagi yang membuat Aibi tidak bersyukur? Semua anugerah telah didapatkannya. Semua yang diimpikan banyak orang telah diraihnya. Ia terlahir dari anak orang kaya yang begitu menyayanginya. Semua kebutuhannya dicukupi baik diminta atau pun tidak. Terlahir sebagai orang pintar yang dibanggakan oleh setiap orang yang mengenalnya. Terlahir sebagai seorang wanita yang anggun dan kecantikan yang menawan hati siapa saja yang melihatnya. Kehadirannya selalu dirindukan. NikmatNya sungguh begitu berlimpah. Hidup rasanya kurang bermakna ketika tidak melihat senyum Aibi merekah juga semangatnya yang menyala-nyala. Hampa rasanya ketika sosok itu tidak turut serta dalam rapat-rapat FSI karena biasanya Aibi lah yang selalu mempunyai banyak ide-ide kreatif dalam setiap kegiatan yang akan dilaksanakan. Aibi berbeda dengan kebanyakan kader dakwah lainnya. Ia tak segan-segan bergaul dengan siapapun. Bisa dikatakan ia tidak menjaga jarak dengan mahasiswa diluar forum. Meskipun begitu ia tetap menjaga adab-adab ketika berinteraksi dengan lawan jenis. Ia begitu santun dan sangat dekat dengan siapa saja mulai dari mahasiswa, dosen dan pegawai yang ada di kampusnya. Bahkan namanya tak asing lagi bagi petugas kebersihan atau penjaja makanan di kampus. Contohnya uni Vina, petugas cleaning service gedung D itu. Sebagai aktivis dakwah, Aibi dan teman-temannya selalu memakai gedung ini tiap minggunya untuk rapat. Ketika rapat sudah selesai ruangan tersebut bisa dipastikan kembali seperti sedia kala. Tidak ada sampah yang berserakan. Sebab, Aibi lah yang paling rewel mengingatkan teman-temannya untuk menjaga kebersihan. Saking baiknya terkadang ia membawakan makanan dan menyerahkannya kepada petugas kebersihan tersebut. Tak hanya uni Vina. One Eli yang biasanya menjual makanan di gedung D juga sering menyebut-nyebut namanya dikarenakan sering sekali Aibi memberikan uang berlebih setelah berbelanja disana. Ia selalu menolak kembalian uang dari wanita paruh baya itu. One Eli sebetulnya tidak enak. Tapi Aibi tetap bersikukuh dengan keputusannya tersebut. Ia sepertinya juga prihatin dengan nasib para penjaja makanan. Mengingat sudah sering sekali mereka diperlakukan dengan semena-mena oleh birokrat kampus. Kampus melarang mereka berjualan di gedung perkuliahan dengan alasan akan

mengganggu proses belajar mengajar. Padahal, tak ada lagi tempat lain bagi mahasiswa untuk mengisi perut atau sekedar menikmati bakwan dan goreng pisang. Aibi lah orang yang paling lantang menyuarakan hak-hak mereka kepada petinggi kampus. Ia menyadari betul apa yang dirasakan amak-amak tersebut. Uda Ujang, petugas security kampus juga mengenali Aibi. Hal ini tak mengherankan mengingat Aibi suka berkenalan dengan siapa saja. Ia akrab dan juga suka menyapa. Prof. Khairul, salah seorang dosen pernah berkata: keteladanan telah berkumpul dalam diri Aibi Semua orang merindukan Aibi. Setiap mulut tidak pernah berhenti menyebut tentang pribadi yang menawan hati. Luar biasa pribadi dan kekuatan ruhiyah yang dimilikinya. Cahaya kesholehahan itu terpancar indah di wajahnya, sehingga menambah cantik wajahnya yang memang sudah cantik. *** Jumat pagi ini masih ada rapat yang akan dipimpinnya. Rapat terakhir sebelum dia pergi meninggalkan kota Padang. Kemaren Mala menghubunginya. Kata sahabatnya itu kalau ada waktu tolong hadir rapat hari ini jam 09.00 di mushola Fakultas Sastra!! Sedikit ada keganjilan ketika mendengar apa yang disampaikan Mala, karena tidak biasanya mereka rapat di mushola Fakultas Sastra. Mereka selalu rapat di mushola FE atau di mushola Teknik. Terkadang masjid kampus menjadi alternatif terakhir. Tapi kali ini, kok di Sastra? Oh, mungkin akhwat[1] ingin suasana baru,ujarnya dalam hati. Besok dia akan di wisuda dan seninnya akan langsung ke Jakarta bersama Mama dan Papanya. Hitung-hitung juga kangen-kangenan dengan seluruh akhwat nantinya sebelum di