essay pendidikan bab 1. kurikulum

Download Essay Pendidikan Bab 1. Kurikulum

If you can't read please download the document

Post on 20-Jun-2015

481 views

Category:

Documents

2 download

Embed Size (px)

TRANSCRIPT

Bagian 2 tentang Kurikulum

KurikulumKurikulum saat ini

tentang

Mindset orangtua Orientasi yang salah Pendidikan menurut Ki Hajar Dewantara Pabrik itu bernama sekolah Softskills-oriented Iptek yang menjemukkan Penjurusan Edukasi kreatif Reformasi kurikulum

Seorang malam 3

siswa itu,

sedang

mensyukuri yang begitu

nasibnya mujur. ia

nasibnya dengan

Bagaimana tidak? Dari SD sampai SMA ranking besar selalu mudah berhasil lahap. Nilai 100 pun kerapkali mendekorasi hampir seluruh kertas ujiannya. Senyum dan sanjungan guru serta teman-teman tak pernah habis menyinari hari-harinya. Sejalan lurus dengan kehidupan akademiknya, di rumah pun ia sama bahagianya. Ia dipandang sebagai teladan dan seorang insanEssai, Jangan sekolah

1

Bagian 2 tentang Kurikulum

emas Di prodi

yang studi

kelak

akan

membuat

bangsa

ini ia

semakin jaya. Otomatis, ia semakin terlena. akademik Kimia pun selanjutnya, dengan sangat Di ia melanjutkan studi di PTN terpandang dalam Teknik 8 amat ia mudah akhir skripsi pun puas dengan semester dengan mendapat mendapat beasiswa pula.

menyelesaikan sehingga laude. cum

sempurna

predikat

Belum

dengan segala berkah Tuhan yang ia terima, Ia melanjutkan studi dan lagi-lagi dengan mudah ia selesaikan itu. Ia memang sedikit gila gelar. Tapi itu hanyalah masa-masa kejayaannya 25 sampai 26 tahun ke belakang. Sekarang ini, ia sedang memandang dirinya yang tak sehebat yang masyarakat pikirkan waktu itu. Seperti kebanyakan waktu selama tujuh tahun terakhir, sekarang ia hanya bercermin sambil berkata kenapa oleh begini? sapaan yang dari SPV tidak secara yang terusdulu menerus pada dirinya. Dan seperti biasa, ia disadarkan adalah amat temannya pintar-pintar perusahaan

atasannya,

sebuah

marketing. Lho? Apa yang salah? Sudah banyak sekali, entah itu ribuan atau mungkin sudah mencapai puluhribuan artikel yang menyatakan berbagai macam estimasi negatif tentang kurikulum yang ada sekarangEssai, Jangan sekolah

2

Bagian 2 tentang Kurikulum

ini. Yang jadi masalahnya adalah, kenapa pemerintah itu tidak tahu atau seolah tidak mau tahu? Padahal sistem pendidikan seperti ini sudah tidak bisa diharapkan akan memberi pencerahan hidup. Kalau sistem tetap seperti ini, hasilnya adalah manusia manusia robot yang terpenuhi oleh teori.

Kurikulum saat iniSebelum melangkah lebih jauh, ada baiknya kalau kita tahu dulu bagaimana oleh keadaan yang kurikulum sekarang yang dipakai sekarang Dinas atau dicanangkan Pendidikan. pemerintah, khususnya oleh

Kurikulum

sebenarnya yang selalu diujicobakan oleh pemerintah sekarang ini bernama KTSP, singkatan dari Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan. Dimana dalam kurikulum ini, setiap satuan pendidikan sekolah punya hak buat menyusun dan membuat kurikulumnya masing-masing yang disesuaikan dengan kemampuan dan kebutuhan lokal. Sebagai contoh, bahasa daerah yang seringkali jika dianggap perlu dimasukkan dalam muatan lokal di salah satu sekolah. KTSP pula memberikan kebebasan pada guru untuk bikin kurikulum. Dan itu membuat para guru seharusnya berpatok terhadap perkembangan masing-masing siswanya dan tidak terpatok kepada berbagai tuntutan pemerintah. Kurikulum yang guru buat, seharusnya disesuaikan dengan kemampuan dan kebutuhan daerah. Juga berarti pendidikan yang lebih mengedepankan proses, bukan semata hasil.Essai, Jangan sekolah

3

Bagian 2 tentang Kurikulum

Dan karena KTSP telah disusun oleh sekolah maka seharusnya KTSP punya relevansi yang tinggi bagi kebutuhan siswa. Artinya apa yang dipelajari siswa benar-benar merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan siswa. Setidaknya, apa yang dipelajari siswa memiliki kebermaknaan yang tinggi bagi mereka. Dalam KTSP, dikenal 3 aspek penilaian, yaitu: kognitif (teori); psikomotor (keterampilan); afektif (sikap). Menarik, karena baru di kurikulum inilah yang namanya sikap disorot dalam dunia pendidikan.

Implemetasi yang salahNamun, kalau kita lihat standar kelulusan yang faktanya hanya ditentukan melalui UN (kognitif), nampaknya afektif ini hanyalah formalitas pembaharuan kurikulum semata. Karena yang mengerti dan tahu sikap siswa adalah guru masingmasing, dan guru sendiri faktanya tidak diberi kewenangan dalam meluluskan siswa karena itu semua diambil alih oleh pemerintah. Selain itu, dalam pelaksanaannya ternyata KTSP ini punya berbagai tantangan. Salah satunya dari pemerintah sendiri. Karena di satu sisi, pemerintah memberikan kebebasan pada setiap sekolah untuk membuat silabusnya sendiri tapi juga malah memberlakukan sistem ujian nasional (akan dibahas lebih lanjut). Hal ini tentu saja menunjukkan

Essai, Jangan sekolah

4

Bagian 2 tentang Kurikulum

ketidakkonsistenan pemerintah dalam menjalankan berbagai macam program pendidikan. Gimana sih pemerintah ini? KTSP, kurikulum tidak siap pakai Selain itu pula, implementasi lainnya pun belum sesuai dengan yang diharapkan. Alih-alih memperhatikan perkembangan masing-masing siswa seperti yang tercantum dalam KTSP, para guru-guru malah secara konservatif menuntut siswanya dengan standar yang cukup tinggi. Saya beri contoh, dan ini memang pengalaman saya secara pribadi, saat saya kelas 3 SMA (2008/2009) saya mengenal seseorang yang sangat pintar dalam pelajaran eksakta, sebut saja AR. Si AR ini amat pintar dalam mengkalkulasikan berbagai macam operasi matematis. Sedangkan saya tidak. Ironisnya, ketika guru saya bertanya setelah ia memberi soal latihan, misal : Sudah? Berapa hasilnya? Tak lama AR menjawab, tentu siswa yang lain masih sibuk menghitung. Alhasil, karena sudah ada satu orang yang menjawab dan memang selalu benar akhirnya guru saya berasumsi bahwa siswa satu kelas ini sudah mengerti semua, padahal belum. Parahnya lagi, guru saya kerapkali bilang Sudah, kita lanjut saja. Yang belum tanyakan saja pada yang sudah Alhasil, niat saya untuk menghitung yang tadinya cukup menggebu-gebu akhirnya sirna karena toh saya sudah tahu berapa nominal hasilnya. Dan jurang antara si pintar dan si bodoh semakin melebar. Wah wah, kalau seperti ini terus, siswa yang lain akan makin terpuruk dalam jurang keterpurukan. Lebai.

Essai, Jangan sekolah

5

Bagian 2 tentang Kurikulum

Seharusnya guru menetapkan standar yang disesuaikan dengan 5 orang siswa terlamban untuk tetap menjaga motivasi mereka. Dan seharusnya, guru tidak seperti ini. Guru harusnya tahu perkembangan setiap siswa dengan pendekatan individual yang nyaman. Guru seharusnya tahu bahwa si AR dan saya dan teman-teman lainnya sama berharganya. Hanya beda bidang kemampuannya. Tidak boleh ada acara diskriminasi apalagi penglabelan bodoh. Dalam KTSP, sebenarnya softskills yang akan dibahas - ini sudah dimuat. Hanya saja, dalam pelaksanaannya masih belum sesuai prosedur. Karena mau diganti kurikulumnya bagaimanapun, kalau paradigma dan perspektif tentang keberhasilan pendidikan yang sekarang dimiliki oleh semua lapisan pendidikan itu masih sama seperti saat kurikilum 1994, metode pengajaran pun masih dalam suasana konservatif dan monotonisme, pasti softskills yang ada di dalam benak siswa itu tidak akan terstimulir dengan baik. Sangat disayangkan. Yang berwenang, dalam hal ini pemerintah, seharusnya memberikan pemahaman dan semacam training kepada guruguru dalam hal menerapkan kurikulum yang namanya KTSP ini. Karena faktanya di lapangan, walaupun materi berubah tapi metode pengajaran masih sama seperti tahun 1994 dimana yang menjadi subjek KBM adalah guru, harusnya murid. Tapi ini semua juga bukan serta-merta salah guru. Dalam banyak kasus terbukti bahwa sebenarnya para guru di sini tidak

Essai, Jangan sekolah

6

Bagian 2 tentang Kurikulum

mengerti harus bagaimana dalam mengimplementasikan KTSP ini. Guru Cuma tahu bahwa ia harus menjadi fasilitator. Hal ini terjadi saat saya SMA. Karena dipaksa dengan KTSP tanpa adanya pemahaman tentang mekanisme di kelas, akhirnya guru Cuma datang ke kelas dan menyuruh siswa menulis SK dan KD Bab 1, kemudian ada beberapa pengantar dan selanjutnya beliau meyampaikan bahwa pada saat pertemuan berikutnya, beliau akan membahas tentang anu dan itu harus dibaca oleh siswa sebelumnya agar saatnya nanti siswa jadi mengerti dan aktif. Timbul permasalahan dari pihak siswa. Lho, jadi bingung Siswa yang punya fasilitas lebih memang diuntungkan dalam hal ini, tapi yang tidak punya bagaimana? Lagipula, tetap saja tidak semua siswa adalah para pembelajar otodidak yang bisa dengan sendirinya mengerti suatu materi. Ingat, daya tangkap setiap orang beda-beda. Siswa, walaupun sedikit setidaknya harus mendapatkan pencerahan dari gurunya tentang dasardasar materi tersebut, dan setelahnya barulah disuruh untuk menelaah lebih dalam. Sehingga murid bisa paham materi apa yang akan dipelajari. Kalau sistem ini sudah benar, kenapa masih banyak temanteman kita lulusan S1 bahkan S2 yang kerjanya Cuma nganggur saja di rumahnya? Lantas kenapa seorang lulusan cum laude dengan IPK 4 bisa menjadi bawahan teman kuliahnya sendiri yang nampaknya dulu biasa-biasa saja?

Essai, Jangan sekolah

7

Bagian 2 tentang Kurikulum

Mindset orangtuaSekolah dengan sistem pendidikan seperti ini sudah cukup berumur. Sudah cukup lama sehingga mampu untuk membuat stigma yang sangat mengakar pada orangtua siswa. Stigma yang selama ini membuat banyak anak-anak merasa terpenjara oleh jeruji tuntutan. Sudah menjadi pikiran umum pada orangtua siswa bahwa untuk sukses di masa depan, haruslah sekolah. Hal ini terbukti dari berjubelnya orangtua siswa yang ingin mendaftarkan anaknya untuk sekolah di setiap awal tahun ajaran baru. Padahal, kalau memang mau sukses katakanlah punya uang yang takkan habis 7 turunan tak perlu sekolah. Karena dapat apa sih dari s