Epidemiologi Hiv

Download Epidemiologi Hiv

Post on 03-Jul-2015

1.104 views

Category:

Documents

3 download

Embed Size (px)

TRANSCRIPT

<p>EPIDEMIOLOGI PENYAKIT HIV/AIDS</p> <p>Makalah: Diajukan Untuk Memenuhi Salah Satu Tugas pada Mata Kuliah Epidemiologi Penyakit Menular</p> <p>Kelompok 9 Ardilla Wasiah Fauziah Rahmi Hidayati Taslimah Kurniati Asria</p> <p>Semester IV Peminatan Kesehatan Lingkungan</p> <p>PROGRAM STUDI KESEHATAN MASYARAKAT FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU KESEHATAN UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF HIDAYATULLAH JAKARTA 2011 M</p> <p>PENDAHULUAN</p> <p>AIDS (Acquired lmmunodeficiency Sydrome) merupakan masalah kesehatan dunia pada saat ini maupun masa yang akan datang karena penyakit ini telah menyebar hampir diseluruh negara. Penyakit ini berkembang secara pandemi, menyerang baik negara maju maupun negara yang sedang berkembang. Hal ini merupakan tantangan terhadap pelayanan kesehatan masyarakat dunia dan memerlukan tindakan segera. Acquired lmmunodeficiency Sydrome adalah sindrome/kumpulan gejala penyakit yang disebabkan oleh Retrovirus yang menyerang sistem kekebalan/pertahanan tubuh. Penyakit ini pertama kali ditemukan pada tahun 1981. di Amerika Serikat dan sampai saat ini telah menyerang sebagian besar negara didunia. Penyakit ini telah menjadi masalah internasional karena dalam waktu relatif singkat terjadi peningkatan jumlah penderita dan melanda semakin banyak negara. Disamping itu belum ditemukannya obat/vaksin yang efektif terhadap AIDS telah menyebabkan timbulnya keresahan dan keprihatinan di seluruh dunia. Masalah yang demikian besar dan menyeluruh serta merugikan tidak saja pada bidang kesehatan, tetapi juga di bidang lain misalnya bidang sosial, ekonomi, politik, kebudayaan dan demografi. Dikatakan pula bahwa epidemi yang terjadi tidak saja mengenai penyakitnya (AIDS) tetapi juga epidemi virus (HIV) dan epidemi reaksi/dampak negatif di berbagai bidang seperti tersebut diatas .Hal ini merupakan tantangan yang harus dihadapi baik oleh negara maju maupun negara berkembang. Penelitian mengenai AIDS telah dilaksanakan dengan sangat intensif dan informasi mengenai penyakit ini bertambah dengan cepat. Informasi yang semakin banyak, masalah yang semakin kompleks dan masih barunya penyakit. AIDS ini sering menimbulkan kesalahpahaman dan ketakutan yang berlebihan mengenai penyakiti ni. Di Indonesia masalah AIDS cukup mendapat perhatian mengingat Indonesia adalah negara terbuka, sehingga kemungkinan masuknya AIDS adalah cukup besar dan sulit dihindari . Sampai Mei 1997 ditemukan 1.32 penderita AIDS dimana 75 orang diantaranva telah meninggal dan yang seropositif terhadap HIV sebanyak 413 orang. Oleh karenanya kita harus waspada dan siap untuk menghadapi penyakit ini.</p> <p>Menurut Suesen (1989) terdapat 5 -10 ,juta HIV positif yang dalam waktu 5- 7 tahun mendatang diperkirakan 10-30% diantaranya akan menjadi penderita AIDS. Masa inkubasi penyakit ini yaitu mulai terjadinya infeksi sampai timbulnya gejala penyakit sangat lama (sampai 5 tahun atau lebih) dan karena infeksi HIV dianggap seumur hidup maka resiko terjadinya penyakit akan berlanjut selama hidup pengidap virus HIV. Seseorang yang terserang virus AIDS menjadi membawa virus tersebut selama hidupnya. Orang tersebut bisa saja tidak demikian gejala sama sekali, namun tetap sebagai sumber penularan kepada orang lain. Saat ini pandemi infeksi HIV tanpa gejala jauh lebih banyak daripada penderita AIDS itu sendiri. Tetapi infeksi HIV itu dapat berkembang lebih lanjut dan menyebabkan kelainan imonologis yang luas dan gejala klinik yang bervariasi. Menurut Wibisono (1989) diperkirakan 5 -10 juta pengidap HIV yang belum menunjukkan gejala apapun tetapi potensial sebagai sumber penularan. AIDS merupakan suatu penyakit yang sangat berbahaya karena mempunyai case fatality rate 100% dalam 5 tahun, artinya dalam waktu 5 tahun setelah diagnosa AIDS di tegakkan maka semua penderita akan meninggal.</p> <p>DEFINISI DAN GEJALA KLINIS</p> <p>Definisi HIV atau Human Immunodeficiency Virus adalah virus yang menyerang sistem kekebalan tubuh manusia dan kemudian menimbulkan AIDS. Virus HIV diklasifikasikan ke dalam golongan lentivirus atau retroviridae. Virus ini secara material genetik adalah virus RNA yang tergantung pada enzim reverse trancriptase untuk dapat menginfeksi mamalia, termasuk manusia, dan menimbulkan kelainan patologi secara lambat (Zein, dkk, 2006). AIDS mula-mula didefinisikan untuk kepentingan survei oleh CDC (the U.S. Centers for Disease Control and Prevention) sebagai adanya penyakit oportunistik yang setidaknya mengisyaratkan adanya cacat imunitas seluler tanpa didasari oleh gangguan kekebalan yang diketahui, misalnya imunosupresi iatrogenik atau keganasan. Dengan tersedianya uji diagnostik yang sensitif dan spesifik untuk HIV, definisi kasus AIDS telah mengalami beberapa perbaikan (Fauci dan Lane, 2000). AIDS (Acquired Immune Deficiency Syndrome) adalah kumpulan gejala penyakit akibat menurunnya sistem kekebalan tubuh secara bertahap yang disebabkan oleh infeksi Human Immunodeficiency Virus (HIV) (Mansjoer, 2000). Umar Zein (2006) mendefinisikan AIDS berdasarkan definisi etimologinya. AIDS singkatan dari Acquired Immuno Deficiency Syndrome, dimana acquired artinya didapat, bukan penyakit turunan, immuno artinya sistem kekebalan tubuh, deficiency artinya kekurangan, dan syndrome artinya kumpulan gejala. Jadi AIDS adalah penyakit yang disebabkan oleh virus yang merusak sistem kekebalan tubuh manusia, sehingga mudah diserang penyakit-penyakit lain yang dapat berakibat fatal padahal penyakit tersebut tidak akan menyebabkan gangguan yang sangat berarti pada orang-orang dengan sistem kekebalan normal.</p> <p>Gejala klinis</p> <p>Terdapat 4 stadium penyakit AIDS1 yaitu : o Stadium awal infeksi HIV, menunjukkan gejala-gejala seperti : demam, kelelahan, nyeri sendi, pembesaran kelenjar getah bening. Gejala-gejala ini menyerupai influenza/ monokleosis. o Stadium tanpa gejala, yaitu stadium dimana penderita nampak sehat, namun dapat merupakan sumber penularan infeksi HIV. o Stadium ARC (AIDS Related Complex), memperlihatkan gejala-gejala seperti : demam lebih dari 38o C secara berkala/terus-menerus, menurunnya berat badan lebih dari 10% dalam waktu 3 bulan, pembesaran kelenjar getah bening, diare/mencret secara berkala/terusmenerus dalam waktu yang lama tanpa sebab yang jelas, kelemahan tubuh yang menurunkan aktifitas fisik, berkeringat pada waktu malam hari. o Stadium AIDS, akan menunjukkan gejala-gejala seperti : gejala klinis utama yaitu terdapatnya kanker kulit yang disebut sarkoma kaposi, kanker kelenjar getah bening, infeksi penyakit penyerta misalnya : pneumonia yang disebabkan oleh pneumocytis carinii, TBC, peradangan otak/selaput otak.</p> <p>Klasifikasi Klasifikasi HIV/AIDS pada orang dewasa menurut CDC (Centers for Disease Control) dibagi atas empat tahap, yakni:1. Infeksi HIV akut</p> <p>Tahap ini disebut juga sebagai infeksi primer HIV. Keluhan muncul setelah 2-4 minggu terinfeksi. Keluhan yang muncul berupa demam, ruam merah pada kulit, nyeri telan, badan lesu, dan limfadenopati. Pada tahapini, diagnosis jarang dapat ditegakkan karena keluhanmenyerupai banyak penyakit lainnya dan hasil tes serologi standar masih negatif (Murtiastutik, 2008). 2. Infeksi Seropositif HIV Asimtomatis Pada tahap ini, tes serologi sudah menunjukkan hasil positif tetapi gejala asimtomatis. Pada orang dewasa, fase ini berlangsung lama dan penderita bisa tidak mengalami keluhan apapun selama sepuluh tahun atau lebih. Berbeda dengan anak- anak, fase ini lebih cepat dilalui (Murtiastutik, 2008).1</p> <p>Drh. Rasmaliah, M.Kes 2001</p> <p>3. Persisten Generalized Lymphadenopathy (PGL) Pada fase ini ditemukan pembesaran kelenjar limfe sedikitnya di dua tempat selain limfonodi inguinal. Pembesaran ini terjadi karena jaringan limfe berfungsi sebagai tempat penampungan utama HIV. PGL terjadi pada sepertiga orang yang terinfeksi HIV asimtomatis. Pembesaran menetap, menyeluruh, simetri, dan tidak nyeri tekan (Murtiastutik, 2008). 4. AIDS (Acquired Immunodeficiency Syndrome) Hampir semua orang yang terinfeksi HIV, yang tidak mendapat pengobatan, akan berkembang menjadi AIDS. Progresivitas infeksi HIV bergantung pada karakteristik virus dan hospes. Usia kurang dari lima tahun atau lebih dari 40 tahun, infeksi yang menyertai, dan faktor genetik merupakan faktor penyebab peningkatan progresivitas. Bersamaan dengan progresifitas dan penurunan sistem imun, penderita HIV lebih rentan terhadap infeksi. Beberapa penderita mengalami gejala konstitusional, seperti demam dan penurunan berat badan, yang tidak jelas penyebabnya. Beberapa penderita lain mengalami diare kronis dengan penurunan berat badan. Penderita yang mengalami infeksi oportunistik dan tidak mendapat pengobatan anti retrovirus biasanya akan meninggal kurang dari dua tahun kemudian (Murtiastutik, 2008).</p> <p>RIWAYAT ALAMIAH PENYAKIT DAN KARAKTERISTIK HAE</p> <p>Riwayat Alamiah Penyakit Perjalanan interaksi HIV dengan sistem imun tubuh yang terbagi dalam tiga fase yang menunjukkan terjadinya interaksi virus dan hospes yaitu fase permulaan/akut, fase pertengahan/kronik dan fase terakhir/krisis (Mitchell and Kumar, 2003). y Fase akut menandakan respon imun tubuh yang masih imunokompeten terhadap infeksi HIV. Secara klinis, fase tersebut ditandai oleh gejala yang sembuh dengan sendirinya yaitu 3 sampai 6 minggu setelah terinfeksi HIV. Gejalanya berupa radang tenggorokan, nyeri otot (mialgia), demam, ruam kulit, dan terkadang radang selaput otak (meningitis asepsis). Produksi virus yang tinggi menyebabkan viremia (beredarnya virus dalam darah) dan penyebaran virus ke dalam jaringan limfoid, serta penurunan jumlah sel T CD4+. Beberapa lama kemudian, respon imun spesifik terhadap HIV muncul sehingga terjadi serokonversi. Respon imun spesifik terhadap HIV diperantarai oleh sel T CD8+ (sel T pembunuh, T sitotoksik cell) yang menyebabkan penurunan jumlah virus dan peningkatan jumlah CD4+ kembali. Walaupun demikian, penurunan virus dalam plasma tidak disertai dengan berakhirnya replikasi virus. Replikasi virus terus berlangsung di dalam makrofag jaringan dan CD4+ (Mitchell and Kumar, 2003; Saloojee and Violari, 2001). y Fase kronik ditandai dengan adanya replikasi virus terus menerus dalam sel T CD4+ yang berlangsung bertahun-tahun. Pada fase kronik tidak didapatkan kelainan sistem imun. Penderita dapat asimptomatik (tanpa gejala) atau mengalami limfadenopati persisten (pembesaran kelenjar getah bening) dan beberapa penderita mengalami infeksi oportunistik minor seperti infeksi jamur. Penurunan sel T CD4+ terjadi terus menerus, tetapi masih diimbangi dengan kemampuan regenerasi sistem imun. Setelah beberapa tahun, sistem imun tubuh mulai melemah, sementara replikasi virus sudah mencapai puncaknya sehingga perjalanan penyakit masuk ke fase krisis. Tanpa pengobatan, penderita HIV akan mengalami</p> <p>sindrom AIDS setelah fase kronik dalam jangka waktu 7 sampai 10 tahun (Mitchell and Kumar, 2003; Saloojee and Violari, 2001). y Fase krisis ditandai dengan hilangnya kemampuan sistem kekebalan tubuh. Peningkatan jumlah virus dalam darah (viral load) dan gejala klinis yang berarti. Penderita mengalami demam lebih dari 1 bulan, lemah, penurunan berat badan dan diare kronis. Hitung sel T CD4+ berkurang sampai dibawah 500/ L. Penderita juga akan rentan terhadap infeksi oportunistik mayor, neoplasma (kanker) tertentu dan manifestasi neurologis sehingga dikatakan penderita mengalami gejala AIDS yang sebenarnya (Mitchell and Kumar, 2003; Saloojee and Violari, 2001). Faktor yang mempengaruhi perjalanan HIV/AIDS meliputi faktor hospes dan virus. Faktor hospes mencakup umur dan faktor genetik. Pada usia anak, AIDS akan berjalan lebih progresif, selain itu viral load akan lebih tinggi dan infeksi bakteri atau infeksi oportunistik akan lebih sering dibandingkan pada orang dewasa. Faktor virus mencangkup virulensi yang dipengaruhi oleh gen virus tertentu, misalnya gen nef (Hogan et al., 2001; Learmont et al., 1999)2.</p> <p>Karakteristik Host, Agent, Environment y Faktor Agent HIV merupakan virus penyebab AIDS termasuk Retrovirus yang mudah mengalami mutasi sehingga sulit untuk membuat obat yang dapat membunuh virus tersebut .Virus HIV sangat lemah dan mudah mati diluar tubuh. HIV termasuk Virus yang sensitif terhadap pengaruh lingkungan seperti air mendidih. sinar matahari dan berbagai desinfektan y Faktor Host Distribusi golongan umur penderita AIDS Di Amerika Serikat Eropa, Afrika dan Asia tidak jauh berbeda. Kelompok terbesar berada pada umur 30 -39 tahun. Mereka termasuk kelompok umur yang aktif melakukan bubungan seksual. Hal ini membuktikan bahwa transmisi seksual baik homo maupun heteseksual merupakan pola transmisi utama. Ratio jenis kelamin pria dan wanita di negara pola I adalah 10 :1. karena sebagian besar penderita adalah kaum homoseksual sedangkan di negara pola II ratio adalah 1 : 1. Kelompok masyarakat beresiko tinggi adalah mereka yang melakukan hubungan seksual dengan banyak2</p> <p>http://indonesiannursing.com/2008/05/perjalanan-penyakit-hivaids/</p> <p>mitra seks (promiskuitas). kaum homoseksual/biseksual. kaum heteroseksual golongan pernyalahguna narkotik suntik. Penerima transfusi darah termasuk penderita hemofilia dan penyakit-penyakit darah, anak dan bayi yang lahir dari ibu pengidap HIV. Kelompok homoseksual/biseksual adalah kelompok terbesar pengidap HIV di Amerika Serikat. Prevalensi HIV dikalangan ini terus meningkat dengan pesat.Di SanFransisco pada tahun 1978 hanya 4% kaum homoseksual yang mengidap HIV. 3 tahun kemudian menjadi 24% dan 8 tahun kemudian menjadi 80%. Kelompok heteroseksual lebih menonjol di Afrika dimana prevalensi. HIV pada kaum laki-laki dan wanita hamil di Afrika pada tahun 1981 mencapai 18%. Kelompok penyalahguna narkotik suntik di Eropa meliputi 11% dan di Amerika Serikat 25% dari seluruh kasus AIDS. y Faktor Environment. Lingkungan biologs, sosial, ekonomi, budaya dan agama sangat menentukan penyebaran AIDS. Lingkungan biologis antara lain adanya luka-luka pada usus genita, herpes simplex dan syphilis meningkatkan prevalensi penularan HIV. Demikian juga dengan penggunaan obat KB pada kelompok wanita tunasusila di Nairobi dapat meningkatkan penularan HIV. Faktor sosial, ekonomi, budaya dan agama sangat berpengaruh terhadap perilaku seksual masyarakat. Bila faktor-faktor ini mendukung pada perilaku seksual yang bebas akan meningkatkan penularan HIV dalam masyarakat.</p> <p>KONSEP PENULARAN</p> <p>HIV dapat masuk ke tubuh manusia terutama melalui darah, semen (cairan sperma) dan sekret vagina, serta transmisi dari ibu ke anak (Mansjoer, 2000). Transmisi dari retrovirus RNA yang disebarkan melalui darah terjadi terutama oleh mekanisme, yaitu homoseksual atau heteroseksual, terinfeksi darah penderita HIV/AIDS, penyalahgunaan obat intravena, transfusi produk-produk darah dan transmisi dari ibu ke anak (Davey, 2000). Penularan infeksi HIV dari ibu kepada anaknya terjadi selama kehamilan, proses persalinan dan dengan pemberian ASI oleh ibu penderita HIV/AIDS (Antony dan Lane, 2005). Peluang untuk tertular HIV melalui hubungan seks adalah 1%, melalui transfusi darah 90%, melalui jarum suntik 90% dan ibu hamil kepada bayinya 30%....</p>